[The Black Shadow of iKON] Brother, Is That You?

BITY

Aku membuka jendela sedikit, mungkin hanya terbuka sekitar satu inci. Tapi, kurasa cukup memberi jalan bagi udara malam yang dingin untuk menyusup ke dalam ruangan. Entah kenapa diriku mendapati keheningan ini begitu mencekam. Kulirik pria yang tengah terlelap di belakangku. Begitu damai dalam mimpinya. Ia bergeming, bahkan aku bisa saja memvonis bahwa ia sudah mati jika saja dada itu tidak bergerak mengikuti paru-parunya.Kurasa ia akan terlelap lebih lama.Ia terjebak dalam skenarioku dan tidak bisa lolos lagi.

Aku memutuskan untuk berbalik dan memposisikan diriku di dekatnya. Kugenggam tangan itu erat. Sedangkan netraku bertemu dengan netranya yang terpejam. Aku tahu, dalam dirinya, ia sedang bertarung mati-matian. Mempertahankan raganya agar selamanya selalu menjadi miliknya. Dan kini, aku harus membantunya.

“Tak akan kubiarkan ia mengambilmu, Kak.”

 

.

.

2015©

Azzurachan’s present

“Brother, Is That You?”

Main cast:
Jung Chanwoo (as Song Chanwoo) & Song Yunhyeong

Other cast:
Kim Jinhwan, Goo Junhoe

 

Genre: Horror,brothership | Length: Vignette (±3.000 words)
Rating: PG-13 (maybe)

Disclaimer:
Plot is mine.
The cast belong to God, family, YG, iKON, and fans.
.

.

.

Jangan biarkan dia mengambil apa yang kau kasihi.”

.

.

.

Telingaku disambut oleh tepuk tangan riuh penonton, bahkan setelah aku membungkuk 90 derajat di hadapan mereka.

Penampilan drama kali ini terbilang sukses, tidak ada kesalahan. Aku sebagai pemeran utama pun menjalankan skenario yang ditujukan padaku dengan baik. Penonton tampak menyukainnya –syukurlah.

Netraku menyapu setiap penjuru singgasana penonton. Satu tempat di deretan paling depan kosong, bahkan masih terlipat –seakan mengetahui sang pemilik tempat tidak akan datang.

Dengan wajah bangga, aku menikmati kekecewaanku.

***

Saat itu makan malam.

Suara alat makan yang saling beradu memecah keheningan canggung yang selama ini terasa begitu kental. Tidak ada yang bicara. Hanya batin masing-masing dari kami yang mempertanyakan bagaimana bisa keadaan sangatlah canggung hari ini. Mungkin karena pertikaian lalu yang begitu bodoh. Tapi, semua itu seharusnya sudah terlupakan karena tertutupi dengan kata “maaf” milik Kakak tadi. Apa aku yang memperkeruh suasana?

“Kau sudah memaafkanku, ‘kan?”

Aku mendengar Kakak bersuara. Tetapi, entah kenapa lidahku terlalu kelu untuk menjawab. Aku tidak pernah mendengar Kakak selirih ini. Seakan semua kehangatan yang selama ini melekat pada dirinya luntur. Aku tahu, kesibukannya mengekangnya. Bahkan sampai ia tidak datang pada pertunjukanku kali ini. Aku masih ingat wajah menyesalnya hingga sekarang.

“Kurasa sudah.”

Harusnya aku tidak menyisipkan kata ‘kurasa’. Wajah itu semakin lesu.

“Dik, ingatlah aku ini bekerja untuk siapa?”

Aku benci kalau ia mengungkit-ungkit pekerjaannya. Seakan ia tidak sudi untuk banting demi kehidupanku. Kalau sudah begini, aku pasti tidak bisa menjawab satupun pertanyaan yang akan dilontarkan olehnya. Pastinya akan terdengar begitu mengintimidasi.

“Aku hanya kecewa karena Kakak tidak pernah menonton pertunjukkanku.”

Ini konyol. Entah kenapa kata-kata itu meluncur begitu saja tampa diolah di otak terlebih dahulu. Itu alasan bocah berusia sepuluh tahun bukan? Kenapa hal itu harus dijadikan alasan? Kini kurasakan udara semakin dingin, entah karena memang Seoul sedang dilanda hujan lebat atau karena dinginnya suasana.

“Song Chanwoo,” ujar Kakak. Ia menghela nafas sembari tersenyum lirih. “Maafkan aku, kurasa aku memang terlalu sibuk hingga melupakanmu, Chanwoo-ya. Sekarang pun aku harus pergi, karena sesuatu. Aku benar-benar minta maaf.”

Kakak berlalu saat otakku sedang sibuk berfikir. Penyesalan baru datang sekarang.Kakak terlalu sering meminta maaf dan aku terlalu sering membuatnya merasa bersalah.Suara pintu yang tertutup menyadarkanku bahwa seharusnya akulah yang seharusnya meminta maaf.

Ia meninggalkanku dalam keheningan, tampa salam yang berarti.

***

Hujan menjadi sangat lebat seiring waktu. Suara petir yang saling menyambar memaksa mataku agar tetap terbuka dan menghadap kegelapan. Waktu sepertinya sudah melewati angka dua belas. Tapi, aku tidak bisa merasakan keberadaan Kakak. Ia belum pulang. Membuat perasaanku bercampur aduk.

Sungguh, sebenarnya kemana Kakak pergi?

Di sela-sela derasnya suara hujan, aku mendengar suara pintu terbuka diiringi langkah kaki dari luar kamarku. Aku rasa itu Kakak, syukurlah ia sudah pulang. Kalau begini aku bisa tidur dengan tenang. Perasaanku sudah membaik.

Tapi, itu tidak lama, sampai aku mendengar suara jeritan Kakak yang memekikkan telinga.

Aku buru-buru bangkit dan berlari menuju sumber jeritan –kamar Kakak. Ia tersungkur di lantai, mencium lantai yang dingin.

“Kak? Kakak baik-baik saja?” Aku mengguncang-guncang tubuh lemah Kakak. Sayangnya tidak ada pergerakan berarti pada tubuhnya. Wajahnya pucat sepeti kertas. Tangannya menjadi sangat dingin. Apa Kakak sakit?

Ia seperti mayat yang bernafas.Tubuhnya yang basah menjadi bukti bahwa ia berlari di tengah badai. Aku mengeringkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Kubaringkan tubuh lemah itu di ranjang.Aku menatap wajah yang mirip denganku itu sekali lagi, warna kulitya sudah normal dan genggamannya sudah sudah tidak dingin lagi. Kurasa ia sudah baik-baik saja. Aku lega.

“Maafkan aku,ya, Kak,” bisikku di telinganya. Aku mendapat hembusan nafas sebagai respon. Tampa sadar aku tersenyum, lalu, kutinggalkan dia sendirian.

Tapi entah kenapa, saat kutinggalkan kamar milik Kakak, kurasakan bahwa Kakak tidak sendiri.

***

Aku dihadapkan pada sebuah pintu yang sama sekali tidak asing, pintu kamar Kakak. Kayu yang berlapis cat berwarna merah itu terlihat sedikit lebih besar dari sebelumnya –mungkin hanya perasaanku saja. Dan kusadari bahwa diriku hanya ditemani kegelapan yang sangatlah asing.

“Song Chanwoo.”

Bulu kudukku meremang. Aku mendengar suara Kakak dari kejauhan, entah kenapa terdengar seperti suara bisikkan. Aku menengok mencari Kakak dalam kegelapan, tapi, aku merasa sebenarnya Kakak berada di dalam kamar.

“Buka pintunya Chanwoo-ya, keluarkan aku dari sini!”

“Bebaskan aku!”

“Cepat buka pintunya!”

Suara Kakak awalnya terdengar begitu lirih, lama-lama terdengar begitu menyedihkan. Ia merintih kesakitan, entah rasa sakit seperti apa yang menyetubuhinya saat ini. Aku menempelkan daun telingaku dengan cepat. Memastikan apa Kakak benar-benar di dalam.

“SONG CHANWOO, CEPAT KELUARKAN AKU DARI SINI! KAU TINGGAL BERSAMA MONSTER!”

“JANGAN COBA-COBA!”

Sesaat setelah terbelak kaget, tubuhku terhempas jauh.Suara bariton seorang pria itu terdengar seperti suara guntur di tengah keheningan. Otot tubuhku mendadak kaku, nafasku memburu dengan cepat, adrenalinku sedang dipermainkan.Detik berikutnya, aku bisa mendengar Kakak merintih, berteriak kesakitan. Dalam benakku, aku membayangkan Kakak sedang dicabik-cabik. Aku menutup mataku, berusaha menggerakan tubuhku dengan air mata yang menggenang di sudut mata.

“Jangan sakiti Kakak!”

Tiba-tiba hening, dan saat kubuka mataku,

Aku tengah memandang langit-langit kamar.

***

Sulit untukku memejamkan mata kembali. Mata bulatku terus menatap langit-langit kamar. Sadar-sadar sudah pukul tujuh pagi. Aku tidak punya pilihan lain selain bangkit. Pikiranku sudah terlalu segar untuk kuajak kembali tidur. Apa daya? Aku harus bangun pagi di HariSabtu-ku yang sangat berharga. Sial.

Aku keluar dan bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka. Tampa sengaja aku melewati kamar Kakak. Aku langsung teringat kepadanya. Biasanya jam segini Kakak sudah bangun dan sedang memasak sarapan di dapur. Tapi, entah kenapa aku tidak bisa mencium bau nasi goreng kimchi ala Song Yunhyeong saat ini.

Aku mengelilingi rumah, tapi, tidak bisa menemukan Kakak. Apa Kakak sedang berolahraga? Mengingat fisik tubuhnyaseperti tadi malam sangat tidak memungkinkan dirinya untuk berolahraga.

Tadi malam…

Aku langsung bergidik ngeri jika teringat mimpi kemarin.

Mimpi gila yang sangat nyata.

Jeritan Kakak yang begitu menyedihkan kembali terngiang di kepalaku.

Kreek…

Kakak memasuki rumah, entah dari mana. Ia terlihat seperti seseorang yang tidak tidur semalaman. Berantakan dimana-mana.

“Kakak, habis dari mana?”

“Bukan urusanmu.”

Ia melewatiku begitu saja dan menutup keras pintu kamarnya. Aku hanya bisa menatap pintu itu heran. Apa Kakak kesal karena kemarin aku begitu kekanak-kanakan? Bukankah Kakak orang yang mudah melupakan masalah?

Ada apa ini?

***

Kakak adalah seseorang yang sangat hangat. Satu-satunya sosok yang benar-benar kusayangi setelah kedua orang tuaku pergi untuk selamanya.

Aku ingat ia sampai memutuskan untuk berhenti sekolah dan bekerja keras mencari uang. Ia pergi pada pagi hari dan pulang pada malam hari. Saking inginnya agar aku melanjutkan sekolah tampa memikirkan biaya. Itulah Kakak.

Kami jarang bicara. Kami bertemu setiap makan malam. Kakak selalu bertanya bagaimana kegiatanku di sekolah, dan aku selalu menjawab seadanya. Lalu hening dan yang terdengar hanyalah bunyi alat makan. Setelah makan malam yang begitu canggung, aku biasanya terlelap di kamar tampa memperdulikan Kakak.

Hari Minggu aku pergi latihan theater. Mungkin aku terlalu ambisius menjadi aktor sehingga aku lupa kalau akau memiliki Kakak. Pada pagi harinya, Kakak selalu bertanya apa aku punya sedikit waktu untuk menghabiskan waktu bersama. Aku selalu berkata tidak. Tapi, entah kenapa Kakak tidak pernah kecewa. Saat pulang, makanan sudah tersaji di meja makan. Dan kami bicara banyak saat itu. Satu-satunya waktu kami untuk bersama hanyalah Hari Minggu.

Tapi, entah kenapa Kakak menjadi sosok yang sangat berlainan.

Kakak yang baik, hangat, dan selalu ceria mendadak hilang, tergantikkan Song Yunhyeong yang baru. Song Yunhyeong dingin dan kasar. Ia sering menghilang seperti biasa. Tapi, ia menjadi semakin tertutup. Kadang aku bertanya apa yang terjadi padanya. Apakah ia memiliki masalah atau apapun itu. Tapi, kata-katanya saat itu rasanya tidak akan terlupakan olehku.

“Diam kau, bocah! Urusi saja urusanmu sendiri. Sialan.”

Kakak tidak pernah berbicara sekasar itu padaku sebelumnya. Kakak selalu lembut. Tak pernah sekalipun ia membentakku, semenyebalkan apapun aku. Ia selalu sabar menghadapiku yang sangat kekanak-kanakan.

Aku rasa ia bukan Kakak.

***

“Halo? Maaf, bisa bicara dengan Song Yunhyeong? Saya adiknya.”

“…”

“Benarkah? Tapi, Kakak selalu berangkat tiap pagi. Saya kira ia sedang lembur.”

“…”

“Baiklah, akan saya tanyakan saat ia pulang. Terima kasih.”

Aku menyentuh tombol merah. Sulit untukku menekan rasa penasaran.

Kakak tidak pergi ke kantor selama seminggu ini. Sulit dipercaya karena ia selalu berangkat tiap pagi dan pulang tiap malam. Lalu kemanakah Kakak selama ini pergi? Apa ia punya pekerjaan baru? Entahlah. Aku tidak bisa mengerti siapa itu Kakak akhir-akhir ini.

Aku mendengus. Entah kenapa perjalanan menuju rumah hari ini begitu panjang.

Kak, apa yang terjadi padamu?

PUK!

“Ada apa? Kau terlihat linglung.”

Aku menoleh dan mendapati Seniorku tengah menatapku prihatin. Aku tersenyum. “Ah, bukan apa-apa, sunbae.”

Ia berjalan di sebelahku. Aku selalu merasa canggung jika berada disampingnya. Selain fakta ia lebih pendek dariku, ia juga jarang bicara. Ia bicara jika perlu saja. Jujur, aku heran mengapa ia menyapaku terlebih dahulu. Biasanya ia yang harus kusapa terlebih dahulu, barulah ia yang berbicara.

Ngomong-ngomong, ia bernama Kim Jinhwan.

“Chanwoo-ya, kurasa kita harus bicara.”

Aku terus melangkah sembari menatapnya. Sekarang lebih aneh lagi. Ia tiba-tiba mengajakku bicara. “Kau bisa bicara padaku kapan saja.”

Ia menghela nafas panjang. Aku melihat keraguan di sorot matanya. Ia menunduk menatap aspal yang diinjak olehnya. “Aku melihat Kakakmu kemarin. Aku kira aku salah lihat, tapi, aku rasa itu benar dia. Kurasa Kakakmu sedang dalam bahaya, Chanwoo-ya.”

Aku menatapnya tidak percaya. “Benarkah?”

Ia mengangguk. “Kurasa kau harus ikut denganku, Chanwoo-ya.”

Aku bungkam. Kurasa masalah Kakak benar-benar serius.

***

Aku mengikuti Jinhwan sunbaenim. Sebuah rumah serba kayu minimalis yang letaknya terpencil. Cukup dekat dengan rumah Jinhwan sunbaenim, tapi, memiliki aura kelam tersendiri. Kami hanya menatapnya dari kejauhan.

“Rumah ini punya sejarah tersendiri.”

Aku mendengar setiap kata yang dilontarkan olehnya dengan teliti.

“Dulu rumah ini ditinggali seorang seorang pria. Menurut cerita pria itu bernama Goo Junhoe. Dengar-dengar dia adalah seorang psikopat yang suka membunuh orang di sana. Tapi, ia sudah mati. Aku tidak mengerti kenapa. Ada yang mengatakan bahwa ia bunuh diri disana, dan ada yang mengatakan kalau ia dibunuh disana.”

Aku seakan mendengarkan cerita horror. Apa hubungannya dengan Kakak?

“Konon, Goo Junhoe suka bekeliaran di sekitar sini. Dia akan mengikuti siapapun yang lengah di sekitar sini. Jika sudah begitu, ia akan merasuki orang itu dan berusaha mengambil tubuh orang itu untuk dijadikan miliknya. Nah, masalahnya…”

Aku meneguk salivaku.

“Aku melihat Kakakmu memasuki rumah itu, Chanwoo-ya. Kau mengerti maksudku, bukan?”

Aku membeku ditempatku. Aku tidak terlalu percaya pada hantu. Tapi, entah kenapa aku seratus persen yakin bahwa Goo Junhoe itu sedang mengambil alih tubuh Kakak.

Pada malam itu, Kakak tidak sengaja pergi melewati daerah ini. Dan Kakak yang lengah dibidik oleh Goo Junhoe. Maka jadilah, Kakak menjadi mangsa baru bagi Goo Junhoe.

Lalu, mimpiku saat itu… adalah pesan dari Kakak yang terkurung di dalam tubuhnya sendiri?

Mungkinkah?

“Apa Kakakku bisa kembali, Sunbae?” tanyaku. Tampa sadar suaraku bergetar. Aku takut kehilangan Kakak.

Jinhwan sunbaenim menunduk. Ia menggiggit bibirnya. “Ada satu cara. Dan ini satu-satunya cara yang ampuh. Tapi, ini gila.

Kau harus membunuh Goo Junhoe yang berada di dalam tubuh Kakakmu.”

DEG!

Jantungku berdetak lebih kencang. Membunuh Goo Junhoe yang berada di tubuh Kakak? Itu sama saja dengan aku harus membunuh Kakak bukan?

Tidak. Tidak bisa.

“Aku tahu ini gila. Jika gagal resikonya sangat besar. Tapi, tidak ada cara lain. Tapi, semakin lama, Goo Junhoe ini akan semakin kuat dan Kakakmu akan menjadi semakin lemah. Kau harus membunuh Goo Junhoe itu.”

“Kalau terlambat. Kau dan Kakakmu bisa saja mati di tangan Goo Junhoe itu.”

Mungkin Goo Junhoe bisa saja membunuhku. Mungkin saja. Tapi, aku lebih mengkhawatirkan Kakak saat ini. Aku tidak bisa membayangkan hidup bersama sosok Kakak yang bukan Kakak. Mengerikan. Jinhwan sunbaenim memegangi bahuku. Ia tampak menyemangati.

“Jangan biarkan dia mengambil orang yang kau kasihi, Chanwoo-ya.”

Aku hanya bisa menatapnya ragu. Saat kulayangkan pandanganku pada rumah itu, aku melihat Kakak sedang memasuki rumah itu.

***

Aku menunggu kedatangan Kakak. Lampu menyala redup-redup di atasku. Hujan lebat diluar sana menambah kesan mencekam bagiku yang terdiam dalam keheningan. Aku sudah menyiapkan hati. Saat Kakak kembali, aku harus membunuh Goo Junhoe yang bersarang di dalam tubuhnya.

Sekarang atau tidak sama sekali.

Kreeek….

Pintu luar terbuka perlahan. Aku yakin itu Kakak. Sorot mataku mendadak seperti elang yang hendak menerkam mangsa dari udara. Tatapan benci kuhadapkan untuk Goo Junhoe. Orang yang mendiami raga Kakak.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” Tanya Goo Junhoe. Ia menatapku dengan tatatpan yang sama denganku menggunakan tubuh Kakak. Aku benci ia yang seenaknya menggunakan tubuh Kakak.

Aku bangkit saat ia berbalik untuk mengambil gelas. Tanganku meraih pemukul baseball yang sudah kusiapkan sedari tadi. Saat Kakak –atau mungkin Goo Junhoe- tengah meneguk airnya. Aku mendekatinya perlahan dan…

BUAGH!

Aku memukulnya sambil menangis.

***

Aku membaringkan tubuh Kakak di atas ranjangnya. Rasanya hening sekali, yang terdengar hanyalah suara detak jarum jam yang bergerak setiap detik. Aku menatap bulan yang dengan gagahnya menggantung di langit malam. Kuraih jendela dan membukanya sedikit.

Aku kembali menatap Kakak yang terbaring lemah. Ya, Goo Junhoe masih hidup di tubuh ini. Aku harus mengeluarkannya secepat mungkin. Kakak bisa saja mati saat ini. Dan aku tidak mau hal itu terjadi. Tidak boleh.

Aku berjongkok di sebelahnya. Kugenggam tangan Kakak erat, sedangkan tanganku mengeggam pisau dapur. Aku bergidik ngeri. Tidak bisa kubayangkan kalau aku harus menusukan benda ini di tubuh Kakak. Tapi, ini harus. Satu-satunya jalan yang harus kutempuh.

“Tak akan kubiarkan ia mengambilmu, Kak.”

Aku berbisik di telinganya. Ia masih diam. Bernafas perlahan-lahan.

“Dan kau, Goo Junhoe.” Aku mempererat genggamanku pada pisau. Mengangkatnya tepat di atas perut Kakak.

Setetes air mata jatuh.

“Kaluar dari tubuh Kakakku, sialan.”

Aku mengayunkan tanganku.

GREB!

Tangan Kakak mendadak menangkap tanganku. Tanganku bergetar. Aliran darahku mengalir lebih cepat. Matanya perlahan terbuka. Sangatlah mengerikan saat mengetahui tidak ada warna putih di matanya. Ia perlahan bangkit. Tatapan mengintimidasi dilayangku padaku.

“Ternyata kau sudah tahu, Bocah!”

Ia bersuara. Bukan suara Kakak yang terdengar. Tapi suara berat seperti guntur itu.

Nafasku terengah selagi tanganku berusaha mempertahanku pisauku.

Aku mendesis kala genggaman itu semakin kuat. Seakan ia bisa meremukkan pergelangan tanganku dengan sangat mudah. Ia terkekeh renyah. “Kau pikir Kakakmu masih hidup? Dasar bodoh.

Ia sudah mati.”

Tangannya mengarahkan genggaman pisauku ke atas kepalaku. Sebuah seringai terpampang begitu jelas di wajahnya walau kami diselimuti kegelapan. “Aku bisa membunuhmu dalam satu kedipan mata, Bocah. Seperti yang kulakukan pada Kakakmu yang menyedihkan itu.”

Kakak tidak menyedihkan. Justru ialah yang menyedihkan. Seseorang yang sudah mati dengan egoisnya berusaha merebut tubuh orang lain. Tanganku bergetar, anatara amarah dan rasa takut karena pisau itu hanya berjarak beberapa centi dari kepalaku. Orang ini bisa saja melubangi kepalaku sekarang juga.

Aku tidak boleh kalah!

“Kakakku tidak menyedihkan. Justru orang egois sepertimu lah yang menyedihkan. Penyendiri bodoh sepertimu mana bisa mengerti?”

Sorot matanya berubah mengerikan. Ia mengangkat tanganku lebih tinggi lagi.

“Dasar bodoh.”

Tanganku berayun diatas kepalaku.

Sial.

JLEB!

.

.

.

.

Aku membuka mataku. Tidak ada rasa sakit, tidak ada kematian. Aku mengangkat kepalaku. Leherku tercekat. Aku tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutku saat melihat pisau yang sedang kugenggam sudah tertancap di tubuh Kakak.

“Jangan sentuh adikku, sialan.”

Suara Kakak.

Tiba-tiba Kakak berteriak. Sebuah asap berwarna hitam keluar dari mulutnya. Membentuk sesosok manusia yang tengah menatap kami berdua dengan tatapan benci.

Kuyakin itu Goo Junhoe.

Tubuh Kakak ambruk saat sosok Goo Junhoe hilang. Aku segera menopangya dan mencabut pisau yang menusuk perut Kakak. Darah keluar dengan deras dari sana.

“Kakak!”

Kakak meringis sembari memegangi perutnya. Tangannya basah karena darah.

“Kak, bertahanlah! Aku akan menelpon ambulan!”

“Jangan, Chanwoo-ya…uh…mereka akan mengira kau yang-”

Aku menggenggam tangan Kakak yang satu lagi dengan erat. Kakak menggelengkan kepalanya. Matanya sudah kembali normal. Aku menatap netranya, berusaha menenangkan Kakak. “Aku tidak ingin Kakak mati kehilangan darah. Semuanya akan baik-baik saja, Kak.”

“Aku tidak bisa hidup tampamu, Kak.”

***

Syukurlah, semuanya sudah kembali seperti semula. Goo Junhoe sudah pergi. Sosok Kakak yang dulu juga sudah kembali. Aku seakan bangun dari mimpi buruk yang sangatlah panjang. Aku lega.

Aku membawa tas Kakak dan menopang tubuhnya. “Akuhirnya bisa pulang. Aku rindu rumah.”

Kakak yang berjalan di sebelahku tertawa kecil. “Aku juga. Kurasa debu sudah menumpuk dimana-mana. Sudah tiga hari rumah itu tidak berpenghuni.”

Kami duduk di tempat perhentian bus. Kami bicara banyak saat itu walaupun hari ini bukanlah Hari Minggu.

“Chanwoo-ya,” ujar Kakak. “Aku minta maaf telah membahayakanmu saat itu.”

Kakak lagi-lagi minta maaf. Entahlah, lama-lama aku mual mendengar ia selalu minta maaf. “Kakak harus berhenti minta maaf. Lagipula itu bukanlah salah Kakak. Memang sulit kabur dari hal-hal yang seperti itu.

Aku menghela nafas panjang. “Saat Kakak membelaku dari polisi-polisi itu, itu lebih dari cukup.”

Dugaan Kakak benar. Orang-orang mengira aku hendak membunuh Kakak saat itu. Faktanya, justru tusukkan itu yang menyelamatkan Kakak. Masih kuingat orang-orang berseragam itu hendak membawaku. Kalau saja Kakak tidak membelaku dan mengatakan bahwa semua itu hanyalah kecelakaan, kurasa aku sedang mendekam di penjara saat ini.

“Kau melakukan yang benar saat itu. Lagipula, aku yang menusukkan pisau itu ke tubuhku sendiri.” Ujar Kakak sambil tersenyum. Rasanya sudah lama sekali tidak melihat Kakak tersenyum.

Aku membalas senyumannya dan berjanji akan lebih sering menghabiskan waktu bersama Kakak.

***

Kakiku kembali menginjak panggung theater dengan percaya diri. Lagi-lagi, aku menjadi pemeran utama. Aku menyukainya. Kepercayaan itu menjadi tanggung jawab yang menyenangkan.

Penonton bertepuk tangan di hadapanku. Salah satunya adalah Kakak. Kakak datang hari ini. Aku tidak percaya kalau ia meminta libur satu hari demi menonton penampilanku hari ini. Kurasa aku tidak perlu meminta Kakak menonton dramaku lagi. Aku tidak ingin ia dipandang jelek oleh atasannya.

Aku membungkuk lalu menatap Kakak yang tengah menatapku bangga. Aku membalasnya dengan senyuman.

Tapi, itu tidak lama.

Saat aku melihat sesosok pria tinggi dibelakang Kakak. Aku tahu, masalah sedang mendekati kami. Siapa lagi kalau bukan Goo Junhoe?

Ia menyeringai sembari memegangi pundak Kakak.

Senyumanku luntur.

Sial.

-The End?-

Advertisements

16 thoughts on “[The Black Shadow of iKON] Brother, Is That You?

      1. KUKEMBALEEEEEEEEEEEEEEE

        JAHAD PISAN NISTAIN JUNEDIKU UDUDUDUDU T^T
        ini kece ka firs lope-lope de ❤ apalagi bromancenya yoyo sm canu, mwwwaaaa~~~~
        ini fav ku lho betewe /geplaked/

        Liked by 1 person

  1. FIRSIEEEEEEE INI SANGAT DAEBAK KUSUKA SEKALEEEEEEE

    Juned ih. Kok terus-terusan aja ikutin Yoyo mentang mentang yoyo cakep *gubrak
    Ngeselin mah si Juneeeeeeee!!!

    Kutakbisa berbicara apa-apa lageee fiiir. Ini sangat kece (y)

    Ren ❤

    Liked by 1 person

  2. ini kok ngenes :’) tapi feelz keraza banget aku sampe hanyut dan ngambang di kali/gak

    keren loh ini, pakek sudut pandang si chanu. biasanya kubaca memakai sudut pandang orang ke-tiga.
    Brothershipnya dapet sekalii ku sangat iriiiiiiiii

    anw makasih udah nistain juned haha ❤

    Liked by 1 person

    1. halo kak sis/? (harus firsie panggil siapa nih?)

      Sangat ngenes malah :” ini ff ngenes banget tbh :”

      Firsie kalau nulis ff yg kayak gini/? lebih nyamannya pake sudut pandang orang pertama (iya bukan sih? Firsie ga pinter di pelajaran b. Indo._.). menurut firsie lebih enak._.

      Nistain bias itu asik lho kak 😂 firsie bakal lebih sering nistain june 😂

      Makasih udh baca ya kak,

      Firsie S. Azzura a.k.a Azzurachan

      Liked by 1 person

  3. KYAAA KEREN KYAAAA~ FIRSIE KEREN KYAAAAA~
    Suka banget sama jalan ceritanya. Bhasanya ringan dan bikin aku berkali2 merinding. Bahasa kamu bener-bener ngebuat aku berimajinasi tentang suasannya. POVnya Canu kerasa banget ngerinya. Kerasa banget ketakutannya dia dari kata-kata yang kamu olah. Ahhhh asti suka ini firsie :””””’

    Passssss bangetsssss pake cast gujune jadi setan wkwk mukanya enak dibayangin nyengir2 zial bikin pen naboks hiks. Dan satu lagi MAS JINAN YANG PENDEK ZIAL BANGET SI CANU GA NYAMAN DEKET2 SAMA MAS JINAN GEGARA KALO LIAT JINAN KUDU NUNDUK. DUNANGIS SYEDIH;;;;;;;((((((

    Kusuka ceritanyaaa yoksiiiii genrenya firsie bangetttsss hihi ❤
    Salam sayang untuk firsie :''''''''''''''''''

    Liked by 1 person

    1. tabok aja june kak :” firsie rela sangat :” dia ngerasukin yoyo soalnya dia ga rela yoyo pacaran ama hyunmi jadinya gitu tah/?

      Ku membully Kak Jinan tampa sadar wkwkwk. Maafkan aku kak :”

      Salam sayang buat kak asti
      :””””””””””””’

      Like

  4. Firs, setelah membaca fic kamu & @renkim00, kenapa kalian bikin Junhoe seantagonis itu sih? hahahaha..walau ku tau wajahnya itu sassy banget,,,tapi. tapi..
    hahahaha..

    ini keren lho, Firs! Nice story! baca fic kamu keingetan film Insidious gitu…cuma disini castnya kan kakak-adik..pokoknya Firsie keren!!
    kutunggujunhoeversimanisdarikamuya….

    keep writing, Firs ❤
    pyong!

    Like

    1. Junhoe emang pantes jadi tokoh jahad kak. Liat aja wajahnya… kalo jinan mana bisa /ganyambung/

      Tbh firsie terinspirasi dari film conjuring 😂

      Juneversiekiyutnyasedangdalamproses 😂

      Keep writing too kak aoko😂

      Liked by 1 person

    1. Wajahnya sangat mendukung buat jadi setan kak. Kadang firsie aja suka takut sndiri liat wajahnya yg kaya preman itu (re: serem). Wkwkwk… XD Setan Sassy yeuh 😂😁😂😁😂😂

      makasih Udh baca kak acu 😘

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s