YGEFF Guest [Ficlet] Pride

Mino

 

Author            : NokaviaPermata (@nokaav)

Cast              : Kim Cheonsa׀ Song Mino ׀ Kim Jinwoo

Genre             : Romance

Length           : ±975 words (Ficlet)

Rating            : General

Disclaimer     : Kim Cheonsa is mine. Winner is yours. Enjoy the story! ❤

-START-

 

“Kau jarang tersenyum belakangan ini. Apa keberadaanku mengganggu?”

 

Aku menoleh dan melihat Jinwoo sudah duduk disampingku dan menyodorkan sekaleng soda. Entah sejak kapan dia mengamatiku, aku tidak tahu karena sibuk menatap layar televisi meski pikiranku tidak disana. Jinwoo memang kakakku, tapi seingatku kami jarang sekali mengobrol. Mengherankan karena dia tahu aku jarang tersenyum belakangan ini.

 

“Ada apa, eh?”

 

“Aku hanya lelah menghadapi teman mu itu, oppa. Dia terlalu tidak peduli padaku.”

 

“Song Mino memang seperti itu. Jangan bilang aku tidak mengingatkanmu sebelumnya.”

 

Aku tersenyum. Jinwoo memang sudah mengingatkan. Mino itu Cassanova. Dia selalu tebar pesona pada semua wanita. Fans-nyapuluhan. Oh, atau bahkan ratusan?

 

“Minumlah. Sekali-kali cerita denganku. Kau boleh saja melupakan Mino malam ini dan bermain denganku. Kau punya kartu UNO kan?”

.

.

Saran Jinwoo semalam cukup ampuh untuk mengusir kekesalanku pada si Cassanova, Song Mino. Aku bisa tidur nyenyak tanpa harus memikirkan apakah Mino mencintaiku. Kalau Mino masa bodoh denganku, memangnya aku tidak bisa? Dan pagi ini, aku berhasil mengembalikan senyumku yang –katanya- sudah beberapa hari menghilang.

 

“Astaga, Cheo. Akhirnya aku melihat lesung pipi itu lagi!” Seru Taehyun dari bangkunya yang langsung mengundang perhatian mahasiswa lain.

Aku  semakin melebarkan senyumku untuk menutupi rasa malu karena tingkah norak laki-laki dengan rambut belah tengah itu.

 

“Sudah baikan dengan Song Mino?” tanyanya begitu aku meletakkan tas di sampingnya.

 

“Tidak juga.” Jawabkucuek.

“Aku hanya sedang  bahagia karena menang dari Jinwoo oppa saat bermain kartu semalam.”

 

“Oh, astaga. Kukira ada berita yang lebih menghebohkan.”

 

Taehyun kembali pada handphonenya sementara aku berniat kembali tidur sambil menunggu dosen Jung datang.

 

Belum sampai kepalaku menyentuh meja, aku kembali mendengar suara Taehyun-

 

“Tak bisa tidur sekarang, Cheo. Pangeranmu sudah menanti di depan pintu.”

 

-menyampaikan berita buruk.

.

.

“Kau menjauhiku.”

Aku memutar bola mataku dengan muak. Aku memang berniat menjauhi Mino –oh, bahkan memutuskannya- hari ini. Aku belum memulainya dan –apa?

 

“Kau menjauhiku. Apa kau menyukai laki-laki lain? Kau mulai menyukai Taehyunya?”

 

“Tidak.”

 

“Lalu kenapa  kaumenjauhiku?”

 

“Tidak ada apa-apa.”

 

“Cheo-aku sudah  bilangpadamu. Bilang saja padaku kalau aku melakukan  kesalahan. Aku tidak mau kehilanganmu.”

 

Aku mendongak dan menatap Mino datar, kemudian mundur satu langkah. Heran. Dia bertanya seolah tidak mengerti kalau apa yang dilakukannya dengan gadis-gadis itu benar-benar menyakitiku.

 

“Tolong mundur selangkah.” Ucapku dengan telunjuk menuding dadanya. Aku khawatir laki-laki ini menderita gangguan jiwa. Khawatir dia adalah seorang psycho.

 

Mino mundur selangkah. Kepalanya menunduk. Kedua matanya seolah-olah menatap sepasang sepatu yang membalut kakinya. “Maaf.”

 

“Untukapa?” Tanyaku kemudian.

 

“Kalau kau marah padaku karena gadis-gadis itu, aku minta maaf. Kalau kau marah padaku karena aku egois, aku minta maaf. Kalau kau marah padaku karena aku tidak pernah mempedulikanmu, aku minta maaf. Kalau kau-“

 

“Kau tahu semua kesalahanmu dan  terus mengulanginya, Song Mino. Itu masalahmu.”

 

Mino berhenti. Dia mengangkat kepalanya dan mengambil napas dalam-dalam, kemudian mengusap dahinya yang sedikit berkeringat karena kepanasan. “Kau tahu tidak Cheo, kalau sebenarnya kau juga sama?”

 

“Eh?”

 

“Apa kau  pernah mengatakan padaku kalau kau cemburu?”

 

“Ya?“

 

“Awalnya  akumelakukannya karena memang itu kebiasaanku. Menggoda para gadis.” Mino mengedikkan bahunya sambil tersenyum. Oh, dan aku berani bertaruh dia baru saja mengedipkan sebelah matanya padaku. “Awalnya.”

 

“Dan sekarang?”

 

“Aku melakukannya untuk menarik perhatianmu, sayang.” Mino maju selangkah.

 

Aih, dia bilang apa barusan? Sayang?

 

 

Itu istimewa kalau saja kau tidak mengatakannya pada semua gadis, Mino.

 

“Kan, kau masih tidak percaya padaku.” Telunjukny amenyentuh daguku, mengangkatnya sehingga aku bisa melihat iris matanya yang sama indahnya dengan bagian tubuhnya yang lain. Song Mino? God’s perfection.

 

“Apa sih?” Aku menatap Mino dengan pandangan bertanya-tanya. Dia masih tersenyum, menggodaku dengan tatapannya yang subhanallah sekali. Oke, aku mengakui kalau sampai detik ini Mino masih memiliki hatiku. Aku hanya…apa ya.

 

“Masalahnya  ada pada kitaberdua, Cheo. Kau terlalu gengsi untuk  bilang cemburu dan aku juga sama keberatannya untuk selalu mengatakan cinta.  Kau sayang padaku dan cemburu melihatku bersama gadis-gadis itu tapi tidak pernah mengungkapkannya.  Aku cinta padamu tapi tidak tahu cara mengatakannya.”

 

Hening.

Kemudian  aku tertawa.

 

Pertama kalinya dalam hidup, aku menemui Cassanova polos seperti Mino. Entah memang polos atau sengaja dibuat agar aku memaafkannya, tetap saja dia sedang terlihat bodoh.

 

“Kenapa tertawa?”

 

“Kau baru saja mengatakannya, Mino. Aku cinta padamu tapi tidak tahu cara mengatakannya. Lalu apa yang kau katakan barusan, eh?”

 

“Aigoo.” Mino tertawa.

 

Tangan kanannya mengusap tengkuknya untuk mengubur kebodohannya dalam-dalam. “Ya, aku cinta padamu tapi tidak tahu cara mengatakannya.”

 

“Kalau begitu, aku cemburu, Mino. Karena kau selalu tebar pesona pada gadis-gadi situ. Tapi aku tidak mau mengatakannya.”

 

“Dan?”

 

“Aku tidak mau mengatakan kalau aku sayang padamu.” Ujarku cepat.

 

Mino tertawa lagi. Dia maju selangkah dan menarikku kedalam pelukannya. Benar-benar erat. Erat tapi nyaman, seolah lekukan tubuhnya memang diciptakan untukku. Aku tak melewatkan kesempatan ini, membalas pelukannya dan menenggelamkan kepalaku untuk menghirup aroma tubuhnya yang benar-benar kurindukan.

 

Pride.” Mino membisikkan kata itu ketelingaku, membuatku mengernyit. Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya bingung.

 

Pride?” Aku mengulangnya.

 

“Hm.” Mino mengangguk. “Masalah kita bukan gadis-gadis yang selalu mengejarku. Masalah kita adalah pride, Kim Cheonsa. Gengsi.”

 

Aku tertawa. Mino benar. Masalahku dan Mino adalah gengsi. Kami sama-sama gengsi untuk saling menyatakancinta. Tak ada yang mau memulai untuk mengucapkan satu kata indah itu. Dan-

 

Ya! Dan bagaimana Mino memiliki keberanian untuk menyingkirkan gengsinya dan mengobrol serius denganku seperti ini? Ini benar-benar pertamakalinya aku dan Mino terlibat konversasi yang menggunakan emosi. Biasanya…

 

“Apa oppaku mengatakan sesuatu padamu?” Aku memicingkan mata, menatap Mino serius. Jinwoo pasti menceritakan padanya kalau aku-

 

“Lebih dari sekedar mengatakan sesuatu, Cheo. Dia memberiku ini.” Mino menunjuk rahang kirinya yang, entah kenapa aku baru menyadarinya padahal aku selalu menatapnya beberapa menit terakhir, memar.

 

“Astaga! Jinwoo memukulmu?!” Tanyaku panik. Tanganku  sudah bersarang di rahangnya untuk memastikan memarnya tidak terlalu parah. Yah, walaupun aku yakin itu tidak akan parah. Memangnya Jinwoo tahu cara memukul yang benar?

 

“Tidak bisa disebut memukul, sih. Kau tahu Jinwoo terlalu lembut untuk bisa mendaratkan sebuah pukulan di wajahku. Lagipula aku terlalu tinggi untuknya, Cheo. Bayangkan saja bagaimana kejadiannya.”

 

-END-

Advertisements

4 thoughts on “YGEFF Guest [Ficlet] Pride

  1. Itu sih niatnya jinwoo mau mukul mino tapi nggak nyampe karena mino ketinggian, jadinya kepukul tapi nggak parah2 amat soalnya meleset (?)
    Iyaa anak2 jaman sekarang gengsian banget haha:D terimakasih yaa udah menyempatkan membacaa hhee

    Like

  2. Kupenasaran itu jinu ngapain mino itu ocidaaak jinuku yg kiyowo jan jahat2 gak bisa bayangin bat jinu mukul mino. Etapi ngga gitu kan kejadiannya? Muehehe

    Jaman sekarang emang gengsi keknya lebih berkuaasa yaa. Gak kek orang dulu yang selalu ngungkapin kata2 romantis ke pasangannya. Well, yang penting disini mino sungguh ngefluff/peluk jinu/siapapun castnya, peluknya tetep jinu/wkwk

    Like

  3. wowowowo…
    rada ngakak sih baca fic ini sambil ngebayangin ekspresi Mino. *maafkan daku, daku baru saja menyaksikan tingkah konyolnya d Show Me The Money 4 😀

    fic ini manis. sesuai kadar, sangat menggambarkan sekelumit kisah cinta anak2 muda zaman sekarang, *jangan anggap diriku anak masa lalu ya!! 😉

    kusuka penggambaran Mino yg Casanova tapi sengaja bikin cemburu kekasihnya biar dapat perhatian. Mino sekali ya!!

    kutunggu karyamu yang lain ya…

    btw, salam kenal. Aku Aoko, 92L.
    🙂

    Like

    1. Aiihhh haha makasih unni :3 yeaa mukanya mino kayaknya pas banget gitu kalo dibikin cassanova. Paling pas daripada member winner yang lain hehe
      Salam kenal juga unni, aku nokav 96line :3 dan terimakasih sudah menyempatkan untuk membaca hehe

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s