[Ficlet] The First

The first

Song Mino & Hera D.

Romance, Hurt/Comfort.  || Ficlet || Song Mino and another real characters belong to the company, their self and God. Original characters and plot are mine. || Related to The Second.

“Don’t act like you want me to go when you really need me to stay.”

– The First –

Hyung.”

Apa yang harus aku lakukan? Lagipula sejak kapan gadis itu mengetahui bahwa perasaanku padanya lebih dari sekadar teman? Lantas kenapa ia mengetahui aku menyukai gadis lain?

Hyung.”

Hal yang dikatakannya terdengar logis tapi disaat bersamaan melepaskannya tidak bisa aku bayangkan. Aku juga tidak sempat memilah perasaan dengan baik untuk mengetahui mana yang benar atau salah. 

“HYUNG!”

“YA! Kamu tidak perlu memanggilku dengan teriakan!” marahnya sambil memutar tubuh di karpet menuju Taehyun.

“Apa kamu bilang!?” Taehyun mempertemukan kedua alis miliknya di tengah dahi. “Aku sudah memanggilmu dua kali dan kamu masih tidak menyahut, sekarang—”

Sebuah bantal sudah siap ia layangkan dengan kecepatan tinggi seandainya saja Seungyoon tidak menghentikannya. Taehyun menoleh ke arah sang leader sebelum mendengus sebal juga menghempaskan pundak ke sofa.

“Maaf,” ucap Mino sembari menggaruk tengkuknya, “memangnya kamu ingin membicarakan apa?”

“Sudahlah, aku malas.” Taehyun mengayunkan tangannya tanpa menggeser pandangan dari ponsel.

“Lagipula apa yang terjadi? Aku lihat dirimu akhir-akhir ini sedikit berbeda,” tanya Seungyoon pada akhirnya. Ia sudah melewati batas jengah setelah satu minggu terpaksa melemparkan pandangan apa-yang-meracuninya-hingga-ia-jarang-bicara.

“Hanya hal sepele,” sanggah si lelaki penuh masalah—malas untuk membicarakannya.

“Hal sepele apa yang menjadikanmu kehilangan fokus seperti ini?”

“Seseorang ber—”

“Seorang gadis, huh?” potong Taehyun—masih memandang benda kotak di tangannya.

Mino hanya menghela napas mendapat perlakuan seperti itu, ia mungkin sudah terlalu kebal dengan segala kesassyan maknae mereka. Fokus maniknya kembali bergeser menuju wajah Seungyoon, “Aku menyukai dua orang di saat bersamaan.”

“Lalu kamu tidak yakin memilih yang mana?”

“Mmm,”—ia mengangguk—”dan gadis pertama mengetahui kenyataan itu, lalu ia memintaku untuk memilih yang kedua.”

“Sebut saja yang pertama bernama Hera.” Kedua pasang pupil milik Seungyoon dan Mino menemui mata Taehyun. “It’s obvious. Hyung menyukainya dan gadis sepertinya sangat cocok menjadi “gadis pertama” dalam deskripsi itu.”

“Apakah sejelas itu?” Dahi Mino berkerut-kerut.

Are you serious?” Taehyun tidak bisa menahan diri untuk tidak memutar kedua bola matanya. “Bahkan kita semua berpikir Hera telah mengetahuinya.”

Mino memandang Seungyoon berharap apa yang diucapkan Taehyun adalah kebohongan. Akan tetapi yang ia dapat tidak terlalu menyenangkan, “Sejelas langit di siang hari, Song. Tersenyum seperti orang gila di dekatnya, meluangkan banyak waktu untuknya, memberikan kado khusus—hand crafted, tolong garis bawahi itu—saat ulang tahunnya. Hanya sekadar teman? Terlalu berlebihan.”

“Tapi tidak banyak gadis akan menyadarinya? Mereka akan lebih merasa ‘Ah, mungkin ini hanya perasaan.’ Tidak?”

“Dan ia bukan kebanyakan gadis, seperti yang kamu bilang. Ia mengetahui banyak hal karena ia mengobservasi keadaan lebih baik, walaupun terdengar seperti kebohongan, kamu tahu ia memercayai apa yang dilihatnya.”

“Okay,”—kini paru-parunya berusaha ia isi dengan oksigen walaupun terasa sedikit berat—”dan yang kedua?”

“Hojung,” Taehyun mengucapkannya cepat. “Masih bertanya mengapa? Hyung terlalu terdengar excited ketika menceritakan “pertemanan kalian berdua, bahkan di depan Hera.”

Mino dilingkup senyap sejemang; tertegun dengan penuturan Taehyun.

“Kenapa Hera menyuruhmu memilih Hojung?” suara Seungyoon kembali mendominasi dorm mereka.

Pandangan Mino yang tadi membentur lantai, sekarang mengarah pada Seungyoon. “’If your really loved the first one, you wouldn’t fall for the second,’ katanya.”

Yeah… good point actually.”

Oh, Seungyoon sudah kehabisan kata-kata, sedangkan Taehyun sedang memikirkan sesuatu.

Hyung, aku punya pertanyaan,”— dan untuk pertama kalinya dalam pembicaraan mereka Taehyun sungguh-sungguh memfokuskan lensanya pada Mino. “Hyung yakin bahwa hyung benar-benar mencintai yang kedua? Or is it just a lust?”

Hera sedang berusaha memutar kunci rumahnya kala sepasang lengan memeluk tubuhnya dari belakang. Ia bisa merasakan embusan napas yang menyentuh lehernya pun sekumpulan rambut hitam menyapu kulit pipinya. Bahkan dengan wajah masih menatap pintu pun tanpa sapaan, ia bisa mengetahui siapa manusia yang berani melakukan hal sembrono seperti ini, Song Mino.

“Bukan seperti ini caranya menyapa seorang teman, Mino,” ucapnya seolah-olah tidak menyukai perlakuan tersebut, padahal nyatanya hanya 0% usaha yang ia kerahkan untuk membebaskan diri.

“Apakah kita teman?”

“Memangnya apa?”

“Kamu tahu aku menyukaimu.”

Detik ini Hera memutar kepalanya ke kanan, membiarkan kedua pasang netra itu beradu, “Baru sekarang mengakuinya, huh? Tapi tetap saja itu tidak merubah apapun.”

“Kalau begitu ayo kita rubah!” Kepalanya ia istirahatkan di pundak Hera dan gadis itu tahu si lelaki sedang tersenyum konyol.

“Bukankah aku sudah bilang, kamu lebih baik memilih yang kedua.”

“Kalau aku sudah memilihmu kamu bisa apa?” Mino menyuarakan pertanyaannya tepat di telinga Hera, memberikan sensasi menggelitik untuk gadis itu.

Are you sure?

I think the second one is just a lust and the first is still where my real love landing for. Tetap dirimu yang aku berikan kasih sayang berlebih dan untuk gadis kedua mungkin aku hanya senang dengannya, hanya sesaat karena ia membantuku. Aku minta maaf untuk itu.” Suaranya terdengar cukup bersalah.

“Minta maaf untuk apa? Kita hanya teman.”

“Huh? Aku pikir kita telah merubahnya sesaat yang lalu.”

Hera berusaha bersikap sedatar mungkin, walaupun pada akhirnya tetap gagal dan bibirnya membentuk kurva setelah mendengar pertanyaan yang dibuat sok polos tadi—oh, beruntunglah ia karena Mino tidak bisa melihatnya. “Kapan aku menyetujuinya, Mino?”

“Tanpa perlu menyetujuinya, kamu pasti menginginkannya.”

“Siapa yang bilang?”

“Taehyun dan Seungyoon.”

Hera sudah siap untuk mengeluarkan sumpah serapah pula berbagai macam sanggahan apapun, namun hanya sebuah helaan napas yang berhasil lolos dari mulutnya. Sama sekali tidak ada niatan untuk memberitahu rasa sukanya pada Mino ketika baru seminggu yang lalu ia meminta lelaki itu pergi. Dasar dua manusia sialan.

“Kamu diam?” Lelaki itu menjorokkan kepala ke depan, berusaha melihat ekspresi si gadis. “Berarti kamu setuju?”

For the last time, are you sure I am the one?

Sebuah tawa pelan berhasil memasuki lorong menuju gendang telinga Hera. “Don’t act like you want me to go when you really need me to stay.

Kala itu Hera merasa malu karena bukan ia yang berhasil menemukan ide-ide di kepala Mino, namun lelaki itulah yang berhasil mendobrak pemikirannya. “Well, sebenarnya aku suka dengan kenyataan kamu memilihku pula keinginanmu untuk tinggal.”

“Aku juga suka ketika kamu mengesampingkan sikap misteriusmu dan berkata tanpa kerahasiaan.” Ia menghela napas sesaat, sebelum meluapkan serangkaian kata dengan kesungguhan total, “Ya, aku menyukainya, karena setelah itu semuanya jadi terasa lebih nyata, lebih indah tanpa sedikit pun keraguan bahwa bukan hanya aku yang tenggelam dalam perasaan ini.”

Sejujurnya, terlalu banyak hal yang perlu diucapkan Mino hingga kalimatnya menjadi terdengar tidak jelas, tapi Hera mengerti. “Baiklah, aku akan berusaha jujur untukmu.”

“Janji?”

Sebuah kata sudah berada di ujung lidah si gadis, namun ia memutar otak sekali lagi sebelum bicara, “Aku tidak bisa menjanjikannya secara pasti, yang bisa aku katakan hanya, aku akan berusaha.”

Okay, bisa diterima.” Kemudian Mino cuman perlu waktu beberapa detik sebelum kembali ke sikap jenaka. “Kalau begitu sekarang kita bukan teman lagi, kan, sweetheart?”

“Ya!” Telapak tangan Hera reflek mendaratkan sebuah cubitan di pinggang teman, salah, kekasih barunya. “Aku tidak memintamu untuk memanggilku seperti itu!”

Sekali lagi suara tawa lolos dari mulut Mino, lalu ia meninggalkan ciuman lembut di leher Hera, “I love you.”

I know,” ucapnya sambil melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda, memutar kunci pintu. “Dan Mino, punya waktu untuk sebuah coklat panas?

“Kemudian cuddling di sofa merah marunmu?”

Great idea,” jawab Hera tanpa ragu.

Iris coklat kokoa milik Mino bersirobok dengan iris sewarna kalung perak sebelum sebuah kecupan singkat terjadi di antara mereka berdua. Mino dan Hera memasuki kehangatan rumah bersamaan dengan sebuah lengkungan yang terbentuk di bibir mereka.

– The First –

Note:

  1. HA! Ada yang mau protes Minonya sama Hera? LOL.
  2. Iya fiksi lama, bahasaku monoton banget kan di sini? Cuman kayaknya nanggung gak ngepost sequel The Second.
  3. Okay, bye-bye lagi, sampai bertemu entah kapan (?) ♡♡
Advertisements

7 thoughts on “[Ficlet] The First

  1. uye, Hera-Mino berakhir bahagia. walau banyak sekali OC yg di-pair bersama Mino disini, entah kenapa s Hera ini ‘one of a kind’ ya? ku suka karakter OC Hera ini, kayak aku ya? *jangan timpuk aku ya, Sher? 😉

    ku tunggu sekuel-nya lagi ya..kali-kali aja s Hera nemu The Second selain Mino? *apa-apaan ini? perusak cerita orang saja…

    dadah…Sher!
    🙂

    Like

    1. IYA. HAHAHA, aku juga gak ngerti lagi Mino sampingannya banyak abis xD Pernah bikin dia galau gitu, terus entah kenapa ngerasa gagal total LOL. Kayak kakak apanya dulu nih? (!?!?)

      Entar aku jadiin Minonya yang ditinggal deh xD Kalo ada inspirasi sih hahaha. Makasih kak, see you as soon as possible 🙂

      Liked by 1 person

  2. uhuy.. manis syekaliiiiii.. bang mino sok banget romantis elaaaahh kan akku jadi pengen di romantisin juga.. uhuk (keplak mino) (dikeplak sher) hahaha

    ditunggu mino-hera nya lagii… hihihihi XD

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s