[The Black Shadow of iKON] The Unlocked Soul

PicsArt_09-20-09.22.00[1]

Judul         :        [The Black Shadow of iKON] The Unlocked Soul

Author       :        Haliza Baizura

Lenght      :        One-Shoot

Genre        :        Psycho

Rating       :        PG17

Cast           :        iKON Member

                             Song Yun Han (oc)

                             Lee Seungri (cameo)

Disclaimer         :        Fanfiction ini murni dari pemikiran aku. Mohon jika masih banyak kesalahan. Enjoy it~

Summary  :        Fanfiction ini menceritakan tentang kehidupan seseorang yang baru menemukan tempat yang akan dihuninya. Banyak hal yang tak diketahuinya dan banyak juga hal yang terlalu dipercayainya.

Pagi yang begitu cerah menyambut para penghuni kota Seoul. Beberapa diantaranya juga sudah berlalu lalang dijalanan kota sambil menikmati udara yang menyejukkan seluruh tubuh. Diantara kerumunan orang yang tersebut berdiri seorang laki-laki dengan wajah pucat yang tidak menampilkan ekspresi apapun. Matanya menatap tajam ke salah satu gedung yang menghiasi pinggiran jalan kota tersebut.

Setelah 15 menit memandang, laki-laki tersebut berjalan dengan langkah pelan namun tegas menuju gedung tersebut. Mata lelaki tersebut terlihat masih menelusi setiap inci penampilan gedung yang akan dimasukinya. Setelah beberapa meter berjalan, dia akhirnya mencapai pintu masuk gedung dengan 2 lantai itu. Dengan gerakan gesit ia mengeluarkan tangannya dari saku mantel yang digunakan dan langsung mengetuk pintu kayu yang ada dihadapannya.

“Permisi, apakah ada orang di dalam?” suaranya keluar dengan sedikit tercekat karena sedari tadi diam seribu bahasa. Sayangnya tidak ada seorang pun yang menjawab pertanyaan si empunya suara. Sekali lagi dia mengulangi ketukannya dipintu sambil mengeluarkan pertanyaan yang beberapa detik lalu dia keluarkan. Sedikit putus asa ia kembali mengetuk pintu tersebut. Dengan pendengaran yang cukup tajam, laki-laki tersebut dapat memastikan bahwa seseorang dibalik pintu sedang tergesa-gesa untuk menjawab pertanyaannya.

“Nuguseoyo?” suara itu sangat pelan namun tetap bisa didengar lelaki tersebut. Ia yakin bahwa suara itu adalah seorang wanita yang mungkin berumuran 20 tahun keatas.

“Jung Chanwook imnida. Aku ingin bertanya mengenai penyewaan kamar yang ada dibrosur yang kutemukan. Alamatnya menunjukkan ke gedung ini…” laki-laki yang bernama Chanwook tersebut menuturkan maksud dan tujuannya datang ke gedung tersebut. Tanpa menunggu lama, tiba-tiba pintu kayu yang ada dihadapannya terbuka lebar.

“Silahkan masuk…” dan mata Chanwook langsung terpana melihat sosok yang begitu indah bagaikan malaikat berdiri dihadapannya dengan sangat anggun.

***

“Jadi kau pendatang baru di kota ini? Kenapa memilih Seoul?” wanita itu membawakan tamunya segelas teh yang hangat. Ia tahu bahwa tamunya sudah agak lama berdiri di depan pintu gedungnya sambil merasakan cuaca kota Seoul yang cukup dingin.

“Ne, aku tertarik dengan kehidupan di kota Seoul. Disamping itu, kenalanku banyak yang bertempat tinggal di kota ini.” Jelas tamu tersebut yang tidak lain adalah Chanwook. Sang tuan rumah pun mengangguk paham dengan penuturan Chanwook.

“Ngomong-ngomong aku belum memperkenalkan diri. Namaku Song Yun Han, tapi kau boleh memanggilku Hanchan. Untuk kamar yang kau inginkan, aku masih memiliki kamar kosong di atas. Digedung ini hanya terdiri dari 6 kamar, 2 di lantai dasar dan 4 lagi di lantai atas, 1 ruang utama yaitu ruangan ini. Untuk biaya se…”

“Arraseo, aku mengerti. Sebelumnya, siapa saja yang tinggal di gedung ini?” Chanwook lebih tertarik mengenai para penghuni gedung ini. Hanchan hanya bisa menaikkan sebelas alisnya sambil menatap heran.

“Di lantai dasar ada aku dan oppa-ku yang bernama Song Yun Hyeong, sedangkan di lantai atas ada 4 orang penghuni. Kamar 01 dihuni oleh Koo Jun Hoe, kamar 02 itu adalah kamar yang kosong, kamar 03 dihuni oleh Kim Dong Hyuk, dan kamar yang terakhir yaitu kamar 04 dihuni oleh dua saudara bernama Kim Ji Won dan Kim Jin Hwan. Untuk lebih detailnya kau bisa bertanya langsung pada mereka.” Hanchan menutup penjelasannya dengan tersenyum simpul kepada sang penanya. Sang penanya hanya mengangguk mengerti, “Oh iya, disini tidak ada aturan apapun hanya saja satu hal yang perlu kau ingat…” tambah Hanchan.

“Apa itu?” Chanwook sedikit penasaran karena wanita yang ada dihadapannya itu menunjukkan ekspresi sangat serius.

“Jangan pernah membiarkan jendela kamarmu terbuka pada malam hari walaupun kau sedang dalam keadaan kepanasan setengah mati, jangan pernah! Aku tekankan padamu…” Chanwook hanya bisa menatap heran karena Hanchan mengatakan hal yang sedikit aneh menurutnya. Dia pun mengangguk pelan walaupun di dalam hatinya dia tak mengerti apa yang dimaksud oleh sang tuan rumah.

“Baiklah, mari kita lihat kamarmu…” Hanchan kembali tersenyum ceria sambil berjalan menuju tangga sebelum akhirnya menghilang dibalik dinding gedung tersebut.

***

Terdengar suara ketukan yang tidak terlalu keras dari luar pintu kamar yang membuat Chanwook sedikit terkejut. Hari ini adalah hari pertamanya menempati kamar sewaannya dan hari ini pula ia pertama kali mendapat tamu. Dengan sedikit tergesa-gesa Chanwook membuka pintu kamarnya.

“Annyeong haseyo, Koo Jun Hoe imnida tapi kau bisa memanggilku Jun Hoe. Aku…tinggal disebelahmu haha…” ucap lelaki tersebut dengan sedikit terbata-bata. Mungkin dia gugup, pikir Chanwook. Tiba-tiba lelaki itu mengulurkan tangannya hingga membuat Chanwook langsung tersadar dari lamunan.

“Jung Chanwook imnida, cukup panggil aku Chanwook. Bangapseumnida…” Chanwook tersenyum ramah kepada tetangganya tersebut. Sang tetangga yang bernama Jung Hoe pun ikut tersenyum tak kalah ramahnya.

“Kau mau keluar?” pertanyaan itu secara spontan meluncur dari mulut Jun Hoe yang sedari tadi memperhatikan penampilan Chanwook yang sangat rapi.

“Ne, aku ingin membeli bahan makanan dan beberapa keperluan. Kau mau menemaniku?” Chanwook masih menyunggingkan senyuman ramah kepada tetangganya tersebut.

“Wah tentu saja aku mau. Kau bisa mendapatkan tur gratis mengenai daerah sini dengan memberiku segelas kopi hangat…” Chanwook langsung tertawa mendengar candaan tetangganya tersebut. Sang tetangga pun takmau ketinggalan untuk menyumbangkan suara ketawanya yang kemudian segera menjadi pencair suasana diantara mereka.

***

“Jadi kau bisa memanggil Kim Jin Hwan dengan Jin Hwan, sedangkan Kim Ji Won dengan Bobby. Mereka adalah saudara yang sangat akrab, aku sangat iri! Lalu ada Kim Dong Hyuk, kau bisa memanggilnya dengan Dong Hyuk. Dong Hyuk dan aku bekerja dikantor yang sama namun kami berbeda divisi. Sedangkan Jin Hwan adalah seorang dosen dan Bobby seorang manager di sebuah cafe di kota. Untuk kakak-beradik Song –kau tahu mereka sedikit tertutup- tidak memiliki pekerjaan tetap. Terkadang Yun Hyeong menjadi seorang guru musik di sekolah-sekolah yang memanggilnya dan Hanchan lebih senang dirumah mengurus segala kegiatan rumah tangga. Aku –lebih tepatnya kami- tidak tahu dimana kedua orangtua mereka. Kurasa mereka ada diluar negeri sedang sibuk mengurus bisnis…” Jun Hoe kembali menyesap kopi hangat yang dibeli oleh Chanwook untuk membasahi tenggorokannya yang mulai kering karena penjelasan yang panjang lebar. Chanwook masih menatap Jun Hoe dengan tatapan yang sedikit sulit diartikan.

“Apa ada yang kurang?” tanya Jun Hoe setelah sukses meminum setengah gelas kopi yang dimilikinya.

“Anniya, penjelasanmu sangat jelas. Hanya saja…” Chanwook terlihat sedikit ragu sekaligus gusar karena pertanyaannya sendiri.

“Hanya saja?” Jun Hoe mengulangi ucapan Chanwook dengan sedikit penasaran.

“Hanchan mengatakan padaku jangan pernah mem…”

“buka jendela di malam hari?” Jun Hoe berhasil merebut pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Chanwook.

“Ah, jadi semua penghuni gedung diperingatkannya?” Chanwook menyerukan pemikirannya.

“Ne, dan sampai sekarang kami tidak tahu kenapa dan tentu saja kami juga tidak ingin mencari tahu kenapa. Kurasa ada alasan yang kuat dibalik peraturan tersebut. Untukku pribadi, selama peraturan tersebut tidak mengangguku maka tidak apa-apa. Kuharap kau bisa memakluminya karena menurutku setiap gedung maupun rumah sewa memiliki persyaratan tertentu…” Jun Hoe tersenyum singkat lalu kembali menyesap kopinya membiarkan lawan bicaranya tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ya, ini adalah kedua kalinya dia harus menjawab pertanyaan yang sama setelah sebelumnya Kim Dong Hyuk juga sama penasarannya dengan Chanwook. Jun Hoe berharap bahwa Chanwook juga sama seperti Dong Hyuk yang bisa meredam rasa penasarannya mengenai hal tersebut, semoga…

***

2 minggu kemudian…

“Apa? Hari ini kau akan mengadakan pesta pertunangan?…Tentu saja aku akan datang…Ya…Kau takperlu ragu…Oke, sampai jumpa nanti malam…” Chanwook segera menurunkan handphone-nya dari telinga kanannya. Hari itu dia masih harus bekerja padahal sedang weekend. Dia sedikit mendesah pelan menatap mejanya yang penuh dengan berkas-berkas yang seakan-akan sedang menjerit meminta untuk segera diselesaikan. Dengan sedikit frustasi dia memijit pelipis matanya yang mungkin bisa sedikit mengurangi rasa pusingnya. Tiba-tiba dia merasa ada seseorang yang menyentuh bahu kirinya. Secara otomatis kedua matanya membuka untuk mencari tahu siapa yang menyentuh bahunya tersebut.

“Oh, hai hyung…” sapanya kepada laki-laki yang sedikit lebih tua darinya yang sedang berdiri dengan gagahnya.

“Kau seperti orang yang memiliki 2 istri dengan 8 anak yang sedang merengek-rengek menunggumu pulang dirumah…” jelas laki-laki tersebut. Laki-laki ini bernama Kim Han Bin namun Chanwook lebih senang memanggilnya B.I hyung. Sang empunya nama juga tidak tahu kenapa teman satu kantornya tersebut memanggilnya begitu. Pernah satu kali dia bertanya dan Chanwook hanya mengatakan bahwa namanya terlalu panjang untuk diucapkan.

“Hyung, temani aku ke pesta malam ini…” Ucapan Chanwook tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan maupun ajakan. Ucapan itu seperti sebuah perintah yang membuat hyungnya tersebut hanya bisa menggelengkan kepala menatap heran.

“Pesta apa rupanya?” tanya B.I sedikit tertarik dengan ajakan Chanwook.

“Hmm…kalau tak salah pertunangan. Aku juga tidak terlalu mendengarkan ucapan Seungri tadi saat dia mengundangku. Terlalu berisik disekitar sini…” Chanwook menatap datar ke arah B.I yang masih saja menggelengkan kepala kepadanya.

“Baiklah, kalaupun aku tak ikut aku khawatir kau akan datang ke pesta yang salah karena terlalu depresi menghadapi hidup ini…” Sindir B.I yang hanya dibalas oleh senyuman kecut Chanwook.

***

Acara pertunangan Seungri berhasil dihadiri Chanwook dan juga B.I dengan sukacita hingga hampir larut, namun karena terlalu tenggelam dalam suasana akhirnya Chanwook harus pulang dalam keadaan mabuk dan setengah sadar. B.I terpaksa mengantarkan Chanwook ke tempat tinggalnya karena dia tidak mau khawatir dengan keadaan Chanwook. Dengan sekuat tenaga B.I memapah tubuh Chanwook menaiki tangga setelah seorang wanita –yang dia rasa adalah pemilik tempat ini- membukakan pintu dan memberitahukan letak kamar Chanwook. B.I dapat mendengar Chanwook menggerutu pelan memaki atasan mereka.

“Aiish…bocah ini masih saja tidak berubah…” celetuk B.I saat mereka tiba didepan kamar bernomor 02 setelah bersusah payah menaiki tangga. B.I pun mencari-cari kunci kamar tersebut di saku milik Chanwook. Perlu waktu lama untuk B.I karena Chanwook tidak bisa tenang.

“Perlu bantuan, tuan?” sebuah suara sedikit mengagetkan B.I yang sedari tadi masih mencari-cari kunci kamar Chanwook.

“Oh…Dong Hyuk-ah…aku baru pulang dari kantor…” racau Chanwook saat melihat wajah laki-laki tersebut. Laki-laki yang dipanggil Dong Hyuk tersebut hanya tersenyum singkat melihat tetangganya yang sedang mabuk.

“Ketemu!” celetuk B.I setelah mencari di saku kanan Chanwook, “Terima kasih karena sudah membuatnya tidak bergerak sejenak…” B.I tersenyum ramah kepada laki-laki tersebut yang bisa ditebak bahwa dia adalah salah satu tetangga Chanwook.

“Sama-sama, biar kubantu…” Dong Hyuk pun segera turut andil dalam memapah tubuh Chanwook bersama B.I memasuki kamarnya. Mereka segera menuntun Chanwook menuju tempat tidurnya. B.I sangat bersyukur karena bisa dibantu oleh tetangga Chanwook karena sepertinya dia juga sudah kelelahan setelah sedari tadi memapah tubuh Chanwook yang beratnya hampir sama dengan berat tubuhnya.

“Ya, selamat malam Jung Chanwook yang sedang mabuk…” celoteh B.I sambil melepaskan sepatu Chanwook setelah mereka berhasil membawa Chanwook ke tempat tidur.

“Baiklah, aku permisi dulu…” kata orang berdiri disamping B.I sambil tersenyum ramah.

“Ah, ne, terima kasih banyak. Chanwook sangat beruntung memiliki tetangga sepertimu. Namamu Dong Hyuk –Aku dengar dari Chanwook tadi- bukan? Terima kasih bantuanmu, Dong Hyuk-ssi. Namaku Kim Han Bin tapi kau bisa memanggilku B.I dan aku teman sekantor bocah tersebut…” ucap B.I sambil tertawa pelan. Dong Hyuk juga tertawa ramah. Mereka berdua berjalan menuju pintu.

“Senang bertemu denganmu,B.I-ssi. Kalau ada apa-apa, kau bisa memanggilku. Aku tinggal di kamar ini…” tunjuk Dong Hyuk ke kamar yang dipintunya bertengger angka 03.

“Ne, semoga kita bisa bertemu lagi…”

Hueekkh!!! Hueekkh!!!

Tiba-tiba terdengar suara orang yang ingin muntah dari dalam kamar yang tadi mereka masuki.

“Sepertinya Chanwook membutuhkanku. Sampai jumpa lagi Dong Hyuk-ssi…” B.I tersenyum sopan kepada Dong Hyuk. Dong Hyuk hanya mengangguk asal-asalan dan menatap prihatin pada teman tetangganya tersebut. Sepertinya kau harus bermain air malam ini B.I-ssi, batin Dong Hyuk sambil berjalan menjauhi pintu kamar Chanwook.

***

“Aigo, bocah ini sangat berantakan…” B.I langsung mendesah lemas melihat Chanwook yang sudah terkapar dilantai di dekat jendela. B.I langsung mendatangi Chanwook dan memapahnya kembali ke tempat tidur. Setelah berhasil meletakkan Chanwook, B.I segera melihat sekeliling kamar tersebut. Sepertinya Chanwook tidak muntah dilantai, apa dia muntah keluar jendela yah, pikir B.I yang sambil memperhatikan jendela yang terbuka lebar.

“Kau harus bersyukur bahwa kau juga tidak ikut keluar jendela, hanya muntahanmu…” celetuk B.I sambil berjalan ke kamar mandi untuk mencuci tangannya. Sambil membenahi diri, B.I melirik ke arah jam tangannya. Ternyata sudah jam 11, apa aku harus menginap disini…

B.I terlalu sibuk dalam pikirannya hingga tiba-tiba pintu kamar mandi tersebut diketuk. B.I segera tersadar dan berjalan menuju pintu. Sepertinya Chanwook sudah sedikit sadar dan ingin membenahi dirinya yang sudah kacau balau, pikir B.I sambil memutar knop pintu. Saat itu tiba-tiba sebuah pisau langsung menyambut B.I dan dalam hidupnya, B.I akan menyesali keputusannya karena membuka pintu tersebut…

***

Chanwook membuka matanya perlahan sambil berusaha menyesuaikan cahaya matahari yang masuk ke kamarnya. Perlahan-lahan dia bergerak diatas tempat tidur untuk bangkit. Kepalanya sangat sakit, sepertinya dia mabuk berat semalam. Ingatannya terakhir kali adalah dia dan B.I sedang mengobrol dengan Seungri dan teman-teman lainnya sambil sedikit minum. Chanwook melihat sekelilingnya yang rapi. Mungkin B.I yang mengantarnya pulang, pikirnya. Chanwook bersyukur hari ini adalah hari Minggu sehingga dia tak perlu bangun pagi untuk bekerja.

Setelah yakin kesadarannya sudah penuh, Chanwook melangkahkan kakinya ke dapur untuk meminum segelas teh hangat. Dengan cekatan Chanwook membuat teh tersebut dan langsung menyesapnya setelah yakin rasanya telah pas di lidahnya. Chanwook berjalan menjauhi dapurnya dan menuju jendela. Namun tiba-tiba dia berhenti seolah melihat sesuatu yang mengerikan. Jendela yang ada dihadapannya, yang menghiasi kamarnya, yang menjadi satu-satunya jendela dikamar tersebut terbuka lebar hingga cahaya matahari dengan bebasnya masuk ke ruangan. Chanwook hanya diam membeku menatap jendela tersebut tanpa harus berbuat apa. Dia kembali mengingat-ngingat apakah pada saat bangun tidur tadi dia membuka jendela kamarnya itu karena dia yakin bahwa jendela kamarnya tidak terbuka pada saat dia pergi bekerja kemarin. Chanwook langsung membuang pikirannya mengenai jendela tersebut karena sepertinya efek alkohol kemarin masih memenuhi dirinya. Diapun mengambil handphonennya yang ada di meja kerjanya. Chanwook segera memainkan handphone-nya mencari nomor teman kantornya yang sudah dia anggap sebagai saudara kandungnya sendiri. Setelah menemukan nomor yang dicarinya, Chanwook segera memencet tombol hijau di keypad dan menempelkan handphone tersebut di telinga kanannya.

10 menit berlalu namun nomor yang sedari tadi dia hubungi masih juga tidak aktif. Chanwook mendesah frustasi sambil mendudukkan dirinya di kursi. Sepertinya hyungnya sangat kelelahan hingga masih terlelap hingga saat ini. Chanwook langsung berpikir tentang B.I yang kemarin malam mengurusnya. Apakah dia harus pulang larut karena Chanwook? Apakah dia menghancurkan weekend yang dimiliki B.I karena mengurusnya yang mabuk? Berbagai pertanyaan segera memenuhi pikiran Chanwook hingga tiba-tiba ketukan dari pintu melenyapkan semua pertanyaan tersebut. Sepertinya jawaban untuk semua pertanyaan tersebut harus ditunda, pikir Chanwook yang segera berjalan menuju pintu untuk mencari tahu siapa yang mengetuk pintu kamarnya.

“Ah, annyeong haseyo Chanwook-ah. Apakah kau sudah sarapan? Aku dan Kim bersaudara berencana untuk sarapan bersama di cafe ujung jalan, kau mau ikut? Dong Hyuk bilang kau mabuk berat kemarin malam, kurasa kau butuh asupan energi. Bagaimana?” Chanwook masih terdiam melihat Jun Hoe yang mengoceh panjang lebar dihadapannya. Tetangganya itu memang sedikit cerewet namun Chanwook tidak keberatan dengan hal tersebut.

“Boleh saja, sebentar aku mengambil dompet dan handphone-ku di dalam…” jawab Chanwook yang dibalas dengan anggukan dari Jun Hoe.

***

“Hyung, lihat berita di koran ini! Lokasinya hanya beberapa blok dari tempat tinggal kita…” celoteh Bobby kepada saudaranya yang sedang asyik menikmati sarapan paginya. Sang saudara pun membaca tulisan di koran yang di sodorkan oleh Bobby. “Seorang lelaki ditemukan tewas dengan luka tikam dan sayatan berbentuk bulan, what the hell?! Psikopat macam apa yang melakukan pembunuhan seperti itu? Tak adakah lambang yang lebih manly yang bisa dia gambarkan?” gerutu Jin Hwan yang dibalas dengan kernyitan aneh dari saudaranya sendiri. Chanwook dan Jun Hoe tetap fokus dengan makanannya sendiri karena terlalu lelah menghadapi perdebatan antara dua orang bersaudara ini.

“Hyung! Seharusnya hyung khawatir karena ada seorang psikopat yang berkeliaran di daerah ini, bukan malah mencaci hasil kerja tangannya!” sang adik, yaitu Bobby, malah terlihat kesal karena hyung-nya itu terlihat tidak peduli. Jun Hwan pun tak mau kalah dengan kata-kata yang dilontarkan adiknya yang tampak seperti menghina harga dirinya.

“Terkadang aku bersyukur bahwa aku adalah anak tunggal…” celetuk Jun Hoe dengan pelan kepada Chanwook. Chanwook pun hanya tertawa pelan, kemudian dia meraih koran yang menjadi sumber perdebatan dua tetangganya itu. Chanwook kemudian membaca kolom headline news dengan teliti.

‘Seorang lelaki ditemukan tewas dengan luka tikam dan sayatan berbentuk bulan. Lelaki tersebut ditemukan seorang pedagang yang baru pulang pada dini hari tadi. Polisi masih menyelidiki motif pembunuhan tersebut. Lelaki yang bernama Kim Han Bin…’

Tiba-tiba Chanwook langsung berhenti mengunyah. Matanya langsung membulat dan kedua tangannya gemetar. Jun Hoe yang melihat perubahan drastis dari sikap Chanwook tersebut langsung terlihat heran.

“Ada apa Chanwook? Apa kau menelan sesuatu?” tanya Jun Hoe yang langsung membuat kedua tetangga yang duduk dihadapan mereka menghentikan perdebatannya.

“Jun Hoe-ah…sepertinya aku mengenal lelaki yang terbunuh ini…” dan seketika ketiga manusia yang bersama Chanwook membelalakkan matanya karena terkejut.

***

Chanwook berjalan lesu menuju tempat tinggalnya. Dengan sedikit tenaga yang tersisa, dia mengetuk pintu masuk gedung tempatnya menyewa kamar.

“Oh? Chanwook-ah? Gwaenchana? Jun Hoe bilang temanmu menjadi korban pembunuhan?” Yun Hyeong yang pada saat itu sedang bersantai dirumah membukakan pintu untuk Chanwook. Sebelumnya, Yun Hyeong bertemu dengan Jun Hoe yang kemudian bercerita mengenai masalah Chanwook.

“Ah, begitulah hyung. Aku tak tahu harus berbuat apa, hanya bisa membantu polisi dengan memberi keterangan…” jawab Chanwook dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Yun Hyeong hanya bisa menatap prihatin melihat salah satu penghuni gedungnya sedang berkabung. Bagaimanapun, kehilangan seorang teman dekat sangat menyedihkan…

“Ah hyung, apakah kau yang membukakan pintu untukku kemarin malam?” tanya Chanwook yang menyadarkan Yun Hyeong dari lamunannya.

“Anniya, aku kemarin malam tidak dirumah karena harus membantu temanku di Busan. Mungkin Hanchan? Mau kupanggilkan?” tawar Yun Hyeong yang langsung dibalas dengan anggukan oleh Chanwook. Yun Hyeong langsung berjalan menjauhi Chanwook menuju kamar adiknya.

Beberapa menit menunggu, akhirnya Chanwook melihat Yun Hyeong kembali dengan diikuti Hanchan dibelakangnya.

“Chanwook-ah, oppa bilang kau mau bertanya mengenai kepulanganmu kemarin malam?” Hanchan memecah keheningan diantara mereka.

“Ne, apakah seseorang mengantarku?” tanya Chanwook. Dia berharap bisa menemukan petunjuk mengenai pembunuhan yang dialami B.I kemarin.

“Hmm…kau diantar oleh seorang lelaki yang sedikit lebih tua darimu. Sepertinya dia temanmu –kurasa-, dia mengenakan kemeja berwarna biru muda. Aku menunjukkannya arah ke kamarmu namun aku tidak mengantarkannya karena tiba-tiba oppa menelponku. Hanya itu yang kutahu. Bukankah dia menginap dikamarmu?” Chanwook menggeleng lemah saat Hanchan melontarkan pertanyaan tersebut.

“Lalu dia kemana? Apakah dia pulang tanpa sepengetahuanku?” Hanchan masih menebak-nebak keberadaan teman Chanwook tersebut hingga akhirnya Chanwook membuka suara.

“Dia sudah meninggal. Seorang pedagang menemukan mayatnya beberapa blok dari sini…” Hanchan langsung terkejut sambil menutup mulutnya dengan tangan. Yun Hyeong juga tak kalah terkejutnya.

“Aku sangat mabuk kemarin malam hingga tak mengingat apapun…” ujar Chanwook dengan frustasi. Yun Hyeong langsung menepuk pelan punggung Chanwook untuk memberikan ketenangan.

“Ah, Chanwook-ah, aku tak tahu ini bisa membantumu atau tidak. Tapi sepertinya temanmu tidak sendiri kemarin malam. Beberapa menit setelah aku dan kalian berpisah, aku menjawab telpon oppaku. Tepat saat telponnya terputus, aku memutuskan untuk ke dapur mengambil minum dan kudengar dua orang sedang bercakap-cakap dilantai atas. Kurasa itu temanmu dan yang satunya lagi mungkin Dong Hyuk…” Sebelum Hanchan menyelesaikan ucapannya, Chanwook segera berlari menuju tangga untuk mendatangi kamar Dong Hyuk yang tepat berada di samping kamarnya.

***

Dong Hyuk sedang berkutat didepan layar laptop dengan tekun. Hari ini memang hari Minggu, namun dia tetap harus bekerja karena deadline yang sudah ditetapkan oleh atasannya. Dong Hyuk juga terpaksa menolak ajakan Jun Hoe untuk sarapan bersama tadi pagi. Sangat menyedihkan, pikirnya dalam hati. Tiba-tiba dia merasa perlu menjernihkan pikirannya. Dengan cepat dia beranjak dari kursi kerjanya menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Namun ekor matanya dengan menangkap sesuatu yang asing. Sebuah tas plastik tergantung di knop pintu miliknya. Dia tidak ingat pernah meletakkan barang itu sebelumnya. Segera Dong Hyuk mendatangi pintunya dan meraih tas plastik tersebut.

Namun sebelum dia mengetahui isi tas plastik tersebut, tiba-tiba pintunya diketuk oleh seseorang.

“Annyeong haseyo, Dong Hyuk-ah…” ucap Chanwook saat pintu kamar Dong Hyuk sudah terbuka sempurna dan menampilkan pemiliknya.

“Oh, Annyeong Chanwook-ah. Ada apa?” tanya Dong Hyuk ramah. Dia memperhatikan Chanwook yang sepertinya kesini dengan terburu-buru. Nafas Chanwook belum teratur dan rambutnya sedikit berantakan.

“Aku ingin bertanya, apakah kau bertemu dengan B.I hyung kemarin malam?” Chanwook langsung bertanya tanpa basa-basi.

“B.I hyung? Oh, maksudmu Kim Han Bin? Ne, aku membantunya membawamu ke kamar. Kau tahu, kau sangat mabuk dan Han Bin-ssi terlihat kewalahan jadi aku memutuskan membantunya. Aku keluar kamar karen mendengar…”

“Dia tewas kemarin malam…” Chanwook langsung memotong ucapan Dong Hyuk hingga membuat lawan bicaranya itu memekik terkejut dan menjatuhkan tas plastik yang digenggamnya.

“Oh Tuhan! Benarkah?!” Dong Hyuk masih dipenuhi dengan rasa shock berat. Chanwook pun membungkuk untuk mengambil tas plastik yang terjatuh tadi. Namun gerakan tangannya terhenti karena melihat sesuatu yang keluar dari tas plastik tersebut. Chanwokk langsung menegakkan badannya dan perlahan-lahan berjalan mundur. Dong Hyuk yang mulai sadar dari rasa terkejutnya langsung menyadari sikap aneh tetangganya.

“Waeyo Chanwook-ah?” Namun yang ditanya justru diam seribu bahasa. Hanya kedua matanya yang bergerak kearah lantai yang dimana Dong Hyuk tepat berdiri. Dong Hyuk pun langsung mengikuti arah pandang Chanwook. Tanpa menunggu lama, Dong Hyuk memekik kembali dan segera mundur beberapa langkah.

“Omo! Ini tidak seperti yang kau pikirkan…Chanwook-ah…bukan aku pembunuhnya…” Namun sia-sia, Chanwook langsung berteriak histeris meminta Dong Hyuk untuk menjauh hingga seluruh penghuni gedung tersebut keluar dari kamarnya masing-masing.

Orang pertama yang mendatangi mereka adalah Jun Hoe yang langsung terdiam membeku tidak jauh dari mereka begitu menemukan pisau berlumuran darah kering berada di pintu masuk ke kamar Dong Hyuk. Tak lama kemudian Kim bersaudara dan juga Yun Hyeong bergabung dalam keadaan genting tersebut.

“Ada apa ini?” tanya Jin Hwan memecah keheningan diantara mereka. Namun hanya terdengar deru nafas para penghuni gedung tersebut.

“Hei, jawab Jin Hwan. Ada apa sebenarnya?” Yun Hyeong mengulang kembali pertanyaan Jin Hwan agar orang-orang tersebut sadar.

“Dong Hyuk…” Jun Hoe mulai membuka suara.

“SUDAH KUBILANG INI BUKAN MILIKKU!” Dong Hyuk berteriak memotong perkataan Jun Hoe hingga membuat yang lainnya semakin cemas.

“Lalu itu milik siapa?” Chanwook yang sedari tadi diam seribu bahasa dengan pikirannya akhirnya angkat bicara.

“Aku tidak tahu…aku…aku…menemukannya dibelakang pintuku…” Dong Hyuk memberikan pembelaannya.

“Pembohong!” umpat Jun Hoe yang membuat kepala langsung berputar menghadapnya.

“Apa kau bilang?!” Tiba-tiba Dong Hyuk kembali menaikkan nada suaranya. Rahangnya mengeras karena rasa tersinggung yang memuncak akibat ucapan tetangga sekaligus rekan kerjanya tersebut.

“Bobby-ah, segera telpon pihak polisi. Kurasa kita membutuhkan mereka…” Jin Hwan mencoba menenangkan keadaan. Bobby langsung mengeluarkan handphone-nya dan segera menjauhi mereka semua untuk mencari tempat yang tenang.

“Sudah kubilang bukan aku pemilik benda sialan ini!” Dong Hyuk masih saja menyerukan pembelaan yang sama. Yun Hyeong dan Jin Hwan hanya bisa menatap prihatin. Entah kenapa mereka tidak tahu harus berbuat apa. Otak mereka seperti berhenti bekerja. Dong Hyuk adalah teman mereka tapi bukan teman yang dekat. Mereka tidak pernah tahu siapa yang benar disini.

“Hyung, polisi dalam perjalanannya…” Bobby kembali bergabung dengan mereka namun tiba-tiba salah satu diantara mendekat dengan tampang emosi.

“KAU SEHARUSNYA TIDAK MENELPON MEREKA!” orang tersebut berteriak hingga Bobby mundur mendekati pagar pembatas lantai menghindari orang tersebut namun sayangnya pagar tersebut cukup tua untuk menahan tubuh Bobby. Dalam waktu singkat dia merasa tubuhnya seperti melayang diikuti oleh teriakan beberapa orang yang memekikkan telinga. Sebelum dia tahu apa yang terjadi, Bobby mulai merasa pandangannya menggelap.

“Hyung…” dan dia merasa semuanya telah usai.

Jin Hwan menangis histeris meratapi tubuh adiknya yang sudah bersimbah darah. Bobby dinyatakan tewas karena kepalanya pecah menghempas lantai. Chanwook hanya bisa menunduk menatap pemandangan mengerikan tersebut. Tepat pada saat Bobby jatuh, polisi tiba di gedung mereka. Polisi langsung mengamankan Dong Hyuk. Chanwook tahu Dong Hyuk tidak berniat melakukan hal tersebut. Ini adalah suatu kecelakaan yang sangat kebetulan terjadi di waktu yang tidak pas. Chanwook menggertakan gigi-giginya menahan emosi. Siapapun dalang di balik semua ini, Chanwook merasa dia harus membunuhnya. Tepat pada saat Chanwook larut dalam pikirannya, Yun Hyeong datang dengan wajah yang tak kalah sendu.

“Chanwook-ah, kau harus mengistirahatkan dirimu. Biar aku yang mengurus masalah Jin Hwan. Ini pasti berat bagimu, tapi kau juga harus memikirkan dirimu. Pergilah ke kamarmu…” Jin Hwan tersenyum lemah kepada Chanwook yang hanya dibalas anggukan lemah. Chanwook juga tak tahan jika harus berlama-lama berhadapan dengan orang mati. Dengan lemah dia berjalan menuju kamarnya. Sepertinya tidur sejenak akan membantunya menjernihkan pikiran.

***

Chanwook segera tersadar dari tidurnya. Sudah berapa lama dirinya tertidur? Dia pun melirik ke arah jendela. Ternyata sudah gelap. Dengan malas dia bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Dicucinya wajahnya untuk menyegarkan dirinya. Chanwook kemudian berpikir sejenak, dia merasa perutnya sedikit lapar namun sayangnya stok makanannya habis. Segera ia berjalan untuk melihat jam yang ada di atas meja kerjanya. Pukul 11? Sepertinya minimarket masih buka, batinnya dalam hati. Tanpa pikir panjang dia langsung memakai mantel dan mengambil dompet serta handphone-nya. Segera dia keluar dari kamarnya yang tak lupa dikunci. Sejenak Chanwook melihat garis pembatas berwarna kuning diantara deretan pagar pembatas lantai. Garis itu adalah garis polisi. Sepertinya para polisi sudah meninggalkan gedung ini karena sudah larut.

Chanwook segera menuruni tangga untuk mencapai lantai dasar, namun tiba-tiba langkahnya terhenti dipertengahan tangga. Dia yakin dia mendengar suara benda jatuh. Chanwook segera memutar arah kakinya dan kembali menaiki tangga tersebut. Semakin lama dia bisa mendengar ada dua orang yang sedang berdebat. Dia yakin suara itu berasal dari kamar Yun Hoe karena dia tahu semua kamar sedang kosong kecuali –mungkin- kamar Yun Hoe. Chanwook segera mendekati pintu kamar Yun Hoe dan samar-samar terdengar suara –yang iya yakin suara Yun Hoe- dan seorang wanita berdebat.

“Kalau kau tidak mengindahkan rayuannya, kurasa tak akan serunyam ini!” umpat suara laki-laki yang merupakan Yun Hoe.

“Kau bukan siapa-siapaku! Kau tidak berhak mengaturku!” jawab si wanita dan tiba-tiba terdengar suara pukulan keras. Sepertinya Yun Hoe memukul salah satu properti kamarnya.

“Kau…kau orang kucintai! Kau milikku! MILIKKU!” suara Yun Hoe meninggi hingga mendekati suatu bentakan.

“AKU TIDAK MAU BERPACARAN DENGAN SEORANG PEMBUNUH! KAU PEMBUNUH KOO YUN HOE! KAU TAHU ITU!” seketika Chanwook menutup mulutnya untuk menghalangi suara pekikannya terdengar. Namun sayangnya kaki Chanwook menabrak pot bunga yang menghiasi dekat pintu kamar tersebut. Kedua insan yang ada di dalam kamar langsung menghentikan perdebatannya. Pintu kamar tersebut langsung terbuka sebelum sempat Chanwook melarikan dirinya dari bahaya yang mengancam.

Dua sosok manusia segera muncul dihadapan Chanwook. Orang tersebut adalah Koo Yun Hoe dan Song Yun Han, ya, wanita itu adalah Hanchan. Wajah Hanchan terlihat terkejut, lain halnya dengan Yun Hoe yang malah tersenyum miring menatap Chanwook.

“Jung Chanwook, sepertinya kau sudah sangat mengacaukan kehidupan disini…” Yun Hoe mulai membuka suaranya yang terdengar seperti sedang mengancam. Chanwook masih menatap cemas ke arah dua manusia tersebut.

“Jadi…kau yang membunuh B.I hyung?” Chanwook mengeluarkan suaranya dengan pelan dan sedikit tertahan karena bergetar.

“Well done, Chanwook. Kau tahu, kau itu sebenarnya pintar. Ne, aku yang membunuhnya. Maafkan aku, itu terjadi karena temanmu itu sedikit kurang ajar kepada kekasihku ini…” Yun Hoe merangkul kasar Hanchan yang tepat berada di sebelahnya.

“Kekasih?” Chanwook sedikit mengernyitkan dahi karena heran.

“Dia hanya seorang psikopat gila Chan…” sebelum sempat Hanchan menyelaikan kata-katanya, telapak tangan Yun Hoe sudah mendarat dengan keras di pipi kanan Hanchan.

“Tutup mulutmu gadis manis! Biarkan kuselesaikan ini!” Yun Hoe masih menyunggingkan senyum liciknya.

“Jadi, temanmu malah mengerling nakal kepada Hanchan saat membawamu ke kamar. Oh jangan kau tanya aku tahu darimana, aku hanya tahu. Mungkin karena dia hanya seseorang yang tolol, bahkan dia lupa mengunci pintu kamarmu. Yah, kau tahu saat itu kau sangat mabuk, jadi kau tidak akan ingat apapun. Dong Hyuk hanya sedang tidak beruntung malam itu. Dan Bobby, dia juga diluar rencanaku…” uajar Yu Hoe yang hanya membuat Chanwook terperangah.

“Kau…Dong Hyuk itu temanmu…” ujar Chanwook sedikit gemetar. Diliriknya Hanchan yang hanya bisa memberikan tatapan prihatin kepada Chanwook.

“Sudah kubilang dia hanya tidak beruntung. Aku hanya meminjam pisauku padanya pada saat kita akan pergi sarapan, kupikir dia memerlukan hal tersebut…” Yun Hoe masih saja tersneyum senang.

“Kau gila! KAU ORANG GILA!” Chanwook berteriak frustasi namun dia tahu dia sudah tersudut. Chanwook memutar otak agar bisa keluar dari sini. Dia merasa menyesal telah memilih Seoul sebagai tempat tinggalnya.

“Maafkan aku Jung Chanwook, tapi aku memang gila karena wanita ini…” dan Yun Hoe mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku celananya. Chanwook segera berjalan mundur dengan gemetar.

“Yun Hoe-ah, tolong jangan lakukan ini…” Chanwook meminta belas kasihan kepada tetangganya itu.

“Kau tahu kenapa Hanchan-ku selalu memperingatkanmu tentang jendela? Karena dia tahu, suatu saat nanti mungkin kau akan melirik dirinya dan membuatku cemburu hingga harus memanjat jendela kamarmu untuk menusukkan pisau ini ke lehermu. Tapi malam ini, temanmu memang tolol hahaha…” Yun Hoe tertawa sumbang. Chanwook menatap Hanchan meminta belas kasihan namun sayangnya tiba-tiba dia merasakan sesuat menembus lehernya. Dirabanya lehernya yang putih, ternyata darah telah merembes keluar. Chanwook mengerang kesakitan menahan sakit.

“Sudah kubilang, aku benci seseorang menatap kekasihku…” Chanwook segera ambruk ke lantai. Yun Hoe masih tersenyum manis sementara Hanchan hanya bisa menunduk menahan airmatanya keluar.

“K-kau…” Chanwook mencoba mengatakan sesuatu.

“What? Akan mati? Ya, tapi bukan ditanganmu…”

Seketika Chanwook mulai kehilangan kesadaran. Nafasnya mulai memburu, denyut nadinya mulai melemah dan darah yang keluar semakin banyak. Yun Hoe segera beranjak dari tempatnya berdiri sambil menarik Hanchan. Yang Chanwook tahu, dia hanya bisa melihat kedua punggung milik tetangganya tersebut menjauhi dirinya hingga pandangan Chanwook mulai menggelap. Setidaknya Chanwook tidak perlu merasakan kepedihan itu lagi…

The End

Advertisements

3 thoughts on “[The Black Shadow of iKON] The Unlocked Soul

  1. Kenapa junet pantes banget sihhh jadi psikopaaaaaaattttt~ Sering2 yaa bikin junet nista gini/plak

    Ga nyangka banget kalo ternyata junet pelakunya. Dari awal gak dikasih clue sama sekali tentang pembunuhnya. Walaupun ada peringatan tentang gak boleh buka jendela malam2 ini bikin mikir yaaaaa…..ternyata cinta buta…..ohtidaaakkk…

    Like

  2. wow wow, tragis sungguh. Hiks, Bobby knapa kau mati meninggalkanku?!!! Maaf saya baper x’D
    btw, daebakkk, keren authornya , kyaaaa gue tereak gaje bacanya. :3
    udah ah cape ngebacot, see ya ^^ ~~~

    Like

  3. duh…sedih amat s Chanu. udah mati aja sebelum Junhoe diadili.
    hahahaha…bener2 s Junhoe, dimana2 jadi tokoh antagonis!

    hellas, salam kenal! Aoko, 92L.
    cerita kamu bisa bikin aku membayangkan bagaimana peliknya situasi dalam cerita ini.
    nice!

    keep writing!
    dan kutunggu karya lainnya ya..
    🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s