[Ficlet] Ekspetasi Daesung

ekspetasi daesung

Ekspetasi Daesung

Acu Present

Cast Kang Daesung of Bigbang – Kim Aerin [Putri’s OC]

Genre Sligh comedy – Romance

Length Ficlet // Teen

Disclaimer I just own the storyline

Summary
Ya, namanya juga ekspetasi, tak ayal kalau indah hanya di angan saja.

Daesung tersenyum lebar di depan kaca, menampilkan gigi-giginya yang putih tak berderet rapi itu. Lalu, ia menyiulkan lagu Born Hater-nya Epikhigh, jemari lincahnya menyisir rambutnya yang cukup lumayan panjang untuk ukuran seorang lelaki. Sambil terus bersiul, jarinya meraup gel di atas meja, menyapu ke rambutnya, dan cling! Rambut trendinya langsung berdiri alias rancung-rancung.

“Kang Daesung, cepat!” tiba-tiba Aerin, sang gadis, sudah berdiri di depan pintu kamarnya sambil cemberut. Ujung sepatunya mengetuk-ngetuk lantai tak sabar.

Semenit kemudian, Daesung keluar dari kamar dengan pakaian formalnya, tak lupa dengan senyum khasnya yang selalu menyeruak. Aerin menatapnya horor sesaat sebelum ia berlalu pergi mendahului sang kekasih. Senyum pemuda itupun memudar.

“Kenapa kalau lelaki yang terlambat, wanita selalu cepat marah? Sedangkan mereka yang terlambat, pria hanya akan diam dan tetap tersenyum? Oh, benar. Wanita tidak pernah salah, huft,” gumamnya pelan. “Tunggu,” Daesung memandang pakaian yang dikenakan Aerin. Ia pun sedikit bingung.

“DAESUNG, AYO CEPAT,” teriak Aerin dari luar.

“IYA,” Daesung pun berlari menyusul sang gadis yang sudah berada di dalam mobil.

.

.

“Kau tidak salah tempat, Rin?” tanya Daesung ketika sang gadis sudah memarkirkan mobilnya di sebuah tempat yang membuat Daesung tercengang tak percaya.

“Tidak,” sahut Aerin sembari melepaskan seatbelt-nya.

“Kau bergurau?”

Aerin menyandarkan kedua tangannya di setir mobil, dan menoleh ke arah Daesung yang duduk di samping kemudi. “Tidak juga,”

“Kim Aerin!” Daesung mengerang kesal.

“Apa?” Aerin mengernyitkan dahi serta hidungnya.

“Kau–” Daesung meremas rambutnya yang sudah mengeras akibat gel. “Astaga, Aerin. Seharusnya kau bilang kalau hanya mengajakku makan malam di kedai pinggir jalan seperti ini.” ia menggeram bagaikan susah buang air besar selama setahun.

“Apa?”

“Apa kau tahu berapa lama aku menghabiskan waktuku hanya untuk menjadi tampan seperti ini?!” lanjutnya yang lebih membabi buta tanpa jeda titik maupun koma. Ia menggerak-gerakkan tubuh layaknya anak kecil yang merengek minta dibelikan permen kapas.

Aerin hanya mengangkat bahunya, dan keluar dari mobil. Ketika ia keluar dari mobil, ia menyeruakkan senyum liciknya. “Jadi, kau mau ikut atau tidak?”

Daesung memberengut sementara ia membuka seatbelt yang melindunginya sedari tadi dan keluar dari mobil.

Aerin menarik lengan Daesung yang antara menerima dan menolak akan ajakan gadis itu.

“Aerin ini tidak lucu,” Daesung menunduk memperhatikan penampilan yang super rapi, yang super jauh dari penampilan biasanya.

“Hahahaha, memangnya traktiran seperti apa yang kau harapkan dari kekasihmu yang kere ini dan berulang tahun ditanggal tua, Kang Daesung?! Restoran mewah? Hotel berbintang lima?” Aerin mengetuk-ngetuk pelipis matanya dengan jari telunjuk.

“Jangan berharap terlalu tinggi. Sudah, ayo cepat, aku sudah lapar.” Aerin semakin menarik lengan Daesung.

Gadis itu pun tak henti membujuk dan merayu Daesung. “Sudah, jangan cemberut begitu. Buktikan kepada orang-orang kalau orang kaya juga suka makan jajanan kedai di pinggir jalan. Kelabui mereka supaya tidak manja dibelikan jajanan di restoran mahal. Aku akui kau tampan malam ini. Aku tidak menyesali penampilanmu, setidaknya sekarang ini, orang-orang melihatku berkencan dengan anak orang kaya, Ya, walaupun,” Aerin melirik ke arah Daesung. “sebenarnya tidak.”

Daesung menghentikan langkahnya. “Kya, aku tidak kere, hanya tidak kaya,”

“Iya, iya, iya, aku tahu, aku percepatkan jalanmu, aku benar-benar sudah lapar. Ini lebih megah dari restoran mahal dan hotel berbintang lima. Lihat, bintangnya ada ribuan,” Aerin mengangkat tangannya ke udara, terutama jari telunjuknya, yang menunjuk ke arah langit yang gelap diindahkan dengan ribuan bintang.

Leluconnya memang terdengar kuno, tetapi setidaknya, ia berhasil membuat Daesung menjungkitkan ujung bibirnya. Meskipun itu hanya seulas senyum kecil bahkan sangat samar-samar, tapi Aerin bisa melihatnya.

Pemuda itu memukul kepala Aerin pelan, sebelum ia melepaskan tangan gadis itu dari lengannya dan berjalan mendahului sang gadis. “Terserah kau saja,”

Ya, namanya juga ekspetasi, tak ayal kalau indah hanya di angan saja.

.

Fin

.

  • Special for Mput, yang lagi ultah.
  • Mwah mwah mwah ❤
Advertisements

9 thoughts on “[Ficlet] Ekspetasi Daesung

    1. GAK ADA YANG KENAL SAMA KAPEL INI KAKAK AST, KAPEL INI KAPEL DARI SPESIES DUNIA LAIN.

      DIJITAKPUN GAK KENA, KARENA MEREKA CUMA BAYANGAN XD XD XD

      BHAY,

      GOMAWO KAKAK AST ❤

      Like

  1. Akang..sini sama Aoko saja.. Aoko traktir akang d tempat yg lebih mahal dikit dari kedai pinggir jalan… gimana kalo d fasfood *FC aja, Kang..
    *masih berupaya menarik perhatian akang Daesung..

    nic fic, Cu.. & wish U all the best, Mput ❤

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s