[PICK YOUR LETTER] (Between) Coffe or Juice

cover-ff-event

(between) Coffee & Juice

a ficlet by riria ly

Starring: Kim Hanbin, Kim Jisoo

AU hurt-comfort Just Friend! romance | Ficlet | PG 13

 

I just own the plot

 

J – Just Friend!AU – Jus

**

Kopi untuk si lelaki dan jus untuk si perempuan.

***

 

Hanbin merebahkan tubuhnya ke ranjang king size-nya. Kemudian memejamkan matanya dengan rapat. Hancur sudah, hancur sudah adalah dua kata yang terus hinggap di kepalanya.

Dari lantai bawah terdengar jeritan marah nan frustasi kakak kembarnya yang berteriak memanggilnya. Dia bangun dari posisi tidurnya, melempar sesuatu—bantal yang paling dekat dengan jangkauan tangannya, kemudian mengarahkannya ke pintu—sementara pikirannya kembali mengingat kejadian mengenaskan dalam hidupnya beberapa jam yang lalu.

 

“Sudah reservasi?” seorang pelayan wanita menyambutnya ketika ia memasuki sebuah café dengan suasana super romantis.

Hanbin mengangguk, menyeringai geli saat irisnya mendapati sepasang manusia tengah berciuman—letaknya di pojok kanan ruangan. “Atas nama Jennie Kim,” katanya pada pelayan itu.

Kemudian si pelayan membawanya ke sebuah meja dekat piano, ia agak sedikit kecewa karena posisi mejanya tidak di pojok.

“Mau langsung pesan?” tawar si pelayan.

Hanbin berpikir sejenak sebelum menjawab. “Minum saja dulu.”

“Kalau begitu pas sekali, kita sedang ada promo couple drink. Kopi untuk si lelaki dan jus untuk si perempuan. Menu itu sangat populer 2 minggu terakhir ini, menurut penelitian salah satu pelayan kami banyak pasangan yang semakin mesra setelah meminum itu,” si pelayan menjelaskan dengan panjang lebar, Hanbin meringis menatapnya. Sepanjang eksistensi hidupnya dia tidak pernah percaya dengan begituan, tapi apa salahnya memesannya. Toh itu tetap minuman yang bisa menghilangkan haus.

“Kalo begitu aku pesan satu,” katanya, pada akhirnya.

Setelah si pelayan pergi, Hanbin melirik jam tangannya. “Harusnya dia sudah ada di sini,” desahnya.

Ia mengeluarkan kotak kecil berwarna merah muda dari kantong celananya. Tampak sebuah miniatur biola saat ia membukanya. Ia tersenyum memandangnya, mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan seorang gadis. Gadis yang alih-alih lebih tertarik pada lukisan biasanya daripada wajahnya yang luar biasa. Gadis yang memperlakukan biola bak temannya. Gadis yang membuatnya memperlakukan seorang gadis dengan sepantasnya. Gadis yang membuatnya sadar bahwa ada seorang gadis yang benar-benar ia cintai.

Lamunannya buyar saat ponselnya berdering.

Apa Jisoo sudah datang?” begitulah pesan yang ia terima dari kontak bernama Kembaran Cerewet.

Belum, mungkin macet.” Ia mengetik balasan, kemudian meletakkan kembali ponselnya di tempat semula, cukup kaget saat menyadari hampir semua meja di kafe itu memesan couple drink yang dibicarakan oleh si pelayan tadi.

Tiba-tiba sebuah ide gila terbesit di kepalanya.

Jisoo lebih suka kopi atau jus?”

Kurang dari 20 detik pesannya telah dijawab. “Jus tentu saja, minuman wajib baginya saat istirahat.

Hanbin membulatkan tekadnya. Ia sudah pernah melebihi ini sebelumnya—ia memang sudah berniat berubah, tapi ia janji ini untuk terakhir kalinya. Terakhir kalinya ia mempertaruhkan hidupnya untuk kepuasan semata.

“Hanbin-ah kau sudah lama menunggu? Maaf, jalanannya macet tadi.” Hanbin mendongkak, terpanah dengan penampilan Jisoo—yang anggun dan cantik diwaktu bersamaan dengan modal dress di bawah lutut berwarna biru muda dan make up alami.

“Aku juga baru datang beberapa menit yang lalu.” Hanbin mempersilahkan Jisoo untuk duduk. “Ngomong-ngomong kau sangat cantik hari ini.” Bukan gombal, Hanbin mengatakannya dengan tulus.

Keumanhae, aku bukan salah satu gadis pemujamu itu.” Walaupun samar, tapi Hanbin sempat melihat semburat merah dipipi itu.

Hanbin terkekeh. “Aku sudah pesan minuman untuk kita, apa kau mau pesan sesuatu lagi?”

“Kurasa minum saja cukup.”

Seolah mengetahui isi hati Hanbin, si pelayan tadi datang dengan couple drink—tidak ada yang spesial dari itu, hanya saja jika kedua gelas itu disatukan akan membentuk sebuah simbol cinta.

Jisoo menggumamkan terimakasih, menurut Hanbin gadis itu cukup terhibur dengan couple drink-nya. “Ah indahnya, aku jadi tidak ingin meminumnya,” gumam gadis itu.

Hanbin tersenyum tipis sebelum berbicara. “Kau pilih kopi atau jus?”

Jus, jus, jus kumohon. Batinnya penuh harap.

Jisoo menyodorkan tangannya untuk meraih jus—di bawah meja tangan kanan Hanbin mencengkram erat kotak tadi.

Belum sampai menyentuh gelas jus, tangan Jisoo beralih ke gelas kopi.

“Bukankah kau suka…. jus?” Hanbin berkata gagap. “Jennie bilang… seperti itu.”

Jisoo kelihatan bingung, ia sampai membatalkan niatnya meminum kopi. “Oh aku memang suka jus, tetapi aku kepingin kopi sekarang. Apa ada masalah?” Ia mendorong gelas kopi itu ke arah Hanbin.

“Ah tidak, sama sekali tidak,” jawab Hanbin putus asa, merutuki kebodohannya.

“Ah syukurlah, aku benar-benar ingin minum kopi—sudah dua minggu aku tak meminumnya,” cerita Jisoo. “Oh iya, apa yang mau kaubicarakan denganku?”

Hanbin meraih gelas jus, belum meminumnya.

“Aku ingin kita lebih dekat lagi untuk kedepannya….” Hanbin menggantungkan ucapannya, melirik Jisoo yang menatapnya dengan pandangan lembut. “Sebagai teman.”

Uh… teman. Tentu saja, bukankah selama ini kita teman?” Entah hanya perasaannya saja atau tidak, Hanbin merasa binaran di mata Jisoo telah lenyap.

Yeah, teman.” Jus untuk pacar dan kopi untuk teman. Jus itu manis dan kopi itu pahit. Dan Jisoo lebih memilih akhir yang pahit bagi perasaan Hanbin. Dan Hanbin mau tak mau harus memilih awal yang manis untuk pertemanan mereka.

Ketika meneguk isi gelas yang dipegangnya, lidah Hanbin merasakan minuman paling tidak enak sepanjang hidupnya. Ia bersumpah tidak akan pernah meminumnya lagi.

 

Jika menilik ke masa kini, Jennie masih mencoba untuk mendobrak pintu kamarnya.“Yakk Kim Hanbin buka pintunya sekarang juga. Aku perlu bicara denganmu, kenapa bisa Jisoo jadian dengan Song Mino jika kau menembaknya!”

Hanbin mengacak-acak rambutnya frustasi, dalam keadaan seperti ini ia hanya bisa menyalahkan si jus dan si pelayan yang memberinya minuman terkutuk itu.

 

**FIN**

 

Duh mbin tragis banget sih, wong cewek kok dipertaruhin, diperjuanginlah seharusnya wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s