[PICK YOUR LETTER] Arti Sejuta Butir Debu

asbd

Arti Sejuta Butir Debu

 

©2016 – Cupid

 

Jennie Kim of Black Pink

 

Dark ; AU ; Thriller – Ficlet – PG-13

 

Prompt : Debu

 

Cr.NJXAEM @ POSTER CHANNEL

 

Satu butir debu, tersirat seribu makna pahit.

 

Dua butir debu, tersirat sejuta kenyataan perih.

 

Seratus butir debu, tersirat jawaban atas semua kepahitan dalam hidup.

 

Seribu butir debu, tersirat buah manis dari sebuah perjuangan keras.

 

 

Lalu apa arti sejuta butir debu?

 

Jennie bertanya, ketika ibu–nya telah selesai membaca puisi buatan–nya (dengan bahasa isyarat).

 

Sebuah senyuman terukir, ibu lalu menjawab pertanyaan Jennie.

 

Coba kau cari tahu artinya

 

Tetapi bagaimana?

 

Jennie memperlihatkan raut wajah kebingungan–nya, ia harus mengakui bahwa ia tidak terlalu bisa merangkai kata – kata sehebat ibu–nya, gadis itu juga beranggapan bahwa membuat sebuah puisi merupakan hal yang mustahil bagi seorang tunarungu seperti Jennie.

 

Beliau sekali lagi menyunggingkan senyum–nya, tangannya menggenggam tangan kecil Jennie yang halus dan kecil, kamu harus berusaha. Kau tidak akan tahu seberapa mampukah dirimu jika tidak berusaha. Jennie menguap, gadis itu menggosok–gosok ke dua matanya tanda ia sangat mengantuk.

 

Ibu lalu mengambil selimut tipis yang memiliki banyak jahitan dan juga sobekan, menyelimuti gadis itu dan menyanyikan sebuah lagu nina bobo sebagai pengantar tidur anak semata wayangnya itu.

 

Sementara di luar, suara senjata api kian menderu. Banyak teriakan, tangisan, dan juga suara – suara menyeramkan dari bom yang meledak bagaikan halilintar. Satu per satu, para tentara gugur dan terluka. Berjuang demi kemenangan, membela keadilan, dan tak memperdulikan debu dan darah yang menempel. Bangunan – bangunan pun banyak yang roboh, para wanita dan anak – anak yang bersembunyi pun di culik dan di perkosa. Para serdadu musuh nampaknya mendekati kejayaan, mereka segera maju menuju arah kamp pengungsian, tempat Jennie dan ibu–nya berada.

 

Berteduh dari peperangan sadis yang seharusnya tidak di laksanakan.

Jennie tertidur pulas, ibu–nya lalu mengelus – elus puncak kepala anak semata wayangnya. Ia berharap bahwa perang akan segera berakhir dan semuanya kembali seperti sedia kala.

 

Duar!

 

“Akh!”

 

Suara ledakan menyebabkan Jennie berteriak nyaring dan segera memeluk ibu–nya, ia merasakan rasa takut yang luar biasa ketika dia mendengar sebuah suara untuk pertama kalinya.

 

Suasana kian mencekam ketika mulai terdengar sebuah derap kaki dan teriakan dari para tentara penjaga kamp. Jennie semakin mempererat pelukannya, ia tidak memiliki cukup keberanian untuk bertanya. Firasatnya mengatakan, sesuatu yang buruk telah terjadi.

 

Drrrtt

 

Terdengar beberapa senjata api di bunyikan, pertanda bahwa sesuatu mulai terjadi di kamp pengungsian yang mereka tempati. Tiba – tiba saja, dua orang tentara masuk ke dalam tenda. Mereka menyuruh semua pengungsi untuk segera pindah menuju kamp pengungsian lainnya.

 

Ibu lalu membereskan barang – barangnya, sementara Jennie ikut membantu. Dengan mengikuti arahan, semua pengungsi selamat sampai tujuan tanpa luka sedikit pun.

 

Bu, apakah tempat ini aman?

 

Jennie bertanya, gadis itu lalu membersihkan debu yang menempel dari bajunya.

 

Ibu tidak menjawab, sorot mata beliau mengarah ke utara. Jennie menarik lengan baju ibu, gadis itu kemudian menegur ibu–nya agar tidak melamun. Sejujurnya, gadis itu tak tega jika melihat ibunya larut dalam kesedihan karena ayahnya ikut berperang demi membela negara dan sekarang, ia tidak tahu bagaimana kabar ayahnya. Apakah masih hidup ataukah…gugur?

 

Air mata mengalir dari ke dua sudut matanya, membuat Jennie semakin tidak tahan. Gadis itu lalu memeluk dengan erat ibunya, menenangkan beliau dan mengatakan bahwa semuanya akan baik – baik saja dengan bahasa isyarat.

 

Bagaimana kau tahu jika semua akan baik – baik saja? Toh, bocah ingusan seperti dirimu mana tahu tentang situasi yang di alami sekarang!

 

Jennie terhenyak ketika mengetahui balasan ibu–nya, ia bisa melihat raut wajah kekesalan, amarah, dan sedih tercampur menjadi satu. Untuk pertama kalinya, dia melihat ibunya dalam keadaan terpuruk.

 

Bagaimana jika ayah sekarang telah menjadi debu? Atau menghilang? Atau di sekap? Apa yang kau tahu? Tak usah hibur aku jika kau tidak bisa mengubah semuanya menjadi lebih baik.

 

Perkataan tajam dalam bahasa isyarat itu kini membuat hati Jennie tertusuk, cairan bening keluar dari matanya. Ia sama sekali tak menyangka, seseorang yang ia anggap sebagai malaikat pelindungnya kini malah berbalik menyakiti perasaannya. Seseorang yang selalu menyemangatinya dan selalu mengingatkannya untuk tidak berputus asa, malah menyerah dalam keputus asaan. Ia bisa melihat kemarahan dan kebencian yang di lontarkan ibu–nya, meskipun ia tidak bisa mendengar apa yang beliau katakan.

 

Jennie hanya diam, ia tidak berani untuk mendekati ibunya untuk sementara waktu. Gadis itu hanya berani berharap, bahwa semua akan baik – baik saja seperti semula. Tiba – tiba saja, matanya terpaku ke arah salah seorang gadis dengan luka yang cukup parah terbaring di atas tandu. Jennie penasaran, gadis itu kemudian berjalan keluar tenda. Ia begitu terkejut ketika mendapati banyak sekali orang – orang yang terluka cukup parah dan sukses membuatnya bergidik ngeri.

 

Mengapa ia bisa terluka cukup parah? Sebenarnya, apa yang terjadi?

 

Cukup lama gadis itu terdiam, sampai akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke tenda mendatangi ibunya yang tampak sudah cukup lebih baik.

 

Ibu, apa yang sebe…

 

Duar!

 

“Akh!”

 

Gadis itu berteriak nyaring ketika ia mendengar sebuah suara mengerikan itu lagi, refleks ia segera memeluk ibunya sekuat mungkin. Jennie menangis tersedu – sedu sambil menjerit ketakutan, terlebih suara – suara menyeramkan itu terus berulang – ulang. Menghantui pikiran dan pendengarannya.

 

Ibu lalu berusaha menenangkannya, ia juga sama takutnya dengan Jennie. Suara – suara bom, granat, dan senjata api yang memekik nyaring hingga berkilo – kilo meter membuat suasana kian menakutkan dan mencekam, banyak sudah korban jiwa yang berjatuhan.

 

Kematian semakin hari semakin berdatangan, rasa takut semakin menguat, dan harapan semakin pupus. Tidak ada tempat lagi yang aman untuk melarikan diri, kamp pengungsian pun bisa saja langsung di serang oleh para serdadu musuh. Bahkan, anak kecil pun tidak menutup kemungkinan akan menjadi korban keganasan.

 

Semakin banyak debu yang tergeletak, tidak hujan dan tidak panas, api semakin jaya memusnahkan apapun. Jennie yang tidak bisa mendengar apapun untuk yang pertama kali mendengar sebuah suara, sebuah suara yang seharusnya tidak patut ia dengarkan, sebuah suara menyeramkan yang bisa menghantui pikiran siapa saja.

 

Setelah suasana sedikit tenang, Jennie kemudian kembali bertanya kepada ibunya.

 

Mengenai arti sejuta butir debu yang masih belum terjawabkan.

 

Sejuta butir debu, tersirat bahwa semuanya akan baik – baik saja pada akhirnya.

 

Ibu kemudian tersenyum tipis, lalu ia melanjutkan kalimatnya.

 

Jika kau memiliki sedikit keberanian untuk mengatakan sebuah kebenaran kepada seluruh dunia, bahwa berperang ialah cara untuk menambah banyak masalah.

 

Bersamaan dengan berhembusnya angin, ibu jatuh tersungkur di pundak Jennie. Gadis tunarungu itu terdiam, menyadari bahwa ibunya telah tiada setelah selesai menyampaikan sebuah arti mengenai hidup.

 

End.

Advertisements

One thought on “[PICK YOUR LETTER] Arti Sejuta Butir Debu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s