[The Black Shadow of iKON] Psycopath

Untitled

Tittle: [The Black Shadow of iKON] PSYCOPATH.

Author’s name: Nana Kang

Lenght: 2.724W

Genre: Psyco

Rating: PG-17

Cast:

  • Bobby Kim (iKON’s member)
  • Kang Juny (Original Cast)

Disclaimer: Alhamdullilah ini saya tulis dengan tangan dan tentu saja dengan bantuan otak sengklek saya yang udah rada lemot.kkkk~ member iKON dan beberapa original cast itu milik Tuhan YME. Of course. Dan, jalan cerita ini milik saya! So, dont be a plagiator, please^^ … oh iya ini kalimat yang paling aku suka, This story is belong to me. Hahahaa.

Summary: Sikap possesif berlebih membuat Bobby menjadi psikopat dan membuat nyawa Juny dalam bahaya. Bagaimana kisahnya, silahkan tanya pada pihak yang berwajib ._.

 

Check this out!

000

Di dalam ruangan gelap tersebut terdengar suara-suara aneh di dalamnya, entah suara apa itu, namun jika kau mendengarnya maka kau PASTI akan segera menutup telinga dan pergi dengan tergesa-gesa.

.

.

 

“Kenapa dia lama sekali, sih?” gerutu gadis berperawakan pendek dengan rambut terurainya. Kang Juny nama lengkapnya, ia mahasiswi jurusan management di Kyunghee university. Dia murid tahun kedua.

Setelah lama menunggu, akhirnya, pria itu datang juga. Membuat senyuman manis terpatri indah di wajah manis Juny, ia berlari ke arah pria itu dan dengan mudahnya ia melupakan kekesalannya pada pria tersebut setelah beberapa saat yang lalu ia mengutuk lelaki itu dengan beberapa umpatan-umpatan kecil karena keterlambatannya.

“Menunggu lama?” tanya pria semapai tersebut dengan lembut membalas pelukan kekasih manisnya. Gadis tersebut mengangguk dengan memajukan beberapa senti bibir tipisnya hingga nampak seperti bebek, hanya saja bebek yang satu ini terlampau manis dan manja dari bebek-bebek yang lain, dan pria semapai tersebut sangat menyukainya, ahh tidak, maksudku ia kecanduan dengan gadis ini.

Bobby ;pria semapai tadi; mengeratkan pelukan mereka, menghirup betapa harumnya tubuh gadis ini, menikmati angin yang berhembus sore itu dan dihiasi langit senja yang mulai menguning.

“Bob, kau tak apa?” bingung Juny, walaupun ia tahu setiap mereka bertemu pasti Bobby akan memeluknya lama, tapi ini tidak seperti biasanya, Bobby hari ini terlalu posessif.

“Ya,” ujarnya singkat, membuat gadis yang tengah ia peluk dengan erat tersebut menyerngitkan dahinya, heran.

“Apa ada masalah dengan Hanbin?” gumam Juny yang masih di peluk oleh Bobby, pria itu mendelik kesal mendengar gadisnya menggumankan nama pria lain, ia tak suka, ia sangat membenci itu.

Dengan cepat ia mengganti perubahan ekspresinya,

“Tidak ada masalah apa pun sayang, jangan khawatir dan lagi jangan pernah sebut nama pria lain dengan bibir tipismu itu. aku tidak suka.” Ujarnya dengan tersenyum ramah dan mencubit pipi Juny gemas, membuat gadis itu ber-aduh ria lalu menggosok pipi chubby-nya yang telah menjadi ‘korban’ kekejaman jari kekasihnya.

“Oppa!” rengeknya,

“Kkkk~ maaf, tadi itu tak di sengaja. Lagian, siapa suruh kau mempunyai pipi tapi sudah menyerupai bakpao, aku tak tahan untuk tidak mencubitnya!” sementara Bobby tertawa oleh gurauannya sendiri, Juny merengut sebal. Hei, terimalah kenyataan bahwa kau agak bantat nona Kang, hahahahahaa..

Mereka sudah tak berpelukan lagi, ini kurang mengenakkan juga bila berpelukan di tempat umum seperti tadi. Benar bukan? Pulang dengan berpegangan tangan itu sudah cukup bagi keduanya.

Ooo

Sekelebat ingatan itu teringat lagi olehnya, ia mengerang bak orang gila. Menangis tersedu-sedu, lalu mulai tertawa seperti orang kesetanan, dan dengan secepat thor di laut, mood-nya berubah lagi. Demi semua kacang di hutan, ia sangat aneh,

“Juny-ku sayang, kenapa kau pergi?” lirihnya,

Ooo

“Oppa-oppa, lihat boneka babi ini, lucu kan?” gadis itu melompat girang,ia memang sudah berumur 21 tahun tapi lihat, kelakuannya masih seperti bocah berumur 5 tahun ke atas, sangat mengesankan lagi ia memiliki wajah baby face dan kekurangan tinggi badan. Ia biasa mengelak kata ‘pendek’ dengan kalimat ‘tinggi yang tertunda’. Lucu memang, tapi nyatanya ia memang seperti itu.

Bobby tersenyum senang melihat gadisnya sedang kegirangan dengan boneka barunya. Juny memeluk tubuh mungil boneka tersebut, membuat Bobby mendelik kesal. Ia tak suka gadisnya memeluk orang atau barang apa pun kecuali tubuhnya.

“Sayang, sejak kapan kau memiliki boneka babi (sialan) itu?” tanya Bobby dengan nada tenang, Juny tersenyum mendengarnya,

“Baru 1 minggu ini, dan jika aku merindukanmu. Maka boneka manis inilah yang aku peluk setiap malam.” Ujarnya dengan semangat dan memeluk bonekanya bahkan mencium pipi boneka itu gemas. Bobby menggeram, lalu menghela nafasnya dan dalam tersenyum lagi,

“Boleh aku memilikinya, adikku ingin di belikan boneka babi kemarin, tapi aku lupa membelinya karna sibuk dengan pekerjaan kantor pagi tadi,” wajah Bobby terlihat menyesal, Juny yang sejatinya adalah gadis polos pun mendekat ke arah kekasihnya,

“Kalau begitu, ini untuk Yuri saja, oppa. Tapi janji, kau harus menggantinya dengan boneka yang sama, oke?” ujar gadis itu sambil mengacungkan jari kelingkingnya pada pria tersebut dan dengan senang hati pula pria tersebut menyambutnya dengan jari yang sama.

“I promise, honey” ujarnya sambil tersenyum manis,

Gadis itu memberikan bonekanya pada Bobby, pria itu menyambut bonekanya dan dengan segera membawanya pulang, tak lupa berpamitan dengan gadisnya, melayangkan kecupan hangat di kening Juny lama,

“Aku mencintaimu” ujarnya dan di balas senyuman hangat gadis itu dengan wajah semerah tomat.

Ia bergegas pulang, ia sudah tak sabar untuk melakukan sesuatu dengan boneka laknat yang telah berani membuat Juny-nya memeluk tubuh kecil gempalnya setiap malam, boneka itu akan menerima hukumannya.

 

000

“Jadi.. tubuh kecil menjijikanmu ini yang telah berani memeluk kekasihku, iya?!” satu tusukan menancap di tubuh mungil boneka babi tersebut, tak puas dengan satu tusukan, pria itu menusukan besi tajam berkaratnya berkali-kali pada tubuh benda mati tersebut. Tak ada pergerakan, erangan kesakitan atau jeritan seperti biasa yang pria itu dengar bila ia mengerjai adiknya sendiri dengan benda laknat yang sama. Hanya senyuman, boneka itu tersenyum,

“Masih berani tersenyum rupanya?”

Boneka tak bersalah itu tak bergeming, ia masih saja memajang senyumannya pada pria gila di hadapannya.

Entah setan apa yang merasuki, boneka itu mengeluarkan darah dari dada-nya. ini aneh, tapi Bobby tak menyadarinya dan larut dalam pekerjaan ‘keji’nya sambil tertawa-tawa sendiri melihat hasil karyanya yang sangat indah itu.

Darah boneka itu mengotori kaos abu-abu yang ia kenakan, menyadari ada yang salah dengan boneka babi itu, ia pun perlahan mundur, menjauhi benda kecil aneh yang telah terburai hancur berantakan olehnya sendiri.

Tiba-tiba,

“Aaarrghh!!”

“Sial!” umpatnya, tanpa sengaja meninjak benda yang ia letakan di sana beberapa hari yang lalu, benda tajam yang telah ia gunakan untuk menghabisi nyawa temannya sendiri, Hanbin.

Mendengus kesal sambil memungut benda sialan yang telah membuat kakinya mengeluarkan cairan kental berwarna merah pekat dan berbau amis dari telapak kakinya, ia terluka.

Ia melempar pisau kecil yang telah melukainya tadi ke arah mayat adiknya yang hampir membusuk dengan mata melotot di pinggir kamar, lalu berjalan gontai ke arah kamar mandi mencari kotak P3K dan mengobati luka kecilnya.

000

Bau amis dan busuk mendominasi ruangan gelap tersebut, udara yang ada di sana pun sangat tidak bersahabat. Namun, aneh, pria itu dengan nyenyaknya tidur di kamar itu, memeluk gulingnya dengan erat dan menggumamkan kata-kata kotor dalam tidurnya. Ia sedang mengutuk adiknya dalam mimpinya, mengigau kah?

Setelah matahari sudah tinggi di singgahsana-nya, pria itu baru saja bangun dari tidur nyenyaknya,

“Hoaahhmm..” ia menguap, menutup mulut lebarnya dengan telapak tangan.

Ia mendengus sesuatu, ini mulai mengusiknya, bau menyengat itu baru tertangkap indra penciumannya setelah mayat adik dan sahabatnya sendiri itu sudah berumur 6 minggu lamanya. Gila benar ia menyimpannya, tapi itu kenyataannya. Dia suka mengoyaki mayat korbannya berhari-hari hingga ia bosan dan mengabaikannya begitu saja. Asal kau tahu saja, Bobby menguburkan mayat korban-korbannya jika ia ada mood untuk melakukannya. Kejam memang, dan itulah Bobby, melakukan apa yang ia mau dengan caranya sendiri. Ciri khas Bobby Kim.

Ah, ia mengingat sesuatu,

Berlari ke arah meja yang di sana terletak jasad boneka babi milik kekasihnya yang malam tadi berurai darah segar, ia menghentikan mengerjai benda itu karna insiden piasu sialan yang telah membuat kaki mulusnya terluka,

Tersenyum senang,

“Kenapa kau rusak, manis? Mau ku perbaiki? Hihihii” ia mengatakan kalimat yang bertolak belakang dengan apa yang ia lakukan dengan benda mati tersebut, ia mencekiknya, berharap benda tersebut memohon dan menjerit seperti yang ia harapkan. Tidak, boneka itu hanya tersenyum dengan wajah cute-nya, membuat mood Bobby berubah drastis.

“Kenapa kau masih berani tersenyum hah?! Hei, jawab aku, brengsek!” ia membentak dan mencaci maki boneka itu dan seperti yang kalian tahu, boneka itu hanya tersenyum dan tak bergeming sama sekali,

“Bunuh Juny untukku” bisik boneka itu tiba-tiba, membuat Bobby membulatkan matanya,

“Brengsek kau, mati kau, mati!” ia meneriaki boneka itu dengan penuh amarah,

Namun, boneka itu tetap saja membisikkan hal yang sama, “Bunuh Juny untukku..”

.

Satu bulan lebih setelah hilangnya Hanbin, semua kerabat dan keluarga Hanbin mencari keseluruh pelosok bumi, namun nihil, pria tampan itu tak nampak di temukan membuat semua orang khawatir,

“Aku sangat khawatir padanya, Bob. Semoga dia baik-baik saja, Tuhan.” Ujar Juny pada kekasihnya yang tengah menyesap kopi hitamnya dengan nikmat. Ia terlihat sangat santai hari ini, seperti orang yang tak mempunyai beban hidup sama sekali. Begitulah Bobby kita, sangat easy going dengan segala masalahnya.

“Hiks, aku merindukkannya..” ujarnya lagi dan nampak akan menangis,ia sedih sahabat baiknya menghilang dan tak nampak sama sekali setelahterakhir kali mereka menonton bersama beberapa minggu yang lalu,

Bobby melirik tajam gadisnya, menghempaskan cangkir kopinya ke lantai dengan keras. Cangkir itu pecah menjadi partikel-partikel kecil di lantai, semua orang yang berada di caffe tersebut menengok ke arah mereka, Juny sendiri pun terkejut dengan mata bulat sempurna.

“A-ada apa, Bob?” desisnya sambil menatap kekasihnya dengan wajah cemas,

Diam sejenak, ia mengatur mimik wajahnya,

“Tak apa, aku tak sengaja menjatuhkannya.” Pria itu tersenyum kecut lalu pamit untuk pergi ke toilet,

Membasuh wajahnya yang nampak pucat, memandang ke arah pantulan dirinya di kaca wastafel. Tiba-tiba boneka babi itu muncul sambil merangkak di belakangnya, Bobby memperhatikan boneka tersebut,

“Bunuh Juny untukku, Bob.. bunuh dia!” bisiknya lagi, Bobby nampak memikirkan sesuatu.

Dan tanpa lelah boneka itu terus saja membisikan kaliamt yang sama “Bunuh dia, bunuh Juny, bunuh!”

“Arrghh!” pria itu mengerang keras, hingga seorang cleaning service masuk dan menanyakan apakah dia baik-baik saja, dan pria gila itu menjawab,

“Aku tak apa, tadi hanya hampir terpeleset saja, kok. Maaf menganggu” ujarnya sopan, cleaning service itu meninggalkan Bobby di toilet dengan wajah kebingungan.

.

“Menunggu lama?” tanyanya pada Juny, gadis itu bercucuran air mata sekarang. Bobby menyerngitkan dahinya, heran,

“Kau kenapa, sayang?” mengelus pipi putih tersebut dengan lembut, gadis itu menggeleng sambil tersenyum dan berkata bahwa ia hanya sedang ingin menangisi sahabatnya yang hilang,

Perlahan Bobby menggerakkan tubuhnya mendekat ke arah Juny, memeluknya dengan hangat,

000

“Bunuh Juny, Bobby! Bunuh dia!” semua benda mati dan telah mati di sana membisikan hal yang sama setiap hari, membuat Bobby pusing sendiri,

“Yuri, berhentilah berbicara. Bodoh!” teriaknya menunjuk-nunjuk wajah pucat berulat adiknya dengan penuh amarah,

“Dan kau juga, bajingan! Berhenti berbicara dan membuatku pusing! Sial!!” habis sudah, ia menusuk-nusuk wajah Hanbin dengan penuh marah, tak ada darah di tubuh pucat itu hanya bau busuk yang mencuat di atmosfer kamarnya dan ia memperparah keadaan dengan membuka daging busuk itu.

 

‘Ting-tong’

Bell rumah Bobby berbunyi. Saat pria semapai itu baru saja membersihkan ‘kotoran’ di kamarnya yang entah sejak kapan sudah mengotori seluruh lantai dan dinding kamarnya.

Bell terus saja berbunyi, nampaknya orang yang memencet tombol bell ini sedang terburu-buru.

“Sial, siapa yang datang di saat sibuk seperti ini?” gerutu Bobby sambil melempar kain pel-nya ke sembarang arah.

“Tunggu sebentar!” dungu, ujar batinnya.

Membuka pintu rumahnya dan mendapati gadis manisnya berdiri dengan wajah menunduk di depan rumah,

“Sayang, kau tak apa?” rasa cemas menggelitik hati pria kejam tersebut, gadis itu memeluk tubuh kekasihnya tiba-tiba.

Basah, ia menangis lagi?

Perlahan Bobby membawa Juny masuk ke dalam rumahnya, mendudukkannya di kursi ruang tengah dan,

“Sebentar aku mau kedapur,” ujarnya pada gadis yang masih menundukkan wajahnya itu.

‘syuut’

Gadis itu menarik ujung kaus yang di kenakan Bobby, membuat pria itu berbalik dan memandang heran gadisnya. Perlahan ia merapatkan tubuhnya di samping gadis itu, mengelus rambut ikal panjang itu lembut, mencium keningnya dan mendekapnya.

“Kau tak apa?” ujarnya lembut, gadis itu mengangguk,

“Bunuh Juny, Bob. Bunuh dia!” cicit sang gadis dalam dekapannya, sontak Bobby melepas pelukannya. Nampak wajah adik ‘tercinta’nya sedang menangis darah sambil tersenyum dan berkata,

“Bunuh dia, oppa, untukku.” Ujarnya lagi, Bobby melotot,

“Ahahahaa” adiknya tertawa kesetanan di hadapannya dengan tubuh dan wajah penuh darah, berulat dan membusuk,

“Bunuh dia, Bobby oppa. Bunuh saja dia! Ahahahaaa.”

.

“Arrghh!” Bobby bangun dari mimpi buruknya, ini sudah sangat mengganggu. Ia harus pergi dari sini besok,

‘Ting-Tong’

Bell rumah Bobby berbunyi, pria itu menyerngitkan dahinya, heran. Siapa yang malam-malam begini berkunjung?

Bell dengan terus menerus berbunyi,

“Tunggu sebentar!” teriak Bobby dari dalam dan dengan tergesa-gesa berlari ke arah pintu rumahnya,

.

.

Juny sedang berjalan-jalan di luar, ia tak bisa tidur. Entah mengapa, tapi ia benar-benar gelisah hingga tak bisa tidur sama seklai sejak tadi. Ia memutuskan untuk mengunjungi kekasih tercintanya dan menjahilinya,

Ia tersenyum sendiri mengingat minggu lalu ia mengerjai kekasihnya dengan mainan kecoa kecil di atas kasurnya,

Tapi… ada sesuatu di rumah Bobby yang sangat pribadi, bahkan ruangannya membutuhkan passwor khusus agar dapat menembus dinding tebalnya, Bobby merahasiakan sesuatu.

Sampai di rumah Bobby, gadis itu mulai memencet bell.

Lama, pria itu sangat lama di dalam sana. Karna tak sabaran, ia memencetnya secara terus-menerus, sambil terkikik geli,

“Tunggu sebentar!” suara berat itu terdengar kesal,

Pintu di buka oleh pria itu, dengan semangat Juny menubruk tubuh kekasihnya. Bobby nampak gemetar, Juny mendongakkan kepalanya,

“Kau kenapa, sayang?” bingung gadis itu pada perubahan sikap pria di hadapannya,

“Kau pasti Yuri kan, iya kan? Berhenti menggangguku gadis sial!” Bobby mengutuk gadis yang ia pikir adalah adiknya,

“Apa? Kenapa Yuri, aku Juny, Bob. Bukan Yuri!” jelas gadis itu dengan nada frustasi, Bobby masuk ke dalam rumahnya diikuti oleh Juny di belakangnya,

“Kau mau kemana?” teriak gadis itu membuntuti kekasihnya,

“Mati kau, Yul. Jangan ganggu hidupku lagi,” melotot tak percaya, Bobby keluar dari kamarnya bersama sebeliah pisau tajam di tangan kanannya.

“Bo-bobby, apa yang kau pegang itu pisau?” terbata gadis itu sambil mengambil langkah mundur, lututnya mulai terasa lemas menatap wajah kekasihnya yang sekarang lebih mirip orang gila dengan sebilah pisau di tangannya.

“Hahhh! Diam kau, jalang! Sekarang berhenti bergerak agar ini cepat selesai!” pria itu maju dengan pasti, membuat wajah Juny semakin pucat dan mulai menangis

Bobby menjambak rambut Juny dengan kasar menyeretnya ke dalam kamarnya,

‘brukk’

Bobby menghempas tubuh Juny dengan keras ke lantai, bau busuk mulai tercium membuat gadis itu nyaris muntah jika saja pria gila tadi tak menjambaknya ,

“Bukankah, ini yang kau inginkan, Yuri? Aku akan membunuh Juny untukmu” Juny merangkak menjauhi Bobby hingga ia memegang sebuah tangan dingin dan berlendir, Juny mengangkat tangan itu ia membelalakan matanya lalu menangis dengan keras. Bagaimana tidak? Tubuh Yuri dan Hanbin di tumpuk di sudut kamar dalam keadaan sangat mengenaskan, ia tak sanggup rasanya seperti mau mati saja.

Satu tusukan benda laknat berkarat itu menembus perutnya. Darah mulai mengalir keluar dari tubuhnya, matanya memanas. Ini.. sakit.

“Ahk! O-oppa, ka-kau kejam padaku?” gadis itu tersungkur ketika Bobby mulai menendang tubuhnya yang memaksakan untuk bediri,

“Dasar jalang! Berhenti merengek, kau sangat berisik, tau!!”

‘plakk’

Satu tamparan mendarat dengan mulus di pipi kanan Juny, pria gila itu makin tak sabar melihat ekspresi terakhir dari orang tercintanya ini saat gadis itu menjerit dengan keras.

“Terus, teruslah menjerit, sayang.. aku suka suara jeritanmu itu. hahahaa.” Gila memang, tanpa belas kasihan ia menghabisi kekasihnya sendiri. Menusuk-nusukan pisau tumpulnya pada tubuh tak bernyawa itu.

‘srakk’

Ia merobek perut mayat gadis itu mengeluarkan ususnya, mencincang ususnya sambil tertawa tak jelas.

Tiba-tiba ia terdiam,

“Apa yang telah ku lakukan?! Oh Tuhan, Juny!!” ia memeluk jasad mengenaskan gadisnya erat, memasukan usus yang sebelumnya terburai keluar kedalam perutnya lagi.

“Sa-sayang, kau tak apa kan?” mencium pipi pucat itu lembut,

“Sayang, kau sangat dingin. Apa kau kedinginan di sini?”

“Biar ku selimuti” ia berlari menuju lemari, mengambil beberapa selimut tebal di sana,

Menyelimuti jasad kekasihnya, memeluknya erat.

“Juny, bangun lah, kenapa kau tidur terus, sayang?” ia berbicara pada mayat itu, berharap ia dapat hidup kembali.

Hening…

Bobby mulai menangis, ia mengguncang tubuh tak bernyawa Juny frustasi,

“Bangun, Jun! Bangun!!” erangnya, ia nampak meremas rambutnya sendiri. Namun, tubuh yang memang sudah tak bernyawa itu tak bergeming sama sekali,

“TIDAAK!!” teriaknya frustasi,

Bobby melirik piasu di sampingnya menggapainya dan bersiap untuk menusukan piasu itu pada dirinya sendiri, ia mencoba untuk bunuh diri.

“Biar ku bantu kau, Tuan Kim.” Ujar seseorang dari belakangnya,

Bobby menengok ke arah suara itu, ia membulatkan matanya, terkejut. Seseorang yang bersuara itu menampakkan smirk-nya.

“Hanbin, ap- ahk!”

Boneka babi kecil yang bersuara seperti Hanbin itu menghabisi nyawa Bobby dengan sekejap mata,

“Ahahahaa”

Ia menertawakan tubuh tak bernyawa Bobby. Ia sangat senang.

“Selamat tinggal, Bobby sayang. Hahaaa”

.

.

.

THE END .-.

Nana’s note: huaaaaaa, malu. Ini jelek tapi masih berani mengirimkan. Huaa, /lari/ .

Advertisements

One thought on “[The Black Shadow of iKON] Psycopath

  1. dan memang profesi lainnya Kim Jiwon adalah seorang psikopat, yg alasan awalnya pembunuhan karena sayangnya dengan pacar malah pacarnya sendiri yg jadi korban. ckckckck…tragis!!

    hellas, salam kenal. Aoko, 92L disini.
    ini bagus kok! Makasih ya telah mengirimkan ceritanya ke blog ini. 🙂
    bahasanya juga enak dibaca kayak kentang goreng yg kucemilin ini.. *eh…

    kutunggu karyamu yg lain ya…
    keep writing!
    🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s