[Prolog] Home

Farmhouse Garden Salad a blend of fresh greens,cucumbers, red onions, grape tomatoes, cheddar cheeseand croutons. Served with your choice of dressing.

HOME

kwon jiyong // just a prolog // hurt/comfort

Jiyong rindu rumah, itu saja.

Rokok menyala masih tersemat di bibir pucatnya. Beberapa kali dia menghembuskan asap rokok itu, membuat ruangan di sekelilingnya terasa panas. Sebenarnya panas tidak dihasilkan dari asap rokok, bukan, itu hanya perasaan Jiyong. Dia selalu menyalahkan rokok. Yah, akan terdengar naif kan kalau menyalahkan diri sendiri.

Dia menghela nafas berat.

“Rokok tidak baik untukmu Jiyong, kamu bisa sesak nafas,” dan benar saja, dadanya terasa sesak. Sakit sekali. Tapi dia tidak peduli. Dia sudah terbiasa. Rasa sakit yang lebih parah sudah pernah dirasakannya sebelum ini. Jadi ini bukan apa-apa.

Ponselnya bergetar, beberapa detik kemudian benda itu sudah ditempelkan pada telinganya. “Halo,” sapanya tenang, namun tegas.

“Ketus sekali ya,” seorang gadis di seberang sana menggerutu pelan, namun Jiyong pasti dengar. “Sedang apa kamu?”

“Duduk,” Jiyong merapatkan bibirnya sebentar, lalu mengedarkan pandangan. Dibuangnya rokok yang sudah pendek. “Ada apa?”

“Tidak, aku hanya ingin menanyakan kabarmu. Bagaimana Paris?” Jisung bertanya. Nafasnya ditahan sebentar, lalu dihembuskannya. “Apa di sana menyenangkan?”

“Menyenangkan,” jelas-jelas Jiyong sedang tidak ingin diganggu. Matanya hanya tertuju pada jendela berukuran besar di samping tempat tidurnya. Keadaan di luar sana begitu ramai. Paris memang tak pernah tidur. Lampu-lampu dan kembang api menyala di sana-sini.

“Aku menunggu kamu kembali, baik baik ya di sana.”

Sambungan telepon itu ditutup, oleh Jiyong.

Dan malam itu, Jiyong mengambil rokoknya yang keempat, dan menyulutnya.

Jiyong tak kunjung pulang. Manajernya sudah memohon-mohon minta izin pada agensinya agar Jiyong diperbolehkan tinggal untuk beberapa hari lagi. Ratusan pesan singkat yang dikirim oleh gadis di belahan dunia yang lain itu pun hanya dibacanya sekilas, lalu dihapusnya. Jiyong sudah tidak peduli lagi.

Dia bukannya tidak ingin dihibur. Tapi rasanya rokok saja sudah cukup. Dia hanya merasa rokok akan membuatnya tenang: merenggut paru-parunya sedikit demi sedikit dan membuatnya mati. Itu lebih baik, katanya.

“Jiyong, sudah makan belum?”

“Jiyong, ayo jalan-jalan!”

“Jiyong.”

Malam ini Jiyong sudah berada di klub. Gadis-gadis malam mencoba merayunya, tapi dia tidak menghiraukannya sama sekali dan hanya meminum anggurnya. Biasanya dia tidak mudah mabuk, entahlah, malam ini dia begitu pusing dan mual.

“Jiyong, sudah kukatakan berapa kali untuk tidak minum-minum? Kau ini menyusahkan saja!” sayup-sayup suara itu menusuk pikirannya. Dia menggapai-gapai, menggerakkan tangannya, berharap suara itu bukan cuma khayalannya semata.

“Apa masalahmu, bro,” seorang pria berwajah garang menyeret kerah baju Jiyong.

“Soomin,” Jiyong mengangkat mukanya, “kau menghalangi saja. Aku mau bertemu Soomin.” Didorongnya dada pria tersebut, membuat Jiyong memulainya, perkelahian itu.

Pria itu memukulnya sekali, Jiyong belum puas. Dua kali, belum juga puas. Semua itu terus berlalu sampai semua terasa gelap bagi Jiyong.

Dia betul-betul rindu rumah.[]

Fanfic ini pernah diposting sebelumnya di blog ini, dan dihapus oleh author karena kurang kompetennya author dalam melanjutkan karyanya. 

Chapter selanjutnya akan dirilis tiap 2 minggu, karena itu, mohon dukungannya:)

Terima kasih.

Advertisements

One thought on “[Prolog] Home

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s