[Oneshot] Twenty Five

092571

TWENTY FIVE

Credit Poster : Showwallpaper

a late Special fanfiction for Lee Seunghoon’s birthday by Ivyjung, Rizuki, Didi92 and Astituidt

Starring : Lee Seunghoon [WINNER] x Jung Chanhee [OC’s], Kang Seungyoon & Song Mino [WINNER]

Genres : Romance, Comedy, Fantasy || General Rating

We just own the plot!

“Total ada 25 bisul di tubuhmu. Jadi selama 25 hari, usahakan kau harus mendapatkan seorang gadis setiap harinya, oke?”

Ada alasan khusus mengapa siang ini Seunghoon masih betah duduk termenung di depan balkon kamarnya. Dengan boxer butut pemberian nenek pada ulang tahunnya yang ke 15, dan kaus putih tanpa lengan yang memperlihatkan bulu-bulu keriting yang menyembul di lipatan ketiaknya, bokongnya seakan tak bisa beranjak dari posisi semula. Kegiatan super magernya kali ini dikarenakan pikirannya sangat terganggu oleh percakapan dengan kedua sahabatnya; Mino dan Seungyoon, tadi malam. Bincang-bincang terekstrim dan super brutal yang baru pertama kali mereka bicarakan selama 10 tahun berteman; tentang perempuan.

Jangan anggap ini masalah sepele bagi para lelaki yang sangat fanatik dan hanya menunjukkan antusiasnya pada girlband di layar kaca tanpa memikirkan dunia nyata. Domino – Sepak bola – SNSD – Sepak bola – Sepak bola, begitulah kiranya sebagian besar isi dari otak mereka. Tidak selayaknya mahasiswa normal lainnya, mereka bertiga hanya tahu nama 9 member SNSD sebagai wanita yang mereka kenal. Oh, mungkin ada satu lagi – entah apa dia layak disebut wanita, Chanhee; peri penjaga yang tak segan mengumpat kasar pada Seunghoon hanya untuk mengingatkan mandi.

” Hoon, kau mau bikin tambang minyak? Mukanya licin banget.”

“Aku galau, Chan.”

“Apa hubungannya galau sama mandi? Mandi sana!” sambil menggigit cuping telinga kiri Seunghoon kuat-kuat, Chanhee langsung terbang ke sisi lainnya untuk aksi berikutnya.

“Ah! Sakit! Stop, stop!”

Sebagaimana lazimnya seorang peri penjaga, Chanhee memang patut tegas pada Seunghoon. Waktu Seunghoon makan, waktu Seunghoon minum obat, waktu Seunghoon tidur dan bahkan waktu Seunghoon mandi, Chanhee-lah yang bertugas menjadi pengingat.

Terbang cepat mendekati wajah Seunghoon, Chanhee lantas berkacak pinggang. “Galau kenapa?” tanyanya acuh seakan itu adalah cara terakhirnya untuk membujuk Seunghoon untuk pergi mandi.

“Aku pengen punya pacar, Chan.”

Eerrrr….” mata peri kecil itu menggerling malas.

“Kenapa?” Dengan bodohnya Seunghoon bertanya perihal raut tak sedap di depannya.

“Kau mau punya pacar? Siapa yang sudi pacaran dengan laki-laki pemalas sepertimu, huh?”

“Aku tidak pemalas, aku rajin belajar-” Seunghoon menjeda, agaknya mencari alasan yang pas untuk menunjang kalimatnya barusan, “-jika sedang musim ujian.”

Chanhee melesat cepat dan hinggap di hidung seunghoon sebelum menggigitnya kuat-kuat.

“Tidak usah banyak alasan dan cepat mandi!” Peri kecil itu terus saja menghujani wajah seunghoon dengan gigitan-gigitan maut dari geligi kecil-namun tajam-nya.

Yak! Au! Chanhee-ya.”

“Setidaknya kau harus menurut padaku dulu baru bisa punya pacar.”

Dengan bersungut lelaki 23 tahun itu akhirnya melangkah cepat ke kamar mandi. Lebih baik kabur daripada tubuhnya di gigiti peri penjaganya yang super galak.

“Astaga, kenapa ibu harus memberiku penjaga seperti itu, sih?”

“Aku mendengarmu, Hoon-ah!” Chanhee Si Peri Kecil yang masih melayang di depan pintu kamar mandi kembali berteriak, membuat Seunghoon bungkam.

‘Aku lupa kalau dia peri dan bisa mendengar dari luar tembok,’ batinnya.

“Sekalian pangkas rambut-rambut di ketiakmu! Itu sungguh tidak enak dipandang!” Teriakan perintah barusan menjadi penutup acara debat pagi Seunghoon dan Chanhee.

.

.

.

Yo man!” Mino si playboy kadal menyapa Seunghoon-yang baru tiba di kampus-dengan gaya ala-ala rapper-gagal-andalannya.

Alih-alih menjawab, lelaki bermarga Lee itu malah duduk lemah di samping Seungyoon yang belum selesai mengamatinya sejak tadi.

“Ada apa, Bro?” Bariton Mino mengudara diikuti adegan saling tatap dengan Seungyoon.

“Aku ingin punya pacar, Guys.”

Mino dan Seungyoon lagi-lagi saling tatap sebelum kemudian tergelak.

“Jadi itu alasannya kau dandan rapih hari ini? Astaga.” Tawa Seungyoon kembali menggema.

“Tenang, Brother. Aku akan membantumu.” Mino berpindah ke samping Seunghoon dan menepuk-nepuk pundak Sang Kawan sok bijak.

“Benarkah?” Oh, lihat binar di mata Seunghoon. Baru kali ini ia merasa Mino berguna sebagai sahabat.

“Memangnya siapa yang akan kau kenalkan padanya?” Seungyoon yang mulai tertarik, terlihat tidak sabar.

Hmmm..aku punya banyak teman perempuan. Ada Naeun, Bomi, Soojung, Jinri, Suzy.”

“Cukup satu saja.” Seungyoon melayangkan protes demi mendengar Mino mulai mengabsen jajaran mahasiswi cantik di fakultas mereka.

“Baiklah, nanti setelah mata kuliah Jung ssaem akan kukenalkan dengan Naeun.”

“Terima kasih Mino-ya.” Sumringah Seunghoon merangkul Mino menuju kelas mereka.

“Kalian meninggalkanku?! Ck, benar-benar.”

.

.

.

Seperti yang sudah di janjikan, Seunghoon dan Naeun bertemu di taman depan fakultas dan mulai berkenalan. Entah memang nasib Seunghoon sedang baik atau karena wajahnya-yang lumayan sedap di pandang-membuat Naeun langsung mengiyakan ajakan kencan lelaki itu.

“Jadi kita bolos mata kuliah terakhir dan pergi ke taman bermain, gimana ?”

Dengan imutnya gadis cantik semampai itu membujuk Seunghoon yang notabene sedang bodoh-bodohnya dalam urusan percintaan.

“Oke, Honey.” Telunjuknya nakal menyentuk dagu runcing Sang Gadis, berlagak seperti cassanova kelas atas meskipun sesungguhnya ia belajar dari film-film amerika masa kini.

Sehari berlalu dengan cepat, sudah pukul 8 malam saat Seunghoon mengantarkan Naeun pulang ke rumahnya. Senyum tak henti menghias wajah dungunya, membuat kedua mata kecilnya seperti terlihat selalu tertutup.

“Terima kasih untuk hari ini, Hoon,” ucap Naeun manis saat dirinya sudah berada di ambang pintu.

“Sama-sama, Sayang.” Tangan kanan Seunghoon sudah terangkat ingin membelai wajah rupawan Naeun saat tepisan menyambut aksinya.

“Maaf, Hoon, sepertinya aku tidak bisa pacaran denganmu. Kau bukan tipeku.”

 

JEDEERRRR!!!

 

Bagai tersambar petir di siang hari, gerakan Seunghoon terhenti begitu saja.

“Tap-”

“Ya, hari ini cukup menyenangkan. Kau bisa jadi teman yang baik, terimakasih.”

Dan dalam hitungan detik tubuh itu menghilang di balik pintu yang berdebam halus dan ambruknya tubuh Seunghoon.

Untuk pertama kali, Lee Sunghoon patah hati.

.

.

.

Melangkah pelan memasuki pelataran rumahnya, langkah Seunghoon seketika dikejutkan oleh kehadiran seorang peri yang tiba-tiba hinggap di cuping hidungnya. Berjengit kaget, lelaki tampan itu lantas mengembuskan napas keras-keras. Sang peri terpental cukup jauh lantas terbang cepat menghantam telinga Seunghoon. Sebuah gigitan seketika diberikan si peri mungil bersayap indah itu di atas daun telinga Seunghoon.

Yak! Chanhee, hentikan! Aku sedang tidak mood untuk meladeni gurauan kacangmu,” bentak Seunghoon alih-alih pamerkan senyuman konyolnya seperti biasa. “Jangan mengganggu! Aku ingin tidur cepat malam ini.” Lekas, ia membanting pintu kamarnya kemudian melepas kausnya yang sudah basah pun bau oleh keringat.

ChanheeㅡSi Peri Kecilㅡmengepakkan sayapnya mendekati Seunghoon yang tengah mengacak isi lemarinya demi menjumput sebuah kaus oblong. Kerutan terukir di dahi Chanhee, bahkan peri cantik itu sampai mengabaikan bau tajam keringat Seunghoon demi menemukan jawaban untuk pertanyaan ‘mengapa mood lelaki mesum itu tiba-tiba buruk seperti ini?’.

Ya, Lee Seunghoon! Kenapa kau seperti perawan yang gagal dinikahi begitu, sih? Bibirmu bahkan sudah maju sampai lima meter, kau tahu?” Chanhee menggigit ujung hidung Seunghoon. “Mino mengenalkanmu pada gadis, ‘kan? Kenapa? Kau tak suka? Dia kurang seksi, huh?”

Tsk! Aku bahkan sudah ditolak, Chan.”

Ohih! Lee Seunghoon mulai mengadu kepada Ibu Peri rupanya.

Chanhee tergelak hebat. Tubuh kecilnya yang masih melayang ke sana ke mari terguncang begitu hebat tatkala Seunghoon membuka mulutnya. “Berarti gadis itu masih normal, Lee Seunghoon. Oh, astaga. Mana ada gadis baik-baik yang ingin menjadi kekasih lelaki mesum sepertimu? Yang kerjaannya pergi ke warnet lantas mengoleksi video-video mesum di laptop kemudian berteriak histeris setiap tengah malam. Oh, menjijikkan! Bahkan aku pun nggak sudi menjadi kekasihmu.” Chanhee masih tergelak sembari memegang perutnya.

“Diam kamu, Chan! Siapa juga yang ingin jadi pacarmu? Cih. Peri sok imut yang kerjanya mencuri kesempatan untuk mengintipku tiap kali mandi!”

“Aku tidak mengintipmu, Lee Seunghoon!” pekik Chanhee geram.

Seunghoon terkekeh. “Jika tidak mengintip, lantas bagaimana kau tahu kalau ‘itu’ku sedang memar, huh?” Berikan sebuah seringaian nakal, Seunghoon hampir pasti mendapati kemarahan Chanhee.

Lemparkan segenggam debu tepat di depan mata Sang Pemuda, Chanhee kemudian mengayunkan jemarinya untuk menghukum Seunghoon. Dengan sihirnya, Sang Peri menciptakan beberapa benjolan kecil di sekujur tubuh Seunghoon. Membuat pemuda itu memekik tak siap, lantas mengumpati Chanhee yang tiba-tiba sudah menciptakan bisul di sekujur tubuhnya.

“JANGAN MEMBUATNYA TERDENGAR AMBIGU, HOON! ‘ITU’ APA MAKSUDMU? PUNGGUNGMU MEMANG MEMAR GARA-GARA PERKELAHIAN DENGAN HANBIN, ‘KAN?” Chanhee masih menggigiti beberapa bagian wajah Seunghoon. “Cih. Aku nggak tertarik dengan itu itu-mu, bodoh. Punggung GDragon bahkan jauh lebih seksi dibanding punggung triplek seperti milikmu.”

Yak Chanhee, ini tidak adil. Kau bermain dengan sihirmu. Ya! Kembalikan kulitku, peri sialan!”

Masih dengan tawanya yang belum reda, Chanhee menggeleng. “Setiap bisulmu akan sembuh saat ada seorang gadis yang bersedia menjadi kekasihmu, Lee Seunghoon. Jadi, jika setiap hari kau bisa mendapatkan hati seorang gadis, maka bisulmu juga akan berkurang setiap satu hari. Tidak perlu menghitungnya! Total ada 25 bisul di tubuhmu. Jadi selama 25 hari, usahakan kau harus mendapatkan seorang gadis setiap harinya, oke?”

Seunghoon terkesiap. Mulutnya menganga lebar, hampir meneteskan liurnya kalau Chanhee tidak buru-buru memekik ‘EEWWHAIR LIURMU MAU TUMPAH, HOON!’

Seakan tak mendengar lengkingan Chanhee, Seunghoon tetap tak bergeming.

“Hoon, kubilang air liurmu mau tumpah. Itu…liur, Hoon.”

Manik Seunghoon bergulir menatap makhluk tengil yang terbang blangsakan di depan wajahnya. Ia masih bungkam. Alih-alih menjawab ejekkan yang terlontar dari Si Mungil, air muka Seunghoon malah mengeras. Napasnya memburu, pun deretan giginya yang bergemeletuk rendah.

Seunghoon murka. Satu tampolan tangannya tepat mengenai tubuh Chanhee hingga makhluk bersayap itu tersungkur mencumbu lantai dengan erangan panjang.

“Peri sialan! Berhenti mempermainkanku seperti ini!”

Seunghoon lantas beranjak dari duduknya. Menyambar handuk dan bergegas melangkah ke kamar mandi. Oh, serius! Dia benar-benar muak dengan candaan perinya yang keterlaluan ini. Lagipula, gadis mana yang sudi jatuh cinta dengan makhluk berkutil 25 butir? Ewh—meraba saja Seunghoon geli sendiri.

“Lee Seungho—“

“APA LAGI, HAH? NGGAK USAH PANGGIL-PANGGIL! AKU NGGAK MEMBUTUHKANMU, CHANHEE!!!”

.

.

.

Berapa kali pun Seunghoon menggosok butir-butir kutukan dari Chanhee, bisul itu tak lantas hilang. Jangankan hilang, kempis saja tidak. Haruskah ia meminta rekomendasi dokter kulit pada Mino sekarang? Tapi ini memalukan. Seunghoon mau menangis rasanya.

“Hoon, ayo jalan-jalan. Seungyoon mentraktir kita, kawan. Sepuasnya.”

“Diam kau, Song Mino!” Seunghoon menyambar dari dalam kamar mandi. “Kenapa kau seperti hantu? Baru saja dipikirkan sudah muncul,” gerutunya rendah.

Hah?”

Kepala Seunghoon menyembul dari balik pintu. Hanya kepala. Pasalnya hatinya masih berat memamerkan aib sialan ini, bahkan pada sahabat terdekatnya sekalipun.

“Aku tidak bisa. Pergi sana!”

Mino yang baru saja mendaratkan pantatnya kini memandang Seunghoon heran. Kacamatanya diturunkan sedikit, “kau kenapa?”

“Apa?”

“Mukamu…berjerawat?”

“…..”

“…..”

“JERAWAT KEPALAMU!”

 

-Blamm-

 

Biarkan ia disebut lelaki sentimentil. Biarkan. Toh itu hanya Song Mino. Seunghoon membanting keras pintu kamar mandi lalu merosot ke lantai yang lembab. Dengan cengengnya ia meraung meratapi mahakarya Chanhee yang membuat salah sangka.

“INI BUKAN JERAWAAAAT, SONG MINO!”

.

.

.

Seminggu berlalu, tak ada kemajuan yang signifikan pada diri Seunghoon. Tentang kisah cintanya, tentang duapuluh lima bisulnya. Semua masih utuh seperti saat pertama kali Chanhee menumbuhkannya. Omong-omong tentang Chanhee, peri penjaga itu benar-benar menghilang. Entah kutukan atau penyesalan yang harus Seunghoon ratapi, ia tak peduli. Bahkan menurutnya telinganya berangsur sehat tanpa jerit melengking makhluk bersayap itu.

“Dokter bilang jadwal operasinya pukul tiga, Hoon. Kau masih punya waktu empat jam untuk bersiap. Tidurlah, jangan isi perutmu.”

Mino dan Seungyoon masih setia menemaninya. Terlebih ketika Seunghoon memutuskan operasi kulit sebagai pilihan terbaik untuk membumihanguskan benjolan bernanah miliknya. Ia yang berbaring di ruangan vip mengangguk pelan, lalu terpejam.

.

“Bangun, Hoon. Kau harus berangkat kuliah! Jangan menumpuk kebodohan di otakmu!”

“Lee Sunghoon, kau belum sarapan! Hei…”

“Hoon, Seunghoon, kenapa kau tuli sekali. YAK, LEE SEUNGHOON!”

.

Seunghoon terkesiap. Refleks terduduk ketika dengingan melengking menyambangi telingannya.

“Chanhee?”

Alisnya terangkat sebelah menyadari dirinya berhalusinasi. Tentang Chanhee, peri penjaga super tengil miliknya.

Belum habis ia merenung, gemingnya terpecah oleh pintu ruangan yang terbuka. Oh, ia menegang.

‘Jika dokter bedahnya secantik ini aku rela operasi bisul satu-persatu. Duapuluh lima kali bertemu bukan hal buruk untuk pendekatan. Ihihihi.’

Kikikkan jahanam Seunghoon terdengar rendah. Matanya menubruk manik serius yang kini telah berdiri di dekatnya.

“Temanku bilang empat jam lagi, apa jadwal operasinya dimajukan, Dok?”

PLETAKK!!!

“DIMAJUKAN KEPALAMU! OPERASI APA, HAH? YAK, LEE SUNGHOON, KAU MAU MEMBUATKU KHAWATIR?”

“…..”

“KENAPA DIAM SAJA, HUH?”

“…….Dok?”

“Dok kau bilang? Panggil aku Jung Chanhee, Lee Sunghoon bodoh!”

Kepala Seunghoon mulai berputar, pusing antara pukulan demi pukulan yang membabi buta yang diterimanya dengan pengakuan mengejutkan gadis di hadapannya.

“Chan..Hee?” ucapnya terbata. Masih tak mengerti apakah Chanhee yang dimaksud adalah si peri penjaga yang menghilang berhari-hari lamanya.

“Kau benar-benar bodoh, Lee Sunghoon. Aku bilang cari gadis yang benar-benar mencintaimu. Bukan bermain pisau bedah seperti ini!”

“Tapi tidak ada, Chan!” pangkas Seunghoon kilat. “Dan omong-omong, kenapa kau menjadi manusia secantik ini?”

Chanhee bungkam, hanya melempar tatapan tersengitnya pada Seunghoon.

“Apa karena kau mau jadi pacarku?” ceplosnya asal. “Astaga Jung Chanhee, kaulah yang mencintaiku dengan tulus, bukan?” pekiknya menyadari fakta yang ada.

Hah? Darimana kau tahu, Hoon?”

“Biasanya kisah picisan berakhir seperti itu. Astaga, Chanhee, bukannya kau yang lebih sering membaca novel murahan?”

“Tapi…”

Ah, sudahlah. Chanhee, kau jadi pacarku ya sekarang! Biar bintil-bintil busuk ini tak semakin membangkai di tubuhku!” cerorosnya tanpa henti.

“Kalau ternyata wujud aslimu sesempurna ini, ‘kan, aku nggak perlu jauh-jauh cari pacar. SARANGHAE URI CHANHEE.”

.

.

FIN

 

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] Twenty Five

  1. sujud sungkem minta maaf gegara ane baru muncul di lapak ini.
    Yaoloh, chingu 92-ku bikin malu saja… ini sumpahlah edisi komedi absurd…wkwkwkwk…
    good job karna kalian berhasil menyandingkan fantasi dengan komedi. sedikit review untuk amerika yg lupa di kapital dan “lemparkan” itu maksudnya lemparan y?

    ah sudahlah, review tak mutu-ku tak mengurangi karya para jagon fanfic ini..
    sampai jumpa di kolaborasi lainnya.

    Like

  2. Anjiir,, pengen gue tampol seunghoon di endingnya, pengen gue bedah mulutnya, ku berharap endingnya itu,
    semisal, chani nyium hoon, trus bisul2 nya ilang, lah ini malah adu mulut, pengen gue bedah itu mulut keduanya…

    KYA……………………………. URI SENPAI KOLAB KYA…………………………………..

    /komenan lu gak mutu sumpah, cu/ XD XD

    bhay, ❤ ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s