[The Black Shadow Of iKON] Rope

7. Rope - Chanwoo

[The Black Shadow Of iKON]

Rope

LatifahNL999 (acu2994) || Vignette || Psycho || PG17 || Cast : Jung Chanwoo (iKON) – iKON’s member || Support : Jung Chanhee (OC)

.

.

Cerita murni dari imajinasi saya, jika terdapat cerita yang sama, itu murni tiada kesengajaan

.

.

Tali ini memang tidak menarik. Tapi kalian akan segera mengetahui kegunaannya.

.

.

Sebuah ruangan besar berisi barang tua, sama tuanya dengan bangunan itu. Sebagian dindingnya hanya berupa bata merah. Tempat itu lebih mirip gudang ketimbang sebuah ruangan. Ketika cahaya keemasan meninggalkan tempat itu, ruangan itu gelap dengan cahaya agak kebiruan yang masuk melalui celah atap.

Menelusuri lantai kasar, menerangi masing-masing wajah segerombolan anak-anak remaja yang terikat di sebuah kursi. Tali tambang yang sudah mulai rusak mengikat tubuh mereka dengan erat. Beberapa tali tambang berbentuk lingkaran bergelantungan di atas kepala mereka.

Anak-anak remaja itu sangat berantakan. Pakaian dan denim yang mereka kenakan penuh noda tanah. Sesaat kemudian bangku tua berdenyit pelan dari kursi salah seorang anak remaja, dan mulai meraba penyangga kursi itu. Butuh beberapa detik untuk anak remaja laki-laki itu mengetahui tangannya diikat. Ia mulai menggunakan tenaganya untuk menarik tangannya. Tapi sia-sia, tubuh dan tangannya terikat kuat. Ia mengangkat kepalanya, lalu ia meringis kesakitan menahan nyeri di dahinya. Ia memperhatikan sekitar sejenak. Samar-samar ia mengenali wajah teman-temannya juga dalam keadaan terikat.

“Hanbin-ah, Ireona!” bisik Jinhwan, anak remaja tersebut.

“Jiwon, Donghyuk, Yunhyeong, Junhoe-ah, Ireona!! Ack,” ia meringis pelan. “Hya! Ireona!!” Jinhwan agak menekan suaranya, tapi teman-temannya tetap tidak menjawab.

Tenggorokannya terasa kering, peluh mulai keluar dari permukaan dahinya. Ia diam sejenak, kemudian mengambil ancang-ancang. Ia mendorong lalu menarik kursi yang mengikatnya, hingga kursi itu terangkat dan sedikit bergerak dari posisinya. Lompatan kursinya sepertinya berhasil membangunkan teman-temannya.

Satu-persatu temannya sadar. Hal pertama yang mereka rasakan adalah rasa nyeri di kepala mereka, merasakan apa yang dirasakan Jinhwan dikala saat dia bangun. Mereka semua memberontak berusaha melepaskan diri dari ikatannya. Lalu mereka saling beradu pandang satu sama lain.

“Kenapa kita berada di sini?” tanya Junhoe sembari melihat seisi ruangan yang gelap hanya di terangi cahaya biru dari celah atap.

Yunhyeong menundukan kepalanya, ia tidak tahan dengan rasa pusing di kepalanya. Untuk beberapa saat ia mulai ingat. “Aku ingat,” serunya pelan. “tadi siang ada seseorang yang mengikutiku, ketika sadar aku diikuti, dia langsung memukul kepalaku. Ack” Yunhyeong kembali meringis.

Masing-masing dari mereka juga ingat bagaimana mereka bisa sampai di gedung tua itu. Terdengar suara pintu terbuka dan mengagetkan mereka, seseorang masuk ke dalam mendekati mereka. Sosoknya tidak jelas. Hanya tampak seperti siluet. Seketika sebuah lampu bohlam di tengah ruangan itu menyala, menerangi bagian tengah ruangan itu. Tepat pada saat itu juga…

“Jung Chanwoo?” seru mereka serempak.

Annyeong,” Chanwoo tersenyum lebar sambil menyapa hyung-hyung-nya itu. “Daebak! Kalian masih bisa mengenaliku. Kupikir pukulan ku cukup kuat menghantam kepala kalian,”

“Chanwoo-ah, kau??” ucap Yunhyeong terputus.

“Tepat sekali,” Chanwoo menjetikan jarinya ke arah Yunhyeong sambil mengedipkan matanya.

Junhoe memberontak berusaha membebaskan diri dari ikatannya sambil menatap Chanwoo marah. Tapi itu semua sia-sia, dan ia juga tahu itu tidak akan berhasil.

“Owo,, tenanglah, Junhoe-ah, itu tidak akan membebaskanmu, tapi malah akan menyakitimu.” serunya.

Ia berjalan santai mengelilingi hyung-hyung-nya itu. Pertama-tama ia melintasi Donghyuk, kemudian Junhoe. Junhoe sangat marah ketika Chanwoo berdiri di belakangnya. Tapi Chanwoo sedikitpun tidak terpengaruh. Ia hanya mendengus tertawa. Lalu ia melintasi Hanbin, Jiwon, Jinhwan, dan Yunhyeong.

Ia berlutut di sebelah kursi Yunhyeong dan menatap Yunhyeong dengan tulus, seraya menyesal telah menyeretnya juga. Tapi tidak dengan Yunhyeong, ia sama sekali tidak melirik Chanwoo.

Chanwoo tersenyum, kemudian ia beranjak dan menjauh dari Yunhyeong. Ia kembali berdiri di tengah-tengah diantara mereka. Di sana juga terdapat kursi, kemudian ia duduk dan kembali memperhatikan satu persatu sanderaannya.

“Kenapa kau seperti ini, Jung Chanwoo?” tanya Jiwon dengan kesal yang tertahan.

Chanwoo menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi dan sedetik kemudian, ia menoleh ke arah Jiwon. Tidak hanya kepada Jiwon tapi juga ke semua sanderanya. Terutama ke arah Jinhwan. Ia menggertakkan gerahamnya.

“Dua tahun lalu, apa kalian masih ingat kejadian yang menimpa keluargaku?” tanya Chanwoo sinis.

“Chanwoo-ah, itu bukan salah kami, itu–”

“Apa!? Kalian ingin mengatakan itu adalah kesalahannya sendiri? Apa kalian tidak sadar dengan kesalahan kalian? Kalian adalah orang jahat yang sudah merenggut nyawa Chanhee Noona.”

“Tapi––”

“Sssttt,” Chanwoo meletakan jari telunjuknya ke bibir untuk menyuruh sanderanya itu diam. “Alasan kalian tidak akan membantu dan mengubah pikiranku untuk membebaskan kalian. Tidak akan. Kalian adalah orang yang seharusnya bertanggung jawab atas kematian chanhee Noona.”

Kini tatapannya semakin tajam dan menusuk. Ia beranjak lalu tangannya terangkat ke udara dan menggenggam tali tambang yang bergelantungan di atas kepalanya. Semua mata sanderanya melihat tali yang berada di atas kepala mereka masing-masing.

“Chanwoo-ah, Apa yang akan kau lakukan?” tanya Yunhyeong terbata.

Chanwoo berdiri dan mengulurkan tali tambangnya ke atas, sedangkan tali di atas kepala sanderanya menurun tepat di depan wajah mereka.

“Chanwoo-ah” Hanbin memberontak.

Ia tidak menggubris panggilan Hanbin, ia mendekat ke arah sanderanya dan mengalungkan tali itu ke leher mereka juga melepaskan ikatan tali yang mengikat tubuh mereka di kursi, tapi tidak dengan ikatan di tangan mereka. Setelah selesai ia kembali berdiri di tengah-tengah mereka lagi. Ia tersenyum melihat sanderaannya itu memberontak.

“Hati-hati, hyung. Kau akan tercekik ,” tukas Chanwoo.

“Dasar bajingan kecil,” umpat Jiwon.

“Benar, dan kalian adalah bajingan besar.” ketus Chanwoo.

“Hentikan semua ini, Jung Chanwoo,” pinta Yunhyeong.

Chanwoo tersenyum. “Hentikan? Cih, Tidak akan, Hyung. Aku mengincar kalian sudah dua tahun ini, dan kau ingin aku menghentikan semua ini. Tidak!” Chanwoo menggelengkan kepalanya dengan pelan.

“Apa kalian takut? Kenapa kalian takut, toh kematian juga akan menghampiri kalian. Pepatah mengatakan ‘Fitnah memang lebih kejam daripada pembunuhan’. Karena pepatah itu, aku lebih memilih untuk membunuh kalian. Daripada harus memfitnah kalian yang sudah membunuh Chanhee Noona. Padahal itu adalah kenyataan yang sebenarnya.”

“Baiklah, a..aku minta maaf, anggap saja kami kemarin adalah orang-orang yang bodoh, tapi tolong lepaskan kami,” pinta Jinhwan dengan sangat memohon.

Chanwoo tertawa pahit ketika mendengar ucapan Jinhwan. “Percuma, Chanhee Noona tidak akan kembali lagi. Lagipula, aku belum mengatakan kegunaan tali itu, kenapa kalian sudah menyuruhku untuk menghentikannya?” Chanwoo berdiri di atas kursi dan memegang tali yang sebelumnya berada di atas kepalanya.

“Tali ini memang tidak menarik. Tapi kalian akan segera mengetahui kegunaannya. Jika ku tarik tali ini, maka aku akan melihat kalian bergelantungan sambil meronta-ronta. Wajah kalian memerah, lalu kalian menangis, dan setelah itu kalian berayun-ayun pelan seperti daging sapi yang baru saja disembelih.”

“Ku mohon jangan lakukan itu,” pinta Jinhwan sekali lagi.

Tapi tiba-tiba Chanwoo mengalungkan tali itu ke lehernya juga. Bahkan mengeratkan tali tersebut.

“Chanwoo-ah, Apa yang akan kau lakukan?” tanya Yunhyeong khawatir.

“Aku akan ikut mati bersama kalian.” ucap Chanwoo enteng.

“Jangan lakukan itu,” seru Donghyuk ketakutan.

“Demi dendam kakak ku, akan ku lakukan dengan cara apapun, meskipun itu harus mengorbankan nyawaku juga.” Chanwoo memandangi kakinya yang masih berdiri di atas kursi, dan beberapa meter dari kursinya itu terdapat meja kecil dan di atas meja tersebut terdapat sebuah beban dengan berat 50kg.

“Jika aku menyingkirkan kursi ini, maka beban yang berada di atas meja itu akan terjatuh dan mengantar kita pada kematian.”

“Ku mohon hentikan Jung Chanwoo, jika kau marah kepada kami, kau tidak harus mengorbankan dirimu.” pinta Yunhyeong dengan kasihan kepada Chanwoo.

“Aku sudah memikirkan semua ini, Hyung. Aku hidup pun tidak ada gunanya, karena semenjak kematian Chanhee Noona, Ibu dan ayahku tidak menganggapku ada. Jadi, apa gunanya aku hidup?”

Chanwoo menarik napas dalam dan mengembuskannya secara perlahan. Sementara Jiinhwan dan kawan-kawan terus memohon agar ia tidak melakukan hal gila itu. Chanwoo memejamkan matanya, dan sedetik kemudian ia sudah menjatuhkan kursi tempat ia bertahan. Beban 50kg itu pun ikut terjatuh dan mengangkat mereka bertujuh dengan serentak. Tubuh mereka mengejang, sebagian dari mereka berusaha meronta-ronta untuk menjatuhkan diri. Tapi itu semua mustahil karena tangan mereka masih dalam ikatan. Tali itu semakin mencekik mereka, membuat mereka semakin kesulitan untuk bernapas. Mereka sudah merasakan paru-paru mereka memanas, seperti tenggelam di dalam lautan hitam pekat. Dua menit berlalu, tubuh itu sudah tidak lagi bergerak-gerak, hanya berayun-ayun di udara. Sungguh, tali itu sudah membunuh mereka.

~

Chanhee sedang berjalan menyusuri koridor sekolah sambil membawa beberapa buku ke kelas ketika ia mendengar pembicaraan itu.

“… lalu kenapa kau malah bersama Jung Chanhee?”

Langkah Chanhee terhenti begitu mendengar namanya disebut-sebut. Suara anak laki-laki tidak dikenalnya itu berada di ruangan kosong di sebelah kanannya. Ia menoleh dan melihat pintu ruangan itu tidak tertutup rapat.

“Omong kosong macam apa itu. Aku tidak bersamanya,”

Rasa penasaran Chanhee terbit ketika mendengar suara Kim Jinhwan, anak laki-laki yang notabene juga tetangganya. Chanhee ragu sejenak namun akhirnya kakinya melangkah pelan mendekati pintu. Ia mengintip dari celah pintu dan melihat Jinhwan berdiri bersedekap sementara salah seorang teman duduk merokok di samping jendela yang terbuka sedikit, dan keempat teman lainnya yang lain duduk di hadapan Jinhwan.

“Aku melihatmu, Jinhwan.” Kata Jiwon sambil mematika api pada rokoknya. “Kau terus bersama gadis aneh itu sejak kemarin bahkan mengabaikan Soohyun ketika dia melenggang di depanmu.”

“Aku mencium sesuatu,” senandung dari Junhoe sambil tersenyum. “Kau menyukainya, Hyung?Wow, Kim Jinhwan jatuh cinta?”

“Demi Tuhan, tutup mulutmu,” ketus Jinhwan. “Aku tidak akan tertarik kepadanya,”

Napas Chanhee tercekat dan kakinya otomatis mundur selangkah.

“Kau, benar-benar tidak tertarik dengan gadis itu? Mustahil, kalian bertetangga dari kecil, tidak mungkin kau tidak tertarik! Kau, malu mengakuinya kepada kami. Ck…” seru Donghyuk menggoda Jinhwan.

Micheonya??” Jinhwan mendengus kesal. “Apa kalian tahu kalau dia adalah anak adopsi dan tidak tahu siapa orangtua kandungnya?” Jinhwan memandangi temannya satu persatu. “Gunakan otak kalian dan pikirkan, bagaimana mungkin aku akan tertarik pada seseorang yang entah memiliki masalah kejiwaan dalam keluarganya atau tidak.”

“”Jinjja, dia anak adopsi, lalu Chanwoo?” tanya Hanbin tak percaya.

“Chanwoo memang anak kandung keluarga Jung,” sahut Jinhwan dengan suara yang terdengar berapi-api. “Dia sendiri tidak tahu siapa orangtua kandungnya. Mungkin saja pembunuh, penjahat atau pernah melakukan tindakan kriminal atau sebagainya. Kita tidak tahu bukan. Apa kalian masih berpikir aku akan tertarik?”

Aratseo..aratseo.” kami percaya,” sahut Junhoe dan membuat teman-temannya tertawa.

Yunhyeong melirik jam di tangannya. “Kurasa sebaiknya kita kembali ke kelas masing-masing sebelum ada orang yang mengetahui kita menghilang.”

Chanhee bergerak mundur ketika mendengar langkah kaki menghampiri pintu, ia tahu ia harus segera menyingkir, tetapi kata-kata jinhwan masih terngiang-ngiang di kepalanya, membuatnya tidak bisa bergerak.

Pintu ruangan itu terbuka dengan cepat dan Chanhee bertatapan dengan Jinhwan. Mata Jinhwan melebar, ketika melihat Chanhee membuatnya berhenti di ambang pintu.

“Oh, Sial!” gerutu Jiwon. Ia melangkah melewati Jinhwan dan mengacungkan jari telunjuknya ke arah Chanhee. “Kau tidak melihatku merokok. Aratchi!”

Chanhee menatap keenam anak laki-laki itu bergantian, lalu tanpa berkata apa-apa ia memaksa dirinya berbalik dan kembali berjalan menyusuri koridor.

“Dasar gadis aneh, apa dia bisu? Aish, jinjja,”

Chanhee mendengarnya, tapi ia terus berjalan dengan kepala terangkat tinggi. Ia tidak akan menangis di depan segerombolan anak laki-laki itu. Walaupun begitu setetes airmata sempat jatuh membasahi tangannya.

 

Dan sejak hari itu, gosip tentang dirinya tersebar di sekolah. Sebagian orang yang dulunya mengaku teman-temannya mulai menghindarinya. Orang-orang mulai menatapnya dengan tatapan aneh, sindiran sinis, hingga menjadi gangguan fisik. Bahkan kakinya pernah dijegal seseorang ketika ia sedang berjalan sambil membawa setumpuk buku untuk dikembalikan ke perpustakaan. Ia jatuh dan buku-buku itu berserakan di lantai. Semua orang tertawa. Tidak ada yang membantunya, bahkan Jinhwan dan teman-temannya pun ikut tertawa.

Hari-harinya di sekolah berubah menjadi mimpi buruk. Semua karena jinhwan, semua karena perkataan Jinhwan. Semua mimpi buruk itu membuat Chanhee frustasi dan untuk pertama kalinya ia merasa hidup tidak berarti. Dan entah apa yang merasuki Chanhee, ia mengakhiri hidupnya, bunuh diri dengan tali yang mencekik lehernya dan mengangkatnya ke udara hingga tak bernyawa.

Ia melakukan aksinya tepat di depan Chanwoo, adiknya.

 

#End

 

Advertisements

7 thoughts on “[The Black Shadow Of iKON] Rope

  1. ACUUUUUU DURHAKA BANGET BUDIR DI MATIIN !!!!!

    eh gak ding, maksudnya OCnya budir… hahah

    #RIPJUNGCHANHEE

    chanu !! deeeekkk gatau kenapa nuna gabisa bayangin kamu jadi saiko.. kamu terlalu unyu.. terlalu imuuuttt…. (lu sendiri bikin chanu jadi saiko kak !!) (plak!) bhaaaaaakkk XD

    pokoknya aku salah pokus sama kematian chanhee.. udah itu aja.. hahahaha XD

    Like

    1. KU TAK TAHU KAK, NGENISTA CHANI TU SEGER AJA… ((JANGAN RAJAM GUE, AS)) XD XD

      Aku bisa ngebayangin Chanu saiko kak, karena pesonanya di airplane kampret, pake topi segala oouch XD

      Gomawo sarangeyoooo, kakak :* :*

      Like

    1. MAAFKANLAH AKU KAK, ENTAH KENAPA AKU SUKA MENISTAKAN cHANHEE.. ((asti, Miaaaannn))

      WKWKWKWKWKWKKKKK,, aku kudu eotteokhe kak, eotteokhe

      gomawo kak, udah ngikutin ketujuh series ff ku yang absurd dan abstrak kak..
      ku sarang kak Aoko, ku cinta kak Aoko, ku Love kak Aoko.. ❤ ❤

      Liked by 1 person

  2. BUSYET CANI CUPU ABIS DEMI APA INI BOLEH GOROK JINAN GAK HIKS KENAPA JAHAT BAT SAMA CECINGUAN SIH HUEEE~

    Ngebayangin muka canu yg polos jadi saiko gitu bikin ku dugun2 yaa…uri dongsaeng…good job brada!/plak/tetiba cani ikutan saiko

    BOBBY ZIAAAAALLL NYEBELIN AMAT BADUNG BADUNG HIKSEU

    Liked by 1 person

    1. GOROK AS, GOROK. EMANG NGESELIN TU ANAK.

      MAAFKANLAH DAKU JIKA CHANI SELALU NISTA BERADA DI TANGANKU HAHAHAHAHA

      Chanu cinta mati tu ama chani.. ampe rela ngorbanin nyawanya. XD XD

      Hahahahahaaa

      gomawo @astiasti94 my twins, salangeyooo ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s