[The Black Shadow of iKON] Havana

irish-havana

Tittle : Havana

Author : IRISH

Main Cast : iKON’s Kim Jiwon & Kim Hanbin, YG Trainee Kim Jisoo

Supported : iKON Members, YG Trainee Jennie Kim

Rate : PG-17

Length : Oneshoot

Genre : Mystery, Pshychology, Thriller, Romance

Disclaimer : This story entirely fiction and created by Irish. Any resemblance to real persons or organization appearing in this story is purely coincidental. iKON members, Kim Jisoo and Jennie Kim belong to their real-life.

“…Bagaimana mungkin ada seorang hantu sempurna sepertinya?…”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Jisoo’s Eyes…

Aku masuk ke dalam rumah, sendiku seakan rontok karena lelah. Selesai mengunci pintu dan menyampirkan mantelku, aku melangkah ke ruang tengah rumah.

“Hanbin? Kau belum tidur?”, ujarku saat melihat Hanbin berdiri di tepi pintu dapur, cahaya samar membuatku tak bisa melihat jelas apa yang sedang Ia lakukan.

Mendengar tidak ada sahutan, aku melangkah menghampirinya.

“Apa yang kau lakukan?”, ucapku seraya menepuk bahunya, aku tersentak saat tanganku menggapai angin, dan rasa dingin segera mengerambatiku.

Sosok di hadapanku berbalik, dan detik itu juga aku membeku.

Dia bukan Hanbin. Juga bukan seseorang yang kukenal. Kudapati diriku memperhatikan garis sempurna wajahnya… sepasang iris gelap sipitnya yang menatapku, kenapa Ia begitu sempurna?

“Siapa kau?”

Ia mendekatiku, mencipta hembusan dingin yang meremangkan bulu romaku, sementara tungkai ini enggan bergerak, memendekkan jarak antara aku dan dirinya.

“Kau benar-benar datang setelah tiga tahun.”

Lirih suaranya melayangkanku dalam pesona. Jantung ini semakin terpompa tidak karuan. Tubuhku memanas. Kenapa ucapannya bisa berefek seperti ini padaku?

“Jisoo? Sedang apa kau?”

Aku menoleh, mendapati Hanbin berdiri di ujung tangga dengan raut mengantuk. Ku alihkan pandanganku, tersentak saat tidak menemukan sosok tadi dimanapun.

“Jisoo-ya?”, kudengar Hanbin melangkah menuruni tangga.

“Tidak ada. Kenapa kau terbangun?”, ujarku pada Hanbin.

“Aku haus,”, jawabnya dengan suara parau.

“Kau ingin minum apa?”

Juice?”, ucapnya dengan nada bertanya, sementara Ia merebahkan tubuhnya di salah satu kursi yang ada di dekat meja makan.

Tak menunggu lama, aku segera melangkah ke kulkas, mengeluarkan sebuah botol kaca berisi juice jeruk, menuangnya ke dalam dua buah gelas, untukku, dan Hanbin. Dari sudut mataku, kutemukan bayangan Hanbin berdiri tak jauh dari tempatku sekarang.

“Duduklah dan tunggu, Hanbin-ah.

Arraseo…”, aku terkejut saat mendengar sahutan Hanbin.

Suara mengantuknya terdengar cukup jauh, itu artinya Ia pasti masih berada di tempat yang sama. Lalu… bayangan yang kulihat… Kualihkan pandanganku, kembali, tubuh ini membeku melihat paras sempurna itu, menatap ke arahku dengan sepasang iris gelapnya.

“Kau tidak mengingatku?”

Mengingatnya?

Belum aku tersadar dari kebingunganku, tiba-tiba saja Ia sudah ada dihadapanku, dalam jarak sangat dekat. Tangannya bergerak menyentuh wajahku, namun hanya hembusan angin dingin yang kurasakan.

Dia… hantu bukan?

“Ya, aku seorang hantu.”, kurva sempurna muncul di wajahnya.

Aku ingat film-film horror yang pernah ku tonton, tapi tak satupun hantu terlihat sepertinya. Bagaimana mungkin seorang hantu punya paras sempurna?

“Kalau aku terlihat menyeramkan, kau mungkin tidak mau melihatku.”

Bagaimana bisa Ia bicara padaku seolah eksistensinya sebagai seorang hantu tidak membuatku ketakutan?

“Ah,”, Ia menyernyit, dan sepasang gelap teduh matanya menatapku, mengunci manik mataku untuk terus memandangnya, “aku tahu kau tidak takut padaku.”

“Jisoo-ya?”

Aku terlonjak, terkejut saat mendengar suara Hanbin. Ia berdiri menatapku dengan kebingungan yang sarat di matanya.

“Kenapa kau melamun disana?”

Aku menatap sekitarku, lagi-lagi Ia menghilang. Segera kudatangi Hanbin yang masih menatap bingung.

Mian, ini juice nya.”, ucapku seraya mengulurkan segelas juice yang ada ditanganku.

Gomawo,”, ucap Hanbin, segera meneguk juice nya, sementara tak bisa kubohongi, benakku masih dipenuhi oleh pertanyaan akan sosok itu.

Siapa dia? Kenapa Ia bicara seperti itu padaku? Apa aku seharusnya mengingatnya?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku melangkah gontai melewati koridor sekolah setelah bel pulang berbunyi, namun langkahku terhenti saat kudapati sosok itu dalam pandanganku. Setelan gelap yang dikenakannya sungguh mencolok.

Bagaimana mungkin seorang hantu bisa muncul di siang hari? Di film yang ku lihat mereka—oh sungguh, Ia bisa melayang begitu saja ke arahku sementara kakiku masih tak bisa mau beranjak dan malah menatapnya. Sekarang aku tahu film sudah berbohong.

Ia sekarang berhenti ditengah koridor, tangannya terangkat, jari telunjuknya terarah padaku. Dahiku berkerut saat kurva ramah itu lagi-lagi muncul diwajahnya, dan jari memberi isyarat memintaku untuk mendatanginya.

Memangnya siapa yang mau repot-repot mendatanginya?

Sialan. Dia punya kemampuan menghipnotis juga? Kenapa sekarang kaki ini melangkah mendatanginya?

“Kau benar-benar tidak ingat padaku? Aku masih terlihat seperti dulu bukan?”, tanyanya membuatku mengerjap bingung.

“Dulu?”

Ia menatap sekitar kami, beberapa orang rupanya menatap ke arahku karena tindakan anehku yang bergumam sendiri.

“Ikuti aku.”

Memangnya siapa yang mau mengikutinya?

AKU adalah orang yang mengikutinya kakiku memang mengikuti kemana Ia melayang santai seolah eksistensinya tidaklah aneh. Sekolah ini punya gedung tak terpakai, dan disanalah Ia berhenti.

“Namaku Jiwon.”

“Apa?”, kali ini Ia berbalik, dan tatapan kami kembali beradu.

“Semalam kau bertanya siapa aku bukan?”

Bagaimana Ia bisa tahu?

“Aku mendengar pikiranmu.”

“Apa?”, lagi-lagi aku menjadi orang bodoh yang mengulang pertanyaanku.

“Aku bisa mendengar pikiranmu, Kim Jisoo.”

Benarkah?

“Kau tidak percaya?”

Ia benar-benar mendengar pikiranku?

“Pikirkan saja apa yang ingin kau katakan, aku bisa mengetahuinya…”, lengkungan samar muncul diwajahnya.

“Kau mau membantuku bukan?”, ucapnya.

“Membantumu? Untuk?”

“Untuk pergi ke Havana.”

Havana?”, lagi-lagi aku bingung karena ucapannya.

“Untuk pergi ke Havana, seorang roh harus menyelesaikan urusannya disini. Dan kau lah yang bisa membantuku.”

Alisku bertaut mendengar ucapannya.

Kudengar tawa pelan keluar dari bibirnya, Ia mendekat ke arahku, membuat jantungku berdegup tak karuan.

Mikael memberitahuku bahwa seorang gadis akan membantuku menyelesaikan urusanku yang belum selesai.”

Gadis itu aku? Lalu apa maksud pertanyaan ‘kau tidak mengingatku’ itu?

“Ah…”, Ia terdiam sejenak, kemudian tatapannya kembali bersarang padaku, “apa tiga tahun waktu yang sangat lama bagimu?”, sambungnya.

“T-Tiga tahun?”

“Aku menunggumu kembali.”

Memangnya kenapa Ia menungguku? Aku bahkan tidak mengenalnya.

“Anggap saja karena kau satu-satunya orang yang bisa membantuku ke Havana.”

“Tapi… Kenapa aku?”

Ia memutar bola matanya pelan, tampak berpikir.

“Kurasa kau akan tahu alasannya jika kau sudah mengingatku.”, ucapnya santai.

Kudapati diriku semakin membeku karena Ia mendekatkan wajahnya ke arahku, dan tersenyum. Sekarang kuyakini siluet wajahnya tak akan bisa kulupakan sedetikpun.

“Bantulah aku sehingga aku bisa segera pergi ke Havana, Jisoo-ya.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Keadaan di rumah kacau karena pertengkaran Hanbin dan kedua orang tua kami. Memang sudah tiga hari berlalu, tapi Eomma dan Appa tampaknya enggan pulang ke rumah.

“Kau sudah menelpon Eomma dan Appa?”, tanyaku disela waktu makan malam kami.

“Belum.”

“Tapi kau harus menelpon, terutama Appa.”, ujarku, ya, kurasa Hanbin lah satu-satunya yang bisa menghubungi mereka karena aku sudah mencobanya, namun Eomma dan Appa tidak menjawab panggilanku.

Hanbin menghembuskan nafas keras, lalu meletakkan sendok juga garpunya disisi piring.

“Kau berhasil melenyapkan nafsu makanku.”, ucapnya sebelum Ia beranjak pergi.

“Dia selalu begitu, bukan?”

Aku berjengit mendengar suara seseorang didekatku.

“Kenapa kau muncul di sini?”, tanyaku sambil melempar pandang.

Jiwon melangkah tenang dan duduk di kursi yang ditinggalkan Hanbin.

“Kenapa? Kau juga sudah terbiasa karena kemunculanku.”, ujarnya santai.

Aku memejamkan mataku sejenak.

“Kau tahu aku seperti orang gila saat bicara denganmu.”

Jiwon tertawa pelan.

“Memangnya kenapa?”

Drrt. Drrt.

Belum sempat aku menyahut, perhatianku teralihkan oleh getaran ponsel di meja. Hanbin meninggalkan ponselnya. Dengan cepat aku meraih ponsel—yang letaknya di dekat Jiwon itu—dan berdiri.

“Kau akan kemana?”

“Kamar Hanbin.”

“Jangan.”, langkahku terhenti saat tiba-tiba saja sosok Jiwon sudah ada di hadapanku, merentangkan tangannya.

“Kenapa?”

“Jangan pernah pergi ke kamarnya.”

Ucapan Jiwon kini membuatku menyernyit.

“Memangnya kenapa?”

Ia terdiam sejenak, sebelum akhirnya menurunkan kedua lengannya.

“Kau akan menyesal.”

Menyesal? Kenapa aku harus menyesal karena masuk ke kamar saudaraku sendiri?

“Jangan bodoh.”, gerutuku sambil melangkah menaiki tangga.

“Kau akan menyesal.”

Ucapan Jiwon terngiang di telingaku. Membuatku entah kenapa merasa ragu untuk membuka pintu begitu saja, akhirnya, kuputuskan untuk mengetuk pintu kamar Hanbin.

TOK. TOK.

“Hanbin-ah.”

Aku menunggu cukup lama sampai pintu kamar Hanbin terbuka. Hanya sedikit, dan Hanbin menyembul di celah sempitnya.

“Ada apa?”, ucapnya.

“Ah, kau meninggalkan ponselmu.”

Ia melirik ke arah tanganku, sebelum Ia meraih ponselnya dengan tangan kiri. Tindakannya tanpa sadar membuatku memperhatikan tangan kanannya. Kamar Hanbin yang gelap membuatku hanya bisa menangkap sesuatu yang gelap ditangannya.

“Sedang apa?”, tanyaku sambil menunjuk ke arah tangan kanannya.

Ia melirik sekilas, dan kembali menatapku.

Hanbin tidak menyahut dan malah menutup pintu kamarnya tanpa bicara apapun.

“Dia benar-benar harus belajar attitude,”, gerutuku sambil mengalihkan pandangan dari pintu kamarnya.

Tatapanku menangkap tetesan cairan gelap didekat pintu. Jemariku sudah akan bergerak membersihkannya saat aku sadar. Cairan gelap ini, baunya… amis, anyir, seperti darah.

Tanganku bergerak untuk mengetuk pintu kamar Hanbin lagi. Kenapa ada darah disini?

“Jisoo-ya.”, aku terlonjak saat mendengar suara itu.

Aku menoleh, menatap Jiwon, dan Ia menggeleng pelan.

“Jangan pernah masuk ke kamarnya.”

Sekarang ucapannya membingungkanku. Apa Ia tahu sesuatu tentang Hanbin?

Aku tertegun saat Jiwon mengangguk, mengulurkan tangannya padaku.

“Pegang saja tanganku, aku akan menunjukkan semuanya padamu.”

Dan entah kenapa, aku benar-benar meraih tangannya.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kau sudah tahu sekarang?”

Pertanyaan Jiwon menyadarkanku.

“Hanbin benar-benar seperti itu?”, tanyaku, Ia baru saja membawaku melihat visualisasi ingatannya tentang bagaimana Hanbin membully teman-temannya, bertindak semena-mena pada mereka, memukuli… ugh, aku tak percaya Hanbin seperti itu.

Jiwon melarangku masuk ke kamar Hanbin karena mungkin Hanbin akan marah dan bertindak buruk padaku.

“Apa kau juga pernah mendapatkan perlakuan seperti itu darinya?”, tanyaku membuat Jiwon menatapku dengan sepasang mata gelapnya yang teduh.

“Dia melakukannya pada kami semua.”

“Seberapa buruk yang Ia lakukan padamu?”

“Kenapa kau tidak mencari tahunya sendiri?”

Pertanyaan Jiwon menyadarkanku. Ya, aku berniat menolongnya. Jadi, aku harus mulai mencari hal-hal yang berhubungan dengannya bukan?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Semua hal yang berhubungan dengan Jiwon membuatku merasa janggal. Bagaimana tidak, dari informasi yang kudapatkan, kuketahui bahwa Ia di bully hampir setiap hari oleh Hanbin.

Dan sudah hampir setahun berlalu sejak Ia menghilang begitu saja. Aku juga tahu, Jiwon pasti meminta bantuanku untuk menemukan tubuhnya. Setelah tubuhnya ditemukan, Ia pasti pergi dengan tenang ke Havana bukan?

“Kau masih penasaran tentang Bobby?”, Junhoe, teman semejaku, bicara.

“Hmm,”, sahutku.

“Dulu Bobby dibully karena dia sudah berurusan dengan Jennie, yah, Hanbin menyukai Jennie.”, ucapan Junhoe membuatku menyernyit.

“Benarkah?”, tanyaku.

“Beberapa bulan lalu Jennie menolak Hanbin, kau tahu apa yang terjadi setelah itu?”, tanya Junhoe, mengecilkan volume suaranya.

“Apa?”, tanyaku penasaran.

“Jennie menghilang.”

“Menghilang?”

“Sekitar dua atau tiga hari setelah itu, dia menghilang, sampai sekarang.”

Bagaimana mungkin bisa terjadi kebetulan yang sama? Jiwon yang menghilang, lalu gadis bernama Jennie itu. Kenapa mereka menghilang setelah sama-sama berurusan dengan Hanbin?

Apa mungkin… Hanbin ada hubungannya dengan hilangnya mereka?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Jisoo.”

“Jisoo-ya.”

“Kim Jisoo.”

Aku membuka mataku dengan malas saat mendengar Jiwon berbisik ditelingaku, membuatku yakin Ia ada di—ugh.

Ya!”

Jiwon mengerjap beberapa kali. Bagaimana mungkin Ia dengan santainya berbaring disebelahku dan wajahnya berada sangat dekat dengan wajahku!?

Aish, kenapa kau berteriak huh?”, ujarnya.

Aku memejamkan mataku, berusaha menghilangkan bayangan wajahnya dari benakku. Berbeda dengan kekesalanku, Jiwon malah tertawa.

“Apa yang lucu?”, tuntutku.

Ia menatapku dengan sepasang mata sipitnya.

“Kenapa jantungmu berdegup kencang sekali?”

Apa sekarang Ia juga bisa mendengar degup jantungku?

“Ya. Aku mendengarnya, sangat jelas sekali.”, jawabnya masih dengan terkekeh.

Aku lupa aku sudah berurusan dengan hantu yang bisa mendengar pikiran dan bersikap baik, juga sosok yang tidak menakutkan.

“Kau pasti sangat kesal.”, ujarnya sambil dengan santai berbaring di kasurku, menatap langit-langit kamarku.

“Memangnya kau tidak merasa lucu saat kau tertawa?”

“Aku tidak merasakannya. Aku baru bisa merasakannya jika aku sudah ada di Havana. Mikael bilang, aku punya satu jam di sini sebelum aku ke Havana, dan di satu jam itu, aku bisa merasakan apapun seperti di saat aku hidup.”

“Benarkah?”

“Hmm,”, Jiwon mengangguk, “dan nanti, aku akan menggunakan satu jam terakhirku untuk berkencan.”

“Berkencan?”, ucapku menyernyit.

Tatapan Jiwon bersarang padaku, lama, penuh arti. Dan Ia tersenyum lembut.

“Terakhir kali, aku berkencan dengan seorang gadis over-protective yang tidak mau melepaskanku. Ah, bagaimana jika kita berkencan di satu jam terakhirku, Jisoo-ya?”

Aku terkesiap mendengar ucapannya.

“Berkencan denganmu? Apa itu masuk akal?”, ucapku tak percaya.

“Karena aku hantu kau merasa itu tidak masuk akal?”

“Memang tidak masuk akal.”

“Oh ayolah,”, Ia mengibas-ngibaskan tangannya, “tidak akan buruk berkencan dengan seorang hantu tampan sepertiku, bukan? Lagipula, hanya satu jam. Bagaimana?”, Ia menatapku dengan tatapan yang…

Bagaimana mungkin ada seorang hantu sempurna sepertinya?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Oh, kau datang.”

Aku menatap sosok yang muncul dengan sayap berkilaunya.

“Kenapa kau memanggilku saat urusanmu belum selesai?”

Jiwon tertawa pelan. Ia kemudian menatapku.

“Jisoo-ya, dia Mikael yang kuceritakan padamu. Namanya adalah Chanwoo.”

“Senang bertemu denganmu, Jisoo.”, ucap Chanwoo.

Dua orang itu kemudian saling melempar pandang.

“Bisa aku minta satu jam itu sekarang?”

“A-Apa? Sekarang?”, ucap Chanwoo terdengar tak percaya.

“Ya, aku dan Jisoo akan berkencan selama satu jam ini.”, Jiwon menatapku, dan kembali menatap Chanwoo.

Sementara tatapan Chanwoo bersarang padaku.

“Jiwon bilang Ia ingin berkencan.”, terangku.

Chanwoo terdiam sejenak, tapi akhirnya Ia tersenyum dan mengangguk.

“Kuharap kalian membuat banyak kenangan indah dalam satu jam ini.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kami memang menciptakan banyak kenangan indah. Walaupun berkencan dengan seorang hantu dilarut malam, aku tak merasa takut.

“Kau kedinginan?”, kurasakan tangan Jiwon menggenggam jemariku, sungguh, jantungku melompat karena tindakannya.

Jemarinya mengerat dalam genggamanku, hangat. Apa seperti ini rasanya jika bersama Jiwon saat Ia masih hidup?

“Apa kau tidak merasa kedinginan?”

“Tidak juga,”, jawabnya.

“Apa ini pertama kalinya kau berkencan, Jisoo-ya?”

Aku mengangguk.

“Oh, ini pertama kalinya.”

“Lalu… kau tidak menyesal?”

“Menyesal karena?”, aku menatap Jiwon bingung.

“Berkencan dengan seorang hantu.”

Aku menggeleng pelan.

“Tidak. Aku tidak merasa menyesal.”

“Apa kau juga tidak marah?”, tanyanya lagi.

“Kenapa?”

Jiwon menghentikan langkahnya, membuatku menghentikan langkahku juga, menatapnya. Baru saja tatapan kami bertemu, aku terkesiap saat lengan Jiwon melingkar ditubuhku. Memelukku. Rasa hangat segera menjalari tubuhku sementara jantungku semakin bekerja diluar kendali.

Tubuhku terbakar disetiap sisi Ia menyentuhnya.

“Terima kasih… Jisoo-ya.”, tanpa sadar, aku membalas pelukannya. Tak akan lama lagi Ia akan pergi, bukan?

“Apa kau benar-benar tidak marah?”, tanyanya lagi.

“Kenapa aku harus marah?”

Jiwon melepaskan pelukannya, dan Ia menunduk menjajari wajahku, menatapku sesaat sebelum kurasakan lembap bibirnya menyatu dengan bibirku. Tubuh ini lumpuh, satu-satunya yang kudengar adalah degupan jantungku.

Jiwon menjauhkan wajahnya, dan kedua tangannya kini tertangkup di sisi wajahku.

“Kau tidak marah karena ini?”, tanyanya.

Jiwon kembali mendekatkan wajahnya padaku. Kudapati syarafku kembali lumpuh karenanya. Tapi Ia nyatanya hanya tersenyum.

Senyum yang kuyakini tak akan bisa kulupakan sampai kapanpun.

“Apa jantungmu berdegup kencang karena kau jatuh cinta padaku, Jisoo-ya?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Ucapan Jiwon beberapa hari lalu mengganggu pikiranku. Apa yang mungkin ada di dalam kamar Hanbin? Dan… darah waktu itu…

Jiwon tidak muncul beberapa hari ini, dan aku juga tak berharap melihatnya setelah apa yang terjadi secara tidak terduga dimalam itu. Ugh…

Aku menggeleng cepat, dan kuyakinkan menyelinap masuk ke dalam kamar Hanbin, aku terkesiap saat mencium bau menyengat masuk dalam penciumanku.

Tanganku bergerak menekan tombol lampu, cahaya terang segera membuatku mengerjap cepat, berusaha beradaptasi, sementara kusadari beberapa orang berdiri didalam ruangan itu dan—tunggu.

Aku terpaku. Segera kututupi mulutku saat aku mendapati tubuh beberapa orang berjajar di dinding kamar Hanbin. Mata mereka terbelalak sarat akan kesakitan, kepala hampir lepas, dan sayatan di kulit mereka.

“E-Eomma… A-Appa…”

Semuanya mulai tampak blur dalam pandanganku. Fokusku kembali saat nyatanya Hanbin sudah berdiri diujung pintu, sementara diriku meringkuk di sudut kamarnya.

“H-Hanbin-ah…”

“Kenapa kau masuk ke kamarku?”, tanyanya.

“H-Hanbin. E-EommaAppa…”, aku tergagu, tak sanggup berucap.

Hanbin menatap ke arah dua tubuh yang terikat di tembok.

“Aku membunuh mereka, kenapa?”, ucapnya tenang.

“Lalu Jiwon… Jennie… Apa kau juga…”

“Jiwon? Ah, murid sialan dan gadis tidak tahu diri itu?”, Hanbin melangkah mendekatiku, sementara aku merangkak menjauhinya, tanganku terulur ke saku belakang celanaku, meraih ponsel.

“Aku juga membunuh mereka.”, Hanbin tersenyum padaku, Ia kemudian meraih sebuah pisau dari dalam laci meja belajarnya.

“Aku sudah menduga kau akan penasaran tentang Jiwon. Apa karena pembicaraan kalian malam itu?”, tanya Hanbin.

“M-Malam itu?”

Hanbin tertawa kasar.

Aigoo, Jisoo-ya, kau tidak mengingatnya? Aku bahkan masih ingat bagaimana kau tertawa bersamanya malam itu setelah Ia menyakiti Jennie.”

Aku melirik layar ponsel, bernafas lega saat teleponku terhubung dengan kantor polisi. Sementara ponselku kuselipkan dicelah kecil yang ada diantara buku Hanbin. Apapun hal buruk yang terjadi padaku, biarkan polisi mendengarnya.

“Yeoboseyo…”

Kudengar samar suara jawaban disana.

“Dan aku akan melakukan hal yang sama padamu.”

“Menjauh dariku Kim Hanbin!”, aku berteriak keras, aku tahu teriakanku akan terdengar sampai diseberang sana.

“Sialan!”, Hanbin mengumpat sebelum Ia menerjangku.

Ia memukulku berulang kali, membuatku berteriak kesakitan, dan dengan sengaja kukeraskan teriakanku walaupun aku tahu itu akan membuat Hanbin semakin melukaiku.

“Tolong! Tolong aku!”

SRAT!

Aku meringis merasakan tanganku tersayat oleh pisau ditangannya.

“Kau mengira akan ada seseorang yang menolongmu?!”, teriak Hanbin, Ia menjambak rambutku, dengan paksa membuatku melihat tubuh-tubuh yang di pajangnya seolah tubuh itu adalah patung.

“Kau lihat!? Tubuh terpotong-potong itu?! Itu adalah Jennie, gadis tidak tahu malu itu. Dan kau lihat tulang itu!? Dia adalah Jiwon!”

Seketika itu juga aku membeku. Ototku melemas, mataku memanas. Satu-satunya yang memenuhi pandanganku sekarang adalah tumpukan tulang yang ditunjuk Hanbin. Jiwon…

“Sekarang kau juga akan jadi salah satu dari mereka!”

SRAT!

“Akh!”

Sesaat setelah kurasakan sesuatu yang tajam menusuk perutku, pandanganku kabur, yang kudengar hanyalah samar suara sirine, dan teriakan keras.

“Ini belum berakhir Jisoo! Aku akan membunuhmu!”

Samar, kulihat bayangan Jiwon tak jauh di depanku.

“J-Jiwon-ah…”

Lengan Jiwon terulur padaku, seolah akan menggapaiku. Aku meraih uluran tangannya, kemudian semuanya menjadi silau dalam pandanganku…

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Siapa kau?”

Aku membuka mataku saat mendengar suara yang sangat kukenali. Jiwon. Kuedarkan pandanganku saat aku nyatanya masih berada di kamar Hanbin.

Apa aku… melihat visualisasi ingatan Jiwon lagi?

“Kau berpura-pura tidak mengenalku?”, aku mengenali suara Hanbin, kulihat Jiwon terikat erat di sebuah kursi, dan di depannya, seorang dengan pakaian serba gelap berdiri.

Sosok itu kemudian membuka masker yang dikenakannya.

“Hanbin?”, ucap Jiwon terkejut.

“Apa yang kau laku—akh!”, aku tersentak saat Hanbin menyayat sisi wajah Jiwon dengan pisau lipat di tangannya.

Ia membuat banyak goresan di wajah Jiwon, dengan santai, sementara Jiwon berteriak kesakitan. Aku menahan diriku untuk tak berteriak.

“Ayolah, aku tahu kau tidak selemah ini.”, ucap Hanbin sambil menepuk kasar kepala Jiwon, Ia kemudian mengarahkan pisau lipatnya ke kelopak mata Jiwon.

Hanbin kemudian mengambil lilin—yang jadi satu-satunya penerangan disana—dan tangannya membelalakkan mata Jiwon.

TES!

Lilin mendidih itu menetes tepat ke manik mata Jiwon. Dan Hanbin melakukannya dikedua mata Jiwon.

“Akh! Hentikan!”, teriak Jiwon sarat akan kesakitan.

“Aku tidak tahu kau begitu banyak bicara.”, ucap Hanbin.

Ia meletakkan pisau lipat itu di meja, darah mengalir keluar dari luka yang diciptakannya di wajah Jiwon. Hanbin bersiul pelan, mengambil jarum dan benang yang kuketahui digunakan beberapa orang untuk menjahit sepatu.

“Kita akan hilangkan dulu suaramu.”, ucap Hanbin, Ia memasang benang gelap itu dan kini menarik rahang Jiwon dengan kasar, merapatkan mulut Jiwon.

Hanbin kemudian menusukkan jarum besar itu di mulut Jiwon, dengan usaha sangat keras yang kuyakini tak hanya melukai mulut Jiwon, kudengar erangan kesakitan Jiwon yang tertahan karena lengan Hanbin. Sementara Hanbin melanjutkan kegiatannya.

“Oh, jangan memberontak, kau bisa membuat karyaku berantakan.”

Karya? Tindakannya menjahit mulut Jiwon disebutnya sebagai karya?

Aku menutup mulutku rapat-rapat, isi perutku seolah akan keluar saat melihat tindakan Hanbin. Setelah selesai dengan karyanya, Hanbin tersenyum puas, sementara Ia masih mencekal rahang Jiwon.

“Jangan berteriak, kalau tidak, mulutmu akan robek.”, ucap Hanbin sembari melepaskan cekalannya.

Kali ini Hanbin meraih pisau lipatnya lagi, dan menciptakan sayatan-sayatan lain di wajah Jiwon. Kedua pipinya. Bahkan Ia membuat bentuk-bentuk aneh disana, dengan santai Ia menarik kulit Jiwon terlepas dari dagingnya.

Hanbin kemudian mengambil lilin itu lagi, meneteskannya di luka sayatan yang Ia ciptakan.

“Ergh!”, kudengar erangan Jiwon, aku yakin Ia berteriak kesakitan karena sekarang darah mengalir keluar dari mulutnya. Benang tajam itu mengoyak bibir Jiwon.

“Bobby, sudah kukatakan jangan berteriak bukan? Lihat hasil perbuatanmu, karyaku sekarang rusak.”, ucap Hanbin sambil menepuk kasar pipi Jiwon.

Hanbin kemudian mengambil lagi benang dan jarum yang tadi diletakkannya.

“Aku harus merapikan karyaku lagi.”, ucap Hanbin.

Kembali, aku menahan diriku untuk tidak memuntahkan isi perutku saat Hanbin menjahit bibir Jiwon lagi.

“Oh, kurasa kau tadi berkata bahwa kau lapar saat kau akan pulang bukan?”, ucap Hanbin sambil tersenyum.

“Aku bisa membuatmu berhenti merasa lapar sekarang.”, ucap Hanbin, Ia bergerak ke sisi lain kamarnya, aku terkejut saat mendengar suara gergaji mesin.

Benar saja, Hanbin kembali dengan gergaji mesin di tangannya.

Jiwon menatapnya, rintihan terdengar keluar dari sela-sela bibirnya yang sudah tak bisa lagi kulihat karena darah dan tumpukan benang yang dijahit Hanbin disana. Sementara Hanbin—masih dengan gergaji yang menyala itu—berjongkok di sebelah Jiwon.

“Rasanya hanya akan sedikit sakit.”, ucap Hanbin sebelum Ia mengarahkan gergaji mesin itu ke arah perut Jiwon.

Detik selanjutnya, aku mendapati diriku melihat bagaimana gergaji itu merobek pakaian yang Jiwon pakai, merobek kulitnya dengan darah yang kemudian menyembur keluar saat gergaji itu menembus perut Jiwon.

“Lihat? Dengan begini kau tidak akan merasa lapar lagi. Aku sudah melenyapkan perutmu.”, ucap Hanbin, tak peduli darah Jiwon sekarang mengotori wajahnya, dan bahkan mengalir ke tangannya.

Erangan kesakitan Jiwon membuat jahitan di mulutnya kembali terkoyak. Darah mengalir deras ke lehernya, sementara organ-organ didalam perutnya mulai terburai.

Tak lama, aku tidak lagi mendengar erangan Jiwon. Kualihkan pandanganku dari tubuh Jiwon yang sekarang kurasa sudah terpotong dua, dan kuberanikan menatap wajahnya.

Sepasang mata gelap itu menatapku, entah mengapa aku yakin irisnya terarah padaku.

Hanbin mematikan gergaji mesinnya, dan mengambil pisau lipatnya. Dengan kasar Ia merobek benang yang menutupi mulut Jiwon. Darah langsung mengalir keluar dengan deras. Membuatku tak lagi sanggup menemukan suaraku bahkan hanya untuk menangis.

“Apa kau punya pesan terakhir?”, ucap Hanbin sambil mengarahkan pisau daging ke leher Jiwon.

“Ji…”, kudengar lirih itu keluar dari mulut Jiwon, “Jisoo…”

Jantungku seolah berhenti berdetak selama beberapa saat. Aku? Mengapa Jiwon menyebut namaku?

“Oh, tenang saja Bobby, saudaraku akan datang tiga tahun lagi. Kau tidak keberatan menunggunya bukan?”, ujar Hanbin sebelum Ia mengarahkan pisau daging itu ke leher Jiwon.

Aku terpana saat kepala Jiwon terjatuh, dengan darah mengalir keluar dari tubuh dan penggalan kepalanya. Seolah hal itu sama sekali tidak menyeramkan, Hanbin menendang santai kepala Jiwon, dan berdecih.

“Jisoo… Kenapa bajingan ini menyebut nama Jisoo?”

“Jisoo-ya…”

Aku berbalik, dan di belakangku, Jiwon berdiri, dengan Chanwoo di sebelahnya.

“Jiwon-ah…”, dengan gemetar aku berusaha berdiri, walaupun lututku bahkan tidak sanggup menyangga bobot tubuhku.

Jiwon meraih lenganku, menarikku berdiri dengan lembut. Sementara Ia tersenyum.

“Maaf, kau tidak seharusnya melihat kematianku.”

“H-Hanbin…”

Jiwon menangkupkan tangannya di pipiku, tersenyum menenangkanku.

“Semuanya sudah berakhir, Jisoo-ya. Kau sudah membantuku, kau sudah menyelesaikan semuanya…”

“Kau… akan pergi?”

Jiwon mengangguk.

“Sudah saatnya bagiku untuk pergi.”, jawabnya.

Gomawo, Jisoo-ya. Kau sudah membantuku,”, ucapnya seraya menggenggam jemariku, sementara Chanwoo melangkah ke arah kami berdua, dan mengulurkan tangannya.

“Siap untuk pergi ke Havana?”, tanyanya pada Jiwon.

Aku menatap nanar. Kenapa sekarang aku ingin menangis?

“Apa ada hal terakhir yang kau inginkan sebelum Ia pergi?”, tanya Chanwoo padaku.

Aku menatap mereka bergiliran. Rasa sesak melingkupi dadaku.

“Apa aku… boleh memeluknya?”

“Tentu saja.”, ucap Chanwoo sambil tersenyum hangat padaku.

Jiwon tertawa pelan, dan Ia menatapku.

“Sekarang mau mengakui kalau kau jatuh cinta pada hantu?”, tanyanya kujawab dengan anggukan pelan.

“Ya…”, lirihku.

Jiwon menjajarkan tubuhnya denganku, Ia kemudian memelukku, erat.

“Hiduplah dengan baik, Jisoo-ya…”

Tangannya mengelus pucak kepalaku. Perlahan tubuhnya terasa dingin dalam pelukanku, saat aku menatapnya, Jiwon perlahan terlihat memudar.

Ia akan pergi…

“Selamat tinggal, Jisoo…”

Aku hanya terdiam saat Jiwon menghilang dari pandanganku. Ia sudah benar-benar pergi. Aku mengusap air mata yang akan terjatuh dari sudut mataku, dan menatap Chanwoo yang masih berada disana.

“Kenapa kau tidak pergi juga?”, tanyaku lirih.

Chanwoo tersenyum.

“Kau sungguh tidak mengingatnya?”

Kuyakini keningku berkerut sempurna karena ucapannya.

“Maksudmu?”

Senyuman masih terpasang di wajah Chanwoo saat Ia berucap.

“Kim Jisoo, kau adalah urusan yang belum diselesaikan Jiwon di kehidupannya. Alasan Ia tidak muncul selama beberapa hari, karena Ia sudah bersiap pergi ke Havana. Tapi kau membuatnya kembali… Sayang sekali, sampai disaat terakhir Ia ada di tempat ini, kau tetap tidak mengingatnya.”

Aku menyernyit. Teringat pada ucapan terakhir Jiwon.

“Kenapa… Ia menyebut namaku di akhir hidupnya?”

Chanwoo tersenyum.

“Selamat tinggal, Kim Jisoo.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Silau. Atap berwarna putih langsung menyambutku begitu aku membuka mataku. Seluruh tubuhku terasa sangat sakit dan kaku. Dimana aku?

“Kau bangun?”, aku tersentak, suara itu…

“H-Han…bin?”, ucapku menatap sosok yang berdiri tak jauh dari tempatku terbaring lemah tanpa bisa melakukan apapun.

Sementara Hanbin tersenyum, mendekati dan membekapkan tangannya di mulutku.

“Sudah kukatakan ini belum berakhir bukan?”, ucapnya, kurasakan sesuatu yang tajam dan dingin di leherku. Aku menangis, berusaha meronta darinya, tapi tanganku terbalut perban dan tak bisa kugerakkan, begitu juga kakiku.

“Aku akan membuatnya mudah, saudaraku. Kau seharusnya senang bukan?”, ucap Hanbin sebelum akhirnya kurasakan benda tajam itu mengoyak leherku.

Aku tak lagi bisa menarik nafas, tak lagi bisa menghirup oksigen bagaimanapun aku berusaha. Aku menatap bayangan Hanbin yang berubah samar, sementara Ia tersenyum.

Sesakit inikah kematian yang dirasakan Jiwon saat Hanbin membunuhnya? Kurasa Ia merasakan rasa sakit lebih dari ini. Pandanganku mulai mengabur… tapi aku bisa melihat jelas siluet sebuah restoran yang entah mengapa terlihat begitu nyata.

“…Aku akan menunggumu kembali…”

Perlahan… aku mengingatnya. Hal yang sudah kulupakan beberapa tahun lalu. Pertemuanku… dengan hantu yang membuatku jatuh cinta…

Aku mengingatnya. Malam… ketika pertama kali aku bertemu Kim Jiwon.

“Bobby! Jangan tinggalkan aku! Aku tahu kau masih menyukaiku!”

Aku menoleh saat mendengar teriakan. Tak jauh dari tempatku berdiri, sepasang kekasih tampak tengah bertengkar.

“Ayolah, Jen, aku sudah bosan mendengarmu terus bicara seperti ini.”

“Kau akan menyesal sudah membuangku seperti ini!”, sang gadis berteriak keras.

Aku menyernyit saat melihat Hanbin, tampak menghampiri dua orang itu.

“Jennie, ayo pergi dari sini.”

“Tidak Hanbin! Lepaskan aku! Kau tidak tahu apapun!”, teriak gadis itu, sementara kekasihnya—atau bisakah kukatakan mantan kekasih?—melangkah pergi meninggalkan dua orang itu.

Tatapanku mengikuti lelaki yang disebut Bobby itu, saat Ia melewatiku, tatapan kami bertemu. Membuatku sejenak, entah mengapa, enggan mengalihkan pandangan darinya.

Oh Tuhan, bagaimana bisa parasnya begitu sempurna?

Ia akhirnya mengalihkan pandangannya dariku, dan melangkah masuk ke dalam restoran di belakang tempatku berdiri, sementara perhatianku sekarang tertuju pada Hanbin dan gadis itu.

“Jennie, berhenti menangis…”, ujar Hanbin.

“Aku bahkan tidak bisa tenang membayangkan dia akan hidup dengan baik setelah meninggalkanku!”

“Baiklah, baiklah. Lalu apa yang kau inginkan sekarang huh?”, tanya Hanbin.

“Aku ingin dia lenyap!”

Ia mengucapkannya begitu lantang, dan segera setelah itu, Ia berlari pergi. Sementara Hanbin menatap tajam ke arah restoran—kuyakini Ia menatap namja itu—dan tentu saja hal itu membuatnya menangkapku dalam pandangannya.

“Jisoo, aku—”

“Cepat kejar gadis itu.”, ucapku pada Hanbin.

Ia mengangguk dan tersenyum, sebelum akhirnya berlari menyusul gadis itu. Tatapanku segera terarah pada lelaki yang sekarang duduk didalam restoran, dan aku tersentak saat nyatanya entah sejak kapan, Ia sudah menatap ke arahku.

Kurva sempurna terbentuk diwajahnya, dan mau tak mau, entah mengapa aku membalas senyumnya. Ia kemudian mengarahkan jari telunjuknya padaku, membuatku menyernyit bingung dan menunjuk diriku sendiri untuk memastikan.

Melihatnya mengangguk, aku tahu Ia memang menunjukku. Sebuah isyarat kecil diberikannya padaku, apa Ia memintaku untuk mendatanginya? Hah, memangnya siapa yang mau menuruti ucapannya?

Ugh. Aku. Aku lah yang nyatanya benar-benar mendatanginya.

Dengan canggung, aku duduk dikursi kosong dihadapannya, dan Ia mengulurkan secangkir cokelat hangat ke hadapanku.

“Apa semua wanita seperti itu?”, tanyanya.

“Apa?”, aku menyernyit.

“Seperti Jennie, dia sangat protective, apa semua wanita seperti itu?”

“Tidak. Tidak juga.”

“Bagaimana denganmu? Apa kau akan berteriak histeris dan menangis sepertinya juga jika kau ditinggalkan seseorang yang kau cintai?”, tanyanya mengejutkanku.

“Aku tidak menangis, tapi aku akan pergi ke tempat yang sama dengannya.”

Ia tertawa pelan. Sekarang aku mempertayakan kenapa aku duduk disini. Aku merasa canggung juga saat bicara dengan seseorang yang bahkan belum kukenal

“Siapa namamu?”, aku mendongak menatapnya.

“Jisoo, Kim Jisoo.”

Ia mengangguk-angguk, dan mengulurkan tangannya.

“Namaku Jiwon. Beberapa orang memanggilku Bobby, tapi, Kim Jiwon, dan Kim Jisoo, nama kita serupa bukan?”, ucapnya membuatku tertawa pelan.

Ya, memang, hanya sepatah kata yang membedakan nama kami.

“Ngomong-ngomong, apa kau pernah ditinggalkan seseorang juga?”

Aku mengangguk pelan.

“Kekasihmu?”, tanyanya memastikan.

“Tidak. Aku bahkan belum pernah berkencan. Aku ditinggalkan Eomma saat usiaku sepuluh tahun.”

“Kau tidak pernah berkencan?”

Aku menatapnya dan mengangguk.

“Ya.”, kudengar tawa pelan keluar dari mulutnya.

“Lalu bagaimana jika kita berkencan?”

“Apa?”

“Oh ayolah, tidak akan buruk berkencan dengan seorang tampan sepertiku bukan?”

“A-Ah, tapi… Aku akan meninggalkan Seoul besok pagi.”

“Oh, kenapa?”

“Aku harus ke Incheon.”, Ia mengangguk-angguk pelan.

“Baiklah, kalau begitu kita berkencan saja setelah kau kembali.”

“Apa?”

Jiwon tersenyum, senyum yang entah mengapa menular padaku karena kudapati diriku juga tersenyum padanya, jantung ini juga melompat mendengar ucapannya.

“Aku akan menunggumu kembali ke Seoul, Jisoo-ya.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku membuka mataku, perlahan, cahaya silau segera memenuhi pandanganku. Aku masih hidup? Dimana aku? Bukankah Hanbin tadinya sudah—

“Jisoo-ya? Kau bangun?”

“J-Jiwon?”, kutangkap siluet wajah Jiwon dalam pandanganku, samar, Ia tengah menatapku dengan pandangan khawatir miliknya.

“Kenapa… kau ada disini?”, lirihku.

Bukankah Ia sudah pergi ke Havana? Bagaimana bisa aku berhalusinasi seperti ini? Apa aku masih belum sadar?

“Bukankah aku yang seharusnya menanyakan itu padamu?”

“Apa?”, pandanganku masih samar pada sosoknya.

Kurasakan sepasang tangan tertangkup di pipiku, hangatnya menjalariku, sangat kukenali. Tangan milik Jiwon.

“Sekarang kau jadi gadis over-protective yang tidak mau melepaskanku huh? Aku memintamu untuk hidup dengan baik, tapi kenapa kau malah datang kemari dan menyusulku?”

End.

Notes: Sorry, bener-bener sorry banget karena udah membuat Hanbin begitu kejam dan Bobby teraniaya kayak gini /bows/ itu entah part thriller nya dapet darimana, kalo gak serem ya syukur (?) berarti diri ini gak menganiaya Bobby. Anyway, Hanbin sama Bobby bias kok HUEHE. Jadi gak ada niatan apapun saat ngebuat mereka jadi main cast—yang satu kejam, yang satu teraniaya. Well, thank you for reading my absurd story, sincerely, Irish.

Advertisements

18 thoughts on “[The Black Shadow of iKON] Havana

  1. Ini FF sukses banget bikin gue pengen nangis ngebayangin pacar (read: Bobby) teraniaya kaya gitu. Pengen muntah, nyeri seluruh tubuh, ngilu. Keren lah autornyaa ❤

    Like

  2. daebaaakkkkkk

    tapi aku agak ingin muntah ketika membayangkan adegan hanbin nyiksa bobby sama jisoo.. yaampun hanbinkuu😭😭😭

    tapi ini keren bangettttt apalagi ada jisoo x bobby momen.. pls aku shipper mereka pake banget yaampunn kereennn

    terus berkarya kak!! aku dadeum ’98, salam kenal 😁

    Like

  3. WOW!! Sukses bikin gumoh…adegan si hanbin menguliti/? jiwon bikin dugun2. Andweeeeee….ini thriller maks. Walaupun di beberapa part ada cerita2 romens, tapi tetep ga ngilangin kesan thrillernya. Sukadeh. Kamu keren. Ceritanya juga ngalir banget. Gak bisa berenti bacaaa hiks
    Jadi akhirnya si jisoo nysul bobby ke havana?

    Like

  4. yaampuuunnn itu authornya hebat banget pas bikin adegan thriller. seandainya author ada didepanku, author bakalan lihat wajahku yg tiba2 nyernyit2 sendiri, melet2 jijik sendiri, dan sampe akhirnya aku skip gara2 gakuat :v

    Like

    1. Kak Dellaaaaa :’D ff ku absurd kaaannnn duh duh /nangis gulung2/ Hanbin sama Bobby begitu kecenya eh di sini yang satu dianiaya yang satu lagi jadi tersangka penganiayaan :’) aku sampe terharu loh kalo kak del suka :’D

      Like

  5. wow! keren!! kamu detail sekali dalam menggambarkan aksi kejam yg dilakukan Hanbin. *I can imagine what Hanbin does..dan aku ampe skip, saking takut ngebayanginnya,…hahahaha…

    kusuka narasimu, diksimu, dan ide ceritamu. walau endingnya rada sedih ya… s Jisoo nyusul Jiwon mati [well, walau mereka bersatu akhirnya, kukira Jisoo bisa membuat Hanbin ditangkap atau mati juga]

    kutunggu karyamu yang lain ya..
    Keep Writing!!
    🙂

    #Salam Kenal, Aoko, 92L.

    Liked by 1 person

    1. Kak Aoko salam kenal juga :’D huhuhu~ merasa bersalah juga karena Hanbin jadi kek gini (?) ini entah kemarin kepikiran dari mana buat bagian thrillernya..
      Duh kaakk, sujud syukur aku kalo kak Aoko suka xD padahal ini absurd banget kak….

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s