[YGEFF] Non-fiction (Chapter. 2)

Title : Non-fiction [Chapter 2]

Written : H.ZTao_94

Genre : Romance, Sad, Family

Rating : PG +15

Lenght : Chaptered

Main Cast : WINNER’s Mino as Song Min Ho || Blackpink’s Jisoo as Kim Ji Soo

Additional Cast : iKON’s Jinhwan as Kim Jin Hwan || Red Velvet’s Irene as Bae Joo Hyeon || GOT7’s Jackson as Jackson Wang || SR15B’s Hansol as Ji Han Sol

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan, keluarganya dan agensi masing-masing. Cerita ini terinspirasi dari drama Taiwan ‘Romantic Princess’ dengan beberapa perubahan. Jika ada kesamaan cast, alur maupun cerita, hanya sebuah ketidaksengajaan.

DON’T COPAS OR RE-UPLOAD

DON’T PLAGIAT

DON’T BE SILENT READER

HAPPY READING

.

~o0o~

.

[PREVIOUS CHAPTER 1]

Ceklek…

Ji Soo membuka pintu. Terlihat beberapa orang yang berjas hitam rapi dengan celana hitam dan sepatu hitam yang mengkilap tengah duduk di ruang tamunya. Disana ia juga melihat Ayah dan Ibunya yang tengah minum teh bersama beberapa orang berjas hitam tadi.

“Ji Soo, kemarilah!” Ucap Tuan Kim dengan melambaikan tangannya pada putri kesayangannya itu.

Ji Soo pun melangkah mendekati Ayah dan Ibunya. Kemudian duduk di samping dua orang paruh baya itu.

“Siapa mereka?” Tanya Ji Soo tampak penasaran.

“Mereka… Mereka adalah…”

Tuan Kim tampak bingung harus menjawab apa. Lelaki paruh baya ini bahkan tak tahu harus memulai pembicaraannya dari mana. Namun, ia tak bisa menyembunyikan rahasia ini dari Ji Soo selamanya. Terlebih lagi ia sudah menyembunyikan kebenaran tentang jati diri Ji Soo selama dua puluh tahun.

“Ayah, mengapa kau tampak gugup? Katakan padaku, siapa mereka? Apakah mereka rentenir yang menagih hutang? Atau jangan-jangan mereka adalah orang-orang yang akan menyita rumah kita?” Ucap Ji Soo mencoba menebak.

“Ji Soo…” Kata Tuan Kim sembari mencengkeram pundak putrinya itu erat dengan mata berkaca-kaca.

Sontak hal itu membuat Ji Soo semakin bingung dan tak mengerti.

“Ayah, sebenarnya ada apa? Siapa mereka?” Rengek Ji Soo yang tampak sudah tak sabar mendengar penjelasan dari Ayahnya itu.

 

NON-FICTION [CHAPTER 2]

“Mereka… Mereka adalah orang-orang yang akan menjemputmu.” Jawab Tuan Kim dengan memeluk Ji Soo erat seolah-olah mereka akan berpisah.

Ji Soo masih terdiam tak mengerti apa yang diucapkan oleh Ayahnya barusan. Ia pun melepaskan pelukan Ayahnya perlahan.

“Menjemputku? Maksud Ayah apa? Aku adalah anak Ayah dan Ibu. Dan aku akan berada di samping kalian selamanya.” Ujar Ji Soo yang masih tak mengerti apa yang dimaksud oleh Ayahnya itu.

“Ji Soo, sebenarnya kau bukanlah anak kandung kami.” Tambah Nyonya Kim dengan memeluk putrinya itu.

Mendengar ucapan Ibunya barusan membuat Ji Soo hampir tak percaya. Bagaimana mungkin orang yang selama ini di anggapnya sebagai orang tua kandungnya ternyata bukanlah orang tua kandungnya yang sebenarnya.

“Itu… Tidak mungkin! Kalian adalah orang tua kandungku!” Bantah Ji Soo dengan berlinang air mata memeluk dua orang yang selama ini telah merawat dan membesarkannya itu.

Hiks… Hiks… Hiks…”

Suasana pun terasa semakin mengharukan kala tiga orang yang saling mencintai ini saling memeluk dan terisak bersamaan. Mereka tak ingin berpisah, namun takdir berkata lain. Ji Soo harus kembali pada keluarganya yang sebenarnya.

Setelah puas dengan acara pelukannya, mereka pun saling melepaskan pelukan masing-masing. Ji Soo masih terus terisak tak percaya dengan kenyataan ini. Ia bahkan tak ingin pergi dan ingin tetap berada disana bersama Ayah dan Ibunya.

“Aku tak ingin pergi! Aku ingin tetap berada disini.” Ujar Ji Soo dengan air mata yang berlinang.

“Ji Soo, kau harus kembali pada keluargamu yang sesungguhnya.” Ucap Tuan Kim dengan mengusap lembut rambut putri kandungnya itu.

“Tapi aku adalah anak kalian. Mengapa kalian mengusirku?” Ji Soo masih terus membantah.

“Ji Soo, kau harus kembali pada keluargamu. Mereka sudah sangat mencemaskanmu dan merindukanmu.” Ucap Nyonya Kim dengan mencium kening Ji Soo.

“Aku tidak percaya. Ini semua pasti bohong. Bahkan Ayah dan Ibu tak memberiku bukti apapun.” Bantah Ji Soo keras kepala.

“Ji Soo, kami bahkan sudah melakukan tes DNA untuk memastikan kebenarannya. Dan juga tanda lahir yang ada di lututmu adalah salah satu buktinya.” Balas Tuan Kim dengan memberikan secarik kertas pada anak angkatnya itu.

“Ayah, aku tidak ingin pergi!” Rengek Ji Soo.

“Ji Soo, kau harus kembali pada keluarga kandungmu. Bukankah selama ini kau memiliki impian untuk tinggal di rumah yang megah dan mewah seperti sebuah istana dengan banyak pelayan? Di tempatmu yang baru nanti, kau akan menemukan semuanya. Rumah besar dan mewah serta para pelayan yang akan melayanimu. Dan juga, kau tak perlu bekerja lagi. Karena keluarga kandungmu adalah konglomerat.” Jelas Tuan Kim mencoba memberikan pengertian pada Ji Soo.

“Tapi…”

“Kau masih bisa datang kesini untuk mengunjungi kami kapan pun itu. Pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu.” Tambah Nyonya Kim.

“Sekarang sudah saatnya kau pergi.” Ucap Tuan Kim dengan memberi Ji Soo sebuah koper besar.

“Nona, saatnya kita pulang. Tuan Kim Jae Chun sudah menunggu.” Ujar salah satu lelaki berjas yang menjemput Ji Soo itu.

Dengan menyeret kopernya, Ji Soo melangkah bersama para lelaki berjas tadi. Tentunya masih dengan terisak. Sesekali gadis cantik ini menoleh ke belakang untuk memandang Ayah dan Ibunya.

“Hati-hati, nak!” Kata Tuan Kim dengan melambaikan tangannya melepas kepergian anak yang selama ini sudah dirawatnya.

Perlahan Ji Soo keluar dari rumah keluarga yang selama ini telah merawatnya itu. Dipandangnya rumah yang sederhana dan oenuh kenangan itu. Tanpa terasa air matanya kembali mengalir. Ia benar-benar tak percaya akan hal ini. Semua ini seperti sebuah khayalan. Ya, sebuah khayalan yang menjadi kenyataan.

“Nona, silahkan masuk!” Ucap salah seorang lelaki berjas hitam tadi dengan membukakan pintu mobil untuk Ji Soo.

Ji Soo pun masuk ke dalam mobil mewah yang ada di hadapannya itu. Namun, pandangannya masih pada kedua orang tua angkatnya yang tengah berdiri di depan pintu. Ji Soo pun membuka jendela kaca mobil mewah yang ditumpanginya itu.

“Ayah, Ibu! Aku akan datang untuk mengunjungi kalian setiap hari dan membuat kue beras bersama kalian.” Ucap Ji Soo sedikit berteriak yang tentu saja hanya dibalas dengan senyuman oleh Nyonya Kim dan Tuan Kim.

Mobil yang ditumpanginya mulai melaju dengan kecepatan normal. Perlahan Ji Soo mulai menikmati perjalanannya. Gadis bermarga Kim ini memandang lampu-lampu jalanan yang menerangi gelapnya malam lewat jendela kaca mobil yang ditumpanginya. Sesekali gadis ini masih terisak mengingat kenangannya bersama orang tua angkatnya.

“Mengapa semuanya terasa seperti sebuah khayalan?” Batin Ji Soo hampir tak percaya dengan apa yang dialaminya saat ini.

Setelah menempuh perjalan kurang lebih dua puluh menit, mobil mewah yang ditumpangi oleh Ji Soo pun memasuki sebuah gerbang besar nan megah. Sontak hal itu membuat gadis cantik ini hanya bisa mengaga terkagum-kagum memandang bangunan yang bak istana itu.

Wah, ini benar-benar seperti khayalanku.” Bisiknya.

Mobil pun berhenti. Seorang lelaki berjas hitam membukakan pintu mobil untuk Ji Soo.

“Silahkan, nona!” Ujarnya dengan tersenyum ramah.

Ji Soo membalasnya dengan ikut tersenyum. Ia melangkah keluar mobil dengan memandang bangunan besar di hadapannya. Gadis ini tak henti-hentinya mengagumi bangunan yang ada di hadapannya. Ia juga melihat para pelayan yang menyambutnya dengan berjejer di sepanjang jalan menuju pintu memasuki rumah mewah tersebut.

Daebak! Aku benar-benar seorang putri!” Batin Ji Soo.

Ia mulai melangkah melewati para pelayan yang menyambutnya. Sesekali ia tersenyum memandang para pelayan tersebut. Hingga Ji Soo memasuki rumah mewah tersebut, ia tak henti-hentinya mengagumi bangunan yang akan menjadi tempat tinggalnya itu. Langkah gadis cantik ini terhenti saat seorang lelaki tua menghampiri serta memeluknya.

“Ji Soo…” Ucap lelaki tua tersebut.

Ji Soo hanya diam tak mengerti. Ia perlahan melepaskan pelukan lelaki tua tersebut yang diduganya adalah keluarganya.

“Kakek…” Ucap Ji Soo seraya memandang lelaki tua di hadapannya penuh tanya.

“Ternyata kau sudah sebesar ini, Ji Soo. Setelah dua puluh tahun aku mencarimu, akhirnya aku bisa menemukanmu.” Ucap Tuan Kim Jae Chun, kakek kandung Ji Soo.

“Kakek…” Lirih Ji Soo dengan berlinang air mata.

Gadis cantik ini segera memeluk kakeknya itu dengan penuh rasa haru bercampur bahagia. Begitu pun sebaliknya. Tampaknya mereka sama-sama saling merindukan.

“Maafkan kakek yang terlalu lamban mencarimu.” Ucap Tuan Kim Jae Chun seraya terisak dengan mengelus lembut rambut cucu kandungnya itu.

Setelah puas saling melepas rindu satu sama lain, pasangan kakek dan cucu ini pun saling melepaskan pelukan masing-masing. Tuan Jae Chun menatap Ji Soo dengan penuh kebahagiaan.

“Kau tumbuh menjadi gadis yang cantik dan mirip dengan Ayahmu.” Ujar Tuan Jae Chun.

“Aku… Aku mirip dengan Ayahku? Eum… Dimana Ayah dan Ibuku?” Tanya Ji Soo dengan memandang ke segala arah.

“Nanti aku akan menceritakan semuanya.” Jawab Tuan Jae Chun.

Ji Soo dan kakeknya pun melangkah bersama menuju sebuah ruangan yang sangat luas. Disana sudah ada empat lelaki yang menunggu mereka di sebuah sofa yang empuk. Dari tempatnya berdiri saat ini, Ji Soo bisa melihat punggung ke empat lelaki tersebut.

“Mereka… Mereka siapa?” Tanya Ji Soo pada Tuan Jae Chun.

“Mereka adalah cucu angkatku. Selama ini mereka berempatlah yang menemaniku dan membantuku mengurus perusahaan.” Jawab Tuan Jae Chun.

Wah, ternyata aku tak sendirian disini.” Ujar Ji Soo dengan tersenyum bahagia.

“Tentu saja. Ayo kuperkenalkan dengan mereka supaya kau bisa lebih akrab.” Kata Tuan Jae Chun dengan menarik tangan cucu kandungnya itu.

Ji Soo dan Tuan Jae Chun melangkah mendekati empat lelaki yang Ji Soo pun tak mengenal mereka.

“Ji Soo… Kemarilah, nak!” Ucap Tuan Jae Chun pada Ji Soo agar mendekat padanya.

Mendengar suara sang kakek yang sudah memasuki ruangan tersebut, Min Ho, Jin Hwan, Jackson dan Han Sol pun berdiri, kemudian membungkuk pada lelaki paruh baya tersebut.

Tap tap tap

Suara langkah kaki Ji Soo terdengar sangat nyaring karena ruangan tersebut sangat sepi sekalipun banyak orang disana. Gadis cantik ini berdiri disamping Tuan Jae Chun dan tersenyum memandang empat lelaki yang tengah membungkuk di hadapannya itu. Beberapa saat kemudian, empat lelaki tersebut pun kembali mengangkat kepala mereka dan berdiri tegap di hadapan Tuan Jae Chun. Ji Soo tampak kaget saat mengetahui salah satu cucu angkat kakeknya berwajah tak asing baginya. Gadis bermarga Kim ini hanya bisa membelalakkan matanya memandang salah seorang lelaki tampan yang berada di hadapannya itu.

“Bukankah… Bukankah dia… Bukankah dia adalah lelaki sombong tadi siang yang bertengkar denganku?” Batin Ji Soo penuh tanya.

Sementara itu, Min Ho pun tak kalah kaget dari Ji Soo saat mengetahui cucu kandung Tuan Jae Chun adalah gadis yang membuat masalah dengannya tadi siang. Lelaki bermarga Song ini menatap Ji Soo dengan tatapan mematikan.

“Bagaimana bisa?” Bisik Min Ho tak percaya.

“Gadis ini tampak sangat berantakan.” Bisik Jackson pada Jin Hwan setelah melihat gadis yang berdiri di hadapannya itu.

“Tapi dia tampak unik!” Balas Jin Hwan.

“Dia tidak modis!” Tambah Jackson.

“Tapi dia terlihat berbeda.” Balas Jin Hwan lagi dengan tersenyum.

Tampaknya Tuan Jae Chun mengetahui kegiatan Jackson yang tengah berbisik pada Jin Hwan itu.

“Jackson, berhenti berkomentar!” Ucap Tuan Jae Chun yang tentu saja langsung berhasil membuat lelaki berdarah Hongkong itu bungkam seketika.

“Dasar Mulut Mercon!” Tambah Han Sol dengan tersenyum bahagia melirik Jackson.

Tuan Jae Chun memandang ke empat cucu angkatnya itu. Ia kemudian menarik tangan Ji Soo agar dekat dengannya dan memudahkannya untuk memperkenalkan pada ke empat cucu angkatnya itu.

“Perkenalkan, dia adalah cucu kandungku yang sudah dua puluh tahun hilang. Namanya Kim Ji Soo.” Ucap Tuan Jae Chun memperkenalkan Ji Soo.

“Apa? Cucu kandung?” Tanya Jackson tampak kaget dengan membelalakkan matanya.

“Iya. Selama ini aku tak pernah menceritakan hal ini pada kalian.” Balas Tuan Jae Chun.

“Apakah kakek yakin dia benar-benar cucu kandung kakek?” Tambah Han Sol.

“Tentu saja. Aku bahkan sudah melakukan tes DNA.” Jawab Tuan Jae Chun dengan menunjukkan selembar kertas pada ke empat cucunya itu.

Ji Soo yang berdiri disamping Tuan Jae Chun masih diam membatu tak tahu harus berbuat apa. Ia takut jika empat cucu angkat kakeknya itu akan menyulitkan hidupnya disana. Terlebih lagi Min Ho yang tampaknya menyimpan dendam padanya atas kejadian tadi siang itu.

“Mengapa dia menatapku seperti itu?” Batin Ji Soo berusaha terlihat tak takut dengan pandangan Min Ho yang mematikan padanya saat ini.

“Ji Soo, perkenalkan! Dia adalah cucuku yang paling cerewet di antara semuanya. Dia adalah yang paling berbahaya. Namanya Jackson Wang.” Ucap Tuan Jae Chun memperkenalkan salah satu cucu angkatnya pada Ji Soo.

“Halo, namaku Ji Soo. Kim Ji Soo.” Kata Ji Soo dengan mengulurkan tangannya pada lelaki tampan yang ada di hadapannya itu.

Jackson pun menyambut uluran tangan Ji Soo dengan terpaksa. Hanya sebentar saja, ia sudah melepaskan tangan Ji Soo.

“Jackson, apa yang terjadi?” Tanya Tuan Jae Chun.

“Tidak ada apa-apa. Hanya saja aku tak biasa berjabat tangan dengan seorang gadis lebih dari tiga puluh detik.” Jawab Jackson membuat alasan yang tentu saja membuat Tuan Jae Chun terkekeh pelan.

“Ji Soo, kau harus berhati-hati dengannya. Jackson adalah seorang Playboy berbahaya. Kakek harap kau tak tertarik padanya.” Ucap Tuan Jae Chun pada cucu perempuannya itu.

Aish, si tua bangka ini mulai berulah!” Bisik Jackson pada Han Sol.

Ji Soo terkekeh mendengar ucapan dari kakeknya itu. Kemudian, ia menggeser posisinya untuk melakukan perkenalan selanjutnya. Kini, giliran Han Sol yang berkenalan.

“Namaku Kim Ji Soo.” Ucap Ji Soo mengenalkan dirinya dengan mengulurkan tangannya pada lelaki tinggi yang ada di hadapannya itu. Han Sol pun menyambut tangan Ji Soo dengan tersenyum ramah.

“Senang berkenalan denganmu. Namaku Ji Han Sol. Kau bisa memanggilku Han Sol.” Balas Hansol dengan ramah.

Nah, Han Sol juga cukup berbahaya seperti Jackson. Namun, ia sudah mendapatkan karma. Jadi dia tak seberbahaya Jackson. Tapi kau harus tetap berhati-hati saat dia tersenyum padamu. Karena senyumannya mengandung makna ganda.” Jelas Tuan Jae Chun dengan tertawa yang tentu saja membuat Han Sol segera melepaskan tangannya dari tangan Ji Soo.

“Aku menyesal sudah bersikap ramah.” Batin Han Sol.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan saat ini.” Bisik Jackson pada Han Sol.

Ji Soo kembali menggeser posisinya dan kini dia berhadapan dengan Jin Hwan. Ya, diantara empat orang lelaki tampan dihadapannya, hanya Jin Hwan yang sedari tadi tersenyum padanya dan seperti menanti saat-saat untuk berkenalan dengannya.

“Namaku Kim Jin Hwan.” Ucap Jin Hwan memperkenalkan diri terlebih dahulu dan mengulurkan tangannya pada Ji Soo. Sontak hal itu membuat Ji Soo dan yang lainnya kaget. Namun, tidak dengan Tuan Jae Chun yang hanya tersenyum memandang Jin Hwan yang tampak sangat antusias itu.

“Namaku Kim Ji Soo. Senang berkenalan denganmu.” Kata Ji Soo membalas uluran tangan Jin Hwan.

Wah, tampaknya Jin Hwan adalah yang paling antusias disini. Dia memang cucuku yang paling ramah dan hangat.” Ujar Tuan Jae Chun.

Jin Hwan terus tersenyum memandang Ji Soo yang tentu saja hal itu membuat Ji Soo malu. Beberapa detik kemudian, Tuan Jae Chun melepaskan tangan Ji Soo dari tangan Jin Hwan.

“Jangan terlalu lama berjabat tangan! Ada Min Ho yang sudah menunggu untuk gilirannya.” Kata Tuan Jae Chun.

Kini Ji Soo harus benar-benar menguatkan dirinya. Mata Min Ho yang tajam itu sudah meliriknya sedari tadi. Gadis bermarga Kim ini benar-benar takut. Namun, ia berusaha untuk bersikap rileks. Ji Soo mulai mengulurkan tangannya pada Min Ho.

“Namaku Kim Ji Soo.” Ucap Ji Soo mulai mengenalkan diri pada lelaki dingin yang ada di hadapannya itu.

Min Ho hanya melirik tangan Ji Soo dengan menyipitkan matanya. Lelaki tampan ini kemudian memandang Ji Soo dengan pandangan yang mematikan.

“Kupastikan kau akan segera keluar dari rumah ini!” Batin Min Ho.

Min Ho mulai mengulurkan tangannya untuk menyambut uluran tangan dari gadis yang ada di hadapannya itu.

“Namaku… Song Min Ho.” Balas Min Ho dengan bersalaman dengan Ji Soo dan mengeratkan jabatan tangannya. Lebih tepatnya Min Ho nyaris mencengkeram tangan Ji Soo.

Aish, ini benar-benar sakit! Rupanya dia ingin balas dendam padaku!” Batin Ji Soo dengan melirik Min Ho seraya menahan sakit di tangannya karena remasan tangan Min Ho itu.

Wah, Min Ho tampaknya sangat menikmati kegiatan berjabat tangannya itu!” Bisik Jackson pada Han Sol.

“Kurasa Min Ho telah merencanakan sesuatu.” Balas Han Sol ikut berbisik.

Entah sudah berapa lama Min Ho dan Ji Soo bersalaman. Yang jelas, Min Ho benar-benar melampiaskan kemarahannya pada Ji Soo atas apa yang diperbuat gadis cantik tersebut tadi siang dengan membuat tangan Ji Soo tak bisa lepas dari tangannya fan terus meremas tangan kecil milik Ji Soo itu.

“Ya Tuhan, sampai kapan lelaki ini akan menyiksa tanganku? Kapan dia akan melepaskan tanganku?” Batin Ji Soo.

Min Ho memasang senyum kecut pada Ji Soo. Lelaki ini seperti memberikan sebuah senyuman penuh ancaman pada gadis bermarga Kim itu.

“Apakah dia benar-benar tersenyum padaku?” Batin Ji Soo seraya ikut tersenyum.

Melihat acara jabat tangan antara Ji Soo dan Min Ho yang tak kunjung usai, membuat Tuan Jae Chun harus bertindak. Lelaki tua ini menarik tangan Ji Soo dari jabatan tangan Min Ho.

“Sudah, jangan terlalu lama!” Ujar Tuan Jae Chun.

“Ji Soo, ikutlah dengan Pelayan Bae. Dia akan menunjukkan padamu dimana kamarmu. Segeralah mandi karena sebentar lagi kita akan makan malam bersama.” Titah Tuan Jae Chun pada Ji Soo.

“Iya.” Jawab Ji Soo dengan membungkukkan badannya kemudian melangkah mengikuti seorang pelayan wanita paruh baya.

Tap tap tap

Suara langkah kaki Ji Soo dan Pelayan Bae terdengar sangat nyaring. Mereka berdua melangkah menaiki tangga menuju sebuah ruangan yang akan menjadi kamar untuk Ji Soo. Sambil melangkah, Ji Soo melihat sekitar tempat yang dilewatinya. Semuanya benar-benar bak istana. Ini seperti apa yang Ji Soo khayalkan selama ini.

Daebak! Ini benar-benar istana!” Bisik Ji Soo.

Hingga pada akhirnya, Pelayan Bae menghentikan langkah kakinya. Wanita paruh baya itu kemudian memandang Ji Soo seperti memberi gadis cantik itu kode agar segera masuk. Dan untung saja, Ji Soo tak begitu bodoh. Ia mengerti maksud Pelayan tersebut. Gadis bermarga Kim ini kemudian melangkah memasuki ruangan tersebut. Dan betapa kagetnya Ji Soo saat berada diruangan yang akan menjadi kamarnya itu.

Wow… Ini luar biasa! Ini adalah kamar untuk seorang putri.” Batin Ji Soo memandang ruangan yang ditempatinya saat ini. Gadis cantik ini kemudian berlari dan melompat tepat diatas ranjang.

Buww…

Tubuh Ji Soo seperti tak memiliki berat saat berada diatas ranjang yang berbalut spring bed mahal itu.

Wah, aku benar-benar telah menjadi kaya raya. Ini seperti sebuah khayalan. Ya, sebuah khayalan yang menjadi kenyataan.” Ucap Ji Soo kegirangan dan masih menikmati kegiatan kekanak-kanakannya itu. Karena ia terlalu asik, hingga tanpa sadar ada empat orang lelaki yang saat ini memasuki kamarnya dan berdiri disekelilingnya.

Ehem… Ehem…

Jackson berdehem untuk mencari perhatian. Namun, tampaknya Ji Soo tak mendengarnya. Ah ralat, bukan tak mendengar lebih tepatnya tak peduli.

“Benar-benar kampungan!” Bisik Han Sol dengan melipat tangannya didada.

“Gadis yang unik.” Batin Jin Hwan dengan tersenyum.

Entah berapa lama empat lelaki tampan itu memperhatikan Ji Soo dengan sikap kekanak-kanakannya. Yang jelas hal itu membuat Min Ho semakin ingin menendang gadis itu keluar dari rumah mewah tersebut. Hingga pada akhirnya Ji Soo pun menyadari keberadaan empat lelaki tampan tersebut. Gadis ini kemudian menghentikan aktivitasnya bermain di atas spring bed tersebut. Ia beranjak bangun namun tiba-tiba saja kakinya terbelit selimut dan membuat tubuh langsingnya jatuh dari atas ranjang.

“HUWAA…” Teriak Ji Soo refleks.

Untung saja Min Ho dengan sigap menangkap tubuh Ji Soo. Sontak hal itu membuat Jackson, Jin Hwan dan Han Sol hanya melongo memandang pemandangan aneh yang ada dihadapannya itu. Kini mata Min Ho dan mata Ji Soo saling bertemu tatap satu sama lain. Keduanya tampak membeku. Beberapa detik kemudian, Min Ho pun tersadar. Ia lantas menjatuhkan tubuh Ji Soo begitu saja diatas lantai dan membuat gadis itu merintih kesakitan.

Argh….” Rintih Ji Soo dengan memegang punggungnya.

Yak! Kenapa kau menjatuhkanku?” Tanya Ji Soo kesal dengan memandang Min Ho tajam.

“Aku tak sengaja, tanganku licin.” Jawab Min Ho yang tentu saja membuat Jackson dan Han Sol terkekeh pelan.

“Dasar menyebalkan!” Gerutu Ji Soo sembari beranjak berdiri.

“Yang tadi itu adalah awal.” Ujar Min Ho seraya melangkah keluar dari kamar Ji Soo diikuti dengan Jackson dan Han Sol.

“Awal? Apa maksudnya?” Bisik Ji Soo tak mengerti.

“Kau tak apa?” Tanya Jin Hwan ramah.

“Aku baik-baik saja.” Jawab Ji Soo.

“Yang tadi itu, jangan terlalu dipikirkan! Sampai jumpa di meja makan!” Kata Jin Hwan dengan melangkah keluar dari kamar Ji Soo.

“Iya.” Balas Ji Soo memandang punggung Jin Hwan yang semakin menjauh darinya.

.

.

Written By H.ZTao_94

.

.

Pagi yang cerah menyambut seorang Kim Ji Soo. Ia memandang jendela kaca kamarnya yang menampakkan suasana luar yang indah. Cahaya matahari pagi memasuki ruangan yang tampak sedikit berantakan itu.

“Aku merindukan Ayah dan Ibu.” Bisik Ji Soo.

Beberapa saat kemudian, ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya dari luar.

“Nona, apakah anda sudah bangun?” Tanya seseorang dari depan pintu. Dengan malas, Ji Soo bangun dan melangkah menuju pintu.

Ceklek…

Ji Soo membuka pintu kamarnya dan mendapati Pelayan Bae tersenyum ramah padanya.

“Selamat pagi, Nona. Saya hanya ingin memastikan bahwa anda sudah bangun karena tiga puluh menit lagi, anda harus segera turun untuk sarapan bersama.” Jelas Pelayan Bae.

“Iya. Aku akan segera mandi.” Balas Ji Soo.

“Baiklah! Saya akan turun. Jika anda membutuhkan sesuatu, anda bisa memanggil saya.” Ujar Pelayan Bae.

“Iya.” Balas Ji Soo.

Pelayan Bae pun melangkah pergi. Kemudian, Ji Soo segera menutup pintu kamarnya. Gadis cantik ini masih tak percaya dengan apa yang dialaminya.

“Ini masih seperti mimpi. Ternyata… Ternyata aku adalah cucu dari seorang konglomerat. Ini benar-benar sulit dipercaya.” Kata Ji Soo dengan menghempaskan tubuhnya diatas ranjangnya yang empuk nan nyaman itu. Ia tampak sangat menikmati hidupnya yang seratus delapan puluh derajat berubah itu.

“Tapi tunggu dulu… Kurasa hidupku dirumah ini tak akan senyaman yang kubayangkan. Iya, aku tak bisa merasa aman begitu saja karena ada Song Min Ho yang menyebalkan itu!” Gerutu Ji Soo. Gadis bermarga Kim ini pun bangkit. Ia segera menyambar handuk untuk segera mandi. Dihari pertamanya berada dirumah mewah itu, ia harus memberikan kesan baik pada kakeknya.

Sementara itu, Min Ho, Jackson, Han Sol dan Jin Hwan sudah menunggu dimeja makan dengan mengotak-atik ponsel masing-masing. Tak berapa lama, Tuan Jae Chun ikut bergabung dan duduk di pusat. Melihat kedatangan sang kakek, empat lelaki tampan itu pun memasukkan ponselnya ke dalam sakunya masing-masing.

“Dimana Ji Soo?” Tanya Tuan Jae Chun.

“Dia belum turun.” Jawab Jin Hwan.

“Aku yakin saat ini dia masih tidur.” Tambah Jackson dengan terkekeh.

“Aku akan memanggilnya agar segera turun.” Kata Min Ho dengan beranjak berdiri.

“Rencana apa lagi yang ada dikepalanya?” Bisik Han Sol pada Jackson.

“Yang kutahu, Min Ho pasti akan berbuat sesuatu pada gadis itu.” Balas Jackson.

“Gadis yang malang.” Tambah Han Sol dengan tersenyum penuh kebahagiaan.

Min Ho berjalan menaiki tangga menuju kamar Ji Soo. Dalam kegiatannya itu, ia terus tersenyum membayangkan wajah Ji Soo saat ia dengan tiba-tiba melakukan sebuah rencana yang saat ini ada dikepalanya.

Ceklek…

Min Ho membuka pintu kamar Ji Soo yang memang tak dikunci itu. Ia lantas memasuki ruangan yang cukup berantakan itu.

“Gadis itu benar-benar sangat…” Min Ho menggantung ucapannya saat melihat sebuah dress diatas ranjang.

“Baiklah! Aku akan memulainya dari ini.” Bisik Min Ho dengan mengambil dress tersebut. Lelaki tampan ini kemudian keluar dari kamar Ji Soo dan memanggil seorang pelayan yang kebetulan lewat.

“Kemarilah!” Bisik Min Ho pada pelayan tersebut. Si pelayan pun mendekat pada lelaki bermarga Song itu.

“Ada apa, Tuan Muda?” Tanya si Pelayan.

Min Ho pun memberikan kode pada pelayan tersebut agar lebih dekat padanya. Kemudian ia membisiki pelayan itu.

“Tapi…” Si Pelayan tampak keberatan dengan apa yang diperintahkan Min Ho padanya.

“Ini hanya main-main. Jangan terlalu takut! Jika terjadi sesuatu, aku akan bertanggung jawab. Dan ini sedikit imbalan untukmu.” Ujar Min Ho dengan memberi Pelayan tersebut beberapa lembar uang.

“Baiklah, Tuan Muda!” Balas si Pelayan dengan menerima beberapa lembar uang dari Min Ho kemudian pergi dengan membawa dress milik Ji Soo.

“Pertunjukkan akan segera dimulai!” Bisik Min Ho dengan tersenyum.

 

– TO BE CONTINUED –

 

Thanks buat yang udah RCL 🙂

Sampai jumpa di chapter berikutnya 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s