[1/?] Polaroid In Memories

polaroidinmemories1

GD as Kwon Jiyong
Park Soohye
Oh Sehun
Special appearance l18hee’s OC Kwon Runa
Genres  Campus-life, lil-Comedy and Romance
Length mini-chapter | Rating PG-15
Credit Poster here

Hari ini hujan deras tiba-tiba turun. Membuat semua rencana tamasyaku berantakan. Bajuku basah dan aku menggigil kedinginan sekarang. Tak ada yang bisa kulakukan selain menunggu kakak laki-lakiku datang untuk menjemput.

“Runa!”

“Oh oppa!”

“Apa yang kaulakukan di tempat seperti ini?” Jiyong, kakakku tersayang dan yang paling kuandalkan itu berlari kecil menghampiriku dengan sebuah payung berwarna kuning cerah. “Sendiri?”

Aku mengangguk, tersenyum bodoh sambil menunjukkan kamera digital di tangan. “Jalan-jalan, dan mengambil beberapa gambar.”

“Heh? Sejak kapan kau suka fotografi? Kukira kau pergi kencan dengan Sehun. Sampai kapan kau mau terus merepotkanku?”

Aku mencebik kesal. “Jangan membahasnya!” ayolah, aku sedang tidak dalam mood yang bagus untuk mendengar nama lelaki itu.

“Apa? Kau bertengkar? Lagi?” Jiyong berdecak, “benar-benar merepotkan.”

“YAK!” aku menatapnya, dan ingin menangis sekarang.

“Sudah kubilang pacaran itu merepotkan, kau mau saja dipacari lelaki itu.”

Ish! Peduli setan dengan air hujan yang mengguyur seluruh tubuhku hingga basah kuyup. Yang terpenting emosiku tersalurkan dengan baik.

“Ya! Ya! Ya! Kenapa malah memukuliku?” aku tidak peduli dia kakakku atau bukan. Kenapa dia selalu bertingkah menyebalkan di saat yang tidak tepat? Biar tahu rasa kau, Kwon Jiyong!

“Runa, sakit tahu!”

“Jiyong bodoh!”

“Jiyong idiot!”

“Jiyong—”

“Oh, Soohye!”

Aku berhenti dengan jurus pukulan seribu, berbalik, melihat ke arah yang sama dengan Jiyong. Di sebrang jalan tepatnya di bawah sebuah pohon, seorang gadis tengah berteduh sambil memeluk ransel di dadanya. Keadaannya jauh lebih parah dariku. Basah, benar-benar basah kuyup semua. Oke, mungkin aku lebih kuyup sekarang.

Fokusku kembali pada Jiyong yang kini mulai melepaskan jaket yang melekat di tubuhnya, kemudian berlari ke tempat gadis tadi. Tsk. Dasar mata keranjang! Kakak macam apa yang meninggalkan adiknya dan memberikan jaket pada gadis lain padahal jelas-jelas—aku, disini—adiknya juga sangat membutuhkan? Sialan memang. Dia bahkan membawa serta paying kuningnya itu. membiarkanku terus-menerus diguyur hujan.

Kenapa hidupku terasa sial? Aku punya kakak laki-laki super ganteng dan keren yang sejak dulu selalu membuatku sulit karena fans-fans idiotnya. Belum lagi segudang mantan pacar yang selalu merecokiku dengan curhatan-curhatan membosankan tentang Kwon Jiyong yang masih mereka cintai. Jadi, sebenarnya siapa yang selalu merepotkan sih?

Sehun juga! Pokoknya ini salah Sehun! Terserah.

Tinnn… tinnn…

“Kwon Runa! Mau ikut pulang tidak?!” Jiyong berteriak dari dalam mobil.

Heh? Sejak kapan dia sudah bersiap untuk pergi? Lagi pula pertanyaan macam apa itu? tentu saja aku ikut! Dia ‘kan datang kemari untuk menjemputku! Oh, sabar Runa… tahan, tahan. Bisa-bisa Jiyong meninggalkanku.

“Iya!”

***

Sepanjang perjalanan, aku merasa lebih sial dari patung liberti. Bayangkan saja, aku berada tepat ditengah-tengah dua orang yang sepertinya hubungan mereka bukan sekedar teman. Jiyong ‘terlihat’ khawatir dan bertanya setiap lima detik sekali padanya. Ayolah aku masih di sini, dan aku juga sama-sama kedinginan setelah diguyur hujan. Gadis itu sudah lebih dari cukup duduk dekat penghangat mobil, menggunakan jaket Jiyong juga selimut. Keberadaanku bahkan nyaris tidak disadari. Hasrat menggigit kepala Jiyong lambat laun mulai muncul ke permukaan.

Gadis itu… aku ingat pernah melihatnya beberapa kali di kampus. Sebenarnya bukan seorang gadis yang asing sih. Dia senior jurusan design grafis. Aku tidak begitu tahu, tapi dari beberapa cerita dan rumor yang beredar, gadis itu—baiklah aku tahu namanya, jadi mari hentikan memanggilnya begitu—namanya Park Soohye adalah Jiyong versi wanita.

Kau pasti akan sulit percaya jika melihat bagaimana kepribadian Soohye. Dia gadis apatis. Benar-benar apatis. Buktinya dia sama sekali tidak memerdulikan pertanyaan-pertanyaan Jiyong sejak tadi, asyik menatap  butiran air yang jatuh menabrak kaca jendela mobil. Ini kejadian yang cukup langka. Selama ini belum pernah ada gadis yang mengacuhkan kakakku. Tentu saja aku tidak masuk hitungan. Aku pernah mengacuhkannya, meski tidak sering. Sulit untuk membiarkan seorang kakak yang belum juga dewasa sendirian. Karena Jiyong berpotensi merusak apapun yang disentuhnya, serius. Jadi, pesanku adalah… jangan sampai Jiyong menyentuh hatimu, karena dia bisa merusaknya kapanpun dia inginkan.

Aku terlalu sibuk dengan berbagai macam pikiran yang hinggap di kepalaku. Tanpa kusadari mesin mobil mulai berhenti menderu. Jiyong segera melepaskan seatbelt, bergegas keluar dari mobil. Hujan sudah mulai reda, hanya rintik-rintik kecil yang masih turun mencumbu bumi.

Aku menengok keluar jendela. Mobil berhenti tepat di depan sebuah gedung apartemen. Bukan sebuah gedung yang mewah, tapi terlihat cukup bagus dan nyaman.

“Aku bisa sendiri!”

Sebuah bentakan menarik paksa fokusku. Itu suara Soohye-sunbae.

“Kenapa kau selalu seperti ini? kau hampir mati kedinginan! Biarkan aku membantu sampai aku bisa memastikan kau baik-baik saja.”

“Lepas.”

Rahangku pegal sekali karena terlalu lama terbuka lebar-lebar. Pasalnya… apa aku sedang bermimpi? Jiyong ditolak gadis? Serius?

“Berhenti bersikap manis, Jiyong. Sudah kubilang aku tak tertarik berkencan denganmu.”

WHAT?!

“Aku akan mengembalikan jaket dan selimut ini setelah dicuci, terima kasih sudah menolongku dan mengantarku pulang. Tapi aku tak bisa mengundangmu ke rumah. Tepatnya tak ingin.”

Demi celana dalam bolong milik Yungi, Soohye-sunbae benar-benar legendaris!

Cepat-cepat aku keluar dari mobil. Tak ingin melewatkan momen langka yang mungkin takan terjadi dua kali. Jiyong masih membatu di tempat, sedangkan Soohye sudah masuk ke dalam gedung. Memang sangat tidak sopan, kasar dan begitu terus terang. Melihat ekspresi wajah Jiyong, aku jadi sedikit iba padanya. Ya ampun, ini pasti berat untuk kakakku tercinta. Patah hati yang pertama itu… oh bukan hal yang baik. Ini mengingatkanku dengan pengalaman pahit cinta pertama yang bertepuk sebelah tangan.

Oppa, apa Soohye-sunbae baru saja menolakmu? Apa kau patah hati? Apa kau—”

“Ya Tuhan, dia benar-benar seksi saat sedang marah!”

Eh?

Alih-alih terhilat sedih dan frustasi, Jiyong malah terlihat bersemangat dengan senyum lebar yang terpatri di wajahnya. Ya Tuhan, kupikir dia memang punya masalah dengan kejiwaannya. Segera aku masuk ke dalam mobil ketika deru suara mesin terdengar. Bisa gawat jika ia melupakan eksistensiku dan melenggang pulang seorang diri. Bukan hal yang tidak mungkin, karena aku tahu seperti apa Kwon Jiyong si playboy kelas kakap.

***

Aku sudah mandi dan berganti pakaian tidur saat mendapati kakakku masih berbaring di atas shofa. Sibuk dengan ponsel sambil sesekali tersenyum seperti orang gila. Dari apa yang tertangkap ekor mataku, Jiyong tengah sibuk mengedit foto ternyata. Itu foto Soohye-sunbae. Eh? Soohye-sunbae? Mataku menyipit dan melihat lebih intens pada foto yang tertera di layar.

Mwo? Seunghyun oppa?!”

“Yak! Kau mengagetanku!” Jiyong memukul tepat wajahku dengan bantal shofa.

“Aish, oppa!” aku berdiri dengan kedua tangan bertumpu di pinggang. Tapi Jiyong sialan itu malah mengibas-ngibaskan tangan, mengusirku.

Sayangnya, aku punya rasa penasaran yang cukup merepotkan. Jadi aku putuskan untuk menyimpan perkara bantal shofa dan bertanya tentang… errr, hubungan Soohye-sunbae dengan Seunghyun oppa.

“Diam, dan jangan tanyakan apapun.”Aku kembali menutup mulutku yang sebelumnya sempat terbuka untuk bertanya. Tapi jiwa fansku muncul saat dengan seenak jidatnya Jiyong mengedit wajah Seunghyun oppa dengan foto wajahnya yang entah sejak kapan sudah dipotong rapi.

“Yak! Oppa! Apa yang kau lakukan. Wajahmu… aduh.”

“Berisik! Pergi sana-sana.” Kali ini bukan hanya kibasan tangan lagi yang Jiyong lakukan untuk mengusirku, melainkan tendangan kecil yang cukup mematikan dan nyaris membuatku amnesia jika saja keningku terbentur ujung meja.

Ish!”

Aku menghentakkan kaki, membuang bom berupa gas beracun dari pantatku sebelum berbalik dan pergi sambil meninggalkan Jiyong dengan jengkel.

“YAH! KAU KENTUT SEBARANGAN LAGI, KWON RUNA!”

***

“Runa!”

Langkahku semakin cepat saat suara yang sangat-sangat menyebalkan itu tertangkap telinga. Aku benar-benar benci harus mengakui ini, tapi… baiklah. Aku tidak benar-benar mempercepat langkahku, sebenarnya. Tapi tidak juga memperlambatnya. Bagaimanapun, rasa rindu itu begitu menjengkelkan.

“Runa! Kwon Runa! Aish!”

DUGH.

“AW!” ck. Kenapa harus disaat seperti ini aku… omo! Aku yakin sekali ekspresiku sangat menggelikan sekarang. kedua mataku membulat, keningku berkerut-kerut dan mulutku terbuka selebar-lebarnya.

“Tangkap dia, nuna! Tangkap! Jangan sampai kabur!” suara Sehun bergema di belakangku. Ingin sekali aku melangkah untuk segera pergi, tapi kenapa kakiku terasa sangat kaku dan sulit sekali bergerak.

Dia… balas menatapku. Lalu memiringkan kepalanya ke kanan.

“YAH—” Sehun tiba di sampingku dengan napas putus-putus. Sejak awal, dia memang tidak dilahirkan untuk berlari, Sehun sangat payah dalam olah raga, omong-omong.

“Terima-kasih, nuna.” Sehun mengangkat satu tangan.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia… pergi begitu saja. Aku menghela napas, dan mengirup oksigen banyak-banyak sambil mengibas-ngibaskan tangan ke wajah.

“Yah, Kwon Runa!” Sehun menyentuh kedua bahuku dan memutarnya sampai kami berhadapan. Aku masih kesulitan menguasai diri, jantungku masih bedetak cepat. bertemu dengan Soohye-sunbae seperti sebuah shock terapi tersendiri untuk semua organ tubuhku.

“Oh, aku harus bagaimana?” Sehun merajuk dan mulai bertingkah seperti anak kecil sekarang. Jika aku dalam keadaan normal, aku pasti berhasrat membenturkan kepalanya ke dinding. Aku bahkan lupa alasan kenapa aku menghindari Sehun kemarin-kemarin. Semuanya karena bertemu dengan Soohye-sunbae. “O? Oh. Heem.” aku hanya membalas ucapan sehun yang entah apa dengan gumamam tak jelas.

Jinja?!” Sehun tampak bersemangat, menekuk kedua bibir dan membasahinya dengan liur sambil menatap sekeliling. Sebelum aku kembali sadar penuh dari keterkejutan yang terjadi sebelumnya, Sehun membuat semuanya kembali keruh dan berantakan. Kepalaku tak bisa mencerna semua kejadian yang terjadi dengan baik. Yang aku ingat, hanya sensasi hangat dan lembab menempel dibibirku.

***

“Whoaaa, whoaaa. Sulit dipercaya!” Alessa menggeleng-gelengkan kepala, menatap kami—Sehun dan aku—secara bergantian.

“Sera, haruskah kita melakukannya juga?” Taehyung memasang wajah mesum sambil menatap Sera yang siap siaga dengan kepalan tangannya.

“Itu bukan hal yang luar biasa, Al.” Bobby mulai berkilah, “Aku juga pernah melakukannya beberapa kali bahkan—Aw!”

Aku melemparkan kotak tisu yang mendarat sempurna di wajah Bobby, si mesum abad ini.

“Yah, wajahmu memerah, Kwon Runa!” seolah tak mau ketinggalan, Wendy juga ikut menggodaku dan tamatlah sudah semuanya. Sementara si tersangka hanya tersenyum tanpa dosa.

Kami semua sedang berkumpul di salah satu sudut kantin kampus. Ini semua karena… aku bertemu dengan Soohye-sunbae, pikiranku kacau, dan… dan… ah sudahlah, aku lelah bahkan untuk mengingatnya kembali. Membayangkan gadis apatis itu berkencan dengan idola kampus, Choi Seunghyun, rasanya hatiku sedikit tak rela. Apalagi melihat penolakannya yang begitu keren pada kakakku, aku semakin membenci fakta itu. Apalagi sekarang, gara-gara kejadian tadi pagi, aku menjadi bulan-bulanan temanku semua.

“Oh, nuna!” tiba-tiba saja tubuhku menegang saat Sehun berseru dan bangkit.

Annyeonghaseo, sunbae-nim!” semua teman-temanku menyapa ramah, kecuali aku dan… Alessa. oke, aku tidak tahu-menahu alasan gadis bermarga Cho itu memasang wajah sebal dan tak perlu repot-repot menyembunyikan ketidaksukaannya dengan kehadiran sunbae, berbanding terbalik denganku yang mati-matian tersenyum.

“Oh baguslah, kalian semua berkumpul di sini.” Sunbae satu itu menatap mata kami satu-persatu. Dengan intonasi datar dan ekspresi dinginnya, ia bicara “Karena masih banyak persiapan yang harus dilakukan untuk festival kampus kali ini, kalian harus menghabiskan waktu lebih lama hari ini di kampus.”

“Yaaaaaahhhhh.” Semua orang tampak keberatan.

“Kalau persiapannya di rasa cukup, pukul sepuluh malam kalian boleh pergi.”

Ye, sunbae.”

“Alessa, kau belum fitting bajumu, bukan?”

Alessa merubah mimik mukanya lalu merajuk, menghentak-hentakan kedua kaki. “Aah, eonni! Aku tidak mau melakukannya!”

“Ikut aku.” Soohye berbalik, mengabaikan Alessa yang mengeluarkan umpatan beruntun sepanjang langkah yang diambilnya untuk mengikuti Soohye.

***

“Permisi,” aku memutar kenop pintu, perlahan dan sangat hati-hati lalu melangkah memasuki ruang sekretariat untuk meminjam beberapa peralatan. Uh, kenapa harus aku yang mengambilnya. Ayolah, di sini menyeramkan. Bagaimana jika tiba-tiba ada—krakk.

Reflek aku menutup mata dan telinga. Berjongkok sambil bergerak perlahan mencari tempat persembunyian yang aman.

“Apa yang kau lakukan?!” itu suara… Soohye-sunbae?

“Lepas!”

Jantungku berdetak semakin cepat ketika teriakan tertahan itu terdengar. Penasaran dengan apa yang terjadi, kuputuskan untuk mengintip, sedikit. Ya sedikit saja tak apa bukan?

Tubuh Soohye-sunbae terkurung antara tubuh seorang lelaki dan dinding. Aku tak bisa melihat dengan jelas siapa lelaki itu karena keadaan cahaya remang dan posisi tubuhnya yang membelakangi.

Kemudian mataku tercemar oleh adegan yang… uh. Lelaki itu memaksa ingin mencium bibir Soohye-sunbae, bahkan tak segan mengunci kedua tangan di atas kepala dan mencengkram rahangnya.

“Kau gila! Lepaskan aku, brengsek!”

“Kenapa?” lelaki itu bicara dengan intonasi rendah, namun sukses membuat siapapun yang mendengarnya merinding. Ada banyak kata yang tak bisa diungkapkan di balik kalimat tanya sederhana itu. Seolah jiwanya terkukung oleh asa. Oh ayolah, apa yang sebenarnya kulakukan sekarang? Sejak kapan aku suka mencampuri hidup orang lain? dan demi tuhan, aku tak punya hak untuk mengomentari apa yang sedang terjadi sekarang. lagi pula kenapa juga aku jadi sok puitis seperti tadi?

“Kurasa aku sudah mengatakannya dengan jelas, dan berulang, Kwon Jiyong.”

a-apa?

Gerakanku untuk keluar diam-diam dari ruangan terhenti saat nama familiar itu disebut. Kwon Jiyong? Apa aku salah dengar? Tolong jangan katakan—

“Apa sebegitu bencinya kau padaku?”

“Jiyong—”

“Aku tak ingin mendengar bualanmu lagi, Soohye. Kau bisa membohongiku dengan semua omong kosong yang keluar dari bibir ini.” Jiyong mengusap bibir sunbae dengan ibu jarinya, lalu mendaratkan kecupan singkat di sana. “Tapi tubuhmu selalu mengatakan sebaliknya. Aku bukan orang bodoh yang akan percaya begitu saja.” Jiyong dengan kasarnya melumat bibir sunbae, dalam dan semakin dalam. Tak peduli dengan reaksi yang diberikan lawannya. Ya Tuhan, aku tak percaya akan menyaksikan secara langsung kebrengsekan kakakku. Di sisi lain aku merasa buruk untuknya, tapi melihat reaksi yang diberikan Soohye-sunbae, kurasa, hubungan mereka tidak sesederhana itu. Oh ya, sejak kapan Jiyong punya urusan yang sederhana memangnya?

“Apa kau masih menyukaiku?”

“Aku tidak—”

“Lihat aku, kau sedang bicara denganku, Park Soohye!”

Aku bergedik mendengar Jiyong bicara dengan suara dalam. Aku belum pernah mendengarnya sebelum ini. Meski punya temperamental yang cukup buruk, ia selalu bisa menjaga emosinya untuk perempuan. Tapi sepertinya kali ini lain dari pada yang lain. Oppa terlihat berbeda 180 derajat. Dia terlihat sangat tak sabaran dan setiap kata yang terlontar tak luput dari emosi. Aku seperti melihat sosok lain dalam dirinya. Padahal biasanya, oppa akan memilih pergi dan menyendiri sampai emosinya mereda. Kali ini dia membiarkan orang lain melihat dirinya yang emosional. Aku saja yang hidup seatap sejak lahir baru kali ini melihatnya seperti itu.

Alih-alih melanjutkan kalimat yang belum selesai sebelumnya, Soohye-sunbae hanya menatap Jiyong dalam diam. Keduanya saling bertatapan, menyampaikan apa yang tak bisa mulut mereka sampaikan. Aku seperti melihat adegan Shim Chung dan Heo Joon Jae dalam drama.

Kudengar Jiyong mendengus dan memutus kontak lebih dulu. “Aku tak peduli dengan semua alasanmu. Aku akan baik-baik saja selama kau bersedia kembali bersamaku.”

“Jangan seperti ini, Jiyong. Kumohon.”

“Kenapa? Jangan menangis di depanku!”

Suara isakan kecil terdengar. Sunbae menuduk, menyembunyikan air mata di balik helaian rambutnya yang tak terikat.

“Kau egois, Jiyong.”

“Apa aku salah? Selama ini kita baik-baik saja, Soohye. Apa yang kulakukan memangnya? Beri aku alasan yang masuk akal!”

“Tak bisakah kau melepasku saja? Sama seperti laki-laki lain yang berkencan denganku sebelumnya. Bukankah kau juga melakukan hal yang sama dengan gadis-gadis lain?”

“Harus berapa kali kukatakan? Kau…berbeda.” Jiyong berbisik di telinga pada kalimat terakhirnya. Wajahnya mendekat perlahan, kembali mencoba mendekatkan bibir untuk mencumbu gadis di depannya.

Oh, Oh. Tiba-tiba saja perutku mual dan leherku sakit. Haruskah kuhentikan? Bukankah ini sudah kelewat batas. Aku tak seharusnya… ah sudahlah. Lagipula, aku tidak sengaja.

BRUK.

Tubuh Jiyong terdorong menambrak sebuah meja dan menjatuhkan benda-benda yang ada di atasnya. Soohye-sunbae mengusap bibir dengan punggung tangannya dengan kasar. “Hah, jangan samakan aku dengan mereka, Jiyong. Aku benar-benar muak denganmu.”

Soohye-sunbae hendak pergi meninggalkan ruangan ketika Jiyong kembali melontar pertanyaan. “Apa kau sedang menghukumku?”

“Kau pikir ini hukuman?”

“Lantas apa?”

“Kupikir kita punya prinsip yang sama, Jiyong. Kita sudah sepakat untuk tidak saling jatuh cinta sejak awal. Sekarang, lihat dirimu.”

***

Aku masih belum bisa melupakan kejadian semalam. Di satu sisi, aku merasa sangat berdosa pada kakakku karena sudah menguping membicaraan mereka. Tapi di sisi lainnya aku juga tak bisa menyembunyikan rasa penasaranku tentang keduanya. Sebagai sesama wanita, aku sedikit paham dengan posisi Soohye-sunbae yang muak dengan kelakukan kakakku. Karena kadang kala, aku sebagai adiknya saja merasa seperti itu. Bayangkan saja, hidup dengan lelaki brengsek sepanjang hidupmu bukanlah hal yang menyenangkan apalagi patut dibanggakan. Hanya saja, aku tahu seperti apa Jiyong. Memang sulit untuk memercayai lelaki seperti dirinya, tapi aku berani jamin, apa yang kulihat tadi malam bukanlah Jiyong yang biasanya.

Cup.

“Yah! Kau mau mati?!”

Sehun mencebik. “Kau melamun dan mengabaikanku dari tadi.”

“Sehun, kau kenal Soohye-sunbae?”

“Kau bercanda? Dia putri kerabat ayahku.”

“Apa?!”

“Kenapa kau begitu terkejut?”

Aku menggeleng. Tentu saja aku terkejut. “Kau belum pernah membicarakannya padaku.”

“Oh ya?” Sehun menggaruk dagu. “Maaf, tapi tak ada yang spesial, kok. Tenang saja, aku juga tak berniat untuk menyukainya sebagai seorang gadis.”

Aku melotot.

“Yah, aku serius! Meski cantik, dia gadis yang mengerikan.” Sehun bergedik.

“Mengerikan?”

“Kenapa kau jadi ingin tahu tentangnya?” Sehun menyipitkan mata.

“Lupakan.”

“Ah, kudengar kakakmu juga pernah berkencan dengan Soohye-nuna. Kau pasti sangat menyayangi kakakmu.”

Aku diam tak berniat menanggapi obrolan Sehun, meski sebenarnya aku penasaran setengah mati. Tapi rasanya memalukan untuk mengakui secara terang-teragan sekalipun pada kekasihku.

“Tenang saja, mereka sudah tak punya hubungan apapun. Terakhir kali kudengar, Soohye nuna berkencan dengan Seungri-sunbae. Ah, dia bahkan mengencani idolamu juga, Seunghyun-sunbae. Bukankah dia gadis gila? Mengencani sekelompok pria yang berteman dekat. Hidupnya seperti piala bergilir saja.”

Mungkin ada benarnya apa yang Sehun katakan, tapi aku punya firasat yang berbeda. Aku tidak berfikir bahwa hubungan Jiyong dan Soohye-sunbae sudah berakhir. Sebaliknya, mereka seperti memiliki sesuatu yang besar yang berusaha disembunyikan satu sama lain.

to be continued…

Advertisements

2 thoughts on “[1/?] Polaroid In Memories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s