[Vignette] Deviate

10354227_1508406002760652_1118416287646255052_n

Deviate
by truwita
.
[iKON] Bobby and [Honeybutter26 OC’s] Park Hani
Genres Romance, maybe Hurt, lil-bit Comedy | Length Vignette
Rating PG-15

Don’t look at me with those eyes
Don’t say those obvious lies,
don’t do that
Leave me alone now, don’t come to me

False Hope – Song Jieun

Kan kutepis asa, pulangkan duka.
membuang tangis, lalu mulai menulis.

            Tamparan itu memang sedikit pedih, ah… mungkin terdengar munafik jika kukatakan begitu. Yeah, baiklah. Tamparan itu menyakitkan, sangat menyakitkan. Tapi aku tak berpikir itu adalah sesuatu yang buruk. Aku belajar beberapa hal. Seperti rasa sakit dan cara untuk mengatasinya. Seperti halnya luka yang menggores kulit, kau harus berani mengambil rasa sakit untuk kesembuhan.

Awalnya, aku tak pernah berpikir untuk jatuh hati. Dua kata itu terlalu keramat bagi orang sepertiku. Beberapa tahun terakhir, aku cukup menikmati hidup. Aku hanya perlu fokus dengan duniaku dan kewajibanku sebagai seorang mahasiswi. Celakanya, aku tak begitu bersahabat dengan sepi.

Ini terjadi di luar kendali, oh tentu saja.

Berawal dari… pertemuan? Ah, bagaimana kuharus mengawali cerita ini? sedikit memalukan, kau tahu. Baiklah akan kuawali dengan perkenalan. Sebelum kubercerita panjang lebar, kau harus tahu seperti apa orang yang kuceritakan nanti.

Bobby. Begitulah ia akrab dipanggil. Ia tak begitu tampan, namun memiliki sejuta pesona yang bisa memikatmu. Oh aku benci mengakuinya. Dia memiliki bakat musik yang sangat baik, Dia juga pendengar dan pencerita yang baik. Percayalah, kau akan merasa nyaman bersamanya. Bahkan di saat pertemuan pertamamu.

Humoris dan pengertian. Dia mampu mencairkan suasana seperti apapun. Bertindak sebagai dirinya sendiri dengan penuh percaya diri. Aku tak pernah tahu akan semudah itu untuk menyukainya. Dan aku menyesal karena itu.

Aku pikir, ini akan baik-baik saja jika aku hanya menyukainya seorang diri. Melihatnya lewat ekor mataku, atau bersapa singkat ketika bertemu. Itu sudah cukup. Yah, awalnya seperi itu.

Akan tetapi hari yang tak pernah kuduga itu datang. Mengacaukan segala yang telah kutata rapi. Sebuah pesan masuk. Kupkir itu hanya sebuah pesan pemberitahuan dari operator yang biasa kuterima. Namun, saat ponselku kembali berdering, itu sebuah nomor asing.

Aku biasa menghiraukan apapun yang menurutku asing. Tapi, sebuah pesan lain masuk. Penasaran, akhirnya kubuka juga.

Hai Park Hani-ssi. Ini aku, Bobby.
Besok tak ada mata kuliah Prof. Jang. Beliau sakit.
Tolong disebarkan yaa!

Jika dipikirkan ulang, itu hanya pesan singkat biasa, tak ada sesuatu yang patut dihebohkan. Akan tetapi bukan itu titik utamanya.

Entah apa yang terjadi kemudian. semuanya terasa sangat alami dan instan. Entah sejak kapan kami mulai akrab saling berbalas pesan dan melempar guyonan. Entah sejak kapan perasaan ini berkembang secara tak wajar. Sebuah bibit bernama harapan mulai tertanam dan tumbuh membesar pelahan.

Tanpa sadar, aku sudah terseret dan berdiri di bibir jurang.

***

Hari itu matahari bersinar lebih terik dari biasanya. Membuat siapapun malas untuk bangkit dari posisi ternyaman, begitupun aku.  Tapi aku harus segera bergegas pergi sebelum terlambat. Hari ini adalah hari pertamaku bekerja. Memang bukan pekerjaan besar. Hanya pekerjaan paruh waktu untuk mengisi waktu luang juga tambahan jajan. Bukan hal bagus jika terlambat di hari pertama bekerja.

Sudah hampir 5 menit aku menunggu bus. Uang sakuku tak memungkinkan untuk menggunakan jasa taksi sebagai transportasi. Berulang kali aku melirik jam tangan, berharap semoga aku tak terlambat datang.

Dunia terasa berhenti berputar. Seolah jarum jam juga tak lagi sudi bergerak. Udarapun semakin menipis dan menghilang. Ketika dua mata kepalaku menangkap sosok yang cukup familiar belakangan ini.

Bobby tampil dengan pakaian santai. Biasa saja, tapi di mataku dia benar-benar menakjubkan. Aku benci kenapa aku bisa menatapnya begitu. Bahkan setelah tangan besar dan jemari panjangnya menggenggam tangan lain dengan begitu erat.

Bobby tersenyum, memperlihatkan sepasang gigi seri yang ukurannya sedikit lebih besar dari gigi yang lain. Matanya terlihat segaris, akibat otot wajah yang berkontraksi. Ekspresi yang selalu menghantui malam sebelum kutidur. Mungkin, sebelumnya ekspresi itu membuatku tersenyum dan tenggelam dalam euforia yang tak bisa dijabarkan kata. Tapi sekarang, ekspresi itu tak ubahnya seperti mata tombak yang bisa menghujam hati setiap saat.

Bobby berjalan beriringan dengan seseorang yang sudah tak begitu asing bagiku. Satu tangannya yang tadi bergandengan kini berpindah tempat. Melingkar di sebuah bahu sempit yang nampak hangat dan nyaman.

Aku tak bisa berkedip. Meski mataku terasa perih. Sampai saat keduanya berjarak beberapa meter di depanku. Awalnya, aku hanya bisa terpaku. Berharap ini hanya ilusi, atau kesalahan mata yang  terlalu banyak menonton film-film menyedihkan. Namun sayang, ini adalah nyata.

Aku tak bisa mengungkapkan bagaimana perasaanku sekarang. jatuh dari tempat yang sangat tinggi benama harapan, bukanlah keadaan yang menyenangkan.

“Oh, Hani-ssi!” ini adalah kali pertama aku tak sudi mendengar namaku disebut oleh orang lain.

“Oh, hai.” Aku hanya mengangkat tangan kanan sekilas. Sama sekali tak berniat balas menyapa dengan ramah.

“Menunggu bus?”

“Aku akan menunggu kereta di stasiun. Menunggu kapal di dermaga, dan menunggu pesawat di bandara.”

“Oh ya. Benar juga.” Dia tersenyum. Seolah tak terjadi apa-apa. Dia bahkan dengan brengseknya menyentuh pucuk kepalaku, dan mengacak tatanan rambut yang sudah kuatur sedemikian rupa. Double shit!

Lalu sisa waktu yang ada sampai bus tiba dihabiskan dengan diam. Meski sebenarnya hanya aku yang diam di sini. Bobby dan… oke, aku malas menyebut nama orang yang satunya. Akan tetapi demi kelangsungan cerita ini aku akan mengatakannya.

Namanya Yona. Ahn Yona. Gadis yang tak seberapa cantik. Dia satu kelas denganku di mata kuliah bahasa Inggis. Dan aku beberapa kali terlibat proyek yang sama dengannya. Jadi, kurang lebih aku tahu siapa dan bagaimana dirinya. Bukan wanita yang buruk untuk bersanding dengan Bobby. Hanya saja, kenapa setelah semua yang terjadi antara aku dan lelaki itu? kenapa harus? Dan aku mulai menyalahkan keadaan.

Bobby dan Yona asyik berbincang dan membicarakan hal-hal memuakkan. Mereka bahkan tertawa sesekali. Ya, bagus. Anggap saja aku hanya nyamuk yang hinggap di dinding. Siap menyedot darahmu dan menanamkan racun di tubuhmu. Ugh!

Memang tidak ada kepastian khusus yang menyatakan mereka adalah sepasang kekasih. hanya saja, aku terlalu peka untuk tidak menyadarinya. Di mataku, semua terlihat jelas. Seolah ada kalimat yang dicetak tebal dengan huruf kapital di atas kepala keduanya.

PACARAN, WOY. GANGGU, BACOK!

Bus tiba, namun ternyata bukan akhir dari penderitaanku. Mereka naik bus yang sama. Aku tak ingin bertanya kemana tujuan mereka meski aku penasaran setangah mampus. Seperti adegan dalam drama picisan, mereka duduk di kursi paling belakang. Melanjutkan kegiatan berbincang mersa, Sial! kenapa aku harus menyaksikannya di hari yang begitu cerah ini? bukan hanya kulitku yang terancam terbakar oleh terik matahari, tapi hatiku juga!

***

Sejak kejadian itu, aku mencari tahu kebenarannya. Sakit memang, tapi ini lebih baik. Karena mengetahui keburukan itu lebih cepat lebih baik, atau tidak perlu tahu sama sekali dan menjadi orang bodoh seumur hidup.

Sayangnya, setelah asumsiku dikonfirmasi banyak pihak, keduanya semakin gencar saja muncul di depan mata. Tak hanya di dunia nyata, di dunia maya sekalipun. Mereka banyak mengunggah foto dan video bersama ketika momen kencan manis. Lebih gila lagi, Boby bahakan pernah menggunakan akun media sosial Yona untuk menghubungiku.

Mungkin aku yang di sini terlalu membawa perasaan. Aku yang terlalu menganggap hal yang menurut Bobby biasa menjadi istimewa. Aku juga yang terlalu berharap. Tapi sumpah, sikap Bobby benar-benar membuatku kehilangan sadar akan batasan. Dia benar-benar baik, lembut dan pengertian saat itu. Sepi dan lelahku lenyap saat aku berbincang atau bertukar pesan dengannya. kuakui, aku bodoh merasa ia menyukaiku, merasa menjadi seseorang yang spesial untuknya. Tapi setelah ini, kau akan mengerti kenapa aku berpikir demikian. Bahkan aku mulai berpikir bahwa hubungannya dengan Yona adalah palsu. Bobby tidak sungguh-sunggu ingin bersama gadis itu.

Aku baru saja menyelesaikan jam kerja paruh waktuku. Ini sudah pukul 10 malam. Jalanan mulai sepi. Mengingat udara yang cukup dingin malam ini. Aku berjalan selangkah demi selangkah. Mengeratkan mantel dan mengubur kedua tanganku di saku. Sesekali aku menengadah menatap langit malam yang gelap, tanpa bintang. Langit itu seperti hidupku. Kosong dan hampa. Sama sekali tak ada hiasan yang cocok selain bintang dan bulan. Sayangnya, kedua benda langit itu enggan menemani malam ini. Jadi, sepertinya langit gelap itu akan menghabiskan semalam penuh dengan kesendirian. Sama halnya dengan malam-malamku sebelumnya.

Aku mulai berhenti menyamakan diri dengan langit gelap saat sosok yang tak ingin kulihat berdiri di persimpangan. Di bawah temaram lampu jalan. Ia menoleh, melambaikan tangan. Masih sama dengan sebelum-sebelumnya. dengan pesona dan senyum yang sama. Ah tidak. kadarnya ‘sedikit’ bertambah. Agaknya membuatku lupa.

“Bobby…” tentu saja aku termangu. Dan terkejut beberapa saat. Meski terselip secuil rasa senang, aku lebih suka untuk tidak melihatnya dalam jangka waktu yang lama. sampai aku bisa melupakan apa yang pernah kupunya untuknya.

Namun lagi-lagi takdir selalu berkata lain. Seolah hidup dan perasaan ini adalah sebuah permainan.

Bobby mendekat. Berdiri satu setengah meter di hadapanku. Masih dengan senyum yang tersungging. Ia bertanya dengan nada lembut, “Bagaimana kabarmu?”

Sial. aku tak bisa memilah kalimat untuk menjawab. Aku hanya diam dan memasang wajah tolol sambil menatap ke dalam matanya. Bobby menyibak helaian rambut yang menutup wajahku, menyisipkannya ke belakang telinga. “Aku pikir aku akan mati karena merindukanmu.”

Sial! sial! sial! aku tak bisa lagi mengontrol detak jantungku sekarang. mungkin wajahku juga sudah memerah.

Dengan satu sentakan kuat, aku sudah berada dalam dekapannya yang hangat dan nyaman.

Ini di luar kendali. Aku tak bisa menghentikan apa yang Bobby lakukan. Dia selalu melakukan apa yang ingin dia lakukan tanpa bantahan. Tubuhku juga terasa sangat kaku. Aku tak bisa bergerak sedikitpun. Bobby memelukku begitu erat. Seakan tak ada lagi waktu yang tersisa untuk menikmati setiap detik dari kehangatan yang menjalar.

Waktu hanya berlalu. Menjadi saksi setiap momen yang terjadi. Entah sudah pukul berapa sekarang. rasanya berat melangkahkan kaki memasuki gerbang kost-an. Meninggalkan Bobby di belakang sana yang masih belum lepas memandangku.

Aku berbalik, tersenyum dan mengangguk sekilas. Tapi yang dilakukan Bobby benar-benar membuatku bisa kehilangan nyawa saat itu juga. Terlalu hiperbolis? Terserah. karena ini yang kurasakan

Bobby melangkah cepat. Menahan gerakan tangaku yang hendak menutup gerbang. Dia tampak ragu sesaat, tapi akhirnya ia tak lagi peduli apa-apa. Sepasang bibir itu pada awalnya hanya menempel, lalu berubah menjadi sebuah kecupan-kecupan ringan yang manis. Sebelum akhirnya menjadi sebuah lumatan yang dalam dan semakin dalam saja.

Aku pikir ini sudah keterlaluan. Tapi aku juga tak bisa berbuat apapun di saat kendali berada di tangan Bobby sepenuhnya. Aku tak bisa membohongi diri bahwa aku menikmatinya. Menikmati detik demi detik yang kuhabiskan bersama. Ini seperti semuah mimpi erotis nan kotor. Namun tak ada yang bisa menghentikan semuanya. Perasaan itu lebih mendominasi. Tak peduli seterjal apa jalan yang harus kutempuh di depan sana.

Bukannya aku tak sadar, tentu saja aku sadar sepenuhnya dengan apa yang kulakukan dan apa yang terjadi malam ini. Meski begitu, jantungku tetap berpacu. Hati ini berdebar dan merasa sakit di saat yang bersamaan. Tak ada yang peduli hal itu. saat kau menikmatinya.

End of story.

INI APAH. HAHA

Oke, pertama-tama salam kenal buat semua reader-deul di sini, buat semua staff dan senpai-senpai, mohon bimbingannya /bow/
karena ini fic debutku, jadi maapkan kalo gak jelas.
aku sempet dibuat bingung sama akhir cerita ini.
aku gatau mau dibawa kemana lagi endingnya. Jadi setelah bertapa dan aku masih gak dapet ide, jadi akhirnya begini. XD
makasih buat yang udah baca, semoga gak kecewa.
jangan bash mas bobb, karena dia sahabatnya hanbin, hanbin lakiku. /abaikan
buat kak farah. Maap ini malah absurd banget, dan lama bikinnya XD
makasih kak, udah boleh minjemin OC-nya buat aku nistain. Hihi
udah deh gitu aja, kalo kebanyakan ngomong terus keceletot nanti di demo kayak ahok lagi /gak/

Unchh, tata ❤

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s