[PICK YOUR LETTER] Je t’embrasse

je-t-embrasse-cover

Je t’embrasse

Author : Deliadeaa

«Lenght»: Oneshot contain ±1950 words

«Genre»: Journalist│AU│ Romance

«Rating» : PG 15!

«Cast» BLACKPINK Jennie, NCT 127 Taeyong, NCT 127 Dongyuck

« Disclaimer » Storyline and poster murni milik aku, apapun bentuk plagiarism are totally restricted.

 

—If I could bring you back to that memories..—

 

Style.

Fashion.

Gossip.

Semua hal di atas tentu memuakkan bagi seorang Jennie Kim yang bernalar sangat ilmiah. Hanya demi sesuap nasi, ia sudi berkutat dengan model seksi yang melenggak-lenggok di atas catwalk. Mewawancarai spesies mereka hanya membuat isi perutnya ingin keluar saat itu juga.

“Studio ini benar-benar panas, apa karena banyak orang berseragam hitam tak jelas kesana-kemari membawa benda menyilaukan itu!?” ucap salah seorang model dengan centilnya. Cukup untuk membuat Jennie ingin menyumpal mulut wanita itu dengan kaos kaki miliknya.

Keseharian Jennie Kim memang selalu menyebalkan. Impian menjadi bagian dari Korean Times terkubur, dan ia harus menelan fakta bahwa terbuang di majalah Fashion Socialita bukanlah suatu perkara mudah. Apalagi atasannya selalu menuntut seorang dekil seperti Jennie Kim untuk memoles bibirnya dengan lip gloss tebal.

Dalam mimpi!

“Sebenarnya kamu itu cantik, tapi sayang terlalu cuek.”

Jennie menoleh, merasa ada yang bicara padanya. Seorang pria berbadan tinggi, tegap, atletis, dan tentu saja tampan itu sanggup membuat gadis bermarga Kim itu terperangah.

“Umm, Jennie Kim?”

“Eh, ya?”

“Kamu ingin mewawancaraiku, bukan?”

“Hmmm. Ya.”

***

“Nona Kim, aku kira pertanyaan itu terlalu bersifat pribadi.”

Oh? Benarkah?

Jennie ;antas mengecek pertanyaan yang baru ia ajukan. “Apa rahasia ketampananmu?”

“Maaf, aku tidak bisa membocorkannya pada publik.”

Yikes! Demi neptunus. Memang apanya yang pribadi? Lupakan soal pangeran berkuda putih. Ini mulai memuakkan.

“Nona Kim, mungkin kamu tidak tahu, tetapi hal ini sungguh bersifat pribadi. Jujur saja, aku sedikit tersinggung. Gadis sepertimu mana tahu.”

“Oh. Begitu, ya?” ucap Jennie sarkastis. Ia paling tidak suka dengan genre pria menye-menye seperti ini.

“Maaf, Tuan Lee… Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Tapi, anda perlu tahu satu hal. Anda. Tidak. Begitu Tampan.” lanjut gadis itu, dengan sedikit penekanan pada kalimat terakhir.

Pria itu menyeringai. Ia tidak menyangka ada seorang gadis yang berani-beraninya berbicara seperti itu. Melukai harga diri, dan tentu saja wajah sempurnanya.

“Dari sekian wartawan yang mewawancaraiku sejauh ini, kamulah yang paling berbeda. Menarik.”

“Baiklah. Kukira sesi wawancara ini sudah selesai. Terima kasih, saya permisi dulu.”

Pria bermarga Lee itu hanya menatap punggung Jennie yang perlahan menjauh. Nona Kim yang dikenalnya memang tidak pernah berubah.

***

Butuh waktu berhari-hari bagi Jennie untuk merampungkan laporan hasil interview-nya. Dalam hati, ia mengumpat pada sosok makhluk kejam tak berperasaan, yang tak lain adalah ketua redaksinya sendiri. Ini-itu, selalu saja ada celah baginya untuk menyiksa Jennie.

“Jendeuk! Laporan ini kacau! Aku tidak mau tahu, pokoknya kau harus bisa mendapat jawabannya secara lengkap, beserta fotonya juga!”

Hah?

Bisakah bocah ini kupasung di kebun binatang saja?

“Nde, sajang-nim…”

Mau tak mau toh Jennie juga harus melakukannya. Berdoa saja kali ini narasumber akan berbaik hati padanya.

“Bagus. Sekarang belikan aku latte.

Memangnya aku babumu, apa!?

“Nde, sajang-nim…” Balas Jennie dengan senyum manis yang dibuat-buat. Ingin sekali rasanya menjitak kepala bocah tengil ini.

***

Berdesakan dengan para wanita-wanita ganas mampu membuat Jennie gila dalam sekejap. Penampilannya dirombak habis-habisan. Rambutnya kusut, pakaiannya lusuh, dan kacamatanya melenceng beberapa derajat dari tempat seharusnya.

Jennie merutuki nasib sialnya, tunduk pada seorang bocah ingusan berumur lima belas tahun benar-benar merepotkan.

Dengan lapang dada, gadis itu memasuki butik yang tak pernah sepi akan pengunjung, dan menjadi incaran nomor satu para elite –wanita tentunya, Chic Boutique.

Sebenarnya simpel, Jennie hanya ingin mewawancarai owner butiknya dan mengambil beberapa foto untuk dijadikan headline majalahnya.

“Maaf nona, beliau tidak bisa diganggu. Beliau sedang sibuk.”

Apa yang bisa dilakukan oleh gadis biasa semacam Jennie yang tak berdaya saat mendapatan titah langsung dari bocah ajaib di kantornya. Belum lama Jennie merenungi nasib, tibalah mobil sedan hitam mengkilap yang disambut oleh kerumunan wanita yang entah bagaimana sudah mendominasi area pintu masuk. Seorang pria berkacamata melangkah keluar, berjalan menerobos kerumunan yang semakin menggila.

Mungkin ini hanya ilusi, batin Jennie. Karena pria itu melangkah menuju tempatnya berdiri. Dengan elegan, ia mencopot kacamatanya tepat di depan Jennie-

“Hai, Nona Kim…”

-dan oh! Wajah orang itu cukup familiar. Tapi ia lupa.

“Sudah kuduga, kita pasti akan bertemu lagi. Kamu sangat merindukanku, ya?”

Tunggu dulu. Orang ini…

“Tuan Lee, bukankah anda sedang sibuk?” sahut wanita yang berdiri tepat di sebelah Jennie.

Ah! Si model narsis itu!

“Apapun akan kulakukan demi nona cantik di hadapanku, Yoon.”

Huh? Nona cantik? Yang benar saja!

Jennie mendadak mual mendengar perkataan pria itu. Bagaimana menurutmu tentang rambut acak-acakan, kacamata miring, dan baju lusuh seperti gembel?

“Hahah. Selera humormu benar-benar payah. Bilang saja kau ingin menghinaku, Tuan Lee Taeyong.”

Pria itu hanya tertawa, sedang wanita yang diketahui bernama Yoon itu menatap Jennie tajam.

“Hmm. Satu lagi kalimat ketus yang lolos dari bibirmu, maka penderitaanmu akan tetap kekal dan abadi.” lanjut Lee Taeyong, masih dengan kikikan geli yang terdengar menyebalkan di telinga Jennie.

“Oh iya, aku lupa. Kau datang kemari untuk mewawancaraiku, bukan?”

Kali ini Jennie yang tertawa. Yoon heran melihatnya, sementara Taeyong kembali pada wajah datarnya.

“Maaf saja ya, Tuan Model Narsis… Sekarang aku ingin mewawancarai owner butik ini, bukan kau!”

Yoon semakin merasa jengkel, ia melotot pada Jennie yang dengan santai balik menatapnya tanpa dosa. Taeyong tersenyum melihat tingkah keduanya.

“Oh, begitu. Baiklah. Yoon, panggilkan owner butik ini sekarang juga.”

“Tapi… Andalah owner butik ini, Tuan.”

Giliran Jennie menatap Yoon dengan bola mata yang hampir melompat dari tempatnya.

“Sayangnya akulah pemilik butik ini, Nona Kim. Sebaiknya kita segera mulai sesi wawancara-nya sekarang. Ikuti aku.”

***

Jennie POV

Tolong siapapun itu katakan bahwa ini hanya mimpi.

Maksudku, aku tidak pernah mengira kalau model narsis itu ternyata adalah pemilik butik terbesar di Korea Selatan. Astaga! Bahkan mulut lancangku ini sudah beberapa kali menghinanya.

Ya Tuhan, andai bocah tengik bernama Donghhyuck itu lenyap dari dunia ini, mungkiin ini semua tak akan terjadi padaku.

“Bisa kita mulai sekarang?”

“Oh, hmm.”

Tanganku bergetar. Hanya untuk sekadar menulis jawaban saja, rasanya benar-benar sulit.

“Nona Kim, apa kamu baik-baik saja? Tanganmu bergetar sejak tadi.”

Sial.

“Boleh aku bantu menuliskannya?”

Sial, sial, sial. Ia malah beringsut mendekatiku. Tidak, ini tidak baik. Jantungku akan meledak kalau seperti ini keadaannya.

DEG. DEG. DEG.

Begitulah tempo jantungku yang sekiranya ingin melompat keluar sekarang juga.

“Tidak apa-apa! Aku bisa merekamnya!”

***

Taeyong POV

Haha. Lucu sekali gadis ini. Memangnya aku monster yang ingin menerkamnya apa, sampai ia harus berteriak seperti itu.

Terkutuklah ide gila yang sempat terlintas dalam pikiranku sekarang. Masa bodoh. Aku sungguh penasaran.

“Apa kamu sudah punya pacar?”

“Belum!”

Ting!

Kulihat dia langsung melipat bibirnya. Sangat menggemaskan, ingin sekali aku menciumnya kalau sudah begitu.

“Ah! Kau pasti ingin balas dendam soal privasimu itu, kan!?”

Sama sekali tidak.

“ Ya. Akan kuberitahu privasi terbesarku, apa kamu ingin mendengarnya?”

Dia mengangguk. “Aku harus mengisap energi dari wanita cantik.”

Belum sempat dia bertanya lebih jauh, aku mencium bibirnya. Melumatnya dalam. Ia berontak, namun aku bisa menahannya. Entah apa yang merasukiku, namun aku begitu menginginkan gadis ini.

***

Jennie POV

Dia… Menciumku.

Aku berusaha lepas darinya, meskipun aku tahu bahwa tenagaku hanyalah sebongkah upil dibandingkan kekuatannya.

Jujur, ini pertama kali buatku dan aku tak tahu harus merespon bagaimana. Namun kurasa ia menunut pembalasan. Aku memang bodoh, kuikuti saja permainan bibirnya.

***

Author POV

Keduanya terengah. Sekitar setengah jam mereka berciuman. Jennie bahkan sudah terlalu lemas untuk menampar pria kurang ajar yang dengan seenaknya menyambar bibirnya.

“Jennie-ah…”

Dengan perasaan campur aduk, Jennie beranjak dari ruangan luas yang terasa sempit itu. Meninggalkan Taeyong yang terdiam.

“Maafkan aku…”

***

“Aku mengundurkan diri!”

Bocah itu spontan terkejut bukan main kala mendapati seorang wanita masuk ke dalam ruang kerjanya tanpa permisi.

“Jendeuk? Ada apa?”

“Mulai besok aku akan pergi dari sini. Kau, Donghyuck, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!” teriak Jennie. Pikirannya sedang kacau dan dirinya dilanda emosi berlebihan. Menyebabkan Donghyuck bertanya-tanya.

“Jangan bilang ini karena kakakku.”

Jennie mengernyit, “Kakakmu?”

“Taeyong hyung yang menyuruhku agar kau di-interview olehnya.”

Keparat!

Jadi bocah tengil ini adalah adiknya pria brengsek itu!?

Nyatanya Lee Taeyong merupakan kakak kandung dari seorang bocah bernama Lee Donghyuck. Sungguh di luar dugaan Jennie. Betapa bodohnya ia yang tak menyadari kesamaan marga mereka dan kemiripan tingkah laku mereka, sama-sama brengsek.

“Oh, jadi kau adiknya pria brengsek itu rupanya. Aku tahu, kalian berkonspirasi untuk membuatku menderita, dan menjadikan profesiku sebagai alasan, kan!??”

“Bukan begitu, nuna.” Entah sejak kapan Donghyuck memanggil Jennie dengan sebutan ‘nuna’. Biasanya sesuatu seperti ini hanya akan muncul di saat-saat tertentu. “Kakakku diam-diam menyukaimu waktu SMA, dia bahkan berteman dekat denganmu. Namun, kecelakaan dua tahun yang lalu merenggut segalanya. Ingatanmu, semua tentang kakakku, seakan terhapus begitu saja. Aku hanya ingin membantu, kok. Karena hanya ini yang bisa aku lakukan untuk hyung.

Jennie terdiam sejenak. Ingatannya begitu lemah memang, semenjak kejadian itu menimpanya. Samar-samar memorinya kembali melayang pada seorang pria cupu berkacamata. Si pendiam yang tak pernah bicara lebih dari lima suku kata.

***

“Hei! Kau selalu belajar terus menerus, apa kau tidak capek?”

Jennie memandang pria di depannya lamat-lamat. Pria ini terbuat dari apa, sampai benar-benar menempel pada buku, batinnya.

“Aku punya impian.” sahutnya tiba-tiba.

“Memang hanya kau saja? Aku juga punya, huh!” Jennie menjitak kepala pria itu, Lee Taeyong. Makhluk yang disebut wanita tidak pernah lepas dari yang namanya sensitive, terang saja.

“Aku memang jarang belajar,tapi aku bermimpi kalau aku akan menjadi model. Mempunyai butik sendiri, menjadi headline di mana-mana…”

Taeyong tersenyum, Jennie sungguh menggemaskan apabila sudah melipat-lipat bibirnya.

“Kamu lebih cocok menjadi wartawan.” Jennie langsung mengkerut mendengarnya.

“Kenapa? Apa aku kurang cantik dan tinggi untuk bisa menjadi seorang model?”

Taeyong menggeleng, “Kamu itu orangnya cerewet, bawel, dan blak-blakan. Dunia jurnalis butuh orang seperti itu.”

“Benarkah?” Pria itu mengangguk. “Benar juga, sih… Tinggiku hanya 160 cm dan aku sadar aku tidak terlalu cantik… Tapi aku yakin, aku adalah yang paling cantik di antara seluruh wartawan perempuan di negeri ini!”

Mata Jennie berbinar-binar membayangkannya. Lagi-lagi Taeyong tersenyum melihatnya.

“Kalau kau, apa impianmu?”

“Aku ingin mengisap energy dari wanita cantik.”

“Apa!?”

***

Ciuman itu. Ciuman pertamanya. Jennie bahkan tidak ingat bahwa ciuman pertamanya sudah terjadi lima tahun yang lalu.

Inilah alasan dibalik bibir yang sepertinya tidak asing lagi bagi Jennie.

Sejak dulu, Jennie selalu mengikuti perkataan Lee Taeyong. Pemikiran bodohnya waktu itu adalah,

“Perkataan Lee Taeyong adalah keramat.”

Karena dia jarang sekali berbicara dulu. Tapi hari itu, untuk pertama kalinya, ia berbicara panjang lebar padanya. Juga menciumnya. Bodohnya Jennie tidak mengingat first kiss-nya yang sangat berharga.

“Lee Donghyuck, sampaikan pada kakakmu kalau aku akan membunuhnya.”

Jennie mengambil langkah seribu, ia berlari tergesa keluar kantor, menyetop taksi lalu pergi begitu saja.

“Hyung, nuna akan membunuhmu.”

“Hah? Donghyuck, apa yang kamu katakana?”

“Kubilang Jennie nuna akan membunuhmu, hyung.”

Tuut tuut tuut. Sambungan terputus.

Donghyuck melempar ponselnya. Tak mau ambil pusing dengan apa yang terjadi.

***

“Apa!?”

Jennie membeku saat Taeyong menciumnya. Sebuah kecupan singkat, namun sanggup membuat degup jantungnya seperti akan meledak.

“A-aku akan membunuhmu.”

“Eh?”

***

Jadilah adegan rated menghiasi headline majalah seantero Korea Selatan. Entah itu Korean Times, ataupun Fashion Socialita.

“Wartawan berinisial JK telah berhasil merenggut hati seorang model papan atas bernama…”

Sudah berhari-hari pula televise tak hentti0hentinya menayangkan hal yang sama.

“Nona Kim, jika kamu tidak membunuhku waktu itu, mungkin kejadiannya tidak akan sampai seperti ini.”

“Kenapa memangnya, Tuan Lee? Bukankah kau menyukainya?”

“Kalian, berhenti. Tidakkah kalian lihat di sini ada anak kecil? Jaga sikap kalian.” Donghyuck mericuh. Bocil satu ini memang terlahir menjadi diktaktor dan perusuh ulung.

“Oh, ada sajang-nim di sini. Maaf, aku harus berangkat kerja dulu.” Ucap Jennie seraya meraih tas selempangnya.

“Hei! Ada apa buru-buru? Bukankah Korean Times tidak cocok untukmu?” Donghyuck mencekal tangan Jennie, ia tersenyum simpul.

“Siapa bilang? Di sana seperti surge, kau tahu? Tidak ada spesies bocah langka petakilan dan memimpin seenaknya di sana. Benar-benar nyaman!”

“Ah, Nuna…. Skandalmu itu pasti menyulitkan karirmu di sana. Fashion Socialita adalah jalan satu-satunya!” balas Donghyuck berapi-api. Jennie tahu sekali bahwa bocah ini pasti akan merayunya untuk kembali.

“Skandal? Oh! Tapi aku terlibat skandal dengan pemegang saham terbesar Korean Times, bagaimana ini?”

Jennie melipat bibirnya, sedang Donghyuck menatapnya sendu.

“Hei, Nona Kim! Waktunya berangkat!”

“Iya! Aku datang!” Jennie memasuki mobil sedan hitam yang terparkir di depan. Senyumnya terus mengambang. Ia harap kebahagiaan ini akan terus memenuhi langkahnya, selamanya.

***

“Eh?”

Jennie tersipu. Manik mata Taeyong membulat penuh. Jennie, gadis itu sengaja mengecup pria di hadapannya.

“Apa kau sudah mati?” tanya Jennie, masih dengan semu merahnya.

“Hmm, mungkin…”

Mungkin Taeyong tidak tahu. Ya, dia tidak pernah tahu bahwa Jennie menyukainya sejak pertama kali ia berbicara dengannya.

 

-Fin

Kyaa!

Akhirnya selesai ^^

Maaf ya kalau aku lambat ngirimnya, ini tubuh aku terhimpit sama tugas dan ujian sampek bengek TT. Jadi nggak bisa cepet deh, sekali lagi maafkeun u.u

Kutahu ini mungkin nggak terlalu selaras sama genre yang diberikan, but hope you like it!

~xoxo, Deliadeaa~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s