[LET ME BE A HERO] IMPROMPTU

impromptu

Double Blue‘s Second Project ‘Aoko Cantabile & Azzurachan’

Cast : BIG BANG Members

[Kwon Jiyong, Dong Youngbae, Choi Seunghyun, Kang Daesung & Lee Seunghyun]

Genre : Superhero, Action, AU, Fantasy. Family, Friendship, Sad, OOC, Slice of Life

Rating : General

Length : Oneshoot (4016 words)

Disclaimer : inspired by The Heroes series

**********

-impromptu.

Five Men fight for their hopes.

**********

Gumpalan awan mendung berarak. Angin dingin menghembuskan lesiran bersuhu rendah yang membuat siapapun akan bergidik kedinginan. Udara terasa lembab, memberikan pertanda akan datang badai hujan beberapa saat lagi.

Hal itu tak menyurutkan kegiatan seorang pemuda. Dia tengah menatap keriuhan aktivitas para penduduk kota Seoul dari atas rooftop sebuah gedung. Roman mukanya sedih, seperti menyesali sesuatu. Dia mengumamkan “Sesuatu yang tak pernah diharapkan pastinya akan selalu tak diharapkan. Percuma saja membuktikan diri jika keberadaanmu tak pernah diharapkan.”

Sepersekon kemudian, dia membentangkan kedua tangannya lebar-lebar, menutup kedua matanya, bersedia menerjunkan dirinya ke bawah. Berupaya untuk menghilangkan eksistensinya. Dia telah siap bertemu dengan Sang Pencipta, memberikan ruang yang cukup kepada keluarganya untuk hidup bahagia tanpa dirinya.

Dia jatuh. Menukik tajam. Mengikuti gaya gravitasi. Kurang dari se-meter lagi, tubuhnya akan hancur, bercumbu dengan aspal jalanan.

Keajaiban datang bersamaan dengan turunnya hujan. Penduduk kota Seoul yang sedari tadi berjalan cepat di bawahnya, berlari cepat, layaknya anak ayam kehilangan induk, mencari tempat terdekat, menghindar dari tumpahan air dari langit.

Butiran kecil kasat mata itu menusuk epidermis si pemuda. Membuatnya heran, kenapa dia tak mati. Dia membuka kelopak matanya, kemudian terlonjak kaget juga panik. Kedua kakinya melayang di udara. Ini sungguh mimpikah? Atau kematian yang sangat cepat, sehingga dia tak sadar bahwa dia sudah di surga? Reflek, dia mencubit pipinya. Sakit rasanya! Ini nyata bukan khayalan. Dia bisa terbang. Terbang? Benarkah? Dan saat itu juga, tubuhnya terbang melesat menuju atmosfer tertinggi.

###

“Lee Seunghyun, kemana sajakah kau semalam? Ibu mencarimu, khawatir karena kau tak pulang-pulang.” Suara berat dari lelaki bertubuh jangkung itu menyapa indera pendengaran seorang pemuda –yang baru saja menjejakkan kakinya di beranda sebuah rumah mewah.  Si pemuda merespon datar, menyangsikan perkataan orang di hadapannya.

“Benarkah? Apa ibumu itu khawatir aku menghilang dan akan berbuat ulah? Apakah dia takut aku akan melakukan sesuatu yang membuat citramu memburuk di mata penduduk Seoul? Tenang saja, hyung! Aku cukup waras untuk tidak bertingkah seperti yang kalian sangka!” sahut pemuda itu. Dia tak ingin lagi berpura-pura menjadi insan suci yang bisa dihina kapanpun oleh si nyonya rumah.

“Jaga mulutmu itu, Lee Seunghyun! Seharusnya kau berterima kasih karena kami mau memberikanmu makan dan tempat tinggal disini!!” seranah seorang wanita yang terlihat berumur setengah abad, tiba-tiba saja berdiri di ambang pintu. Sorot matanya tajam, mendelik pada si pemuda.

“Sudahlah, Eomeoni ! Seunghyun kecil baru saja pulang. Biarkan dia beristirahat terlebih dahulu. Bajunya basah, pasti dia kedinginan.” Lelaki jangkung itu mengungkapkan pembelaan pada si pemuda. Yang dibela tak merasa bahagia. Dia melangkahkan tungkainya cepat, bergerak menuju kamarnya di lantai dua, tak ingin terlibat percakapan si nyonya rumah dan abang tirinya lebih dalam lagi. Biarkan dirinya menenangkan diri, sendiri – tanpa diganggu siapapun.

……….

“Seunghyun-ah, sampai kapan kau terus membela anak tak tau di untung itu?”

“Bu, sampai kapan kau akan melecehkan Seunghyun kecil? Dia itu adikku. Sudah tugas seorang abang untuk membela adiknya.” jawab tegas lelaki jangkung pada wanita yang dipanggil ibu olehnya.

Si ibu melotot. Dia tak ingin mendengarkan sebuah kalimat terlarang, yang dilontarkan dari bibir anak kesayangannya, “Tidak! Dia itu bukan adikmu! Aku tak akan pernah menerima keberadaan anak dari selingkuhan ayahmu itu. Tidak pernah!!”

###

Di negara lain., seorang pemuda sedang membaca cepat sebuah buku bergambar –yang cover-nya telah lusuh. Si pemuda merutuk kesal, karena dia telah hafal isi cerita komik di luar kepala. Sudah setahun, dia menanti waktu terbit komit favoritnya. Dia bahkan nekat datang ke penerbit komik, menanyakan prihal komik berjudul ‘The Heroes’. Dan, si penerbit mengatakan bahwa ‘The Heroes’ belum update di Korea –negara asal pengarang komik. Mungkin saja si pengarang hiatus karena suatu hal. Alasan itu terdengar klise di telinga pemuda itu.

Gejolak hatinya sungguh tak dapat menerima kenyataan pahit. Seandainya dia dapat pergi ke Korea? Akan ia temui manusia bernama Dong Youngbae dan memaksanya untuk membeberkan akhir dari kisah pertempuran pahlawan idolanya. Apalah daya! Dia masih memiliki kontrak bekerja di Jepang.

Dia melempar komiknya itu ke sembarang arah, membuat pandangan orang sekitar terpusat padanya. Sadar akan situasi tersebut, dia membungkuk dalam pada rekan sejawatnya, meminta maaf karena tingkah kekanakannya itu. Dia lalu mencari komik yang ia lempar tadi di bawah meja kerjanya. Rasa-rasanya ia melempar kesana.

Nihil! Komik itu lenyap- bak hilang ditelan bumi. Kemana komiknya itu? Kenapa bisa hilang? Dia lelah berjongkok selama lima belas menit. Kerjaannya juga belum selesai. Dia kemudian bangkit. Tapi, pemandangan di depan maniknya terasa ganjil. Semua orang berhenti kaku, bagaikan patung di museum-museum. Kening si pemuda berkerut –bingung.

Netranya memejam kilat. Pemandangan tadi berganti. Sekarang nuansa kesibukan kantor kembali terasa. Orang-orang beraktivitas seperti semula.

Ini aneh! Sangat aneh! Benar-benar aneh saat matanya bersirobok dengan komik -yang dicarinya tadi, di bawah kaki meja kerja. Eh? Komik itu ada?

“Kang Daesung.” Panggilan padanya, mengalihkan keheranan yang terlintas di pikirannya. Dengan sigap, ia berjalan menuju meja kerja sang atasan.

“Mana laporan akhir bulan? Sudah selesai?” tanya ketus seorang pria. Takut-takut, si pemuda menggelengkan kepalanya.

“Makanya kau selesaikan kewajibanmu itu dulu! Ini malah asyik membaca komik. Cepat selesaikan sebelum deadline besok!” perintah pria itu nyaring pada pemuda yang ternyata bernama Kang Daesung. Si pemuda mengangguk lemah, lalu berlari kecil, kembali ke meja kerjanya.

###

“Choi Seunghyun-ssi, Presiden memanggil anda.” Sebuah pesan dari  seorang asisten mengejutkan sosok lelaki jangkung. Tadi dia sedang melamun, memikirkan polemik ketidaksukaan si ibu pada adik tirinya. Dia sulit sekali berada pada posisi katalis di antara kedua orang yang paling ia sayangi dan kasihi.

Dengan langkah tegap, ia menemui sang pemimpin negara yang berada di ruangannya. Secara hati-hati, ia membuka pintu ruangan tersebut, menjumpai dan memberikan salam hormat kepada manusia yang tengah membaca hasil laporan para menteri.

“Anda memanggil saya, Pak Presiden?” tanya takzim lelaki itu. Manik sang presiden beralih pada sosoknya dan menyilahkannya duduk.

“Apakah kau sudah mendengar kabar terbaru, Pak Perdana Menteri Choi? Menteri Perhubungan dan Menteri Pertanian telah didakwa sebagai pelaku koruptor. Hal ini  sangat membebani pikiranku, khawatir kepercayaan rakyat pada kabinet kita akan menurun”. Mendengar penuturan sang presiden, lelaki yang disebut sebagai Perdana Menteri itu tersenyum kecil.

“Mengapa anda harus khawatir, Pak Presiden? Bukankah kita sudah menuntaskan seratus hari kita dengan baik? Media massa juga menuturkan gebrakan-gebrakan yang telah kita buat. Saya masih optimis, masyarakat masih berada di posisi yang sama.”

“Entahlah. Aku justru berpikiran hal yang berbeda. Aku menduga kedua kasus yang menimpa kedua menteri yang baru kita pilih ini, mengakibatkan opini publik menuntut kita untuk melakukan reshuffle kabinet.”

“Nah. Kita harus membalikan pola pikir tersebut. Anggap saja kita telah lalai dan tidak memeriksa track record kedua menteri tersebut dengan teliti. Kita harus mengangkat keberhasilan kita yang mengungkap kasus mereka. Kita harus memuji kinerja Badan Kepolisian dan Kejaksaan dan menyuarakan bahwa kita mendukung segala aksi dan tindakan dalam memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme.” ujar berapi-api Choi Seunghyun. Mendengar pendapat Perdana Menterinya, sang Presiden mengangguk-angguk mengerti. Menimbang semua perkataannya.

“Tidak salah kalau engkau terpilih sebagai Perdana Menteri, Choi Seunghyun-ssi. Sosok muda, cerdas juga optimistis.” puji Sang Presiden sambil tersenyum lebar. Yang dipuji mengucapkan terima kasih atas sanjungan yang dilayangkan padanya.

###

Seusai membersihkan diri, Daesung berjalan menuju kamarnya yang pengap dan gelap. Surainya yang basah, ia gelung dengan handuk serampangan. Pikirannya kosong tanpa beban, tak ingin lagi mengingat kemarahan sang bos juga komik kesukaannya yang tak kunjung kelar.

Dari arah kamar, terdengar suara berisik. Seketika itu juga, Daesung panik. Dia mengambil sapu yang tepat berada di sampingnya, memegang tangkai sapu dengan erat sambil berkomat-kamit –berdoa agar bunyi tersebut berasal dari pergumulan tikus-tikus yang juga mendiami loteng flat-nya. Dengan perlahan, Daesung memutar kenop pintu kamar dan membukanya sedikit.

Tampak siluet seseorang dengan tinggi badan yang sama dengannya. Jantungnya berdegup kencang. Ia bersiap memukul orang tersebut dengan sapu yang ia genggam tetapi langkahnya tertahan karena suara yang memanggilnya.

“Jangan takut, Daesung. Aku kesini bukan untuk berniat jahat.” Daesung mengeryitkan dahi. Telinganya menangkap sebuah panggilan dengan suara yang sangat familiar. Siapa orang tersebut?

“Siapa kau? Apa tujuanmu kemari? Aku tak memiliki barang berharga untuk kau curi.” sahut Daesung lirih.

“Aku datang dari masa depan. Ingin mengabarimu bahwa kau memiliki kekuatan teleportasi. Kemampuanmu memanipulasi dan melakukan perjalanan waktu. Cukup dengan membayangkan tempat dan waktu yang akan kau tuju, kau akan berada di lokasi dan waktu yang kau inginkan.”

Walau Daesung adalah seorang otaku, tapi Daesung tak mungkin mempercayai ucapan bersarat pembodohan yang diungkapkan oleh orang di hadapannya.

“Kau bermaksud menipuku ya? Mana mungkin aku memiliki kekuatan fiktif seperti itu!”

“Kau bisa membuktikan ucapanku sesaat lagi. Tujuanku menemuimu adalah setelah aku pergi, kau harus menemui seseorang bernama Dong Youngbae. Kau harus membujuk dia untuk bergabung dengan kelompokmu dan kalian nantinya akan menyelamatkan Korea, juga negara-negara di sekitarnya dari ancaman nuklir.”

“Eh, maksudmu?”

Save Victory!! Save Korea!!!”

“Hei…aku sungguh tak mengerti!!! ” pekik Daesung sampai akhirnya ia melihat sosok orang di depannya dengan jelas. Netranya membulat tak percaya, wajahnya memucat, tak mengira orang yang sedari tadi berbicara dengannya adalah dirinya sendiri.

……….

Langkah gontainya membelah kamar berantakkan itu. Kakinya beberapa kali menginjak kertas tak berarti yang dengan santainya teronggok di lantai begitu saja. Matanya berkantung, menjadi salah satu bukti bahwa ia sudah menahan tidurnya cukup lama.

Kembali, ia duduk di hadapan lukisan di kanvasnya. Otaknya berputar begitu cepat seperti kereta bawah tanah. Mempertanyakan apa maksud dari lukisan yang ia buat tanpa sadar itu. Ya, tanpa sadar.

Panggil saja pria ini Dong Youngbae.

Komikus terkenal yang sedang hengkang dari pekerjaan menggambarnya dengan alasan hampir gila karena lukisannya sendiri. Entah sudah berapa jam yang ia habiskan hanya untuk memandangi lukisan itu. Kadang melewatkan tidur atau makan. Parah memang. Orang-orang dengan senang hati menyebutnya tak waras saat ini. Tapi bagaimana jika lukisan yang ia lamunkan mencangkup hidup mati orang banyak?

Lamunannya terganggu dengan suara bel yang berdenting begitu keras di heningnya keadan rumah. Tersadar, ia segera bangkit, keluar dari kamar setelah berhari-hari di dalam kamarnya. Ia membuka pintu. Netranya menangkap seorang pria bermata kecil yang tengah menatapnya dengan tatapan sama -terkejut.

“Dong Youngbae?” tanya pria itu ragu-ragu.

“Iya, saya,” jawab Youngbae seadanya. “Ada apa?”

Tanpa aba-aba, pria itu seenaknya saja masuk ke dalam rumah. Youngbae langsung mengetahui bahwa orang ini tidak tahu tata cara bertamu yang baik.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Youngbae saat pria itu sudah memasuki kamarnya. Pria itu menatap lukisan yang Youngbae lamunkan tadi.

“Lukisan ini!” seru pria itu. Ditunjuknya lukisan itu dengan telunjuknya. “Kau percaya bukan, lukisan ini nyata dan akan terjadi?”

Youngbae malah bungkam. Pria asing ini mengungkit lukisan yang selama ini dia  tutup-tutupi. “Apa maksudmu?”

Pria itu menjabat tangan kekar Youngbae. “Namaku Kang Daesung. Aku sudah tahu tentangmu, Youngbae-ssi. Kau memiliki kemampuan melukiskan masa depan bukan?”

Youngbae terkejut bukan main mendengarnya. Bagaimana pria asing ini bisa mengetahui kekuatannya? Mengingat ia tidak pernah menceritakannya pada siapapun.

“Darimana kau tahu akan hal ini?” tanya Youngbae. Ia tidak bisa menetralisir wajah terkejutnya.

Daesung berdeham sesaat -memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan pria berambut mohawk di hadapannya. “Kau bisa saja menyebutku tak waras jika mendengar ini. Tapi, aku punya kekuatan teleportasi ruang dan waktu. Aku didatangi oleh diriku di masa depan, dia berkata bahwa kita dalam ancaman bom nuklir. Dan aku harus mengajakmu bekerja sama.”

Youngbae percaya saja dengan ucapan Daesung. Mengingat ia pun memiliki kekuatan yang tidak bisa diterima akal manusia.

“Kau pemegang kunci utama menuju pintu penyelamatan negara kita, Youngbae-ssi! Kau yang tahu apa penyebab ledakan nuklir ini! Kita harus mencegahnya. Jika tidak, kau, kita, bahkan orang orang yang tidak tahu apa-apa menjadi korban!”

Youngbae mengangguk mengerti. Selama ini ia hanya anak anjing yang terlantar di jalanan yang bermimpi untuk menjadi anjing polisi. Orang ini akan menuntunnya menjadi orang yang lebih baik. Ia percaya akan itu.

“Dong Youngbae-ssi, beritahu aku apa penyebabnya dan mari kita bersama sama mencegahnya! Mari kita selamatan negara kita!”

“Ya, kita harus bisa,” ujar Youngbae sembari menatap dengan mantap ke arah lukisannya. Matanya menangkap satu objek yang berada di tengah gambar, sesosok manusia yang berada di tengah kontrasnya warna merah api. “Apa kau lihat orang ini?”

Daesung menatap lukisan itu lagi. Youngbae memegang lukisan itu, memperhatikannya dengan seksama.

“Aku percaya orang ini yang menyebabkan ledakan itu nanti. Kita harus mencarinya!”

###

Hyung, apakah kau punya waktu untuk berbicara?”

Seunghyun menolehkan pandangannya pada sumber suara. Adiknya yang tengah duduk di mulut pintu. Seunghyun hanya mengangguk, membiarkan sang adik memasuki ruangan lalu duduk dihadapannya

Seunghyun kecil menarik nafas sejenak. Ia menatap sang kakak yang sudah siap mendengarkan rentetan kata darimya.

“Apa hyung percaya akan keajaiban?”

Sang Kakak memiringkan kepalanya sedikit. Keajaiban? Untuk apa Seunghyun kecil menanyakan hal yang terdengar agak asing baginya.

“Tergantung. Keajaiban apa yang kau maksud?” jawab Seunghyun. Mungkin lebih tepatnya ia bertanya kembali. Meminta kejelasan.

Hyung mungkin tidak percaya akan hal ini, tapi aku memiliki kekuatan untuk terbang!”

Seunghyun besar mengedipkan matanya sekali. Matanya yang lurus menatap bukunya akhirnya menatap ke atas. Menatap sang adik yang tengah tersenyum lebar.

“Kau bicara apa, Dik?”

“Akan kubuktikan! Tunggu sebentar!”

Seunghyun kecil berlari ke arah sofa, ia menginjakkan kakinya di atas sofa. Tak sopan memang, tapi, hal ini sangat diperlukan untuk membuat kakaknya percaya. Sekali saja, ia ingin mendapatkan kepercayaan dari kakaknya.

Hup! Ia melompat. Kakinya melayang, tak sedikit pun menginjak tanah. Ia tersenyum bangga, seakan mengejek Newton akan teori gravitasinya.

Hyung? Kau lihat? Aku terbang!” serunya.

Seunghyun besar hanya bisa menatap dengan tidak percaya sang adik yang tengah berterbangan mengelilingi ruangannya. Bagaimana bisa ia mendapatan kekuatan seperti itu? Sihir? Ataukah keajaiban?

Hyung kau bisa lihat sendiri bukan? Aku terbang! Bagaimana menurutmu?” ujar Seunghyun kecil sembari menjatuhkan pantatnya di sofa tempat ia berpijak tadi.

Seunghyun besar menghela nafas, dilepasnya kacamata baca yang sedari tadi bertengger di tungkai hidung mancungnya. Ia berdiri lalu menempatkan diri di sebelah adiknya, Seunghyun kecil.

“Dik, aku tidak tahu dari mana kau mendapatkan kekuatan itu, tapi aku rasa…

kau seharusnya hidup normal saja tanpa memikirkan kemampuan terbangmu itu.”

Seunghyun kecil kecewa. Jawaban yang sangat tidak ingin ia dengar. Banyak orang yang bermimpi untuk bisa terbang seperti burung di luar sana, kenapa ia malah disuruh untuk melupakan kekuatannya? Menyebalkan memang.

“Tapi kenapa? Aku bisa membantu orang-orang dengan kekuatanku. Kenapa aku harus hidup normal? Bukankah membantu orang itu pekerjaan mulia?”

Hati Seunghyun besar menciut sedikit mendengar ucapan itu. Ia yakin sedikit rasa putus asa dan kecewa terselip di setiap kata yang dilontar pria bermata panda itu. Namun apa daya? Kita hidup dimana manusia dengan kekuatan seperti itu disebut aneh, mutan, atau mungkin sihir. Ini demi image keluarga dan pekerjaannya juga.

“Seunghyun-“

“Sudahlah, hyung. Aku mengerti. Hyung tidak ingin masyarakat melihatmu sebagai Perdana Menteri dengan adik haram dan aneh seperti diriku bukan? Aku mengerti! Sangat malahan!”

“Aish, bukan itu maksudku, dik! Aku-“

“Sudahlah hyung. Aku pergi dulu. Permisi!”

Dan suara pintu terbanting terdengar seperti suara dentuman yang meledakan jantung Choi Seunghyun.

……….

Seunghyun kecil menendang batu kerikil di dekat kakinya sembari memasang tudung hoodie hitamnya. Ia ingin kabur rasanya. Sakit memang menjadi aib keluarga dan di cap sebagai anak haram. Tapi, tau apa Lee Seunghyun? Yang ia tahu ia hanyalah anak polos yang lahir ke dunia. Itu saja. Tapi, hebatnya Tuhan memberikan kekuatan. Kekuatan terbang yang seharusnya ia pergunakan untuk melakukan kebaikan. Apa daya, dia malah disuruh menyembunyikan kekuatannya.

Seunghyun melangkahkan kakinya tanpa tujuan. Lagi-lagi hujan. Bukannya menepi mencari tempat berlindung dari rintik-rintik hujan, ia malah terus berjalan. Seakan tak peduli bajunya mulai basah. Ia terdiam di sebuah lorong sempit. Yah, bisa dibilang untuk menenangkan sedikit perasaan yang agak bercampur aduk di hening jalan itu.

Pcak! Pack! Pcak!

Dentuman langkah kaki beradu dengan aspal yang tergenang air terdengar mendekati dirinya. Seunghyun mendongak, ia melihat seseorang bersurai merah-jingga yang tengah terengah engah karena berlari. Pria itu melihat Seunghyun, lalu bersembunyi dibalik tumpukan tempat sampah di dekatnya.

“Tolong sembunyikan aku! Kumohon!” ujar pria itu lirih. Seunghyun mengangkat sebelah alisnya lalu mengangguk mengerti. Ia membantu menutupi tubuh pria itu dengan tubuhnya.

Dari kejauhan, sekelompok orang berlari ke arahnya. Mereka tampak mencari-cari sesuatu. “Apa anda melihat seseorang berambut merah ke arah sini?”

Seunghyun memasang pose berpikir sebentar. “Oh iya, aku lihat. Dia berlari ke arah sana.”

Seunghyun menunjuk ke arah lain, sehingga orang orang itu dengan mudahnya tertipu dan mengikuti petunjuknnya. Setelah sekumpulan orang itu sudah berlalu cukup jauh, Seunghyun menepuk tempat sampah itu. “Mereka sudah pergi. Kau bisa keluar sekarang.”

Pria itu keluar dari tempat persembunyiannya. Wajahnya yang tampan terlihat agak kumal karena kantung mata dan beberapa luka di wajahnya. “Terima kasih. Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu. Terima kasih.”

Orang itu menunduk sopan kepadanya, membuat Seunghyun agak besar kepala. “Em… ya, tak apa. Tak masalah.”

Seunghyun berpikir sejenak. Inikah rasanya setelah membantu orang. Menarik memang!

“Kenapa mereka mengejarmu?” tanya Seunghyun sebelum orang itu berlalu menjauhinya.

Pria itu terdiam sesaat. Lalu menatap Seunghyun dengan penuh arti. “Kau tidak akan membocorkan ini pada siapapun, bukan?”

Seunghyun mengangguk. “Tidak. Tenang saja.”

Pria itu menarik nafas. “Namaku Kwon Jiyong. Aku tidak sengaja membakar rumah mereka.”

Seunghyun terkejut. Bagaimana bisa orang ini tidak sengaja membakar rumah seseorang begitu saja. “Bagaimana bisa?”

“Aku pun tidak tahu,” desis Jiyong frustasi. Ia menatap tangannya sendiri. “Aku memiliki kekuatan aneh. Tubuhku seperti di aliri nuklir yang bisa meledak kapan saja. Aku tidak bisa mengontrolnya.”

Setelah berbicara itu, tangannya mengeluarkan ledakan kecil. Seunghyun terlonjak ke belakang. Orang ini memiliki kekuatan seperti dirinya?

“Maaf, yang tadi benar-benar tidak sengaja. Seperti yang kau lihat, aku tidak bisa mengontrol kekuatanku. Aku sangat membahayakan banyak orang.”

Seunghyun merasa perihatin mendengarnya. Ia menjabat tangan Jiyong. “Namaku Lee Seunghyun. Kau bisa memanggilku Seungri. Sama sepertimu, aku memiliki kekuatan aneh. Aku punya kekuatan terbang.”

“Benarkah?” tanya Jiyong. “Jadi apakah… kita sama-sama aneh?”

“Kita tidak aneh, Jiyong-ssi!”bantah Seunghyun. “Kita hanya berbeda. Itu saja.”

Seunghyun merasa terdorong untuk membantu orang ini. “Bagaimana kalau aku membantumu mengontrol kekuatanmu?”

“Apakah kau bisa?”

“Entahlah. Seperti yang kau ucapkan tadi, jika kau tidak bisa mengontrol kekuatanmu. Bukan hanya kau, orang lain pun bisa dalam bahaya.”

Jiyong menunduk. “Apa yang bisa kita lakukan kalau begitu?”

“Percayalah padaku,” ujar Seunghyun menyemangati. “Aku akan membantumu berubah. Dari sebuah ancaman, menjadi sebuah senjata yang di gunakan untuk melindungi banyak orang!”

###

Perjalanan Daesung dan Youngbae dalam mencegah ledakan nuklir dimulai dengan mengidentifikasi beberapa lukisan yang Youngbae gores sebelumnya. Salah satu lukisan Youngbae yang mencolok perhatian Daesung adalah lukisan tentang seseorang terbang dari atas atap sebuah gedung.

“Menurutmu, lukisan ini berarti apa?” Daesung menanyakan maksud lukisan itu pada Youngbae. Youngbae menilik lebih jeli, mencoba mengingat imajinasi saat pembuatan lukisan tersebut.

“Aku tak dapat melihat wajah manusia terbang ini. Tapi kurasa, aku familiar dengannya. Apa mungkin aku pernah bertemu dengan dia sebelumnya ya?” Daesung mengangkat bahu, bermakna ia pun tak tahu.

“Sebaiknya, kita mendatangi tempat ini saja! Mungkin kita akan menemukan petunjuk awal darisana.” Daesung menunjuk gedung -tempat si manusia terbang itu berpijak, dalam lukisan Youngbae. Mendengar saran Daesung, Youngbae terperangah.

“Kau yakin, kita akan ke kesini? Ini Istana Negara. Mana ada orang-orang disini yang percaya dengan kata-kata kita?” sahut Youngbae dengan nada suara tinggi, mencapai oktaf tertinggi seorang penyanyi opera.

“Kita harus mencoba. Ini demi kemaslahatan orang banyak.” Youngbae akhirnya berhasil terbujuk rayuan Daesung, Dia kemudian menyiapkan jiwa juga mental. Dia akan berada di garda depan, menyelamatkan Korea, tanah airnya.

……….

Seorang petugas keamanan memperhatikan dua pria dengan seksama. Ia mengamankan mereka yang bermaksud menemui Presiden. Saat petugas tersebut berniat untuk mengusir, tanpa ia sadari, Perdana Menteri datang ke pos penjagaan.

“Pak Perdana Menteri, ada perlu apa kesini?” ucap petugas keamanan itu sambil menahan rasa terkejutnya.

“Saya ingin minta diantar ke Jamshil. Apakah supir saya, Baek-ssi beristirahat disini?”

“Tidak ada, Pak.”

“Ngomong-ngomong, siapa mereka ini?” Perdana Menteri menyorot pandangan pada kedua pria yang diamankan sebelumnya.

“Mereka ingin bertemu dengan Presiden, mereka bilang Korea terancam ledakan nuklir. Saya telah memeriksa latar mereka, khawatir mereka adalah mata-mata, ternyata mereka hanyalah penduduk biasa.” jelas si petugas. Sang Perdana Menteri memijit pelipisnya perlahan, mencoba menganalisa situasi yang tengah berjalan.

“Kenapa kalian bisa mengatakan Korea akan terancam ledakan nuklir?” tanya lembut Perdana Menteri kepada dua pria yang duduk anteng di bangku.

Youngbae kaget bukan main. Dia merasa pernah melihat sosok Perdana Menteri yang berdiri di hadapannya.

“Bisakah kami berbicara secara pribadi dengan Pak Perdana Menteri? Ada hal penting yang perlu kami sampaikan.” pinta Daesung tanpa berbasa-basi terlebih dahulu. Karena tingkahnya itu, ia dipelototi oleh si petugas. Sang Perdana Menteri, Choi Seunghyun tersenyum kecil melihat tingkah terus terang pria bermata sipit itu. Ia memberikan sinyal agar petugas keamanan keluar dari lokasi. Dengan berat hati, si petugas menuruti keinginan Perdana Menteri.

Youngbae menghela nafasnya pelan. Otaknya berputar layaknya roller coaster,  bertanya dalam hati, kenapa rupa Perdana Menteri seakan menempel di benaknya?

“Maaf, apabila anda menganggap kami manusia aneh. Kami memiliki kekuatan yang tidak semua manusia biasa miliki. Teman saya ini, melihat masa depan bahwa Korea nantinya akan hancur karena nuklir. Saya rasa, salah satu dari kami memiliki kemampuan menciptakan ledakan nuklir. Maka dari itu, saya mohon kesedian Pak Perdana Menteri untuk mencegah nuklir bersama kami.” Choi Seunghyun terdiam sesaat. Ia pastinya mempercayai semua ucapan lelaki di depannya. Adiknya juga termasuk bagian dari mereka. Ia menelan salivanya susah payah, memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan.

“Jangan sampai pembicaraan ini tersebar keluar! Ini untuk menghindari kepanikan massal. Saat itu terjadi, aku akan selalu berada di pihak kalian dan memberikan bantuan semampuku. Kalian hubungi aku apabila kalian telah menemukan pelakunya, sisanya akan kubereskan.” Aura kharisma kental terasa pada perintah sang Perdana Menteri. Daesung dan Youngbae mengangguk mengerti. Sekarang tugas mereka adalah mencari seseorang yang sama seperti mereka, yang berpotensi meluluh lantakkan Korea beserta isi-isinya.

###

Tiga Minggu Kemudian……

Seseorang tengah berdiri tegap di atas sebuah gedung. Mata elangnya menyisir pemandangan kota Seoul. Sorot netranya berhenti pada satu titik spot, dimana wilayah itu dikelilingi kobaran api. Dihentakannya kedua kaki panjang miliknya. Dengan akselarasi super, dia terbang menuju tempat tersebut.

Ya, di area terbakar, tepat di tengahnya, sesosok lelaki terbungkus elemen alam berwarna merah kejingaan. Gedung-gedung di sekitar lelaki itu telah gosong dan runtuh, semua penghuni telah diungsikan ke lokasi yang aman, sengaja dijauhkan darinya .

Beberapa meter dari lelaki itu, terdapat tiga lelaki lain yang memandang si lelaki api dengan raut muka sedih. Walau sang api telah menjilat tanah tempat mereka berpijak juga bangunan-bangunan di sekeliling mereka, menebar hawa panas menyengat, tak membuat mereka mundur dari kawasan itu.

Lelaki yang mempunyai warna rambut seperti bara api, berteriak sekencang mungkin, menyuruh lelaki di hadapannya untuk menguasai api. Sedangkan kedua pria yang lain, tertunduk, tak menyangka asumsi mereka tepat.

Sang manusia terbang lalu mendarat di posisi tak jauh dari sumber ledakan. Lelaki api melihat manusia terbang, lalu jatuh tersungkur ke aspal. Dia berteriak frustasi, merutuki nasib sial yang selalu menghampirinya. Manusia terbang berjalan menghampiri lelaki api, walau terpaan gelombang panas nuklir membuat kulitnya melepuh.

Hyung, Maafkan aku. Aku tak bisa menjadi pahlawan yang membantu orang. Aku hanyalah pecundang bahkan penjahat, yang malah menghancurkan Korea.” desis lelaki api tersebut. Bulir air mata menetes dari kedua matanya.

Sang manusia terbang, lebih tepatnya, Choi Seunghyun, terpaku melihat peristiwa yang berlangsung di depan maniknya. Ia kembali teringat, pesan singkat yang dikirim oleh Youngbae, bahwa adik tirinya memiliki kemampuan meniru kekuatan orang lain. Sebuah kekuatan maha dahsyat yang dititipkan Tuhan untuk Seunghyun kecil. Tapi karena keegoisannya, dia tak berterus terang pada sang adik, bahwa kemampuan terbang yang selama ini Seunghyun kecil yakini justru adalah kekuatan miliknya. Sudah sangat terlambat saat ia juga mengetahui bahwa Seunghyun kecil berteman dengan seorang pengendali api nuklir.

“Bukankah kau selama ini mengatakan padaku bahwa aku bisa menguasai api nuklir itu! Kau juga pasti bisa, Seungri!! Pasti bisa!!!” jerit lantang Kwon Jiyong.

“Aku mengambil kekuatannya, Hyung. Aku tak dapat mengontrolnya. Aku tak bisa melakukan apa-apa!!!”

“Tenanglah, Seunghyun-ah. Aku akan selalu bersamamu. Aku tak akan meninggalkanmu. Tidak ada cara lain untuk mengakhiri kejadian ini selain membawamu terbang keluar dari bumi.” ujar Choi Seunghyun datar. Ia lalu menggariskan senyum senyaman mungkin untuk menenangkan sang adik. Ia melanjutkan langkahnya, mendekati Seunghyun kecil.

“Aku tak ingin membuatmu mati karenaku, hyung.”

“Dan, aku juga tak ingin membuat yang lain juga mati. Kita berdua harus mengorbankan diri, agar kita dapat menyelamatkan Korea.”

“Aku mencintaimu, hyung.”

“Aku juga mencintaimu, Seunghyun-ah.” Seketika itu juga, Choi Seunghyun memeluk badan Seunghyun sangat erat. Ia kemudian menghentakkan kakinya, lalu terbang ke lapisan langit tertinggi. Menyusuri lapisan-lapisan atmosfer bumi hingga ke tingkat eksosfer. Lalu membiarkan Seunghyun kecil meledak di luar angkasa.

Sementara Daesung, Youngbae juga Jiyong menyaksikan aksi heroik Seunghyun bersaudara seraya menahan nafas. Hati mereka sungguh perih –tak menyangka akhirnya seperti itu. Mereka hanya bisa menatap birunya langit, berdoa agar sang kakak-adik itu dapat kembali ke bumi dengan selamat.

Fin.

Author’s Note :

_Firs say :

Hm….kesanku nulis ff kolaborasi kita yang kedua. Pertama, aku sangat amat berterima kasih pada Aoko unnie yang udah ngasih ide besarnya. Firsie mah apa atuh ya hanya nambahin sedikit 😦

Kedua,  aku minta maaf ya Kak Aoko. Soalnya Firsie gak bisa bantu banyak. Hahahaha. Firsie sibuk sekolah kalo boleh jujur. Ditambah les dll yang buat Firsie capek. 😦 Maaf ya Kak.

Ketiga, untuk Kak Asti. Terima kasih sudah mau memperpanjang event ini. Saranghae.

Semoga kita bisa buat ff kolaborasi lagi diluar event ini.

Salam Biru,

Azzurachan a.k.a Firsie.

_Isti say :

Finally, kelar juga. Fanfic ini akhirnya bisa terselesaikan tepat di injury time, di saat-saat detik-detik terakhir. Kalo author lain terserang writer block, kali ini Double Blue sedang dilanda kegiatan yang sibuknya ampun-ampunan. Daku juga sedang mengikuti matrikulasi. Kebayang kan aku nulis nih fanfic sambil mendengarkan kuliah umum dan seminar-seminar? Hahahaha….

Kenapa mengambil inspirasi The Heroes? Udah ada yang pernah nonton belum serial tv dari AS ini?  Aku salah satu penggemarnya yg sudah nonton hingga ke season terakhir *dan bakal dilanjutin lagi di tahun ini. Banyak hal yang menginsprasi dari cerita Heroes ini. Termasuk hubungan persaudaraan yang awalnya penuh salah paham dan ternyata haru biru. Huhuhu…. #aku terpaksa merelakan Double Seunghyun yg jadi korbannya.

Well, baik aku dan Firsie memang pecinta genre fantasy. Berharap fic kita ini sudah tercium aroma fantasy dan actionnya. Amin…..

Thanks a lot untuk @astiasti94 yang selalu baik hati dan sabar. Maafkan kami yang rada ngaret publishnya ya. Thanks for perpanjangan waktu.

Berharap akan ada momen lain yg membuat Double Blue kembali kambek dengan proyek kolaborasinya.

Sekian catatan super panjang ini. Ditunggu reviewnya dari reader sekalian.

Warm Regard,

Aoko Cantabile

Advertisements

18 thoughts on “[LET ME BE A HERO] IMPROMPTU

  1. KAK AOKO AZZURA IZINKANLAH AKU BERTANDANG KE LAPAK KALIAN INI :”D /bakal rusuh nih :’3

    First, I wanna say kak Aoko, ku baru tau bahwa kakak penggemar Heroes serius, Azzur jugakah? KU JUGA LOH!!!! I’M BIG FAN OF HEROES SERIES OMG!!!! TAU GINI KENAPA KITA GAK BERHEBOH RIA PLS, KU JARANG KETEMU SAMA ORANG YG SUKA SAMA HEROES SAMPE SEASON TERAKHIR SOALNYA KATA2 MEREKA BOSENIN PADAHAL KAN ENGGAK HUEEEEEEE ;-;
    Second, ku temukan tidak ada cacat di ff ini, kece alamak dohhh >< Diksinya itu loh, bikin ku iri juga sempat termangu juga tadi karena beberapa diksi yg emang aku suka. Sempat stuck karna suka bukan karna bingung jadinya baca berulang kali /pls deh put lu ngomong apaan :"D Dan dari jalan ceritanya emang khas Heroes banget kak, konflik,perpindahan latar, cast yg kayak di heroes meskipun bikin puyeng tapi ketagihan duh wkwkwk
    Third, KU JUGA PENGGEMAR FANTASY. BOLEHLAH KITA COLAB LAIN KALI SENPAI2 KECE KAK AOKO, AZZUR, KEBETULAN KU ADA PROJECT FF YG FAMILY GABUNGAN FANTASY SAMA HORROR HOHOHOHOHOHOHOHO :"3

    Sekian komentar tak bermutuku ini. Salam sayang dariku utk Kak Aoko dan Azzura, pyongg~ :* ❤

    Liked by 1 person

    1. Mput…….makacih lho udah mampir di lapak kami yg apa adanya ini. Ficmu lebih cetar membahana dengan aksi brothership Jiyong-Mino. huhuhu… ;(

      WHAT? @asteriaesmerald penggemar HEROES? Yaoloh!!! kita perlu bergosip ria mengulas serial ini. D Kazuo, masih tersimpan rapi ampe season terakhir. Dengar2, mereka ngelanjutin lagi seasonnya d tahun ini!!!

      Thanks lho telah memuji fic remake yg benar2 biasa aja ini.
      yap! segala aspek di fic ini benar2 terinspirasi ama serialnya.

      kumau ikutan kolab kalau ada yg ngajakin. JapRi daku dan @azzurachan saja jika ada proyekan ya…
      hihihi… 😀

      ❤ Putli selalu from Aoko unnie

      Like

  2. Kak Aoko, Firsie. Acu datang hehehe ^^

    bacanya udah kemaren, disaat sedang menikmati macetnya ibukota jakardah. Baca ff kalian aku berasa didalam kisah itu nyaksiin aksi mreka. *Ngek /efek bosen lihat mobil gk jalan2 XD XD

    Ini keren loh, Daebak syekalee,, aku sama kyak Asti, tiap baca sesekali buka KBBI.. Bikos bhasanya sdkit brat dgn otakku yg sangat lemah dengan pelajaran Bahasa Indonesia ini hihihiiii,,

    pokoknya ff kalian Kece, keren, Jjang, Daebak.
    krena nyangkut paut kisah klrga juga, aku terharu melihat Seunghyun besar dan kecil berkorban gitu, aahh,, nyesek.. =’)
    Tapi aku juga mau protesssssssssssssssssss,,, KENAPAH TE TE EM KU DIKIT BANGET COBA :”” DALAM KURUNG JIYONG A.K.A NAGAH :3

    di tunggu kolabnya lagi ❤ ❤

    Liked by 1 person

    1. aku baca fic-fic kalian saat mendengar ceramahan para dosen waktu matrikulasi kemarin, Cu.
      wuakakakak… *anak bandel!

      Thanks lho @acu2994 telah mampir & pujiannya. Kita mah apa atuh dibandingin kalian cuma serbuk marimas yang larut kalau lagi diseduh air.

      Huahahaha…bang Jidi sudah eksis di lapak-lapak kalian. Kucoba membuat my bf sebagai main cast-nya… hihihihi….

      Diksi? nggak berat kok. cuman aku aja yg sok-sokan mencatut istilah-istilah nya sembarangan.

      kutunggu fic Acu juga.
      and ❤ U always from Aoko

      Liked by 1 person

    1. @ezraelisabetvip makasih Eli cantik yg telah mampir. unnie perlu mendengar cerita pengalamanmu yg telah menyaksikan oppadeul kita secara nyata. 🙂

      Eli pernah nonton? Yeah!!!! Iya, The Heroes pernah tayang d TV waktu ku SMP & karena nggak kelar nontonnya, aku nonton ampe season akhir waktu kuliah S1. duh…kece banget dramanya.

      makasih sekali lagi atas pujiannya, Eli.
      ❤ U always from Aoko

      Like

      1. iihh aku jauh tau unn dari panggung 😦 cuma ngeliat mereka dari layar, tapi seneng banget unn. mereka ganteng semuuuaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!
        suara nya aslii baguuuuuuuuuuss !!

        oh ne ne unn 😀 keren siih kan, aku sukaaa banget heroes 😀

        :* masama unnie kece :*

        Liked by 1 person

  3. Ini….WOW!!!! Sungguh….
    Aku suka banget sama jalan ceritanya…konfliknya..penyelesaiannya…Walaupun gantung dan butuh sequel yaa wkwkwk
    Kak Aoko dan Firsie bisa banget munculin konfliknya, aku suka banget. Dan untuk kekuatannya juga.. Baru kali ini aku baca fic sepanjang ini dan betah mantengin tanpa beralih kemana2 sampe ceritanya abis wwkwk. Disetiap part selalu disisihkan akhiran yang bikin penasaran dan ga bisa berenti nerusin ke part selanjutnya. Ahhhh…Kaliaaaann.. Aku iri sekali. Walaupun ditengah2 writer block dan kesibukan yang luar biasa tapi tetep bisa nyelesein ficnya dengan WOW..

    Diksinya juga level tinggi hahah aku sampe kudu beberapa kali buka KBBI buat mengartikannya haha maafkanku yang lemah di diksi2 yaa teman2 :p
    Aku juga gapernah nonton HERO sih sebenernyaaa.. tapi kuyakin kalian berdua berhasil mengemas ceritanya dengan baikk~ Fantasynya dapet, actionnya juga pas kok, brothershipnya juga keceee :3

    Entah kenapa aku paling suka sama ceritanya si Seunghyun junior dan senior. Mungkin karena aku lagi demen2nya nonton drama I Remember You yang cerita brothershipnya haru biru sekali, jadi ku baca ini ikutan kebawa terharu hikseu keren sekali hihi~

    Sukses deh kalian berdua~ Thanks atas kerja kerasnya buat event pertama kita ini yaaa~ Sarangee kak Aoko, Firsie ❤ Ditunggu fic kolab lainnya Double blue ❤

    Liked by 1 person

    1. Anyeong kak asti~

      Terima kasih sudah membaca ff kita, ya, Kak Asti~ Firsie juga gapernah nonton The Heroes sebenernya. Tapi firsie jadi penasaran dan bakal cari tahu tentang seri ini nanti.

      Gantung ya… hm… /mikir keras/ bagaimana ini kak @aokocantabile ? /emot ketawa sambil nangis/ kapan kapan kita bikin sequelnya yuk. Hahahaha.

      Mkasih kak Asti atas komennya yang membuat firsie senang. Sarangeee

      Liked by 1 person

      1. @astiasti94 terima kasih Bu DirUt telah mampir & mereview tulisan kami yg apa adanya. Pujianmu sungguh berlebihan. Kami masih membutuhkan tuntunanmu agar lebih baik. 🙂

        Ku sungguh senang mendengar Asti & @azzurachan mulai kepo dengan The Heroes. Tanyakan saja pada @asteriaesmerald, mengenai serial ini. The epic season was first & second season. That’s so cool!!!

        mengenai diksi itu, itu cuma aku yg iseng mencatut diksi sembarangan.
        istilah2 itu memang sering kudengar, karena aku anak FISIP, huahahaha….

        semoga Double Blue bisa punya kesempatan untuk meneruskannya sebagai sekuel. Maklum, kita sama2 sibuk,

        once again, makasih lho Ast udah mampir.
        ❤ U from Aoko.

        Like

  4. Hai ~
    Dari pertama baca ff ini udah langsung ngeh klo ini diambil dari drama the heroes. Mengingat isti adalah penggemar berat serial ini hahaa. Ada beberapa kalimat yang janggal. Tapi secara keseluruhan bagus kok.
    Kenapa jiyong munculnya cuma dikit. Curang!! Hahaha #abaikan.
    Good job! Keep writing! 👍

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s