[The Black Shadow of iKON] Love Test

LoveTest.

Siskarikapra © 2015

Vignette (2000K+) | AU! Psycho-Thriller | PG-17

iKON’s Song Yunhyeong & YG’s Trainee Kim Jisoo

(slight appearance of Kim Hanbin)

Disclaimer : Adapted from an urband legend with the same name. I used my own plot. Casts belong to God, their family and agency. I owned nothing but artwork and storyline. Please read it till finish or you’ll regret. Take your own risk.

|

“Hanya itu saja? Syarat untuk menjadi kekasihmu?”

|

|

|

Seluruh pasang mata di koridor sekolah pagi itu tak lepas dari sesosok figur gadis yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Sedang yang dipandang tak sungkan sama sekali bahkan malah melengkungkan kurva yang bisa menjatuhkan banyak siswa menjadi korban lantaran terlalu mematikan. Bahkan seorang Song Yunhyeong yang notabene tak memedulikan soal asmara yang kebetulan ada di koridor saat gadis itu lewat, turut membatu dibuatnya.

“Whoaa..”

Hanya itu, mayoritas seruan itu yang tertangkap oleh gendang telinga Yunhyeong. Seluruh siswa seakan terhipnotis akan kehadiran gadis itu yang siapa tepatnya pun Yunhyeong tidak tahu. Siswi baru, mungkin? Benaknya.

Lepas dari pemikirannya sendiri, Yunhyeong menyadari bahwa gadis itu berubah haluan dan memasuki kelas yang ada di ujung koridor, kelas III-A, kelasnya. Maniknya mengerjap beberapa kali sebelum otaknya sinkron dan memutuskan berlari menuju kelas kalau saja kerah bajunya tidak ditarik dari belakang.

“Eh, apa-apaan? Lepas!”

Yunhyeong berbalik mendapati Kim Hanbin si junior sialan yang akrab dengannya. Seringai tajam menghiasi wajah Hanbin saat itu, membuat dahi Yunhyeong berkerut sebentar kemudian ia terkikik geli.

“Apa?”

“Dia milikku, Hyung.” Ucap Hanbin penuh percaya diri.

“Terserah, bocah!”

Yunhyeong melesat setelah itu. Tangan Hanbin kalah cepat, niatnya ingin kembali menghentikan seniornya. Tetapi Yunhyeong gesit. Kini punggungnya menjauh dari pandangan Hanbin dan ia segera berbelok masuk ke kelas. Meninggalkan Hanbin yang masih tergeming di depan kelasnya sendiri.

 

“Halo. Namaku Kim Jisoo. Semoga kita bisa berteman baik. Mohon bimbingannya.”

Dengan berakhirnya kalimat yang diucapkan Jisoo—si murid baru sorak sorai terdengar begitu keras hingga Guru Shin harus memukul papan tulis beberapa kali untuk menghentikan keriuhan yang telah tercipta.

Setelah dipersilahkan memilih tempat duduk, Jisoo mengamati seisi ruangan. Seluruh manik siswa di kelas masih mengagumi Jisoo yang sibuk meneliti sekitar. Sedangkan beberapa tatapan membunuh para siswi pun terpatri pada dirinya yang tampaknya tidak peduli sama sekali.

Guru Shin memukul meja nyaring sekali untuk kembali mendapatkan perhatian dari para siswa dan segera memulai kelas. Jisoo memperhatikan materi yang disuguhkan Guru Shin dan sesekali menggoreskan pensilnya pada buku catatan. Berbeda dengan lelaki di sampingnya—Yunhyeong, yang lebih memilih untuk memerhatikan hasil karya Tuhan yang kini duduk tepat di sebelah mejanya.

Di tengah lamunannya, Yunhyeong tersadar. Tak ada seorang gadis pun yang dapat menerima kekurangannya. Bahkan jika orangtuanya sendiri tahu akan kebiasannya, mungkin namanya akan dihapus dari daftar anggota keluarga.

Hari berlalu begitu cepat, bel pulang sekolah berdering beberapa menit yang lalu. Satu persatu siswa meninggalkan ruang kelas. Tetapi tidak dengan Yunhyeong. Ada sesuatu yang harus ia lakukan tanpa perlu diketahui oleh orang lain. Siswi terakhir yang meninggalkan kelas adalah Jisoo. Yunhyeong beranjak dari kursinya saat Jisoo hampir tiba di ambang pintu.

“Kau tidak pulang?”

Yunhyeong berbalik, menatap Jisoo lamat-lamat kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, berspekulasi bahwa bisa saja bukan dirinya yang diajak berbicara oleh gadis itu.

“Siapa? Aku?” tanya Yunhyeong

“Iya. Memangnya siapa lagi?”

“Ah, ada sesuatu yang harus ku lakukan.”

Jisoo menatap Yunhyeong beberapa saat. Kemudian mengangguk paham lalu menapakkan kakinya ke luar kelas bergegas untuk pulang.

Selepas Jisoo meninggalkannya, bisa Yunhyeong katakan bahwa jantungnya serasa main perkusi. Tak pernah terbesit dalam benaknya bila ada seseorang yang mengetahui apa yang ia simpan di dalam loker kelas. Tarikan napas berat meloloskan diri lewat mulutnya.

Setelah mengecek situasi dan kelihatannya benar-benar aman, ia putuskan untuk kembali menuju loker di belakang kelas. Jari-jari lentiknya memutar angka kombinasi sandi pada gembok pengaman. Klik! Lokernya terbuka lebar dan menguarkan aroma yang sangat ia sukai. Setelah mengambilnya, buru-buru Yunhyeong menaruhnya dalam ransel dan segera melangkahkan tungkainya ke luar kelas.

_|_

“Kau tahu, kudengar semua lelaki yang mengajaknya kencan, berakhir dengan tragis! Mereka semua stress! Bahkan kudengar Kim Jiwon murid kelas III-B masuk rumah sakit jiwa kemarin!”

“Yang benar saja?!”

Langkahnya terhenti, Yunhyeong melepas earphone yang ia kenakan kala percakapan itu singgah di indera pendengarannya. Dua siswi yang sedang bergosip di sampingnya sontak kelihatan tidak nyaman atas tatapan yang ia lontarkan.

Satu bulan berlalu setelah kepindahan siswi baru di kelasnya, Kim Jisoo. Memang bukan hal baru bagi Yunhyeong untuk mendengar kicauan para siswi lain di koridor saat dirinya hendak memasuki ruang kelas. Tetapi lain hal dengan yang baru saja ia dengar.

Dari sudut pandangnya, Jisoo bukanlah pribadi yang buruk. Ya, walau baru satu bulan lamanya mereka mengenal satu sama lain. Tetapi dari yang sering Yunhyeong amati, Jisoo adalah gadis yang baik. Ia sering meminjami Yunhyeong catatan sejarah untuk disalin saat dirinya pergi ke dunia mimpi kala jam pelajaran berlangsung. Bukan sekali atau dua kali juga Yunhyeong ditawari makan bersama oleh gadis itu.

Neuron di dalam tempurung kepalanya kembali memroses dan berusaha sebaik-baiknya menyampaikan informasi untuk ia cerna. Kepalanya menggeleng apatis. Kemudian berlalu begitu saja tak mengacuhkan apa yang baru saja mampir di telinganya.

Langkah pertama Yunhyeong memasuki ruang kelas, pandangannya langsung tertanam pada gadis yang duduk tepat di sebelah mejanya. Manik mereka saling bersirobok. Salah satu sudut bibir Yunhyeong naik tinggi sekali.

“Selamat pagi.” Ucap Yunhyeong

“Pagi, Yunhyeong.”

Simpul tipis menghiasi wajah Jisoo. Atensi gadis itu kembali pada bacaan yang sedari tadi ia geluti. Rasa penasaran Yunhyeong memuncak kala dirinya persis berada di samping gadis itu. Berbagai macam pertanyaan mengelilingi benaknya. Melihat wajah serius Jisoo, ia tak kuasa menahannya lagi.

“Jisoo-ya,” panggil Yunhyeong

“Eum?”

“Sudah berapa banyak siswa yang mengajakmu kencan?”

Seusai bibir Yunhyeong terkatup, Jisoo menoleh ke arahnya disertai tatapan kebingungan seolah sorot matanya mewakili kalimat-apa-maksudmu-bocah-tengik.

Sepasang alis gadis itu berjungkit tinggi kemudian ia menutup buku yang sedari tadi merenggut atensinya.

Karena pertanyaannya tak disambut dengan baik, Yunhyeong berdeham kemudian kembali bertanya,”Apakah kau ada acara Minggu ini?”

Jisoo mengedipkan kelopak matanya beberapa kali dengan tempo yang sama. Kelihatannya sedang mengingat-ingat jadwal minggu ini. Tak lama setelah itu kepalanya mengangguk kecil. Mematahkan semangat Yunhyeong yang sebelumnya membuncah ingin sekali mengajaknya pergi kencan dan membuktikan apa yang digosipkan oleh siswi di koridor tadi.

“Baiklah.”

Jisoo terkekeh melihat tingkah Yunhyeong selepas percakapan singkat mereka. Lelaki itu mengeluarkan beberapa buku catatan dan satu buku paket. Mencoba mengalihkan perhatiannya dari Jisoo.

Dalam hatinya, Jisoo mengetahui maksud dan tujuan Yunhyeong atas pertanyaannya tadi. Hanya saja Jisoo berusaha sepolos mungkin untuk menutupinya. Sesungguhnya ia tahu, cepat atau lambat semua siswa di sekolah akan tahu tentang kebiasaan buruknya saat berkencan. Ingin mengerjai Yunhyeong, gadis itu mencondongkan badannya dan mendekatkan bibir ke telinga lelaki di sampingnya.

“Kau tahu, standart-ku di atas rata-rata.” Bisiknya

Sontak Yunhyeong terkesiap. Bola matanya membesar kira-kira dua kali lebih besar dari ukuran asli. Pandangannya kembali mengarah pada Jisoo yang sibuk terkikik geli sehabis membisikkan kalimat itu di telinganya.

_|_

Pintu ruang musik berderit nyaring saat Yunhyeong mendorongnya. Pandangannya meneliti sekitar saat pintu di belakangnya benar-benar tertutup rapat. Tidak ada siapa-siapa.

Yunhyeong menarik kursi kecil di hadapan sebuah piano. Sejurus kemudian jari-jari lentiknya menari dengan apik di atas tuts hitam putih tersebut. Setelah beberapa saat ia menikmati waktunya, samar-samar telinganya menangkap suara aneh. Seperti isakan yang dikeluarkan oleh seseorang yang sedang menggigil.

Tungkainya melangkah mengikuti pendengarannya. Suara itu semakin jelas. Pergerakannya berhenti di depan satu set drum yang menghalangi sudut ruangan. Yunhyeong berjinjit agar lensanya memotret segala sesuatu yang ada di balik sana.

Sedetik kemudiian, betapa terkejutnya ia mendapati Kim Hanbin sedang terduduk memeluk lutut disertai seragamnya yang kuyup karena peluh. Wajahnya pucat seperti mayat hidup serta tubuhnya yang bergetar hebat. Pupil Yunhyeong membesar kala manik Hanbin bertemu dengan miliknya.

H-hy-hyung..”panggil Hanbin yang lebih terdengar seperti ucapan meminta tolong.

“Apa yang kau lakukan? Kau baik-baik saja?”

Yunhyeong mencari celah, mencoba menyeret Hanbin keluar dari sudut ruangan.

“Apakah terjadi sesuatu?”

“Jisoo, Kim Jisoo. Dia..”

“Dia apa??”

Hyung, dia bukan manusia! Tidak! Dia tidak waras!” jerit Hanbin sembari menutup rapat kelopak mata serta telinganya.

“Kau ini bicara apa?!” teriak Yunhyeong

Tak menjawab, Hanbin justru menggelengkan kepalanya. Kemudian berteriak tak jelas bak penghuni rumah sakit jiwa. Tentunya Yunhyeong kebingungan kenapa Hanbin bertingkah demikian dan bicara yang tidak-tidak mengenai Jisoo. Selepas otaknya mencari jawaban sendiri, Yunhyeong terbelalak. Mungkinkan mereka habis berkencan? Benak Yunhyeong.

 

Selepas mengantar Hanbin ke klinik sekolah, Yunhyeong melangkahkan kakinya mencari sesosok Kim Jisoo. Jam istirahat belum usai dan gadis itu tak berada di mejanya. Sudah Yunhyeong telusuri seluruh celah di kantin, tetapi Jisoo tak tertangkap lensa matanya. Satu tujuan terakhirnya, perpustakaan.

Benar saja, Yunhyeong mendapati Jisoo berada di depan rak biologi. Gadis itu sibuk memperhatikan buku di genggamannya tanpa menyadari Yunhyeong yang mengikis jarak di antara mereka. Setelah sebuah bayangan gelap menghalangi ruangnya untuk membaca, barulah ia menoleh dan mendapati Yunhyeong dengan napasnya yang menderu.

“Hai, Yunhyeong. Ada apa?”

“Apa kau ada waktu selepas pulang sekolah nanti?”

Jisoo mengangguk tanpa berpikir panjang,”Memangnya kenapa?”

“Ayo berkencan.”

“Eh—?”

“Aku tidak menerima penolakan, Nona Kim.”

 

Hari beranjak gelap saat Yunhyeong dan Jisoo keluar dari gedung bioskop. Keduanya menikmati waktu kencan mereka tanpa ada satu hal pun yang aneh.

“Kau pasti mengajakku kencan karena banyak orang bergunjing tentangku, kan?” tanya Jisoo

“Kau bicara apa?”

“Kau harusnya menjawab. Bukannya balik bertanya.”

“Kim Jisoo. Selain cantik juga seorang gadis yang jenius.”

“Jadi, apakah kau ingin tahu apa yang membuat semua orang yang kencan denganku mengalami gangguan jiwa?”

Wajah Jisoo berubah kelam sesudah pertanyaan terakhirnya. Tak bisa dipungkiri tengkuk Yunhyeong terasa tebal. Ia merasakan aura yang berbeda dari diri Jisoo. Mengedikkan bahunya singkat, Yunhyeong mengangguk pelan. Sebuah senyum terlukis di wajah Jisoo yang bisa Yunhyeong katakan, baru kali itu ia melihatnya. Bukan senyum manis yang biasa Jisoo tebarkan saat ia bertingkah polos dan manis.

Jisoo menuntun Yunhyeong ke sebuah pemakaman kota yang memang letaknya tak begitu jauh dari tempat kencan mereka. Gadis itu menyeret Yunhyeong masuk ke pemakaman lebih dalam dan berhenti di sebuah makam yang kelihatannya masih baru.

Yunhyeong tergeming sedang otaknya masih mencari jawaban atas situasi yang sedang ia hadapi. Jisoo mengambil dua buah sekop dari sebuah pohon besar di dekat makam tersebut. Ia menyerahkan salah satunya kepada Yunhyeong sambil mengangguk kecil. Mengisyaratkan lelaki di hadapannya untuk menggali makam.

Awalnya Yunhyeong ragu, tetapi akhirnya ia lakukan sembari menerka-nerka apa yang hendak gadis ini lakukan. Jisoo tidak hanya diam, ia turut membantu Yunhyeong menggali makam. Saat sekop keduanya membentur sesuatu yang keras—yang Yunhyeong prediksi sebagai peti mati mereka menghentikan aksi menggali yang mereka lakukan.

Jisoo membuka peti di hadapannya dan memperlihatkan jasad seorang wanita berbalut gaun putih yang indah. Ia melirik Yunhyeong sebelum jari mungilnya menarik tangan mayat wanita tersebut sampai putus. Darah segar mengalir dari ujung lengan yang Jisoo tarik.

Sembari menatap Yunhyeong, Jisoo mulai menggigiti tangan mayat yang ia pegang. Tetesan darah jatuhmelewati dagunya. Sedang rahang tajam gadis itu naik-turun mengunyah daging mayat baru tersebut. Yunhyeong tergeming, masih memerhatikan Jisoo yang asik menyantap lengan mayat yang ia tarik sampai putus.

“Tidakkah kau ingin menikmatinya bersamaku?” tanya Jisoo dengan mulut yang berlumuran cairan pekat merah yang berbau anyir.

Yunhyeong tersenyum, kemudian melakukan hal yang sama seperti yang Jisoo lakukan sebelumnya. Sempat Yunhyeong ragu, tetapi pada akhirnya ia mengarahkan lengan tersebut ke dalam mulutnya. Cipratan cairan merah menghiasi wajahnya pada gigitan pertama dan hal yang dapat ia deskripsikan hanyalah satu, manis.

Saat Yunhyeong meneliti apa yang baru saja ia masukkan ke dalam mulutnya, ia belum mendapati kesimpulan. Karena ia merasa ada yang berbeda dengan mayat ini. Setelah gigitan ke-dua dan seterusnya, Yunhyeong paham. Ia tersenyum menatap Jisoo yang terlihat kaget melihatnya menikmati hidangan yang gadis itu siapkan.

“Apakah ini manisan?” tanya Yunhyeong yang disambut anggukan singkat dari Jisoo

“Kau hebat, Yunhyeong. Aku rasa kita pasangan resmi mulai sekarang.” Ucap Jisoo sembari mengeluarkan tisu dari kantong almamaternya dan memberikan beberapa helai pada Yunhyeong.

“Hanya itu saja? Syarat untuk menjadi kekasihmu?”

“Iya.”

Yunhyeong tersenyum kecut kemudian melemparkan helaian tisu yang Jisoo berikan yang sudah terlebih dahulu diremas-remas olehnya. Lelaki itu mengambil sekop yang tadi ia gunakan untuk menggali makam yang ternyata hanya tipuan.

Matanya meneliti sekitar dan menggali makam yang tidak jauh dari makam sebelumnya. Jisoo kelihatan tidak mengerti, tetapi ia menunggu Yunhyeong menyelesaikan aksinya. Saat terdengar bunyi sekop yang bebenturan dengan peti, Yunhyeong segera turun dan membuka peti tersebut. Menyajikan pemandangan menarik bagi Jisoo—yaitu sebuah jasad yang hampir membusuk.

Aroma tidak bersahabat dengan hidung manusia normal menguar ketika Yunhyeong membuka peti lebar-lebar. Kini keadaan berbalik. Ia melirik Jisoo saat tangannya menarik lengan yang hampir busuk dan membawanya naik. Di hadapan Jisoo, tanpa kecanggungan sedikitpun Yunhyeong menjilati daging mayat yang dipenuhi dengan belatung dan beberapa serangga lainnya.

Jisoo terkesiap. Menutup mulutnya disertai dengan bola mata yang membesar. Tungkainya mundur beberapa langkah, sedang otaknya berputar hebat untuk memahami apa yang terjadi. Yunhyeong terus menjilati bahkan sesekali mengigit sembari mengunyah daging mayat tersebut. Terlihat sangat gembira berhasil menunjukkan identitas aslinya kepada seseorang.

“Kukira, kau sama denganku Jisoo-ya. Mulai sekarang, haruskah kita sering menikmati ini bersama?”

-fin

Advertisements

17 thoughts on “[The Black Shadow of iKON] Love Test

  1. yaampun kenapa aku baru nemu blog ini??
    ffnya seru banget
    aku kira jisoo juga sama kayak yunhyeong.. ternyata cuma bercanda

    lah yunhyeong psikopat apa gimana.. aduh babykuuuu

    keren ffnya!!! aku mana bisa bikin kayak gini /poor me/

    oh iya btw salam kenal!! panggil aku dadeum ’98liner hehe

    Liked by 1 person

  2. Halo loha dek Rika #manggiladekbolehyaHIHIHI aku mampir lagi yoooo

    Wahh, jujur penuturanmu dalam setiap cerita bikin aku terkesan, like……..every word that you used is great!!! Aku bahkan belajar banyak kata-kata baru dari ff-ffmu. Diksinya ga berulang-ulang bikin ceritanya terlihat kaya dan cerdas hohoho suka banget deh pokoknya

    Well, ini masih ga ngerti sebenernya, itu Jisoo sama Yunhyeong………..zombie? Apa gimana deh? Dududuh……… abang Yunyongku yang aduhai nan baik hati jadi horror gini ckckck

    Ya sudir deh, cau dulu yaaaa ditunggu karyamu yg lain-lainnya, salam manis ihik~~~

    Liked by 1 person

  3. Kurasa belum, Sher. Hei, Rika 98’s juga^^/akhirnya nemu anak satu liner/

    tbh aku juga bingung pas ngereview ini untuk pertama kalinya, mikir kalo pasti yg baca bakalan bingung hihik

    jadi si Jisoo memang sengaja nyiapin manisan-manisan yg sesungguhnya cuma dibuat sedemikian rupa jadi berbentuk mayat. tujuannya buat ngetes orang yang mau jadi pacarnya/sounds crazyㅋㅋㅋㅋ

    sedangkan yoyo memang asli kanibal XD makanya dia ikut makan ‘mayat’ yg ternyata manisan disaat semua orang yg jisoo ajak kencan justru gila XD

    sangkyu Sher udah sempetin mampir !

    Like

  4. Hi, kita udah kenalan belom ya? Kenalan lagi deh heheh, Sher 98Liner.

    Suka banget deh pokoknya, kesan misterinya kerasa, aku suka gimana Jisoo bisa buat orang stress dan ngebuat orang takut tapi bertanya-tanya.

    Aku udah nebak Yunhyeong bakal berakhir gitu pas dia ikut gigitin mayat (atau manisan?) Tapi yang aku bingung ini manisan apa “manisan”? Dibilang manisan karena mayatnya masih seger gitu, sementara Yunhyeong makannya yang udah busuk-busuk LOL.

    Keep writing ya!

    Liked by 1 person

  5. Hai…salam kenal!! Aoko, 92L.
    Maafkan aku yg baru bertandang disini..

    dan..woah! KUSANGATSUKAAMACERITAMU. dari ide cerita yg anti mainstream, permainan diksi yg cantik, serta penulisan yg rapi.

    aku sudah menduga ada yg tidak beres dengan Yoyo, yg agak shock ternyata Jisoo itu cuman ngerjain orang2 yg kencan ama dia.. *karma..karma..karma is looking for U (nyanyi lg Mental Breakdown; CL), salah sendiri ngapain isengnya begitu, kena getahnya kan dengan ketemu ama kanibal beneran.. ngehehehehe…

    sumpahlah..kamu keren lho!!
    kutunggu karyamu yg lain ya..
    and keep writing!! SEMANGAT!!!!
    🙂

    Like

    1. Hai, kak Aoko! Rika 98’s^^

      sungguh tak perlu minta maaf, ku berterimakasih atas kehadirannya hihik

      makasih kalo kakak suka sama ceritanya, padahal ini mah belum apa2 dibandingkan sama cerita2 laind di 2nd event ini.

      emang nih si yoyo rada gak beres, ckck. bentar kungakak duli saat lagu menbung diputarkan haha XD

      sangkyuu kakak juga keren! makasih kakaknya udah mampir^^

      Liked by 1 person

  6. Weeh keren banget ini mah ><
    Aku kira endingnya Yoyo ikut-ikutan jadi kagak waras (ato emang dia jadi gak waras?)
    rada kezel sama siswi yg ngegosipin Jisoo wkwkwk XD

    Btw posternya keren banget 😀

    Ehoo salam kenal. Ren, 00liner 😀

    Liked by 1 person

    1. Hai, Ren!

      Atuhlah Yoyo mah strong, jadi gak ikutan gila. malahan Jisoonya yang jadi gesrek ngeliat yoyonya ternyata kanibal:’)

      Ah, Ren, segitu mah posternya belum apa2. Etapi makasih kalo menurut kamu keren hihi ❤ makasih juga udah sempetin mampir!

      Anw, Salam kenal juga, Rika 98's^^

      Like

  7. Keren! idenya ga mainstream! masih mikir apa ada di dunia ini pasangan yang doyan nyemilin mayat hik.
    Bahasanya juga keren, ngalir bangets. Yoksi!!!! senpaynim detected hihi.
    Alurnya ga ketebak loh. Waktu aku baca partnya yoyo yang ngebuka loker dan dijelasin kalo ada aroma kesukaan yoyo, disitu nyadar kalo pasti ada yang ga beres. Dan ternyata OMO!! Diluar tebakanku wkwkwk anjirlan jisoo sama yoyo cakep2 nyemilnya mayat. Enaklah gratisan kalo kencan tinggal nongkrong di kuburan/plak

    Keren siska kusukaaaa! ❤

    Liked by 1 person

    1. hai kak Asti, sebelumnya kuterimakasih sekali berkat dirimu promote di lapak IFI dan di lapak pribadiku jadilah aku nyangkut di sini 😀

      atulah ini mah belum apa2, kak. manahan lagi webe juga pas liat notif ada event ini, ya sekedarnya aja ini mah :’)

      bentar, aku ngakak dulu soal “anjirlan jisoo sama yoyo cakep2 nyemilnya mayat. Enaklah gratisan kalo kencan tinggal nongkrong di kuburan” XD
      makasih kakaknya nyampetin mampir ❤

      Like

  8. baca diakhir2,
    mata kanan ku hampir terpejam, cuma mata kanan. idung jga ikut terangkat, hingga terbentuk wajah terjelek yg saya punya,
    ini FF nya ngeri sekali, Yoyo, enakan daging sapi ama ayam, Yo. lah ngapain ngejilat tubuh mayat busuk. ohemji, >_<

    Liked by 1 person

    1. Hai, Kak. Salam kenal, Rika 98’s 😀

      sebentar, kuterjungkal dulu melihat reaksi dirimu XD
      ngeri, ya? atulah aku juga bingung kenapa jadinya maz yoyo begini. Meski gitu, dia tetep tampan kok/tampan juga kalo kanibal mah ya tetep aja atuh 😥

      thanks kakaknya udh sempetin mampir ❤

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s