[PICK YOUR LETTER] A Lot Like You

a-lot-like-you

Judul                : A Lot Like You

Author               : truwita

Length              : Vignette

Genre               : Drama, Hurt/Comfort, Friendship

Rating               : PG-15

Cast                 : Kim Hanbin
Alessa
Jung Sera

Disclaimer         :Cerita ini hanya fiksi murni karangan author, Jika ada kesamaan dalam bentuk apapun, itu murni ketidak sengajaan.

Summary          :Ada beberapa hal yang yang tidak bisa kita ubah,
sekeras dan sebesar apapun kita berusaha untuk
merubahnya.

Happy Reading

“Wow!”

Aku tahu, itu bukan sebuah kata yang bagus untuk mengawali hari di tengah cuaca dingin seperti ini, tapi apa yang kulihat benar-benar sangat mengejutkanku.

“Kau seharusnya mengucapkan selamat pagi atau sapaan sejenisnya, Sera.Bukan memekik.Kau menganggetkanku, sialan!”

Aku mengerjap beberapa kali, mendekat sambil tersenyum menggoda, berusaha bersikap sewajarnya. “Apa yang membawamu sepagi ini datang ke kelas, Al?” Aku duduk di sampingnya, menyipitkan mata.Mengira-ngira alasan yang membuat puteri tidur itu sudah datang pagi buta.

Alessa diam. Wajahnya terlihat kuyu. Aku sangsi apa dia menyempatkan diri untuk mandi sebelum pergi? Ah, aku bahkan ragu dia membasuh wajahnya atau tidak. Tak lekas menjawab, Ia kembali melipat tangan dan merebahkan kepalanya di atas meja. Membelakangiku, menatap lurus ke arah jendela.

“Hari ini Hanbin ada kelas pagi, aku ingin melihatnya.Sudah cukup lama.”

“O-oh?”

Aku tak tahu harus menanggapinya bagaimana.Nama Hanbin selalu menjadi topik yang aku hindari akhir-akhir ini.

“Apa tadi malam Hanbin tidur dengan baik?”

Aku menelan ludah.Alessa tengah bicara pada dirinya sendiri.Aku hanya orang sialan yang sedang merasa ketakutan sekarang.Idiot yang tak tahu malu masih berani menampakkan diri dan memasang wajah tanpa dosa seolah tak pernah terjadi apa-apa.Ya Tuhan, aku benar-benar merasa seorang kriminal sekarang.

“Ke-kenapa k-kau tidak menanyakannya sendiri?”Aku berusaha keras menjaga intonasi suaraku, menenangkan degup jantung yang mulai meningkat tak wajar.

“Aku bisa saja mengganggu tidurnya, lagipula itu tidak penting.”

Syukurlah, Alessa bicara membelakangiku.Jadi aku tak perlu menyembunyikan wajah dan tanganku yang bergetar ketakutan.Bahkan, titik-titik keringat mulai bermunculan di kening.

“Oh! Hanbin!”

Alessa memekik, membuatku terkesiap.Iamengangkat kepala dan menyanggahnya dengan satu tangan. Masih menghadap jendela, aku yakin saat ini ia tengah tersenyum sambil memandangi Hanbin. Alessa selalu seperti itu.

Aku menghela napas pelan, “Ba-bagaimana hubungan ka-kalian?” sial, aku bahkan tidak bisa mengontrol mulutku untuk bicara tanpa gagap.Semoga Alessa tidak menyadarinya.

“Baik, kupikir.” Ada jeda yang cukup lama dari satu kata ke kata lain.

“Kau tahu, kau bisa mengandalkanku, Al. Apapun itu, kurasa.Kau bisa berbagi beban denganku.”

Alessa menoleh, tersenyum tipis.“Tentu, kau yang terbaik.”

Dan aku merasa akan gila sekarang.

***

Dari jutaan manusia yang pernah kutemui seumur hidup, Alessa adalah gadis luar biasa yang selalu kukagumi diam-diam. Terlepas dari segala sifat buruk yang melekat padanya.Bagi seorang gadis yang tak memiliki keluarga dan orang tua, Alessa tumbuh menjadi gadis mengagumkan di mataku, dia cantik, kuat dan sangat mandiri. Alessa selalu tampil apa adanya. Aku iri, terlebih tentang statusnya sebagai kekasih Hanbin empat tahun belakangan ini.

Aku menepis semua pikiran bodoh di kepalaku.Menarik napas dalam, lalu berseru memanggil namanya.“Alessa!” Baiklah, aku hanya perlu fokus dengan apa yang ada di depanku.

Gadis itu teralu sibuk menatap layar komputer yang menampilkan daftar lowongan pekerjaan.

“Pekerjaan paruh waktu lagi?”

Alessa mengangguk, tak berniat merespon lebih jauh.

Kuletakan sebungkus roti isi dan sekotak susu cokelat kesukaannya. “Bukankah kau sudah memiliki tiga pekerjaan? Kau ingin mati muda dengan menambahnya lagi?” Aku tak pernah habis pikir dengan keputusan-keputusan yang diambilnya.“Kita sudah di tahun ke tiga, Al. kau perlu lebih banyak belajar dan konsentrasi untuk masa depanmu.” aku mencoba mengingatkan.

Alessa masih serius, mencari lowongan pekerjaan dan mencocokan setiap jadwalnya. Sesekali ia menjulurkan lidah, mengerutkan kening, menggeleng dan menggigit bibir bawah. Sama sekali tak mendengar ucapanku.

“Kau akan kesulitan jika nilai akademismu turun dan kehilangan beasiswamu.”

“Aku tahu,” jawabnya, “tapi bulan depan Hanbin ulang tahun. Aku ingin membelikan sesuatu yang lebih bagus dan berharga tahun ini.Aku benar-benar perlu banyak uang.Agar mulut-mulut brengsek itu berhenti mengejekku.”

Seharusnya, aku tahu dan pahami ini sejak lama. Bagi Alessa, Hanbin adalah satu-satunya di dunia ini. Apa yang kulakukan? Air mata tiba-tiba merebak di pelupuk mata.Aku menengadah, menahannya agar tidak jatuh.

Yosh.Terimakasih untuk makanannya, Jung Sera.Aku harus pergi.Sampai nanti!”

Alessa berlari.Punggung sempit yang dibalut sweeter lusuh itu terlihat sangat rapuh dan menyedihkan.Kenapa harus Alessa, kekasih Hanbin dan sahabat terbaikku?Kenapa harus Hanbin, tempat perasaanku berlabuh?Kenapa harus aku yang terjebak dalam hubungan rumit dan menyesakkan ini?Dan masih banyak lagi pertanyaan yang mucul di benakku, tak ada habisnya.

“Kau sudah makan?” sebuah suara mengintrupsi, disusul sebuah sentuhan hangat yang kemudian berubah menjadi genggaman di sekitar lenganku, membuyarkan pikiranku seketika.“Aku frustasi menunggu Alessa pergi. Ayo! Aku sudah sangat lapar.”Itu Hanbin, berdiri di hadapanku.Tersenyum dan seperti biasanya ia terlihat sangat tampan.

“Ngomong-ngomong, kau melupakan sesuatu di kamarku.”Hanbin merogoh saku celana, lalu menunjukkan sebuah ikat rambut berwarna pastel, milikku.“Kau bahkan tak membangunkanku dan pergi begitu saja.”

Aku bergeming.Perasaan bersalah yang tadi sempat menguap kembali, kali ini lebih besar dengan kilasan kejadian semalam.

“Sesuatu terjadi?Kau terlihat agak kacau hari ini, sayang.”

PLAK.

Tanganku bergerak dengan sendirinya, bergetar dan terasa perih. Sejujurnya aku terkejut dengan apa yang kulakukan barusan. Satu tanganku menutup mulut, lalu memijat pelipis. “A-aku—”

Hanbin masih memalingkan wajah, menatap lantai.

“Ki-kita… kurasa… aku…” Oh sialan. Aku bahkan tak bisa menyusun kalimat dengaan benar.Rasanya sulit untuk memfokuskan diri.Terlalu banyak hal yang menjejali kepalaku.Aku menunduk, dan menangis, tak tahu lagi harus bagaimana.Aku kebingungan, perasaan dan nalarku tak selaras.

“Kau…” Hanbin menunjukku, suaranya terdengar geram. Dia marah, aku pikir itu wajar karena tiba-tiba aku menamparnya di depan umum seperti ini.

Semua sudah terjadi, ini mungkin penyelesaian yang tuhan berikan sebagai jawaban dari setiap doaku.Kutatap lamat-lamat kedua mata Hanbin, sepasang mata yang selalu menggetarkan hati.“Kurasa cukup sampai di sini, Hanbin.Aku tak bisa lagi.”

Sebagian dari diriku berontak, tak terima dengan keputusan yang baru saja kubuat.Jadi, aku memutuskan untuk segera berbalik, meninggalkan Hanbin sebelum aku berubah pikiran dan memeluknya erat.Akan tetapi, sesuatu yang lebih mengejutkan menyambutku.Membuatku kehilangan tempat untuk berpijak beberapa saat.

Alessa berdiri tak jauh dari tempatku.

Ia mengalihkan pandangan dan berjalan mendekat .“Aku meninggalkan sesuatu,” ujarnya sambil memerlihatkan flashdisk yang baru saja dicabut dari komputer. Tanpa mengatakan apapun lagi, ia lekas pergi. Sebelum benar-benar menghilang di ujung koridor, Alessa menoleh, menatapku dan Hanbin sekilas.

***

Hari ini adalah hari yang sangat panjang.Banyak sekali hal yang terjadi.Aku tak bisa menyalahkan waktu atau siapapun atas hal-hal yang menimpaku seharian penuh. Aku juga tak bisa berpikir bodoh dan berharap seseorang akan membantuku lari dari kenyataan, atau berharap semua yang terjadi hari ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera kulupakan setelah kuterbangun esok hari.

Saat ini aku mencoba untuk berpikir sedikit dewasa dari sebelumnya. Ayolah, umurku sudah menginjak usia dua puluh. Aku tak bisa terus-terusan hidup menjadi seorang pengecut, lalu pergi menjauh menghindari masalah tanpa menemukan penyelesaian ‘kan?Setidaknya untuk kali ini aku tak bisa.Kehilangan seorang sahabat jauh lebih menakutkan dari masalah itu sendiri.

Jadi, kumantapkan langkah dan berhenti di sebuah café tempat Alessa bekerja paruh waktu.Sudah hampir pukul sepuluh malam. Jam kerjanya akan segera berakhir. Aku tak banyak berharap Alessa mau bicara denganku, namun lebih cepat aku menemui dan bicara dengannya, kupikir akan lebih baik untuk persahabatan kami kedepannya.Dan menjadi sempurna jika ia bersedia mendengar penjelasanku. Oh, lupakan. itu terlalu jauh.

Lonceng pintu berdenting, seseorang baru saja keluar dari pintu.Aku mendongak dan mendapati Alessa tengah berdiri dengan ekspresi dingin seperti biasa.Sebelumnya aku tak pernah merasa terintimidasi, itu hanya ekspresi yang biasa Alessa gunakan.Namun kali ini berbeda, semuanya berubah karena kebodohanku sendiri.

Alessa menatapku dan dari matanya, aku tahu seseorang tengah berdiri di belakangku sekarang.Aku terkesiap saat menoleh, itu Hanbin, dengan pakaian kasual dan ekspresi yang tak kalah dingin dari Alessa di wajahnya.

“Alessa aku—”

“Dia pacarku sekarang, Al.”Hanbin memotong, menarik lenganku, membuatku berada di belakang tubuhnya.

Mataku membulat sempurna.Apa Hanbin sudah gila?!Aku berontak, berusaha melepaskan genggaman tangannya, tapi nihil.

“Tidak, Al. bukan seperti itu!” Aku mencoba menyangkal, meski kutahu semuanya akan menjadi sia-sia dan percuma.

“Lalu?” di luar dugaan, Alessa menyahut santai.Tak ada perubahan ekspresi yang berarti di wajahnya.ia menyeret sekarung sampah, lalu membuangnya. Seolah ucapan Hanbin barusan hanya angin lalu.

“Bukan begitu cara menyikapinya, Alessa.” Hanbin melepas genggamannya, lalu melangkah.Mengikis jarak mereka.“Haruskah aku mengajari hal seperti ini juga?”

“Aku lelah, Hanbin.Masih ada satu pekerjaan yang tersisa.Aku harus menghemat energiku.Aku tak punya energi dan waktu lebih untuk belajar denganmu.”Alessa mengibaskan tangan, “Pergilah.”

“KENAPA KAU SELALU SEPERTI INI?!”Hanbin berteriak, membuat langkah Alessa terhenti sesaat.“Kau memergoki kekasihmu selingkuh dengan sahabat terbaikmu, dan seperti itu sikapmu?! Menjengkelkan! Apa kau manusia?!”

Alessa mengendikkan bahu lalu kembali melangkahkan kaki.“Berhenti di sana!”

“Alessa, aku berani bersumpah, kami tidak—”

“Diam, Jung Sera!”

Keparat kau Kim Hanbin! Aku berbalik sebentar, mengepalkan kedua tanganku kuat-kuat.
Frustasi adalah hal yang paling tepat menggambarkan kondisiku sekarang. Aku tahu, ini sudah berada di luar zonaku, aku sama sekali tak punya hak mencampuri urusan mereka. Tapi aku tahu bagaimana Kim Hanbin. Dia akan terus membual, menyuarakan omong kosong yang menyakitkan.

“Terlepas dari kenyataan kalian berkencan atau tidak, itu sama sekali bukan urusanku.”Alessa menoleh tanpa membalik tubuh.“Ada beberapa hal yang yang tidak bisa kita ubah, sekeras dan sebesar apapun kita berusaha untuk merubahnya.Bukan begitu, Jung Sera?”

“Alessa… kau…” jangan katakan bahwa selama ini kau tahu tentang perasaanku?!Aku berseru dalam hati, menatapnya harap-harap cemas.

“Memangnya siapa yang senang diperlakukan seperti ini?” kali ini Alessa berbalik dan menatap Hanbin dengan sempurna.

“Saat kau berbohong, aku tahu.Tapi perasaan dan semua perlakuanku padamu tak ada hubungannya dengan itu.Seluruhnya hak penuhku atas diriku sendiri.Bukan urusanmu jika aku ingin percaya.Kau pergi?Siapa yang peduli?Aku tak butuh persetujuan siapapun untuk terus menunggumu. Kau bersama Sera, atau gadis lain? bukan masalah, aku hanya ingin menjaga apa yang kumiliki denganmu. itu keputusanku untuk tetap setia. Ribuan kali kau menyakitiku, aku tetap tak peduli.”Seperti ada ribuan jarum yang menusuk ulu hatiku, setiap kata yang terlontar dengan nada acuh itu lebih menyakitkan dari luka fisik apapun.

“Aku tak pernah ingin mencampuri urusanmu—urusan kalian berdua.Jadi jangan campuri urusanku juga!” Tegas Alessa.

Aku tak bisa untuk tak menangis.Aku benar-benar bodoh.Aku buruk sekali.Kenapa aku bisa begitu egois dan melakukan kesalahan seperti ini?

“Kau pikir itu cinta? Tak ada cinta yang seperti itu! Kau hanya terobsesi untuk terus menjadi kekasihku! Kau ingin popularitas?Uang?Berhenti membuatku muak!” Bentak Hanbin.

“Apa yang kau tahu tentang cinta?”Alessa menggeleng, “Kau sama sekali tak punya hak untuk menilai apa ini cinta atau bukan,” lanjutnya tak terima.“Kau tahu, bukan hal mudah untuk tetap berdiri di sisimu.”

Hanbin mengepalkan kedua tangannya yang bergetar.Wajahnya berubah warna kemerahan.Tinggal menunggu waktu sampai kesabarannya tiba diambang batas.

“Sejak awal, aku tak pernah dianggap oleh teman-temanmu.Aku selalu dipandang sebelah mata.Mereka mengucilkanku, membandingkanku dengan gadis-gadis yang pernah bersama denganmu.Kau tahu betul hal itu.”Suara Alessa berubah serak, matanya juga sudah berkaca-kaca, siap menumpahkan air mata.

“Jadi, bukan hal yang buruk jika kau berkencan dengan Sera.”

“Setidaknya Sera gadis yang baik dan dari keluarga yang baik-baik pula, bukan seorang yatim-piatu yang perlu bekerja siang malam hanya untuk membelikanmu sebuah hadiah murahan. Dia tidak akan membuat keluargamu yang terpandang itu malu. Dan dia juga punya banyak waktu di akhir pekan untuk pergi berkencan denganmu.”

Hanbin merangsek maju, mencengkram bahu Alessa.Mereka saling menatap tanpa bicara selama beberapa saat.

“Apa?”Alessa lebih dulu bersuara, “Apa perkataanku salah?” tanyanya sarkastik.“Apa itu salahku hidup tanpa keluarga dan orang tua?Apa salah jika aku ingin berada di sisimu? Salah jika aku ingin menjadi tempat kau berpijak dan bersandar?!Apa keinginanku terlalu egois?!” Alessa terus menghujani Hanbin dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah dijawab Hanbin.Nada bicaranya meninggi dengannapas mulai tersengal.

“Kau pikir aku senang kauduakan? Kaupikir aku tidak terluka?!” Kali ini suaranya terdengar parau, mungkin karena menahan tangis.“Kau benar, memang tak ada cinta yang seperti itu. Aku hanya tak punya hal lain yang bisa kutawarkan.”

“Jika sesulit itu, kau hanya perlu pergi! ENYAHLAH DARI SISIKU!” Hanbin berteriak kalap, tangannya terangkat ke samping, menegaskan kalimat suruhannya.

“Kenapa kau tidak memintaku lebih awal?!”Alessa balas berteriak.Untuk sesaat yang terasa mencekam, keduanya kembali terdiam.Hanya saling menatap tajam.

“Aku pergi.”Tanpa menunggu jawaban Hanbin lebih lama, Alessa memutar tumit, lekas berjalan dengan tempo cepat.

Aku tak pernah berpikir akan berada di antara mereka yang seperti ini.Baik Hanbin maupun Alessa, aku seperti melihat dua orang yang berbeda.Mungkin terlalu dini untuk menyimpulkan.Yang kupahami, keduanya sama-sama tak ingin meninggalkan lebih dulu.

Aku menatap punggung Alessa dan Hanbin secara bergantian.Bukankah ini konyol?Kenapa mereka harus saling meninggalkan?

Hanbin mendengus, kedua bahunya merosot,“Kenapa harus menungguku meminta?” suaranya melemah, seolah tak ingin didengar. Namun dengan suasana hening di sekitar kami,siapapun bisa mendengarnya dengan cukup jelas dari jarak tiga sampai lima meter. Dibandingkan dengan kalimat tanya, itu terdengar seperti sebuah permohonan. Seolah jauh di balik kalimat itu ada kalimat lain yang terpendam, tak bisa diutarakan secara harfiah.

“Karena aku tak ingin berasumsi sendiri,” balas Alessa pelan,“Aku ingin percaya bahwa kau masih mencintaiku seperti sebelumnya.Setidaknya, sampai kau mengatakan untuk pergi.”

Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Hanbin yang langsung dihapusnya secara kasar.

Tak ada yang bisa kulakukan selain diam, membatu.Ingin sekali aku memeluk Hanbin, tapi kurasa bukan itu yang dia butuhkan—tepatnya, bukan aku yang dibutuhkannya.

Oh kenapa aku harus sepeka itu untuk memahami apa yang dia butuhkan sekarang? Sangat tidak adil.Ini juga menyakitkan untukku. Berada di sisi seseorang yang sama sekali tak menginginkanku? Omong kosong macam apa ini?!

“Idiot!”Satu kata yang bisa kulontar setelah sekian menit kepalaku nyaris pecah karena ribuan umpatan yang ingin kulayangkan berjejalan tanpa bisa kuucapkan.

“Tindakan macam apa itu?!” Aku membalik paksa tubuh Hanbin, menatap matanya yang berair.“Aku tahu, sejak awal kau sama sekali tidak mencintaiku, ‘kan?”

Percayalah, bukan hal mudah untuk bertanya hal seperti itu.Kendati aku sudah tahu tanpa perlu bertanya. Terkutuklah, karena aku memanjatkan doa agar lelaki ini mau mengucapkan kalimat dusta sebagai jawaban yang kuinginkan.

“Setiap kali kita bersama, setiap kali kau membisikan kata cinta, setiap kali kutatap matamu, aku selalu berharap akan menemukan jawaban yang berbeda. Tapi semua itu tak pernah terjadi.Tidak sedetikpun.”

Aku menggeleng, menggigit bibir bawah, menahan rasa sakit dari sebuah kenyataan yang harus kuterima.“Aku sadar, aku sama sekali tidak pernah ada di dalamnya.Kau tak pernah melihatku, tak pernah sekalipun membiarkanku masuk ke dalam hatimu.”

Hanbin tertawa kecil dengan kedua mata yang terlihat kosong dan sembab.Ia mendekatkan tubuhnya, menatap lurus mataku. Tanpa mengatakan apapun, apalagi menyangkal pertanyaanku, Hanbin mencium bibirku tanpa permisi. Air matanya berjatuhan seiring dengan kelopak mata yang menutup.

Mungkin bukan saat yang tepat untuk menikmati setiap detik dari kehangatan yang menjalar. Ini sebuah kebodohan lain yang kulakukan. Sebagai seorang sahabat dan gadis yang mencintai diam-diam selama ini, aku adalah orang yang jauh lebih tahu dari siapapun bagaimana mereka sekarang.

Aku larut dan tenggelam di dalamnya.Ciuman ini membuatku sadar akan hal-hal yang selama ini kulupakan dengan sengaja. Tak ada lagi celah untukku.Lagi pula, Alessa benar.Ada beberapa hal yang yang tidak bisa kuubah, sekeras dan sebesar apapun aku berusaha untuk merubahnya.

“Aku mencintainya, Sangat.”Hanbin berbisik lirih.

“Aku tahu.”

Karena aku juga mencintaimu, benar-benar mencintaimu, Kim Hanbin.

—————————————————————–END——————————————————————

Advertisements

One thought on “[PICK YOUR LETTER] A Lot Like You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s