[The Black Shadow of iKON] Secret Garden

Secret Garden by Echaminswag

Secret Garden

a fanfiction by echaminswag~

Lenght : Vignette (1k+) || Genres : AU!, Psychology || Rating : PG-17
Cast(s)
: [iKON] Kim Hanbin and [OC] Kelsi

Plot and poster officially mine!

 

Summary :
Ada sebuah taman rahasia di belakang rumahku.
Apa kau mau datang dan melihatnya?

.

.

Aku terperenyak sejemang, sebelum akhirnya membuka mata lebar-lebar. Kutengok benda bulat terpaku di dinding bercat putih gading itu yang berdenting menunjuk pada angka sebelas. Ini artinya, baru satu jam mataku berhasil terpejam dengan posisi tidur yang masih sama hingga aku tersadar; duduk menindihkan kepala pada kedua lengan yang terlipat di atas meja kayu bundar. Aku mengernyit demi mengenyahkan rasa pening yang tiba-tiba menumbuk saraf-saraf kepala. Lantas merenggut paksa benda persegi panjang yang barusan bergetar dan berbunyi nyaring di antara ceceran keripik melempem sebelah kaleng soda.

Sebuah pesan singkat terpapar di layarnya dengan nama pengirim ‘Kelsi’ dibagian atas. Dia memang sering menghubungiku saat tengah malam hanya untuk menanyakan, sedang apa. Sebuah pertanyaan konyol yang sudah jelas apa jawabannya. Entahlah apa tujuan Kelsi mengirimkan pesan padaku selama lima malam berturut-turut sejak kami resmi mengubah status menjadi sepasang kekasih. Padahal biasanya, dia tak banyak bicara disaat kami tengah bertatap muka.

Isi pesannya sama, dan selalu dikirimkan di jam yang sama pula. Heran.

Aku merangkak naik ke atas sofa sembari mengetik balasan untuk Kelsi. ‘Aku bersiap tidur, Kels.’ hanya itu yang kuketik, lantas segera menekan tombol send agar dapat kembali tidur. Biasanya, dia tak akan mengirim balasan lagi setelah itu. Tapi, malam ini berbeda. Sebuah pesan kembali kuterima begitu bagian belakang kepalaku baru saja menyentuh bantalan sofa.

Sial.

“Apalagi, sih?”

Gerutuanku mendadak luntur dan berganti menjadi ekspresi bingung tatkala membaca sederet kalimat yang Kelsi kirimkan sebagai balasan.

‘Ada sebuah taman rahasia di belakang rumahku.
Apa kau mau datang dan melihatnya?’

Aku tidak percaya, Kelsi akan mengundangku secepat ini untuk bertandang ke kediamannya. Gadis yang sebelumnya kukencani pun tak ada yang pernah memintaku untuk datang. Mereka selalu berkencan diam-diam. Alasan klise, mereka bilang selalu terhalang restu orang tua. Padahal aku tahu, mereka memiliki ribuan simpanan di luar sana.

Aku kembali mengetik balasan untuk Kelsi, mengatakan bahwa aku akan datang besok pagi. Namun sejemang, pesan kembali kuterima. Dia bilang, aku harus datang malam ini juga. Karena jika aku datang besok pagi, taman rahasia itu tak menarik untuk dilihat lagi. Memangnya, sespesial apa taman rahasia milik Kelsi itu hingga menyuruhku datang nyaris tengah malam begini?

Kuputuskan untuk mengabaikan permintannya yang terlalu konyol, lantas merebahkan lagi tubuhku di atas sofa. Mulai kupejamkan mata, namun yang ada malah tetap terjaga. Aku tak bisa kembali tidur, terlebih saat pesan yang baru kuterima memberitahukan alamat dari rumah Kelsi. Kupikir aku harus datang, malam ini juga.

Beringsut turun dari sofa, lantas kuraih mantel yang tergeletak begitu saja di atas lantai. Memakainya dengan segera, kemudian memutar knop pintu utama. Pintu berayun terbuka, dan kututup lagi dengan tergesa. Desau angin menyapa kala aku sampai di beranda. Jalanan komplek nampak lenggang, terang saja, siapa yang mau repot-repot keluar malam di penghujung musim gugur ini? Angin yang berembus bahkan telah memberi petunjuk akan datangnya buih salju sebentar lagi.

Aku melenggang, melewati beberapa gang remang. Pendar cahaya yang menuntunku hanya berasal dari tabur gemintang yang masih bersinar. Disela perjalanan, beberapa kali aku menggosok telapak tangan demi mendapat sedikit kehangatan. Alamat rumah Kelsi yang dikirimkan padaku tinggal beberapa blok lagi. Dan saat semakin dekat, langkah kakiku justru makin melambat.

Hanya ada beberapa rumah di komplek ini. Tak seperti komplek perumahanku yang padat penduduk, tempat tinggal Kelsi langsung bersisihan dengan jalan setapak menuju hutan. Bahkan ada di sisi rumah yang lain tumbuh pohon-pohon besar yang nampak seram. Aku mengecek ponselku sekali lagi, memastikan kebenaran dari alamat rumah Kelsi. Aku tak yakin jika gadis itu tinggal di tempat seperti ini. Bukan apa-apa, rumahnya memang dibangun sedemikian apik namun lebih mirip sebagai tempat tinggal sekumpulan mafia atau tempat bersembunyi tahanan yang kabur dari penjara.

Sungguh, jika aku lelaki penakut mungkin aku sudah lari dan kembali ke rumah untuk bergulung di atas gumpalan busa spring bed lalu esoknya tinggal memutuskan hubungan dengan Kelsi. Tapi, aku bukanlah lelaki seperti itu. Kuayunkan lagi tungkaiku menyusuri aspal sembari melisankan nomor tiga belas dari katup bibirku; nomor rumah Kelsi. Saat menemukannya, rumah Kelsi nampak jauh lebih layak huni ketimbang beberapa rumah yang tadi kulewati. Helaan napas lega lantas kuudarakan setelahnya.

Kutekan bel yang berada di luar pagar, dan tak lama seorang wanita paruh baya muncul dari sebalik pintu kayu mengkilap lantas membukakan pagar. Dia membungkuk dan mempersilahkanku untuk masuk.

“Nona Kelsi telah menunggu, mari saya antar ke tempatnya.”

Aku mengangguk, lantas berjalan mengikutinya. Interior rumah Kelsi terasa tak familiar bagiku. Banyak benda-benda aneh yang tergantung di dinding maupun yang diletakkan di atas nakas. Benda-benda yang kurang cocok untuk gadis seelok Kelsi, ya, biarpun dia memang sedikit pendiam. Beberapa ruangan juga nampak gelap dan terkesan horor. Mataku bahkan tak bisa berhenti waspada dengan melirik ke kanan dan ke kiri. Tak hanya itu, bibi yang mengantarkupun terlihat sedikit aneh. Rambutnya yang hitam dibiarkan tergerai hingga punggung. Serta bajunya yang lebih mirip seperti tudung milik Scarlett di dalam cerita Sisters Red, hanya saja warnanya hitam pekat.

Aku sampai, tapi, hanya gelap yang kujumpai. Bibi yang mengantarku telah kembali ke dalam, membiarkanku sendirian di tengah kegelapan. Kupanggil nama Kelsi beberapa kali, namun, tak ada balasan yang berarti. Aku mendengus kesal, Kelsi pasti mengerjaiku. Gadis itu tentu sudah terlelap selama aku melakukan perjalanan kemari. Sampai pada akhirnya sebuah lampu berpijar di tengah-tengah taman yang lantas membuatku mundur sempoyongan. Perutku disergap mual, dan kepalaku mendadak pening.

Apa yang kusaksikan ini, apakah semuanya nyata? Apa semua benda yang tergantung itu dulunya milik manusia? Secret garden yang Kelsi bilang bukannya sebuah taman yang berisi berbagai bunga warna warni, melainkan taman yang dipenuhi dengan ceceran merah pekat di atas tanah juga pohon-pohon yang berbuah jantung manusia. Bukan buah dalam arti yang sebenarnya, hanya saja benda-benda itu berjumlah cukup banyak yang sengaja di gantungkan menggunakan tali sling pada dahan pohon. Bahkan ada di antaranya yang masih baru dan meneteskan cairan kental berbau anyir.

Aku berbalik, berniat pergi lalu memuntahkan isi perutku kalau saja suara Kelsi tak menahan pergerakanku.

“Mau kemana? Kau ‘kan baru sampai.”

Nada suara Kelsi nampak lain dari yang kudengar sebelumnya. Kuputar tubuhku perlahan demi mendapati eksistensinya yang tengah menyeringai tipis. Bulu kudukku meremang seketika, terlebih saat mendapati tangan kanannya memegang sebilah pisau berlumuran darah. Ini salah, seharusnya aku tak pernah datang kemari meskipun Kelsi memintaku ribuan kali.

“Kels, a-apa ini?”

Dia tertawa, sesuatu yang tak pernah kulihat saat kami tengah bersama. Dia memicingkan matanya, menumbuk pandang ke arah salah satu benda berlumuran darah yang tergantung di dahan pohon.

“Itu,” Dia mengangkat jari telunjuk tangan kirinya, menunjuk benda yang tadi kusebutkan dengan memperlihatkan seringaian mengerikan. “adalah jantung milik Bobby, dia kekasihku beberapa jam yang lalu sebelum mati.”

Susah payah kutenggak saliva yang sebelumnya bercokol pada pangkal lidahku, lantas mundur beberapa langkah. Berupaya mencari jalan keluar, namun Kelsi makin gencar menertawakan.

“Kau tak bisa kabur, Kim Hanbin. Bibi yang mengantarmu kemari sudah mengunci rapat-rapat pintunya. Nikmati dulu kehidupanmu yang tinggal beberapa sekon, sebelum ajal menjemputmu dengan cara yang kotor.”

Tak lagi kulihat seringaian tercetak di bibir Kelsi. Airmukanya berubah serius dengan sorot tajamnya mengunci manik mataku. Aku tak mampu lagi merasakan udara yang berembus tatkala sebuah benda tajam merobek dadaku dengan brutal. Hanya tawa membahana serta picingan mata seram yang terakhir kali kuingat sebelum mataku terpejam rapat.

.fin.

 

HAPPY DEBUT iKON!!! 🙂

Advertisements

5 thoughts on “[The Black Shadow of iKON] Secret Garden

  1. *senpai detected

    ku tau dari penggambaran diksi dan kerapihan tulisan, kamu sudah sangat ahli di dunia tulis menulis.
    dan, ku suka ide cerita kamu yg nggak mainstream dengan pengolahan tulisan ya beh….
    *bow……

    btw,
    salam kenal, Aoko, 92L.

    Like

  2. Kak Echaaaaaa~~~~ nyangkut di sini juga ternyata hihik

    as always ku gak bayak omong kalo kak echa yg buat fanfic mah. senpainiim.. aku bisa apaaaaaaa

    btw Kelsi sadis juga. Bagaimana bisa, ah sudahlahhhhh

    Like

  3. Iih si Kelsi minta dibunuh! Masa Hanbin sama Bobbu dibunuh sih, padahal kan baru aja debut hiks 😭

    Ini kece banget, aku jadi ngeri sendiri ngebayanginnya wkwkwk XD

    Ehooo salam kenal. Ren, 00 liner 😊

    Like

  4. Kelsi mah horor. Dia serada kaya kena gangguan jiwa gitu ya cha? /udah jelas kakris plis/ okidee wkwkwk XD
    OH JADI INI SECRET GARDEN YANG DIMAKSUD OH JADI INI YANG INSPIRED BY SECRET GARDEN(?) YANG SO SWEETNYA GA KETULUNGAN GITU JADI FULL OF PSYCHOLOGYCAL PROBLEMS LIKE………….THIS IS LITERALLY A SECRET GARDEN (lu ngomong paan ris?)

    Bah……..ini bikin mual cha wkwk. Duh aku tapi kudu ngekek masa udah mual mual padahal kan belom ngapa ngapain sama jinan /astagfirullah rated/ pokok ini keren lah. Echa mah ngakungaku gabisa nge-zaiko tapi ini apaaaa? Hahaha XD

    Ps. Awas ketagihan cha bikin yg kaya begini /lah/ udah gitu aja deh. Bhay ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s