[Vignette] Gone

gone-by-ren

       GONE

Ren Kim presents

Casts: [M&M] Hongseok, [OC] Jung Chanhee| Genre: Romance, horrorsad.|Rating: Teen

Disclaimer: Pure mine! Copast? Not allowed. Siders? Tidak bisa. Plagiat? In your dream!  this ff special for Jung Chanhee eonnie XD

Get ready? Showtime!

Padahal jarum panjang-pendek jam dindingku sebentar lagi akan menunjukkan angka duabelas. Namun entah mengapa, aku masih betah terjaga. Sebenarnya, bukan benar-benar terjaga, melainkan lebih seperti sedang menunggu kekasihnya tiba di stasiun kereta, tempat dimana orang-orang menanti kereta kedatangan dan melepas kereta keberangkatan. Dan dialah kereta kedatangan yang entah kapan akan tiba di stasiun penantianku.

Chanhee-ya, tahukah kau? Bahkan sejak kusadari kau tak akan kembali lagi, aku masih menunggumu, layaknya nenek renta yang dulu sekali pernah kita kenal, yang selalu menunggu kedatangan kereta dari barat.  

Tiba-tiba saja jam klasik milikku berdentang selama tigabelas kali dengan keras. Aku sedikit tersentak. Dentangan pertama seperti serangkaian mantra yang akan mencabik-cabik keheningan di sekitar. Dentangan selanjutnya bahkan makin membahana semakin lantang, yang sesekali ditingkahi lolongan anjing-anjing di sekitar. Mengingat lolongan anjing, entah mengapa aku mengingat suatu cerita yang pernah Chanhee ceritakan padaku. Dulu.

“Hongie-ya, apa kau tahu mengapa terkadang anjing melolong sebelum tengah malam, padahal tak ada yang mencurigakan di sekitarnya?” tanyanya, dengan mimik yang sangat serius meminta penjelasan dariku.

“Mengapa kau menanyakan hal seperti itu, Chanhee sayang?” aku tergelak tiba-tiba.

“Hongie-ya…” geram Chanhee sembari menggembungkan pipinya yang merona kemerahan.

Aku berdeham, mencoba menjawab pertanyaannya. Ia terlihat serius memperhatikanku.
“Aku tidak tahu alasannya. Maklum saja, aku bukan penggemar hal mistis sepertimu.” Chanhee menghembuskan nafasnya. Aku tertawa saja. Entah mengapa, melihat Jung Chanhee bertingkah seperti ini membuatku tergelak.

“Memangnya apa alasannya?” tanyaku.

“Kata ibuku, kalau anjing melolong sebelum tengah malam, artinya…”

BRAKK!! Jendela kamarku tertutup kencang. Menyadarkanku dari lamunanku bersama Chanhee dulu. Masih kudengar dentangan jarum jam dari ruang tamu yang sudah berdetak berapa kali, akupun tak tahu. Yang kutahu hanya anjing-anjing liar dan anjing peliharaan tetangga masih melolong, dan angin malam yang semakin dingin menusuk pori-pori kulit. Benar, aku ingat. Anjing melolong saat malam, karena ia merasakan sesuatu, seseorang, atau apalah itu yang bukan dari dunia tengah mengendap-endap menelusuri setiap jengkal lorong dalam pekatnya keheningan malam, dan bahkan mungkin saja sedang menelusuri salah satu rumah manusia.

Chanhee, andai hal itu benar adanya, mengapa kau tak menghampiriku? Aku sengaja membiarkan jendela kamarku terbuka untukmu. Atau jangan-jangan, kau tak mengenaliku lagi?

Kini jarum jam telah berhenti bercumbu. Tak lagi kudengar dentangan suara-suara itu. Bahkan, anjing-anjing tadi yang menyalak ribut kini telah diam. Suasana senyap. Hanya nafas pendek dari jarum jam yang menemaniku sekarang. Hingga akhirnya, tiba-tiba kurasakan sesuatu yang dingin meniup tengkuk milikku. Hembusan nafas yang pendek dan seperti orang yang terengah-engah. Lembab. Satu-satu. Kurasakan bulu kudukku meremang. Tengkukku basah, bulir-bulir keringat berjatuhan. Hembusan nafas itu tidak mungkin kulupa. Hembusan nafas khas pendek dan satu-satu miliknya.

Chanhee, kaukah kini yang berada dibelakangku?

-Gone-

Aku masih ingat, beberapa orang terkejut mendengar keputusanku dan Chanhee untuk menikah. Kami benar-benar berbeda. Hongseok dan Chanhee. Hitam dan putih. Yang dan Jung. Si Pemberani dan Si Penakut. Itulah julukan yang mereka berikan untuk kami. Kami hanya menerima saja, toh yang penting kami bahagia dengan pernikahan ini. Yah, setidaknya pernah bahagia. Kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa saat, hanya tiga bulan. Kebahagiaan yang singkat. Namun kebahagiaan singkat itulah yang membuatku bahagia. Terus mengingatnya juga membuatku bahagia. Namun sebenarnya, dari hati kecil yang paling dalam, aku menyesal.

-Gone-

Saat hawa dingin itu makin erat memeluk raga fanaku, aku masih tetap diam, mencoba menepis keinginan untuk menyebutkan namanya. Di kepalaku, benar-benar kubayangkan Chanhee hadir disisiku, dunianya dan duniaku bersinggungan. Satu per satu kenangan bersamanya semakin membanjir, seiring erat dan dinginnya hembusan nafas di tengkukku.

“Jung Chanhee..” akhirnya aku berkata, namun lebih kedengarannya seperti sebuah penyesalan bagiku. Beberapa saat setelah kusebutkan namanya, hembusan nafas itu tiba-tiba menghilang.

“Tidak, Chanhee! Tunggu, jangan pergi!” seruku, sambil beranjak dari kursiku. “Aku tahu, semua yang terjadi adalah kesalahanku. Kalau saja saat itu aku tidak keras kepala dan mendengarkan kata-kata Kim Jinhwan, kau pasti tidak akan pergi secepat ini..” Air mata perlahan-lahan merembes dari kedua kornea mataku. Nihil. Tak ada jawaban apapun. Hanya hembusan angin yang tergesek-gesek di udara yang menjawab beribu-ribu rasa penyesalanku.

Ya, benar Chanhee-ya. Ini semua diebabkan karena ketidakpedulianku yang menyebabkanmu pergi.

-Gone-

Bungee jumping?” Chanhee bertanya. Jelas sekali sekelebat kebingungan tampak dari wajahnya yang tirus.

Aku mengangguk membenarkan. “Kita melakukan bungee jumping saat liburan kali ini. Setuju?” Chanhee terlihat sedikit keberatan.

Namun saat ia melihatku, ia berkata, “Asal aku bersamamu, aku setuju saja.” Chanhee tersenyum.

-Gone-

“Hah? Jadi kalian ingin melakukan bungee jumping di jembatan seberang sana?” Kim Jinhwan terlihat kaget saat aku dan Chanhee memintanya untuk mengantar kami.

Kim Jinhwan adalah teman baik Chanhee yang sudah lama tinggal di desa ini, jadi kami meminta bantuannya. Tapi kenapa ia jadi seperti ini saat mengetahui rencana kami?

“Yang Hongseok, Jung Chanhee! Kalian serius?!”

Aku mengangguk. “Benar, Jinhwan. Kami datang dari Seoul untuk mencoba melakukan bungee jumping disini. Aih, maksudku di jembatan desa ini,” jawabku, menegaskan niat kami.

“Lebih baik kalian urungkan niat kalian berdua. Pasangan bahagia seperti kalian tak boleh melakukan ini.”

“Maksudmu?”

“Aish, sudah lupakan saja! Jadi benar kalian ingin melakukan bungee jumping di jembatan itu?” Jinhwan sekali lagi menanyakan pertanyaan itu. Aku dan Chanhee kompak mengangguk.

“Baik-baik, tapi jangan salahkan aku jika hal buruk menimpamu atau….” Jinhwan melirik Chanhee. Chanhee terlihat ketakutan.

“Hongie-ya, mengapa Jinhwan jadi seperti itu?” Chanhee menggenggam erat tanganku. Aku hanya diam, tak menjawab pertanyaannya.

Jinhwan mengisyaratkan untuk mengikuti dirinya. Akhirnya, setelah sampir tiga puluh menit berjalan, akhirnya kami sampai juga. Suasana hutan benar-benar sunyi, seperti jarang dijamah oleh manusia.

“Nah, sampai. Aku akan menunggu di pohon ini. Kalian, silakan mulai.” Jinhwan duduk di salah satu pohon. Chanhee berlari-lari ke arah jembatan itu. Aku pun mengikutinya. Ia terlihat mengambil foto. Aku tersihir. Arus sungai yang deras mengalir indah di bawah kami, gemuruh air seperti membentuk beat lagu rock, kicauan burung-burung di udara, dan desiran angin yang melambai lembut terdengar seperti orkestra musik.

Yang terjadi setelahnya benar-benar begitu cepat. Ya, begitu cepat.

“Chani-ya, serius kau mau mencobanya pertama?” tanyaku memastikan. “Setidaknya aku bisa mengetahui arah angin, daya lentur, dan ya, itu semua penting mengingat kita baru pertamakalinya melakukan bungee jumping disini.”

No, Hongie-ya.. Aku saja yang duluan. Aku yakin akan baik-baik saja.” Chanhee meyakinkan.

Karena Chanhee terus mendesakku, akhirnya aku menyerah dan mengizinkannya.

“Kalau itu yang kau mau, that’s fine.”

Yeay! Gomawo, Hongie-ya!” Chanhee melompat-lompat layaknya seorang anak kecil yang diberi permen.

Akhirnya sekitar lima belas menit kemudian, Chanhee sudah bersiap-siap dengan alat safety yang membebat tubuh mungilnya.

Hana..” kataku, memberi aba-aba. “Dhul… SET!”

Seperti anak panah yang dilesatkan dari tali busur, Chanhee melompat ke arah deburan air sungai.

“Yuhuuuuu!” teriaknya, girang. Awalnya, kekuatan bumper mengangkat tubuhnya ke atas dan bersiap untuk terjunan berikutnya. Entah bagaimana bisa, pada hempasan kedua, mendadak tali yang terikat di kedua kakinya terputus begitu saja. Sengan sangat kencang Chanhee tercebur ke dalam sungai dam membentuk riak yang sangat besar.

Sepuluh detik, Chanhee belum muncul ke permukaan air. Tiga puluh detik, yang tersisa hanyalah bulatan besar riak air sungai. Enam puluh detik, belum ada tanda-tanda kemunculan Chanhee atau sesuatu, sementara riak sungai telah menipis. Aku panik. Sangat panik. Kepalaku mendadak tidak bisa berpikir apa-apa. Satu-satunya yang bisa kupikirkan adalah… CHANHEE! Jantungku serasa berhenti berdetak. Perutku mulas. Berkali-kali kuteriakkan nama Chanhee, berharap dia akan muncul sambil mengagetkanku dan berkata, “BOO!”

Namun nihil. Chanhee masih belum muncul. Hal yang mungkin terjadi adalah, sesaat setelah menukik ke sungai dengan kecepatan tinggi, Chanhee kehilangan kesadaran dan kemudian… tenggelam.

“TOLONG! SESEORANG TOLONG!” teriakku sekencang-kencangnya. Hal yang dapat kulakukan hanya berteriak. Mecoba menyelamatkannya? Bisa apa aku? Aku bahkan tidak tahu seberapa dalam sungainya, dan parahnya lagi, aku tak bisa berenang! Bisa-bisa kami berdua hanyut.

Chanhee.. Kini kusesali kepengecutanku sebagai lelaki. Aku telah membiarkanmu tenggelam dalam sungai itu. ini semua salahku!

Tiba-tiba aku teringat Kim Jinhwan. Segera saja kupanggil namanya. “Jinhwan! Kim Jinhwan! Jinhwaaaaaaaaan!!” Aku berteriak.

Jinhwan dengan cepat menghampiriku.

“Ada apa? Dimana Jung Chanhee?” tanya Jinhwan. Aku tak mampu menjawab. Bulir-bulir bening terus mengalir dari kornea mataku. Jinhwan akhirnya sadar bahwa Chanhee tenggelam.

“Sudah kukatakan bukan?! Sudah kularang kalian melakukan bungee jumping, namun kalian masih tetap keras kepala! Inilah akibatnya, untung kau belum tercebur ke sungai itu!” Jinhwan dengan kesal mengomeliku. Aku hanya diam menyesali perbuatanku. Hanya menangis yang dapat kulakukan. Aku benar-benar menyumpahi kebodohanku! Jinhwan hanya menatap sungai itu.

“Sudah.. Mari kembali, sebelum kita celaka!” Jinhwan mengajakku. Aku hanya menurut. Aku benar-benar bodoh.

-Gone-

Udara semakin dingin, tanda-tanda kehadiran Chanhee sudah tak lagi kurasakan. Hembusan nafas pendek itu telah menghilang. Sementara itu, waktu telah menunjukkan pukul 1:30 dini hari.

Tiba- tiba, di luar rumah terdengar anjing melolong. Bahkan lebih ribut dari tadi. Aku lagi-lagi teringat perkataan Chanhee saat itu.

Hongie-ya, kata ibuku, kalau anjing melolong sebelum tengah malam, artinya arwah lagi bergentayangan di sekitar rumah kita. Namun, kalau anjingnya melolong setelah tengah malam atau dini hari, artinya ada seseorang dari keluarga kita,atau orang yang kita cintai sedang menunjungi rumah kita.

Dan di luar, kawanan anjing melolong. Sekarang sudah lewat tengah malam. Akhirnya, tangis yang sedari tadi kutahan pecah juga.

“Chanhee..”

fin.

Hahaha! Inilah hasil berimajinasi selama satu jam. Karena bosan, akhirnya daku memutuskan untuk menepatkan janjiku pada kak Asti untuk membuat Hong-Chan, dan alhamdulillah, setelah satu jam membuatnya selesai juga, deh!

First, aku minta maaf karena nistain Jung Chanhee dan buat dia mati. I’m so sorry kak Asti!

Second, aku gak tau ini horor-nya udah kerasa atau belum. Maaf ya, kalau gak kerasa. Habis aku sok nantangin diri untuk buat ff horor-romance -_-

Third, jika ada typo, kesalahan penulisan, dan yang lainnya, maafkan aku ya. aku males ngebaca ulang, capek #jedaar

Oke yang terakhir, ditunggu review nya ya semuanya!!

With Love,

Ren ❤

Advertisements
Tagged

21 thoughts on “[Vignette] Gone

  1. Renn… kamu gangerti perasaan aku yang punya tetangga melihara anjing dan sering gonggong2 gak jelas kalo malem… kamu gangerti Reenn… *curcol

    Beteweh, ini saya telat ya saya?? xD

    Kamu berhasil Renn… kamu berhasil buat Rara merinding gak jelas dan makin mikirin yang enggak2 kalo ada anjing gonggong malem2…
    DAN KAMU JUGA BERHASIL NISTAIN CHANI DISINI 😀 😀 *tebar confetti *kalungin bunga *poke mak @astiasti94

    Salam muah muahh Renn ❤ ❤

    Like

    1. Ra.. aku udah lumutan nunggu komentar darimu! Telat, Ra.. Telat.. XD

      Aku mana tahu tetangga kamu pelihara anjing 😛
      Santai aja, nggak asli kok.

      WAHAHA MISSION COMPLETE 😀

      Salam unyuk unyuk Raraa 😀 ❤

      Like

  2. Huwee Twin, ini kenapa si Chan-Hee matek gini? Katanya ‘never dies’ tapi kok kebanyakan ceritanya dia nista gini #pukpukchanu *eh?

    Maapken saya, twin. Bin telat pake banget baca ff kamyu. Oke, setelah move-on dari kekejaman MOS anak sma yaa bangun mood lagi buat bikin FF. Dan kamu tahu, kenapa FF-mu selalu bikin ngiri setengah mati sama horornya???!! #ganyantedotkom aduh, rasa-rasanya pengen gitu bisa bikin horor+sad kayak kamu #fufufu ajarin dong sistaaaa 😉

    udah ah, saya mau nyepotin yang lain dulu. Papoy 😀 😀 :p ❤

    Like

    1. Karena aku suka nistain Chani. Habis, beruntung amat sih, kan jadi iri ._.

      Jan diungkit lagi tentang MOS itu. Aku udah penutupan Bin, gamau diingetin lagi sama kenangan kelam itu #LebayModeOn

      Kamu berlebihan ah. Aku malah ngerasa ini nggak sad, enggak horor juga. Jadi ff ini gak jelas XD tapi kalau horornya kerasa, sujud syukur alhamdulillah wkwk XD

      Thankseu karena udah nyempetin baca ya Bin, lafyaa ❤ 😀

      Like

  3. Renna Chandra, Kakak balik dong hehehe,

    eh eh eh, setelah membaca ini cerita,
    kenapa ini cerita Chani lebih nista ya? wkwkwkwkwk
    Masih mendingan Chani ketabrak mobil, >,<

    Horrornya berasa, penjelasan dari lolongan anjingnya ituloh :3

    Sekian dari kerusuhan kakak ya Ren, ditungu debut Yoondragonnya, hahahahaha
    mmuuaacchhh

    Like

    1. Haha, aku doyan sih nistain Chani yang kek nya beruntung banget :3 boleh dong dinistain dikit wkwk 😛

      Yoondragon in handle yap kak, maklum aku lagi MOS hehe..

      Ditunggu juga ya Hanji-Mbob nya wkwk 😛

      Like

  4. Yo Ren! Mianhae aku telat ya :3

    Kasian chani mati (lagi). Lebih kasian lagi sama hongie yang ditinggal mati. 😭

    Omg ren, aku suka banget ff ini :’3 cinta 2 dunia itu sakit banget tauk :’3 ldr yang jauuuh banget /apa ini/

    Keep writing ya pacarnya mbob 😘

    Dari: pacarnya yoyo, mantannya hongseok, adiknya seungri :3

    Like

    1. Hehe, gapapa kok, gak masalah kalau telat 😉

      Hahaha, ntah mengapa aku suka nistain si Chani di ff ini wkwk #gampar

      Dunia yang bersinggungan. Hih, lebih baik cari yang baru aja deh, daripada pacaran sama hantu gak kunjung ketemu-ketemu -_-

      Hehe, makasih ya Pacarnya Yoyo, mantannya hongseok dan adeknya seungri. Kamu juga always keep writing ya! Aku nunggu ff kece darimu ❤

      Like

  5. YACOBA TERUS2IN BIKIN SI CHANHEE MATEK KURAPOPO KOK REN SUNGGUH CUMA SEDIH DIKIT TAPI TETEP KURAPOPO

    MAS HONGI KUCIAN REN DIA JADI DUREN A.K.A DUDA KEREN HUHU YASEMOGA BISA DIHIDUPKAN KEMBALI CHANI ATAU SETIDAKNYA MEREKA KETEMU LAGI JEBAL/EDISI MINTA SEQUEL MUEHEHE/

    REN SALAGHAEE MAKASI UDAH NGE TAKE RIKUESAN UNNIEMU YG TAK TAU MALU INI REN KUCINTA KAU~ 🙆🙆🙆

    Like

    1. WAHAHA SANTAI AJA KAK ASTI CHANHEE CUMA MATI SURI WKWKWK!

      Sequel? Akan dipertimbangkan ya kak 😉 tapi gak janji lho yaa, masa iya kubuat chani bangkit dari sungai wkwk XD

      Iya no problem kak 😉 sekali lagi minta maap gegara nistain chani hihi

      Ps. Aku juga mau dibuatin ff manis dong kak~

      Like

  6. anakku yg gesrek nan manis 😚😚
    aahhh..entah mengapa klo si kopelan HongChan ini slah satunya metong suka rada ga terima msalahnya baru debut 😆😆 hahaaaa..

    Hongie kecian amat😢 sabar yah.. Yura di cni kok kmu ga akn kesepian agi //tetiba dicekek hantu Chanhee dri belakang 😆😆😆

    cba klo byangan si Chanhee itu ada dek makin merinding kek nya 😁😁😁

    lope lope lah buat renren😚😚😚😚
    kutunggu kambekmu 😚😚😚😚

    Like

    1. Hai, Mami Della~~~

      Hahaha, abis aku seneng buat mereka metong wahaha 😀 ntar deh, kalo ada kesempatan kubuat mereka memiliki momen yang manis hihi ~

      Heemmzz, Chanhee akan menghantui siapa saja yang mengambil Hongie nya. Iya gak kak? *senggol kak Asti

      Wkwk, iya mami, aku juga nunggu kambek mami yang lain ya ❤

      Ps. Jan keseringan rebutan sama anak 😛

      Like

  7. entah kenapa kakak suka kalo s karakter ChanHee mati *eh…. #bakalan digorok sama @astiasti94

    ehm….berasa kok Ren horornya…untunglah ini bulan puasa, jadi sok berani gitu baca fic horor di tengah malam gini. wkwkwkwk…..

    Bungee Jumping? I wanna try too. tapi, baca fic Ren, jadi agak ciut niatnya.. *tetap akan mencoba apabila ada kesempatan…

    kakak tunggu kambek Ren yang lain ya…
    kakak juga tunggu lanjutan fic Vampire dengan hati nan riang selalu ya..

    salam kangen,
    ❤ Aoko.

    Like

    1. Hai hai kak Aoko!

      Wahaha, ntar paling hidup lagi si Chanhee -_-

      Berasa kah? Alhamdulillah.. habis aku lagi writer block jadi takut-takutnya ngga berhasil hiks 😦

      Yang penting berdoa aja kan kak. Habis bungee jumping keliatannya seru kan yak? Hehe 😀

      Vampire masih dalam pengerjaan kak, jadi ditunggu ya 😉
      Aku juga nunggu fic kece punya kak Aoko yang lain 🙂

      Salam kangen juga,

      Ren ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s