[Valentine Stage] Regrets

PicsArt_02-11-07.37.23

 

Kau tahu apa arti bunga sweet pea ?

Meskipun namanya indah, sebaliknya artinya sarat akan luka

Selamat tinggal, tapi terima kasih atas waktu yang menyenangkan selama ini.

Karena sweet pea melambangkan sakitnya sebuah perpisahan

Melambangkan kebebasanmu dari rasa bersalah dan dosa

Regrets

A present by SnowRen

Choi Seung Hyun |  Kwon Jiyong

Genres : Angst, Hurt, Brothership | Length : 1896 word | Rating : PG-17

I own the plot, and all cast own by themself

I hope I can close my eyes without regrets

.

Without you, everything is hard.  Without you,  this dark night, this cold world. It’s too hard for me without you, I’m still left alone here. I’m waiting for you

.

.

Kau tak bergeming dari tempatmu berdiri, masih setia menatap kelap-kelip lampu malam kota Seoul dalam kebisuan. Ditemani oleh suara detik jam dinding di sudut ruangan dan suara kayu yang berderak-derak terbakar di perapian. Angin berhembus pelan, menggelitik lembut wajahmu dengan dinginnya udara pertengahan februari. Seolah mengingatkanmu, jika waktu terus bergerak merangkak meninggalkanmu yang masih terlena dalam keheningan ruang tidurmu. Manik matamu menerawang jauh, menembus cahaya bulan yang terlihat meredup, seolah mengerti kegelisahan yang menyelimuti hatimu selama sepekan.

Kau mencengkram erat kayu ek yang membingkai jendela ruang kamar tidurmu, ruangan yang menjadi tempatmu bersembunyi dari kecaman dunia luar ketika sosoknya kembali terlintas dalam benakmu. Kau menghembuskan nafas berkali-kali, menenangkan hatimu yang kembali terkoyak oleh pedihnya luka lama. Sungguh, kau tak memiliki keberanian untuk melewati hari esok. Hari yang penuh dengan kebahagiaan dan senyuman, mengejekmu yang masih terkurung dalam lembah kesedihan.

Kau menyeret kakimu menjauhi jendela, lelah menatap setiap sudut kota yang memasang lampu bewarna merah muda dan lambang hati dimana-mana. Sejak Satu tahun yang lalu, kau membenci akan datangnya tanggal 14, murka akan kebahagiaan yang tergambarkan dalam perayaan valentine di wajah orang-orang. Kau cemburu, kau marah, saat orang lain dapat merasakan kehangatan valentine dengan orang-orang yang mereka kasihi sedangkan kau tidak.

Damn!” Umpatmu pelan saat melihat sekeliling kamarmu telah dipenuhi oleh hadiah dan cokelat pemberian fansmu.  Rasa sesak kembali memenuhi relung hatimu, matamu terasa memanas, ketika tertampar oleh kenyataan pahit jika sosoknya tak ada lagi disampingmu. Kau tergugu, menangis, tak lagi kuat menahan rasa rindu.

“Argh!” erangmu kuat sambil memukul dinding dingin ruang tidurmu berkali-kali, “Kumohon, kembalilah. Jangan pergi.”

Kau meremas surai hitammu dengan kesal, lalu memukul keras cermin yang memantulkan sosokmu yang terlihat menyedihkan.

Prang!

Cermin itu hancur, berserakan, menimbulkan suara nyaring yang menyapa pendengaranmu. Seolah menyadarkanmu jika waktumu telah habis. Jika Kau telah kalah  melawan takdir yang tuhan gariskan.

Bagimu semuanya sudah selesai, hidupmu telah berakhir satu tahun yang lalu saat kejadian itu. Ketika  dia memutuskan untuk meninggalkanmu. Saat Kau mengais sisa-sisa harapan untuk hidup, percaya jika nantinya dia akan kembali mengisi harimu. Tapi kini, harapan itu telah berlalu, tertiup angin musim gugur, membeku tertimbun salju musim dingin, tanpa pernah kembali tumbuh meskipun telah tertimpa cahaya hangat musim semi.

Lalu untuk apa lagi kau hidup jika alasan untukmu bertahan selama ini tak ada lagi ?

Dengan senyum miris, kau mengambil kepingan cermin yang tercecer dibawah kakimu. Perlahan kau iris pergelangan tangan kirimu,  membuat sayatan dalam yang pedih. Kau terduduk, memandangi darah yang keluar dari lukamu sambil terisak menangisi takdir yang tak memihakmu.

I’m a loser…”

~ooOoo~

 

I remember old times

I remember you

.

.

Kau membuka matamu perlahan saat bias cahaya mengenai manikmu, saat seseorang menguncang-guncangkan tubuhmu.

“Yak! Bangun Seung hyun hyung! ” Pekik sosok itu sambil menepuk pipimu beberapa kali, “Apa kau ingin tidur seharian dan melewatkan hari ini begitu saja ?”

Kau terdiam, tak bergeming sedikit pun.  Masih menatap sosoknya dengan tatapan tak percaya.

Apakah ini mimpi ?

Atau pikiranmu sedang bermain-main dengan  menciptakan sebuah halusinasi ?

“Jiyong ?” Panggilmu pelan, “akhirnya kau kembali!”

Dia terdiam, memandang wajah sendumu membuatnya kehilangan kata-kata. Tapi sedetik kemudian ia tersenyum kecil, memukul lenganmu pelan.

“Bagaimana aku tidak kembali jika kau mencoba mengakhiri hidupmu eoh?” Tanyanya kesal sambil mengusap lembut balutan perban yang telah melilit pergelangan tangan kirimu. Jadi, dia datang untuk menyelamatkanmu? Jadi dia yang  menyeretmu kembali ke dunia dari jurang kematian ?

“Jika kau mati, akan lebih banyak orang yang sedih hyung. Jangan bertindak bodoh, pikirkan peras—”

“Dan bagaimana dengan mu ? pergi meninggalkan kami begitu saja tanpa memikirkan perasaan kami.  Lalu apa bedanya aku denganmu, hm? ” potongmu cepat sebelum dia menyelesaikan ucapannya. “Tak adakah cara lain untuk membuatmu berubah pikiran dan kembali bersama kami ?”

Kau kini tak lagi peduli, jika sosok yang ada di hadapanmu ini hanyalah sebuah halusinasi atau delusi. Tuhan, bahkan jika ini hanya mimpi kau tak ingin cepat-cepat terbangun dan meninggalkannya. Sosoknya terlihat begitu nyata dimatamu,  terlalu nyata untuk kau abaikan. Terlalu nyata untuk kau anggap hanya sebagai sebuah imajinasi belaka.

Dia tertunduk, menghindari tatapanmu. “Tidak ada. Aku tak bisa kembali lagi bersama kalian. Big Bang tetap akan berkarya dengan ada atau tidaknya aku, hyung.”

Kau mengubah posisimu menjadi duduk, tanganmu terulur menyentuh wajahnya. Memaksanya untuk menatapmu kali ini. “Tak tahu kah kau, diluar sana fans kita selalu menangis saat tak melihatmu bernyanyi diantara kami. Seungri selalu menyebut namamu sebelum terti—”

“Tapi hanya kau, yang masih tak bisa menerima kepergianku, hyung. Hanya Kau yang masih menyiksa dirimu sendiri!”

Kau menatapnya nanar, buliran air mata telah menggenang dipelupuk matamu. Tak tahukah dia,  jika kau mencemaskannya selama ini ?

“Lalu menurutmu aku harus bagaimana?  Melupakan semuanya begitu saja?” Ujarmu marah, nafasmu memburu saat paru-parumu kekurangan pasokan udara. “aku yang ada disana bersamamu saat kejadian itu!  Aku yang membuatmu meninggalkan kami hari itu!  Aku yang—”

Kau terisak, tak lagi mampu meneruskan perkataanmu. Terlalu menyakitkan. Nafasmu tercekat-cekat saat jemari-jemarinya menggengam jemarimu, menuntun jarimu untuk menyentuh wajah pucatnya yang kini tak lagi tampan.

Kau tergugu, saat kembali terpukul oleh kenyataan jika kau yang membuat wajahnya rusak terbakar. Kau yang membuatnya tak lagi dapat…

“Percuma saja hyung, tak ada yang berubah meskipun kau menyiksa dirimu seperti ini. Aku tetap tak bisa kembali dan menjadi bagian dari kalian lagi.” Ujarnya lirih, air matanya mulai menetes satu-satu mengenai jarimu yang bergetar.

“K-kita l-lakukan operasi plastik, jiyong! Dan kau bisa kemba—”

Plak!

Ucapanmu terhenti, saat sensasi panas menjalar di pipi kirimu.

Apa yang terjadi ?

Apa jiyong telah menamparmu tadi ?

Kau menatap tak percaya ke arahnya sambil memegangi pipimu yang terasa nyeri. Apa yang bocah ini lakukan terhadapmu ?

“Berhentilah hyung!  Aku muak dengan semua ini. Tak sadarkah kau hyung, tak ada lagi tempat untukku diantara kalian. Kini kita berbeda…” bisiknya lirih, suaranya hampir menghilang diakhir kalimat. wajahnya memerah,  rahangnya mengeras menahan amarah. “Kumohon hyung, jangan persulit hal yang sudah rumit ini.”

Kau terkekeh, bahkan terdengar menyedihkan di telingamu sendiri. Menertawakan takdir yang terlihat mempermainkan kalian. Tapi kenapa hanya kau saja yang marah terhadap kenyataan?  Kenapa jiyong hanya terdiam ? Pasrah terhadap takdir tuhan ?

Damn it! Jiyong” teriakmu marah sambil mendorong tubuhnya kebelakang, “kenapa Kau bersikap seperti ini?  Kenapa kau tidak marah hah? ”

Bugh!

Tanpa kau duga Dia memukul keras wajahmu, membuatmu terhuyung kebelakang membentur tembok. Darah mengalir pelan melalui sudut bibirmu yang sobek.

What ?

“Kau ingin aku marah seperti itu hah? Memukulimu sampai masuk rumah sakit? ” tanyanya dengan nada tinggi. Ia mencengkram kerah bajumu, menatap manik matamu dengan maniknya yang menegas.

Kau terdiam, tak mampu menjawab pertanyaannya. Matanya terlihat marah, mengeras, namun terluka di saat yang bersamaan. Kau tahu dia terluka lebih dalam daripada dirimu, tapi tak ada kah kesempatan untukmu memperbaiki semua ini?  Setidaknya mengobati lukanya dan menggembalikan kariernya yang gemilang ?

Haruskah semua berakhir seperti ini ?

Dengan kau sebagai pecundang dan dia sebagai korban?

Bugh!

Kau meringis kesakitan sekali lagi saat ia kembali memukul tubuhmu dengan kasar.

“Jawab aku Choi Seung hyun!  Kenapa Kau malah diam saja sekarang ?” Umpatnya lagi, “apa sekarang otakmu sudah bisa berpikir dengan benar eoh ? Atau kau ingin ku pukul sekali lagi agar mengerti ?”

“Kalau begitu, katakan. Katakan padaku, bagaimana aku bisa hidup dalam belenggu rasa bersalah? ” katamu saat cengkraman tangannya mengendur, membiarkan tubuhmu merosot terduduk. “Aku bahkan tak punya nyali untuk melanjutkan hidup ku, saat terjaga maupun terlelap bayangan kejadian itu terus mengikutiku. Selalu mengingatkanku atas dosa yang kuperbuat padamu ”

Dia mematung, melihatmu yang duduk dengan kaki tertekuk, mata yang sembab dan suara yang serak. Sosokmu saat ini terlihat begitu menyedihkan dihadapannya. Kemana perginya jiwa seorang Top visual Big Bang yang terlihat kuat ?

“Kalau saja fansmu tahu bagaimana penampilanmu saat ini, mereka pasti akan pindah menjadi fans Seungri. Hahaha” ujarnya pelan lalu tertawa memecah keheningan, menyeretmu keluar dari jurang kesedihan.

“M-mwo?”

Apa-apaan sosok dihadapanmu ini?  Bercanda di situasi seperti ini?  “J-jiyong. Aku serius kau malah melucu seperti itu.”

Dia duduk di depanmu sambil terkikik geli, seraya menyodorkan sebuket bunga sweet pea bewarna ungu yang membuat kedua alismu bertaut tanda tak mengerti. Lagi pula dari mana datangnya bunga itu?

Apa sekarang dia telah belajar magic dan trik sulap ?

“Ini hadiah, hyung. Hari ini perayaan valentine, semua orang memberikan hadiah untuk orang yang mereka sayangi.” Ujarnya saat kau tak kunjung menerima bunga darinya.

kau menatapnya tak percaya.

Apa jiyong baik-baik saja ?

Memberikan bunga untuk hadiah ?

Yang benar saja

“Jangan memandangku seperti itu. ” ujarnya saat menyadari arti tatapanmu, “aku memberikan bunga sebagai hadiah ke seluruh anggota keluargaku, Seungri dan yang lain pun mendapatkannya. Kau pun juga. ”

Kau memandangnya lekat-lekat, mencari kebenaran yang tergambar dimatanya. Dengan perlahan kau mengambil buket bunga pemberiannya, tanpa sadar mencium aromanya sebentar. Matanya bersinar, memancarkan ketulusan disana.

“Itu hadiah spesial dariku, bunga itu mewakili perasaanku. Melambangkan kebebasanmu. Berhentilah menyakiti dirimu seperti ini, aku sudah memaafkanmu. Aku sudah melepaskanmu dari belenggu rasa bersalah.”

kau untuk sekian kalinya hanya dapat membisu, pandanganmu memburam terhalang air mata mata yang telah menggenang, bibirmu bergetar menahan isakan. Tak ada lagi yang dapat kau lakukan kecuali menarik tangannya, membawa tubuhnya dalam pelukanmu.

Dia terlihat bagaikan malaikat yang kehilangan sayapnya, tersesat, dan kesepian. Wajahnya yang tertimpa cahaya pagi nampak berkilauan. Rasanya terlalu sulit melepaskannya.

“J-jiyong…” isakmu pelan tak tahu lagi apa yang harus kau ucapkan. Perkataannya tadi seolah menjadi mantra pengobat luka lamamu yang tak kunjung mengering. Jika ini hanya mimpi seperti yang kau kira,  kenapa rasanya sesesak ini saat mendengar ucapannya?

Bolehkah berakhir seperti ini ?

Denganmu yang bahagia dan dia tetap  dalam derita ?

“Hiduplah dengan bahagia, tidur dan makan yang baik, hyung. Kita harus berpisah sekarang, aku telah kehabisan waktu.” Ucapnya sambil menepuk-nepuk bahumu pelan, seolah menenangkanmu.

“Aku sudah bahagia sekarang, hyung. Jadi jangan lagi menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi padaku. Benang merah yang mengikat kita telah terputus, aku tak bisa menemanimu dan yang lainnya lagi. Jaga dirimu dan member lainnya, gantikan diriku sebagai leader. Arraseo? ”

Kau hanya bisa menganggukan kepalamu dalam pelukannya,  tak mampu lagi menemukan suaramu yang hilang tergerus ombak keharuan. Diluar hujan salju turun satu-satu, ikut menangis bersamamu. Ikut menjadi saksi bisu kisah kalian yang dipermainkan oleh takdir tuhan. Ikut Melepas kepergiannya dalam beku udara, melihat kepergiannya dalam kebisuan.

If you  if you. Ajik neomu neutji anhatdamyeon uri dasi doragal suneun eopseulkka…” lihmu berkali-kali setelah sekian lama membisu, menangis tergugu, tanpa menyadari jika sosoknya tak lagi ada. Jika sosoknya telah menghilang, tak lagi mendekap tubuhmu yang masih bergetar.

.

.

On days where thin rain fall like today

I remember your shadow

Our memories that I secretly put in my drawer

I take them out and reminisce again by myself

~ooOoo~

 

[Korean Hot News]—Setelah hampir satu tahun mengalami koma pasca meledaknya Mobil yang ditumpangi, dikabarkan G-dragon meninggal dunia dini hari tadi. Keluarga, kerabat serta rekan kerja Leader Big Bang ini merasa sangat kehilangan sosoknya.  Terlebih Top yang masih merasa bersalah karena mobil yang digunakan G-dragon saat kecelakaan adalah mililnya. Ditambah dengan ia yang melihat secara langsung kejadian tragis itu, membuatnya tak banyak berkomentar karena shock.  Polisi sampai saat ini masih terus menyidiki kasus—

~ooOoo~

Advertisements

One thought on “[Valentine Stage] Regrets

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s