[The Black Shadow of iKON] Symphony Remorse

SymphonyCredit Poster by astituidt

Symphony Remorse

A Ficlet by IvyJung

[iKON’s] Jung Chanwoo & OC

Slight! Mention iKON’s Goo Junhoe

Genres : AU!, Dark, Psychology, Romance || Rating : PG-17

I just own the plot

.

“Pelukanku hangat ‘kan, Jung Chanwoo?”

.

.

.

“Pelukanku berbeda ya, Chan?”

Kalimat itu tak pelak membuat pemuda tanggung berusia enambelas tahun bergeming dalam ketegangan. Ia membatu, sedikit beringsut kala si empunya suara mengeratkan rengkuhannya.

Panggil saja Jung Chanwoo, begitulah yang tertera pada nametag seragam sekolah Si Pemuda.

Sekelebat memori kembali menyambangi pikiran Chanwoo ketika matanya terpejam erat—mencoba lari dari kenyataan. Dua jam yang lalu, hujan deras menyapa tanah gersang pijakannya. Hujan pertama setelah sekian lama sengatan mentari menggila. Kala itu, Chanwoo yang tengah duduk di bangku kelas mencipta seulas senyum. Ia selalu suka hujan, batinnya sembari mengintip dari kaca jendela.

Hirup, embuskan, hirup lagi, embuskan lagi.

Chanwoo tak peduli ujung sepatunya ternoda tampias air langit. Selepas jam pulang, tungkainya spontan merajut kemari; serambi ruang kelas tiga yang langsung berhadapan dengan pintu gerbang utama. Tak Butuh banyak alasan, hanya saja tempat ini paling strategis untuk menikmati aroma kesukaannya; petrichor.

Hirup, embuskan, hirup lagi, embuskan lagi.

Seribu kali pun ia melakukannya, ia tak akan pernah bosan. Air langit memang ajaib—setidaknya itu gagasan Chanwoo. Bagaimana mungkin benda tak kasat mata semacam uap bisa melayang ke udara membentuk gumpalan mendung? Bagaimana bisa serabut kapas di langit itu menjadi air menyejukkan seperti ini? Chanwoo lupa mata pelajaran sains telah menjelaskan segalanya. Ia hanya sedang terkagum-kagum. Cukup lucu untuk ukuran pemuda yang telah beranjak remaja.

“Chan…”

Ia berjingkat. Segera membuka mata menyudahi kecanduannya akan aroma tanah basah. Di sampingnya, gadis berkucir kuda tengah berdiri memerhatikan.

“Kak Hayoung?”

Senyumnya kembali mengembang kala netra keduanya bersirobok. Ahn Hayoung— gadis pujaannya—selalu bisa menemukannya. Namun tak berlangsung lama, Chanwoo menurunkan kembali sudut bibirnya menyadari air muka kakak kelasnya yang dilanda mendung.

“Kak, ada apa?” tanya Chanwoo khawatir.

Hayoung menggeleng lemah. Berkedip sejenak sebelum membalas keingintahuan Chanwoo.

“Laboratorium kotor sekali. Aku lelah membersihkannya, Chan.”

Sebagai siswi berprestasi, Chanwoo tak heran jika keluhan Hayoung tak pernah jauh dari urusan laboratorium. Gadisnya suka bereksperimen. Beberapa medali emas berhasil dicurinya ketika lomba ilmiah berlangsung.

“Mau kubantu?”

Hayoung menggeleng lagi, “tidak usah, pekerjaan itu melelahkan, omong-omong.”

Mm…jika bersamamu, tak ada hal yang melelahkan, Kak Hayoung,” tukasnya seraya menggenggam jemari Hayoung. Keduanya lantas melangkah kilat ke ruang paling ujung di sekolahnya.

Chanwoo melupakan kesukaannya demi kesayangannya.

.

.

“Apa yang habis kaukerjakan sampai berantakan seperti ini, Kak?”

Pemuda itu mengeryitkan hidungnya. Meyadari beberapa aroma cairan kimia yang menguar begitu kuat. Entah, ia tak begitu pandai pelajaran racik meracik likuid beraneka sifat ini, ia hanya tahu beberapa di antaranya berbahaya bahkan bisa menyebabkan ledakan dahsyat.

“Tidak banyak. Hanya sedikit percobaan untuk karya ilmiah tahunan.” Balas Hayoung sembari mempertemukan telunjuk dengan ibu jarinya. Mengisyaratkan pada Chanwoo seberapa besar ‘sedikit’ yang ia maksudkan.

Gadis itu kemudian asyik membereskan cawan dan botol yang berserakan di atas meja. Sementara Chanwoo beinisiatif menggenggam sapu Hujan semakin deras di luar sana. Bulirnya memercik muka Chanwoo kala pemuda itu membuka jendela ruangan.

“Ck! Masih saja menggilai air hujan.” Hayoung yang sempat melirik lantas berkomentar gemas. Kekehannya tertelan petir yang sesekali menyambar.

Ketika bibir Chanwoo hendak menyahut ledekkan sang gadis, netranya terlebih dahulu menangkap eksistensi lain di ruangan itu. Hampir saja tak diketahui jika matanya tidak jeli.

“Kak, bukankah itu Kak Jinhwan?”

Chanwoo menunjuk seseorang yang tengah duduk menangkup dengan kepala terkulai di atas meja—persis ketika dirinya sedang ketiduran di dalam kelas pada pelajaran bahasa asing.

Ssssttt…Dia sedang pulas, Chan. Jangan diganggu!”

Bibir Chanwoo memang langsung mengatup setelahnya, tetapi hatinya mulai memercikkan bara. Kim Jinhwan tertidur pulas di sini? Jadi sejak awal Ahn Hayoung ditemani Si Berengsek ini?

Jung Chanwoo juga bisa kesal, tolong dicatat.

Cemburu bukan hal klise bagi mereka yang sedang dilanda asmara. Sejujurnya dia ingin mengumpat. Meneriaki Jinhwan yang lagi-lagi lancang mencuri waktu mendekati gadisnya. Memaki di depan mukanya dengan keras, sekeras petir yang menyambar di luar sana. Chanwoo benar-benar marah.

“Kim Jinhwan, buka matamu.” Pemuda itu mendesis rendah setelah mengikis spasi rapat.

“Jangan pura-pura tidur!” Chanwoo mengguncang keras bahunya, dan—

Brraaakk!

Tubuh Jinhwan limbung ke lantai dengan isi perut berceceran.

Petir menyambar dahsyat. Kombinasi yang kompak menyengat jantungnya. Jika saja dia punya riwayat penyakit kronis, Chanwoo yakin tak mungkin lolos dari serangan jantung tiba-tiba ini.

Demi Tuhan.

Chanwoo menganga.

“Sudah kukatakan dia sedang pulas, Jung Chanwoo! Kenapa kaumengusiknya?”

Hentakan keras kaki Hayoung menjadi satu-satunya sumber suara di ruangan ini. Chanwoo masih terpaku. Mendelik menahan pekikan yang melesak tertahan di kerongkongannya. Matanya memerah, panas dan perih menyaksikan pemandangan tak manusiawi yang tersaji di depannya. Terlebih, ketika Hayoung dengan tenang mengembalikan tubuh Jinhwan pada posisi semula—lengkap dengan memasukkan usus-ususnya yang sempat terurai dari perut robeknya.

“Kaubaik-baik saja, Jung Chanwoo?”

Pemuda itu melompat mundur. Refleks siaganya meningkat berjuta kali. Netranya menatap nanar pada gadis gila di hadapannya.

.

.

Ia mengerjap lagi, kali ini lengkap dengan fluida yang lolos dari kelopaknya. Rasa takut membuat Chanwoo ingin menangis sejadi-jadinya. Dua jam yang lalu, jika ia memutuskan pulang ke rumah tanpa menghabiskan waktu di depan gedung kelas tiga, tentulah ia tak akan terjebak keadaan mengerikan seperti ini.

“Kaumenggigil, Chan.”

Lengan ringkih Ahn Hayoung tiba-tiba terasa seperti mata pisau yang siap melukainya kapan saja. Pelukannya berubah seratus persen dari Hayoung yang ia kenal.

“Padahal jika aku sedang menggigil kedinginan, pelukanmu terasa begitu hangat. Namun kenapa sekarang berbeda, Chan? Kenapa pelukanku malah membuatmu menggigil seperti ini?” Hayoung masih sibuk bermonolog sendiri. Kepalanya terkulai pada bahu Chanwoo yang gemetar. Tak peduli jika lawan bicaranya itu hampir mati ketakutan.

“Aku hanya membereskan Si Berengsek musuhmu itu. Jangan khawatir, Jung Chanwoo,” Hayoung mengecup singkat pipi kekasihnya, “sekarang tak ada lagi yang mengusik hubungan kita.” Ia berbisik manja.

“L-lepaskan aku, Kak…t-tolong!”

“Lepas? Maksudmu, organ bagian mana yang ingin kaulepas terlebih dahulu, Chan? Ck! Sampai Jinhwan mati pun kaumasih iri dengannya. Tunggu sebentar. Pisaunya masih aku sterilkan.”

.

.

.

Fin.

Advertisements

2 thoughts on “[The Black Shadow of iKON] Symphony Remorse

  1. JEBALYO CANUNI KENAPA NAKSIR SAMA MANUSIA SAIKO SI DEEEKK ???? MASI BANYAK CEWEK NORMAL LAIN DI LUAR SANAAA… hikseu TT.TT

    Ipyjung senpay matiin mas jinan sekaligus dek canu apa gak takut di santet mbak yang satu lagi ??? Wakakakaka

    #RIPJUNGCHANU #RIPKIMJINAN #KEMUDIANRIPIPYJUNG

    (Lalu ditendang ke bulan)

    Like

  2. ckckckck..udah jelas s Chanu ama Haljung @aiveurislin , dia pake acara ngelirik yg lain sih, kan jadinya begitu…

    @ivyjung…you’re jjang! kamu kece, kujugasukahujansepertiChanunamuntakinginbernasibsamakayakdirinya.. tulisan Ivy mah udah ada di dimensi lain ya.. idenya, diksinya..ckckckck.. mantab!

    🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s