[ONESHOT] PLEASE COMEBACK HOME …

Please Comeback Home ... ...2

Please, Comeback Home

(JooHyun Story)

 

 

Cast               : Nam Joo Hyuk // Lee SuHyun

Rate               : General

Genre             : Sad – Romance

 

***Please, Comeback Home …***

 

 

JOO HYUK’S .POV

 

Aku melayangkan pandanganku ke sekitar ruangan kecil, yang cahayanya remang. Ku telusuri perlahan, lalu aku mendapati Suhyun menatap ponselku, dan wajahnya tercengang dengan apa yang dilihatnya. Sepertinya ia menyadari kedatanganku. Dan memandangku tak berkedip.

 

“Kenapa oppa tak memberitahuku bahwa oppa akan di pindah tugaskan ke Amerika selama setahun?” tanya Suhyun. Aku kebingungan mau menjawab apa pada istriku ini.

 

Mianhae… Aku tak ingin membuatmu terbeban, memilih kuliahmu atau memilih menemaniku pindah ke Amerika. Aku ingin berunding terlebih dahulu dengan eomma dan appaMianhae Suhyun-aah…” dengan wajah bersalah ku, aku menjelaskan padanya. Aku tau wanita imut ini akan segera menangis mendapati aku yang akan pergi meninggalkannya. Seumur hidupku, aku tak pernah berpisah lebih dari seminggu dengannya. Eottokhaeyo chagy…

 

“Aku membencimu!” lalu ia menangis, dan beranjak dari duduknya. Ia keluar kamar, membanting pintu, ia pasti tak akan tidur di kamar ini.

 

Sesungguhnya aku sangat menginginkan pekerjaan ini, karna aku tau, pekerjaan ini bisa membantuku mencapai impianku bersama Suhyun, yaitu memiliki sebuah restoran di Gangnam, dan Suhyun yang akan menjalankannya. Orangtua ku bisa saja memenuhi impianku ini dengan segera, tetapi aku sudah berjanji kepada Suhyun akan berusaha semampuku memenuhi segalanya sendiri.

 

 

***

 

Sudah pagi, aku melihat Suhyun ku memasak di dapur. Perempuan muda ini, benar membuatku gila. Aku mencoba menyapanya, tapi ia tak menatapku sama sekali. Aku menyerah saja.

 

Ia menyajikan sarapan pagi seperti biasanya, namun raut wajahnya tak juga berubah, ia terlihat sangat kesal. Aku memang bersalah menyetujui kepindahan ini tanpa memberitahunya. Mianhae. Keberangkatanku benar benar buru buru sekali. Minggu depan aku harus pergi, dan itu juga pasti menjadi satu alasan mengapa Suhyun menjadi sangat marah.

 

“Aku akan berangkat kuliah sendiri. Oppa pergilah bekerja, pekerjaan oppa lebih penting dari pada aku,” sindirnya. Aku hanya mendengarnya tanpa menjawab apapun, ku lihat jam dinding yang menunjukkan waktunya aku juga berangkat bekerja.

 

 

***

 

 

Aku mendengar isakan tangisnya di kamar. Ia tak mengatakan apapun selama lima hari. Betapa mengerikan tak mendengar suara omelan dan berbagai ocehannya. Bagaimana ini? Besok aku harus bersiap siap untuk pergi. Apa aku sanggup tanpanya? Aku mengetuk pintu kamar, “Bolehkah aku masuk chagy? Aku ingin sekali memelukmu… jebal…” ku katakan dengan memelas.

 

“Aku membencimu! Aku tak ingin memelukmu oppa!” jawabnya kasar. Aku hanya menunggu di depan pintu tanpa protes apapun.

 

 

***

 

 

“Suhyun-aah, bangunlah, aku akan berangkat jam tiga sore nanti,” sambil aku mengetuk pintu kamarnya. Ia tak menjawab. semua barang-barangku telah siap ku kemas, tinggal menunggu berangkat. Aku merindukamu Suhyun, ku mohon…

 

Aku menyalakan TV, duduk sambil melihat beberapa tayangan yang lumayan membosankan, berharap Suhyun keluar kamar. Waktu menunjukkan pukul satu siang, aku harus ke bandara sekarang. Aku menghubungi Suhyun, karna akan sia-sia saja jika aku mengetuk pintu kamarnya dengan sopan. Ia tak menjawab. Aku mengetik pesan dan mengirimnya kepada Suhyun, yang berisikan jadwal keberangkatanku, dan aku juga mengatakan aku mencintainya. Sangat.

 

Ku langkahkan kaki ku dengan berat, menuju luar rumah, kali ini aku naik taksi saja, karna tak akan ada yang membawa mobil kembali jika Suhyun tak mengantarku. Eomma dan appa akan menemui ku di bandara. Mereka sudah mengetahui kemarahan Suhyun, dan juga telah membantu membujuk Suhyun, tapi nihil.

 

Sejenak aku melihat jendela kamar Suhyun dari kejauhan. Sudahlah. Aku berjalan membawa koperku, keluar pekarangan rumah. Kemudian menyebrang dan menunggu taksi. Beberapa menit tak ada taksi yang lewat. Jalanan memang tak terlalu sepi. Ah, tatapanku tertuju pada sesosok perempuan di sebrang jalan. Suhyun! Ia mengejarku. Ku tatap wajahnya. Ia menangis. Kendaraan masih berlalu lalang, ia berteriak kencang, “Oppa, jangan pergi! Ku mohon!”

 

Aku berusaha menyeberang juga, namun terlalu banyak kendaraan. Kemudian Suhyun berlari berusaha menerobos kendaraan-kendaraan itu. Aku khawatir padanya. “Suhyun berhentilah!” namun ia tak mendengarkanku. Aku melihatnya yang begitu panik. Jalanan ini bukan untuk sembarangan menyeberang. Aku mencari tempat untuk meletakkan koperku ke tempat yang aman, agar bisa menarik Suhyun.

 

Namun, ketika aku membalikkan badan, mencari tempat, aku mendengar suara keras, dan Suhyun berteriak kencang. Segera ku alihkan pandanganku. Suhyun! Ia tergeletak beberapa meter dari sebuah mobil yang menabraknya.

 

 

***

 

 

Seharusnya aku tak membiarkannya menyeberang sendiri. Seharusnya aku memberitahunya telebih dahulu tentang kepergianku. Ah! Pabooo!!! Aku bodoh sekali. Sekarang lihatlah, segalanya hancur. Impianku dan Suhyun.

 

Aku melihat eomma dan appa. Mereka menangis. Keadaan Suhyun sangat kritis. Ia kehilangan banyak darah. Aku pantas mati karna ini semua salahku!!!

 

Perawat memasang selang infus dan EKG, alat rekam jantung pada Suhyun. Keadaan yang tak pernah terbersit sama sekali dalam benakku. Aku menyesal.

 

 

***

 

 

Empat hari berlalu, Suhyun tidak juga sadarkan diri. Aku harus bagaimana? Aku bahkan belum mengajaknya berbulan madu, karna aku berjanji ketika usianya dua puluh dua, aku akan mengajaknya ke sebuah negara yang jauh, yang sangat ingin ia datangi. Tapi kenapa sekarang mimpi itu lenyap? Pabo Joo Hyuk. Lihatlah istrimu terluka karna kau tak pernah bertukar pikiran dengannya.

 

 

 

 

AUTHOR’S .POV

 

 

Joo Hyuk mengambil tangan Suhyun yang masih dalam keadaan koma, karena suplai darah yang buruk ke jantung efek dari kecelakaan yang Suhyun alami. Joo Hyuk duduk tepat di sebelah Suhyun, kemudian mencium tangan istrinya itu. Tanpa di sadari, air matanya menetes. Itu bukan sifatnya, menangis, tapi ia merasa sangat menyesal dengan segala yang terjadi akibat dari apa yang ia lakukan.

 

Chagy… Bogoshippo… Aku berjanji tak akan pernah pergi kemanapun tanpa mu…”

 

 

 

***

 

Hari demi hari berlalu. Joo Hyuk menunggu Suhyun setiap waktu. Harapan, dan doa, hanya itu yang Joo Hyuk miliki.

 

“Joo Hyuk-ssi, tenanglah. Suhyun akan kembali…” ucap Ibu nya. Mereka menunggu dan terus menunggu. Joo Hyuk melihat jam tangannya, menunjukkan jam tujuh malam. Ia belum makan, dan berniat pulang untuk mengganti pakaian serta membeli makanan, agar bisa berganti jaga dengan orangtuanya.

 

Eomma, Appa, aku akan pulang sebentar,” dan di jawab dengan anggukan setuju oleh kedua orangtua nya.

 

Joo Hyuk mengeluarkan mobil dari parkiran rumah sakit. Ia lunglai. Masih tak ada tanda-tanda bahwa Suhyun akan sadar.

 

Tiba-tiba saat pertengahan perjalanan, ponsel Joo Hyuk berdering.

 

“Joo Hyuk-ah, kembali ke rumah sakit ppali… Su…Hyun… dalam kondisi kritis,” ujar Ibu nya dengan terbata-bata. Kemudian Joo Hyuk memutar kencang stir mobil, membalikkan arah.

 

 

 

***

 

 

Joo Hyuk sampai ke depan ruang ICU. Ia masih mengatur pernafasannya karena berlari kencang untuk mengetahui pasti keadaan Suhyun. Ia mendapati kedua orangtua nya dan orangtua Suhyun menangis.

 

Joo Hyuk mengalihkan pandangan ke dalam ruang ICU itu, ia mencari celah  agar dapat melihat apa yang terjadi di dalam ruangan. Joo Hyuk terperangah, ia menatap dokter dan beberapa perawat yang terlihat cemas, memasang defibrillator ke jantung Suhyun, karena monitor EKG menunjukkan garis datar.

 

 

***

 

 

 

JOO HYUK’S .POV

 

 

Aku tak mampu berdiri lagi, sepertinya kaki ku tak kuat menyanggah tubuhku. Aku ingin berteriak, mengatakan kepada tim medis agar mereka mereka menyembuhkan Suhyun ku, tapi segala sesuatu hanya ada dalam kuasa pemilik dunia.

 

Appa dan eomma menangis. Sekian menit berlalu, monitor EKG masih menunjukkan garis datar.

 

Suhyun-aah, ppalli ireona …

 

 

 

 

 

 

Akhirnya, aku melihat dokter menarik semua peralatan medis yang melekat pada tubuh Suhyun selama beberapa hari ini.

 

 

 

 

“Andwae!!!!!!! Suhyun-aah… Khajima…..” teriak Ibu Suhyun.

 

 

Jantungku berhenti berdetak. Aku tak bisa melakukan apapun, hanya air mata yang mengalir, menatap tubuh Suhyun yang kaku.

 

 

Chagy… Suhyun-aah … !!!!!!!!” aku berharap ia menjawab panggilan kesayangan ku untuknya tapi ia terbaring kaku.

 

 

 

*** END ***

 

 

 

Notes :

EKG : Elektrokardiogram (EKG) atau electrocardiogram (ECG) adalah tes medis untuk mendeteksi kelainan jantung dengan mengukur aktivitas listrik yang dihasilkan oleh jantung.

 

Defibrilator     :  Stimulator detak jantung yang menggunakan listrik dengan tegangan tinggi.

Advertisements

4 thoughts on “[ONESHOT] PLEASE COMEBACK HOME …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s