TWOSHOTS – PART B /END) GRAVITY OF LOVE

1448460820342 (1)

GRAVITY OF LOVE

 

 Cast    : Song Mino (Winner) ll Shim Yi Lin (Eli’s OC) ll Choi Seung Hyun (Bigbang)

Rate    : Teen

Genre : Love – Romance 

 

GRAVITY OF LOVE – A

halohaaa 😀 ku datang setelah duabulan menyusup tanpa muncul #maafkanakuhbuCEO.

maafkan jika fic ini menyakiti bang Tiowpih 😥 otak dangkal ku hanya sanggup bekerja segini ..

mohon kritik saran apa ajalah ketika telah selesai membaca hehehe #maksa.

selamat membaca 😀 terimakasih sudah mampir. silahkan datang kembali ke page ini 😀

 ————————————————————————————–

 “Karna cinta akan kembali kemana tempat seharusnya ia berada, dan cinta memiliki gravitasi” Song Min Ho

 

***

Shim Yi Lin, gadis itu telah lulus sekolah menengah, ia memilih melanjutkan perkuliahan di negaranya, tetap memilih jurusan arsitek, karna ia sangat menyukai menggambar, terlebih merancang bangunan. Dua tahun sudah setelah kepergian Mino, kekasihnya, untuk belajar di luar negri. Yi Lin tetap berusaha menahan rindunya untuk Mino. Komunikasi antara Yi Lin dan Mino masih terbilang lancar untuk sepasang kekasih yang menempuh hubungan jarak jauh.

 

Oppa, neomu bogoshippo…” sebuah pesan elektronik yang Yi Lin ketik untuk kekasihnya yang jauh darinya. Yi Lin memandang pada layar notebook yang sedang di pangkuannya. Yi Lin sedang berada di taman kampus. Ia bersandar pada sebuah pohon besar. Ya begitulah kesehariannya selama beberapa bulan ini. Perbedaan waktu juga harus membuat Yi Lin banyak berkorban. Jika di Korea Selatan sedang siang hari, di Inggris, tepatnya London, sedang subuh.

 

Alarm ponsel Yi Lin berdering menandakan bahwa sudah waktunya ia memasuki perkuliahannya. Yi Lin membereskan barang-barangnya, dan segera bangkit, melangkah menuju ruang kelasnya.

 

Yi Lin duduk, mengambil posisi yang berada di tengah, ia merasa lebih nyaman di tengah. Para mahasiswa berdatangan, menunggu dosen. Setelah menunggu sekitar lima belas menit, seseorang memasuki pintu, tegap, tampan, terlihat sangar. Mata para mahasiswi segera akan keluar menatap lelaki tampan itu. Dalam waktu sepersekian detik, sudah terjadi kericuhan di dalam ruangan itu.

 

“Saya Choi Seung Hyun,” lelaki itu memperkenalkan diri. Yi Lin tak terlalu menanggapi teman seruangannya yang berkicau bahwa asisten dosen yang baru saja masuk sangatlah tampan dan mempesona. Ia tak menggubris.

 

Lelaki itu mulai menjelaskan bahan-bahan perkuliahan yang ia bawa, ia juga terlihat santai. Para wanita di ruangan itu semakin berdecak kagum dan semangat memandangi Choi Seung Hyun. Di sisi lain, Yi Lin menguap, ia tak bisa menahan kantuk yang sedang ia rasakan saat ini. Itu semua adalah akibat dari Yi Lin yang tak sabar menunggu balasan pesan dari kekasihnya, jadi ia tak tidur hingga subuh. Perlahan wajah Yi Lin menyentuh meja, dan yang pasti ia akan segera terlelap. Yi Lin benar-benar terlelap saat mata kuliah yang ia paling senangi di ajarkan.

 

Pelajaran usai, Yi Lin di bangunkan oleh teman yang duduk di sebelahnya. Ia mengerjapkan kedua matanya, melihat sekeliling, sangat sepi. Hanya tinggal ia dan asisten dosen itu. Asisten dosen? Mengapa ia belum pergi? Aisshh, apa yang harus ku lakukan? Gumamnya. Yi Lin pelan-pelan beranjak dari tempat ia duduk, ingin secepat mungkin pergi. Tiba-tiba dalam langkah pertama kakinya, ia mendengar suara lelaki tersebut, “Jogiyo! Jamkanmanyo,” Yi Lin berhenti, kemudian memandang lelaki itu dengan ragu, ia takut.

 

“Ye?” ucap Yi Lin.

 

Lelaki itu berdiri kemudian mendekat pada Yi Lin. Tubuh Yi Lin kaku, tak bergerak sedikitpun. Setelah lelaki itu berdiri di sampingnya, ia mengucapkan kata-kata yang sama sekali tak terduga oleh Yi Lin.

 

“Apa mata kuliah ku tidak senyaman saat dosen yang lain mengajar? Mengapa tertidur?”

 

“Bukan begitu Pak, saya hanya sedikit tidak enak badan,” Yi Lin mencari alasan.

 

“Benarkah? Nona adalah mahasiswa pertama yang tertidur saat aku sedang memberi penjelasan. Aku akan mengingat nona. Shim Yi Lin bukan?”

 

Yi Lin merasa ini adalah tragedi pertama dalam hidupnya. Ia sudah membuat kesan pertama yang tidak baik pada orang lain, yang selama ini tak pernah terjadi dalam kehidupannya. Memang lelaki ini hanya sebagai pengganti dosen jika tak hadir, tapi bisa saja ia memberi Yi Lin nilai tak baik karna kejadian ini. Aaarrrggghh! Teriak Yi Lin dalam hatinya.

 

Jweisonghamnida,” Yi Lin membungkuk kepada lelaki itu. Kemudian lelaki itu pergi.

 

Yi Lin menarik nafas panjang, menyesali kebodohannya.

 

 

***GRAVITY OF LOVE***

 

Yi Lin menatap langit, sudah mulai senja. Ia berjalan menuju halte, sambil sedikit bersenandung. Ia lelah sendiri. Benar-benar lelah sendiri. Seandainya Mino oppa berada disini, ucapnya dalam hati. Ia segera menaiki bus. Sesak. Penumpang bus ternyata sangat ramai, tidak biasanya. Yi Lin mengambil posisi berdiri. Tak ada bangku kosong untuknya.

 

“Yi Lin-ssi, silahkan duduk disini,” suara yang masih asing untuk Yi Lin, memanggil namanya, Yi Lin menoleh. Ternyata asisten dosen yang siang tadi menegurnya. Yi Lin tersenyum sungkan, tapi tak berniat duduk di tempat yang ditawarkan padanya. Kemudian lelaki itu berdiri, menarik tangan Yi Lin, membuat Yi Lin duduk di tempat ia sebelumnya. Yi Lin sangat menghargai perilaku lelaki itu, hanya saja ia masih merasa sangat sungkan terkait kejadian siang tadi.

 

Neomu gamsahaeyo, ahjussi,” kemudian Yi Lin memandang bangku yang ada di depannya, tak sedikitpun melihat lelaki itu. Lelaki itu berdiri tepat di sampingnya.

 

“Lain kali jangan panggil aku ahjussi, nona. Aku hanya beberapa tahun lebih tua darimu. Jika berada di kampus, kau boleh memanggilku Sir, tapi jika tidak di kampus, anggap saja kita berteman,” ucapan lelaki itu membuat Yi Lin terperangah. Ternyata tidak sesangar dugaan Yi Lin.

 

Sepanjang bus berjalan, mereka terdiam, tak berbincang apapun.

 

***GRAVITY OF LOVE***

Hari baru. Seperti biasa, kegiatan Yi Lin masih seperti dulu, menunggu Mino membalas e-mail nya, atau berdiam diri bersandar pada pohon di taman, atau bersembunyi dari keramaian.

 

Hari ini Yi Lin bersiaga memasuki ruangan belajar. Seorang lelaki muda, ya benar saja, ternyata lelaki itu Choi Seung Hyun, ia mengajar lagi di ruangan Yi Lin. Yi Lin menyiapkan ketahanan matanya, agar tak tertidur. Semalaman ia mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian semester. Aisssh, jinja, apa aku harus bertahan siang ini? Aaah, mengapa ahjussi satu ini yang mengajar? Yi Lin menggerutu lagi. Pelajaran di mulai. Yi Lin menguap, tapi ia bertahan.

 

Seusai kuliah, ia menyempatkan ke kantin, mengisi perutnya. Ia berencana pergi ke perpustakaan sendiri. Mengisi waktu luang. Yi Lin memasuki perpustakaan, sepi. Entah mengapa Yi Lin menyukai tempat yang sepi dan senyap. Ia membuka notebook-nya, sembari menunggu agar ber-email-ria dengan Mino. Yi Lin mengambil beberapa buku untuk di bacanya. Duduk dengan tenang, Yi Lin menikmati sore-nya dengan baik.

 

 

Ssstt… Kau serius sekali membaca buku?” suara seorang lelaki, dan lagi-lagi Yi Lin merasa suara ini agak aneh. Ia menoleh. Menyadari Choi Seung Hyun berada di sisi kanannya. Lelaki itu tersenyum simpul menatapnya.

 

Ah, ne, jweisongiyeyo ahjussi,” Yi Lin sedikit merasa canggung untuk menyapa lelaki di sebelahnya.

 

Seung Hyun tak menerima di panggil ahjussi, ia lebih senang di panggil Sir. Seung Hyun mengajak Yi Lin berbicara tentang buku apa yang suka Yi Lin baca. Mereka berbincang cukup lama, dan membuat Yi Lin sedikit terlupa dengan e-mail beserta balasan yang ia tunggu dari Mino.

 

***GRAVITY OF LOVE***

 

Sebulan sudah Yi Lin dan Seung Hyun menjalin keakraban. Seung Hyun merasa nyaman bersama Yi Lin, bahkan hanya untuk sekedar bercanda. Kedekatan Yi Lin dan Seung Hyun tak mengundang tanya oleh mahasiswa di kampus Yi Lin, mereka menanggapi hal itu biasa. Sedangkan hubungan Yi Lin dan Mino- yang masih sibuk dengan pendidikannya di luar Negara, membuat Yi Lin memantapkan hati untuk mengurangi mengganggu Mino.

 

Setiap hari, sebelum Seung Hyun ada – Yi Lin lebih suka menyendiri. Setelah Seung Hyun ada, Yi Lin lebih ingin bersamanya. Yi Lin begitu cepat berpindah hati? Bukan. Hanya ia ingin memiliki seorang teman yang benar mengerti dirinya – yang selama beberapa waktu ini, tak pernah ia miliki. Yi Lin memang tak gampang beradaptasi dan bergaul dengan lingkungan baru. Itulah yang menyebabkan Yi Lin masih benar-benar sendiri – tanpa teman, setelah Mino pergi.

 

***GRAVITY OF LOVE***

 “Yi Lin-aah, apa aku boleh bertanya?” tanya Seung Hyun ketika sedang makan bersama dengan Yi Lin di sebuah caffe. Malam ini adalah perayaan ulangtahun Yi Lin. Ia hanya ingin mentraktir Seung Hyun seorang.

 

“Ya oppa,” jawab Yi Lin santai, karena sudah beberapa bulan mengenal Seung Hyun, Yi Lin memanggilnya dengan oppa saja. Yi Lin serius menyantap makanan yang tersaji di hadapannya, tak memandang raut wajah Seung Hyun.

 

“Apa kau telah memiliki seorang kekasih?” Seung Hyun bertanya sungkan. Yi Lin menghentikan suapan yang akan segera ia masukkan ke dalam mulutnya. Ia sedikit berdehem.

 

“Tumben oppa bertanya tentang ku? Hayo, ada apa?” Yi Lin menggoda Seung Hyun yang menatapnya dengan wajah – setengah serius. Jelas saja Seung Hyun langsung mengisyaratkan tidak ada apa-apa.

 

“Kita sudah enam bulan berteman, apa aku belum pernah menceritakannya kepada oppa?” Yi Lin memajukan wajahnya. Seung Hyun menggeleng pelan, berusaha menjaga wibawa nya.

 

Dengan sedikit tersenyum sesal, Yi Lin menjawab pertanyaan Seung Hyun. Ia menjelaskan bahwa kekasihnya sedang berada di Inggris untuk menuntut ilmu, dan sebisa mungkin, dalam dua tahun ke depan, kekasihnya akan kembali. Namun saat ini Yi Lin jarang sekali berkomunikasi dengan kekasihnya, karna sibuk. Yi Lin sedikit memasang wajah muramnya. Ia mengingat betapa Mino sangat jarang membalas e-mail yang ia kirimi.

 

Seung Hyun berpura-pura tak terlalu menanggapi perempuan yang ada di hadapannya itu. Sedikit informasi yang telah Yi Lin berikan tersebut, mengusik kenyamanan Seung Hyun untuk berada di dekat Yi Lin – lebih dari sekedar teman, atau senior dan junior. Seung Hyun menyandarkan dirinya di kursi, menghela nafas. Menatap Yi Lin yang sedang menikmati makanannya. Mengapa perempuan ini tak memberitauku sejak awal bahwa ia memiliki kekasih? Sehingga aku tak perlu repot-repot jatuh hati padanya, pikir Seung Hyun.

 

***GRAVITY OF LOVE***

“Seung Hyun oppa!” teriak Yi Lin dari kejauhan ketika Seung Hyun hendak menaiki bus. Rutinitas baru bagi Yi Lin, berangkat ke kampusnya bersama Seung Hyun. Mereka terlihat lebih akrab. Setelah duduk berdampingan, Yi Lin bercerita sedikit kepada Seung Hyun tentang Mino yang tak kunjung membalas e-mail nya. Yi Lin sangat kesal telah menunggu semalam suntuk untuk balasan dari Mino.

 

Aissh, kau berisik sekali. Ini baru pukul sembilan Yi Lin-ssi,” Seung Hyun bertindak seolah-olah ia tak ingin mendengar ocehan perempuan di sebelahnya. Namun Yi Lin menggodanya. Menggelitik tubuh Seung Hyun, karena ia memang mudah merasa geli. Akhirnya mereka berdua tenggelam dalam tawa.

 

***GRAVITY OF LOVE***

“Mino oppa tak membalas e-mail ku lagi pagi ini, aku sangat merindukannya oppa,” Yi Lin mengambil posisi duduk di hadapan Seung Hyun, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sementara Seung Hyun tetap membaca buku yang ada di hadapannya. Ia tau, Yi Lin gusar – menunggu balasan e-mail Mino yang tak kunjung ada padahal sudah beberapa minggu. Yi Lin meletakkan wajahnya ke meja perpustakaan itu, mengarahkan wajahnya ke arah rak buku. Ia lelah, tatapannya menerawang, ingin kembali saat ia bersama Mino.

 

“Mino oppaa, neomu bogoshippoooo,” Yi Lin tak bisa menghindari rasa rindu yang membuncah di hatinya, perlahan air matanya menetes. Seung Hyun yang mendengar Yi Lin menderita, ingin menghibur Yi Lin, tapi tak tau harus dengan apa.

 

***GRAVITY OF LOVE***

“Yi Lin-aah, maukah menjadi kekasihku?” tanya Seung Hyun. Kata-kata itu bagaikan pisau tajam yang akan menghunus jantung Yi Lin dengan kecepatan sepersekian detik. Seung Hyun menatap wajah Yi Lin, dan perempuan itu terdiam.

 

Kondisi yang benar-benar tidak akan menguntungkan posisi Seung Hyun, karena Yi Lin masih setia menunggu Mino, walaupun Mino tak membalas e-mail yang Yi Lin kirim – setelah lima bulan. Yi Lin sangat setia.

 

Keadaan masih hening. Seung Hyun menyentuh kedua tangan Yi Lin, menggenggam kedua tangan mungil itu. Yi Lin menarik tangannya – kemudian menjawab Seung Hyun. Meminta maaf tak bisa menjadi kekasih Seung Hyun. Seung Hyun menyuruh Yi Lin untuk berpikir, dan tak memaksa untuk menjawab saat itu juga – tapi Yi Lin tetap kukuh, tak ingin menjadi kekasih Seung Hyun.

 

***GRAVITY OF LOVE***

 

Akhirnya, Seung Hyun mengetahui perasaan Yi Lin, ia benar-benar tulus mencintai Mino. Yi Lin merasa sedikit bersalah setelah mengetahui perasaan Seung Hyun sebenarnya, namun Seung Hyun masih saja mau dekat dengannya. “Aku akan selalu berada disisimu, Yi Lin-ssi, sampai saat kau menikah, dan meninggalkanku,” ucapan Seung Hyun yang selalu terngiang oleh Yi Lin. Kata-kata menyeramkan itu, malah membuat Yi Lin merasa sedikit nyaman – namun ada rasa tak ingin menyakiti.

 

Yi Lin dan Seung Hyun menjalani hubungan mereka sebagai teman dekat, dan tak lebih. Yi Lin sudah terlanjur menyayangi Seung Hyun, terlebih Seung Hyun – mencintai Yi Lin – tanpa mengharapkan balasan apapun.

 

***GRAVITY OF LOVE***

 Seung Hyun bersiap-siap akan menjemput Yi Lin malam ini. Mereka di undang ke acara pertunangan salah satu sahabat Seung Hyun. Seung Hyun segera menyalakan mobilnya.

 

Setelah sampai di depan halaman rumah Yi Lin, Seung Hyun keluar, ternyata Yi Lin sudah menunggu Seung Hyun di depan pintu rumahnya. Seung Hyun tertegun, melihat perempuan mungil yang biasanya tak berdandan – menjadi sangat cantik seperti putri mahkota – bukan, bukan putri mahkota, tapi putri salju, pikir Seung Hyun. Yi Lin berjalan anggun di depannya.

 

Neomu yeppo… Yi Lin-aah,” Seung Hyun membuka pintu mobilnya menyuruh Yi Lin duduk. Yi Lin tersipu malu mendengar pujian dari Seung Hyun.

 

Malam itu berjalan dengan baik. Acara pertunangan teman Seung Hyun pun terbilang lancar. Ketika Seung Hyun mengantar Yi Lin kembali ke rumahnya, Seung Hyun mengajak Yi Lin bercanda, ia menawarkan dirinya lagi menjadi pengganti Mino.

 

“Atau, kau bisa menjadikan aku sebagai kekasih gelap-mu,” ucap Seung Hyun dengan nada enteng – menawarkan dirinya menjadi lelaki simpanan. Ia tak memandang Yi Lin yang sedang merasa bersalah. Wajah Yi Lin yang bahagia sedari tadi, berubah menjadi sangan muram. Yi Lin tak tau harus bersikap bagaimana.

 

“Aku tak ingin kehilangan oppa, ataupun Mino oppa. Apa yang harus aku lakukan?” tanya Yi Lin pada Seung Hyun dan dirinya sendiri. Keadaan yang hening, membuat Seung Hyun menarik napas panjang – menghembuskannya seperti sedang memiliki beban yang sangat berat. Kau tak harus menjadi kekasihku Yi Lin-ssi, cukup berada di sisiku…

 

***GRAVITY OF LOVE***

 

Yi Lin sedang mendengarkan alunan musik melalui earphone-nya. Ia bernyanyi di dalam bus, tak menyadari ada sepasang mata memperhatikannya – sejak ia menaiki bus. Tatapan Yi Lin mulai kosong, ia melihat jalanan melalui kaca jendela bus. Air matanya menetes. Oppa, bagaimana keadaanmu hari ini? Sudah beberapa bulan kau tak memberitahuku keadaanmu… aku merindukanmu – sangat… Yi Lin mengusap air matanya yang semakin deras menetes. Ia mengalihkan pandangannya, mencoba melihat sekitar. Tatapannya berhenti ketika melihat seorang lelaki berdiri di dekatnya, tidak duduk padahal masih banyak kursi yang kosong dalam bus. Mata mereka saling bertatapan – Yi Lin tak mampu menahan tangisnya. “Oppa, aku merindukan Mino oppa, aku harus bagaimana? Hatiku sakit sekali,” – Seung Hyun, segera menyeka air mata Yi Lin. Yi Lin merasa ia seperti di campak-kan oleh Mino, tanpa ada kabar sedikitpun. Seung Hyun kemudian duduk di samping Yi Lin, menarik kepala Yi Lin untuk bersandar di bahunya. Bersandarlah padaku… dan berhentilah menangis… Seung Hyun menggenggam tangan Yi Lin.

 

***GRAVITY OF LOVE***

 

Hari ini Seung Hyun mengajak Yi Lin bertamasya. Ia berusaha menghibur Yi Lin – dan berhasil. Yi Lin senang, dan melompat seperti seorang anak kecil yang mendapat cokelat dari ibunya. Mereka menjelajah tempat-tempat indah yang ada di Korea Selatan. Ada beberapa rute. Menyenangkan, itu yang Yi Lin rasakan. Ia melupakan Mino – lagi – namun hanya sejenak.

 

***GRAVITY OF LOVE***

 Yi Lin berjalan dengan riang menuju gerbang kampusnya. Ada Seung Hyun di sampingnya, mereka bercengkrama dan tertawa. Seung Hyun merapikan rambut Yi Lin yang sedikit berantakan, dan Yi Lin menatap Seung Hyun dengan senyum sumringah. Mereka berdua terlihat sangat serasi untuk menjadi sepasang kekasih.

 

Handphone Yi Lin berdering. Panggilan dari nomor baru. Yi Lin tak langsung menjawabnya, namun Seung Hyun menyuruh Yi Lin menjawab panggilan itu.

 

Yoboseyo?”

 

“Chagy… See me, in front of you… I miss you…” seketika Yi Lin terdiam, tercengang –  dengan suara yang baru saja ia dengar. Ia menatap wajah Seung Hyun lekat, jantungnya seketika ingin berhenti berdetak.

 

Waeyo?” tanya Seung Hyun yang sangat penasaran. Kemudian seorang lelaki datang, menarik tangan Yi Lin, dan membenamkan Yi Lin dalam pelukannya. Seung Hyun terperanjat, tak bisa berkata-kata. Hatinya terasa sakit melihat Yi Lin berada dalam pelukan seorang lelaki.

 

Neomu neomu neomu bogoshippo chagy…” lelaki itu adalah Mino – ia mempererat pelukannya. Yi Lin belum membalas pelukan Mino. Ia tak berkutik – ada Seung Hyun di sisi kanannya, melihat kejadian itu. Perasaan aneh apa ini? Aku kan merindukan Mino oppa, mengapa ketika ia datang aku sama sekali tak ingin memeluknya? Perasaan macam apa ini? Seketika pikiran Yi Lin pun menjelajah – tak selaras dengan hatinya.

 

Seung Hyun menatap perih apa yang terjadi di hadapannya. Ia perlahan melangkahkan kaki nya, segera pergi, melarikan diri dari kenyataan yang menyakitinya. Namun Yi Lin memanggil namanya “Seung Hyun oppa…” – dan Seung Hyun menghentikan langkahnya, tanpa menoleh kepada Yi Lin. Yi Lin melepas pelukan Mino – berlari kearah Seung Hyun.

 

Mianhae…” ucap Yi Lin. Seung Hyun tak menjawab – kemudian segera pergi meninggalkan Yi Lin – dengan senyum perihnya. Mino yang melihat kejadian itu merasa sedikit terusik, ia bertanya pada Yi Lin, siapa laki-laki itu. Yi Lin menjawab bahwa Seung Hyun adalah sunbae-nya. Yi Lin meneteskan air mata karna akhirnya ia tau dan mengerti betapa Seung Hyun menyayanginya.

 

“Tidakkah kau merindukanku chagy?” tanya Mino. Yi Lin memeluk Mino – erat sekali. Ia menangis lagi. Mino mencium kening kekasihnya itu.

 

Mianhae… Beberapa bulan ini tak memberimu kabar. Pasti kau sangat kesal padaku? Aku berjuang keras untuk segera menyelesaikan kuliahku. Memang belum selesai tapi aku tak sanggup lagi menahan rinduku… Aku akan kembali ke Inggris lagi, dan akan membawamu,”

 

Mwo? Membawaku?” Yi Lin yang masih tersedu – bertanya tanya tentang perkataan Mino.

 

“Shim Yi Lin, menikahlah dengan ku… Saranghae …” ucap Mino kemudian mengecup kening Yi Lin. Yi Lin terharu – menyadari bahwa lelaki di hadapannya memang pulang ke Korea hanya untuk mengajaknya menikah.

 

***GRAVITY OF LOVE***

 

Selama kedatangan Mino, tak ada sedikitpun kesempatan Yi Lin untuk bertemu Seung Hyun. Ia ingin berbagi cerita dan meminta maaf sebesar-besarnya, telah menyakiti Seung Hyun secara perlahan. Mino meluangkan banyak waktu untuk Yi Lin. Ia juga benar-benar serius ingin menikahi Yi Lin. Mino telah mendapat restu dari kedua orangtua Yi Lin dengan caranya yang gigih. Mino menjelaskan akan menikahi Yi Lin dalam waktu kurang dari dua bulan. Awalnya semua keluarga Mino dan Yi Lin terkejut – menahan mereka untuk memikirkan tentang pernikahan ini dengan matang. Tetapi Mino telah merasa siap untuk hidup bersama Yi Lin. Akhirnya kedua keluarga pun setuju. Seminggu sebelum Mino kembali ke Inggris, ia akan menikah dengan Yi Lin.

 

Yi Lin memerlukan waktu yang cukup lama untuk menerima semua yang terjadi sekarang ini. Menikah? Dengan Mino? Itu adalah impiannya. Tapi, sekarang? Di usianya yang cukup muda? Yi Lin memutar otaknya untuk memikirkan hal itu.

 

Yi Lin melihat segala usaha yang di lakukan Mino untuk meyakinkannya. Sebenarnya – tanpa Mino melakukan apapun – hanya dengan Mino pulang ke Korea Selatan demi Yi Lin, bahkan karna sangat merindukan Yi Lin, itu sudah menjadi bukti yang kuat – bahwa Mino sangat mencintai Yi Lin. Hanya saja, ada sesuatu yang sangat mengganjal di hatinya. Ia ingin menanyakan sesuatu pada Seung Hyun, tapi tidak melalui telpon genggam.

 

Mino tak bertanya tentang Seung Hyun lebih lanjut kepada Yi Lin. Jadi, Yi Lin tak perlu repot menjelaskan hubungannya dengan Seung Hyun. Yi Lin yang sedang bimbang, ingin sekali bertemu dengan Seung Hyun, hanya mengotak-atik handphone nya. Tidak di sangka, beberapa menit kemudian, di layar handphone Yi Lin, tertera “Seung Hyun is calling”.

 

“Yi Lin-ssi, …” terdengar suara lemah Seung Hyun memanggil Yi Lin dari jarak jauh.

 

Ne oppa,…”

 

“Aku di depan rumahmu… Bisakah kita bertemu? Jebal…” ucap Seung Hyun. Dalam sekejap waktu, Yi Lin sudah berada di depan pintu rumahnya. Berlari menuruni tangga – menuju tempat Seung Hyun. Setelah bertemu, mereka saling bertatapan. Seung Hyun mengajak Yi Lin ke taman, Yi Lin mengikutinya. Mereka duduk di sebuah kursi.

 

“Bagaimana keadaanmu?” Seung Hyun memulai pembicaraan. Yi Lin menjawab baik-baik saja – dan bertanya kembali bagaimana keadaan Seung Hyun.

 

Naneun angwenchana… Bogoshippo…”

 

Mianhaeyo oppa… Aku akan segera menikah dengan Mino oppa. Maafkan aku…” mata Yi Lin mulai berkaca-kaca namun tetap mengarah ke depan, tak sedikitpun menoleh untuk melihat Seung Hyun.

 

“Mengapa aku jatuh cinta padamu?” Seung Hyun menatap ke arah langit yang semakin gelap. Tak berapa lama kemudian, Yi Lin menangis, ia menangis kencang – merasa bersalah dan menyesal – serta tak ingin kehilangan kasih sayang Seung Hyun. Seung Hyun tak bersuara, namun air matanya menetes. Titik-titik air jatuh dari langit – namun Seung Hyun dan Yi Lin tak beranjak – tak bersuara. Suara tangisan Yi Lin menyatu dengan suara hujan.

 

***GRAVITY OF LOVE***

Undangan telah di sebarkan. Menjelang hari pernikahan, Mino terlihat sangat bahagia, Yi Lin pun bahagia – namun hanya wajahnya saja – bukan hatinya. Mereka mempersiapkan segalanya dengan cukup baik, di bantu oleh keluarga Mino dan Yi Lin.

 

Hari pernikahan tiba. Yi Lin di dandani dan menggunakan sebuah gaun berwarna putih, ia sudah terlihat seperti seorang putri salju. Yi Lin menyiapkan sebuket bunga mawar merah, yang akan ia lemparkan seusai acara pernikahan nanti. Yi Lin sedang duduk di hadapan sebuah cermin besar. Ia memandang dirinya. Suara pintu terdengar, Yi Lin berbalik arah, Mino menuju ke arahnya. Mino tak berkedip memandangi calon istrinya yang sangat menawan.

 

Suasana hening, lalu Mino mengambil kedua tangan Yi Lin, berlutut di hadapan Yi Lin.

 

“Shim Yi Lin-ssi, aku mengerti apa yang kau rasakan… Kau menyayangi lelaki itu kan? Aku mengenalmu chagy… Kau merasa nyaman saat bersamanya… Aku yakin hal seperti ini akan terjadi, apalagi dengan kesibukanku selama ini chagy… Mianhae… Tapi, aku tak akan pernah melepaskan mu chagy… Lambat laun, seiring waktu berjalan, aku yakin kau akan melupakannya dan kembali padaku… Karna kau adalah milikku chagy…

 

Mianhaeyo oppa… Aku bersalah. Tapi aku tak pernah berkhianat padamu oppa… Mianhae… Aku sempat menyayanginya…” air mata Yi Lin menetes. Hatinya terasa perih. Mino menyeka air mata kekasihnya dan menenangkannya. Mino memanggil kembali petugas rias, untuk merias kembali wajah Yi Lin yang kurang rapi setelah menangis.

 

Oppa, darimanakah oppa tau bahwa Seung Hyun oppa menyayangiku?” tanya Yi Lin.

 

“Seorang pria sejati mengetahui tatapan pria lain kepada wanitanya chagy…  Jelas aku mengetahui pandangan Seung Hyun saat aku memelukmu di hadapannya… “ jelas Mino.

 

***GRAVITY OF LOVE***

 

Tibalah saatnya Mino dan Yi Lin memasuki altar gereja. Alunan denting piano terdengar merdu mengiringi langkah Yi Lin yang didampingi oleh ayahnya. Yi Lin menatap bahagia ke arah Mino yang sudah menunggunya di altar. Para tamu berdiri.

 

Janji pernikahan untuk sehidup semati saat duka maupun suka – telah Mino dan Yi Lin ucapkan. Mereka bahagia. Berjalan keluar gereja – di sisi kanan dan kiri ada para tamu dengan segenap doa mengucapkan selamat bahagia kepada kedua mempelai. Yi Lin masih memegang buket bunga, dan menggandeng Mino di sebelahnya. Berjalan beriringan perlahan.

 

Tanpa sengaja, Yi Lin melihat Seung Hyun yang berdiri di jejeran para tamu. Mereka bertatapan beberapa detik, tanpa sadar Yi Lin menghentikan langkahnya, Mino yang masih menggandengnya pun berhenti. Yi Lin ingin menangis, hatinya teriris. Kemudian Seung Hyun tersenyum perih, mengisyaratkan Yi Lin untuk kembali berjalan. Seung Hyun melempar serpihan bunga-bunga kearah Mino dan Yi Lin – seperti para tamu lain. Mino sedikit menatap Seung Hyun – ia tau posisi Seung Hyun saat ini seperti apa.

 

Yi Lin kembali berjalan, berpura-pura tersenyum bahagia di hadapan semua orang. Ya, aku akan menyimpanmu dalam hati Seung Hyun oppa… mianhae.. mianhae… Aku harus kembali ke tempat dimana hatiku seharusnya berada… Yi Lin mengikuti langkah Mino.

 

***GRAVITY OF LOVE***

END

 

Advertisements

2 thoughts on “TWOSHOTS – PART B /END) GRAVITY OF LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s