[Ficlet] Ramyeon

Ramyeon

An absurd fiction by, Acu

Cast Song Mino of Winner – Yoon Seomin [OC]

Genre Friendship – Sligh of Comedy

Length Ficlet || G

Disclaimer I just own the storyline

Summary

“Ramennya belum jadi.”

©ACU 2016

**

Yoon Seomin mengibaskan rambut panjangnya ke belakang agar tidak menghalangi pandangan sementara ia bergegas menyusuri jalan kecil dan sepi yang mengarah ke gedung flatnya. Uap putih keluar dari mulutnya setiap kali ia mengembuskan napas. Ia menggigil karena rasa dingin mulai menembus jaketnya. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah, minum secangkir coffe latte, dan makan ramen. Memikirkannya saja sudah membuat perut keroncongan.

 

Tiba-tiba ia mendengar suara. Suara langkah kaki di belakangnya. Seomin terkesiap pelan dan menelan salivanya. Ia melirik jam tangan. Sudah hampir tengah malam. Ia bersenandung pelan, berusaha menenangkan diri. Mungkin ia salah dengar. Seomin tetap berjalan—walaupun langkahnya tanpa sadar semakin cepat—dan memasang telinga.

 

Langkah kaki di belakangnya juga terdengar semakin cepat. Orang jahat? pikir Seomin panik. Ya Tuhan, lindungilah diriku.

 

“Seomin-ah

 

Gadis itu terlompat kaget dan berputar cepat, mengangkat tas, bersiap untuk memukul orang itu. Namun, matanya terbelalak ketika menatap seorang pemuda yang sudah berdiri di sampingnya dengan mengangkat tangan. Seomin sedikit mengembuskan napas lega.

 

Ya, Song Mino, kenapa kau membuatku takut, aish.” Kata Seomin dengan suara tercekik. Lalu, ia mendesah sambil memegang dada.

 

Song Mino mendecakkan lidah dan tersenyum lebar. “Aku tahu, maka dari itu aku berjalan seperti penguntit.”

 

Gadis itu berdesis sinis dan mengayunkan tasnya ke tubuh Mino hingga terdengar bunyi gedebuk yang cukup keras. Mino mengangkat kedua tangan ke depan wajah untuk melindungi diri. Tak lupa dengan suara erangannya.

 

Seomin menghentikan ayunan lengannya dan melotot galak ke arah Mino. Perlahan-lahan pemuda itu menurunkan tangan.

 

“Hehe. Aku minta maaf. Ayo, cepat. Aku sudah hampir beku,” kata Mino sambil menggandeng lengan Seomin.

 

“Tunggu. Apa kau ingin menumpang tidur di rumahku lagi? Ya! Kenapa setiap bertengkar dengan kekasihmu harus lari ke rumahku?!” ia melepaskan tangannya dari Mino dan berjalan mendahului pemuda itu. “Kabwa!”

 

Mino berjalan menyusulnya dengan terus memohon. “Ya, hanya kau temanku satu-satunya. Ayolah, Seo. Aku mohon. Apa pun akan kulakukan.” Katanya seraya mengusap-usap tangannya yang kedinginan.

 

Gadis itu berhenti, berputar cepat dan memandang Mino untuk beberapa saat. “Apa saja?”

 

Oh,” sahutnya cepat.

 

.

.

 

Beberapa menit kemudian mereka tiba di depan gedung flat Seomin. Seomin mengeluarkan kunci dari dalam tasnya, dan membuka pintu.

 

“Selesai aku mandi, yang kutahu ramenku sudah jadi, dan dapurku sudah bersih.” Kata Seomin sebelum ia masuk ke dalam kamarnya.

 

Sementara Mino, hanya bisa menggerutu sembari merapikan ruang televisi, lalu bergegas ke arah dapur. Tapi, ia pun berpikir, tidak apa-apa kalau jadi pembantu sebentar saja. Toh, dia juga memakan ramen itu.

 

Namun, baru sesaat ia menyalakan kompor, ia mematikannya lagi. Sejurus kemudian, ia berjalan ke ruang televisi dan menyalakan benda tersebut. Selama menonton, Mino terus menggerak-gerakkan kakinya dengan gusar. Meskipun matanya terus melihat televisi, namun pikirannya kemana-mana. Hingga suara pintu kamar Seomin terbuka membuatnya tersentak.

 

Seomin yang baru keluar dari kamarnya, terkejut melihat Mino yang duduk di sofa. Ia bisa melihat gambaran wajah Mino yang tercetak kebingungan. Gadis itu berjalan mendekatinya, dan duduk di sampingnya.

 

“Apa sudah selesai? Kenapa kau terlihat bingung seperti itu?” Seomin menautkan kedua alisnya, memandang Mino keheranan.

 

“Ramennya belum jadi.” Katanya kemudian.

 

Seomin melotot melihatnya. “Ya! Lalu kenapa kau menonton televisi. Bukankan sudah kukatakan tadi.”

 

“Maaf, Seo. Tadi aku bingung.”

 

Seomin mengerjap dua kali. “Bingung? Bingung kenapa? Apa kau tidak bisa menyalakan kompornya? Atau––”

 

“Itu dia. Aku bingung dengan kompornya. Aku ingin memasak ramennya, tapi ketika aku menyalakan kompornya, tiba-tiba keluar api dari kompor itu. Jadi, aku matikan kembali, aku takut terjadi kebakaran.” Katanya polos.

 

Seketika Seomin merasa tulangnya hilang entah kemana. Ia merasa tubuhnya akan terkulai ke lantai sekarang juga. Ia berharap dewa kematian menyabut nyawa Mino detik ini juga.

 

“Song Mino!” panggil Seomin dengan menggeram. Sesaat kemudian, gadis itu berguling-guling di lantai sembari mengacak rambut dengan frustasi. “ARE YOU KIDDING ME?!”

..

end

..

  • Yes, akhirnya kukembali menistakan Mino. HAHAHAHA!!!
  • Tengkiw, Herp. Wkwkwk

Sabodo judul yang gak nyambung XD

 

Advertisements

7 thoughts on “[Ficlet] Ramyeon

  1. Eah, emang bang Mino peang. Namanya aja kompor ya musti ada apinya lah. Lu hidup jaman azoikum kali bang -.-

    Kak Cuuu, Bin mau ngingetin aja kalau kalimat terakhir yang english(?) sebaiknya di sensor. Soalnya diawal, kakak udah matok batas umur G. Soalnya F*cking itu bahasa kasar kak 🙂

    At least, keep writing kak acuu 😉

    Liked by 1 person

  2. Demi Kerang Ajaib -_-
    Mino begoooooo -,,- Pengen pancal rasanya wakakaka sumpah edan aduh aku mah mau komen apa apa pengennya ngata-ngatain Mino tapi nanti kena ‘Report as Inappropiate’ /?
    Suruh beli kompor listrik aja kan ga ada apinya -_-

    Liked by 1 person

    1. tenggelemin aja, kav ke samudera antartika, wkwkwk

      kan dia masak di kosant seomin, seomin gak mampu beli kompor listrik, wkwkwwkk

      tengseu, nokav ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s