[The Black Shadow of iKON] Alter Ego

alterego

­­­ALTER EGO

by triska.

[iKON] Kim Jinhwan & [iKON] Kim Hanbin

Support Cast : [iKON] Jung Chanwoo, mentioned! [iKON] Song Yunhyeong

Friendship, Psychology, Thriller || Vignette || PG-17

I own nothing except poster and storyline.

Alter ego (KBBI) : Lat n Psi 2 orang yang membantu serta menemani sahabat karibnya dalam segala hal dan keadaan.

Selama lebih dari setengah windu, Jinhwan hidup di bawah naungan rumah mewah nan megah namun tak ada seorang pun yang mau bersinggah, kecuali Kim Hanbin─sang pemilik rumah. Adakalanya Jinhwan ingin bebas seperti burung di angkasa, tetapi kondisi yang tidak memungkinkan mengharuskannya terjebak di kandang buaya.

Jika saja ia dilahirkan dari keluarga konglomerat seperti yang Hanbin rasakan, mungkin kini Jinhwan sudah membangun rumah kokoh di ujung jalan. Jinhwan hanya bisa bergantung kepada Kim Hanbin seorang. Tapi dia bukanlah sebuah parasit yang merugikan seseorang yang ditumpanginya, toh keberadaan Jinhwan ada untungnya juga kok; membantu Hanbin mencari mangsa sekaligus menghabiskan harta benda, itu Hanbin sendiri yang berkata.

Kenyataan seringkali tak sejurus dengan apa yang diimpikan. Untuk makan sehari-hari saja ia masih menumpang, apalagi membangun rumah. Ah tidak juga, sesungguhnya hasil kerja paruh waktu di berbagai tempat setiap harinya bisa saja untuk membangun sebuah rumah. Namun, kesulitan Jinhwan untuk beradaptasi terhadap lingkungan baru membuatnya enggan untuk meninggalkan rumah itu. Bukan cuma itu saja sih, kondisi Hanbin saat ini juga tak memungkinkan untuk ditinggalkan.

 

“Bawakan aku seorang lelaki yang berusia sekitar delapan belas tahun.”

 

Jinhwan merutuk kesal lantaran Hanbin tiba-tiba meminta tumbal. Jinhwan tak tahu harus mencari mangsa di mana lagi, atau lebih tepatnya, ia sudah kehabisan akal untuk mengajak bocah delapan belas tahun kali ini bersinggah ke rumahnya barang sejenak.

Kebiasaan seperti ini telah dilakoninya setiap dua bulan sekali semenjak ibunya Hanbin meninggal sekitar enam belas bulan yang lalu─terhitung delapan kali ia melakukan hal serupa seperti saat ini. Hanbin yang tidak menerima dengan jalannya takdir selalu saja meronta-ronta; menginginkan ibunya hadir kembali di dunia.

Dan di sinilah kini Jinhwan berada. Duduk termenung melamunkan nasibnya, di sebuah halte yang tak jauh dari tempat tinggalnya, berteman dengan gemerlap lampu dari segala penjuru kota.

 

“Permisi. Maaf mengganggu waktu Anda. Bisakah saya tahu di mana letak rumah ini?”

 

Seorang pemuda tinggi menjulang membuyarkan lamunannya. Jinhwan menyambutnya dengan penuh suka cita. Pemuda itu lalu memberikan selembar kertas kecil yang bertuliskan sebuah alamat rumah. Jinhwan memicingkan mata saat membaca kertas yang diberikan, ia tahu pasti di mana letak rumah itu berada dan ia juga mengenal cukup dekat sebuah nama yang tercatat di sana.

“Kau bertemu dengan orang yang tepat! Perkenalkan nama saya Kim Jinhwan, usia dua puluh lima tahun, tetangga Song Yunhyeong.”

Pemuda itu hanya bisa meringis. “Nama saya Jung Chanwoo, usia delapan belas tahun.” Jinhwan menjungkitkan salah satu ujung bibirnya sembari mendengus kesal juga tak berniat melepaskan tatapannya dari pemuda yang ada di depannya kini. Sial! Usianya baru delapan belas tahun saja sudah setinggi itu! rutuknya. Ketahuilah, seorang Kim Jinhwan mempunyai tinggi tak sepadan dengan usianya yang mencapai seperempat abad. “Lalu, bisakah Anda menunjukkan di mana rumah itu berada?” lanjut Chanwoo.

Jinhwan tergagap. “Oh, tentu bisa. Ikuti saja aku, rumahnya tak jauh dari sini kok.”

Sepanjang perjalanan, pikiran Jinhwan berkecamuk hebat, akankah dia menyerahkan Chanwoo kepada Hanbin? Oh my God, seorang Jung Chanwoo sangat disayangkan untuk dikuliti ataupun diambil bagian tubuhnya, omong-omong. Lagian, korban-korban sebelumnya mempunyai tampang licik dan memang pantas untuk dimusnahkan di dunia.

“Kalau boleh tahu, apa tujuanmu bertemu dengan Yunhyeong?” Jinhwan mencoba untuk mencairkan suasana yang tegang ditengah sunyi yang mendominasi. Hitung-hitung, sebagai pemanasan untuk Jung Chanwoo juga.

“Saya melanjutkan kuliah di kota ini, dan Yunhyeong hyung menyuruh saya untuk tinggal di rumahnya, sekalian menemaninya.“ Sesungguhnya Chanwoo adalah seorang yang pemalu. Apalagi jika bercakap dengan orang yang baru ia tahu, pipinya akan bersemu dan kepalanya tertunduk lesu.

Jinhwan hanya mengangguk-angguk setelah mendengar jawaban dari Jung Chanwoo. Keduanya lantas kembali berderap ditemani atmosfer senyap. “Sudah sampai.” Baik Chanwoo maupun Jinhwan sama-sama melongokkan kepalanya, mencoba untuk melihat kondisi rumah. Rumah Yunhyeong sangat sepi, lampu-lampu pun juga dimatikan. Mendadak, Jinhwan ingat akan sesuatu. “Apakah kau tidak ada janji untuk bertemu dengan Yunhyeong? Aku baru ingat kalau Yunhyeong sedang pergi ke luar kota.”

“Aku tidak membuat janji karena aku berencana untuk mengejutkannya. Baiklah kalau begitu, terima kasih, Jinhwan-ssi. Saya permisi dulu.” Chanwoo melenggang pergi menyeret barang bawaannya. Chanwoo tak tahu harus kemana ia melangkah lagi, karena yang dia kenal hanyalah Yunhyeong seorang.

“Hei, Pemuda! Menginaplah di tempatku sampai Yunhyeong pulang.” Chanwoo menghentikan pergerakannya lantas berbalik menatap Jinhwan penuh harap.

“Bolehkah?”

“Tentu saja. Hanbin pasti akan menerimamu dengan senang hati.”

◦◦◦◦

“Tumben sekali kau cepat pulang, Kim Jinhwan.” Hanbin berkata ketika rungunya menangkap suara pintu terbuka dan maniknya mendapati seonggok tubuh Jinhwan bersama seorang pemuda tinggi menjulang berada di ruang keluarga.

“Jangan banyak bicara. Dia adalah Jung Chanwoo, saudaranya Yunhyeong, usianya delapan belas tahun.”

Hanbin menjungkitkan salah satu ujung birainya, lantas beringsut mendekati Jinhwan dan Chanwoo sembari membawa nampan yang berisikan teh dan juga beberapa makanan ringan. “Minumlah ini dahulu, Chanwoo-ssi.” Hanbin menaruh teh yang sudah dicampuri obat penenang dengan dosis sedang ke hadapan Chanwoo. Tanpa rasa curiga, Chanwoo meneguk habis teh itu karena tenggorokannya menginginkan cairan untuk menghilangkan rasa dahaga.

“Terima kasih.” Adalah kata terakhir yang diucapkan Chanwoo sebelum dirinya terkulai lemas lalu dibawa oleh Jinhwan dan Hanbin ke ruang eksekusi.

◦◦◦◦

Jinhwan sudah jengah dengan berbagai tingkah busuknya─menjadi pesuruh Hanbin. Dan dia ingin mengungkapkan segala pendapat yang dipendamnya beberapa bulan belakangan. Di sinilah Jinhwan berada, di meja makan berbentuk persegi panjang, ditemani dengan daging segar hasil buruannya dua hari silam dan jus warna merah segar─tenang saja, warna merahnya bukan dari darah kok─hasil olahan Dokter Hanbin.

Jinhwan menaruh pisau daging juga garpu sebelum mengemukakan opininya. Jinhwan sangat tahu kalau perbuatannya ini tidak sopan. Tapi apa boleh buat? “Kim Hanbin. Kumohon berhentilah bertindak bodoh seperti ini. Pergunakanlah ilmu yang kau dapat selama tujuh tahun secara baik-baik. Bantulah orang-orang yang tidak mampu untuk berobat. Abaikan saja ibumu yang sudah meninggal. Toh ibumu juga tidak akan bisa hidup di dunia.”

Hanbin beralih menatap Jinhwan lalu menaruh peralatan makannya. Memokuskan seluruh atensinya guna mendengarkan ucapan sahabat karibnya. “Jika kau tak tahu apa-apa sebaiknya kau diam saja, Kim Jinhwan. Kau tak merasakan bagaimana susahnya hidup tanpa ibu setelah ayah pergi menjauh.” gertaknya dengan nada pelan.

“Aku? Tidak tahu apa-apa? Tidak bisa merasakan?” Jinhwan membuang napas kasar sebelum melanjutkan kalimat yang sempat terhentikan. “Shit! Empat tahun kita hidup seatap dan selama satu tahun lebih kau menyuruhku mencari seseorang untuk membantu ibumu hidup kembali. Dan saat aku ingin pulang ke rumah beberapa bulan yang lalu, kau bahkan tak mengizinkanku!”

Hanbin kesal. Ia membalas ucapan Jinhwan dengan nada pelan, tapi kenapa Jinhwan membalasnya demikian? Ibarat kata, kayu kering di kepala Hanbin telah disulut api hingga membuat cairan di otaknya serasa mendidih.

“Lalu… Kenapa tidak dari dulu kau hentikan perbuatanku ini?! Sekarang aku sudah tergila-gila dengan aroma darah yang menguar dari tubuh mereka dan juga daging mereka sebagai asupan sehari-hari kita!” Jinhwan benci jika harus mendengarkan celotehan Hanbin mengenai makanan sehari-hari. Apakah dirinya dan Hanbin adalah seorang kanibal? Yang dengan nikmatnya melahap habis daging manusia.

Hanbin kini sudah terkulai lemah, seperti kehabisan tenaga. “Selangkah lagi ibuku akan hidup kembali dan tiba-tiba kau melarangku melanjutkan kegiatan ini?! Ayolah, Kim Jinhwan!” Hanbin berusaha untuk menghasut Jinhwan untuk kembali mendukungnya.

“Baiklah, apa yang kurang dari ibumu itu? Dan makhluk usia berapa dengan ciri-ciri seperti apa yang harus kubawakan kepadamu?”

“Jantung.” Hanbin mengembus napas kasar. “Hanya perlu jantung untuk membuatnya hidup kembali. Menurut dosenku, ukuran jantung seseorang seperti kepalan tangan kita.” Hanbin memainkan pisau di daging. “Entah ini takdir atau memang kebetulan semata, kepalan tangan ibuku dengan kepalan tanganmu mempunyai ukuran yang sama.”

…fin…

Advertisements

3 thoughts on “[The Black Shadow of iKON] Alter Ego

  1. omo !! omo !! triskaaaa…

    hanbin jadi dokter gila yang saiko trus bikin jinan jadi mas-mas pencari mangsa… trus jung chanwoo yang unyu2 di potong-potong dan jadi hidangan makan 2 hari ???? dan akhirnya jinan juga harus nyerahin jantungnya ??? jebaaaallll ini sadis syekaleeeee…. 😦

    ditunggu karya lainnya ya triskaaaa ^^

    Like

  2. gak usah lari jinan, udah pasrah aja, mau gimana gimana jugak hanbin nekat
    tapi tapi…. JINAN MALANG SEKALI NASIBMU MAS KENAPA UDAH SUSAH PAYAH NGEBANTU MALAH MAU DIAMBIL JANTUNGNYA AAAAKKKKK
    mana canu kasian bener, pemuda malu malu berakhir di meja makan *lalu suara jam dinding horror
    btw, kak, titip salam buat jinan sebelum jantungnya ilang :”’ hiks!

    Like

  3. selamat tinggal Jinan!! terimakasih telah membantu Hanbin mencarikan mangsa untuk suplai makanannya sehari2.

    wow! Hanbin kanibal!! dokter gila!!
    a good idea!! ku membayangkannya ini seperti Rumah Dara ya…hahahaha..
    bahasa kamu enak aja dibacanya… aku bisa menangkap maksud dari cerita kamu walau twistnya sedikit shock karena Jinan lah yg jadi sasaran selanjutnya…

    kutunggu karyamu yg lain ya..
    keep writing!!
    🙂

    btw. salam kenal. Aoko 92L disini.
    🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s