[Vignette] Lies

Lies poster [Ravenclaw@Homedesign]

a sequel of Kotak Sepatu & a Big Decision

Scriptwriter : Aoko Cantabile [ @watashiwaisti ]

Main Cast : Sandara Park (Dara 2NE1), Lee Donghae (Donghae Super Junior), Choi Dongwook (Se7en), Park Sanghyun (Thunder ex MBLAQ)

Slight Cast : Park Bom & Gong Minji (Bom & Minzy 2NE1)

Genre : Love Life, Angst, Sad, Tragedy, Hurt, Psycho, Crime, Slice of Live, Songfic, OOC

Duration : Vignette (± 1555 words)

Rating: PG-15 (for violence and harsh words)

Disclaimer :

I’m inspired by Big Bang’s M/V ; LIES

I just own my storyline. The casts belong to GOD, YG Entertainment and themselves.

Warning :

 Fic ini hanya bersifat menghibur belaka. Tidak bermaksud untuk menuntun reader ke prilaku yang tidak baik.

Thanks for the awesome’s poster Ravenclaw @Homedesign

#paragraf yg dicetak miring di awal cerita merupakan percakapan dalam telepon.

**********

lanjutkanlah hidupmu dengan tersenyum!

**********

“Hyung, apakah saat ini, kau sedang bersama Dara noona?”

“Tidak, Sanghyun. Aku baru saja menyelesaikan pertemuan rutin di kantor. Memangnya kenapa?”

“Noona belum pulang ke rumah sejak kemarin. Aku mengkhawatirkan keadaannya. Aku pikir, dia menginap di rumahmu.”

“Oh ya? Mungkin dia sedang bersama dengan kekasihnya yang lain”

“Eh? Apa maksud hyung?”

“Lupakan saja, Sanghyun! Tadi aku sedang tidak fokus.”

“Kau menduga Dara noona sedang bersama Donghae hyung. Itu maksudmu kan?”

“Kau juga tau hal itu, Sanghyun? Wah..kalian berdua pandai sekali menutupinya!”

“Jangan salah paham, hyung! Aku baru mengetahuinya dua bulan lalu dan aku bingung untuk menyampaikannya padamu tanpa membuat kau dan noona terluka. Aku menunggu waktu yang tepat selagi aku bisa membujuk noona untuk sadar. Tapi, hyung. Kumohon..kali ini bukanlah saatnya untuk marah padaku atau noona. Aku tak bisa menghubungi noona, handphonenya dimatikan. Dan, aku tak bisa melacak keberadaan noona. Aku benar-benar mengharapkan kesediaanmu untuk menolong noona. Aku sekarang sedang menghubungi keluarga juga kerabatku di Busan, memastikan apakah noona sedang berada disana.”

“Benar katamu, Sanghyun. Maafkan keegoisanku tadi. Apakah kau memiliki kontak teman-temannya di Seoul?”

“Aku sudah menelepon Bom noona dan Minji. Mereka juga tak mengetahuinya.”

“Bagaimana dengan si Donghae itu? Apakah kau telah menghubunginya?”

“Aku tak memiliki kontak Donghae hyung. Tunggu dulu…beberapa hari yang lalu, Dara noona mendapatkan paket dari Donghae hyung. Tapi, resi pengiriman tak mencantumkan alamatnya-“

“Oh begitu. Tak apa-apa! Aku berencana menggunakan segala koneksiku untuk menekan provider pengiriman, membuka alamat Donghae. Aku yang akan mengurusnya. Sekarang kau lebih baik fokus menghubungi keluargamu saja.”

“Terima kasih,hyung. Jeongmal kamsahamnida.”

……….

Secercah sinar matahari sukses membuatku tersadar. Kusipitkan mata, mencoba menerka dimana posisiku saat ini. Ternyata, aku masih berada di tempat yang sama. Tempat yang membuat segala teror dan mimpi burukku menjadi nyata.

Kulirik netraku ke samping kiri, Donghae tertidur pulas di sebuah sofa. Mungkin, dia juga lelah menyiksaku semalaman.

Aku meringis. Menahan rasa sakit akibat pukulan yang dilayangkan Donghae ke dada dan pahaku.

Aku merutuk kebodohan, juga kenekatanku karena berani menemui Dongahe dan memohon perpisahan padanya. Seharusnya, aku meminta Sanghyun menemaniku. Tapi, nasi telah menjadi bubur. Aku tak mungkin berharap waktu akan terulang kembali.

Beberapa saat kemudian, suara berat Donghae terdengar. Aku mengamatinya takut-takut, berharap dia belum bangun. Tapi, doaku tak terkabulkan. Dia bangkit dari sofa, menguap kecil lalu melemaskan jari-jari lengan juga lehernya.

“Selamat pagi, cantik. Apakah tidurmu lelap semalam?” Pertanyaan basa-basi terlontar dari mulutnya. Dia menggeser posisinya, berusaha mendekati kursi –tempatku diikat.

Aku membuang pandanganku ke arah lain. Tak ingin melihat wajah sok inosennya. Tangan kekarnya mencengkram kerah kemeja yang kukenakan, seraya mengelus pipi kananku.

“Astaga! Ada apa dengan wajahmu yang cantik? Siapa yang berani merusaknya?” Aku melirik sengit. Tak sanggup berpura-pura diam mendengar kata-katanya. Seandainya kedua tanganku tidak terikat, aku akan menamparnya sekarang juga.

“Kau menanyakan sesuatu yang sudah kau tahu.” desisku muak. Donghae tertawa sarkastik seolah aku sedang melawak.

“Kupikir kau akan lebih lembut padaku, Dara-ya. Apakah treatment semalam itu belum memuaskan dirimu?” Dia meliukkan telunjuknya di bibirku. Sorot matanya tetap tajam menatap manikku.

Aku meludah ke wajahnya. Roman mukanya berubah. Semburat kekesalan terlihat disana. Dia lalu meraih sebuah gesper yang tergeletak tak jauh darinya dan mulai mencabukku.

“Dasar wanita jalang! Kau bisa-bisanya berpikir ingin berpisah dariku!”

Sebuah pecutan mengenai lengan kiriku.

“Kau pastinya ingin berlari ke pelukan pria kaya itu kan! Tidak! Aku takkan membiarkan hal itu terjadi!!” Dia meraung seraya mencambuk betisku. Aku menggigit bibir, menahan nyeri akibat pecutan kuat Donghae.

Dia melemparkan ikat pinggang kulit itu ke samping kiri dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“Sekarang berjanjilah padaku bahwa kau tak akan meninggalkanku, Sandara!” pekiknya. Nanar matanya merah serta bau alkohol tercium dari mulutnya. Tak mendapatkan jawaban dariku, dia mencekik leherku dengan kuat.

“Tidak! Aku tak akan menyerah. Aku pasti bisa membuatmu berjanji padaku!” desisnya parau. Dia melepaskan cekikannya padaku, membuat paru-paruku mencari gelombang udara oksigen untuk bernafas.

“Ah..aku lapar. Apakah kau juga lapar, sayang? Aku akan pergi keluar sebentar untuk membeli makanan. Dan, kau jangan berbuat macam-macam ya.” bisiknya penuh kengerian di telinga kiriku. Aku bergidik saat mendengarnya. Dia lalu merengsek, pergi keluar dari ruangan laknat ini, meninggalkanku dalam keheningan.

……….

Aku tak bisa menghitung berapa lama Donghae pergi keluar Yang pasti, diriku merasa tentram sesaat. Aku menunduk, memandang kaki kursi dan lantai. Berharap dan berdoa agar sebuah keajaiban datang padaku. Tapi, kalau Tuhan mau menghukumku, aku telah berpasrah. Toh, aku wanita munafik yang mengkhianati cinta suci seseorang.

Suara langkah kaki lebar-lebar terdengar di telingaku. Donghae telah pulang, pikirku saat itu.

Aku mengernyitkan dahi saat melihat kenop pintu yang berulang kali ditekan. Ada apa dengan Donghae? Apa dia lupa menaruh kuncinya? Sepersekon kemudian, pintu rumah itu dijeblak kasar. Sinar mentari berlomba-lomba memasuki dan menyinari ruangan, mataku malah silau karenanya. Aku mengerjap kedua mataku, menatap tak percaya sosok yang berada di ambang pintu.

“Dara.” panggilnya lembut. Mulutku terasa terkunci dan tak dapat berucap apa-apa saat melihat Dongwook oppa berada di ambang pintu. Siluet tingginya itu kontras sekali dengan kilauan sinar matahari yang hangat. Aku bahkan berandai bahwa hal itu adalah mimpi.

Dia mendekati posisiku. Mengguncang badanku, mencoba menyadarkanku. Astaga! Ini memang nyata! Dengan gerakan terburu-buru, dia melepaskan ikatan tali yang memasungku semalaman. Tubuhku lunglai dan terjatuh di dekapannya.

“Dara, kau tidak apa-apa? Sekarang bertahanlah sebentar lagi, aku akan membawamu ke rumah sakit!” Dia menggendong badanku di punggungnya, berdiri dengan langkah yang tegap dan berjalan penuh kehati-hatian.

Sayangnya, Tuhan memiliki skenario yang lain.

Aku tak bisa kabur dari Donghae semudah itu. Dia tiba-tiba pulang, berteriak keras saat melihat Dongwook oppa membebaskanku, lalu menerjang ke arahnya. Badanku terlempar ke belakang karenanya.

Netraku memandang sekilas, melihat pergumulan dua pria itu. Mereka saling memukul dan meninju satu sama lain. Air mataku mengalir tak henti-hentinya, menyaksikan pertempuran sia-sia.

Nafasku tercekat saat melihat Donghae mengeluarkan pisau dapur dari balik jaketnya. Tidak! Itu tidak boleh terjadi!! Entah datang darimana sebuah kekuatan, aku bangkit secepatnya, meraih botol bir yang tepat berada di sampingku, berlari ke arah Donghae dan Dongwook oppa, memukulkan botol itu ke kepala Donghae. Kurang mempan lagi! Aku mengambil ikat pinggang yang ada di bawah kakiku, mencekik leher Donghae sekuat mungkin. Mencoba membalaskan rasa sakit yang kuterima semalaman padanya.

Suara putus-putus Donghae menyadarkan kelakuanku. Tapi apa mau dikata, Donghae mati di tanganku. Jasadnya jatuh ke lantai. Sedangkan tungkaiku terjatuh lemas, berlutut di depan tubuhnya yang tak lagi bernyawa.

Bulir air mata membanjiri kedua pipiku. Sekarang aku resmi menjadi pendosa, sama halnya dengan Donghae. Dongwook oppa yang kaget melihat peristiwa kilat itu, mendekatiku, lalu memelukku erat.

“Sudahlah, Dara! Tidak apa-apa! Yang penting, kau selamat. Sudah-sudah..” dia menepuk-nepuk punggungku, mencoba menenangkanku.

###

Telingaku menuli, mendengar raungan ambulans juga mobil polisi. Pandanganku kosong saat melihat para petugas berseragam itu mengangkat kantong jenazah berisikan jasad Donghae ke dalam keranda besi. Tanganku serasa berlumuran darah karena menyalahi takdir Tuhan, mencabut nyawa seseorang. Hatiku membeku dingin, tak bereaksi apapun, walau paramedis bertampang ramah itu membungkus badanku dengan selimut dan berucap kalimat-kalimat positif, menenangkanku.

Dongwook oppa berdiri sangat jauh dariku. Tengah bercakap-cakap dengan dua orang penyidik kepolisian. Kurasa dia  sedang membeberkan kejadian naas itu sangat detail dan menyarankan pada polisi untuk menginterogasiku nanti.

Tapi, ada satu hal yang tak bisa kuelak.

Jati diriku sebagai pembunuh takkan mungkin kututupi seerat mungkin. Bau busuknya akan mendesak keluar, meminta pertanggung jawaban. Sin will find you! Itulah kalimat bijak ibuku, saat aku mencoba membohonginya sewaktu kecil.

Kutelan salivaku susah payah. Dongwook oppa menyambangiku dengan wajah penuh guratan senyum. Dia kesini pasti untuk mendamaikan hatiku dan membujukku untuk menyerahkan diri kepada polisi tanpa perlawanan.

Apa yang harus kulakukan?

Walau, aku tau aku sangat berdosa.

Dan berupaya menghipnotis diriku sendiri bahwa aku bisa menembus dosanya dengan mengakui perbuatanku.

Tapi, ada setitik keraguan di lubuk hatiku, bahwa aku belum siap dipenjara.

Bagaimana ini?

“Dara-yah. Kenapa dengan mukamu yang pucat itu?” tanya Dongwook oppa. Keringat dingin membasahi pelipis juga kedua tanganku.

“Aku tidak apa-apa, oppa.” jawabku dengan suara yang kubuat tenang.

“Dara, ada yang perlu aku bicarakan. Kumohon kau harus mendengarkannya dengan baik!” perintah Dongwook oppa semakin membulatkanku bahwa dia kesini karena ingin membujukku.

“Mungkin, untuk waktu yang cukup lama, kita akan berpisah.” lanjutnya lagi. Nah, benar kan dugaanku! Kami berpisah karena aku pasti akan dipenjara.

“Pada masa itu, kau harus tenang dan sabar. Kuyakin ada hikmah dibalik ini semua. Aku akan selalu mencintaimu dan menyayangimu apa adanya. Dan, kupastikan pernikahan kita akan berjalan sesuai rencana walau kita tak bersisian.”

Aku merunduk sedalam mungkin. Air mata kembali menetes dari sudut mataku. Terima kasih telah mencintaiku, oppa. Dan, terima kasih juga karena mau menikah dengan wanita pembunuh ini. Kau pria yang sangat baik., batinku.

“Aku telah mengatakan kepada polisi-“

“Kalau-“

“Aku adalah pembunuh Donghae.”

“Kau diam dan menuruti saja apa kata-kataku. Jangan berkomentar sedikitpun!”

Hening. Ya, rasanya ada sebuah dengingan panjang yang terdengar di telingaku. Apa yang dikatakan Dongwook oppa tadi? Dia adalah pembunuh Donghae?

“Tapi, oppa…” ucapku kelu.

“Hush! Kan sudah kubilang, jangan berkomentar apa-apa!”

“Tapi….aku yang salah. Aku yang seharusnya dicap sebagai pembunuh Donghae.” Air mataku semakin deras mengalir. Hatiku sesak mendengar kalimatnya tadi.

“Aku tak ingin melihatmu menderita di jeruji besi, Dara-yah. Biarkan aku yang menggantikan posisimu. Aku bilang pada polisi kalau aku membela diriku karena Donghae berusaha membunuhku. Hukumanku takkan berat.” Dia mengucapkannya dengan tenang. Seakan-akan tak ada beban di balik semua pernyataan palsunya.

Sedangkan diriku hanya bisa menyaksikan pertunjukan drama murahan itu sambil menangis. Kenapa seperti ini jadinya, Tuhan? Kenapa? Kenapa?

Sebelum dibawa polisi, Dongwook oppa mengecup dahiku singkat seraya berpesan,

“Jagalah dirimu baik-baik, Dara! Lupakan kejadian tadi dan lanjutkanlah hidupmu dengan tersenyum!”

Fin.

Aoko‘s Note :

Aloha!!!

Finally, sekuel Kotak Sepatu & a Big Decision berakhir. Bagaimana ficnya?

Apakah jelas atau alurnya makin ribet? hahahaha…

Bagaimana pendapat kalian dengan kisah main cast disini? Senangkah dengan ending super absurd dariku?

hehehe… *i’m really curious with your opinion 😀

Well, setelah ini, aku akan memulai kisah Blue Victory. Dan, mungkin kemunculanku di beranda ini benar2 seperti ninja _tak terprediksi. Wuakakakak… maklum menjalani aktivitas dan kegiatan baru.

As usual, bubuhkan kritik dan saran kalian ya..

Terima Kasih untuk reader & author lain yang telah setia membaca sekuel abalku ini. Mohon kritiknya ya… Kritik saja yang pedas agar Aoko menjadi lebih baik.

Love U always ❤ and

Warm Regard,

Aoko Cantabile

Advertisements

20 thoughts on “[Vignette] Lies

    1. hai..makasih udah baca ficku ini..ku senang sekali ada reader yg baca serta berharap ada sekuelnya..

      doakan saja aku punya mood serta ide dan keinginan untuk membuat sekuelnya ya…
      heheheh.. 😀

      Like

  1. Aoko unnie, ini endingnya tidak bisa terdeskripsikan #heuheu Ini kenapa ada adegan saling bunuh-membunuh gitu, apalagi Dara lagi yang bunuh si Donghae /tapi ga papa sih, aku emang ga suka sama yang namanya psikopat #hahaha/ dan itu kenapa Dongwook menyerahkan dirinya demi Dara? Aih, udah cinta sejatinya kali yak, keren atuh. 😉

    Untuk review, cuman sedikit aja sih. Itu plot awal kakak full sama tulisan bercetak miring ‘kan? Nah, kalo ada kata-kata asing di plot kayak gitu, sebaiknya kakak kata-kata asing macam ‘hyung’, ‘noona’, dll itu di kasih mode biasa aja. Ga usah di-italic juga (untuk membedakan). Itu sih menurut aku. Jadi kalo ga kakak terapin juga ga papa kok 😉

    Okay, Boo couple masih menunggu cerita Blue-Victory yaps 🙂 segeralah kembali dengan cerita-ceritamu, Unnie 🙂

    Much love
    VRIS a.k.a Chan’s boo ❤

    Liked by 1 person

    1. Makasih Vris telah mampir di lapak kakak.
      Siap! akan kakak ingat selalu. thanks ya atas reviewnya.. 🙂

      makasih juga untuk selalu menanti kisah Blue Victory. Available soon..

      love U too ❤
      from Aoko unnie

      Like

  2. Akkk.. Kak Aokooo… :”” *speechless*

    Donghae jahat banget yaampun ><

    Aku jadi pengen meluk om dongwook deh, culik, bawa pulang, terus sekap dirumah biar gabisa kemana-mana… *apaini

    Ini keren pokoknya kakk… dari awal sampe akhir plotnya kece sekalii, bahasanya juga rapi dan gak terlalu ruwet. 😀

    Salam muah muahh Kak Aokooo… ❤ ❤

    Liked by 1 person

    1. Rara…
      Makasih telah mampir di lapak kakak.

      Dan, makasih juga atas pujiannya. hahahaha…
      iya, Donghae jahat. Dia ketularan sifatnya kakak yg suka absurd, makanya gitu. *nah lho?

      Kakak tunggu fic Rara juga ya.
      Salam muah muah balik untuk @heerara

      Like

      1. Kak, aku kembali~

        Om Se7en! Om baik banget sih, mau aja menggantikan posisinya Dara hyaa asli baik banget *terharu

        Ish, ngapa sih, Dara-Donghae dinistain? Bukannya kak Aoko salah satu shipper DaraHae, ya? Ah sudahlah yang penting ini bagus banget.

        Aku pengen punya pasangan kek om se7en, baik bangeeet aaaaak ai lep yu oom ❤ *ditarik Bobby

        Udahlah kak, lama kelamaan komentarku makin ngawur -_-

        Ditunggu ff yang lainnya, kak! 😀 ❤

        Liked by 1 person

        1. makasih Ren telah kembali ke lapak ini.

          iya, kakak shipper DaraHae. pengen aja bikin unusual love story for them. sebelum ada yg nistain, biarkan shippernya dulu menistakan mereka. hahahaha…

          Iya, Se7en baik banget. huhuhu…
          Kutunggu juga fic @renkim00 yg lain.
          salam ❤ untuk Ren.

          Like

  3. Dan ternyataa….dongwook adalah tokoh protagonis wuuuu rajamlah asti yg kemaren sempet sok-sokan jadi detektif ternyata salah kak wkwkwk.
    Donghae kenapa sakit jiwa gitu kak? Wae? Katanya kak aoko darahae shipper. Kenapa nistainnya keji banget hiks kukesiyan 😂
    Btw si dongwook pacarable banget sih kak. Kebetulan kan aku abis bunuh si seungri kak, bosa dong si dongwook yg masuk penjara ajaa? 😂🔫
    Well, jadi ini sequelnya udah sampe sini aja kak?

    Liked by 1 person

    1. sebelum ada orang lain yg menistakan DaraHae, biarlah shippernya sendiri yg nistain. huahahaha…

      what? kamu bunuh Seungri?? jangan biarkan unniemu ini menjadi psycho seperti Donghae dan mulai menyerang Hongseok dan Chanwoo… hohoho.. *smirk laugh..

      Yap. Sekuelnya berakhir disini, @astiasti94. Kenapa? masih berasa gantung kah?

      Like

      1. Kalo shippernya bisa nistain sekeji ini, berarti aku -yang gak termasuk shipper- bisa nistain lebih keji lagi ga kak? bahahah alhamdulillah asti suka banget nistain orang/lah kenapa alhamdulillah ._.
        Gak kak, chani cuma bunuh perasaannya mas riri yg terlalu besar untuk kak Aoko. Biar ga sakit ati kalo nanti kehilangan. Dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan kan kak? Mueheheh (ceritanya ngeles supaya chanu sama hongie syelamat hikseu~)
        Iyaa kak masih berasa gantung, belum ada popo bhaks!/ngilang~

        Like

        1. *tampar-tampar pipi @astiasti94 , sadar Ast..sadar.. nanti kisah Chanhee-Hongseok aja dibikin rate NC-17.Wuakakakak…

          oalah..bisa banget ngelesnya, biar Chanwoo sama Hongseok selamat. ehm….aku akan selalu mengawasimu, Ast… *ngutip kalimat Donghae. 😀

          Nggak boleh!! yang boleh nistain DaraHae cuma shippernya. DaraHae tak berakhir happy ending cuma di tangan Aoko. Titik!!!
          🙂

          Like

  4. Halo kak aokoo :3 aku udah baca yang kotak sepatu sama big decision tapi lupa komen apa enggak xD maafkeun yaaa
    Aku bingung kak ini endingnya happy apa sad wkwkwk xD aku happy karena donghaenya udah nggak bisa ganggu dara-dongwook lagi tapi sad karena dara-dongwook juga diuji lagi._.
    Overalllllll, bagus kak! Aku tunggu yang Blue Victory yaa! :3

    Liked by 1 person

    1. hei, Nokav. Long time no see…
      makasih ya udah mampir d lapak unnie. hahahahaha…

      dan terima kasih atas pujian juga mau menanti kisah Blue Victory. hohoho..
      unnie tunggu karyamu juga ya..
      🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s