[The Black Shadow Of iKON] A Dream

PicsArt_1442288213193

Judul : A Dream

Nama author : Ren

Lenght : 1005 word

Genre : Mystery

Rating : PG-17

Cast : Kim Hanbin, Lee Hayi

Disclaimer : I own the plot, and all cast own by themself.

Summary : Dia berdiri membeku, menatap tak percaya kearah peti mati. Disana,

terbaring kaku seseorang yang membuat nafasnya tercekat

~ooOoo~

Jadi dimana sebenarnya kau berada ?

Berdiri disini, atau terbujur kaku disana ?

~ooOoo~

Kau berdiri disini, diantara hutan pinus yang lebat dengan payungan salju yang turun satu-satu. Tubuhmu bergetar, bibirmu membiru, wajahmu memucat.

Dimana ini ?

Tanyamu bingung pada dirimu sendiri. Bukankah seharusnya kau tengah terlelap di atas ranjang besarmu dengan selimut tebal dan ditemani oleh hangatnya api pendiangan di kamar tidurmu ?

Lalu kemana semua itu ?

Kenapa kau malah berdiri kedinginan di tempat asing yang tak kau kenal ?

Apakah kau sedang bermimpi ?

Atau kau sedang terjebak dalam sebuah delusi ?

Kau tak tahu. Semuanya terasa aneh. Otakmu tak dapat lagi berfikir logis, tak mampu membedakan mana yang kenyataan dan mana yang hanya sebuah angan.

Semua terasa sama, membeku menjadi satu dengan salju-salju ini.

Kau melangkahkan kakimu takut-takut, mengikuti jalan setapak tanpa ujung. Manik matamu mengawasi setiap barisan pohon yang seolah menari-nari menertawakanmu.

Gigimu bergemelatuk, nafasmu memburu, berderu menjadi satu memainkan sebuah simponi dengan gesekan angin beku. Kau tahu jika kau tak akan bertahan lebih lama lagi ditempat ini, meskipun ini hanya mimpi atau delusi bahkan jika ini kenyataan kematian yang perlahan menjemputmu terasa begitu menyakitkan.

Ditengah keputusasaanmu, terlihat sebuah bangunan besar dengan gerbang yang menjulang dihiasi oleh lentera-lentera kecil dibeberapa sudutnya.

Kau senang, tentu saja. Kau bisa beristirahat disana dan terhindar dari kematian. Kau mempercepat langkahmu, menyeret kakimu melewati butiran salju tergesa.

Tapi nafasmu tercekat, saat kau sampai didepan gerbang itu. Seorang gadis berbalut gaun hitam dengan rambut kecokelatan tergerai bebas bergerak-gerak tertiup angin. Matanya bewarna safir menatapmu dalam diam.

“Selamat malam tuan. Anda ingin masuk ke mansion menemui putri yang tengah berduka ?”

Suaranya lembut hampir menghilang diakhir kalimat.

Kau mengangguk tak yakin, tak tahu apa yang dimaksud gadis itu. Tapi kau tak punya pilihan, semakin cepat kau masuk ke bangunan itu, lebih baik.

Gadis itu tersenyum kecil kearahmu, seraya membuka gerbang dibelakangnya mempersilahkanmu masuk tanpa kata. Tangannya menggemgam jemarimu yang memutih, menuntunmu melewati jalanan berbatu menuju bangunan megah itu.

Tapi Langkah kakimu terhenti, jantungmu berdegup kencang, didepanmu, kini berjejer rapi ratusan batu nisan.

Sebenarnya tempat apa ini ?

Kau ragu.

Haruskah kau masuk kesana melewati makam-makam tanpa nama ?

Atau melangkah pergi meninggalkan tempat ini mencari yang lain ?

Tapi bangunan dibalik gerbang ini terlihat begitu hangat dari tempatmu berdiri, seolah membujukmu untuk masuk ke tempat itu, menantang nyalimu untuk berjalan diantara batu nisan.

Kau laki-laki, tentu saja keberanianmu tak perlu dipertanyakan. Tapi ditempat yang tak kaukenal, terjebak dalam kedinginan dan kegelapan, keberanian itu terkikis sedikit demi sedikit terganti oleh rasa ragu dan takut.

“Tuan ?” Suara gadis itu menarikmu dari lamunanmu, memaksamu melangkahkan kakimu kembali berjalan.

Gadis itu membuka pintu mansion, menimbulkan suara berderit yang memekakan telinga.

Pandanganmu disambut oleh lampu-lampu yang menempel di langit-langit, kursi-kursi ditata berjajar ditengah bangunan yang nampak seperti altar. Orang-orang duduk disana, tertunduk berlinang air mata dengan megemgam bunga mawar merah dan putih. Bibir mereka tergerak, menyanyikan doa diantar isak tangis menyatu dengan alunan biola membentuk irama yang menyedihkan ditengah salju yang membeku.

Jadi kau sedang berada didalam rumah pemakaman ?

Tapi pemakaman siapa ?

Dari sini, kau dapat melihat jauh didepan sana terdapat seorang gadis berdiri didepan peti mati.

Mungkin gadis itu yang dimaksud putri.

Kau berjalan melewati orang-orang berbusana hitam, menuju peti mati. mengucapkan bela sungkawa tidak ada salahnya bukan ?

“Aku turut berduka cita.”

Ujarmu lirih disamping gadis berambut hitam yang terus menatap peti mati itu dengan sendu. Kau tak dapat melihat wajah orang dalam peti itu, wajahnya tertutup kain putih berenda. Tubuhnya terbalut tuxedo hitam dan kemeja putih dengan dasi kupu-kupu bewarna biru.

Well, setidaknya kau tahu bahwa yang meninggal adalah seorang pria.

Mungkin yang meninggal adalah kekasih gadis ini.

“Terima kasih.” Jawab gadis itu seraya menatapmu dengan manik kecokelatannya. Wajahnya yang putih tertimpa cahaya lampu terlihat berkilauan.

“Dia kekasihmu ?” Tanyamu seraya menyentuh lembut peti kayu itu, menikmati ukiran-ukiran yang terdapat disana. “Siapa namamu ?”

“Namanya Hanbin dan aku Hayi. Kami sepasang kekasih yang tak direstui. Sekarang, Dia terbunuh, lehernya digorok hingga terputus. Isi perutnya dikeluarkan, bibirnya dijahit dan wajahnya disayat dan mayatnya dibekukan. Ia baru ditemukan sejam yang lalu, pukul tiga dini hari.”

Kau tercekat, Hanbin.

Kenapa namanya sama denganmu ?

Dan Hayi ?

Mungkin hanya kebetulan.

Ya, yang bernama Hanbin dan Hayi di Korea bukan hanya kau dan kekasihmu saja. Ada banyak nama Hanbin serta hayi, dan yang terbaring di peti itu salah satu dari ratusan orang yang bernama Hanbin.

Perutmu terasa mual, manusia macam apa yang tega membunuh seseorang sesadis itu ?

“Pelakunya sudah ditemukan ?” Tanyamu lagi, jemarimu membelai lembut bahunya seolah memberi sebuah kekuatan dan ketegaran.

Kau memandang kesekeliling, Hanbin ini pasti seseorang yang terkenal. Bayangkan saja tempat ini hampir penuh dengan orang yang kehilangan.

Tapi diantara kerumunan orang-orang itu, disana, dibarisan tengah dibawah lampu gantung bewarna kekuningan, berdiri sosok ayah dan ibumu.

Tunggu, bahkan disana disamping orang tua mu ada manager dan rekan-rekan kerjamu.

Hei, kenapa mereka juga berada disini ?

“Maukah kau melihat wajah Hanbin ?” Ucap gadis itu tiba-tiba tanpa menjawab pertanyaabmu, “Wajahnya tidak terlihat terlalu menyeramkan.”

Niatmu untuk memanggil orang tuamu dan beberapa rekan kerjamu tertunda.

Dengan sedikit ketakutan kau melangkahkan kakimu, tanganmu terulur sambil bergetar membuka kain putih berenda yang menutupi wajah kaku Hanbin.

Nafasmu tercekat, jantungmu berhenti berdetak, otakmu seolah berhenti bekerja saat melihat wajah mayat bernama Hanbin itu.

“Bukankah dia terlihat mirip denganmu, Tuan ?”

Kau hanya dapat terdiam, membisu, membeku, tertampar oleh suatu keadaan yang membingungkan.

~ooOoo~

“–Setelah menghilang lebih dari tiga minggu, Hanbin ditemukan pukul tiga dini hari oleh polisi. Namun dengan kondisi tubuh Hanbin telah terbujur kaku terkunci didalam Apartemen pribadinya yang telah ditinggalkan tiga tahun yang lalu.

Mayatnya membeku didalam lemari es dengan kondisi yang menyedihkan. Wajah yang penuh sayatan, bibir yang terjahit serta isi perutnya yang terburai keluar, dan kepalanya yang terpisah dari badannya menambah ketragisan pembunuhan ini.

Diduga Hanbin dibunuh oleh sasaeng fans yang telah meneror Hanbin satu bulan terakhir sebelum berita menghilangnya sang idol.

Para anggota keluarga, kerabat, sahabat, rekan kerja serta fans terpukul . Terlebih Lee hi, aktris yang dikabarkan menjalin hubungan dekat –“

~ooOoo~

Advertisements

4 thoughts on “[The Black Shadow Of iKON] A Dream

  1. Aku tercengang dari awal cerita, sejujurnya aku suka tata bahasa yang dipakai disini (?) walau agak bingung, aku kira ini di jaman kerajaan?/ /plaak/

    Ternyata Hanbin itu sudah mati ><
    Ugh, pas ngebayangin Hanbin di masukin dalam kulkas dalam keadaan kayak gitu.. Ugh, aku mual. .-. /plis, jan jadi alay/

    Keseluruhan aku suka sama konsep ceritanya~ Keep writing^^

    Like

  2. ini, tragis 😥

    awalnya bingung, tapi pas sampe ending agak clear, dikit. Bahahah maklum, otak cetek.

    jadi, yg mati si hanbin? trus yg ngomong sama hayi, siapa? jadi dia? ahsudaahlaahhh….

    Like

  3. hei, Ren. kukira kamu Ren, salah satu author disini,hahahaha..
    salam kenal, aku Aoko, 92L.

    kusuka penyampaian ragam diksimu yg kayak puisi d awal. per bait…dan deskripsi detail tentang Hanbin yg menemukan jenazahnya.. dan..aku sedikit bingung dengan cewek yg mengantar Hanbin ke peti mati itu, itu Hayi juga kah? kalo Hayi, berarti dia mati juga donks..

    keep writing!!
    dan semangat ya!!!
    🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s