[The Black Shadow of iKON] Fly to The Sky

flytothesky-lite

Fly to The Sky

Author: LITE. || Lenght: Vignette || Genre: Thriller, Psychology || Rating: PG 15 || Cast: iKON’s Kim Jinhwan, Jang Hanna (YG Trainee) ||

Disclaimer: all the casts are belong to God. I only own the storyline.

.

Kekacauan bermula ketika seorang siswi kelas XII.5 menemukan potongan tubuh di kelas. Jeritan pilunya memenuhi koridor-koridor sekolah di pagi yang dingin, menyentak pendengaran yang menangkap gelombang suara itu.

Tidak lama kemudian, ia dibawa ke ruang konseling karena shock. Gadis itu mengaku selalu datang paling awal untuk belajar, namun yang ia temukan justru temannya dari kelas tari; gadis berambut pirang tergeletak tepat di tengah gudang, dingin, penuh darah, pucat, dan tidak bernyawa.

Pagi yang biasanya merangkak lambat mendadak cepat seperti melompat-lompat. Sekolah dijejali polisi dalam waktu sekejap, pun garis-garis pembatas berwarna kuning, dan flash kamera para wartawan.

“Ya Tuhan, itu Hanna!”

Kendati berulang kali dilarang, siswa-siswi sekolah menengah atas itu masih berjubel di depan kelas XII.5, mencari celah pandang di antara tubuh-tubuh kekar polisi yang menutupi ruangan tersebut. Wajah mereka diliputi kengerian serupa.

Soohyun ternganga. Kata-kata keluar dengan sulit dari mulutnya. “T-Tidak mungkin. Siapa yang tega melakukan ini semua?!”Ucapnya sembari mencengkeram lengan teman di sampingnya sekencang mungkin.

“Apa Jinhwan sudah tahu?” tanya Hayi, mencari alasan untuk mengalihkan pandangan dari kelas karena ia nyaris memuntahkan isi lambungnya.

“Maksudmu pacar Hanna itu?”

Hayi menghela napas, memincingkan mata ke arah di mana sepasang kaki tampak menyumbul di bawah selembar plastik besar. Darahnya berdesir lagi.

“Sebaiknya kita pergi dari sini.”

.

.

.

Jang Hanna buru-buru menyelesaikan makan siangnya saat mendapati Jinhwan melintas di depan kantin. Gadis itu mengambil cermin di saku lalu membenarkan tatanan rambut. Ia tidak berpamitan banyak kepada Hayi maupun Soohyun yang masih menikmati makan siang dengannya, hanya kalimat, ‘Aku duluan’ dan sebuah kedipan mata genit, lantas sosok ramping Hanna menghilang dari kantin.

Perhitungan Hanna tepat. Ia bisa mengejar Jinhwan tanpa banyak berlari karena lelaki itu selalu berjalan santai. Tangan Hanna bergelayut manja di lengan Jinhwan, sedikit mengejutkannya, namun Jinhwan segera tersenyum.

“Sudah makan?”

Hanna balas tersenyum di sampingnya. “Sudah.” Ia lalu mengerucutkan bibir, menatap Kim Jinhwan penuh harap. “Tapi aku bosan. Setelah ini ada pelajaran sastra guru Kim. Kau tahu ‘kan, aku bisa mati muda karena orang itu!”

Jinhwan terkekeh, tangannya menepuk punggung tangan Hanna yang mencengkeram lengannya. Langkahnya tiba-tiba berhenti.

“Ada apa?”

“Aku juga bosan sekali di sekolah,” ucap Jinhwan. Bola matanya melirik ke kanan dan kiri sekilas. Ia berkata dengan volume rendah, “Kau mau bolos?”

Mulanya Hanna mengerutkan kening, tetapi sebuah senyum terpancar kembali dari wajahnya. “Aku mau melakukan apapun jika itu bersamamu. Tapi bagaimana dengan tas?”

“Biar Junhoe yang mengurusnya. Aku tunggu di gerbang belakang setelah bel masuk berbunyi, oke? I love you.” Jinhwan mengusap puncak kepala gadisnya, lantas melangkah ke arah yang berlawanan.

.

.

.

Bunyi ‘Aduh’lolos dari bibir gadis itu setelah kakinya mendarat di jalan. Kekehan hangat Jinhwan menyambut dari belakang tubuhnya. Terhitung tujuh kali Hanna bolos sekolah bersama Jinhwan. Kendati begitu, melompat pagar masih hal sulit untuk Hanna.

Matahari bersinar begitu terik di atas kepala mereka. Alih-alih berlari meninggalkan sekolah, Jinhwan justru mengalungkan tangannya ke leher Hanna, berjalan dengan santai menjauhi bangunan besar bercat hijau muda itu.

“Kita mau ke mana hari ini?” tanya Hanna.

Seraya tersenyum, Jinhwan berbisik di dekat kepala gadisnya, “Flying to the sky.”

.

.

.

Mereka tidak benar-benar terbang ke langit, tapi terasa seperti itu.

Let me see. Sepertinya kau gugup sekali sampai pucat begitu,” ujar Jinhwan. Dengan tenang, lelaki itu menggulung lengan seragam Hanna sampai bisepnya terlihat jelas. Sebelah tangan Jinhwan yang lain memegang jarum suntik, siap menancapkannya ke pembuluh darah Jang Hanna.

“Kau tidak perlu takut, Sayang. Tidak ada orang lain di rumah ini. Tidak akan ada yang tahu.” Jinhwan menenangkan.

Sayangnya bukan itu yang membuat gadisnya gugup. Hanna membenarkan posisi duduknya di sofa ruang tamu Jinhwan, menelan ludah lantas menatap lawan bicaranya lekat-lekat.

“Apa aku akan baik-baik saja?”

Guratan senyum terpeta di wajah Jinhwan. “Seingatku aku sudah memberitahumu bahwa kita akan terbang ke langit. Tentu saja, kau akan lebih dari baik-baik saja.”

Tahu-tahu, ujung jarum suntik menembus kulit tangan Hanna. Kim Jinhwan menyuntikkan separuh isi suntik itu lalu menyuntikkan sisanya ke tangannya sendiri. Tidak perlu waktu lama. Narkotika tadi bereaksi cepat dengan tubuh mereka, mengambil alih fungsi sel, saraf, kesadaran, semuanya.

Melayang.

Barangkali kata itu yang tepat untuk mendefinisikan apa yang mereka rasakan.

.

.

.

Ponsel Jinhwan berdering keras dan berisik. Pemiliknya tidak ingat pernah menyetel alarm pukul sepuluh malam. Terlebih lagi alarm dengan nada mengganggu sampai Jinhwan hendak melempar ponselnya sendiri ke luar jendela.

Kepalanya pening luar biasa, tapi ia memaksakan diir bangun dari lantai, mengusap-usap kantung matanya dan baru sadar bahwa seragam sekolah masih menempel di tubuhnya. Jinhwan sedikit terkejut mendapati Jang Hanna tertidur di sofa di ruang tamu. Setidaknya dua menit belum cukup bagi Jinhwan untuk mengingat-ingat bahwa ialah yang menyeret Hanna ke mari. Tapi Jinhwan tidak menyesal. Toh gadis itu tidak menolak.

Otaknya sungguh berjalan lebih lambat. Setelah berpikir tentang Hanna, pikiran lain menghampiri kepalanya dengan cepat, menyentak Jinhwan untuk sepenuhnya sadar.

Meski terasa berat, Jinhwan bangkit dan duduk di kursi dengan benar. Jemarinya bergerak cepat mengetik nama Goo Junhoe di kontak ponsel, lantas meneleponnya.

“Ada apa, Hyung?” Terdengar suara Junhoe dari seberang sambungan dilatarbelakangi musik hiphop kencang.

“Di mana jaket dan tasku? Bukankah aku memintamu membawanya ke rumah?” Jinhwan melirik Hanna yang masih pulas.

“Sejak kapan? Kau tidak mengatakan apapun dan tiba-tiba menghilang dari kelas hari ini. Hyung membolos lagi?”

Jinhwan terdiam sejenak. Tanpa membalas lagi, ia memutus telepon sepihak. Ponsel berwarna putihnya dilempar sembarangan ke sofa. Perasaannya buruk. Ia membangunkan Hanna yang tengah pulas di sofa panjang dengan kasar, tidak peduli akan mulut gadis itu yang meracau berisik.

Tungkainya lalu melangkah cepat ke kamar mandi. Jinhwan tidak membuang banyak waktu. Ia berpikir sambil berjalan, pun sambil membasuh wajahnya dengan air dingin. Begitu kembali ke ruang tamu, ia mendapati Jang Hanna duduk dengan wajah mengantuk. Gadis itu tidak tahu apa-apa, tapi rasanya Jinhwan ingin memuntahkan sumpah serapahnya.

“Cepat bangun. Kita harus kembali ke sekolah sekarang.”

Di sisi lain, Hanna merasakan ngilu di sekujur tubuhnya. Jika saja mulutnya tidak terasa begitu kering, tentu ia sudah memprotes Jinhwan habis-habisan.

Sejurus kemudian, mereka telah duduk di mobil tua Jinhwan. Lelaki itu menyetir seperti orang gila, membelah jalan sempit dengan kecepatan tinggi dan menikung tajam. Hal itu sungguh ampuh mengembalikan kesadaran mereka berdua.

“Hati-hati, Jinhwan! Kau ingin kita berdua mati?”

Gigi Jinhwan bergemeletuk. “Shut up, Bitch. Ini adalah hidup matiku.”

.

.

.

Hanna tidak ingin memperdebatkan tentang perubahan. Karena tentu saja, semua orang, termasuk dirinya, berubah. Ia tidak sepolos dulu, tidak serajin dulu, dan sebagainya. Hanna pun tidak mempermasalahkan perubahan sifat orang-orang di sekitarnya, kecuali Jinhwan.

Gadis itu sedih lantaran lelaki yang siang tadi mengungkapkan rasa sayang padanya dan yang saat ini melontarkan kata-kata kasar, adalah orang yang sama.

Shit. Aku hanya memintamu memanjat pagar ini! Kau bisa melakukannya siang tadi, kenapa sekarang tidak?!” Vokal Jinhwan menampar wajah Hanna, terasa lebih keras dari embusan angin yang menerpa wajah.

Dari tampak belakang, sekolah terlihat menyeramkan sekali. Gedung-gedung tinggi dan besar kosong, pepohonan yang berjarak teratur di sepanjang pagar menampilkan bayangan tinggi dan gelap. Wajar bila Hanna kesulitan menelan ludah.

Meski diliputi rasa takut, Hanna terpaksa mengangkat kaki memanjat pagar. Besi penyusun pagar itu terasa dingin di cengkeramannya. Setelah Hanna berhasil melewati pagar setinggi satu setengah meter tersebut, Jinhwan menyusul dengan mudahnya.

Tangan Jinhwan juga terasa dingin tatkala menggenggam Hanna. Jinhwan tidak berbicara apapun, hanya menuntun Hanna melewati koridor-koridor sekolah yang terang namun sepi. Mereka berjalan terburu-buru hingga hentakan kaki mereka seperti menggema di seluruh penjuru sekolah. Hanna berusaha keras untuk tidak sembarangan menoleh dan hanya menatap lurus ke kepala Jinhwan.

Begitu sampai di kelas XII.5, lelaki itu lekas melepas tangannya dari lengan Hanna, menghambur ke deret bangku paling belakang.

“Sebenarnya apa yang kau cari?” Hanna memberanikan diri bertanya.

“Sialan,” umpat Jinhwan alih-alih menjawab. Ia mengangkat tas ransel besar yang tergeletak di kursi. Wajahnya mendongak menatap Hanna yang berdiri di ambang pintu. “Kau tahu jaket kulitku ‘kan? Seharusnya ada di sini!”

“Memang seberapa berharga jaket itu?”

“Intinya, aku bisa mati jika jaket itu hilang,” balasnya.

Kim Jinhwan menghampiri Hanna, meninggalkan tasnya seakan barang itu hanya sampah. Ia menggenggam tangan Hanna lagi dan meminta gadisnya membantu mencari jaket kulitnya. Tanpa disangka, kali ini Hanna menepis Jinhwan kasar.

Tatapan Jinhwan menembus matanya, membelalak tajam.

“Kau harus berhenti, Jinhwan. Walau kau tidak mau, kau harus.” Hanna balas menatapnya lekat-lekat. “Aku tahu, di dalam jaket itu ada heroin bukan? Kau hendak memakainya dan menjual sisanya. Aku tidak tahu dari mana kau mendapat barang seperti itu, tapi sungguh, kau harus berhenti.”

Sebuah sentakan menghantam dada Jinhwan. Bahkan Junhoe yang dekat dengannya tidak tahu ia mengonsumsi narkoba, tapi Hanna, bagaimana gadis itu bahkan tahu bahwa di jaket kulitnya ada heroin?

Jinhwan mendorong Hanna ke dinding kelas sampai terdengar bunyi hentakan kasar kala punggung gadis pirang itu menghantam tembok. Ia susah payah menahan emosi yang merangkak cepat ke ubun-ubun. Tiba-tiba saja memandang Hanna membuatnya muak.

“Kau tahu sesuatu? Katakan di mana jaketku,” bisiknya. Lirih dan tegas. Wajah mereka hanya terpaut beberapa senti, jadi Jinhwan tahu benar bahwa gadis itu tengah gugup. Detak jantung Hanna bahkan terdengar oleh telinganya.

Oh, jika terus seperti ini, tidak akan selesai dalam semalam.

“Kau tidak mau bicara juga, huh?”

Mendadak Jinhwan menempelkan bibirnya ke bibir Hanna. Tidak. Ia tidak mengecup Hanna seperti yang pernah dilakukannya. Alih-alih mencium mesra, Jinhwan justru menggigit bibir bawah Hanna kencang, sampai ia merasa darah mengalir ke bibirnya.

Hanna mendorong lelaki di depannya. Napasya memburu. “Kau gila, Jinhwan!” pekiknya. “Apa yang kau—“

Bunyi hentakan lagi. Kali ini Jinhwan menampar Hanna sekeras mungkin. Hanna terjerembap, darah mengalir lebih banyak dan jatuh ke lantai putih.

Tidak memberikan kesempatan melawan, Jinhwan pun menarik kerah seragam Hanna untuk memaksa gadis itu berdiri. Ia berteriak tepat di depan wajah Hanna. “Katakan di mana jaketku, Bitch! Kau tidak bisa membayangkan betapa susahnya mendapat barang itu!”

Tamparan bertubi-tubi dilayangkan Jinhwan ke wajah pipi Hanna. Sambil menangis, Hanna pun memekik, “Bakar! Aku sudah membakarnya! Aku menyuruh Hayi dan Soohyun membakarnya. Kau puas?!”

Jang Hanna bersumpah, Jinhwan amat sangat mengerikan saat ini. Kedua bibir mengatup dan sepasang bola mata hitam menatapnya dingin. Terlebih, pikiran Jinhwan itu sulit ditebak.

Benar saja, Jinhwan mendorong Hanna hingga telentang di lantai lalu duduk di atas perutnya. Meski Hanna memberontak, Jinhwan tidak peduli. Lelaki itu menempelkan tangannya di leher Hanna, mencekiknya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Jinhwan tahu Hanna selalu menatapnya penuh kasih. Bahkan ketika wajah Hanna dipenuhi darah dan air mata. Hati kecil Jinhwan memberitahu bahwa maksud Hanna tidak salah. Jika Hanna tidak membakar heroinnya, barangkali Jinhwan tidak akan pernah berhenti.

Sayangnya tubuh Jinhwan berkata lain. Emosinya terlanjur sampai di ubun-ubun, memakan sel-sel dan alam sadarnya sehingga Jinhwan dikuasai amarah. Jinhwan hanya terus mencekik. Ketika ia berkedip selanjutnya, Hanna mengembuskan napas terakhirnya.

.

.

.

Seperti berdiri di rel kereta, jika membiarkan tubuh kita tetap diam, tubuh kita akan ditabrak kereta.

Jinhwan menganalogikan kenyataan seperti kereta itu, dan saat ini kenyataan menghantamnya.

Ia bukan pembunuh, tapi Jang Hanna tergeletak di depannya tanpa nyawa, karena ulahnya. Lalu ia apa jika bukan pembunuh?

Satu pertanyaan itu saja sudah membuat Jinhwan depresi. Ia tidak lagi berpikir jernih. Mana mungkin mengangkat tubuh Hanna melewati pagar? Mana mungkin membopong Hanna ke gerbang utama dan mengaku pada penjaga sekolah bahwa temannya pingsan? Mana mungkin meninggalkan tubuh itu di kelas?

Jinhwan meremas rambutnya depresi. Ia tidak mau dipenjara. Ia masih ingin hidup bebas dan bersenang-senang.

Lagi-lagi Jinhwan terus berpikir. Ia menutup pintu kelasnya rapat-rapat, melangkah menyusuri koridor ke manapun tungkainya membawanya. Ia seperti mendengar jutaan lebah di kepalanya, mengusulkan ide satu persatu akan apa yang harus dilakukan.

Akhirnya ia berhenti di gudang. Entah takdir atau apa, hal pertama yang Jinhwan temukan adalah gergaji di dalam ember bersama perkakas perkebunan lainnya. Kali ini Jinhwan tidak banyak berpikir, ia mengambil gergaji dan lekas kembali ke kelas.

Membawa tubuh yang utuh melewati gerbang setinggi satu setengah meter hampir mustahil. Tapi mungkin itu dapat dilakukan jika tubuh Hanna dipotong-potong dan dimasukkan ke kantung plastik besar.

Jinhwan menghentikan kerja logikanya sampai di situ. Ia tidak ingin berpikir lebih keras lagi.

Ketika Jinhwan berjongkok lalu menggergaji tangan kanan Hanna, ia berharap penjaga sekolah sekolah tidak melakukan patroli malam ini. Harapannya masih sama saat lelaki itu mengerahkan tenaganya untuk memotong alat gerak Hanna lainnya.

Kim Jinhwan menyingkirkan kedua tangan dan kaki Hanna dari pandangannya. Ia bergerak ke bagian atas tubuh Hanna, menutup kelopak mata gadis itu lalu mengecup bibirnya penuh kasih. Telapak tangannya lalu bertumpu pada dada Hanna sedangkan tangan kanannya menggergaji leher kekasihnya cepat. Darah memancar deras, mengenai sebagian wajahnya dan seragam sekolah. Darah Hanna pula yang menggenang di lantai. Merah, pekat, dan berbau menusuk.

Jinhwan berharap ini semua hanya mimpi. Ia akan terbangun di atas lantai rumahnya sementara Jang Hanna sedang tidur pulas di atas sofa.

Tapi ia terus menggergaji sampai leher itu putus.

Tangannya yang penuh darah kemudian merogoh saku, mengeluarkan kantung plastik besar yang juga ia ambil dari gudang sekolah. Jinhwan bangkit, buru-buru memasukkan potongan tubuh di hadapannya sambil menahan mual.

Tiba-tiba, terdengar bunyi langkah kaki dari kejauhan. Dua orang pria tengah bercengkerama dan suara sepatu mereka semakin keras.

Jinhwan panik setengah mati. Tidak mungkin membersihkan semua ini dalam hitungan menit. Ia pun mematikan lampu, meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai lalu melompat dari dinding. Meski ia tahu dua penjaga tadi hanya bercengkerama di depan koridor lalu kembali, Jinhwan masih berlari seperti orang gila menjauhi gedung sekolah, mendaratkan tubuhnya ke jok kemudi mobil kemudian menyetir ugal-ugalan.

Kim Jinhwan menangis.

Darah di tangan, seragam, dan wajah. Gergaji dan plastik. Pembunuhan terhadap kekasihnya.

Shit.

Ini semua nyata.

.

.

.

Analogi berdiri di rel kereta ia buang seperti sampah. Menurutnya, itu terkesan pasrah dan tanpa daya. Jadi ketimbang hanya berdiri, Jinhwan memutuskan untuk menyesap heroinnya dan terbang ke langit.

.

.

.

Polisi dibuat sibuk seharian ini.

Kekacauan bermula ketika seorang siswi kelas XII.5 menemukan potongan tubuh di kelas. Jeritan pilunya memenuhi koridor-koridor sekolah di pagi yang dingin, menyentak pendengaran yang menangkap gelombang suara itu.

Setelah melalui berbagai penyelidikan, akhirnya ditetapkan bahwa tersangka pembunuhan keji itu adalah Kim Jinhwan, kekasih korban. Sayangnya Jinhwan ditemukan meninggal di rumahnya karena overdosis obat psikotropika.

Flying too high.

.fin

Advertisements

One thought on “[The Black Shadow of iKON] Fly to The Sky

  1. hellas, salam kenal. Aoko, 92L disini.

    woah! kusuka ide cerita kamu yg fresh, ‘melayang terlalu tinggi karena narkoba’, amanah cerita ini memang ‘say no to drugs’ ya mengingat dampak yg tercipta dari mengosumsinya begitu parah.
    diksi kamu enak, ringan, mengalir dan kubacanya juga nyantai aja tapi semua isi ceritanya cepat terserap di otakku ini.
    Well done!
    kutunggu karyamu yang lain ya..
    keep writing!!
    🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s