[The Black Shadow of iKON] Surprise

surprise-arinyessy

Surprise

| Casts: Jeon Mari and Kim Hanbin |

| Author: natadecocoo |

| Genre: romance, thriller, angst, dark |

| Length: Vignette |

| Rating: PG 13 |

.

.

.

 

Sebuah ciri khas dari hubungannya dengan Hanbin. Kisah cintanya dengan Hanbin memang selalu penuh dengan kejutan.

 

Plot is mine.

No copypaste please.

Thanks. Hope you like it. ^^

 

Mari merebahkan tubuhnya kasar ke atas kasur. Setelah seharian penuh mengajar di sebuah sekolah dasar yang sangat menguras tenaga, Mari harus berurusan dengan mengajar les Matematika. Tak heran jika ia baru sampai rumah pada pukul 20.00 tetapi yah, itu adalah resiko baginya sebagai seorang guru sekolah dasar.Mari mengecek ponselnya.Karena biasanya, sahabatnya Lee Hayi selalu mengajaknya ke suatu tempat secara mendadak. Sebenarnya, selain Hayi, ada satu kontak lagi yang ia kira akan mengiriminya pesan sore ini. Ia adalah orang yang paling Mari sebali saat ini. Orang yang statusnya masih menjadi namjachingunya tetapi karena mereka sedang bertengkar, Mari telah mendiamkannya selama 2 bulan.

Notifikasi kosong bagaimana pun juga membuatnya lega. Ia sedang ingin beristirahat saat ini.

“Mari-a. Saatnya untuk makan malam” suara eommanya akhirnya membuat Mari berpisah dengan kasurnya

Ndae,eomma.”

Benar. Meskipun Mari sudah berusia 24 tahun, ia memutuskan untuk tetap tinggal bersama dengan keluarganya karena ia belum menikah dengan siapa-siapa. Hanbin memang telah menjadi namjachingunya selama 5 tahun tetapi sampai saat ini ia belum juga melamarnya. Jangankan melamar, Hanbin bahkan telah menyakiti hati Mari dengan diam-diam bersenang-senang dengan yeoja lain.

Setelah berganti pakaian dengan celana training biru donker dan kaos lengan panjang, Mari menuruni tangga kayunya dan menyusul eomma serta appanya ke meja makan. Keluarga Jeon memang sangat harmonis sehingga makan malam bersama merupakan agenda wajib bagi mereka. Saat Mari yang merupakan anak semata wayang sudah terduduk dan akan berdoa bersama sebelum makan, ponselnya berbunyi, menandakan adanya panggilan tapi tentu saja Mari mengabaikannya karena Mari dan keluarga sedang akan makan malam. Di dalam keluarganya, tidak mengoperasikan ponsel ketika makan sudah menjadi peraturan yang tak tertulis. Akan tetapi, panggilan tersebut tak juga henti hingga beberapa menit kemudian.

“Angkat saja, sayang.” Ujar eomma Mari yang akhirnya ucapannya dipatuhi oleh Mari.

Mari beranjak dari kursinya dan pergi ke suatu tempat untuk mengangkat panggilan tersebut.

Private number?” bisik Mari pelan ke dirinya sendiri menggunakan logat Engrish nya ketika melihat bahwa sang penelpon adalah nomor pribadi dimana tidak ada nomor yang tercantum. Mari yang tidak suka dipanggil oleh nomor pribadi pun akhirnya mematikan ponselnya. Setelah itu ia kembali ke meja makan.

“Siapa?” tanya eomma Mari. Mari menggelengkan kepalanya malas “Hanya orang iseng saja eomma.”

Makan malam akhirnya selesai. Mari kembali ke kamarnya dan berniat untuk belajar materi yang akan ia ajarkan besok. Ia membuka buku Fisikanya dan membaca setiap rumus-rumus Gerak Parabola yang ada di dalamnya. Matanya terasa berat saat ini, hingga berulang kali kepalanya terantuk-antuk ke meja belajar hingga ia akhirnya pun terbangun. Terbangun ketika mendengar ponselnya berbunyi dan ia mengerutkan dahinya ketika melihat bahwa sang pemanggil adalah private number, lagi. Mari hanya bisa mendesah malas dan memutuskan untuk mengangkatnya. Ia berpikir bahwa sang pemanggil akan berhenti setelah ia mengangkat panggilannya.

Yoboseyo?” Mari akhirnya mengangkatnya, tapi hening. Mari akhirnya mengulanginya. “Yoboseyoo?”

Selang beberapa detik, panggilannya pun ditanggapi oleh si pemanggil “Mari-ah..Ini aku.”

Terdengar suara namja familiar di seberang sana yang Mari tahu itu adalah suara siapa. Mengetahui siapa yang memanggilnya, Mari memutuskan untuk segera memutuskan panggilan itu akan tetapi suara namja di seberang sana segera menghentikannya “Kumohon, Mari-ah. Kali ini saja, dengarkan aku.” Terderngar suara memohon dari sang namja.

“Kim Hanbin-ssi..Dengar, aku sedang sangat lelah saat ini dan ini sudah pukul 22.00. Bisakah kau tidak menggangguku?” jawab Mari sambil memijat-mijat keningnya.

“Aku berjanji, Jeon Mari..Ini akan menjadi permintaan terakhirku kepadamu.”

Mari terdiam. Suara Hanbin dari seberang terdengar sangat serius dan memohon sehingga Mari memutuskan untuk tidak memutuskan panggilannya.

“Baiklah. Jadi, apa yang kamu mau sekarang?”

“Bisakah kau datang ke suatu tempat?”

“Suatu tempat? Kamu gila, Kim Hanbin. Ini sudah sangat malam.” Mari menaikkan nada suaranya.

“Kumohon.Kali ini saja,Mari-a. Dengarkan aku. Aku berjanji, untuk kali ini saja.” suara Hanbin terdengar sangat parau di telinga Mari. Ia bahkan bisa merasakan suara Hanbin bergetar.

Mari tidak pernah menyukai Hanbin atas apapun yang telah Hanbin lakukan setelah apa yang Hanbin lakukan kepadanya hari itu. Walaupun mereka sudah berhubungan selama lima tahun tapi karena Hanbin melakukan sebuah kesalahan dua bulan yang lalu, kepercayaan Mari kepada Hanbin mulai luntur, bahkan mungkin hilang. Tetapi, belum ada niatan bagi Mari untuk memutuskan hubungan mereka. Begitu juga bagi Hanbin. Seperti ada sesuatu yang menghalang mereka.

Bagi Mari, menumbuhkan lagi sebuah kepercayaan itu butuh waktu. Mendengar Hanbin memiliki hubungan dengan yeoja lain saat itu sudah cukup menyakiti hatinya hingga ke bagian paling dasar. Berbagai alasan yang telah Hanbin utarakan, hanya terdengar omong kosong bagi Mari. Hingga akhirnya Mari memutuskan untuk ‘break’ beberapa bulan, membuat hubungan mereka bertambah longgar dan Mari tidak tahu sampai kapan.

Pesan dan panggilan Hanbin juga selalu Mari abaikan. Mari memang membaca setiap pesannya, tetapi tidak satu pun dibalas oleh Mari. Begitu juga panggilan darinya, semua panggilan akan diakhiri oleh Mari.

“Halo, Jeon Mari? Apakah kamu mendengarku? Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Sebuah taxi sudah kupesankan ke depan rumahmu saat ini.”

“Apakah aku benar-benar harus ke sana?” tanya Mari malas.

“Harus, karena, setelah ini aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi.”

 

Kalimat itu adalah kalimat terakhir dari panggilan mereka karena setelah Hanbin mengucapkan kalimat itu, panggilan terputus begitu saja. Alis Mari menjungkit, heran sekaligus sebal. Baru saja ia ingin mengucapkan sesuatu dan menaikkan nadanya.

Otak Mari mulai bekerja keras.

Ia selalu merasa bahwa ia tidak seharusnya menanggapi panggilan Hanbin tetapi,entah, ia merasakan bahwa ia harus datang. Ia merasa tidak enak jika terus menerus mengabaikan Hanbin dan ia merasa bahwa mungkin inilah saatnya bagi Mari untuk mengakhiri ‘break’ mereka. Mari merasa ia telah memaafkan Hanbin karena bagaimana pun juga, Hanbin adalah seorang namja dan pasti akan ada kesalahan seperti ini dalam sebuah hubungan. Ia ingin memberikan kesempatan kedua bagi Hanbin. Karena, Mari sendiri tidak tahu kenapa, ia tidak bisa membenci Hanbin. Sesuatu yang ia benci dari dirinya sendiri adalah—ia tak bisa membenci Hanbin.

Setelah berganti pakaian dengan kemeja dan celana jeans serta menyelimuti dirinya dengan mantel, Mari bergegas pergi. Ia berpamit kepada keluarganya lalu berjalan keluar dari rumah.

Benar saja. Sebuah taksi telah berada di depan rumahnya.

Segera saja, yeoja berambut seketiak itu bergegas melangkah ke arah taksi dan memasukinya. Keraguan yang sempat mengganggu benaknya sudah pergi dan ia yakin untuk bertemu dengan Hanbin.

“Jeon Mari-ssi?” tanya sang supir pelan, mengkonfirmasi identitas Mari. “Kim Hanbin-ssi telah mengirim saya untuk mengantar Anda.” Setelah melihat sebuah anggukan melalu kaca rearview,ia segera melajukan mobil sedan taksinya.

Mari yang sedang terduduk di dalam taksi itu kini menatap ke arah luar. Ia mengingat semua apa yang telah ia lalui dengan Hanbin. Masa-masa indah dan juga masa-masa pahit, Mari masih mengingat semuanya hingga ke detail-detailnya.

“Aish..Kamu begitu menyebalkan..Tetapi, aku tidak bisa membencimu.” Mari tersenyum sendiri mengingatnya.

Kepalanya sedang sibuk mengolah informasi saat ini. Mari bertanya-tanya, kemana kira-kira taksi ini akan membawanya pergi. Dimana kira-kira Hanbin akan mengajaknya untuk bertemu. Berbagai lokasi yang pernah menjadi tempat mereka berdua bertemu terus menerus bermunculan di kepalanya.

Mari akhirnya menyerah. Ia tak pernah bisa menebak Hanbin dan Hanbin pasti akan memberikannya sebuah kejutan yang tidak pernah ia kira sebelumnya, seperti biasanya. Ia percaya bahwa Hanbin akan memberinya kejutan di pertemuan pertama mereka setelah 2 bulan berlalu tanpa saling bersapa.

Merasa terlalu percaya diri, Mari memukul kepalanya sendiri.

Bisa saja kan apa yang terjadi setelah ini bukan sesuatu seperti yang Mari pikirkan dan harapkan?

Mungkin saja kan Hanbin bukannya memintanya untuk kembali namun malah memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka berdua?

Helaan nafas terdengar dari mulut Mari setelahnya. Ia tahu, tak seharusnya ia berharap terlalu tinggi.

Suasana malam itu sangat dingin sehingga Mari meminta supir taksi yang ia naiki untuk mematikan AC nya.

Ahjussi..Mohon maaf, tapi bisakah ahjussi mengecilkan AC nya atau mungkin mematikannya?”

“Ah ndae.” Ahjussi supir taksi akhirnya mematikan ACnya tetapi entah mengapa, Mari masih merasa kedinginan.

Jalanan terasa sangat sepi saat itu karena mereka memasuki daerah pegunungan. Hanya beberapa mobil dan motor saja yang lewat.

Agasshi, kita sudah sampai.” Lapor sang supir kepada Mari yang sudah terkantuk-kantuk.

“Eh?” Mari kemudian membuka matanya lebar dan membuka tasnya untuk mengambil uang.

Bodohnya, ia benar-benar tidak melihat ke arah mana taksi membawanya. Ia benar-benar mengantuk saat itu.

“Berapa ahjussi?” Mari bertanya sambil melihat ke arah argometer. Ia selalu mengeceknya ketika ia naik taksi. Tetapi, anehnya, argometer tidak menunjukkan angkanya. Mari tak menghiraukan hal tsb dan mengira bahwa argometer taksi yang ia naiki sudah rusak.

“Tak usah, agasshi. Seseorang telah membayarkannya.” Ucap ahjussi supir taksi lemah, hampir tak terdengar. Saat itu pula, Mari dapat melihat wajah pucat sang sopir. Bibirnya benar-benar pucat. Mungkin karena pengaruh AC. batin Mari. Yang membuat Mari merasa insecure karena mungkin bibirnya juga akan menjadi pucat karena dinginnya malam saat ini.

“Ah.” jawab Mari, mengerti.

Mari lalu hanya bisa mengangguk pelan sambil mengembalikan dompet yang telah ia keluarkan dari tasnya. Gerakannya lalu tercekat, ia merasa tak tega pada sopir taksi sehingga ia mengeluarkan 3 lembar uang won bertuliskan nominal angka 1000. Setelah itu, ia lalu memberikannya ke supir taksi. “Ahjussi kumohon terima ini. Hitung-hitung untuk membeli kopi agar hangat.” Sang sopir hanya diam saja, membuat Mari tetap memberikan uang itu kepadanya.

Saat memberikannya, Mari sempat bertanya-tanya karena tangan sang supir terasa sangat dingin. Tetapi Mari tak menghiraukannya dan keluar dari taksi. Mari menutup pintu taksi.

Mari lalu mencari kontak Hanbin di ponselnya dan memutuskan untuk memanggilnya ketika sebuah panggilan dari private number kembali masuk. Mari masih ingat bahwa sebelumnya Hanbin memanggilnya menggunakan private number sehingga Mari mengangkatnya dan mengira sang pemanggil adalah Hanbin lagi.

“Ya Kim Hanbin! Eodie? Jangan membuat seorang wanita menunggu, nae?! Dan lagi, kenapa kau mengajak bertemu di daerah sepi seperti ini…” Mari melihat ke arah sekitar dan hanya dapat melihat pohon,jurang serta tebing. Jalanan juga terlihat sangat lengang saat itu. Dalam 1 menit ini, mungkin hanya ada dia dan taksi yang baru saja ia naiki.

“…” Hanbin tak menjawab, hingga ia akhirnya memanggil nama Mari pelan “Mari-a..”

“Mari-a..Maafkan aku.”

Mari terdiam. Ucapan Hanbin tampak begitu tulus dan lidah Mari terasa kelu hingga ia hanya bisa mendengarkan ucapan Hanbin yang terasa sangat lembut di telinganya.

Nalurinya merasakan sesuatu yang tidak baik—namun lagi, ia hanya bisa menunggu. Karena Hanbin memang orang seperti itu, selalu memberinya sebuah kejutan.

Mari benar-benar tidak pernah bisa memprediksi apa yang Hanbin inginkan, ingin lakukan bahkan apa yang sedang ia lakukan sekarang, memanggilnya ke tempat sepi seperti ini.

“Aku..selalu mencintaimu,Jeon Mari. Aku akan selalu mencintaimu.”

“Aku tahu itu.” Jawab Mari tersenyum kecil.

“Aku..akan selalu merindukanmu. Kamu akan selalu menjadi wanita spesialku.”

“Aku juga tahu itu.” Jawab Mari lagi, kini tersenyum lebar.

“Mari-a..Aku akan tetap mencintaimu meskipun kamu mempunyai kebiasaan makan banyak seperti kuli pasar.”

“Ya! Aish…Aku tahu kamu akan selalu mencintaiku. Jadi?” Lanjutnya

“…” Hanbin diam.

“Ya! Kamu dimana? Ayo segera bertemu!” teriak Mari sambil celingukan kanan kiri, mencari sosok Hanbin.

 

“Mari-a..Majulah 15 langkah dan kamu akan melihatku.”

Dahi Mari lantas mengerut.

Jinjjha? Baiklah!”

Alih-alih mengomeli Hanbin karena sejauh yang ia lihat di depan matanya hanyalah tebing yang dibatasi oleh pagar, Mari pun menuruti apa kata Hanbin dan masih belum memutuskan panggilan mereka.

Ia maju dengan pelan. Setiap langkah kaki ia tempuh, ia merasakan degup jantungnya bertambah keras dan bertambah keras. Sudah lama ia menanti saat-saat ini, saat-saat dimana Hanbin memberinya sebuah kejutan. Saat itu, saat ia berulang tahun, Hanbin menyewa sebuah aula SMA mereka dulu dan memanggil semua teman masa SMA mereka untuk memegang lightstick sehingga membentuk tulisan ‘ I Y JM’. Saat mereka memperingati hari jadi pertama mereka pun tak kalah heboh, Hanbin menyewa sebuah mobil ambulan dan berkonvoi sambil meneriakkan ‘Aku mencintai Jeon Mari’ menggunakan toa. Bahkan pernah, saat Mari ulang tahun, Hanbin rela menghabiskan semua tabungannya untuk menyiarkan ulang tahun Mari di berbagai koran lokal.

5 langkah…10 langkah…15 langkah..Akhirnya Mari sudah sampai 15 langkah dan sebuah pagar menghentikan langkahnya. Tetapi ekor matanya melihat ada yang aneh. Pagar yang berada sekitar setengah meter di sampingnya bengkok dan rusak seperti telah tertabrak oleh sesuatu. Tapi Mari tidak memperdulikan itu semua karena yang ada di dalam pikirannya saat ini hanyalah Hanbin seorang.

“Ya Tuan Kim! Aku sudah melangkah sebanyak 15 langkah. Lalu apa sekarang?” tanya Mari, tidak sabar.

“Mari-a…Tengoklah ke bawah.”

Mari menghitung mundur dalam hati sambil menutup mata dan bersiap untuk melihat surprise selanjutnya dari Hanbin.

Surprise. Sebuah ciri khas dari hubungannya dengan Hanbin. Kisah cintanya dengan Hanbin memang selalu penuh dengan kejutan.

Termasuk saat ini.

Ketika mata Mari sepenuhnya terbuka.

Nafasnya terasa sesak tatkala sebuah mobil taksi berwarna hitam tampak dalam penglihatannya. Sebuah mobil yang terjatuh ke jurang yang cukup dalam.

“Aku..berada di dalam mobil itu.”

Mari memegangi dadanya.

Ia melangkah mundur seraya menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. Betapa rusaknya mobil itu dari tempat ia berdiri sekarang benar-benar mengejutkannya.

“Kim Hanbin..Kejutanmu kali ini tidak lucu. Bagaimana bisa kau..” Mari kemudian behenti berbicara saat ia menyadari bahwa panggilannya dengan ‘Private Number’ telah tertutup.

“Kim Hanbin..Aku tidak akan terkejut dengan kejutanmu.” Mari lalu menekan kontak dan mencoba memanggil nomor Hanbin.

Saat panggilan sudah masuk, Mari segera berbicara, tanpa menunggu suara di seberang untuk berbicara terlebih dahulu.

“YA! Kim Hanbin, segera keluar dari sana. Ini semua sangatlah tidak lucu!”

Mari berharap sebuah kekehan dari Hanbin atau mungkin sebuah kata ‘surprise’ dengan nada tinggi, tetapi jawaban dari panggilannya sangat tidak terduga. Membuat Mari merasakan nafasnya terhenti sejenak.

“Mari noona? Ini Kim Hansool. Hanbin hyung sepertinya pergi ke suatu tempat dan ia meninggalkan ponselnya di rumah.”

. Ia kemudian berteriak dan mencoba untuk memanggil bantuan ke taksi yang tadi ia naiki tetapi nihil. Taksi yang tadi telah ia naiki kini sudah lenyap, tidak ada sama sekali. Hanya ia seorang yang berada di daerah tersebut.

 

–       s u r p r i s e       –

 

Mari tak bergeming di kursi yang ia duduki. Berbagai macam panggilan tak ia dengarkan. Lidahnya kelu, hanya air mata yang turun dari sepasang matanya yang bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh dua orang petugas polisi yang ada di depannya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Ia merasa, apa yang terjadi beberapa jam lalu adalah mimpi buruk yang ingin ia hapus dari ingatannya. Tetapi, kenyataan sungguh kejam. Semakin lama waktu berputar, semakin ia menyadari bahwa apa yang terjadi beberapa jam yang lalu adalah hal yang nyata. Hal nyata yang harus ia terima.

“Ijinkan aku melihatnya lagi.” ujarnya pelan, setengah berbisik. “Kumohon, setelah ini kalian bisa memberiku pertanyaan lagi.”

Seorang petugas di seberangnya menghembuskan nafas yang terbilang cukup panjang. Ia lalu berdiri dan menuntun Mari ke sebuah ruangan. Ini sudah ketiga kalinya ia melakukannya dan seperti yang telah petugas tersebut duga, Mari akan kembali menangis mengerang-erang ketika ia melihat wajah kekasihnya pucat dan dalam keadaan menutup mata.

“Hanbin..Ini semua tidak benar,kan?”

–       s u r p r i s e       –

Seminggu telah berlalu. Mari masih belum bisa melupakan semuanya. Ia masih belum bisa menerima segalanya yang telah terjadi. Oleh karena itu, ijin untuk tidak bekerja selama seminggu dengan alasan sakit telah menjadi keputusannya. Kini ia terduduk lemas di sofa di rumahnya. Wajahnya tampak pucat, tubuhnya bertambah kurus dan lingkar matanya bertambah hitam dan dalam. Bubur yang berada di depannya sama sekali tidak ia hiraukan.

“Sebuah mobil sedan taksi berwarna hitam ditemukan terjatuh di sebuah jurang di daerah pegunungan xxxxx.Di dalamnya, ditemukan pula seorang mayat laki-laki yang menjadi penumpang bernama ‘Kim Hanbin’ dan seseorang yang menjadi sopir taksi bernama ‘Choi Ji Soo’. Kedua mayat ini telah dikebumikan 6 hari yang lalu…” suara dari televisi terdengar.

Mari hanya bisa melihat ke arah televisinya. Melihat ke foto kekasihnya yang terpajang dan foto sopir taksi yang ia temui seminggu yang terpancar dari layar televisi.

“Berita bodoh! Ini sudah seminggu dan kalian masih menyiarkannya?” Mari melempar remote televisinya.

Tangis yang ia pikir tak akan pecah lagi lantas segera pecah tanpa sebuah peringatan. Ia meringkuk dan menenggelamkan kepalanya ke dalam kedua lututnya.

Mari begitu larut dalam tangisnya hingga suara bel rumahnya yang berbunyi pun tidak ia hiraukan.

Tak lama, eomma Mari memanggilnya

“Mari-a..Ada temanmu datang.” Ujar eomma Mari pelan. Mari masih tidak berhenti menangis. Hingga akhirnya ia mendengar suara perempuan yang familiar di telinganya.

“Pergi!” teriak Mari saat yeoja itu mendekatinya. “Kim Seolhyun, kumohon pergi!”

Tapi sang yeoja tidak segera pergi atas teriakan kasar dari Mari. Dia malah mendekat ke arah Mari.

“Mari-a, Hanbin menitipkan sesuatu untukmu.Barang ini ditemukan di saku bajunya dan aku tahu ini untukmu.”

Mari masih tidak merespon.Bahkan untuk setengah jam kedepannya. Seolhyun yang tidak tahu harus berbuat apa hanya meninggalkan barang yang ia maksud ke meja di samping tempat Mari meringkuk.

Mari mendengar langkah Seolhyun pergi. Ia lalu mendongak dan melihat ke barang yang Seolhyun tinggalkan. Sebuah kunci dan kertas berwarna biru laut bertuliskan sebuah alamat.

–       s u r p r i s e       –

Keesokan harinya, Mari memutuskan untuk pergi ke alamat yang tertulis di secarik kertas itu. Anehnya, ternyata ketika ia menuju ke alamat yang tertulis di kertas biru laut itu ia melewati lokasi kejadian kecelakaan Hanbin. Mata Mari berair dan beberapa titik air mata jatuh ke permukaan pipinya.

Sesampainya di lokasi yang tertulis di kertas biru, mata Mari kembali terasa hangat.

Sebuah rumah.

Meski kecil, itu tetaplah sebuah rumah.

Sebuah rumah di daerah yang cukup sepi.

Perlahan, Mari maju dan mencoba memasuki pelataran rumah kecil itu.

Ia membuka kunci pada pintunya lalu memasuki rumah itu.

Di dalamnya banyak barang-barang yang Mari sukai. Seperti vas setinggi lututnya, lantai kayu mengkilap, dan cat rumah berwarna biru laut. Sebuah kamar terlihat di depan matanya. Segera saja Mari membuka pintu itu, membiarkan indra penglihatannya disambut oleh sebuah kamar yang indah. Kamar dengan bed ukuran king size yang sangat besar. Dekorasi kamar terlihat begitu elegan. Bingkai foto banyak yang tertanam di tembok dan juga tertata rapi di sebuah meja kecil di samping bed. Mari mendekat dan melihat ke arah foto tersebut.

She cant help but to crying.

Arus deras air mata terus saja mengalir. Foto-foto di banyak bingkai itu semakin memicunya untuk terus menangis.

Perlahan, ia mulai mengerti apa kejutan sebenarnya yang ingin Hanbin berikan padanya.

Ia menyesal, begitu saja percaya pada Hanbin yang memiliki hubungan dengan Seolhyun. Ia tak percaya, akan kepercayaannya pada Hanbin yang begitu dangkal.

Air matanya tak berhenti menitik. Mari terus menyalahkan dirinya sendiri, apalagi tatkala ia mengingat kesamaan marga pada Hanbin dan Seolhyun. Ia merasa dirinya begitu bodoh.

Dengan langkah terburu, Mari mulai keluar dari rumah itu dan melajukan mobilnya kencang.

Pergi ke arah tempat dimana ia kira Hanbin akan memberinya sebuah kejutan.

“Ternyata takdir memang lebih mengejutkan daripada sebuah kejutan yang kau buat, ya, Hanbin?” ujar Mari pada dirinya sendiri sebelum ia membelokkan setirnya tajam ke arah pagar yang sudah bengkok dan rusak beberapa meter di depannya itu.

fin.

Hye~! Sebenarnya aku bukan author tetap di sini. Cuma pengunjung aja.

Tergugah untuk mengikuti ajang menulis ini karena kak astituidt. Dikasih tahu lewat japri bbm. : D

Maaf kalo bahasanya agak gimana gituu. Soalnya itu ff lama yang kutulis tahun lalu udah berdebu gitu nggak kupublish karena takut bakal dibantai karena endnya sad. heuheu

Anyway semoga suka. Maaf kalo thrillernya kurang. Aku emang penggemar thriller tapi kalo disuruh bikin nggak ahli. Well, ff thriller pertama of my life! hehe

Feedback ya : )

natadecocoo

Advertisements

9 thoughts on “[The Black Shadow of iKON] Surprise

  1. DIH…ini mah seram ya? naik taksi yg disupirin sama pengemudi mati & ditelepon sama orang yg juga mati & berada d TKP kasuh tabrakan gitu… mending pas d private number telepon, ane nggak mau angkat ah..

    hai..aku sebut kamu apa y? Aku Aoko, 92L. Maaf baru komen..
    Ini semacam surprise beneran ya? kukira memang Hanbin jahat & ternyata dia baik luar biasa.
    surprise nggak nyangka dia nelpon cuman ngabarin kalo dia mati, *please..ini kejutan yg serem..

    menurutku, genre ini horor y..but, it’s nice.
    keep writing!!
    dan kutunggu karyamu yg lain di blog ini.
    🙂

    Like

  2. Demi apa ini ngenes ㅠ___ㅠ
    Kenapa harus secomplicated ini, kenapaa….

    Ini jatohnya yg ke horror to da max ya. Asli serem kalo misalkan udah isdet(?) tapi masih bisa telpon2 😦 etapi banyak juga sih kisah nyata yg kek begini jadi gak terlalu impossible.

    Dan betapa manisnyaaaaaa kejutan yg Mbin siapin yhaila kalo aku jadi Mbaknya juga mungkin lebih milih ikut si Maznya aja kali 😥

    Kereeenn ❤

    Liked by 1 person

  3. Jadi mols? si mari mati?/mari mati…w ga ngajak lu mati kok mols wqwq

    Bunuh diri gitu endingnya mols? Mungkin ini lebih ke horror yaa soalnya supir taksi yang udah mati masih bisa jemput si mari. Trus abin yang udah matipun bisa tlp2 gitu. Hiks tulungin abin juseyoooounggg~

    Pertama baca marganya Mari langsung keingetan mas jungquq. Suami KITA wqwq kirain bakal bersibling tapi ternyata mari semata wayang/plis asti lu OOT banget

    She cant help but to crying……ini bikin baper. si abin udah punya rumah buat mereka berdua ternyata? hiks trus kenapa dia selingkuh? syedih ini syedih. Horror. Thriller. Ah..entahlah kusuka ajaaaa hikseu :””””’ ❤

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s