[Oneshot] Pandemonium

1654218_773553329340449_1500929652_n

credit: Calsabrinne

Also posted on YG Entertainment Fanfiction (Facebook)

Title : Pandemonium

Sriptwriter : Ishtarea Ozora

Cast :

Choi Seung Hyun/TOP

Lee Ha Yi/Rose

Wu Yi Fan/Kris

And other can you find in the story.

Genre : Phsycology, Fantasy, Romance (OC)

Rate : General

Summary :

Lee Ha Yi, adalah gadis cantik yang mempunyai gangguan mental akibat kecelakaan maut yang merengut nyawa orang tuanya.

Choi Seung Hyun, adalah sosok imaji yang hidup di tengah-tengah pergerumulan dunia nyata dan dunia alam bawah sadar Ha Yi.

Kris adalah dokter muda yang tertarik dengan imaji yang melekat kuat di alam bawah sadar Hayi.

Tapi, bagaimana jika sosok Kris adalah orang yang selama ini mengacaukan hidupnya? Dan bagaimana jika ia benar-benar terjebak dalam cinta Seung Hyun yang notabene adalah imajinasinya?

Tapi benarkah mereka hanya imajinasi? Bagaimana jika mereka semua adalah pengait dari takdir hidupnya.

Mampukah Ha Yi melawannya?

Atau, ia akan terjebak dan mati mengenaskan karena ia salah melangkah?

Appa, kenapa aku harus hidup sendiri di tengah-tengah orang yang tak ku kenal?

Eomma, kenapa aku harus dikurung dalam sangkar besi yang tak menyenangkan ini?

Apa salahku Appa, Eomma? Kenapa kalian tak menjemputku?

Teriakan keras terdengar dari lorong rumah sakit pinggiran kota itu. Rumah sakit yang telah lama terbengkalai, tak terpakai. Lorong-lorongnya yang lengang membuat siapa saja bergidik saat melewatinya. Sebenarnya, jika tak ingin dikatakan kumuh, rumah sakit ini akan terlihat bagus jika saja ada yang mau merawatnya.

Lihatlah, lantainya banyak yang retak. Cat dinding maupun pagar sudah kusam dan mengelupas di sana-sini. Sarang laba-laba menghiasi setiap sudut ruangan yang berada di sana. Debu berada di mana-mana, membuat setiap orang yang masuk harus menggunakan masker-atau apalah, untuk sekedar menutupi hidung dan mulut mereka.

Dua orang berpakaian serba putih berjalan ke asal suara teriakan itu terdengar. Keduanya dokter muda yang ditugaskan untuk menjaga satu-satunya pasien yang tersisa. Mereka bergegas ke sana saat kekacauan gadis itu terekam di CCTV. Entah karena apa, pasien itu tak dipindahkan ke rumah sakit lain. Kabarnya setiap pasien itu dipindahkan, maka akan ada pasien yang saling membunuh. Maka, untuk menghindari resiko tersebut, para dokter itu setuju untuk menempatkan pasien malang itu di sana.

Sendirian.

Tanpa siapapun yang menemani.

“Kris, kau yang mencari kunci ruangan itu di ruang penyimpanan. Kuncinya berwarna hitam. Aku akan menyiapkan obat-obatan untuknya,” Changmin menyuruh koleganya yang juga juniornya.

“Baik, Hyung,” Kris berlalu dari hadapan Changmin.

Ditinggal Kris, pemuda berambut hitam jelaga itu menyibukkan dirinya untuk menyiapkan obat-obatan yang dibutuhkan. Sejujurnya, bukan hanya itu saja. Pemuda itu juga merasa kurang nyaman saat berada di lingkungan ini. Aura di sini begitu kelam. Lengkap dengan udara yang terasa pengap dan terkesan hampa.

Hyung, aku sudah menemukan kuncinya. Kita buka sekarang?” tanya Kris dibelakangnya, membuat Changmin sedikit terkejut.

“Emmh, yah. Kau buka saja,” jawab pemuda itu sedikit gemetar.

Mata hazel Kris menangkap keganjilan di sini. Ini memang baru pertama kalinya ia bertugas di rumah sakit kumuh seperti ini. Wajah tampannya mengguratkan keheranan sejak pertama kali menginjakkan kakinya. Ia bingung, kenapa masih saja ada pasien yang dirawat di sini. Bukankah rumah sakit ini sudah tak digunakan?

Kris membuka pintu besi berkarat yang ada di hadapannya. Sedikit kagum karena ternyata pintu itu tak menimbulkan suara berderit seperti yang ia duga. Dan lagi, ia masih heran kenapa kunci pintu berkarat itu berwarna hitam. Bukan perunggu atau perak seperti biasa? Ia semakin yakin kalau ada yang salah di sini.

“Kris, cepatlah. Aku ingin segera mengobati dia dan pulang dari tempat gila ini,” desak Changmin tak sabar.

“Baik,” Kris segera menuruti permintaan Changmin. Pemuda berambut karamel itu semakin bingung dengan situasi yang tiba-tiba kelam ini. Dengan langkah panjang, keduanya memasuki area perawatan pasien yang masih bersih itu. Setidaknya di sana tak ada sarang laba-laba. Pun debu rupanya enggan untuk mengotori tempat itu.

Manik Kris memindai tempat itu dengan perlahan. Di sana sedang terbaring perempuan berusia sekitar 18 tahun. Ia sedang meronta hebat. Tangannya menggapai-gapai di udara. Mata gadis itu basah, sepertinya ia kesakitan.

“Buka selnya,” perintah Changmin.

Kris menuruti dalam diam. Ia masih memfokuskan pikirannya ke arah gadis itu.

Tanpa basa-basi, Changmin menyuntikkan obat penenang ke kulit pucat gadis yang ternyata bernama Lee Ha Yi itu. Papan namanya terlihat kusam di atas tempat tidurnya. Kris mengernyit heran saat melihat beberapa bercak darah menodai lantai yang ia pijak sekarang. Mata tajamnya masih mengawasi kamar gadis itu. Seolah ingin menemukan penyebab gadis itu meronta hebat. Ia yakin, gadis itu tidak baik-baik saja.

“Aku sudah selesai memberinya obat penenang. Ayo kita kembali,” ujar Changmin.

Hyung, bisakah aku di sini sebentar? Toh, jarak rumah sakit ini dan rumah sakit yang kita tempati tak begitu jauh,” pinta Kris.

Dahi Changmin berkerut heran. “Untuk apa kau berada di sini?”

“Aku hanya ingin melihat kondisi pasien ini. Rupanya ada yang tak beres, Hyung,” jelas Kris tenang.

“Terserah kau sajalah,” Changmin mengibaskan tangannya di depan muka Kris. Lalu ia berlalu dari sana, tergesa. Mungkin ia sudah tak tahan dengan keadaan rumah sakit ini.

Setelah punggung Changmin hilang dari pandangannya, Kris mulai mendekat ke arah gadis yang sudah mulai tenang itu. Ia tak lagi meronta. Tapi pandangan matanya masih memperlihatkan ketakutan yang kentara. Kris berusaha membaca apa yang ditakuti gadis itu.

-Vision-

Kris melihat Ha Yi sedang berlari di tengah hutan yang sangat gelap. Beberapa orang berpakaian serba hitam mengejarnya. Gadis itu terus berlari hingga ia terpojok di sebuah tebing yang amat curam.

Gadis itu terlihat pucat. Ia ketakutan. Seseorang diantara mereka menyergap Ha Yi. Ia mencekik leher gadis itu. Tangan mungil Ha Yi  menggapai-gapai di udara. Ia ingin berteriak, tapi suaranya hilang entah kemana.

Tudung kepala orang yang mencekik  Ha Yi terlepas. Dan terlihat oleh Kris wajah sang pencekik itu. Seolah bercermin, ia melihat refleksinya sedang menyeringai kejam di sana.

Vision end-

Manik hazel Kris mengerjap beberapa saat. Apa itu tadi yang dilihatnya? Dengan tergesa, ia beranjak dari sana dan mengunci pintu ruangan itu rapat-rapat. Seperti yang ia duga, gadis itu ternyata memang bermasalah.

Ha Yi merasa dirinya mulai tenang. Entahlah, ia merasa sudah terjebak dalam imajinasinya selama beberapa hari. Manik cokelat gelapnya menatap kosong ke arah langit-langit kamar rawatnya. Beberapa menit lalu ia merasa seseorang berada di sampingnya. Mungkin dokter. Tapi, kenapa ia merasa kebencian saat orang itu berada di dekatnya.

“Halo, Chagi-ah,” sebuah suara yang amat dirindukannya hadir mengusiknya.

“Halo,” Ha Yi tersenyum lirih. Matanya berbinar cerah saat melihat sosok yang dirindukannya berbaring di sisinya.

“Kau merindukanku?” tanya sosok itu, wajahnya bersinar lembut.

“Sangat,” Ha Yi memiringkan badannya ke arah lelaki itu. Jari lentiknya menelusuri rahang kokoh milik sosok itu.

“Kalau begitu, biarkan aku memelukmu,” tangan kekarnya meraih kepala Ha Yi untuk berlabuh di dadanya.

“Seung Hyun, aku takut,” Ha Yi mengeratkan pelukannya.

“Apa yang kau takutkan, Sayang? Aku ada di sini, menjagamu,” Seung Hyun, lelaki itu, mengelus rambut panjang Ha Yi yang berantakan.

“Lelaki itu hadir lagi. Bahkan ia tadi mencekikku. Kurasa ia membenciku,” mata Ha Yi kembali bergerak liar. Tubuhnya bergetar di pelukan Seung Hyun.

“Sssstt, tenanglah. Ia tak akan berani menyentuhmu lagi. Kupastikan itu,”Seung Hyun mengecup dahi Ha Yi, lama. Lalu ia meraih dagu gadis itu. Mata hitamnya menatap manik cokelat gelap milik Ha Yi.

Perlahan, wajahnya mendekat. Matanya beralih ke bibir pucat gadis itu. Namun dengan mantap, ia melumat bibir Ha Yi  hingga menimbulkan semburat merah muda di pipi pemiliknya. Tanpa diakui, ia selalu merasa tenang saat Seung Hyun mencumbunya. Pikiran tentang lelaki jahat yang akan membunuhnya sirna seketika. Bergantikan rasa aman tiada tara.

Ha Yi mengalungkan lengannya ke leher Seung Hyun. Berharap lelaki itu lebih dalam menciumnya. Keinginannya terkabul. Lelaki itu mencumbunya lebih mesra. Ia melesakkan lidahnya untuk menautkan dengan lidah Ha Yi. Decakan kecil melompat keluar dari sela-sela bibir mereka.

Gadis itu merasakan kedamaian mulai mengisi relung jiwanya. Perlahan, ia merasa matanya mulai berat. Dan tak lama, ia sudah terlelap di pelukan Seung Hyun.

Seperti sebelum-sebelumnya, Ha Yi berada di tempat yang damai saat memasuki mimpinya. Tentu saja karena ada Seung Hyun yang memeluknya. Dengan riang, ia bermain di padang rumput yang terhampar di depannya.

Ada yang aneh di padang rumput ini. Warna rumputnya sangat hijau. Sedangkan warna langitnya sangat biru. Tak ada matahari yang menyinari. Hanya bintang-bintang yang bersinar ceria.

Seung Hyun di sebelahnya menyunggingkan senyum saat melihat  Ha Yi mencoba menangkap peri kupu-kupu yang berterbangan di sekitarnya. Denting bel yang berasal dari sepatu mungil peri-peri itu terdengar lembut di telinganya.

“Surga benar-benar indah,” decak Ha Yi, takjub.

“Ini bukan surga. Ini hanya dunia yang kuciptakan untuk membuatmu tenang,” jelas Seung Hyun lembut.

Ha Yi membalikkan badannya ke arah Seung Hyun. “Tapi ini benar-benar surga bagiku.”

“Ya, terserah kau saja,” jawab Seung Hyun, masih penuh kelembutan.

Kris berlari di sepanjang boulevard. Benaknya masih menyimpan lekat tentang penglihatan yang ia dapat di dalam benak gadis itu. Rambut karamelnya melambai tertiup angin sore. Pikirannya benar-benar kacau.

“Kau tak bisa memungkiri apa yang sudah digariskan, Kris,” sebuah suara berat menghantam pendengarannya.

Kris berhenti. Matanya memindai ke sekelilingnya. Sepi. Tak ada siapapun. Namun justru keheningan ini terasa janggal di depan matanya. Bukankah ini jalan raya? Tapi kenapa tak ada satupun kendaraan yang melintas?

“Siapa di sana?” Kris mencoba memberanikan diri bertanya pada angin yang berhembus di sekitarnya.

“Kau melupakanku?” sebentuk imaji melangkah di depannya. Awalnya, tak terlihat karena sosok itu hanya bayangan. Namun semakin lama semakin fokus saat kabut yang menyelimutinya terangkat menghilang.

“Kau…” Kris menunjuk sosok di depannya dengan pandangan waspada.

“Ya, ini aku, Saudaraku. Sahabatmu yang paling kau sayangi,” sosok itu menyeringai kejam. Tatapan matanya yang dingin menusuk tepat di jantung lelaki itu.

“Top…” desisinya penuh amarah. Apalagi saat melihat sayap Top yang berbeda warna. Satu hitam pekat di sisi kanan dan putih bersih di sisi yang lain.

“Kau, sejak kapan kau berubah menjadi separuh malaikat seperti ini?” decaknya, antara kagum dan heran.

Top menyunggingkan senyum sinisnya. “Sejak kau berhenti menjadi malaikat dan menjadi manusia.”

Kris membatu. Ada sedikikit rasa bersalah menyelubungi benaknya.

“Aku, aku tak bermaksud…”

“Sudahlah. Yang jelas sekarang aku ingin kau tak usah menjadi manusia lagi. Sudah cukup rasa bersalahmu itu. Dan juga, jangan pernah memikirkan gadis itu lagi, Kris,” desis Top.

“Aku tak tahu siapa dia. Dan asal kau tahu, aku sama sekali tak pernah mengenalnya,” erang Kris kesal.

Top tertawa keras hingga bahunya terguncang. “Oh, maafkan aku. Aku lupa jika ingatanmu hilang. Kau bahkan lupa jika dirimu adalah malaikat maut yang merasa bersalah karena membunuh manusia. Hahaha, dan yang mampu kau ingat hanya aku, begitu?”

Kris hanya diam, dalam hati mulai membenarkan semua perkataan Top. Karena saat Top berbicara, slide kejadian masa lalunya perlahan muncul ke permukaan.

“Kau membunuh semua keluarga Ha Yi karena ayahnya adalah seorang malaikat yang turun ke bumi, bersembunyi dari kejaran ayahmu yang sebenarnya adalah sahabatnya sendiri? Dan ibunya, yang notabene adalah penguasa kegelapan dari klan-ku yang amat kau benci, begitu? Dan akhirnya kau berhasil menemukan mereka dan membunuh semuanya kecuali Ha Yi? Begitu?” sayap Top berkepak lirih.

“Demi Tuhan, Top. Aku tak mengerti apapun yang kau katakan. Aku tak mengerti kenapa aku tiba-tiba harus bertemu dengannya yang mempunyai imaji segila itu dan bertemu kau, makhluk yang seharusnya tak pernah ada di bumi,” Kris mengacak rambutnya frustasi.

Top tersenyum. Perlahan, lingkungan di sekitar mereka memudar. Berganti tempat yang terasa familiar di mata Kris. Sebuah kastil megah bercat gold berdiri angkuh di depan matanya. Kastil itu berada di tengah-tengah bukit batu. Di bawahnya terdapat kobaran api berwarna merah bercampur jingga. Atapnya yang berwarna merah cerah mengkilap karena terkena pantulan sinar bulan yang berbentuk setengah lingkaran. Warna kuning emasnya terlihat pucat. Kris memandang dirinya sudah tak mengenakan jas dokter kebesarannya.

“Kau membawaku kemana?” tanya Kris.

“Aku akan membawamu kembali ke Pandemonium untuk mengembalikan kekacauan yang sudah kau lakukan.”

Dan Kris hanya bisa termenung.

Ha Yi masih bermain di hamparan padang rumput itu. Ia dengan senang hati mengajak peri kupu-kupu itu untuk berlari di sana. Menikmati hembusan angin sejuk yang menerpa mereka.  Ha Yi menerjapkan matanya. Kagum karena langit di atasnya berubah warna. Separuh berwarna merah darah dan separuh berwarna jingga keemasan. Mendadak suasana menjadi muram.

Peri kupu-kupu telah hilang dari pandangannya. Seung Hyun yang berada di belakangnya pun mematung memandang langit yang sama.

“Sudah waktunya ya?” desisnya.

Ha Yi yang mendengar bisikan itu seketika membalikkan tubuhnya menghadap Seung Hyun. “Waktunya untuk apa?”

Seung Hyun hanya tersenyum. Tangannya terulur ke arah gadis itu. Entah mengapa Ha Yi kali ini tak ingin menerima uluran itu. Tapi tubuhnya berkata lain. Ia menerima tangan Seung Hyun dan merapat ke arah lelaki itu. Entah dari mana asalnya, pakaiannya yang semula berwarna cerah berubah menjadi merah darah. Dress selutut dengan aksen bunga mawar yang mengelilingi ujung lengan dan bajunya terpasang sempurna di badannya yang ramping.

Ha Yi mengernyit saat di bibirnya terasa sesuatu yang aneh. Lipstick mungkin? Tangannya terulur ke atas, meraba bibirnya. Didapati warna merah darah melekat di sana. Kulit Ha Yi  yang pucat terlihat semakin bersinar. Matanya membelalak terkejut.

“Sudah tiba saatnya untuk memenuhi karma yang sudah ia buat,” bisik Seung Hyun tepat di telinga Ha Yi.

“Ap..apa maksudmu?” Ha Yi mencoba melepaskan cengkramannya dari Seung Hyun. Namun tubuhnya terasa kaku. Ia tak dapat mengendalikan tubuhnya sendiri!

Seung Hyun mengelus rambut gadis itu lembut. Perlahan mata lelaki itu berubah menjadi warna biru cerah. Menghanyutkan. Menenggelamkan Ha Yi dalam pesonanya sendiri. Membuatnya terhipnotis.

“Kita harus segera menghadiri peradilan dari ayahku. Semoga kita tak terlambat,” Seung Hyun menjentikkan ibu jarinya.

Lingkungan di sekitar mereka berubah. Di depan keduanya terdapat hamparan permadani berwarna emas. Marmer yang melapisinya berwarna putih gading. Bertahap, kanan kiri permadani itu terdapat lilin yang menyala,  menerangi ruangan itu. Tak banyak yang mampu di tangkap pupil Ha Yi. Yang mampu ia rasakan hanya betapa luasnya ruangan itu.

Pupil Ha Yi membesar, menyesuaikan cahaya yang mampu di terimanya. Kaki telanjangnya perlahan bergerak menyusuri permadani itu. Terasa lembut di kakinya. Gadis itu menuruti instingnya, berjalan menuruti sepanjang permadani. Lilin-lilin di sekitarnya juga menyala seiring pergerakan kakinya.

Suara!

Ha Yi mendengar suara berat yang tak terasa asing di telinganya. Gadis itu menoleh ke belakang. Tapi hanya gelap yang mampu ia tangkap. Di mana Seung Hyun? Kaki gadis itu bergerak kembali tanpa ia perintah. Seolah ia sudah harus berada di antara suara-suara itu. Untuk membuka rahasia kelam yang selama ini tak di ketahuinya.

“Selamat datang di Kerajaan Anubis,” dua orang berpakaian hitam terlihat di depannya, muncul dari kegelapan. Napas Ha Yi  tercekat.

Bukankah mereka yang mengejarnya sewaktu ia berada di imajinasinya? Kenapa mereka ada di dunia yang Seung Hyun ciptakan? Ada apa ini?

“Kenapa aku bisa berada di sini?” suara yang Ha Yi  keluarkan terasa asing di telinganya sendiri.

Bukannya suara yang menjawab, tapi puluhan obor besar yang memercikkan api berwarna biru toska. Seketika ruangan menjadi terang. Tapi terasa ada sesuatu yang gelap-entah apa- yang menyelubungi dirinya.

Ha Yi mencoba untuk tak gentar. Dihalaunya rasa takut yang tiba-tiba muncul. Ia tetap melangkah menuju lorong gelap yang terbentang di depannya. Mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya apa yang terjadi. Jauh di dasar hatinya, ia berharap agar ia bisa keluar dari imajinasinya yang mulai gila ini.

“Kau tidak sedang berimajinasi, Ha Yi. Kau benar-benar berada di sini,” bisik suara itu. Suara yang selama ini menemani hidupnya. Tapi bukan Seung Hyun.

“Ssi..siapa yang bersuara itu?” suara Ha Yi menggema di lorong. Kini nyalinya sedikit menciut. Dengan tangan gemetar ia mencoba menggapai pintu yang tiba-tiba menjulang di depannya. Pintu besar dengan ukiran-ukiran rumit namun indah di pinggirannya. Handle pintunya pun terbuat dari berlian murni. Ha Yi  masih menerka-nerka, kira-kira dimana ia sekarang.

Saat pintu dibuka, Ha Yi merasa jantungnya berhenti berdenyar. Yang ia lihat sungguh jauh dari perkiraannya. Ia melihat bayangan dirinya sedang berada di dalam sana. Ia sedang dipeluk oleh makhluk bersayap. Wajah makhluk itu tak terlihat jelas. Dirinya sendiri mempunyai sayap berwarna merah. Gaun hitam melekat di tubuhnya. Iris matanya berubah menjadi merah, sama seperti warna sayapnya.

“Jika ayahmu tak pernah membawamu ke bumi, pasti apa yang kau lihat sekarang sudah menjadi kenyataan.”

Ha Yi menoleh ke belakang. Sekarang ia sudah tak berada di kamar besar itu. Sekarang ia berada di depan altar persembahan. Beberapa orang bersayap hitam dan makluk bersayap putih bersih berkumpul di sana, memandangnya dengan pandangan benci.

“Selamat datang putri Medusa, Penguasa Kegelapan. Sekaligus putri Sang Penguasa Cahaya,  Dewa Horus. Malaikat separuh iblis yang lama hilang. Katakan selamat datang pada keluargamu,” sesosok makhluk berbadan besar turun dari singgasananya. Menatap Ha Yi dengan pandangan kagum sekaligus murka.

HaYi tergagap. Ia tak mengerti kenapa ia bisa menjadi putri dari orang-orang yang sama sekali bukan makhluk bumi. Astaga, ini benar-benar membingungkan.

Tiba-tiba saja sosok Seung Hyun hadir di sebelahnya. Merangkulnya erat. Tapi ini bukan Seung Hyun-nya. Aura mereka begitu berbeda.

“Selamat datang, cantik. Aku membutuhkanmu untuk terbebas dari belenggu ini. Kalian membuatku tersiksa karena harus menerima darah malaikatnya. Sekarang saatnya pembalasan,” bisik ‘Seung Hyun’ di telinganya.

Ha Yi bergidik. Suara ‘Seung Hyun’ begitu datar dan dingin. Lagipula, sejak kapan ‘Seung Hyun’-nya mempunyai sayap sebesar itu. Dengan warna berbeda? Dan apa yang dikatakan ‘Seung Hyun’? Belenggu apa?

Dari arah samping kiri, muncul sosok yang selama ini mengejarnya. Yang selalu membuatnya kesakitan dalam imajinya. Sosok yang hampir membunuhnya. Lelaki itu!

“Kris, saatnya kau dan dia diadili. Untuk merubahku menjadi iblis sepenuhnya. Dan untuk mengembalikan darah yang selama ini menyiksaku,” senyum Top sinis.

Kris hanya menunduk. Tak berani menatap mata Ha Yi yang mencoba menelanjanginya. Mendadak rasa bersalah kembali menyergap jiwanya.

“Saatnya pembacaan takdir yang sudah berlalu.”

Ha Yi dan Kris sama-sama membatu di tempatnya.

Pertama, kesalahan dimulai dari penikahan terlarang antara Penguasa Kegelapan, Medusa dan Penguasa Cahaya, Horus. Diam-diam mereka melakukan kesalahan fatal, menanam benih yang membentuk monster di dalam rahim Medusa. Tak ingin terjadi hal yang tak diinginkan, Horus membawa Medusa kabur ke Bumi.

Di bumi, mereka melahirkan seorang bayi cantik yang dinamakan Rose-mawar. Namun mereka memberi nama bayi itu nama bumi, Lee Ha Yi. Mereka memakai nama bumi sekaligus mengalirkan darah manusia di tubuh bayi mereka untuk menyamarkan jejak. Karena mereka tahu, saat Ha Yi dilahirkan akan ada tanda yang membuat jejak mereka bisa terendus. Karena aura Ha Yi begitu kuat  hingga mampu menembus Pandemonium.

Bertahun-tahun mereka hidup aman, hingga salah satu putra malaikat menemukan keberadaan mereka. Membunuh mereka atas perintah sang ayah. Namun tangan kekarnya tak mampu membunuh seorang gadis cantik yang tak sadarkan diri itu. Wajah gadis itu begitu lembut dan tanpa dosa, hingga membuat Kris-malaikat pencabut nyawa itu- tak tega pada makhluk tak bersalah itu.

Ha Yi akhirnya mengalami depresi berat karena kehilangan keluarganya. Gadis itu mendekam selama bertahun-tahun di rumah sakit jiwa. Kris merasa bersalah, pada ahkirnya. Malaikat itu akhirnya memutuskan untuk turun ke bumi-bermaksud menyembuhkan Ha Yi, di bantu oleh sahabatnya, Top.

Hening sesaat.

Ha Yi mengambil kesempatan itu untuk memindai sekitarnya. Melihat Top yang ternyata adalah lelaki bersayap yang mirip dengan Seung Hyun.

Akhirnya Top menjadi separuh malaikat karena membantu Kris turun ke bumi. Energi mereka melekat di dalam diri Top, tapi tak pernah bisa menyatu. Dan itu membuat separuh energi Top menjadi berkurang. Ia akan merasakan panas membara saat ia melakukan hal yang bertentangan dengan sifat malaikat. Pun saat ia melakukan kebaikan, tubuhnya akan terasa dihajar ribuan jarum yang menusuk tepat di ulu hatinya. Bagi sang Ayah, itu adalah hukuman tersendiri untuk Top.

Kris berhasil turun ke bumi dengan separuh ingatannya yang hilang sebagai malaikat-kecuali tentang Top. Ia menjadi anak angkat seorang dokter yang kebetulan hidup sendiri. Hingga akhirnya ia menuruti jejak sang Ayah untuk menjadi seorang dokter. Berniat untuk menyembuhkan seseorang yang entah siapa.

Akhirnya, Top diperintah untuk menangkap Ha Yi dan Kris dalam keadaan hidup. Dengan manipulasi yang sangat sempurna. Menjadikan gadis itu sering berada di alam imajinasinya. Membuat gadis itu membenci Kris. Membuat seolah-olah gadis itu semakin terlihat depresi. Padahal itu hanya strategi Top untuk membuat Ha Yi  terbuang, tak dihiraukan.

Dan rencananya berhasil bukan? Bahkan sangat tepat. Akhirnya takdir menemukan mereka kembali. Meski Kris melupakan semua tentang kehidupan abadinya, tapi tetap saja ia tak akan bisa melupakan Top, makhluk yang ia bebani dengan sayap sekaligus darah malaikatnya.

“Sekarang, untuk mengembalikan Top menjadi iblis sepenuhnya, ia harus membunuh putri Medusa dan Horus. Agar darah iblisnya membersihkan darah malaikat yang melekat di separuh tubuhnya. Dan untuk mengembalikan Kris ke tempat asalnya,” putus suara yang menggema di ruangan itu.

Ha Yi tercekat. Begitu banyak hal yang mustahil ia percaya. Pertama, ia bukan manusia. Ia iblis yang setengah malaikat. Oh, bukankah itu hal yang sangat menggelikan di jaman modern seperti ini? Kedua, ternyata selama ini imajinasinya bukanlah imajinasi belaka. Ini benar-benar kenyataan. Sosok imaji yang selama ini menemaninya. Kekasih khayalannya.

Apa yang lebih mengerikan dari ini?

Ah ya, sekarang ia harus dibunuh untuk menetralkan kekacauan yang selama ini tak pernah ia tahu. Benar-benar mengagumkan.

Mata Ha Yi perlahan menjadi merah darah. Ia menatap Kris dan Top dengan pandangan sayu namun dingin. Kelam sekaligus pedih.

Pergerumulan antara ya dan tidak menyerang Ha Yi. Di sisi lain, ia berusaha mencerna setiap kalimat yang baru saja berhenti menggema. Namun ia juga masih ingin hidup, ingin menemukan Seung Hyun yang ia kenal.

“Bolehkah aku bertemu dengan Seng Hyun-ku? Sebentar saja. Ada hal yang begitu lama ingin aku sampaikan,” pinta Ha Yi lirih.

Mata Ha Yi perlahan kembali ke warna semula, cokelat gelap, saat melihat Top berubah menjadi Seung Hyun.

“Seung Hyun,” Ha Yi  berjalan ke arah Top. Kris membuang mukanya. Ia tak ingin melihat adegan itu.

Seung Hyun memeluk Ha Yi hangat. Dibawanya gadis itu ke batu besar pipih yang berada di tengah ruangan. Kris tahu benar batu itu tempat untuk mengakhiri semuanya. Tempat untuk mengucurkan darah dari jantung Ha Yi.

“Seung Hyun, aku mencintaimu, meski kau hanya imajiku belaka,” Ha Yi berbisik lirih hingga Top harus menghentikan langkahnya.

“Jika dengan membunuhku mampu menyelesaikan segalanya, aku rela. Asal kau tak menderita,” setetes air mata Ha Yi jatuh membasahi dada Top, tepat di mana jantungnya berada.

Top membeku. Ia menatap Ha Yi yang tersenyum di sela-sela tangisnya. Gadis itu berjinjit dan mengecup bibir Seung Hyun lembut, hanya sesaat. Setelah itu, Ha Yi menggigit bibirnya dan menunduk.

Top masih membeku. Ia merasa jantungnya berdebar sepuluh kali lipat. Ciuman itu, ciuman terlembut yang pernah ia rasakan selama bersama Ha Yi. Top menjilat bibirnya dengan gugup.

“Lakukan sekarang, Top. Atau tak akan pernah ada lagi kesempatan ini,” bentak makhluk bertubuh besar yang berdiri di singgasananya.

“B..baik, Ayah,” Top tergagap.

Ha Yi tersenyum pedih saat Top merebahkan dirinya di batu pipih itu. Ia sudah memantapkan hatinya. Jika itu membuat Top tak merasakan kepedihan lagi, ia rela melakukan segalanya.

Top mulai mengarahkan pisau belati ke arah dada Ha Yi. Untuk pengalihan, Ha Yi menatap mata biru Top yang menenggelamkannya. Kris hanya diam. Ia tak mampu melakukan apapun sementara ayahnya berada di sisinya.

Ia harus menyelamatkan gadis itu. Ia tak ingin ada korban lagi.

BUKKK!!!

Kris menendang pengawal yang mencekal lengannya. Dengan sigap, ia berlari ke arah Top dan mendorongnya hingga tersungkur. Beberapa penjaga Pandemonium menyerang Kris. Karena sekarang Kris menjadi manusia, ia kewalahan menaklukkan penjaga yang hanya lima orang itu.

“Apa-apaan kau ini, Kris? Apa kau sudah gila?” bentak sang Ayah yang berada di samping batu pipih.

“Ayah, tak seharusnya kita melakukan hal ini. Dia makhluk yang pantas hidup,” Kris meronta.

“Tidak Kris, dia adalah monster. Ia harus segera dimusnahkan,” sergah Ayahnya tegas.

Kris bungkam, ia sudah tak bisa melawan lagi. Percuma. Tak ada yang mendengarnya. Ia menatap Top dengan pandangan memohon. Top membuang muka. Ia bangkit berdiri dan kembali mencoba menancapkan belatinya.

Ha Yi kembali tersenyum. Matanya seolah berkata, ‘Lakukanlah!’

Top memejamkan matanya.  Tangannya mengacung di udara, bersamaan dengan melafalkan mantra yang amat sangat terlarang baginya.

CRASSSSH!!!

Dengan pasti ia menancapkan belati itu ke arah Ha Yi, tepat di jantungnya. Gadis itu terbelalak. Seketika energi kehidupannya terputus. Cahaya kehidupan pergi dari mata indahnya.

Perlahan, sayap Top berubah warna. Bukan menjadi hitam. Namun keabu-abuan. Kris juga mengalami perubahan. Dipunggungnya tumbuh sepasang sayap berwarna kecokelatan. Perlahan sayap itu mengembang sempurna, indah.

Kris melirik punggungnya dengan tatapan heran. Lalu mata hazel-nya menatap Top dengan tatapan yang sama.

Tak ada yang menyadari perubahan mereka. Hanya ia dan Top yang benar-benar tau apa yang sebenarnya terjadi.

“Selamat datang kembali di Pandemonium, Kris. Jadilah malaikat pencabut nyawa yang baik, jangan ulangi kesalahanmu. Dewa Agung memberkatimu,” sebuah suara menggema lagi.

Mendadak ruangan menjadi sepi. Semua berlalu dengan perasaan lega. Tapi Top dan Kris masih tetap bergeming di tempat mereka berdiri.

“Apa yang kau lakukan padanya?” tanya Kris penasaran.

“Tak perlu tahu, cukup hanya aku yang tahu apa yang terjadi sebenarnya,” senyum Top lirih.

Rose menatap langit berwarna lavender di atasnya. Ia sedang berbaring di bawah pohon rindang yang berada di atas bukit mawar. Ia sedang menunggu seseorang yang selama ini ia rindukan.

Hmmm, sudah berapa lama ia harus menunggu saat-saat seperti ini? Menunggu dan terus menunggu sang kekasih yang selama ini dicintainya.

Ia tersenyum lirih. Perlahan bangkit dari posisi nyamannya. Mengibaskan daun-daun kering yang menempel di gaun hitamnya. Matanya yang berwarna biru toska memindai sekeliling. Hanya hamparan bunga mawar berwarna merah pekat yang mampu ditangkap indera penglihatanya.

Perlahan, setitik kobaran api menarik perhatiannya. Api berwarna biru cerah yang indah. Dengan riang, Rose melangkah mendekati kobaran api itu. Senyumnya merekah sempurna.

Sesosok imaji terbentuk dari kobaran api itu. Awalnya kabur, namun semakin lama semakin jelas. Sayapnya yang berwarna abu-abu sedikit mengkilap karena cahaya bintang yang bertebaran mulai mengisi posnya masing-masing.

“Hallo, sayang. Miss me?” suara itu, suara yang dirindukannya.

“Tentu saja. Kau pikir aku di sini menunggu untuk apa jika tak merindukanmu,” bibir gadis itu mengerucut.

Sosok di depannya hanya tertawa. Mata biru toskanya menatap gadisnya dengan lembut.

“Aku tahu kau merindukanku. Come on, Baby. Let me hug you in here,” sosok itu membuka tangannya lebar.

Menandakan bahwa ia menanti gadis itu melemparkan dirinya ke pelukan hangat itu.

Rose tertawa kecil sebelum membenamkan dirinya di sana. Rasa hangat itu seketika menyelubungi dirinya.

Rasanya nyaman sekali. Ia memejamkan mata tatkala mendengarkan detak jantung sosok itu. Terdengar indah, sama seperti detak jantungnya.

“Aku mencintaimu selalu, Rose,” sosok itu memeluknya semakin erat.

“Aku juga mencintaimu, Top. Sepenuh hatiku, seluruh jiwaku,” Rose tersenyum.

Top mengecup puncak kepala Rose lembut. Merasakan aroma rambut Rose yang segar. Dalam hati ia bersyukur gadis itu masih bisa ia selamatkan. Meski ia harus menggunakan dimensi lain, itu tak apa. Asal gadis ini masih bisa tersenyum untuknya.

Karena cinta itu perlahan telah menguasai seluruh hatinya. Ia rela menukar apapun asal ia bisa membuat gadis itu bahagia. Meski ia harus dihukum di atas bara panas Pandemonium, ia mau. Demi cinta iblis setengah malaikat yang dipujanya.

 

FIN_

Advertisements

22 thoughts on “[Oneshot] Pandemonium

  1. HEOL!! DAEBAK!!! :O

    SUMVAH, AKU GAK TAU MAU NGOMEN APA.
    INI DAEBAK BANGET. SUNGGUH KEAJAIBAN, BARU KALI INI AKU CEPET NANGKEP CERITA FANTASY DAN BISA MASUK KE DUNIA FANTASY ITU. XD XD XD

    NEOMU-NEOMU JJANG (Y)

    KUTUNGGU CERITA YG LAIN, MAY.

    Liked by 1 person

  2. Mayaa kucinta kris tapi tak beginiii huee~ Kenapa aku berasa dia jadi figuran yg ternistakan hehe lagi asik2nya hilang ingatan/? eh tetiba ada yg bilang kalo dia dulunya malaikan pencabut nyawa. Kan horror wkwk.

    Ini berasa baca kisah2 mitologi deh. Fantasinya berasa banget dari deskripsi2 kamu. Entah itu matany tiba2 berubah warna. Tubuhnya yg tiba2 keluar sayap. Latarnya yg tiba2 berubah tempat. Wuaaah ini bikin pikiranku keknya ikut melayang2 bareng tiupi.

    Kusuka karakternya hayi yg lembut dan rapuh gitu. Ga nyangka kalo ternyata dia medusa wkwkw pantes bat jadi medusa kalo mukanya lagi sinis sih emang 😀
    kisah cintanya sama tiupi juga lomantis sekali walaupun aku ga ngeship mereka untuk bersatu, tapi aku gak bisa minta abin yg gantiin karakternya tiupi soalnya ga ngebayangin abin yg kecil itu punya sayap gede bhaksss

    Ini keren bangaaat kusukaaa ❤

    Liked by 1 person

    1. huahaha, aku emang gemar sih buat FF yang bergenre mitologi. soalnya bagiku mitologi itu selalu awesome dan menyenangkan.
      haha, iya. duh, aku terlalu menyiksa hayi nggak sih di sini :3
      makasih udah sempetin baca ya ti *emot peluk
      maaf aku belum sempet obrak-abrik seluruh FF di sini.
      ntar kalau udah senggang bakal aku baca deh ^^

      Like

  3. WOW!
    Demi apa, malam-malam otakku dijejali fic psychology plus fantasi se-keren ini…
    ckckckckck…..ide sang author perlu kuberi delapan jempol *dua jempol tangan dan jempol kakiku sama minjam jempol tangan dan kaki Seungri 😀

    udah gitu…gaya penulisan yang bisa membuat aku berimajinasi bagaimana dunia manusia dan dunia para malaikat/iblis itu…*aku bisa menggambarkan semua imajinasi yang Hayi bayangkan juga di otakku.

    pokoknya ini keren banget!!!

    Like

    1. ah, terima kasih ^^
      itu ehm, akibat habis membaca mitologi-mitologi dewa-dewi.
      hahaha, kukira pinjam jempolnya si tiopih ^^
      nanti akan kuberi lagi yang lebih cetar ._.
      jangan lupa komen ya *wink

      btw, salam kenal ^^

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s