YGEFF Guest [One Shot] Falling

Falling

 

Don’t you know I’m human too
Underline that human word
Because that word

I need a proper time and place to be the way I am
And now …
In this time
In this place
I’m falling
So … what’s not in proper site? Is it time? Is it place? Or … is it me?
Tak pernah terlintas dipikiran Song Mino, hal bodoh itu membuatnya terpeleset dan berkubang dalam dunia antara ada dan tiada.
Hal bodoh!


Title :♥Falling♥Author :♥Rhym♥Main cast ://Song Mino (Winner)//
Another Cast :
// Lee Yoo Eun (OC) // Go Rim Ah (OC) //Another WINNER member // Yang Hyung Seok (CEO YG) // Dana (Mino’s sister) //
Genre : Slice of Life // Rating : PG –13 //Length : OneShot

disclaimer : all of the characters in here are belongs to God and his/her family. If there is a similarity of the plot, weird storyline, typo(s) and etc, i’m sorry~ i’m still an amateur. It’s pure beyond my imagination. Don’t be SiDer, Ok~
RCL, ya guys/cingu/agan/all/

—♥♥♥—

Jatuh itu seperti apa?

Seperti yang kau lihat sekarang.

APA YANG KAU LIHAT?

Cih! Kau mengkasihaniku?

Benar! Yang kamu lihat sekarang ini adalah aku. Song Mino!

Kaos coklat dekil dengan corak pulau yang entah corak darisananya atau … whatever, celana jins sobek (yang jelas tampak mengesampingkan kata gaya), tatanan rambut ala tarzan, wajah sekusut kaset lagu lawas dan pose pecundang (terbaring menganga menghadap langit-langit ruangan redup ini). Ya, kuakui! Aku memang sebelas duabelas dengan gembel. Tapi … kamu engga akan pernah menyematkan kata itu padaku jika kamu tahu seberapa kaya aku. Sofa tempat aku berbaring ini bahkan lebih mahal dari sewa bulanan apartemen dengan 3 kamar milikmu. Kau lihat bantal yang kini kutiduri? Mungkin tidak semurahbiaya bensin bulananmu, kawan.

 

Okay, kamu mungkin berpikir aku ini orang yang sok asik. Tapi beginilah aku, rapper. Tak ada rapper yang akan berceloteh menggunakan Bahasa kamus baku, kawan. Mengutip kata-kata ‘kawan’ yang kugunakan 2 kali sekarang ini, kamu pasti juga berpikir, aku adalah ekstrovert sejati. Maaf, kawan! (kata ini keluar lagi) Tapi dugaanmu salah total! Garis bawahi kata salah itu. Karena memang aku bukan ekstrovert. Bisa dikatakan … aku seorang introvert yang sedang menyamar. Dan karena embel-embel introvert itulah, aku disini. Mengurung diri dan merenungi hari.

 

Sudah 4 hari aku begini. Berbaring bak pengangguran di atas sofa dengan serakan botol bir dan bangkai-bangkai makanan siap saji diseluruh lantai ruangan. Kini, apartemen ini bahkan pantas disebut apartemen.

 

Kamu bertanya mengapa begini?

Mari kita sama-sama mundur untuk tahu jawabannya.

 

(( 4 hari yang lalu @ YG building ))
“ Aku yakin lagu ini akan tembus! Dan dengan begini album ke empat kita akan mengguncang Korea secara fantastis,” racau Taehyun. Si bocah belah tengah itu terlihat berapi-api melihat lembaran yang baru kuberikan padanya.

 

“ Ternyata kamu punya sense juga untuk rap seperti ini,” ucapku menyunggingkan senyum lebar. Sampai lirikku bisa dipuji Taehyun itu artinya this lyric is more than worth.

Meski kami (WINNER) baru mengeluarkan 3 album kami, Taehyun sudah menorehkan namanya beberapa langkah lebih maju. Dengan dua piala Daesang untuk dua lagu ciptaannya, bocah ini sudah menorehkan namanya dijajaran pencipta lagu paling berpengaruh di Korsel. Aku masih ingat pertama kalinya aku mengajukan lirik padanya, dan dengan tersenyum manis dia bilang, “ dari tempat sampah mana kamu mengambil lirik ini, hyung?”. Magnae sialan memang!

Ceklek!

Pintu ruangan terbuka. Semua penghuni yang totalnya kami berlima plus satu manager kami langsung berdiri sigap melihat sang tamu. Apa yang membuat Hyun Seok Sajangnim mampir ke sini?

 

Ia tampak mengambil napas cukup dalam sambil mengelus dagu yang tampaknya baru ia cukur. Kini ia mendongak. Memperlihatkan hitam pekat tegas bola matanya. Mata itu tak pernah begini dingin semenjak perhargaan berturut-turut kami 2 tahun belakangan. Tak ada yang bergerak dari kami melihat pandangan beku itu (bahkan manager). Kami tahu benar apa maksudnya. Pandangan itu jelas berkata : Ada sesuatu yang salah. KESALAHAN BESAR!
“ Mino!” meski ia tidak berteriak padaku, tapi aku terlonjak tak karuan mendengar panggilannya. Dengan langkah gagap kudekati posisinya.

TEP

Mata itu kini mengunciku.

Ia kini berdecak dan bergeleng.

Ia mulai bergerak menjauh dan menggumamkan namaku berulang, “ mino, mino, mino”. Dan tiap ia menyebut itu jantungku berdebum, meledak-ledak didalam dadaku.
kata-katanya terhenti ketika ia mengambil pulpen pada meja di seberang.

 

“ Kau tahu mengapa aku memanggilmu, kan?” tanyanya dengan aksen khas.
Otakku bergerak cepat. Tiap sel didalamnya berteriak satu sama lain untuk lekas menemukan jawaban tersebut. Di detik kesepuluh aku menyerah dengan kata NIHIL di kepalaku.

 

“ Tidak tahu, pak.”

 

“ KAMU TIDAK TAHU MENGAPA GEDUNG YG DIKEPUNG WARTAWAN DI LUAR SANA!”

 

Ia membanting pulpen tadi dan membuatnya terbelah. Kacau! Posisi tegap yang sedari tadi kupertahankan kini mulai goyah. Kakiku lemas melihat guratan di wajah itu mengeras menatapku lurus tepat terpusat ke wajahku.

 

“ Aku tidak akan begini ke kamu jika ini Cuma kabar burung atau fitnah tak berarah. Ini jelas! Fakta! Semua pasang mata di Korsel ini tahu. APA BEGINI CARAMU UNTUK MEMBUAT NAMA WINNER TERKENAL, HAH?”

 

Ia keluar membanting pintu. Dan … membanting mentalku.
Aku hampir jatuh lemas sebelum JinWoo hyung menangkap punggungku. Ia menarikku lembut dan mendudukanku di sofa. Aku diam memandang keramik ruangan. Kepalaku tercenung dan diam-diam memundurkan waktu, kesaat dimana semua tali kusut ini bermula. Hampir setahun yang lalu, di dingin menggigitnya kota Seoul.

 

Hari itu adalah hari dengan suhu terendah sepanjang tahun. Sangking dinginnnya, air pada pipa yang mengalirkan air ke dorm kami ikut membeku dan membuat kami harus tahan untuk tidak mandi hari ini. Bahkan pemanaspun tidak bisa begitu diandalkan. Kami berlima kompak –hanya- menggeliat pada selimut masing-masing.

 

Ponselku berdering ria diatas nakas. Segera kuraih benda itu. WOHHH! 15 panggilan tak terjawab dari eomma tercinta?

 

“ Yoboseo,” ucapku dengan intonasi tiga per empat mengantuk.

 

“ Apa Dana sudah sampai di dorm-mu?”
Dana? Di dorm-ku?




Astaga! Terkutuklah ingatanmu, Song Mino! Bisa-bisanya kamu melupakan adikmu yang sedang akan berkunjung? Aku buru-buru memutus telpon eomma dan langsung menghubungi nomor Dana.

 

“ Nomor yang anda hubungi sedang …”

 

SIAL! Dengan kecepatan kilat aku memakai busana winterku lalu melesat meninggalkan para member yang masih meng-ulat dalam selimut mereka.

 

Didalam mobil aku tak hentinya men-dial nomor Dana. Tapi nihil. Sepertinya hp-nya mati. Ah! Kacau! Akupun menghidupkan radio untuk sedikit mengendurkan ketegangan yang merajaiku.

 

“ Pagi ini total kecelakaan akibat ban slip di Seoul tercatat sudah mencapai angka 25 kasus semenjak pukul 7 tadi pagi,”

 

Pukul 7 pagi ini? Kulihat jam digital pada dasbor mobil, 10.19. Dua puluh lima kasus dalam kurun waktu 3 jam? Aku langsung mengoper gigi untuk berjalan lebih pelan. Aku jelas engga ingin menjadi kasus ke-26.

 

“ Ah!” teriakan seorang wanita mengejutkanku saat menunggu lampu hijau menyala diperempatan. Aku menoleh. Seorang wanita terpeleset jatuh seperti telur. Kasian. Jalanan memang terlampau licin. Sedikit saja ada genangan. Maka genangan itu akan langung berubah menjadi lantai es. Aku melirik lagi lampu merah didepanku. 67 detik menuju lampu hijau. Gila!

Kenapa lama sekali?! Adikku bisa mati kedinginan menunggu di stasiun! Pandanganku kembali melihat wanita yang baru terpeleset di tepi jalan tadi. Ia berdiri tertatih. Sementara itu, cowok-cowok yang lewat disekitar situ berlalu tanpa melirik sedikitpun. Taka da yang mau bergerak membantunya? Mungkin cewek itu kurang cantik atau malah tidak cantik sama sekali untuk menarik rasa prihatin di hati cowok-cowok itu. Tapi tidak bagiku. Rasa iba langsung menguar melihat usahanya berdiri. Sekali lagi ia berdebam menghantup trotoar. Aku langsung mematikan mesin mobil, keluar dan menghampirinya.
Kuulurkan lenganku ke arahnya.

 

“ Gwencanha,” ucapnya menunduk-nunduk ke arahku sambil menyingkirkan poni didahinya. Kini aku dapat jelas melihat wajahnya. Lee Yoo Eun. Seketika salju yang turun rintik disekitar kami terhenti. Terhenti tepat saat aku melihat manik mata pekatnya. Selalu begini. Mata itu selalu saja bisa menghentikan waktuku meskipun sudah hampir 7 tahun tak melihat mata itu.

 

“ Yoo Eun-ah!” sapaku terdengar hampir seperti fangirl yang terpekik melihat idolanya.
Ia tampak mengerling. Mencerna dengan seksama sosokku. Tak lama ia menjetikan jarinya dan berteriak, “ Song …” kubekap bibir mungilnya sebelum ia sempurna mengucapkannya.
Beep Beep! Sautan klakson melengking. Lampu sudah hijau dan si hitam milikku masih berdiam.

 

“ Hya, kau mau kemana? Biar kuantarkan,” tawarku meraih lengannya untuk berdiri.

 

“ Stasiun.”

 

“ Kalau begitu, kita satu arah.”

 

—♥♥♥—

 

“ Oppa! Kau mau membunuhku dan …” omelannya terhenti melihat wanita yang bersamaku. Dia pun tahu persis siapa wanita yang bersamaku. Wanita yang dulu selalu kusebut akan menjadi kakak iparnya kelak. Tapi setelah lulus SMA dan tak lagi bertemu, kami hanyalah dua insan asing. Sepanjang perjalanan menuju stasiun tidak ada satupun dialog diantara kami. Entah menguap kemana sifat pencelotehku. Rasa-rasanya ada yang mengikat lidahku untuk tetap stay pada posisinya.

 

“ Aku pergi. Khamsahamnida,” ucapnya tersenyum formal, merunduk sejenak dan berlalu.

 

“ Oppa! Ini bukan tentang ‘CLBK’ kan? Kamu udah move on kan?”

 

“ Engga mungkin kan aku balik menyukai seseorang yang menganggapku asing. Dia bahkan memanggilku Mino-ssi.”

 

“ Mino-ssi?” pekik dana. Aku menampar pelan bibirnya.

 

ENGGA MUNGKIN KAN AKU BALIK?

 

Tapi aku balik menyukainya setelah pertemuan tak sengaja yang entah mengapa terjadi secara intens. Bodoh memang! Aku seperti anjing yang menjilat liurku sendiri. Dan 5 hari dari momen menyedihkan ini (mengurung diri di apartemen) aku baru akan menembaknya sebelum …
BUUKK! Seseorang menghantam perutku keras. Aku seketika rubuh, berjongkok dan meringis. Aku sekilas melirik pelaku. Seorang pria berjas dan berwajah keras. What’s your problem, hah? Sial! Pukulannya telak dan membuatku benar-benar K.O ditempat.

 

Tak lama café itu disesaki bunyi potretan kamera. Aku mendongak. Aku kira aku hanya akan menemukan kamera ponsel. Tapi tidak. Wartawan! Mereka tiba-tiba saja sudah berkerumun bak lebah mengitari madu. Akulah madu itu! Berita ini pasti akan menjadi gula-gula di TV, majalah dan entah dimana lagi. Double sial!

 

“ Dasar laki-laki tidak tahu diri! Kau berani mengajak tunanganku ke hotel?” lelaki itu berteriak lantang.

 

Tunangan? Hotel? Aku yakin benar, dua kata itu bahkan tak pernah jadi bahan dialogku dengan Yoo Eun. Aku hendak berkilah tapi kram di perutku memaksaku untuk terus merunduk dan mengaduh.

 

“ Dasar hina!”
Kata-kata terakhir berhasil membuatku berdiri dan membogem wajah pucat lelaki itu.

 

—♥♥♥—

 

“ Astaga! Benar-benar sesak diluar,” komentar Seung Yoon memutus flash back dikepalaku. Akupun ikut menoleh keluar melihat kekacauan di depan gedung YG. Para wartawan dan senjata lengkap mereka berdesak-desakan.

 

“ Bagaimana kau akan menyelesaikan ini?” sambungnya menatapku prihatin.

 

—♥♥♥—

 

Benar! Karena itu! Karena sebuah penghiatan bodoh.

Aku benar-benar ingat kalau Yoo Eun bilang ia adalah seorang wanita sexy,free and single. TAPI APA? Tinjuan lelaki yang mengaku tunangannya itu masih terasa di sekitar ulu hatiku. Dan lebih parahnya, Lee Yoo Eun tidak ada menghubungiku setelah itu. Membiarkan semua menjadi kian kacau. Aku sendiri! Aku sendirian yang merasakan pukulan berita dengan headline tak main-main itu, “Mino si perebut tunangan orang”, “Song Mino mengajak wanita bertunangan ke hotel”. Bahkan ada yang menulis, “Mino merebut tunangan demi popularitas”, (sepertinya artikel terakhir itulah yang dibaca Yang Sajangnim dan membuatnya menjadi Godzilla). Aku bersumpah akan meninju wajah pembuat artikel sotoy itu. Tapi entah kapan sumpah itu akan terwujud. Aku sudah 4 hari mendekam di apartemen sewaan ini demi menghindari itu semua. Menghindari potretan kamera, sundulan pertanyaan ngaco wartawan dan sakit hati dicampakan seorang wanita.

 

Ding Dong!

 

Cepat sekali petugas pizza itu datang.
Aku bangun, duduk dan menstabilkan isi kepalaku yang sejak 4 hari lalu berceceran.

 

Ding Dong!

 

Ya! Aku datang, pizza-ku!

CEKLEK. Terbuka. Dan … tidak ada pizza. Yang ada hanya …

Buru-buru kututup pintu itu.

 

“ HYA, SONG …” belum tuntas teriakan Seung Hoon hyung, aku membekapnya. Selesai aku, jika ada yang tahu tempat persembunyian ini.

 

“ Masuklah!” ucapku mempersilahkan.

 

“ Kecuali kamu!” tegasku menghalangi langkah wanita berambut hitam sebahu itu dengan rentangan tanganku.

 

“ Turunkan tanganmu!” suara tegas JinWoo hyung mengagetkanku. Ah! Tentu saja! Ada Go Rim Ah pasti ada Kim Jin Woo.

 

Bukannya apa, wanita yang juga pacar JinWoo hyung ini bekerja sebagai wartawan pada stasiun TV yang paling banyak berkoar tentang skandalku. Tak dipungkiri, bisa jadi dia salah satu penyusun berita bodoh itu.

 

“ Aku bukan pembuat berita tentang kasusmu! Aku wartawan kriminal jadi jelas skandalmu bukan ranahku,” tegasnya lalu melengos melewatiku masuk ke dalam apartemen. HYA! Aku bahkan belum ada ngomong dan dia sudah bisa memberikan disclaimer. Mungkin dia ada bakat menjadi cenayang.

 

“ IGE BOYA!!!!!!!”
Lagi! Hyung sipitku satu itu berteriak.

 

“ Demi apa kamu mengurung diri dengan semua bangkai bungkus pizza, botol soju kosong dan bercak-bercak tak jelas ini? Lalu mengapa tempat ini seperti kandang babi? Apa kamu Cuma makan, tidur, merenung tanpa mandi? Busuk sekali. Ini bahkan lebih busuk dari tong sampah di drom. Apa lagi ini? Kenapa lampunya kamu matikan. Ini malam! Ruang gelap begini kamu engga merasa pengap apa? Udara disini seperti mengepung, menyekat kerongkongan, dan kamu masih bisa bernapas terus bersembunyi disini. Jika aku jadi kamu aku hanya akan menghadapi wartawan-wartawan itu daripada mengurung diri untuk menghirup gas-gas yang entah apa disini.”

 

“ Sudah selesai?” tanyaku memutus rap beruntun Seung Hoon hyung.

 

“ Belum! Ini bahkan belum bisa dikatakan seperempat dari yang aku mau bilang ke kamu.”
Belum? Baiklah! Aku pun duduk dan megisyaratkannya untuk melanjutkan rap-nya yang terputus.

 

“ Demi apa juga kamu tidak memenuhi jadwal kita? Semua kacau! Berantakan! Harusnya kamu bilang ke menejer kalau kamu tidak bisa menghadiri pemotretan yang lalu, rapat direksi tim pembuat lagu, fansigning, rekaman jingle untuk CF dan syuting sitcom. Jadi kami tak perlu …”

 

“ DATANG KE SINI DAN MENYALAHKANKU?” teriakku tak terima.
Ruangan itu senyap di detik berikutnya. Tak ada yang bergerak dari kami berempat.

 

“ Aku bisa saja terus menjalani semuanya tanpa memperdulikan berita itu dan cara wartawan memburuku. Tapi … aku manusia, hyung. Aku bisa roboh pada waktunya, sekokoh apapun prinsipku pada awalnya. Aku tahu dengan aku melarikan diri begini aku tidak merubah apapun. Tapi aku tetap bisa menenangkan diriku. Karena aku manusia. Hanya manusia.”
Air mataku menetes jatuh disambut pelukan hangat dari dua hyungku.

 

—♥♥♥—

 

OK! Cerita ini berakhir dengan sedikit termehek-mehek. Tapi berkat cerita itulah, aku menjadi Song Mino kini. Song Mino yang berhasil menembus chart billboard selama 2 minggu penuh dengan single solonya.

 

Aku kini tahu, kenapa Tuhan menciptakan kata jatuh. Menurutku hanya satu jawaban yang logis. Untuk melengkapi kata bangkit. Tak ada yang bisa mengartikan bangkit jika dia tidak tahu jatuh. Karena kita manusia tidak selamanya diciptakan untuk terus tegap.

 

—Ending—

Advertisements

6 thoughts on “YGEFF Guest [One Shot] Falling

  1. sexy free and single? sebenarnya itu menjurus ke aku chingu *plak!kena gampar authornya

    salam kenal chingu 😀

    kalo saya baca FF tentang suami saya, si Mino, apalagi dia di pairing sama cewe, hati saya ini entah gimana gimana chingu 😦

    tapi FF nya kece yuhuuu 😀

    Like

  2. prok..prok..prok…

    aku suka fic ini.
    gaya penulisan yang unik dan diksi yang beragam.
    ide yang menarik, membuatku bisa menyelami cerita kehidupan Mino yang kamu gambarkan,

    dan….
    entahlah…aku jadi bingung mau komen apa lagi, saking terpukau sm fic kamu.

    kutunggu karya kamu yg lain ya..

    btw, salam kenal. Aku Aoko, 92L.
    🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s