[PICK YOUR LETTER] Another Purpose

another-purpose-ff

-Another Purpose-

Junhoe / Seungyeon

Vignette / AU! / Office / slight!Other / G

.by l18hee

Prompt: Obat

.

Mana bisa Seungyeon mengumpat terang-terangan pada sang atasan.

.

Dengan jas yang baru saja ia raih, Junhoe melangkah sedikit tergesa. Langkahnya semakin lebar ketika melewati pintu ruangannya. Sekretaris Gok yang mejanya tepat berada di depan ruangan tersebut bahkan belum sempat berkedip dua kali, ketika atasannya sudah lebih dulu berlalu. Padahal baru saja ia akan menyerahkan laporan hasil rapat terakhir. Awalnya Sekretaris Gok ingin menyusul, namun menginat raut tegas Presdir membuatnya mengurungkan niat. Mungkin lebih baik ia menyerahkan laporan langsung ke meja saja.

Sementara itu Junhoe masih melangkah dengan irama yang sama. Sepatu kulit keluaran Italia koleksinya mencumbu lantai mengkilap─ulah petugas kebersihan tentu saja. Surai legamnya hari ini dibuat jatuh menutupi sebagian wilayah dahi, kontras dengan kulit putihnya. Seraya membenarkan jasnya, ia sedikit menyelipkan umpatan kecil kala merasa apa yang ia lakuan kini begitu bodoh. Oh, bayangkan saja. Bagaimana bisa seorang pendiri mall terkemuka berjalan sendiri untuk menemui seseorang yang bahkan tak langsung berada di bawah kendalinya?

Hanya karena sebuah postingan tidak penting yang─Demi Tuhan─tak sengaja ia lihat. Padahal biasanya Junhoe tidak menggunakan ponsel di jam kerjanya selain untuk keperluan penting yang menyangkut pekerjaan. Mengurus aplikasi media sosial saja ia jarang.

Pada kenyataannya, si pengumbar gambar yang menarik perhatian seorang Junhoe, rupanya malah tengah terduduk santai di kursi lipat di atap gedung.

Junhoe mengembuskan napas kesal. Setelah berdecih, kakinya kembali melangkah untuk menghampiri sang sasaran utama.

“Jang Seungyeon!”

Dipanggil dengan bariton tegas seperti itu, sontak perempuan yang semula sibuk di alam mimpi segera terduduk tegak. Dia melepas kacamata hitamnya─yang ia gunakan untuk menghindari terik matahari selagi tidur─dan menunjukkan cengiran bersalah.

“Presdir Goo, selamat siang.” Dia beranjak untuk memberi salam. Mungkin tahu kepergok atasan sedang berleha-leha di sela jam kerja adalah hal gawat. Apalagi jika atasanmu memasang wajah tegas layaknya ingin mematahkan tulang siapa saja yang lewat seperti yang Junhoe pasang sekarang.

“Apa-apaan ini?” Junhoe mengamati sekitar setelah dengan gaya sok penguasa menyembunyikan tangan di saku celana. Maniknya mengamati tali panjang yang kelihatannya sengaja di pasang, serta kain putih panjang yang disampirkan seperti jemuran, untuk kursi lipatnya sepertinya memang bukan properti resmi perusahaan. “Kau membuat tempat santai sendiri di gedungku?”

“Bukan,” sebuah gelengan Seungyeon tunjukkan selagi ia berpikir keras mengarang alasan, “ini seprai yang tidak sengaja aku temukan. Karena berdebu, kuputuskan untuk menjemurnya. Dan aku takut akan hilang, jadi barusan aku berjaga-jaga.”

Bodoh.

“Apa kau selalu bodoh dalam mengarang alasan?” Kali ini Junhoe melangkah lebih dekat sembari bersidekap. “Umurmu berapa? Apa tak ada yang mengajarimu cara bekerja dengan benar?” Seungyeon menundukkan kepala, antara segan dan mati-matian menahan umpatan. Sungguh tidak asyik ketahuan bolos kerja oleh atasannya atasan─anggap saja orang yang paling atas jika menurutmu membingungkan.

“Jam berapa kau pulang? Apa selarut itu hingga kegiatan tidurmu terkuras banyak dan dengan santainya memanjakan diri di atap sendirian?”

Jika saja Seungyeon mau mendongak, yang ia dapati adalah tatapan mengintimidasi yang Junhoe suguh. Sebenarnya tidak perlu mendongak, dari suara bariton yang terdengar pun Seungyeon bisa merasakan tengkuknya merinding.

“Apa pekerjaanmu lebih menggunung daripada karyawan lain?”

Saat ini Seungyeon berpikir jika Junhoe benar-benar akan membiarkan mulutnya berbusa untuk melontar marah. Sial, tahu begini gadis itu menghabiskan waktu di rumah saja dengan mengambil beberapa jatah cuti sakitnya. Seungyeon tadinya mengira ia tetap bisa mengerjakan pekerjan walau sedikit tak enak badan dua hari belakangan, salah satu penyembuhannya dengan istirahat sebentar di atas gedung kantor yang lumayan sunyi. Jika sudah begini, tak ada yang dapat Seungyeon lakukan selain pasrah. Entah dari mana ia yakin jika sebentar lagi Junhoe akan kembali mengeluarkan kata memojokkan lain, dan mungkin akan berakhir dengan ancaman pemberian surat peringatan. Ah, masa bodoh, Seungyeon pusing.

“… mendengarku?” Sepertinya Junhoe sengaja bertepuk tangan dua kali untuk menarik atensi. Nyatanya berhasil, kini Seungyeon kembali tersadar dari lamunannya, “Maaf, aku tadi agak─” Mendadak ia menelan kembali kata-katanya, ketika dengan gerakan cepat tahu-tahu saja tangan Junhoe sudah mendarat di dahinya.

“Obat,” sambil menekan dahi Seungyeon ke belakang, Junhoe melanjutkan, “Pergi cari obat.” Sekarang posisi mereka terlihat lucu. Seungyeon yang setengah mendongak karena tekanan pada dahinya, belum juga menutup mulut.

“Perbaiki ekspresimu.” Bersamaan dengan ucapan ini, Junhoe menjauhkan tangannya setelah memberi satu dorongan, membuat Seungyeon mengelus dahi sayang. Dengan wajah datarnya, Junhoe lantas menyingkirkan seprai yang meggantung jelek di sana, begitu saja melemparnya ke wajah Seungyeon, “Jangan buat gedungku terkesan berantakan. Bagaimana jika Zeus Mall melihat ini dari tempat pengintaian mereka di sana? Aku tidak bisa membiarkan sepersen pun citra perusahaanku hancur─apalagi gara-gara sainganku itu.”

Di sisi lain, Seungyeon mengerut kening. Rasanya penjabaran dan sederet alasan yang baru ia dengar terdengar lumayan ganjil. “Tidak masuk akal.” Secepat itu terlontar, secepat itu pula Junhoe menyipitkan mata ke arah si pengucap kalimat mengerikan.

“Aku tidak masuk akal?”

“Bukan,” lantas Seungyeon memutar otak, “yang kumaksud, tidak masuk akal karena aku merasa sudah kembali sehat. Barusan aku hanya bergumam sendiri, kok.”

“Kau memang selalu bodoh dalam mengarang alasan.” Walau begitu, Junhoe tak ambil pusing. Dia membenarkan dasi sebelum akhirnya bercacak pinggang, “Bereskan semua dan jika kau memang benar-benar sudah merasa baikan, kembalilah bekerja. Aku butuh iklan baru secepatnya.” Dia berbalik untuk mulai melangkahkan kaki. Tidak tahu dorongan dari mana, ia menoleh ke belakang sebentar demi mendapati Seungyeon tengah memandang tali yang sempat jadi tongkrongan seprai putih─terlihat sedikit kecewa.

Sebenarnya dugaan Junhoe berlebihan, kenyataannya Seungyeon hanya membatin sedikit menyesal saja. Harusnya ia bisa menikmati semilir angin lebih lama jika saja dirinya tidak sok eksis dengan memposting gambar di media sosial. Yah, siapa kira sang atasan juga kebetulan sedang berselancar di dunia maya?

Baru saja Seungyeon akan meraih tali gantungan, ia lebih dulu dikejutkan dengan pergerakan cepat seseorang yang merebut seprai dari tangannya. Jelas itu Junhoe. Tapi untuk apa lelaki itu membentangkan kembali seprai yang baru saja diambilnya? Ditambah dengan cepat kini seprai tersebut sudah menggantung sempurna di tali, sama seperti keadaan sebelumnya. Seungyeon tak sempat mengucap kata, ia lebih dulu didorong untuk kembali duduk di kursi lipat. Dengan tidak santai Junhoe memasangkan kacamata hitam untuk menutup mata si gadis.

Tadinya Seungyeon ingin berjanjak, namun kedua bahunya ditahan.

“Sudah tidur di sini saja, jika kau ingin.” Lagi, Junhoe bersidekap. “Asal kau memberiku ide iklan yang paling mengguncang.”

“Tapi katamu, nanti seseorang dari Zeus Mall melihat ini, bisa─”

“Jangan pedulikan. Aku bisa mengarang alasan kau itu kucing, orang gila, atau sejenisnya.” Oh, baik, lumayan terdengar memaksa.

Untuk sejenak keduanya tenggelam dalam hening. Seungyeon sendiri bingung akan mengatakan apa untuk memecah sunyi. Hingga pada akhirnya ia kalah cepat dengan Junhoe.

“Saranku,” sang lelaki memberi tatap, “kalau butuh sesuatu katakan saja.” Lalu Seungyeon membuat siku-siku dengan alisnya. Cukup membuat Junhoe menambahkan cepat-cepat, “Bukan padaku─maksudku, bukan hanya padaku. Kau punya teman, kan? Berbagilah sedikit. Jangan mengharapkan obat jatuh dari langit saat kau sakit.”

Sesungguhnya Seungyeon benci ini; tidak bisa mengenyahkan keheningan. Tapi memang ia tak punya hal yang pas untuk dikatakan, jadi yang ada hanya anggukan. Dan setelahnya Junhoe benar-benar berbalik dan melangkah pergi.

Setelah mengucapkan sederet kata dengan cepat─

“Kali saja kau butuh.”

─bersamaan dengan lemparan tablet vitamin ke pangkuan Seungyeon.

.

.

Oh, apa itu tujuan sebenarnya? Jangan buat Seungyeon besar rasa.

.end

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s