[The Black Shadow of iKON] Efemeral

unnamed

12233

EFEMERAL

Title : Efemeral

Author : Re

Genre : Mistery, Psycho

Length : Vignette

Rate : PG17

Cast :   Kim Jinhwan

Kim Jiwon

Kim Hanbin

Lee Jae Hee (oc)

Choi Shin Bi (oc)

Disclaimer :     As always, this story belong to me

Summary :       Tempora mutantur et nos mutamur in illis

Ulula cum lupis, cum quibus esse cupis

Morituri te salutant

 

Kesedihan.

Kepedihan.

Kekosongan.

Alunan piano melayang-layang di udara. Lengkingan biola menyayat sel – sel hidup yang serasa telah mati. Suara sopran seorang wanita berkebangsaan German membahana beriringan dengan melodi yang membuat suhu udara merendah. Berharmonisasi dengan paduan suara alto dan bariton, seakan menyemarakan kesakitan yang disampaikan sang musik. Terdengarlah seni suara berdarah, yang menyebarkan dingin di seantero ruangan dengan bangku-bangku kosong yang menghadap altar.

Di altar tempatku menapakkan kaki, seberkas cahaya matahari yang melewati atap kaca bening, jatuh di permukaan kayu yang licin. Menyebabkan penutup peti mati yang kini sedang kutelusuri dengan telunjuk kurusku berpendar bak tersentuhabhati–cahaya agung- dari Tuhan.

Perlahan, dengan tangan gemetar hebat kugeser penutupnya hingga tubuh dingin yang terbaring dibaliknya dapat terlihat dengan jelas. Bukan pemandangan yang elegan untuk kugambarkan. Namun tak menjijikkan bagiku, karena betapa berartinya ia untuk diriku semasa hidupnya.

Kuambil sebuah belati di saku kemeja putihku. Lalu perlahan-lahan alunan musik yang penuh kesedihan berganti menjadi paduan suara yang menakutkan. Penuh dengan kekejaman, teror dan kegelapan. Seakan memacu jantungku bertabuh keras.Menekanku dari dalam diriku hingga nafasku berat.Tanganku mencengkram belati lebih kuat, kemudian serta merta kugoreskan ujung tajamnya di telapak tangan kiri. “Argh!” erangku.

Cairan kental menembus permukaan kulit tipisku dan mengalir tepat ke bawah. Ke wajah seseorang yang terbaring tadi. Setetes demi setetes dipadu dengan musik yang kembali mengalun pelan seperti sebelumnya. Jantungku masih berdebar hebat, namun hal itu dikalahkan dengan hal magis yang kusaksikan kini. Tiap tetes darahku yang menelusup ke dalam daging busuk, menimbulkan sepetak kulit baru. Terus dan terus, kulit dan otot saling menguntai hingga dapat kulihat dengan jelas wajah seorang pemuda. Kim Jiwon.

Kusingkirkan penutup peti mati dengan kasar hingga menimbulkan debum keras di lantai marmer demi melihat tubuh pemuda itu kembali seperti sebelumnya. Aku tersenyum puas melihatnya, namun bersamaan dengan itu pula aku ingin menangis sejadinya.

“Jiwon ah,” kusebut namanya sembari memeluk tubuh yang berbalut tuxedo itu dengan erat. Seakan tak ingin lagi kehilangannya. Seakan tak akan ada lagi yang bisa memisahkanku darinya. Seperti lima tahun yang lalu.

Saat itu, aku ingat jelas bahwa langit sangat cerah. Bayang-bayang pohon memanggil anak-anak untuk bergelung di bawahnya, termasuk aku. Dengan senjata andalanku, kugoreskan pensil di atas buku gambar usang yang halamannya tak lagi bersatu dengan sempurna. Menikmati anak-anak yang berlarian di sekitar gereja dan mengabadikannya dengan jariku.

 

“Kau menggambar lagiHyeong?”

 

Kim Jiwon yang berumur setahun lebih muda dariku berjongkok di sebelahku sembari melongok hasil karyaku. Ia tersenyum usil. Tubuhnya yang lebih besar dariku justru membuatnya nampak lebih tua dariku. “Oh,” jawabku mengiyakan.

 

“Kau sangat mencintai panti asuhan ini.” Kalimatnya merupakan pernyataan yang berulangkali telah ia lontarkan padaku.

 

Aku tersenyum tipis. Kemudian mata sayuku menatap ke kejauhan. “Tidak ada hal lain yang kumiliki selain semua ini. Jadi bagaimana mungkin aku tak benar-benar mencintainya? Bukankah kau juga mencintai tempat ini?”

 

Dahi remaja di sampingku berkerut hingga alisnya saling bertemu. “Tidak . . . hmmm, tidak sepenuhnya.”

 

“Tidak?” tanyaku tak mengerti maksudnya.

 

“Aku mencintai tempat ini, karena Jihwan Hyeong ada di sini. Karena Jae Hee ada di sini. Juga Hanbin dan Shin Bi ada di sini. Kemanapun kalian berada, maka aku akan mencintai tempat itu.”

 

Aku tersenyum lebar mendengarnya.”Benarkah? Kau akan mengikuti kemana pun aku pergi?”

Aku ingat ia mengangguk. Kemudian berkata dengan penuh keyakinan, “Aku akan mengikutimu selamanya!”

 

“Kau terlalu bersemangat Kim Jiwon!” teriak seorang pemuda yang mendekati kami. Di belakangnya dua orang gadis mengekor. Pemuda itu adalah KimHanbin, gadis yang satu adalah Choi Shin Bi dan gadis yang satunya lagi merupakan tambatan hati Jiwon, Lee Jae Hee.

 

Hari-hari itu dipenuhi dengan tawa dan canda. Kami berlima selalu bersama bahkan setelah lulus dari kelas dua belas dan tinggal bersama semenjak masa perguruan tinggi. Kukira saat itu akhirnya aku mendapat kebahagiaan yang abadi, nyatanya aku salah.

 

“Aaaarrrgh!” teriakku kesakitan karena tubuh yang kupeluk rupanya mencengkram leherku dengan erat. Tubuhku berusaha mundur ke belakang, namun tangan Jiwon menahanku.Aku tak bisa bergerak sedikit pun.

Masih dengan tangan yang menekan leherku, Jiwon bangkit dari peti mati lalu mendorongku perlahan menjauh dari altar. Kami berdua berada di lorong antara bangku panjang para jemaat. “Jiwon ah,” panggilku.

Mataku dan mata Jiwon bersirobok. Aku terkesiap karena bukan sepasang mata seperti dulu yang berada di sana. Yang ada di depanku, tak bisa dikatakan sebagai mata seorang makhluk hidup. Iris matanya bak diselubungi jaring laba-laba kelabu yang berhasil membuatnya terlihat hampa sekaligus kejam. Ekspresi dingin terpatri di sana.

Tubuhku gemetar, namun tak sekali pun aku berniat lari darinya. “Jiwon ah,” panggilku lagi.Dia mengeratkan cengkramannya hingga bisa kurasakan salah satu kukunya menusuk kulitku. “Jiwon ah, aku . . . arrgh membangkitkanmu dari kematian dengan darahku,” ucapku pelan.

“Kenapa?” tanyanya tanpa ekspresi. Suaranya seakan geraman yang berasal dari kejauhan. Manik hitamnya masih tak beralih dari mataku.

Aku menghela nafas pelan demi melontarkan alasannya. “Karena . . . Jae Hee,” ucapku yang membuatnya semakin lekat menatapku. Kurasa bagian dari dirinya yang bukan monster, kini sedikit terpanggil. “Karena Jae Hee telah pergi dari dunia ini dengan cara yang tak pantas.”

Cengkramannya mengendur. Sekilas, aku melihat sosoknya yang dahulu. “Apa kau tahu? Dengan membangkitkanku dari kematian, itu berarti kau menjadikanku monster? Aku . . . haus,” bisiknya sedingin es. Ia mengendus leherku yang terluka, menikmati harum yang menguar dari pembuluh darahku. Kali ini seluruh tubuhku memberi sinyal bahaya yang nyata.

Kuabaikan ketakutanku lalu kuangkat lenganku hingga ke mulutnya. “Aku tahu. –masih kutatap ia dalam- Aku memerlukanmu untuk mengetahui pembunuh itu dan untuk memberinya keadilan yang layak ia dapatkan.” Jiwon menatapku penuh tanya, tanpa mengatakan apapun ia beralih menatap ke pergelangan tanganku. “Jae Hee dibunuh dengan cara yang sama denganmu. Kalian berdua direnggut dariku. Aku tak bisa hanya diam melihatnya Jiwon ah.”

Tangan Jiwon kini mencengkram lenganku. Aku bisa merasakan kekuatan yang besar dari cengkramannya. Jiwon yang dahulu, tak akan melakukan hal itu padaku. Namun, aku sepenuhnya sadar bahwa saat ini setengah dari jiwanya merupakan iblis. Lagi-lagi ia mengendus penuh dahaga. “Kenapa bukan kau yang melakukannya?”

Kurasa aku berhasil menguasai diriku dari ketakutan. “Karena kau yang pantas mengadili sang pembunuhnya, bukan aku,”ucapku lembut sembari menyentuh surai hitamnya. “Oleh karena itu, aku yang akan membuka jalan untukmu. Dengan darahku, kau akan tahu segala hal yang perlu kau tahu tentang kematianmu dan kematian Jae Hee. Lalu kau bisa mengadili sang pembunuh itu.” Aku tersenyum lemah padanya, lantas kudekatkan pergelangan tanganku pada Jiwon. Pemuda itu melirikku sepersekian detik lalu membuka mulutnya di atas permukaan kulitku. Aku memejamkan mata dan menggigit bibir, merasakan sensasi dagingku yang terkoyak. Hawa panas sekaligus ketakutan seakan berpusar-pusar di ulu dadaku.

Dan inilah, yang dilihat Jiwon melalui darahku.

Malam itu, butir-butir salju tengah ditumpahkan dari langit. Segala penjuru tempat yang kulihat diselimuti lapisan putih. Seakan aku berada di dunia asing, tak lagi berada di tempat yang biasa kupijak. Sayup-sayup paduan suara terdengar di kejauhan, membuatku merindukan suasana panti asuhan yang telah meluluskanku tiga tahun sebelumnya.

 

Aku mendengar langkah seseorang melewati salju di belakangku, sebelum akhirnya ia mengeluarkan suara. “Kau bisa mati kedinginan di atap ini Hyeong.”

 

Kepalaku memutar, mendapati Hanbin yang berdiri sembari memasukkan tangannya di kedua sakunya. Dengan mantel tebal dan beanie berwarna coklat tua, ia terlihat lebih muda dari umurnya. “Lantas kenapa kau ke sini? Mau mati bersamaku?” candaku padanya.

 

Kukira aku akan mendengar tawa dan balasan canda darinya, namun Hanbin tak tertawa sedikitpun. Ia berjalan dan berdiri di sampingku. “Apa sesakit ini Hyeong?”

 

Alisku bertautan. “Apa?”

 

Pemuda di sampingku menatap kejauhan. Jelas terlihat ada hal besar tengah berkecamuk di benaknya.“Aku ingin tahu bagaimana cara menghilangkan sakitnya.”

 

“Kim Hanbin, aku tak mengerti maksudmu.”

 

Alih-alih menjawab pertanyaanku, seseorang yang juga telah kuanggap sebagai adikku sendiri itu justru tersenyum padaku. Senyum yang belum pernah kulihat, senyum yang tak kusangka bisa ditunjukkan olehnya. Senyum itu mengerikan. “Aku akan mengobati lukaku dulu Hyeong.” Lagi-lagi ia tersenyum seperti tadi, kemudian berjalan meninggalkanku.

 

Keesokan harinya, mayat Jiwon ditemukan di tempat tidurnya. Tak ada darah di sana, tak ada bekas apa pun yang ditinggalkan sang pembunuh tak terkecuali racun yang menguap begitu saja di tubuh Jiwon. Seakan Jiwon hilang tanpa sebab dari muka bumi ini.

 

Saat itu aku menangis bersama Jae Hee, begitu juga dengan Shin Bi. Hanya Hanbin yang tak mengeluarkan suara sedikitpun, namun aku bersumpah, selama sepersekian detik, aku melihat seberkas senyum di wajahnya.

“Arggh!” erangku tertahan kala Jiwon menghisap darahku lebih dalam. Mataku terpejam erat. Bisa kurasakan emosi yang membuncah darinya. Aku tak pernah mati, namun aku memahami dirinya yang melihat kematiannya sendiri melalui mata orang lain. Dendam yang semakin mengakar di dadanya seakan tertanam juga di dadaku.

“Arrgh!” teriakku lebih keras kali ini. Kulitku seakan memanas, pembuluh darahku seolah dialiri oleh lahar yang meletup-letup. Seluruh tubuhku maupun tubuh Jiwon bergetar hebat. Jiwon semakin dalam melihat ingatanku.

Saat itu bulir-bulir putih masih renyai turun ke bumi. Hari itu hanya terpisah beberapa hari dengan kematian Jiwon. Aku tengah membawa beberapa peralatan menggambarku menuju apartemen ketika kudengar suara erangan Hanbin. Lalu suara Shin Bi menyertainya. Kulihat keduanya saling berpelukan. Karena terkejutdengan hal itu, akhirnya aku memilih menyembunyikan diriku di balik tembok.

 

“Aku . . . telah membunuhnya Shin Bi, aku . . . tapi Jae Hee, sama sekali tidak bisa melupakannya. Ini sangat sakit Shin Bi yaa, sakit!”

 

Ragaku mengejang mendengar ucapan Hanbin. Kutempelkan tubuhku di tembok dan berusaha berpegangan erat pada ujungnya. Saat itu aku sulit untuk percaya pada telingaku.

 

Shin Bi mengucapkan beberapa kalimat yang masih kuingat jelas hingga hari ini, “Aku tidak bisa membiarkanmu sakit. Aku akan menghilangkan semua penyebab kesakitanmu.” Shin Bi mengelus rambut Hanbin. “Aku sudah menyingkirkan wanita yang membuatmu sakit. Kau tidak akan sakit lagi mulai saat ini, kau hanya perlu melihatku.” Hanbin hanya terus menangis di pelukan Shin Bi setelah mendengarnya.

 

Aku hampir tidak kuat memijak pada bumi saat itu. Ketika mereka akhirnya meninggalkan tempat itu. Bergegas aku menuju ke apartemen, dan . . . tubuhku segera luruh ke lantai ketika kudapati tubuh tak bernyawa Jae Hee tergeletak di tempat tidurnya.

 

Aku berteriak dan meraung.

“Arrgh!” erangku kembali saat Jiwon menarik mulutnya dari kulitku. Tubuhku limbung saat ia melepaskanku. Kulihat bekas gigitan dalam yang ada di tanganku. Rasanya benar-benar sakit, tapi aku tak keberatan dengan itu. Kembali aku menatap Jiwon. “Kau . . . yang pantas mengadili pembunuhnya.”

Mayat hidup di depanku tak mengatakan apa pun. Namun jelas kulihat api yang membara di mata dingin tadi. Ia marah, sangat marah. “HAAAAA!” teriaknya yang seakan membuat gereja bergetar.

Pintu gereja tiba-tiba terbuka lebar. Dua orang lelaki berpakaian gelap, masing-masing menyeret seseorang yang diikat dengan tali. Salah satunya perempuan, dan satunya lagi lelaki yang masih melawan dengan ganas.

Mereka adalah Hanbin dan Shin Bi.

Ketika sampai di depan kami, ikatan keduanya dilepaskan, lantas mereka dilemparkan hingga berlutut di lantai. Kemudian dua orang lainnya keluar dari gereja, yang menyisakan kami berempat. Hanbin dan Shin Bi memekik kaget ketika melihat dua orang di hadapan mereka.

Hyeong, apa yang kau lakukan? Kenapa Jiwon . . . hidup lagi? Apa yang kau lakukanHyeong? Kenapa . . . ” Hanbin terdengar panik.

Jiwon mendekati Hanbin perlahan. Pemuda yang berlutut di lantai itu berdiri lalu mundur ke belakang seiring langkah Jiwon yang mendekatinya. “Kau bukan Jiwon! Kau bukan Jiwon!”

“Ya, aku bukan dia, kau sudah membunuhku. Aku adalah iblis yang kau ciptakan Kim Hanbin.”

Hanbin melotot “Apa? Aku tidak membunuhmu! Bukan aku!”

Jiwon mencengkram leher Hanbin dengan tenang, di lain pihak, Hanbin terus meronta sejadinya. Shin Bi yang berada di lantai, kini berusaha menarik Jiwon. Namun dengan mudahnya, gadis itu dihempaskan. “Lepaskan aku! Jiwon ah! Aku tidak membunuhmu Jiwon ah!” teriak pemuda yang kakinya mulai terangkat dari lantai.

Kini Shin Bi menerjangku. “Hyeong, tolong Hanbin Hyeong! Tolong dia!” Aku bergeming menatap segalanya. Tak kupedulikan tangis Shin Bi yang mulai pecah. Tanganku mengepal. Entah mengapa, segalanya terlihat ironis bagiku. Dahulu mereka saling bercanda, saling memukul dan berbaikan kembali. Namun, saat ini hanya ada satu jalan untuk menyelesaikan segalanya yang telah mereka mulai.

“AAAARGGGH!” Hanbin kembali memekik, namun menit berikutnya teriakan itu semakin melemah dan melemah, lalu hilang ketika Shin Bi menarik kaki Jiwon.

“HANBIN AH!” jeritan Shin Bi menguar di udara. Ia menghampiri tubuh pemuda yang dicintainya yang merosot di lantai. “KIM HANBIN! HAN . . . aaaarggh!”

Jeritan gadis berwajah pucat itu terhenti di udara karena Jiwon menyeretnya melewati lorong kemudian melemparkannya menuju peti mati di altar. Kepala Shin Bi terbentur tepinya hingga ia terpental ke lantai.

“Kau akan membayar perbuatanmu atas Jae Hee,” ucap Jiwon kaku bak malaikat pencabut nyawa yang siap melaksanakan tugasnya.

“Aku bersumpah! Aku tidak membunuh Jae Hee, Jiwon ah! Aku bersumpah! Hyeong! Katakan padanya bahwa aku tak membunuh Jae Hee! Hyeong!” Tangis gadis itu semakin menjadi. Aku mengalihkan tatapanku dari sosoknya yang terlihat mengenaskan.

“Kau bisa membawa kebohonganmu hingga mati,” ujar Jiwon. Selanjutnya, ia merengkuh tubuh gadis tak berdaya itu dan dengan cepat menanamkan taringnya di leher sang gadis. Kusaksikan sendiri bagaimana mata Shin Bi yang melebar ketakutan dan menatapku, hingga mata itu akhirnya menutup sempurna. Jeritannya menghilang begitu saja.

Inilah akhirnya.

Benarkah ini akhirnya?

Jiwon berbalik ke arahku. Aku bisa melihat darah yang menetes-netes dari mulutnya. Matanya menatapku kalut. Tiba-tiba secepat kilat ia menerjang tubuhku dan menarik kerah kemejaku. “Kau membohongiku!” teriaknya tepat di wajahku.

“Apa maksudmu?”

“Saat aku menghisap darah Shin Bi aku tak melihat ingatannya tentang membunuh Jae Hee! Yang kulihat adalah ingatannya yang melihatmu memasukkan racun pada minumanku! Lalu mendengar pengakuan dosamu yang telah membunuhku, juga membunuh Jae Hee karena gadis itu tahu bahwa kau adalah pembunuhku! Apa itu benar? MANA YANG BENAR? INGATANMU ATAU INGATAN SHIN BI! KATAKAN PADAKU!”

Jiwon menatapku dengan segenap amarah yang ia miliki. Aku membalasnya sama lekatnya. Matanya seakan-akan bisa membakarku hidup-hidup. Mata itu terlihat sangat . . . lucu. “Hmm, hahaha HAHAHAHAHAHAHAHA! HAHAHAHAHA!” Ia sungguh-sungguh bisa membuatku terbahak-bahak saat ini. Jiwon terlihat sangat konyol dan menyedihkan. “HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA! Jika aku bisa membangkitkan orang mati sepertimu, maka sangat mudah bagiku untuk memanipulasi ingatanku sendiri menjadi yang kumau Jiwon ah, kau terlalu lugu HAHAHAHAHAHA! ”

BRAK!

Tubuhku dilemparkan ke lantai. Kurasa tulangku patah di beberapa tempat. “Kenapa kau melakukannya?” tanyanya. “Kenapa kau membunuhku? Lalu Jae Hee, lalu kau membangkitkanku lagi! Kenapa?”

Masih sedikit geli, aku membetulkan posisiku hingga bersila di depan iblis yang tengah terbakar amarah. Menantang tusukan matanya. “Kenapa aku membunuhmu? Hmmm . . . karena kau mengingkari janjimu Jiwon ah! Kau bilang kau akan mengikutiku selamanya! Nyatanya apa? Kau bermaksud menikahi Jae Hee lalu meninggalkanku di negara ini sendiri! Kau bermaksud meninggalkanku sendiri!”

“Apa? Apa karena itu?”

“Jangan pernah berjanji ‘selamanya’ jika kau tak bisa menepatinya. Tidak ada kata selamanya di dunia ini Jiwon ah, hanya ada keabadian di kehidupan setelah mati.” Aku tersenyum pada pemuda di depanku. “Jadi aku membunuhmu dan mengirimmu di dunia itu agar kau bisa menepati janji selamanya untuk tidak meninggalkanku setelah aku menyusulmu.Lalu aku sadar, bahwa aku harus mengirim Jae Hee dan lainnya juga agar kita berlima selalu bersama.”

Rasa bahagia menyertaiku ketika memikirkan segalanya yang telah kulakukan padanya dan Jae Hee.Ah, itu sangat menyenangkan. “Jadi pertama-tama kukirimkan Jae Hee untuk menemanimu, sehingga aku memiliki alasan untuk memanggilmu kembali ke dunia ini. Karena kau sendiri yang harus menjemputku dan dua orang lainnya. Agar nantinya di dunia setelah kematian kau bisa menghargai janjimu untuk selalu mengikuti kakakmu ini, Jiwon ah.”

Tubuhku kembali ditarik ke atas olehnya. Kakiku bahkan tak lagi menyentuh lantai. “Kau gila Hyeong! Kau gila!” teriaknya.

Aku tertawa kecil. “Tidak, aku hanya mengajarkan hal yang seharusnya diajarkan pada adik-adikku. Menunjukkan bahwa aku memaafkanmu yang telah mengingkari janji, dan menunjukkan jalan yang benar untuk memenuhi janjimu.”

Jiwon menatapku penuh kebencian. Kenapa ia menatapku begitu? Itu membuatku sedih, seharusnya ia bersyukur karena aku adalah sosok kakak yang sangat peduli pada adik-adiknya, yang telah memaafkannya dengan ikhlas. Menunjukkan cara yang tepat agar kami bisa bersama-sama sampai akhir waktu. Kenapa ia tak mengerti? “Jiwon ah, jika kau membunuhku sekarang maka kau juga akan kembali mati. Jadi mengapa tak cepat kau lakukan? Kita bisa segera berkumpul berlima kembali di alam baka.” Aku menyentuh rambut Jiwon dan tersenyum susah payah.Pemuda itu menatapku iba. “Aku tak ingin sendirian lagi. Jangan tinggalkan aku sendiri.”

Setetes air mata mengalir di pipi Jiwon. “Hyeong . . . “ Kata itu yang terakhir kudengar dari mulut Jiwon. Karena setelahnya, yang kurasakan adalah giginya yang menembus leherku. Mengoyak kulitku sangat dalam. Tubuhku mengejang karenanya. Dalam kesakitan itu, mataku memburam karena air mata.

Meskipun tak jelas, aku melihat seorang anak dengan tubuh ringkih berdiri memandangi kami dari deret bangku paling belakang. Anak itu . . . adalah aku yang berumur enam tahun. Memegang buku gambar dan pensil yang mulai memendek. Dengan diiringi alunan musik yang penuh luka, aku tersenyum padanya. Mengatakan padanya bahwa ia tak kan sendiri lagi. Selamanya.

Dua puluh tiga tahun silam, aku tengah menggambar sembari menunggu ibuku yang tengah menyiapkan makanan. Saat itu, aku tak banyak berharap untuk makan enak, karena terbiasa dengan sisa makanan yang sering dibawa oleh ayah. Namun, hari itu ibu menyiapkan makanan yang sangat spesial.

 

Ia menghampiriku dengan sepiring ayam goreng yang terlihat lezat. “Makanlah,” ucapnya lembut.

 

Aku tersenyum padanya, lalu mengangguk. Wanita kurus itu menjauhiku namun berbalik kembali ketika aku memanggilnya. “Terimakasih ibu, aku bahagia memiliki ibu sepertimu. Aku tak akan berpisah denganmu selamanya!” ucapku riang.

 

Ibuku kembali tersenyum dan menatapku lekat. “Ibu juga akan bersamamu selamanya, Jinhwan ah.”

 

Kalimatnya saat itu adalah kalimat yang terakhir kudengar darinya. Karena selanjutnya, yang kuingat adalah, aku terbangun dalam kegelapan dengan kepala yang sangat pening. Aku berusaha mencari saklar dengan susah payah. Ketika lampu menyala, kutemukan kedua orang tuaku yang tertidur di meja makan. Aku berusaha membangunkan mereka. Terus mengguncang tubuh mereka hingga aku menangis. Namun mereka tak pernah bangun lagi, sekeras apa pun usahaku untuk membangunkannya. Mereka tak pernah lagi membuka mata.

 

Di meja itu, ada tubuh kedua orang tuaku, buku gambarku dan juga sebuah botol bergambar tengkorak yang telah kosong isinya.

 

Mereka meninggalkanku sendiri di dunia ini.

 

Mulai saat itu aku tahu, bahwa tak kan pernah ada kata ‘bersama selamanya’ di dunia yang fana. Seperti janji Jiwon itu, janjiefemeral –tak kekal-. Karena keabadian hanya bisa diwujudkan setelah kematian.

 

Tempora mutantur et nos mutamur in illis

(Waktu berubah dan kita berubah seiring dengannya)

Ulula cum lupis, cum quibus esse cupis

(Melolonglah bersama para serigala yang disinginkan)

Morituri te salutant

(Mereka yang akan mati memberi salam)

FIN.

Advertisements

3 thoughts on “[The Black Shadow of iKON] Efemeral

  1. DAEBAK!!!!

    aku sungguh terpukau dengan imajinasi kamu yg luar biassa, ide cerita yg sangat tak biasa, trus kamu twist sedemikian rupa, sehingga aku bener-bener nggak nyangka kalo endingnya kayak gitu.

    btw, Re. salam kenal, Aoko 92L.
    *kepo nih, pengen nanya..kamu nulis judul & semacam kata puisi itu pake bahasa latin bukan? dapet darimana y puisi itu?

    Kutunggu karyamu yg lain..
    dan keep writing
    🙂

    Like

  2. Da heck. what an unexpected plot.

    Oke, kugaktau harus mulai dari mana, karena ini terlalu mencengangkan. Yang jelas, ini keren. Gaada celah untuk dikritik.

    Dari sini, kuambil pelajaran bahwa memang gaada yg namanya ‘selamanya’. cara pembawaan ceritanya luar biasa, aku hampir heart attack ! Keren !

    btw, Rika, 98’s^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s