[Vignette] Fade, Away, Love

11825707_842677865801162_821399419020070407_n

Credit : Indri Devagate

Also posted on YG Entertainment Fanfiction (Facebook)

By. Rebecca Lee

Lee Hyunra, Choi Seunghyun | Hurt-comfort | Vignette | T

Moving on and getting over you I bet I looks like I’m not ever trying to

Here all alone my past on the walls

( Shadow – Sam Tsui )

“Aku mencoba melupakanmu. Apakah kau tidak dengar itu? Aku berusaha sekeras mungkin untuk menghapusmu dari kehidupanku. Semuanya dan tanpa sisa,” kuungkapkan kata-kata itu dengan keras saat kutemukan kembali senyuman yang dulu pernah membuatku merasa begitu gila tiap kali melihatnya muncul di hadapanku tanpa sengaja. Sayangnya kalimat itu hanya terdengar olehku di dalamku.

Setelah hampir 3 bulan berlalu dan kupikir aku sudah bisa kembali melanjutkan hidupku tanpanya, nyatanya detik ini aku tersadar aku tak pernah sedikitpun berakhir dengannya. Setidaknya itulah yang diungkap oleh hati kecilku melihatnya muncul di coffee shop tempatku bekerja. Mata dengan manik kelam yang selalu menatap intens itu tampak begitu ceria ketika tersadar akulah barista beruntung yang melayaninya siang itu.

“Selamat datang, Anda mau pesan apa?” tanyaku dengan senyum dan nada ramah seperti yang selalu kulakukan pada setiap pelanggan. Walaupun yang sebenarnya ingin kulakukan adalah membentak dan mengusirnya saat ini juga, tapi tidak ada waktu untuk berdrama dengan seragam kerjaku atau aku terancam kehilangan pekerjaan.

“Aku tak menyangka kita akan bertemu di sini. Bagaimana kabarmu? Seperti biasa saja ya, kau tahu apa yang aku suka,” suara husky itu masih tetap terdengar sama seperti terakhir kali aku mendengarnya. Membuatku bergetar tanpa alasan.

“Satu espresso double shot. Ada yang lain?” jawabku seolah dia adalah salah satu pelanggan tetap di sini padahal seingatku ini kali pertama aku melihatnya di tempat ini sejak aku mulai bekerja maupun selama kami pernah bersama. Aku tak menggubris sapaan ramahnya karena sibuk dengan pikiranku yang bahkan masih mengingat minuman yang selalu menjadi kesukaannya itu.

“Itu saja. Kau terlihat berbeda, Hyun,” nada suaranya terdengar agak kecewa karena sikapku barusan. Aku tidak peduli dan hanya berharap pria ini tidak akan melapor pada manajerku karena ketidakpuasannya pada pelayananku.

“Satu espresso double shot harganya 15000 won. Bawa pulang atau…” aku masih tidak mempedulikannya dan sibuk dengan mesin kasir.

“Tolong antarkan ke meja yang di ujung sana. Hyunra, apa kau ada waktu sebentar saja?” kali ini ia terlihat gugup di hadapanku dan hal itu membuatku bertanya ada apa dengannya. Dia memang kadang terlihat gugup berhadapan orang lain apalagi jika orang itu diseganinya. Tapi denganku, kurasa ini kedua kalinya sejak malam di mana ia menyatakan cintanya padaku. Dia hampir tidak pernah terlihat gugup di hadapanku pun ketika ia menyatakan tak membutuhkan aku lagi dalam kehidupannya.

“Maaf Tuan, tapi saat ini kami sedang ramai karena jam makan siang bisa tolong agak cepat karena di belakang anda sudah ada beberapa orang lain yang mengantre,” aku berkata dengan sopan memberikan alasan paling masuk akal yang membuatnya bergegas mengeluarkan dompetnya dan membayar.

“Terima kasih, pesanan akan segera saya antarkan ke meja,” aku menerima uangnya dengan kedua tanganku dan dengan cekatan memberikan uang kembalian beserta struk pembayaran. Setelah itu kulihat Seunghyun berjalan ke meja yang tadi ditunjuknya dengan langkah pelan.

“Bisa tolong kau yang buatkan pesanan ini saja?” aku mengibaskan secarik kertas berisi pesanan Seunghyun pada seorang barista yang tampaknya adalah pegawai baru. “Nanti aku yang akan mengantarkan,” lanjutku dan laki-laki berwajah lumayan itu mengangguk patuh.

“Kenapa tidak membuat sendiri saja?” tanya si barista baru. Aku memandangnya sesaat sebelum menjawab.

“Seharusnya memang iya, tapi kulihat sedari tadi kau diam saja. Tidak ada salahnya, ‘kan?” barista itu hanya tersenyum dan melanjutkan kembali pekerjaannya.

“Aku berhutang satu padamu,” ucapku berterima kasih. Kuletakkan cangkir berisi cairan kafein di atas nampan dan kupersiapkan ekspresi resmiku sebagai seorang pelayan.

Dengan langkah yakin aku menuju ke meja di sudut ruangan dekat jendela besar di mana Seunghyun duduk memandang keluar. Aku tak dapat melihat wajahnya karena ia duduk membelakangi, namun entah mengapa aku seolah bisa merasakan ekspresi kesedihan di wajahnya. Ya, bahkan setelah sekian lama kami berpisah ikatan ini masih begitu kuatnya.

“Permisi, pesanan anda, Tuan.” Cangkir keramik di atas nampanku berpindah tempat.

“Tunggu,” aku baru saja membalikkan badan ketika kusadari Seunghyun telah menangkap pergelangan tanganku. Aku memandangi tangannya yang telah sekian lama tak menyentuhku dan dapat kurasakan kerinduan akan setiap sentuhan itu mulai membuncah di dadaku. Tidak ada cara lain dan terpaksa kutatap kembali kedua mata dengan tatapan setajam pisau itu. Menghunusku tepat di luka yang telah mengering, membuatnya berdarah kembali.

“Ada apa, Tuan?” suaraku jelas tertahan di tenggorokan.

“Tidak bisakah kau jika hanya sebentar saja?” ternyata suara Seunghyun jauh lebih hilang hingga nyaris yang kudengar hanyalah bisikkan.

“Aku sedang bekerja, Seunghyun.” Kupikir aku sudah tidak sanggup lagi menyebut namanya. Seunghyun mengalihkan pandangannya sesaat.

“Aku benar-benar tidak akan lama, sungguh. Kumohon, Hyunra.” Pintanya dengan sangat dan aku tahu seberapa ia menginginkan sedikit waktu itu bersamaku. Aku masih benar-benar memahaminya dan itu membuatku menghela napas menyadari kegagalanku yang sebenarnya.

“Aku sungguh-sungguh tidak akan lama.” Aku bergerak duduk di kursi di hadapan Seunghyun. Hal ini sebenarnya tidak boleh kulakukan mengingat aku masih melaksanakan jam kerja, tapi aku tahu benar siapa yang diberi tatapan oleh Seunghyun tadi. Manager Shin.

“Terima kasih,” senyum simpul itu mengisyaratkan dia lega.

“Aku serius kau harus mengatakan semuanya dengan cepat. Aku sama sekali tidak ada waktu untuk menguak luka lama.” Perkataanku adalah sebuah kebohongan karena aku sudah kembali merasakan perihnya.

“Kembalilah padaku.”

Aku membeku seketika. Sebegitu tidak berperasaankah laki-laki di hadapanku ini? Yang baru saja ia ucapkan terdengar seperti sebuah perintah. Meninggalkanku begitu saja untuk seorang gadis lain dan kini ia kembali memerintahkanku untuk kembali padanya. Dia pikir dia siapa? Apa dia lupa dengan hati yang telah ia hancurkan berkeping-keping 2 tahun yang lalu tepat di pintu apartemennya yang mahal itu?

“Maaf, tapi kupikir otakmu mengalami gangguan yang serius, Tuan Choi.” Ucapku berusaha bersikap datar. Entah dia tahu atau tidak pertahananku di dalam sudah mulai runtuh koyak tak beraturan. Dan aku semakin hancur melihatnya menggelengkan kepala dengan ringannya.

“Waktunya sudah habis, Tuan.” Aku sudah benar-benar ingin angkat kaki dari meja ini tapi lagi-lagi tangan Seunghyun menahanku.

“Aku belum selesai,” laki-laki ini sudah benar-benar gila memperlakukanku seperti ini. Apa dia benar-benar berniat untuk menghancurkanku sampai lenyap?

“Jika yang ingin kau lakukan hanya mengulang kejadian 2 tahun lalu aku benar-benar minta maaf, Seunghyun. Aku sadar memang tidak seharusnya aku pernah mencintaimu. Aku benar-benar minta maaf.” Aku tahu aku sudah berada di puncak ketika kedua tanganku telah mengepal sempurna. Aku nyaris meledak dan tetap berusaha kuat.

“Kau tidak tahu yang sebenarnya, Hyunra. Tidak bisakah kau beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya? Chaerin tidak pernah seperti yang kau pikirkan.” Dan aku kembali berpikir kenapa dia harus berpura-pura terluka juga seperti itu.

“Aku tahu, aku sangat tahu. Chaerin sangat mencintaimu, dia hanya mencintai dirimu. Hanya kaulah satu-satunya harapan gadis itu karena itulah ia berjuang mempertahankan segalanya. Dia lebih dari sahabat kecilmu dan dia yang lebih dulu mencintaimu. Aku tahu betapa dia sewaktu-waktu bisa membunuh dirinya sendiri dan hanya kau yang bisa menghentikannya.” Aku membongkar semuanya yang aku tahu dan yakin itulah alasan kenapa mata Seunghyun kini terbelalak menatapku.

“Kau terkejut? Kau akan lebih terkejut lagi melihat ini.” Kusingkapkan lengan panjangku hingga apa yang selama ini selalu kusembunyikan terlihat jelas. Sebuah luka sayatan sepanjang hampir 15 cm menghiasi lengan kananku.

“Chaerin yang memberiku ini di malam sebelum kau memilih untuk mencampakanku. Sebenarnya aku bahkan sudah tahu apa yang akan kau lakukan malam itu. Aku sudah berusaha sekeras mungkin, Seunghyun, tapi aku memang benar-benar lemah sehingga akhirnya menangis di hadapanmu.” Cepat atau lambat Seunghyun memang harus tahu semua kebenaran yang selama ini telah tersembunyi darinya.

“Gadis itu kondisinya lebih buruk dari yang pernah kau bayangkan. Jika kau pikir dia hanya memiliki gangguan emosi yang membuatnya tempramennya bisa meledak parah, kau salah besar. Kau tidak pernah tahu sisinya yang itu karena dia memang tidak akan pernah bisa melukaimu. Sudah kubilang dia sangat mencintaimu, ‘kan? Dia lebih dari mencintaimu, dia terobsesimu memilikimu sehingga tega melakukan semuanya ini padaku.”

Aku terus melanjutkan ceritaku dan mengatakan kepada Seunghyun bahwa sahabat masa kecilnya itu memang benar-benar busuk padaku. Aku tidak menyalahkan Chaerin atas sikapnya padaku, aku justru mengasihani gadis itu karena tidak pernah memiliki kesempatan untuk memiliki tubuhnya sendiri.

“Dia mengunjungi apartemenku malam itu dan kami bertengkar hebat hanya demi mempertahankanmu. Awalnya memang tidak ada yang mengalah, sampai Chaerin mengeluarkan pisaunya dan berusaha membunuhku. Aku bahkan masih ingat jelas betapa mengerikannya wajah Chaerin malam itu. Dia seperti monster yang haus darah.” Pikiranku kembali melayang pada malam mengerikan itu.

Hanya demi mempertahankan Seunghyun aku bahkan bergulat dengannya sebelum akhirnya Chaerin sendiri yang membuatku menyerahkan Seunghyun padanya. Aku berkata pada Chaerin bahwa ia bisa memiliki Seunghyun dan pisau yang nyaris menembus dadaku berhenti melaju. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana sinar rembulan di belakang Chaerin yang menimpa tubuhku membuat seringaiannya semakin tampak menakutkan. Dan aku bisa mengenang jelas seberapa menyakitkannya kenyataan ketika aku menyerah hanya demi kebaikan kami semua.

“Aku hanya ingin Chaerin mendapatkan apa yang dia butuhkan dan melihatnya bahagia. Dia juga layak mendapatkan kebahagiaan, Seunghyun. Dan aku tidak punya pilihan lain jika kebahagiannya hanya ada padamu.” Kepalaku terkulai demi menyembunyikan genangan di kedua pelupukku.

“Jadi, kau tidak pernah mencoba untuk membunuhnya?” Seunghyun masih tidak percaya.

“Memangnya kau pikir siapa yang gila di antara kita? Dan lagi, apa aku pernah terlihat begitu membencinya? Apa aku terlihat seperti orang yang sedang memutarbalikkan fakta sekarang?” aku kembali menatap Seunghyun garang. Aku sama sekali tidak terkejut jika Chaerin mengubah jalan cerita dan membuat Seunghyun lebih mempercayainya, tapi aku kecewa pada Seunghyun yang memilih untuk mempercayai gadis itu.

“Aku, aku minta maaf. Aku sangat menyesal, Hyunra.” Kini kepalanya yang tertunduk rendah.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Jalanilah hidup sebaik mungkin tanpa berharap padaku. Aku mungkin masih mencintaimu, tapi aku tidak sebodoh itu untuk kembali percaya padamu. Kau seharusnya bisa lebih baik dari itu, Seunghyun.” Ucapku dengan yakin. Setelah mengungkapkan semuanya aku menemukan keputusan yang kurasa tepat. Aku memang harus segera mengakhiri semuanya.

“Tapi aku benar-benar masih mencintaimu.” Ketika wajah itu kembali terangkat aku tahu ia tidak berbohong. Cinta itu masih terlihat jelas masih bersarang di hatinya dan terpancar melalui tatapannya yang tidak pernah berubah padaku. Tatapan yang membuat seluruh emosiku luluh.

“Kau bisa lebih baik dari itu, tapi kau kenyataannya kau sama sekali tidak memilih untuk jadi seperti itu. Aku selalu tahu kau tidak akan pernah menghapus perasaanmu, tapi malam itu kau membuatku mengerti. Kau sudah memilih siapa yang ingin kau lindungi dan pilihanmu tidak pernah salah.” Aku menatap Seunghyun dengan tersenyum walaupun setetes air mata kubiarkan lolos.

“Tidak ada satu halpun yang salah di antara kita, Seunghyun. Percayalah padaku bahwa aku juga tetap mencintaimu. Aku hanya sudah belajar untuk memahami dirimu lebih jauh lagi. Bebaskanlah dirimu dan temukanlah yang lain. Aku sama sekali tidak berbohong jika kukatakan padamu rasanya jauh lebih mengerikan hidup dalam bayang-bayang cinta masa lalu dibanding nyawaku yang nyaris melayang waktu itu. Rasanya juga jauh lebih sakit daripada ketika pisau itu menggores dalam tanganku.”

“Benar-benar tidak ada kesempatan untukku?” tanya Seunghyun sekali lagi. Aku tahu aku telah mengecewakannya sekarang, tapi aku telah bersumpah untuk tidak membuatnya merasa lebih buruk dari ini.

“Aku tidak ingin kau mengalami apa yang kualami. Aku bersungguh-sungguh kau harus bahagia. Lebih bahagia daripada ketika kau bersamaku atau Chaerin. Janji?” kuulurkan jentikku. Ajaib aku tiba-tiba merasa telah berdamai dengan setiap keping mimpi buruk masa laluku hanya dengan berbicara seperti ini.

“Aku hanya akan berjanji jika kau juga berjanji.” Seunghyun justru membuat penawaran dan membuatku tersenyum geli kepadanya.

“Aku?” kutarik mundur tanganku. “Entahlah, tapi sepertinya kau bisa memulainya lebih awal.” Aku tersenyum dengan mata yang melirik sekilas pada seseorang yang duduk dengan jarak beberapa meja di sisi kananku.

“Maksudmu?” Seunghyun mengernyitkan dahinya.

“Dia tinggi dan kulitnya seputih salju, senyumnya juga manis dengan mata bulatnya. Rambutnya panjang bergelombang dengan warna coklat keemasan yang sempurna. Aku bersumpah dia sudah memandangimu sejak kaki jenjangnya melewati pintu masuk beberapa menit lalu. Kau tahu kau selalu bisa mempercayai ucapanku, Seunghyun. Semoga beruntung.” Kuberikan senyum terbaikku sebelum memutuskan untuk meninggalkannya dan kembali pada pekerjaanku di balik meja kasir.

“Aku masih berhutang satu padamu, ‘kan?” pertanyaanku mencegah langkah si barista baru itu.

“Pesanan yang tadi? Kupikir kau hanya bercanda.” Balasnya.

“Apa tadi aku terlihat bermain-main dengan ucapanku?” aku kembali bertanya dan mendapat gelengan kepala.

“Kemarikan dan kita impas. Ini untuk meja yang itu, ‘kan?” aku mengambil paksa nampan dari si barista.

“Bagaimana kau bisa tahu itu?” aku memutar mata mendengar pertanyaan itu. Benar-benar membuatku geli.

“Setiap barista akan tahu kopi seperti apa yang akan dipesan hanya melihat dari penampilan si pelanggan. Kau harus belajar lebih banyak lagi, Anak Baru.” Jawabku dengan melenggang santai.

“Permisi, Nona.” Aku menginterupsi acara membaca majalah si gadis cantik. “Ini pesanan Anda dan juga sebelumnya saya ingin minta maaf.” Aku menunjukkan senyum resmiku dan gadis cantik di hadapanku menatapku bingung.

“Minta maaf? Tapi kau sama sekali tidak membuat kesalahan. Minta maaf untuk apa?” aku melirik ke tempat Seunghyun duduk.

“Pria dengan setelan jas di sana,” aku menengok ke arah Seunghyun dan kurasakan gadis di sampingku menolehkan kepala ke arah yang sama denganku. “Kami hanya berteman dan saya tahu pasti dia adalah orang yang baik. Maaf jika tadi Anda melihat saya mengambil tempat duduk Anda di sana.” Aku kembali memandang gadis yang sempat terpikir olehku mungkin bekerja sebagai model.

“Ah, kau salah mengira, kami tidak saling kenal.” Kedua telapak tangannya dilambaikan ke arahku bersama senyum ramahnya.

“Saya yakin saya tidak salah mengira. Sekali lagi maaf jika saya lancang mengatakan hal ini, tapi sepertinya kalian akan menjadi pasangan yang sangat serasi. Anda tidak bisa membohongi saya jika anda menyukai pria yang di sana itu, Nona.” Aku memutuskan untuk membuka kartu.

“Jangan ragu jika anda ingin melangkahkan kaki ke mejanya. Kursi itu kosong, jadi saya pikir dia tidak akan keberatan. Permisi.” Aku tidak memperpanjang percakapanku lagi dan meninggalkan gadis itu dan memberikan tugas akhir kepada waktu untuk melanjutkan kisah selanjutnya.

THE END

Thanks for reading. Leave your thought if you don’t mind. 🙂 – R_Lee

Advertisements

One thought on “[Vignette] Fade, Away, Love

  1. maaf ya baru bertandang kesini…
    duh, kenapa aku kepo dengan gadis yang terakhir ya? siapa dia? please…ada sekuelnya donks..ku ingin tau sangat kelanjutan kisah Seunghyun selanjutnya.

    Fic kamu keren! bisa mengungkap emosi Hyunra yg dalam & berlapis-lapis itu. Aku jadi berasa Hyunra-nya..

    Kutunggu fic kamu yang lain ya..
    dan,
    salam kenal,
    Aoko, 92L.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s