[The Black Shadow of iKON] Darkness

darkness

Darkness

Cast(s) : [iKON] Jung Chanwoo & [OC] Shannon

slight!Song Yunhyeong as Jung Yunhyeong

// fail!Dark, Psycho, fail!Myst // Vignette 1000wc // G //

big thanks to imjustagirl @HSG for awesome poster

Bagaimana bisa? Padahal aku sudah memastikan bahwa raganya tak lagi bernyawa.

.

.

.

Kala itu nyanyian burung hantu turut serta menghiasi malam sepiku. Merenung lantas tahu-tahu liquid turut serta larut. Ruangan ukuran tiga kali tiga meter dengan gombal serta kertas-kertas berhamburan inilah tempatku menumpahkan segala isi hati. Senang maupun susah, entahlah, sekumuh atau seberantakan apapun kamarku ini tetaplah menjadi tempat favoritku.

Aku menyeret langkah, memilih untuk bersandar di anjung peranginan. Selalu seperti ini; aku insomnia lagi dan lagi. Faktor kepenatan atau kesepian, mungkinkah itu penyebabnya?

Ini semua berawal dari orangtuaku yang tahu-tahu pergi meninggalkanku di dunia penuh kecaman. Ayah bukan orang jahat, ibu apalagi. Seingatku mereka berdua orang baik-baik; tidak terlibat dalam kasus besar lantas jadi buronan dan mati, tewas di tangan musuh. Bukan, setidaknya itu menurutku.

Ibu merupakan sosok wanita mandiri, menjadi wanita karir tak membuatnya melupakan tugas seorang ibu. Ia tetap meluangkan waktunya—walau sejemang—hanya untuk menanyakan apakah kami—aku dan kakak—makan dengan teratur, atau apakah kami mengalami kesulitan di sekolah dan lain sebagainya. Sementara ayah, aku tahu ia sangatlah kelelahan tatkala ia menginjakkan kaki di rumah larut malam, itu pun beliau masih melanjutkan pekerjaan lagi di ruang kerja khusus di depan kamar. Namun meski demikian, ia dengan wibawanya masuk ke dalam kamar lantas menanyakan apa saja yang kami lewati hari ini.

Aku sangat senang kala itu, mempunyai orangtua yang gila kerja tak lantas membuatku menjadi anak terlantar layaknya di kebanyakan cerita fiksi. Malah aku kerap kali disanjung teman-temanku; ibu dan ayah mereka tak memiliki banyak waktu untuk sekadar bermain bersama sementara aku kebalikannya. Dan semua kebahagiaan itu tahu-tahu lesap seketika tatkala aku menginjakkan kaki di rumah begitu pulang sekolah. Netraku membeliak melihat apa yang seharusnya tidak untuk anak kecil seusiaku lihat. Bayangkan saja! Aku diharuskan menilik jasad orangtuaku tewas mengenaskan dengan keadaan usus tercerai berai di lantai, pun kepala yang remuk tak lagi berbentuk.

Jujur saja aku ingin pingsan saat itu juga lantaran terlalu banyak kata yang tak sanggup aku katakan dan sialnya aku tidak diperkenankan untuk pingsan alih-alih berteriak.

Padahal aku berteriak sangat kencang, namun yang kuherankan, mengapa semua orang—tetangga sekitar—tetap saja abai. Lalu aku berteriak lagi dan lagi dan tetap saja tak ada orang yang sudi menyambangi.

Bingung tentu saja menggerayangi batinku, mau melangkah saja aku tak berdaya. Lalu apa yang bisa dilakukan anak kecil seusiaku ini selain menatap nanar ibu dan ayah yang meregang nyawa?

“Apa—”

Suara terputus berasal dari belakang tubuhku itu membuatku serta merta menaruh atensi sepenuhnya padanya—kakakku. Lalu sekon berikutnya ia terkaget, matanya melotot tatkala mendapati jasad orangtuanya yang sudah tak berbentuk lagi.Maksud hati ingin menceritakan apa yang baru saja kualami padanya namun ia buru-buru menyela.

“Kamu, kamu apakan orang tua kita Chan!” serunya.

Aku tergeragap, lantas terceratuk. Seumur hidup, baru kali ini kak Yunhyeong membentakku. Padahal aku ‘kan tidak berbuat apapun!

“Ayo cepat katakan! Apa yang kamu lakukan pada jasad mereka!”

Amarah kak Yunhyeong semakin menjadi dan rasa takutku semakin tak terkendali. Bulir keringat sontak merembes membasahi dahi. Aku ketakutan. Aku benar-benar tak tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum kak Yunhyeong datang menghampiri. Apa yang kulakukan? Apa yang harus aku lakukan? Tolong!

Aku terkesiap, mimpi itu lagi! Mimpi yang sudah delapan tahun ini datang menghantui. Membuat depresi ini lak lantas pergi, malah semakin menjadi hari demi hari.

“Oi!”

Suara itu menginterupsi, lalu sekon berikutnya aku mendapati perawakan teman—haruskah aku menyebutnya seperti itu—insomniaku. Mengapa kusebut demikian? Itu karena aku dan ia memiliki kesamaan—yang membuat kami memilih untuk berkarib sampai detik ini—yaitu insomnia.

Kerap kali kami mengisi keheningan malam dengan gelak tawa yang membahana. Ia—Shannon—memiliki perangai ceria—meskipun pada dasarnya perangai itu hanya ia tujukan padaku. Kalau ingin jujur, ia pantas disebut saudara kembarku lantaran sifat kami sama-sama dingin—khusus saat kami bersua maka perangai kami akan berubah jadi ceria, latar belakang kami yang sama-sama suram, juga kesamaan lain yang membuat kami lebih akrab hari demi hari.

“Melamun lagi!” serunya , sekonyong-konyong menyadarkanku yang asyik bermonolog dalam hati alih-alih menyahut sapaannya berapa menit yang lalu.

Terkekeh, aku berujar, “Siapa yang melamun?”

Hening kembali menyelimuti malam yang kian larut. Shannon lebih memilih untuk menilik pancaran bintang yang sedih kuakui, makin hari makin sedikit saja eksistensinya.

“Kamu sudah bertemu dengan kak Yungheong?”

Gadis itu bersandar di anjung peranginan—layaknya aku—sembari memainkan bibir.

“Belum, kenapa?” tanyaku.

Ia tersenyum kecut alih-alih menjawab pertanyaanku. Selalu seperti ini setiap harinya, ia selalu saja menanyakan kakak laki-lakiku tanpa bosan layaknya mantra yang tiap detik, menit dan jamnya harus dirapalkan. Aku muak sebenarnya, tapi apa daya, aku tidak punya kehendak atas ia. Aku toh bukan siapa-siapanya.

“Kamu bilang, dulu kamu melihat jasad orangtuamu mati mengenaskan ‘kan?”

Jeda sejemang sebelum ia kembali melanjutkan, “Lalu apa yang kamu pikirkan kala itu?”

Aku mengernyit, antara bingung memilih untuk tetap diam atau menjawab petanyaannya. Dan yang terucap dari bibirku hanyalah delapan abjad syarat makna. “Psikopat.”

.

.

.

Selayaknya malam-malam sebelumnya, aku kembali direngkuh insomnia begitupula Shannon. Ia kelihatan lebih ceria malam ini—kendati yang sebelum-sembelumnya ia juga tak kalah ceria.

“Kamu habis dapat lotre?” selorohku.

Ia terkekeh cantik sekali sebelum berceletuk, “Aku sudah bertemu dengan kak Yunhyeong loh Chan!”

Sekon berikutnya aku menegang, seulas senyum yang beberapa menit lalu aku layangkan padanya kini berganti dengan dentam jantung yang tak beraturan. Itu belum seberapa, puncaknya adalah saat seorang pemuda jangkung yang tahu-tahu menyembul dari balik tubuh Shannon; kak Yunhyeong. Peluh tak pelak merembes, membanjiri dahi.

Bagaimana bisa?

Bagaimana bisa orang yang sudah delapan tahun tak sengaja—atau memang sengaja—kubunuh itu kini muncul lagi?

Bagaimana bisa? Padahal aku sudah memastikan bahwa racun paling mematikan itu mengalir di dalam tubuhnya..

Bagaimana bisa? Padahal aku sudah memastikan bahwa raganya tak lagi bernyawa.

Bagaimana bisa?

Bagaimana bisa ia dengan tubuh tegapnya menilikku sembari bergumam, “Dasar psikopat kecil!”

Sial!

Matilah aku!

-fin.

Bagaimana bisa? Bagaimana bisa aku membuat fiksi amburadul gantung absurd penuh typo dan masih saja nekat kirim ke sini. Huhuw myane myane hajima ;; kutahu ini masih abal dan ya, nekat banget bikos aku hanya ingin berpartisipasi saja di event debutnya iKON yey akhirnya setelah penantian panjang mereka debut juga hihi XD

Btw, minta reviewnya please? ^^

Advertisements

3 thoughts on “[The Black Shadow of iKON] Darkness

  1. Bagaimana bisa? bagaimana bisa? Bagaimana bisa fic keren ini kulewatkan begitu saja/apasih
    Vi tulung pertemukanku dengan mas yoyo juga, tulung vi…wqwq
    Penggambarannya, wow~ cuma bisa bilang wow soalnya ini keren. Aku larut dalam cerita loh, sungguh sungguh!!! kyaaaaaaa~

    Like

  2. wuidih aku nggak nyangka pelakunya itu ya s Chanwoo.. ckckckckck…
    tapi, aku penasaran sih jadi s Shannon itu siapanya Chanwoo? serem ngebayangin dia bisa mempertemukan chanu dan yoyo.

    kusuka penulisan kamu yg mengalir gitu aja..ide ceritanya juga keren!

    keep writing!
    dan kutunggu karya yang lain ya..
    🙂

    *salam kenal, Aoko. 92L.

    Like

  3. Duh, jadi ceritanya Chanwoo nih yg psycho?/ aku sempet ngira yang psycho si yun xD

    Yosh, aku suka banget sama kosakata dan alur cerita disini.

    Pas ngebayangin muka si Chanwoo waktu di bagian akhir, astaga, aku bener-bener
    ngakak /okay, ignore/ :”D

    Keep writing yaa~

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s