[The Black Shadow of iKON] Give Your Heart a Break

PicsArt_1442738659959

Give Your Heart a Break

A fiction by Putri Pucuk (@yeyehae23)

Starring by [iKON] Kim Han Bin & [OC] Park Hee Ra

PG-15 || Vignette || failed pyscho.

.

.

“Mungkin kau bisa menghancurkan hatinya, memberinya beberapa kesakitan hingga gadis itu menyadari bahwa sebenarnya ia membutuhkanmu.”

.

.

***

Permainan rotasi sang penguasa langit kembali bermain.

Angkasa mulai meredup. Mentari senja perlahan mulai berlabuh di peraduannya, berpadu mesra dengan segumpalan awan yang semarak berpelukan satu sama lain. Menghasilkan pendaran dan perpaduan sempurna di musim gugur yang kelabu. Dan menjadi pemandangan yang cukup menarik bagi seorang anak manusia yang sepertinya tidak akan bosan menemui hal sama hampir setiap harinya.

Kim Han Bin masih dengan setia terduduk di bangku penonton lapangan sepak bola, dengan headphone yang melekat di indera pendengarannya, terputar dengan volume maksimal memutarkan lantunan penuh delusi dari setiap bait lagu slow rock yang di dengarnya. Tangan kanannya menggenggam sekaleng minuman bersoda yang hampir kosong, dan tangan kirinya menggenggam kantungan plastik– berisi minuman isotonik yang sengaja ia beli untuk seseorang di sana.

Han Bin meletakkan kantung plastik itu di samping kemudian mengambil ranselnya, merogohnya, meraih sebuah buku. Han Bin meletakkan buku itu di pangkuannya dan sudut bibirnya membentuk sebuah kurva kecil. Buku itu bahkan telah kehilangan sampul depannya dan memiliki lipatan serta coretan di sana-sini, tapi tidak akan menjadi masalah karena lelaki itu sangat mencintai bukunya. Buku astronomi miliknya, segala misteri dunia, pemikiran sang ahli dan juga pemikirannya, semua ada di dalam buku itu.

Yeah, Kim Han Bin sangat menyukai langit dan beserta teman-temannya. Tidak ada hal yang lebih menarik daripada mereka kecuali satu hal lagi—

“Kim Han Bin!!”

Headphone Han Bin di tarik dengan kasar, membuat lelaki itu segera berbalik. Han Bin hampir saja mengeluarkan sumpah serapah yang bisa membuat orang suci sekalipun ingin mengubur diri hidup-hidup ketika melihat seorang gadis berkacak pinggang di hadapannya, ditambah dengan raut wajah jengkel yang sebenarnya sangat lucu dibenak Han Bin.

“Park Hee Ra. Begitukah caramu memanggil orang lain? Kasar sekali.” Han Bin berucap pelan, mendengus, berusaha mendramatisir keadaan yang Han Bin sadari entah untuk apa ia melakukannya.

“Aku sudah berulang kali memanggilmu, Kim. Tenggorokanku sakit.” Hee Ra mengomel beruntun lalu duduk di samping Han Bin. Gadis itu masih mengenakan seragam cheers nya. Rambut panjang sekelam malam miliknya di ikat asal dalam satu kepang. Bulir keringat mengalir anggun di sekitar pelipis dan leher, menimbulkan sebuah delusi mematikan tersendiri untuk Han Bin.

Han Bin mengambil kantung plastik berisi minuman isotonik yang dibelinya lalu menyerahkannya ke hadapan gadis itu. “Minumlah. Aku tahu kau lelah.”

Kedua manik milik Hee Ra bergerak, melirik ke arah Han Bin dan kantung plastik itu bergantian.

“Ini hanya minuman, bodoh. Aku tidak sedang mengerjaimu.” ucap Han Bin karena jemari Hee Ra sama sekali tidak bergerak mengambilnya. Berganti, kali ini gadis itu yang mendengus sebal. Tentu saja Hee Ra tidak melupakan peristiwa 2 hari yang lalu, Han Bin membelikannya minuman yang ternyata sebelumnya telah di campur garam. Bayangkan saja betapa mengesalkannya itu!.

Jika saja Han Bin bukan temannya dari kecil, bisa Hee Ra pastikan lelaki itu akan berakhir tak berdaya di tanah.

“Aku hanya takut kau mengerjaiku seperti kemarin.” Hee Ra mengambil minuman itu kemudian membukanya dan meneguknya dalam beberapa tegukan panjang hingga menyisakan setengahnya.

Hee Ra melirik ke arah Han Bin yang tengah serius membaca buku astronomi miliknya. Dahinya berkerut samar, bibirnya sedikit terbuka seperti melafalkan sebuah mantra, kedua obsidiannya bergulir teratur tanpa henti.

Kim Han Bin, lelaki pendiam yang jenius.

Baiklah, Hee Ra akui. Untuk ukuran seorang pria, sahabat masa kecilnya itu termasuk tampan. Hanya saja, dia kelewat dingin dengan keadaan dan orang-orang di sekitarnya. Lelaki itu lebih mencintai dunianya sendiri melebihi apapun.

“Apakah kita akan melihat bulan purnama?” Hee Ra bertanya yang membuat Han Bin segera menoleh ke arahnya.

“Ya. Dari mana kau tahu jika malam ini akan ada bulan purnama? Gadis sepertimu tidaklah terlalu suka dengan hal berbau pelajaran, seingatku.”

Hee Ra tersenyum kecil di tempatnya. “Sudah menjadi kebiasaanmu jika berada di bangku ini dengan buku lusuh itu, maka akan terjadi purnama.”

Jawaban polos Hee Ra itu membuat Han Bin terbahak di tempatnya. Gadis itu mampu membuat seorang Han Bin yang kelewat serius tertawa hanya dengan caranya yang polos melihat dunia.

“Aku ingin bercerita.” Hee Ra kembali memulai dialog di antara mereka.

“Ceritakanlah.”

Bibir Hee Ra terkatup rapat. Pasokan oksigen di sekitarnya seakan menipis. Jantungnya mendadak menggila, bertalu-talu dengan keras. Hee Ra tidak tahu apa yang terjadi tapi yang jelas, ia sama sekali tidak menyukai perasaannya itu.

“Kau ingin bercerita atau bagaimana ?” Han Bin bersuara, sedikit banyak merasa heran dengan Hee Ra yang termangu, mengingat bahwa gadis itu type yang tidak bisa diam.

Sifat yang sangat berbanding terbalik untuk persahabatan keduanya.

“Aku menyukai seorang lelaki.”

Lafalan racun itu telak meninju ulu hati Han Bin. Fokusnya dengan sukses teralihkan. Kedua obsidian pekatnya kini mengarah ke arah gadis yang tengah tertunduk itu, menghantarkan sejuta kesan hitam di antara celah mereka yang sangat Han Bin benci.

“Kau mengenalnya ‘kan? Bobby yang merupakan kapten tim basket sekolah kita, yah.. Aku menyukainya.”

Han Bin dapat dengan jelas melihat semburat merah yang merekah di pipi Hee Ra, melebur dalam pipinya yang putih tampak bersedekap intim. Gadis itu.. Dia benar sedang jatuh cinta ternyata.

“Sejak kapan?” Han Bin bertanya, berusaha menetralkan suara, susah payah menelan kejanggalan dalam suaranya. Berusaha untuk tidak peduli.

Ini benar-benar aneh.

“Entahlah. Mungkin sudah satu bulan terakhir ini.”

Jawaban itu membuat Han Bin mendengus sebagai visualisasi apa yang di rasakan. Pisau telah terasah, membelah hati yang bahkan belum bisa mengungkapkan rindu di balik hitam pedihnya. Rasa baru tercipta, penuh keengganan dan terasa kosong ketika gadis itu menyukai lelaki lain.

Kim Han Bin bodoh.

“Kau bahkan menyimpan sebuah rahasia besar hampir satu bulan lamanya. Kenapa tidak bercerita? Sahabat macam apa kau?”

Hee Ra tersenyum di tempatnya kala mendengar celotehan Han Bin yang terdengar seperti anak kecil.

“Aku juga menyukai seorang gadis.” Han Bin bersuara ketika tidak tahan dengan keheningan yang aneh menelusup di antara mereka.

Hee Ra segera menoleh ke arah Hanbin. Maniknya membulat heboh penuh antusias. “Apa katamu?” Hee Ra berusaha memastikan.

“Aku yakin indera pendengaranmu masih bekerja dengan baik, Hee Ra-yaa.” ucap Han Bin pelan, memandangi langit kelabu yang sejatinya sama dan berakar dari hatinya.

Hee Ra mendengus. “Sejak kapan?”

“Sudah lama. Sangat lama.”

“Sangat lama itu dari kapan?”

Han Bin tersenyum sinis ke arahnya. “Kenapa kau sangat ingin tahu? Apa kau ingin menjadikanku bahan gosip di sekolah? Dasar perempuan.”

“Tentu saja tidak. Demi Tuhan, Han Bin! Aku hanya ingin tahu.” Hee Ra menyembur, terlalu jengkel dengan sifat lelaki itu yang terlalu bertele-tele.

Han Bin terkekeh, membuat kedua obsidian itu tenggelam di pahatan sempurna wajahnya. “Aku hanya bercanda, Park.”

“Aku menyukai gadis itu dari kita kecil, kau tahu.” Han Bin berucap pelan.

Manik Hee Ra kembali membulat heboh, membuat Han Bin takut jika kedua bola mata gadis itu bisa saja keluar dari tempatnya kapan saja. “Dari kita kecil? Apa aku mengenal gadis itu?”

Han Bin hanya mengangguk sebagai jawaban kemudian berkata, “Aku sudah banyak melakukan banyak hal untuk membuatnya melihat ke arahku, tapi sepertinya dia tidak tahu jika aku menyukainya. Dia malah menyukai lelaki lain saat ini.”

Hee Ra menatap sahabatnya itu dengan sendu, merasa prihatin juga kasihan. Permainan cinta memang rumit. Tidak ada yang bisa menebak perasaan seseorang. Perasaan tidak jelas sekalipun bahkan memiliki tempatnya sendiri yang akan menjadi suatu batu sandungan nantinya.

Hee Ra menggeser duduknya, mendekat ke arah lelaki itu dan menepuk pundaknya pelan. “Mungkin kau terlalu baik untuk gadis itu Han Bin-ahh.”

“Yeah, mungkin saja.”

“Bagaimana dengan menghancurkan hatinya?”

Dahi Han Bin berkerut samar, “Apa maksudmu?”

“Mungkin kau bisa menghancurkan hatinya, memberinya beberapa kesakitan hingga gadis itu menyadari bahwa sebenarnya ia membutuhkanmu.”

Dalam desau angin dan desir angin manja, Han Bin dapat dengan jelas melihat Hee Ra tersenyum. Kesungguhan dalam kata-kata itu menjadi bekas tersendiri di hatinya.

Di bawah purnama, setidaknya ada yang mengerti hati yang merindu yang di luluh lantakkan luka.

***

Kim Han Bin tersentak dari tidurnya malam itu.

Suara bel pintu membuat Han Bin sepenuhnya tersadar dan mengerang jengkel, membuatnya mengeluarkan beberapa sumpah serapah terkutuk. Ia melirik jam yang ada di nakas dan.. demi Tuhan!! Ini bahkan sudah jam 11 malam dan masih saja ada yang bertamu ke rumahnya? Keterlaluan!

Suara bel pintu itu kini disertai gedoran yang memekakkan telinga, semakin menggila dan mau tak mau membuat Han Bin harus turun dari kasur nyamannya untuk melihat tamu tak di undang yang tidak tahu adat itu.

Terkutuklah siapapun yang mengganggu tidurku.

“Kim Han Bin!! Buka pintunya, sialan!!”

Suara feminim itu berteriak kencang bahkan nyaris menjerit. Well, sepertinya tamunya kali ini benar-benar tidak tahu adat sama sekali. Bersiaplah untuk menerima kemarahan seorang Kim Han Bin karena telah menganggu acara tidurnya yang berharga.

Lidah Han Bin tertahan di langit mulutnya ketika melihat tamu tak di undang itu. Segala sumpah terkutuk yang telah tersusun rapi di otaknya hilang sudah.

“Sandara noona?”

Sandara Park, kakak perempuan Hee Ra, berdiri di hadapannya dengan wajah yang di penuhi rasa frustasi. Wajah cantiknya mengguratkan kesedihan, dan kedua maniknya terlihat bengkak dan memerah. Di belakangnya, berdiri seorang pria yang Han Bin kenali sebagai kekasih Sandara, Kwon Ji-Yong.

“Han Bin-ahh, apakah kau bersama Hee Ra? Apakah dia ada di sini?” Sandara bertanya dengan cepat, nyaris tak bernafas.

“Tidak. Dia tidak bersamaku. Dia juga tidak ada di sini, noona.” jawab Han Bin merasa heran.

Tangis Sandara pecah seketika. Bibirnya berulang kali mengucapkan nama Hee Ra yang tidak dimengerti Han Bin. Ada apa ini?

“Jangan berbohong, Kim Han Bin. Hee Ra selalu bersamamu setiap hari, katakan di mana dia!” Kali ini Ji-Yong bersuara sambil memeluk tubuh kekasihnya yang masih di rundung pilu.

“Aku tidak berbohong, hyung! Hari ini hari kamis, aku tidak bersama Hee Ra karena biasanya hari ini dia mengikuti mata pelajaran tambahan di sekolah dan aku memiliki kegiatan di klub.”

Penjelasan Han Bin itu membuat Ji-Yong terdiam, hanya menyisakan isak tangis Sandara yang tidak bisa berhenti.

“Sebenarnya apa yang sedang terjadi disini?” Han Bin bertanya, merasa penasaran.

“Hee Ra menghilang, Han Bin-ahh.” Sandara bersuara di balik pelukannya.

“Hee Ra menghilang?” seru Han Bin tak percaya. Keadaannya yang setengah mengantuk kini tersadar sepenuhnya. Tubuhnya di penuhi sensasi aneh, membuat perutnya berputar menyakitkan.

“Dia belum pulang sampai sekarang. Ponselnya juga tidak aktif. Kami pikir dia bersamamu ternyata tidak. Apakah kau tahu tempat yang biasa Hee Ra kunjungi?” Ji-Yong kembali bertanya.

Han Bin terdiam sejenak, berpikir, memutar kembali memori yang berlalu itu dengan perasaan bergemerisik. “Hee Ra biasa mengunjungi sebuah cafe milik bibi Han di Gangnam. Hanya itu saja.”

“Baiklah, beritahu kami jika kau mengetahui sesuatu tentang Hee Ra. Kami pergi dulu.” Ji-Yong kemudian pergi dari tempat itu, juga membawa Sandara yang masih terisak.

Han Bin untuk sejenak mematung di tempatnya. Kedua kaki itu dilangkahkah, memasuki apartementnya yang sunyi. Kemudian ia berbelok ke kamarnya dan kembali menghempaskan tubuhnya di kasur yang sangat ia sayangi melebih apapun.

Tunggu. Melebihi apapun? Melebihi apapun hmm..

Han Bin bangkit, menapaki lantai dingin kamarnya. Merapalkan sebuah suka yang seketika terasa menakutkan dan mencekam melebihi apapun. Lelaki itu berjalan menuju lemari yang lebih lebar daripada 2 lemari lainnya di kamar itu, kemudian membukanya pelan.

Tersenyum, Han Bin merasa perasaannya lebih baik ketika melihat Park Hee Ra di sana, berdiri dengan beberapa paku yang berlumuran likuid merah menempel di ujung kaki, tangan, bahu dan leher. Gaun yang di beli Han Bin tadi sore melekat dengan sempurna di tubuh Hee Ra. Gaun berwarna emas dengan bahan satin, rambut kelam itu tergerai, kulit pucat yang menghasilkan fantasi itu.. Astaga! Dia bisa gila hanya dengan memandanginya saja.

Han Bin mengambil sebuah botol kecil yang tergantung di samping Hee Ra. Botol yang berisi potongan hati milik Park Hee Ra. Hati yang telah di hancurkan, di potong hingga menghasilkam kepuasan tersendiri untuknya. Kepuasan itu terbalaskan juga akhirnya.

Tangan dingin miliknya terulur. Jari telunjuknya menelusuri wajah kaku sang gadis yang mulai mengeluarkan aroma formalin yang pekat.

“Bagaimana Hee Ra-yaa? Aku sudah menghancurkam hatimu? Apakah sekarang kau sadar bahwa kau membutuhkanku, hmm?”

FIN

Maaf psycho nya gagal, diksinya payah, ffnya gak jelas, soalnya arwahku terbang entah ke mana.

Big thanks utk Rara, kak Asti, kak Acu dan semua YGentFF family yg lain ❤

-putri pucuk-

Advertisements

8 thoughts on “[The Black Shadow of iKON] Give Your Heart a Break

  1. sebuah hikmah terpatri di memori kakak “Jangan pernah berucap sembarangan tanpa memahami apa yg kau ucapkan” #dih,,,serem amat! Anyway, s Heera sendiri sih yg nggak peka, trus seenak dengkulnya aja ngucapin begitu, diaminin sama Hanbin kan..

    nih gagal? Put, kamu tampaknya punya kemampuan yg tak kamu ketahui, ini psycho bingitz. demi apa, mayat dipaku di tangan, kaki & leher, disimpan di lemari… ~serem membayangkannya..

    pokoknya ini kece, Put.
    mana diksi luar biasa ala kamu teruntai sangat indah..
    🙂

    Like

    1. Kak Aoko jan berlebihan -_- ini gagal kak, sangat, ngerjainnya buru2, didalam kelas lagi…
      Tata bahasanya hancur, typo, diksi payah, gagal deh -_,-
      Aku mah emang lebih suka nulis ff psycho, fantasy, thriller sama sad kak. Lebih greget gitu :V

      Makasih banyak kak utk feedbacknya, love kakak Aoko ❤

      Liked by 1 person

  2. njiiirrr mbin saiko
    Tdinya gue ngira mbin mrnung di kmar, dan mnerka2 kmna ntu ceweknya prgi.
    Dan gue ngenerka lgi, klo ntu cewek lgi ptah hati disakitin bobby krena sbuah harapan hanbin pada bln purnma, kn dy bca mantra di buku. atau gk? Bodolh put, mau gmna pun terkaan gue pda dasarnya gk ngena sama crtanya. XD
    Ternyata gue salah, mbin, gue gk nyangka trnyta lu gtu,

    Put ini kece sekale, ini saiko, krena di luar dugaan gue,

    kerja keras lu gk sia2
    sarangee mpuuttt ❤ ❤

    Like

    1. Anjir, fantasi banget bayangan lu kak, bolehah entar jadi fic berikutnya wkwkwk
      Pan Hanbin owe jadi karakter utama jadi mau gak mau dia psycho lah/?
      Kece apaan, gagal begitu kak. Jan sok muji lu kak, capek prinses -_,-

      Ku sarang sarang kak Acu lebih dan lebih lagi ❤

      Liked by 1 person

      1. wkwkwkwkwkkkkk,

        kan gue gak tw, krna nyempil nama mbob di situ, kali2 dy jadi pahlawan, XD XD XD

        itu real put, fakta, kalo ff lu tu kece ((putri : kak, stop, gue gorok leher lu kak, XD XD ))

        mmuach muach muach muach XD

        Like

  3. astaga ini gagal saiko dari segi mananya,sih? 😥 such a perfect storyline!

    Aduh hati ini tak kuasaaaaa. Demi apa Hanbin saikonya parah. Demi apa Heera gak sadar Hanbin demennya sama dia. Demi apa ada mbak Dara sama maz Jiyong.

    bahasanya aduhay sekali ditambah plot yang mencengangkaaaaannn heyyaaahh keren syekaleeeee ❤

    anw, Rika 98's^^

    Like

    1. Duh kamuuuuu~ Ini gagal loh, gagal sangat, aku aja malu bacanya ulang :”(

      Iya, karna kupikir dibalik kemanisan Hanbin kayak gulali, dia memiliki sisi gelap yg tersembunyi yg bahkan rembulan takut utk mengintipnya /halah put ngomong apaan dah/ -_-
      Iya, Heeranya gak peka, silahkan ditabok juseyooo :’D Dan utk Daragon, harus muncul dong, kan OTP paporit oweeeee ><

      Hai kamu Rika, kenalin aku Putri Pucuk, 95L ^^ Salam kenal yahh dan terimakasih utk feedbacknya, kusayang Rikaa~ ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s