[YGEFF] STAY (Oneshoot)

stay-jenbi

[Songfic] STAY

Author:            Whitelil

Cast:                iKON Kim Hanbin

                        Black Pink Jennie Kim

Other Cast:      iKON Bobby Kim

                        Red Velvet Joy

                        9u9udan Sejeong

Genre:             G, Sad, Hurt

Ratting:           PG-15

Length:            Oneshoot

Note:               Ku lagi baper berat dengerin lagu BP – STAY dan jadilah ff ini:’) And yes, I recommend you to listen to the song during reading this fiction. Btw, ff ini pernah di post di blackpinkfiction dan iKONfiction. Happy readingJ

Summary:        Don’t ask why it has to be you.. Just stay with me…

***

You take me for granted, but that’s you

But still, stay stay stay with me…

__

“Hanbin-a…”

Namja bernama Hanbin itu menghela nafas, “Tto? YAA apa kau tidak mengerti juga? Berhenti menemuiku di rumahku! Kita bisa berbicara di kampus atau bertemu dimanapun tapi tidak disini! Ah jinjja” Hanbin pun melangkah pelan meninggalkan yeoja itu menuju ke kampus.

Tak lama, menyusul lah seorang namja keluar dari rumah yang sama.

“Oh? Sunbae..” yeoja itu mengangguk pelan seraya tersenyum memandang namja itu.

“Oh?Jennie-ssi? Mwo haneun geoya?”

“Aniyo”

Namja itu terlihat bingung sesaat, “Geurae, kalau begitu aku pergi dulu” ucap namja itu tersenyum, lalu berjalan meninggalkan Jennie juga.

Sementara yeoja itu masih berdiri di tempatnya, memandangi Hanbin yang berjalan semakin jauh.

“Hanbin-a…”

***

Rather than forceful conversations with others

I’d rather be in awkward silence with you

__

Beberapa anak terlihat mulai keluar dari kelas. Mata kuliah pagi itu akhirnya berakhir.Jennie melangkah cepat menuju kelas music di lantai 3, dan yeoja itu menghela nafas berat saat mendapati keadaan kelas tersebut. Kelas disana juga telah berakhir. hanya 1 2 orang yang masih tersisa disana. Ia kembali berjalan mengelilingi gedung. Matanya sibuk mencari seseorang di seluruh sudut gedung kampus ini. Nihil. Kampus ini terlalu besar jiak ia harus menemukan seorang namja kurus seperti dia. Sh*t! Namja itu kabur lagi. Bagaimana mungkin Jennie bisa berbicara dengannya di kampus sementara namja itu selalu menghindarinya dan menghilang tepat disaat bel istirahat berbunyi. Ini sudah kali ketiga Jennie kehilangannya saat jam istirahat.

“Jennie-yaa kenapa buru-buru sekali. Mwo haneun geoya?”Joy dan Sejeongmenemukannya di lantai 1, lalu merangkul kedua tangannya.

“Kajja kita ke kantin” ucap Sejeong menampilkan eyesmilenya. Jennie menghela nafas lalu akhirnya menuruti keinginan dua sahabatnya itu. Hatinya akan meledak rasanya. Namja itu benar-benar brengs*k.

Setelah mata kuliah berikutnya berakhir, Jennie buru-buru berlari menuju kelas music. Namja itu masih disana, kelasnya belum berakhir. Jennie tersenyum puas lalu menunggu namja itu di depan pintu. Setelah melihat seorang anak keluar dari kelas itu, Jennie buru-buru menghadang namja itu di depan kelasnya.Hanbin memandangnya malas.

“Wae?”

“Aku ingin bicara padamu”

“Aku tidak. Pikyeo” Hanbin hendak melewati Jennie tapi yeoja itu lagi-lagi menghadangnya.

“Kau melarangku datang ke rumahmu dan menyuruhku untuk bicara padamu di kampus, tapi kenapa kau juga menghindariku di kampus?” Hanbin menghela nafas. Yeoja ini benar.

“Geurae. Aku akan mengantarmu pulang, bicaralah” ucap Hanbin lalu berlalu begitu saja.

“Chankanman. Bukankah itu Jennie? Apa yang sedang ia lakukan?” tanya Joy mengernyit. Mereka melihat Jennie yang sedang berbicara dengan Hanbin. Mereka berdua pun menghampiri Jennie dengan wajah tak suka.

“Wae geurae?” tanya Joy menahan langkah Jennie.

“Aku harus menyelesaikan masalahku. Akan ku ceritakan nanti”

“Geumanhaeraa” ucap Sejeong.

“Andwae. Aku tidak bisa membiarkannya”Jennie pun meninggalkan kedua sahabatnya dan mengikuti Hanbin yang sudah berjalan duluan.Joy dan Sejeong hanya bisa geleng-geleng kepala melihat yeoja keras kepala itu.

Jennie dan Hanbin berjalan beriringan melewati kompleks perumahan dekat kampus. Halte bus masih lumayan jauh, perlu waktu 10 menit untuk sampai disana. Sebenarnya ada sebuah halte yang berada di samping kampus, tapi entah kenapa Hanbin memilih halte yang lain.

“Ehem” Jennie berdeham sesaat.

“Jjaljinaesseo?” ucap Jennie pada akhirnya. Sejak tadi yeoja itu cukup lama terdiam dan sibuk memilih kata.

“Jjaljinaesseo? Menurutmu?”

“Ah.. itu hanya basa-basi” ucap Jennie. Hanbin menampilkan sedikit smirk lalu kembali dengan wajah dinginnya.

“Apa kau.. tinggal bersama Bobbysunbae sekarang?” Jennie mencari basa-basi yang lain.

“Eo”

“Kenapa tidak pernah mengatakannya padaku?”

“Naega wae?”

Jennie menelan ludah dan berpikir ulang beberapa kali, “Mianhae… jeongmal mianhae…” yeoja itu akhirnya mengatakannya. Ia siap mendengar apapun jawaban yang akan Hanbinberikan nantinya.

“Mwoga?”

“Karna aku sudah pernah meninggalkanmu dulu…”

“Ah aku bahkan tak pernah mengingatnya” Jennie terdiam mendengar jawaban Hanbin. Ia memikirkannya sampai mau mati, dan namja itu hanya menjawab tak pernah mengingatnya?

“Aku tau kau pasti sangat marah. Aku benar-benar menyesal. Kau harus tau, aku tak berhenti memikirkanmu selama sepuluh tahun terakhir…”

“MWO? Sepuluh… Ah chankamman. Hokshi.. apa kau seseorang dari masa laluku..? Ah ini sedikit membingungkan… pantas saja kau tetap memanggilku dengan nama, tanpa sunbae atau oppa” Jennie lagi-lagi terdiam. Kali ini yeoja itu menghentikan langkahnya.

“Jangnanjijima..” ucap Jennie membuat Hanbin menghentikan langkahnya.

“Jangnan?” Hanbin berbalik lalu memandang Jennie.

“YA bukankah kau mau menyatakan perasaanmu? Aku pikir kau hanya ingin menyatakan perasaan, tapi ternyata ini lebih mengejutkan dari yang aku kira. Apa kau..” Hanbin mulai melangkah menghampiri Jennie, “benar-benar seseorang dari masa laluku?”

“KIMHANBINJANGNANJIJIMA! Kau bahkan tidak pernah kecelakaan hingga lupa ingatan…..”

“Mengapa kau seyakin itu?” Hanbin menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.

“Sejak ibuku meninggal, aku melupakan semua masa laluku. Aku tidak memiliki ingatan masa kecilku sekarang. Ah mungkin kau salah satu dari ingatan masa kecilku…Mian aku tak bisa mengenalimu” namja itu kembali berjalan meninggalkan Jennie perlahan.

Jennie tertegun.Terlalu kaget atas semua kata-kata yang baru sajaHanbinucapkan. Mwo?

Seburuk itukah masa lalumu? Tak adakah sedikitpun kenangan indah yang ingin kau ingat?Jennie berbicara lebih kepada dirinya sendiri.

Jennie menghela nafas lalu mengejar ketertinggalannya dengan Hanbin.

“Geurae! Ayo mulai semuanya dari awal. Uri.. chinguhaja” ucap Jennie ceria seraya mensejajari langkahnya dengan langkahHanbin. Mereka telah sampai di halte bus sekarang.

“Shirreo” ucap Hanbinmengabaikannya, lalu melihat papan rute bus.

“Wae??” tanya Jennie. Kemudian sebuah bus berhenti di hadapan mereka. Bus nomor 023.

“Ah apa bus ini yang menuju rumahmu?” tanya Hanbin tanpa memperdulikan pertanyaan Jennie. Yeoja itu memandang Hanbin kesal lalu mengangguk terpaksa.

Hanbin pun melangkah menaiki bus meninggalkan Jennie begitu saja. Jennie menghela nafas kesal untuk yang kesekian kalinya, dan akhirnya menaiki bus itu juga. Mereka duduk di kursikedua dari baris belakang.

“Wae? Waeyo?” Jennie masih tak menyerah. Ia kembali mempertanyakan alasan Hanbin tadi.

Hanbin memandang Jennie sangat dekat, membuat yeoja itu tersudut di kaca jendela, “Aku tidak berteman dengan yeoja. Mereka merepotkan, seperti sekarang ini” ucap Hanbin lalu kembali duduk tenang. Sementara Jennie tampak shock dengan gerakan tiba-tiba namja itu.

“Cih.. padahal dia yang berkata akan mengantarku pulang” ucap yeoja itu seraya memegangi pipinya yang terasa panas.

***

I don’t expect a lot right now

Just stay with me…

__

Jennie berjalan menyusuri taman di sepanjang sungai Han. Ia berjanji untuk bertemu seseorang sore itu. Saat melihat sosok yang familiar baginya, yeoja itu melambaikan tangan lalu berlari kecil.

“Sunbae annyeong” ucap Jennie seraya tersenyum dan mengangguk singkat.

Bobby tersenyum hangat, juga mengangguk sekilas, “wae geurae? Kenapa tiba-tiba kauingin bertemu denganku?”

Mereka pun mulai berjalan pelan, menyusuri sungai Han dengan angin sore yang terasa sejuk.

“Hanbin neun…”

“Ah geurae, ku dengar kalian adalah teman masa kecil saat di Kanada dulu?” potong Bobby cepat. Namja itu sepertinya sudah lama ingin bertanya hal ini pada Jennie.

“Eottokhae arra?”

“Ey tentu saja Hanbin yang mengatakannya. Bagaimana mungkin aku tau jika hanya menebak saja”

“Hanbin… yang mengatakannya..?”

“Nde”Bobby mengangguk.

“Tapi kemarin.. dia sangat yakin jika dia…. tidak pernah mengenalku sebelumnya..” ucap Jennie membuat Bobby tersenyum kecil.

“Aku akan mendengarkan ceritamu dulu. Tentang masa kecil kalian. Baru setelah itu aku yang bercerita tentang Hanbin. Call?” Jennie memandang Bobby yang masih tersenyum hangat. Eye-smile namja ini membuat hati siapapun yang melihatnya tenang.

Call

***

Flashback. Vancouver, 2005.

“Jennie, mulai sekarang mereka akan tinggal bersama kita. Apakah tidak apa-apa?” Jennie kecil memandang seorang ibu dan anak laki-laki di hadapannya sedikit bingung. Detik berikutnya, ia memegang tangan eomma nya lalu memandang eommanya seraya tersenyum.

“Tentu saja, aku senang punya teman” ucap Jennie ceria.

“Beri salam” ucap eommanya, Jennie pun mengulurkan tangannya pada ibu itu yang segera disambut dengan hangat.

“Kau anak yang sangat ceria..” ucap ibu itu.

Jennie kembali mengulurkan tangannya pada anak laki-laki di sebelah sang ibu.

I’m Jennie. Who are you?” sedetik.. dua detik.. anak laki-laki itu memandangnya dingin dan mengabaikan tangan Jennie yang masih menggantung di udara.

“Shirreo” ucap anak laki-laki itu dengan kasar. Jennie terbelalak, bukan karna perkenalannya yang ditolak oleh anak itu, tapi karena anak laki-laki itu berbicara bahasa Korea.

“HANBIN-AH! BERSIKAPLAH SOPAN SEDIKIT!” anak laki-laki itu berlari begitu saja menuju ke taman belakang rumah.

“Maaf Jennie, Hanbin memang selalu seperti itu” ucap sang ibu meminta maaf.

“Gwenchana.. ahjumma” ucap Jennie dengan logat American nya.

Hari-hari berlalu tanpa satu hari pun Jennie lewati dengan usaha untuk mendekati anak laki-laki dingin itu. Hingga suatu hari, Jennie menghampirinya yang sedang duduk melamun di taman belakang.

Why are you so though?” ucap Jennie lalu duduk di sebelah Hanbin.

“Kkeojjeo”

Do not speak Korean to me” ucap Jennie menegaskan. Sesungguhnya itu karena ia tidak terlalu paham berbahasa Korea. Hanbin hanya memandangnya sekilas lalu kembali memandangi rumput-rumput di hadapannya.

“Hanbin-ssi… haengbokhaesseoyo? Yeogi neun?” tanya Jennie tak menyerah.

“Bahagia? Di rumah ini?” tanya Hanbin. Jennie mengangguk penuh harap.

“Ani” jawab anak laki-laki itu singkat.

Jennie memandangi Hanbin dari dekat. Ini pertama kalinya Jennie memandang Hanbin sedekat ini. Hingga akhirnya yeoja itu menyadari ada sebuah bekas jahitan di bawah telinga kiri Hanbin.

“Apakah itu.. tidak apa-apa?” Jennie mencoba menyentuh bekas jahitan itu, tapi Hanbin dengan cepat mengelak.

Sorry” ucap Jennie.

“Ini ulah ayahku” ucapnya tiba-tiba.

“Bagaimana.. bisa?”

“Jika kau selama ini bertanya-tanya mengapa aku dan ibuku tinggal disini, itulah alasannya” Jennie mendengarkan cerita Hanbin dengan seksama.

“Aku tidak pernah menceritakan ini pada siapapun karna aku tak punya siapapun untuk diceritakan. Aku hanya punya ibuku di dunia ini” Jennie memandang Hanbin dengan sedih. Anak sekecil ini tidak punya siapapun di dunia ini.

“Ayahku dipecat dari pekerjaannya setengah tahun yang lalu. Dan ia berubah menjadi monster setelah itu. Kerjanya berjudi, mabuk-mabukan, dan main perempuan. Jika ia kehabisan uang, ia akan pulang ke rumah untuk memintanya pada ibuku. Jika ibuku tidak memberinya uang ia akan memukuli ibuku, bahkan memukuli aku..” Hanbin terdiam sesaat. Matanya berkaca mengenang kenangan buruk itu.

“Ah aku sangat membencinya. Mungkin jika aku sudah dewasa, akan ku bunuh orang itu” lanjut anak itu lagi.

“Ibuku akhirnya tidak kuat dan melarikan diri dari rumah.. dan disinilah kami, menumpang di rumahmu” anak itu mengakhiri ceritanya.

Jennie memandangnya berkaca-kaca, “It’s okay.. everything’s gonna be alright. I’ll stand by you from now on..” ucap Jennie meyakinkan. Yeoja itu tersenyum cerah.

Hanbin memandangnya ragu, lalu perlahan senyuman mulai terlihat di wajahnya.

Sejak hari itu, hari demi hari mereka lewati bersama. Mereka berjanji untuk saling mengandalkan satu sama lain. Mereka berjanji untuk selalu bersama apapun yang terjadi. Mereka berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkan satu sama lain.

Hingga suatu hari, di malam 1 januari 2006, saat mereka baru saja selesai mengadakan pesta barbeque ayah Jennie menyampaikan sebuah berita buruk…

“Jennie.. tidak ada yang bisa ayah lakukan…” ayahnya berusaha membujuk Jennie, tapi yeoja itu menggeleng kuat.

Don’t do this to me please..” Jennie yakin airmatanya tak bisa berhenti saat ini.

“Jennie come on..”

Dad.. please.. i won’t leave..”

“JENNIE KIM! Tolong jangan mempersulit keadaan. Ayahmu ini harus pindah ke Korea. Ayah pun sebenarnya tidak ingin. Ayah lebih ingin tinggal disini. Tapi tidak ada yang bisa ayah lakukan karna kantor pusat yang memerintahkan ayah…” Jennie menggeleng kuat.

I WON’T LEAVE!” yeoja itu berlari menaiki tangga lalu masuk ke kamarnya seraya menangis.

Hanbin memandanginya dengan sedih dari celah kecil di pintu kamarnya. Jennie sebentar lagi akan meninggalkannya. Ia akan pergi dari sini.

__

“Tidak tidak.. kau tidak perlu mengkhawatirkan tentang apapun. Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan meninggalkanmu..” ucap Jennie keesokan paginya di taman belakang rumah.

“Aku tau kau pasti pergi..” ucap Hanbin. Hatinya sesungguhnya sangat marah saat ini.

NO! PROMISE!” ucap Jennie dengan yakin.

__

Pada akhirnya, yeoja kecil itu memang tetap pergi. Meninggalkan Hanbin dan ibunya, meninggalkan semua kenangan indah yang telah mereka lakukan dalam waktu singkat. Hanbin merasa marah. Ia merasa dikhianati karena Jennie sudah meyakinkannya berkali-kali bahwa ia tidak akan pergi.

“Aku berjanji akan kembali.. aku janji akan menemuimu di usiaku yang ke-15! Aku janji! Tunggu aku kembali, oke?” ucap Jennie seraya melambai-lambai dengan berat hati dari kaca mobilnya.

Don’t make any promise to me” ucap Hanbin lalu berlalu dari sana. Ia tak sanggup melihat wajah Jennie lagi.

“HANBIN! HANBIN I PROMISE YOU! AKU AKAN LANGSUNG MENEMUIMU JIKA TERJADI SESUATU PADAMU! AKU JANJI KIM HANBIN!!!”

End of flashback.

***

Jennie sudah menitikkan airmatanya. Ia tak dapat menahannya. Inilah yang selalu terjadi setiap kali ia mengingat kenangan itu.

“Jadi.. kalian memiliki hubungan semacam itu sejak kecil? Aku tidak pernah mengerti sebelumnya.. ia selalu menyebut-nyebut seorang gadis setiap ia bercerita tentang masa kecilnya. Cinta pertamaku yang menyakitkan..” Bobby tersenyum,“Itu yang selalu ia katakan tentangmu”

“Mwo..?”

“Hanbin menyebutmu seperti itu hahaha, aku terkadang bingung kenapa ia tidak menyukaimu padahal kau yeoja yang sangat popular di kampus. Tapi sekarang aku mengerti..”

“Lalu sekarang giliranmu sunbae” ucap Jennie.Air muka Bobby seketika berubah serius.

“Ehem geurae. Semua ini dimulai ketika ibunya meninggal..”

“Ayo duduk disini” ucap Bobby menunjuk sebuah kursi kayu. Mereka pun duduk disana.

“Hanbinmengalami banyak hal sulit di dalam hidupnya. Sejak ayahnya sering menyiksa ia dan ibunya, dan hidupnya semakin sulit sejak ibunya meninggal dunia..”

“Apa yang terjadi padanya setelah ibunya meninggal?”

“Ia bertemu ayahnya di pemakaman ibunya, dan ayahnya memohon padanya untuk kembali. Ia sangat marah pada ayahnya dan akhirnya ia kabur”

“Ia menjadi gelandangan di kota besar seperti Vancouver. Ia berkata jika hidupnya sangat-sangat menyedihkan saat itu” Jennie tau matanya sudah berlinang saat ini. Ia merasa benar-benar bersalah pada namja itu.

“Ah bagaimana.. kau bisa bertemu dengannya?” tanya Jennie.

“Ia bertemu ayahku di usianya yang ke 13. Saat itu ia bekerja di sebuah restoran sebagai tukang mencuci. Ayahku meninggalkan ponselnya di atas meja dan Hanbinmenyimpannya hingga ayahku kembali dan ia mengembalikan ponsel milik ayahku. Aku sangat salut padanya. Disaat hidup terasa amat sulit baginya, ia tetap berperilaku jujur dan tidak mau mencuri barang milik orang lain”

“Dia memang anak yang seperti itu sejak kecil”Jennie tersenyum kecil.

“Ayahku langsung tertarik padanya, dan banyak bertanya tentang kehidupannya. Ayahku pun menawarkan tempat tinggal untuknya, dan mengangkatnya menjadi seorang anak. Ia setuju dan memutuskan untuk mengganti namanya menjadi nama Amerika nya. Ia mengatakan jika ia akan melupakan semua kenangan buruk yang pernah terjadi selama ini. Ia akan memulai hidup barunya dan melupakan masa lalunya”

“Oh Jennie-ssiapa kau.. menangis?” Bobby menyentuh bahu Jennie hati-hati.

“Aku merasa sangat buruk padanya.. aku berjanji banyak hal padanya dan aku mengingkari semuanya..” ucap Jennie terisak. Hatinya sangat sakit mendengar kehidupan Hanbin setelah ia meninggalkannya.

“Dia sudah baik-baik saja sekarang, jangan merasa buruk pada dirimu sendiri” ucap Bobby menenangkan. Jennie mengangguk lalu menghapus airmatanya.

“Ah geundae.. ceritanya tak selesai sampai disitu. Di tahun-tahun pertamanya sebagai anggota keluargaku, ia sebenarnya masih mengingatmu dan menceritakan banyak hal padaku. Tapi semuanya berubah.. sejak ia bertemu ibunya tahun lalu di Seoul”

“MWOO?? Bukankah ibunya…” Jennie terbelalak mendengarnya.

“Ndee. Yang ia tau pun ibunya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Tapi kami melihatnya dengan jelas. Memang itu yeoja yang sama persis dengan yang ada di foto keluarga miliknya. Ibunya kini telah berubah menjadi seorang kaya raya dan tinggal di Seoul”

“Eottokhae…” Jennie kehabisan kata-kata. Bagaimana bisa ahjumma kesayangannya itu tega melakukan hal itu pada Hanbin?

“Itu yang membuatnya membenci wanita. Yeoja yang paling ia cintai di dunia ini menyakitinya dengan begitu hebatnya. Meninggalkannya dan menelantarkannya hingga ia jadi gelandangan. Dunianya serasa runtuh seketika. Ia kacau selama 3 hari. Ia tak mau makan, tak mau pergi ke sekolah. Hal itu membuat ia tidak bisa percaya pada wanita lagi.. dan ia sangat membenci wanita…”

Jennie lagi-lagi kehabisan kata-kata. Banyak sekali hal yang mengejutkannya saat ini.

“Mian. Aku tau ini bukan salahmu..”

“Aku.. sangat ingin menjadi tempatnya berbagi beban saat ini, sunbae.Bebannya terlalu berat jika harus ia tanggung sendiri” ucap Jennie kini mulai menitikkan airmata lagi.

“Uljima.. aku akan membantumu. Kkeokjongma” ucap Bobby tersenyum tulus.

“Sunbae.. terimakasih sudah menjaganya hingga akhirnya kami bertemu lagi…” ucap Jennie tulus. Bobby tersenyum mendengarnya lalu mengangguk.

***

Don’t ask why it has to be you,

Just stay with me…

__

Pagi itu Hanbin baru datang ke kampus. Mulutnya sibuk memakan lollipop kesukaannya. Ia memasuki kelasnya yang masih terlihat sepi. Hanya ada beberapa anak perempuan saja yang kini sedang asik mengobrol. Ia menuju ke mejanya dan duduk begitu saja. Tak lama, ia berjalan menuju lokernya untuk memasukkan beberapa buku di tasnya.

“Oh?” ia melihat sesuatu di lokernya, lalu ia melihat sekeliling. Mencari siapakah yang kira-kira menyimpan itu di lokernya.

Banana bingrae kesukaannya, dan sebuah kertas bertuliskan

“HOKSANG”. –JK.

“JK? Mwoyaaa? Apa orang ini memerintahku untuk pergi ke atap?” gumam Hanbin.

Hanbinmembawa kertas dan bingrae nya kembali ke kelas, lalu melempar kertas itu keatas meja.Ia kembali duduk seraya meminum bingraenya santai. Ia tak perduli dengan surat itu, ia tak perduli kalaupun ada seseorang yang sedang menunggunya di atap saat ini. Ia tidak ingin pergi ke atap. Setelah menghabiskan bingrae nya, ia terus memandangi kertas itu. Berpikir berulang kali.

“Ah jinjja” ia mengambil kertas itu kasar, lalu akhirnya pergi ke atap.

Saat membuka pintu atap, ia mendapati seorang yeoja tengah memunggunginya. Ia menghela nafas berat, lalu akhirnya melangkah mendekati yeoja itu.

“Jennie-ya” yeoja itu menoleh, dan tiba-tiba mendapat sebuah pelukan dengan kasar. Yeoja itu terbelalak kaget. Sedetik.. dua detik.. tiga detik.. hening.

“Aku sangat membenci ayahmu yang telah memisahkan kita… aku juga membenci semua wanita karna ibuku…” ucap namja itu pelan.

“Aku ingin sekali membencimu.. tapi aku tak pernah sanggup melakukannya..” dan seketika itu juga airmata menitik dari mata Jennie.

“Aku namja yang buruk. Aku kasar dan berpura-pura melupakanmu.. kenapa kau tak pernah menyerah? Kenapa kau tetap memilihku? Aku sudah bertekad untuk benar-benar melupakanmu.. tapi aku tak pernah sanggup..” airmata lagi-lagi mengalir dari mata Jennie.

Hanbin melepas pelukannya, lalu memegang kedua belah pipi yeoja itu.

“Uljima.. kau sudah terlalu banyak menangisiku selama ini” ucap namja itu dengan eye-smile nya. Ia menyeka airmata Jennie dengan ibu jarinya.

“Hanbin-a..” panggil Jennie lembut.

“Nae chot sarang KimHanbin..” Hanbin tersenyum mendengarnya.

Don’t ask why it has to be youjust stay with me..” ucap Jennie memandang mata Hanbin dalam-dalam.

Hanbin tersenyum, “I’ll stay with you.. forever” ia pun memandang bibir Jennie sesaat, lalu akhirnya mengecup bibir itu cukup lama. Jennie memejamkan matanya dan airmata bahagia lagi-lagi mengalir.

__

So stay, wherever that may be

Sometimes, when darkness comes, I’ll be your fire

In this world that is a lie, the only truth it’s you

This a letter from me to you

-END-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s