[The Black Shadow of iKON] Not a Spring and Cherry Blossom

1442754654860

Not a Spring and Cherry Blossom

 

An original fiction by Rizuki

iKON’s Jung Chanwoo and OCs

Genres AU!Dark, Surrealism, slight!Thriller | Length Vignette (1,3k words)| Rating PG-13

poster belongs to Echaminswag~ (thankchu Echa!^^)

from a prompt by zero404error

Satu cangkir tidak akan membunuhmu, hanya mematikanmu pelan-pelan.

.

.

Di tengah gulungan pekat, pemuda itu terlihat menyeret tungkainya. Ia memasuki sebuah kamar di pojok koridor panjang rumah tua milik orang tuanya. Sejemang, ia menyibak sebuah kain putih yang membungkus sebuah sofa usang. Napasnya menderu kepalang cepat, pun bulir keringat yang sudah membanjir membasahi sekujur tubuhnya. Sebuah helaan napas terjangkau pendengaran, tepat saat manik kelamnya mendapati sosok sang kakak sudah berdiri di hadapannya.

“Selamatkan aku, Kak.”

Gadis yang berdiri di ambang pintu kamar pengap itu bergeming. Ia menghampiri sang pemuda. Secarik sinar menerpa wajah gadis itu. Sedikit memaparkan wajah manisnya yang sudah basah pun tercoreng likuid kemerahan. Airmata masih keluar dari balik kelopaknya.

“Pergilah, Chan! Pergi sejauh mungkin. Dan bersihkan seluruh tubuhmu dari noda sialan itu. Jangan pernah kembali ke sini! Jangan hubungi siapa pun sebelum aku memberitahumu jika keadaan kembali normal. Kau mengerti?”

Pemuda jangkung itu terisak. Pergelangan tangannya bergetar hebat lantas menjatuhkan sekeping pecahan cangkir yang semula ia genggam. Pemuda bontot keluarga Jung itu masih menangis kendati sang kakak sudah berkali menepuk-nepuk pundaknya, mencoba menguatkan dirinya.

“Apa yang akan terjadi padaku, Kak? Aku… aku takut.”

“Tidak akan terjadi apa-apa padamu. Aku yang akan membereskan semuanya. Sudahlah, sekarang cepat kau bersihkan tubuhmu kemudian segera pergi dari sini!” Gadis bernama Claire itu lekas-lekas mendorong tubuh sang adik untuk segera menjauhi ruangan ini. Alih-alih bergegas menuruti pinta sang kakak, pemuda bernama Jung Chanwoo itu membatu. Sepasang tungkainya enggan tergerak.

“Cepat pergi!”

Suara Claire terdengar lantang penuh penekanan. Kendati dirinya juga tengah meneteskan airmata, Claire tak ingin terlihat rapuh. Maniknya menatap tanpa fokus; redup namun tetap tajam. Tepat saat tungkai sang adik menjauh, tatapan gadis itu terlempar ke luar jendela. Tirai gelap itu berkibar terendus angin yang berkelebat cepat. Menimbulkan bunyi gesekan ranting pepohonan yang tumbuh tak terurus di pekarangan.

Claire menunduk, menjumput pecahan keramik yang tadinya terlepas dari genggaman jemari Chanwoo. Bercak kemerahan terlihat jelas melumuri permukaan benda berkilau nan tajam itu. Satu sudut bibir Claire terjungkit; ia menyeringai dalam kegelapan.

.

.

Jung Chanwoo menghela napas. Ruangan yang senyap seperti ini tak pernah disukainya. Suasana seperti ini akan menggiringnya ke dalam ketakutan serta kelam yang mengguncang. Kendati jemarinya masih terus memetik gitarnya; memainkan beberapa paduan nada lantas menghasilkan alunan melodi sendu kesukaan sang kakak, Chanwoo masih kepalang gelisah. Sudah hampir dua jam ia menanti. Namun, gadis itu tak kunjung tiba.

Tepat saat ia kembali menghela napas, terdengar ketukan heels yang menggema lantas menubruk rungunya. Samar, Chanwoo tersenyum. Sudah datang, huh?

“Kenapa kau kembali ke sini, Jung Chanwoo? Bukankah aku sudah berulang kali mengatakannya; aku benci tempat ini. Kenapa kau masih memaksaku untuk menginjakkan kaki di sini lagi?”

Netra Chanwoo melirik presensi gadis yang baru saja tiba kemudian berdiri di hadapannya, kini. Suaranya menggema memenuhi ruangan bergradasi abu-abu dan putih itu. Pemuda manis itu lantas menenggak kopinya hingga tuntas, kemudian berdeham.

“Ini hari ulang tahun Kak Claire. Apa kau tidak ingin merayakannya?”

Gadis bersurai panjang itu mendengus, lantas tertawa hambar, membiarkan dengungan tawanya mengambang di udara bak balon meletus. Keduanya kemudian membisu.

“Claire sudah mati, Jung Chanwoo. Berhenti berpolah jika ia masih hidup! Claire. Sudah. Mati.”

“Tidak!”

Sang gadis terkekeh. Pijakannya terhenti tepat di depan mata kaki Chanwoo. “Hilangkan seluruh kenanganmu bersama gadis itu. Dia sudah tidak ada di dunia ini. Satu-satunya kakak bagimu hanya aku; Jung Chanhee. Bukan Claire.”

Gadis bernama Chanhee itu sedang memengaruhi sang pemuda dengan kalimat-kalimatnya. Suaranya meneduhkan, namun Chanwoo enggan menerimanya. Pikirannya sama sekali tak terdistraksi oleh ocehan gadis di hadapannya. Sejemang, ia menilik cangkir kopinya yang sudah kosong; menyisakan endapan pekat saja. Maniknya terpancang beberapa detik sebelum akhirnya telinganya menangkap getar suara Chanhee kembali mengudara.

“Ayo pulang, Chan! Dan jangan pernah kembali ke rumah sialan ini lagi.”

Kali ini Chanwoo yang memutuskan untuk mengudarakan tawanya. Ia melejitkan bahu, lantas mengolok Chanhee. “Dia masih hidup, Kak. Kau yang salah karena sengaja menghapusnya dari memorimu. Kau yang membunuhnya dari kenyataanmu sendiri, Kak Chanhee. Claire nuna masih hidup, asal kau tahu.”

Tepat saat Chanwoo berhasil menyisakan spasi kira-kira lima sentimeter dari sang gadis, pemuda manis itu kembali menjungkitkan sudut bibirnya. Merekahkan senyuman termanisnya; sebuah kurva kesukaan Claire.

“Jung Chanwoo kau kenapa, huh? Claire sudah mati, Chan. Jangan memikirkannya berlebihan. Bukankah kau masih memilikiku sebagai kakak? Hei, aku bahkan kakak kandungmu, Chanㅡsedangkan Claire bukan siapa-siapa.”

Chanwoo menggeleng, “Kau salah, Kak. Bagiku, Kak Claire adalah segalanya. Dia kekuatanku. Dia segalanya bagiku.” Pemuda tersebut menatap Chanhee penuh intimidasi. Detik berikutnya ia mengerjap sembari menawarkan kembali sebuah senyuman. Saat itu, Chanhee hanya menahan napas. Bukan hal yang menyenangkan berada di antara himpitan tubuh tinggi sang adik dan dinding putih yang sudah menyentuh punggungnya.

“Apa kau bahagia setelah menghilangnya Claire, Kak?” tanyanya saat ia berhasil mengunci iris kecokelatan Chanhee. Bibirnya masih mengukir senyum selagi jemarinya bergerak mencari cangkir bekas kopi miliknya. Sesaat ia tergelak, tepat saat gendang telinga mereka sama-sama dikejutkan oleh bunyi pecahan yang cukup nyaring. Chanwoo baru saja menghancurkan cangkir kopinya. Sementara Chanhee menolak; meminta lepas.

Wajah Chanhee memucat, pun tatapannya memias seiring gelak tawa Chanwoo yang menghantui pendengarannya. Bibir gadis itu bahkan gemetar menahan tangis. Pita suaranya mendadak kehilangan fungsinya saat ia berniat meloloskan sebuah teriakan. Aliran darahnya terpompa berkali lipat lebih cepat dari beberapa menit yang lalu. Bahkan degup jantungnya pun sempat mampir di rungunya tatkala sebuah goresan baru saja tercipta di permukaan pipinya.

“Chanㅡ”

“Satu cangkir saja tidak akan membunuhmu, Jung Chanheeㅡ” Chanwoo berbisik tepat di sebelah telinga gadis yang tengah dibayangi ketakutan itu. Keramik tajam yang ada di tangannya menelusuri pembuluh karotis yang jadi tujuan utamanya. “ㅡhanya mematikanmu pelan-pelan. ”

Chanwoo tak suka perseteruan, jujur saja. Ia membenci pertengkaran dan selisih pendapat. Pemuda itu memberikan sebuah cengiran polosnya tepat saat mulut Chanhee mengudarakan teriakan pamungkas, diiringi cipratan darah segar dari vaskular leher sang gadis. Tidak butuh waktu lama bagi tubuh gadis itu untuk perlahan merosot, mencumbu lantai marmer berdebu yang kini telah berpadu dengan cairan pekat beraroma kuat.

“Aku menyayangi Claire, Kak Chanhee. Dia kakakku yang paling kusayangi. Dia kekayaan yang kumiliki. Dia kebahagiaanku, Kak. Claire adalah jiwaku. Seharusnya kau mencegahnya pergi, Kak. Seharusnya kau tak membiarkannya pergi!”

Pemuda itu menangis, lalu membuang napasnya sarat lelah. Pandangannya menatap tubuh kaku Chanhee selama beberapa detik. Lantas beralih pada likuid pekat yang mulai mencium mata kakinya. Sepersekon berikutnya, Chanwoo melajukan tungkainya menjauh. Tak mengacuhkan eksistensi Chanhee yang mungkin saja sudah meregang nyawa di sana.

Perlahan, airmata Chanwoo terjatuh. Konklusinya bahkan benar-benar mengatakan jika Jung Chanhee sudah tewas. Hatinya mencelus akibat goncangan yang terlalu kuat. Ia berpolah baik-baik saja kendati raganya sendiri bahkan dengan jujur mengatakan tremornya terlalu tinggi. Penyelesaian yang tidak terlalu bagus, dan Chanwoo tahu itu. Namun, sebelah hatinya mencetuskan bahwa ia dapat kembali tersenyum setelah ini; berkali mengutarakan alibi jika ia baik-baik saja.

Bukankah Kak Chanhee akan menemani Kak Claire di sana?

.

.

“Sebegitu susahkah membiasakan diri dengannya?”

Suara yang terdengar ramah di gendang telinganya itu, membuat Chanwoo serta merta menolehkan kepalanya. Ia membelokkan fokusnya demi menjumpai si pemilik suara yang begitu ia rindukan eksistensinya. Detik berikutnya, ia menukar senyuman kepalang lebar hingga terlihat deretan gigi putihnya yang rapi.

“Selamat malam, Kak!”

Chanwoo mengangguk mantap lantas melangkah menghampiri gadis bergaun putih panjang yang masih berdiri di ambang pintu kamar kosong itu. Beberapa sisi gaunnya melambai tergiring embusan angin malam. Namun, sang gadis hanya mengumbar senyuman. Memilih untuk menenggelamkan dirinya di tengah geming sementara sang adik masih melangkah menghapus spasi dengan dirinya.

“Tapi kau tak punya siapa-siapa lagi, Chan. Seharusnya kau membiarkannya menggantikanku sebagai pelindungmu, sebagai kebahagiaanmu, sebagai kekuatanmu.”

“Kau masih ada, Kak.” Ia kembali membagi sebuah cengiran, lantas mendekap tubuh sang kakak, tak terlalu erat.

Di tengah kegelapan ruangan dan seberkas sinar purnama yang masuk melalui celah jendela itu, keduanya kembali menghabiskan malam bersama. Berkawankan desing angin yang sesekali berkelebat cepat pun gesekan dedaunan serta ranting pohon. Sang gadis rela mendengarkan celoteh adiknya mengenai kejadian selama seminggu kemarin. Hanya dalam satu hari dari total tujuh hari, keduanya bersama menyongsong matahari dari dalam petak kamar tak berpenghuni ini.

“Apa kau tak lelah mendengarku terus bercerita, Kak?”

“Bagaimana mungkin aku lelah mendengar ocehan adik yang paling kucintai, eh? Omong-omong, apa kau tak merasakan jika Chanhee baru saja datang dan melihat kita berdua, Chan?”

“Eh?”

Gadis bergaun putih itu tersenyum, “Dia masih menyayangimu, Jung Chanwoo. Dia kakak kandungmu, jangan lupa itu!”

Chanwoo mengedarkan pandangannya. Menelisik tiap celah di ruang gelap itu; mencari seseorangㅡatau mungkin sesuatu. Namun, ia tak berhasil menemukan apa pun. Detik berikutnya, embusan angin terdengar semakin cepat. Bahkan lolongan anjing sesekali terdengar, padahal sedari tadi senyap masih menyelimuti suasana tengah malam itu.

Beberapa elang hitam terbang di atas atap rumah mewah yang tak lagi berpenghuni itu. Sementara cahaya sang bulan masih asyik menyorot pergerakan seorang pemuda di dalam kamar pengapnya yang tengah berbicara seorang diri, tanpa kawan.

.

-fin-

.

.

Thankchu Kejengkang; youre all my moodbooster. And, Jung Chanhee, sorry for humiliated plot story. Last, mind to gimme a feedback, guys? /.\

Advertisements

26 thoughts on “[The Black Shadow of iKON] Not a Spring and Cherry Blossom

  1. Ririiiiss zaikoqueens yang kalo nyaiko ga tanggung2 organ tubuh semua di bawa yakan.. duh aku kebayang carotis sobek bikin darah mucrat kemana2 itu kok ya langsung ga selera makan (buang cemilan)

    jung chanhee dan jung claire yang bertikai memperebutkan si manis chanu yang ternyata sama saikonya dengan kedua kakaknya.. ohmay keluarga ini !!! (jedotin palak ke tembok)

    aku gamau komen plot dan segala diksi lah riris udah jagoan…

    tapi akhirnya plis banget ada elang.. aku langsungkebayang kastilnya drakula di puncak gunung gtu kan yaaa gelap2 suka di lewatin elangelang indo***r gtu.. huft

    baiklah.. semoga mba riris ga kapok meramaikan ygentff dgn cerita yang lain.. 🙂

    Like

    1. ……..siapa saikoqueen kak siapaa?? Sedih padahal ini adegannya engga terlalu eksplisit huhuhuhu /tetep aja itu bunuh bunuhan ris jebal/
      Oke kakdi, masa claire ikutan saiko. Padahal yg bunuh cuma cani sama canuni aja claire kan cuma bantu ngeberesin masalah canuni ajaaa wkwk

      Duh diksi itu makanan apa kak? Kutak tahu diksi /keplaked/ diksi hayati masih tiarap qaqaaa XD

      Yeokshi semoga kakak kakak sekalian tak mengasah golok setelah baca tulisan tulisan absurd rijuki 😀

      Like

  2. kak……keknya ini perlu ditambahin genre horror…endingnya itu loh bikin merinding~ ya burung elang, ya canu ngomong sendiri sama arwah embaknya…astaga ><

    kak claire kak cani~ huhuhu, buruan idup lagi terus bikin sibling story yang manis ya kak /digeplak kariris sama kaasti/ XD
    mangats terus kariris ❤

    Like

    1. Bhaks echa mah komennya lucuu ((KAN KAMU UDAH BACA DARI DULU KENAPA BARU BILANG)) /EEEEEE/ XD
      Engga engga claire sama cani gamau idup lagi cha /dikeplak/ thankchu so muuccch saranghaneun echaa ❤

      Like

    1. Silakan nistakan jungcani sepuas kalian wahai qaqaaa qaqaaa……..

      Anyway, thank you kak acu ehe ehe. Apalah reremahan kukis ini masih sedang dalam proses belajar /krik/ 🙂

      Liked by 1 person

                1. HAHAHAHAHA gaboleh gitu. Janjangan malah selisih setaun juga kaya aku sama asti wks meskipun sesama 94l wakakakaka XD /disepak ke hati jinan/ /salah/

                  Like

                    1. ….aku…..aku engga komplain kok qaqaaaa waa kita selisih empat bulaan wkwk. Duh maap ya acu, aku berisik. Salam kenaaaal ^^)/

                      Like

                    2. WAKAKAKA MAKANYA GUE BINGUNG KENAPA JADI AGUSTUS ASTAGAA /matiin kepslok/ waaaa acu kepo bulan lahirku waaaaa mau dikasi kado nih baubaunyaa muahahahaha /siapa elu ris//dikeplak/
                      Bhaks. Aku sama asti beda setaun lhoo. Aku sama ipy anak kembar /eeeee/ XD

                      Like

  3. Aku mau maboq…….tapi gabisa…….kuharus baca ini sampe selesai/plak

    Entah harus gimana komennya……yang jelas ini keren. Suka banget penjabaran saikonya canu, saikonya claire, sama saikonya cani/cani lebai cani sinetron chorom wkwk/
    Gatau kenapa pas ada penggambaran cani terkekeh, w ikut2an smirk2 gitu saking ngefeelnya ini tulisan. Oke, emang w ajasih yg lebai wkwk.

    Kaaaaannn……decanu jadi ga punya sapa2 skng hiksss 😦

    Like

    1. Rmang aku mikirnya jungcani tuh karakternya emang sinetron chorom bhaks XD miane jungcani miane hajimaa hajimaa *nyanyi bareng kajebum*

      Canu masih punya jinan kook. Gapapa ditinggal dua kakaknya juga :3 /dikeplak/ btw claire engga saiko lho di sana wks. Yang saiko cuma cani sama canuni :””

      Like

  4. kenapa ku senang ya melihat cast Chanhee @astiasti94 teraniaya disini? *Plak..bukan saatnya.

    Hellas, salam kenal. Aoko, 92L disini.

    diksi kamu benar2 di level yg berbeda ya… ini genre bener2 surealism..aku harus baca dua kali biar ngerti alurnya… dan kamu memang kece sekali mengemas ceritanya!!
    btw, jadi s Claire itu sosok yg tak nyata ya? *mohon pencerahan jawabannya…

    kutunggu karyamu yg lain disini ya..
    🙂

    Like

    1. Halo kak Aoko. Riris di sini, 94l hehehe. Diksi saya masih tiarap kaak huehehe, dan astaga masalah surrealism saya cuma lagi belajar bikin dark-fic yang implisit gitu kak plotnya ga terlalu ngumbar(?) area darknya. Bikos saya lelah dengan stereotip kalo saya udah zaikolevel ya kak /malah curcol/
      Dan iya bener kak! Claire itu sebenernya udah mati juga sebelum Chanhee mati :””””)

      Terima kasih, kak! Semoga kubisa kembali mengirim samting di sini huehehe XD

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s