[Vignette] That Night

a2a7b4415d91a000

Cast : Lee Seunghyun (Seungri Big Bang) & Yamada Aoko (OC)

Slight Cast :

Lee Chanhyuk & Lee Soohyun (Chanhyuk & Soohyun Akdong Musician) #just mention her name

Genre : AU, Friendship, College Life, Slice of Life, OOC,  fluff *failed detected

Duration : Vignette (± 1180 words) | Rating : Teen

a fic by : Aoko Cantabile 

**********

That Night

 

 

Aoko berkali-kali menatap jam tangan berwarna silver kebiruan yang tersampir di lengannya. Ia mengumpulkan gelombang udara di paru-parunya lalu menghembuskannya perlahan. Sekarang waktu menunjukkan pukul 01.20 JST. Siapapun akan berpikir berulang kali untuk pulang selarut ini, tapi karena jam percobaan magang yang belum teratur, membuat Aoko terpaksa masih mondar mandir di depan gedung rumah sakit pada dini hari.

Semalam, dia baru menonton film Korea tentang aksi pembunuhan kejam, ‘Blind’ yang dipinjamkan Lee Chanhyuk. Tentu saja ingatan mengenai aksi serial killer itu masih tersimpan rapi di alam bawah sadarnya. Dan saat ini, dia tak berani untuk pulang sendiri. Bermacam-macam imajinasi kejahatan terbayang. Aoko juga teringat bahwa lampu jalan di lingkungan sekitar flatnya padam. Sudah tentu, aura seram menyelubungi jalan pulang ke rumahnya.

Banyak taksi yang lewat, tapi Aoko tak berani menyetop. Salah satu latar aksi pembunuhan itu ada di taksi. Maka dari itu, dia menelepon Chanhyuk, meminta sohibnya untuk mengantarkannya. Akan tetapi, Chanhyuk tak mengangkat panggilan Aoko, membuat Aoko bergidik ketakutan, berharap bahwa ia tak akan pulang sendirian kali ini. Tiga kali menelepon, Chanhyuk akhirnya mengangkat.

“Ada apa, Senpai? Kenapa menelepon malam-malam?” suara Chanhyuk menyapa telinga Aoko.

“Maukah kau membantuku, Chanhyuk? Aku saat ini di rumah sakit dan tak berani pulang sendiri”

“Huahahahaha…. seorang Yamada Aoko bisa juga takut!” ledek Chanhyuk. Aoko melenguh mendengar celotehan Chanhyuk.

“Ini semua karena film Blind itu. Pokoknya kau harus bertanggung jawab atas dampak moril yang menimpaku.” tuntut Aoko -yang justru membuat tawa Chanhyuk semakin lebar.

“Wuahahahaha… Senpai. Bukannya aku tak mau menolongmu. Aku sekarang sedang menjaga adikku, Soohyun. Dia sedang sakit panas. Aku tak bisa bergerak kemana-mana hingga esok pagi.” Mendengar Chanhyuk tak dapat menolongnya membuat kedua tungkai Aoko melemas. Bagaimana ini? Apakah dia harus menginap di ruang perawat saja? Atau dia nekat pulang sendiri. Aoko mempertimbangkan semua pilihan tersebut. Tak ada yang pilihan yang sangat menguntungkan tapi dia lebih memilih pulang sendiri dibandingkan menginap di rumah sakit. Jam istirahatnya akan berkurang drastis padahal dia akan menghadapi tugas yang mungkin lebih berat pada keesokan malamnya.

Aoko membulatkan tekad seraya merapatkan mantelnya. Dia akan pulang ke rumah tanpa Chanhyuk sekalipun. Toh! Jarak antara rumah sakit dan flatnya tak begitu jauh -hanya terpisah beberapa blok. Dia kemudian memasang headset di kedua telinga, mendendangkan lagu-lagu kesukaannya –mencoba menetralisir pemikiran buruk di otaknya. Maniknya tak lepas dari LINE, berharap ada yang masih terbangun.

Nada dering super keras dari handphone, mengagetkan Aoko seketika itu juga. Tak sempat melihat siapa yang menelepon, Aoko mengangkat panggilan tersebut.

“Hei, Aoko-chan.” suara serak di seberang menggaung di kedua rungu Aoko.

“Seunghyun-kun.” jawab Aoko lega. Walau dia tak pernah mengira bahwa Lee Seunghyun akan meneleponnya pada jam segini.

“Kenapa kau belum tidur? Ada perlu apa meneleponku?” lanjut Aoko.

“Aku baru saja menyelesaikan sebuah kegiatan. Tadi, Chanhyuk menghubungiku dan mengatakan bahwa kau takut untuk pulang sendiri. Karena aku berada sangat jauh dari tempatmu magang, aku tak bisa mengantarmu pulang. Gomen! By the way, aku akan menemanimu via telepon saja” Perasaan kecewa menelisip di relung hati Aoko. Tapi, setidaknya pria di ujung sambungan sana telah menelepon dan akan berinteraksi dengannya sepanjang perjalanan. Itu cukup membantu, pikir Aoko.

“Tak apa, Seunghyun-kun. Hehehehe…”

.

.

.

“Ehm…Aoko-chan.” panggil Seunghyun lembut.

“Ya? Kenapa?” tanya balik Aoko.

.

.

.

Are you on Nickelodeon?” tanya Seunghyun acak. Aoko terdiam, mengerutkan dahi -bingung dengan pertanyaan random dari Seunghyun.

“Eh? Maksudmu?” respon Aoko.

Cause you’re a-Dora-able!” ujar Seunghyun sembari terkikik geli. Aoko terbatuk-batuk mendengar kalimat Seunghyun lalu menghela nafasnya pelan. What a cheesy lines!

Did it hurt?” Nah, sekarang Aoko yang berbalik bertanya.

Did what hurt?”

When you fell from heaven.”

“Mpppft…Are you serious, Aoko? Aku tak menyangka Yamada Aoko bisa menggombal juga. Wuahahahaha..” gelak tawa khas milik Seunghyun memantul di pendengaran Aoko.

“Aku tak pernah menyangka. Sungguh! Apa jangan-jangan saat ini kau mencoba merayuku? Hahahahaha….” lanjut Seunghyun. Aoko tersenyum kecut. Maksud hati ingin membalas, dia malah diledek. Ingin rasanya ia menutup percakapan super absurd itu. Diurungkan niatnya tatkala melihat beberapa gerombolan pria sedang berjalan ke arahnya.

“Kenapa kau diam, Aoko-chan?”

Aoko masih termangu sampai gerombolan pria itu menghampirinya dan menyapa, “Hai, cantik! Kau mau kemana? Mari kami temani!”

Aoko terlonjak kaget hingga dia refleks memundurkan langkahnya. Damn! Kenapa dia harus bernasib sial hingga bertemu dengan hal yang tak menyenangkan seperti ini.

“Ehem! Dia ini wanitaku. Kalian sebaiknya pergi sebelum tubuh kalian remuk redam karena pukulanku.” Suara lain turut berkoar. Aoko menoleh sekilas ke sumber suara dan melihat pria berambut silver platinum cepak tengah berada di belakangnya. Pria itu mengenakan stripes t-shirt merah-hitam juga celana pendek se-lutut. Aoko menajamkan penglihatan –takut bahwa yang berbicara itu adalah teman dari gerombolan pria di hadapannya. Ternyata pria yang sedari tadi berbicara melalui telepon dengannya, tengah berdiri tegap disana. Perasaan Aoko lapang saat mengetahuinya. Dan, gerombolan pria tak dikenal itu akhirnya memilih untuk pergi.

“Kenapa kau disini? Bukannya kau tadi bilang berada jauh dari rumah sakit? Apakah tak apa seorang CEO sepertimu berkeliaran di jalan saat ini tanpa mobil?” Aoko melontarkan pertanyaan bertubi-tubi –pertanda heran dengan polah Seunghyun.

“Aku baru saja selesai latihan jujitsu. Training centre jujitsuku berada persis tiga gedung sebelah kiri di seberang rumah sakitmu. Mobilku terparkir aman disana. Dan, sudah kukatakan sebelumnya, Chanhyuk menghubungiku. Aku akhirnya memutuskan untuk mengikutimu dari belakang, memastikan kau tiba di flat selamat. Kau tak apa-apa kan?” Seunghyun lantas mendekati Aoko dan menepuk pundaknya agar Aoko rileks. Ya, siapapun akan terpaku apabila berhadapan dengan kejadian seperti itu.

“Nah, sekarang mari kuantarkan kau pulang. Flatmu tinggal beberapa meter lagi.” Seunghyun lalu menggengam tangan Aoko, menyalurkan kehangatan pada telapak tangan Aoko yang basah oleh keringat dingin.

Ya. Mereka berdua berjalan beriringan menuju flat Aoko kurang dari tiga menit. Sesaat Aoko ingin mengucapkan terima kasih pada Seunghyun, Seunghyun malah merengsek masuk ke dalam flat Aoko.

“Biarkan aku menginap di flatmu malam ini. Aku terlalu lelah untuk berjalan pulang ke training centre.” Aoko kembali mengerutkan dahi, takjub dengan tingkah Seunghyun yang tiba-tiba. Sebelum dia menolak, Seunghyun malah berbaring di kasur tempat tidurnya.

“Hei, sepertinya aku tidur disini sebelumnya. Aku tidur disini ya!” ujar Seunghyun riang seraya merebahkan badannya di kasur. Aoko bereaksi cepat dengan menarik lengan Seunghyun agar bangkit.

“Enak saja! Kalau kau ingin menginap, sebaiknya tidur di sofa sana!” perintah Aoko dengan raut wajah yang ditekuk karena kesal.

“Nggak mau. Aku sudah nyaman disini.” tolak Seunghyun sambil menanamkan wajahnya ke bantal.

“Yasudah kalau begitu. Aku akan tidur di sofa!” Aoko melengos, berupaya meninggalkan Seunghyun di kamarnya.

“Jangan ngambek gitu donk! Kau tidur saja disini. Aku tak keberatan kok!“ Rona merah menghiasi kedua wajah Aoko, tak sanggup membayangkan kelanjutan kalimat itu.

Shit! What do you mean?” umpat Aoko sembari mendelikkan mata tajam pada Seunghyun. Seunghyun tertawa lebar mengamati raut wajah Aoko.

“Wuahahahaha…Tidak! Maksudku adalah kau tidur disini, aku yang akan tidur di sofa.” Seunghyun lalu berdiri meninggalkan tempat tidur Aoko dan segera membaringkan badannya di sofa, sedangkan Aoko masih terpaku dan gamang mengamati tingkah Seunghyun.

“Ngomong-ngomong, jangan lupa bantal dan selimutnya ya! Sofamu dingin sekali!!” Teriakan Seunghyun menyadarkan Aoko. Aoko merespon dengan melempar bantal dan selimut satu-satunya yang ia miliki ke arah sofa, yang kemudian dijawab dengan erangan kesakitan akibat lemparan tersebut.

Fin.

#the pick-up lines? i’m just inspired by meme http://www.allkpop.com/meme_view/nom815/so/nl

*Aoko‘s Note :

Holla, everybody! Long Time No See! Maafkan saya yg tiba2 kambek lalu narsis dengan publish kisah Blue-Victory. *maafkeun maafkeun..

Fic ini sudah mengendap d laptop selama kurang lebih 9 bulan, pengen publish selalu terhalang rasa malu karena terlalu delusi *wkwkwkwk 😀

Berhubung diri ini baru saja digempur gelombang tugas yg ampun-ampunan, saraf ‘malu’ saya sedikit error kemudian seenak jidat memenuhi beranda YGEFF kita tersayang

[tampak sekali diri ini sedang curcol ya?] 😀

Anyway, dibutuhkan sekali kritik-saran terhadap fic absurd ini. Semoga para readers bahagia dengan kisah Aoko-Seungri yg semakin random..

See U soon.. Always happy & healthy…

Warm Regard,

Aoko Cantabile

Advertisements

8 thoughts on “[Vignette] That Night

  1. Halo haloo kak Aoko 😀

    Aku ngakak. Dora-able? Maksudnya? Pfftt -_-
    Tapi bang riri soswit banget, ngejagain Aoko sampe dirumah. Tapi kok kesannya nguntit gitu ya? Ngikutin tanpa sepengetahuan Aoko. Jangan-jangan bang Riri punya jiwa paparazzi? /ngaco/

    Kip nulis kak 😀 ❤

    Ps. Maap telat ngerusuh ehehee

    Liked by 1 person

  2. Hola! Welcome back kak Aoko 😀
    Waduh, ternyata Blue-Victory kembaliiii >.< Walaupun Vris ngerasanya ini ga terlalu fluff, tapi cukup ya buat aku senyam-senyum sendiri xD btw, meleleh loh digodain sama bang riri dijagain pula sampe rumah. Mau donk digituin juga. Eits, tapi kata daddy-nya Haljung ga boleh ngizinin cowok nginap dirumah (nanti chanu ngambek katanya) xD

    See you in the next fic, Kak ❤

    Liked by 1 person

  3. Haiii kak >.<
    Kangen deh sama kisah blue-victorynya ihik. Tapi entah kenapa aku ngerasa cerita ini kurang kak aoko banget yaa kata2nya hehe. mungkin gara2 udah mendekam di draft selama 9 bulan?/kamu sok tau as/ Lalu ada kata yang lupa diitalic juga kayaknya kak.kata 'donk' 'handphone' 'ngomong-ngomong' ((setauku soalnya yg baku itu omong-omong)) koreksi aku juga kalo salah ya kaak hehehe.
    trus ini juga " memastikan kau tiba di flat selamat." itu rasanya agak mengganjal ya kak hehe maafkeun aku yg cerewet iniii padahal aku sendiri masih acakadut tulisannya.

    bang riri teteup sweet yaaa. as always. iri aja gitu diperhatiin dari jauh sama cem-ceman duuhhh so swittttttt sini peluk dulu bang riri :"""""""""

    See you soon kak.. Always happy & healthy jugaa ❤

    Liked by 1 person

    1. Hai, Asti. aku sangat berterima kasih atas kejelian asti me-review. Iya, kuakui aku memang kurang mengoreksi tulisan dan gaya bahasa yg kupakai jg ‘unusual’ -terkesan terburu-buru & tidak nyaman, hahahaha 😀

      review & saran asti sangat berharga untukku sehingga aku akan lebih teliti dalam menulis.

      Thankseu atas supportnya..
      🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s