(Vignette) The End

The End

Written by Heerara

Lee Hi and her Mother

Angst, Family, Sad || Vignette (1200+ words) || General

Enjoy!

+++

Mendengar detak jantung Eomma selalu menenangkanku, karena aku tahu selama jantungnya masih berdetak, Eomma masih tetap disini untuk menjagaku dari segala macam bahaya.

+++

Pemakaman pertama yang kuhadiri adalah pemakaman harabeoji. Umurku enam tahun, terlalu muda untuk mengerti apa yang sesungguhnya terjadi, namun dapat merasakan bahwa suasana duka sedang bergantung pekat di udara.

“Hayi,” Eomma merangkulku dan aku merasakan kakinya gemetar. “Kamu tahu apa yang sedang terjadi?”

Aku mengangguk. “Ya. Harabeoji sudah meninggal.”

Eomma memelukku erat dan membelai rambutku dengan penuh kasih sayang. “Eomma, apakah ini juga yang terjadi pada appa?”
Ia tersenyum dengan ujung bibirnya lalu mengangguk pelan.

“Karena appa tidak pernah kembali. Hayi tahu harabeoji juga tidak akan kembali lagi.”
Eomma pun kembali menangis dan mencium kepalaku tanpa berkata apapun.

Melihat eomma yang selama ini kukenal kuat dan tabah menjadi rapuh tentu saja membuatku sedih. Aku ingin mengingatkannya bahwa ia sudah merelakan harabeoji pergi beberapa bulan menjelang ajalnya. Bahwa eomma sudah tahu kepergian harabeoji akan menjadi jalan yang terbaik dan bahwa eomma tidak harus memikul beban ini sendirian. Bahwa ia selalu punya aku. Namun yang keluar dari mulutku hanya keheningan.

+++

“Selamat pagi, Eomma.”

Aku membuka gorden di kamar rumah sakit itu dan membiarkan cahaya matahari pagi masuk.

Tidak ada balasan. Eomma masih terbaring tidak berdaya di atas ranjang. Kelopak matanya bergerak sedikit. Kemudian dengan sangat perlahan Eomma membuka matanya. “Oh, Hayi-ah. Bagaimana kabar gadis favorit eomma?”

Aku memaksakan diri untuk tersenyum. “Baik,” kataku sambil menelan ludah, hal yang selalu kulakukan saat berbohong.

+++

Saat aku berumur sepuluh tahun, aku dan Eomma memelihara anjing betina, namanya Moongchi. Bulunya yang berwarna cokelat keemasan selalu bersinar di bawah cahaya matahari. Moongchi tahu betul kalau dia cantik-atau setidaknya aku berpikir begitu-karena setiap kali aku mengajaknya jalan-jalan sore, ia selalu mengibaskan ekor dan bulunya yang panjang di samping kami. “Dasar tukang pamer,” ledekku selalu. Tapi mungkin dia tidak berusaha mengibaskannya, namun karena bulunya yang panjang selalu menjuntai. Entahlah.

Suatu hari aku baru pulang sekolah dan seperti biasa menyantap makan siangku dengan Eomma. Namun aku tahu pasti ada sesuatu yang disembunyikan Eomma.
“Eomma punya berita buruk, Hayi. Anjing kita…Moongchi…meninggal beberapa jam yang lalu.”

Aku mengangguk sambil tertawa, “Ya, dan hamster Hayi juga meninggal tadi pagi.”

Eomma memandangku dengan bingung, “Hayi, kan, tidak punya hamster.”

Aku memutar bola mataku dan melanjutkan makan siang. “Ayolah, Eomma. Itu seharusnya lucu. Maksudnya Hayi membalas kebohongan gila Eomma dengan kebohongan yang lebih gila lagi.” Mungkin Eomma tidak mengerti candaannya.

Eomma terdiam. Ia sama sekali tidak menyentuh makanannya. Aku mulai panik dan pergi ke halaman belakang rumah tempat Moongchi biasa bermain, “Eomma bercanda, ‘kan? Waktu Hayi pergi sekolah tadi pagi Moongchi masih baik-baik saja.” Aku berlari menyusuri halaman belakang dan memanggil-manggil namanya, “Moongchi! Moongchi!”

“Hayi! Masuk ke dalam rumah! Moongchi… sudah tidak ada lagi di sana!” teriakan Eomma bagai terdengar dari kejauhan. Aku berlari tergopoh-gopoh ke dalam rumah, “Tidak… tidak mungkin. Tadi pagi… waktu…” Aku tidak mengerti mengapa aku kesusahan mencari kata-kata, apakah karena aku kehabisan napas atau karena kaget tidak menemukan apa-apa di halaman belakang.

Eomma tidak berani melihat mataku saat berkata, “Dia terlindas tadi pagi saat menyeberang, Sayang. Eomma… Eomaa juga tidak menyangka hal itu akan terjadi. Semuanya cepat sekali. Rem berdecit, tangisan kesakitan seekor anjing, Eomma bahkan butuh beberapa saat untuk mencerna apa yang Eomma lihat.”

Aku merasakan diriku bergetar saat bertanya, “Apakah dia menderita? Sebelum dia meninggal?”

+++

Kira-kira itulah yang kurasakan saat Dr. Han mendiagnosa Eomma menderita acute lymphoblastic leukemia-kanker tulang dan sumsum- empat tahun yang lalu saat aku berusia 14 tahun. Kebingungan yang sama, kesedihan yang sama, rasa terguncang yang sama, hanya seratus kali lebih parah.

Aku ingat betapa paniknya aku saat bertanya pada Dr. Han apa arti penyakit Eomma. Aku ingat raut wajah Eomma yang tidak terbaca saat mendengar penjelasan dokter bahwa penyakit itu sangat langka dan bahwa kami sudah terlambat karena kanker yang menyerang tubuh Eomma sudah ganas. Aku ingat saat menawarkan sumsum tulang belakangku untuk dicangkok ke Eomma karena itu satu-satunya hal yang aku tahu tentang leukimia dan Dr. Han bilang tidak semudah itu. Mereka harus memastikan bahwa sumsum tulang belakangku cocok dengan Eomma dan bahwa kemungkinannya kecil karena tidak semua keturunan memiliki sumsum tulang belakang yang sama. Saat hasilnya keluar dan ternyata sumsum tulang belakangku tidak sesuai dengan Eomma, kami mencari segala cara untuk menemukan donor. Namun Tuhan berkata lain.

“Sudah waktunya, Hayi,” kata Eomma yang saat itu kondisinya sudah benar-benar lemah. “Eomma tanya Dr. Han berapa lama lagi, dan beliau menjawab tinggal hitungan hari….”

Aku menggenggam tangan Eomma. “Eomma, Hayi enggak mau dengar perkataan semacam itu lagi. Eomma harus kuat.” Bahkan aku bisa mendengar keraguan dalam suaraku sendiri.

Eomma tersenyum sedikit dan membelai tanganku dalam genggamannya, “Yang jelas Dia tahu lebih banyak daripada kita.” Setelah Eomma mengatakan demikian Dr. Han masuk dan aku langsung menghampirinya.

Aku merasakan diriku bergetar saat aku bertanya, “Apakah… apakah dia akan menderita?”

+++

“Eomma masih ingat Moongchi?”

Eomma mengangguk. Aku bisa mendengar betapa ia berusaha untuk tetap menghirup udara dan usahanya terpatri jelas pada suara tarikan napasnya yang lemah. “Moongchi? Tentu saja.”

Air mata mulai jatuh di pipiku, dan kali ini aku tidak menahannya. “Eomma tahu mengapa Hayi sangat terpukul?” Aku ingat selama tiga hari setelah kematian Moongchi aku tidak masuk sekolah karena sakit.

Eomma mengangkat alis matanya menanti jawaban. “Karena Hayi tidak sempat mengatakan selamat tinggal padanya. Bahwa dia adalah binatang peliharaan terbaik yang pernah ada. Hayi tidak sempat berterima kasih karena sudah setia kepada kita, karena selalu ada kapan pun Hayi butuh teman main,” aku terdiam sejenak. “Dan terlebih lagi karena Hayi tidak sempat bilang kalau Hayi sayang padanya.”

“Oh, Sayang, percayalah,” setetes air mata Eomma jatuh. “Dia tahu. Meskipun Hayi tidak pernah mengatakan itu semua padanya, dia tahu.”

Dan dengan itu aku yakin Eomma tidak bicara tentang Moongchi, ia bicara mewakili dirinya sendiri.

Aku meletakkan kepalaku di atas dada Eomma dengan lembut. Aku sering melakukan hal seperti ini dulu waktu kecil. Saat aku takut dan tubuh kecilku masih muat di atas tubuh Eomma, aku akan tidur di atas tubuh Eomma dan meletakkan telingaku di atas dadanya. Mendengar detak jantungnya selalu menenangkanku, karena aku tahu selama jantung Eomma masih berdetak, Eomma masih tetap disini untuk menjagaku dari segala macam bahaya.

Aku menangis sesenggukan di atas dada Eomma. Namun detak jantung Eomma yang lemah masih menenangkanku, meskipun bahuku berguncang hebat dan aku menahan diri agar tidak menangis lebih keras lagi, meskipun aku tahu aku tidak akan bisa mendengar detak jantung Eomma lagi untuk selamanya dalam waktu dekat.

Saat Eomma mencium ubun-ubunku dan membelai rambutku-seperti yang selalu dilakukannya dulu saat aku meletakkan kepalaku di atas dadanya-aku menutup mataku dan selama beberapa saat, aku berhenti menangis. Aku meyakinkan diriku bahwa semuanya baik-baik saja karena Eomma masih ada disini dan jantungnya masih berdentum di telingaku

Kenyataan kembali menimpaku saat aku tidak merasakan hembusan lemah lagi di ubun-ubunku, saat alat-alat di kamar Eomma mulai berbunyi, saat dokter dan beberapa suster berlariterburu-buru ke kamar Eomma.

Aku tahu aku tidak akan mendengar detak jantung Eomma lagi, bahwa semuanya telah berakhir. Namun aku tetap tidak mengangkat kepalaku dari dada Eomma

fin

Anyeonghaseyooo!! Saya datang membawa ff debut sayaa…

jadi aku buat ff debut bertema family gini karena… *jrengg jrengg* gaada inspirasi buat bikin romance. /jomblo lu!

Judul sama ceritanya gak nyambung gini duhh…

Hahah tapi yasudahlah, yang udah jadi biarlah terjadi *apaan?*. Don’t forget to comment! 😀

-Heerara

Advertisements

23 thoughts on “(Vignette) The End

  1. halo, Ra😂 telatkah aku baru baru komen sekarang???

    Oke… ini bikin aku baper. Feelnya, ra. Pls. Aku ga kuath.

    Ok. Segini aja. *Pls pendek banget* harap maklum karena aku payaj banget review ))):

    Tapi intinya, aku suka ff kamu kok 😁😁😁

    Like

    1. Halooh kakzuraa…
      Ealah kakak, udah 2 hari dipost baru komen -_-” telat banget…
      Hahah becanda kakk… kalo buat kakak apasih yang telat?? *apaan?*

      Makasii udah baca+komen kakakk… 😀

      Salam muahh muahh…

      Like

  2. Waaaahhh debut niyeeee :3

    Bagus sekaleee ini loh, Ra. Suka akuu. Uh masih kucil udah bisa bikin mewek masa 😥 Si hayi juga masih kucil udah harus nanggung beban. Mana dia sabar sekalee~ huhuh aku jadi baper ini kan 😦

    Kamu pinter banget memainkan emosiku. Tanpa banyak diksi, cuma dengan cerita2 flashbacknya hayi yang nunjukin kalo dia adalah anak manis yang suka sedih pas ditinggal semua yang disayang, bikin aku bisa ngerasain emosinya dia pas ditinggal orang yang paling-paling disayang. Interaksi hayi sama eommanya di masa lalu juga makin bikin nge-feel taukk :””’

    Untuk reviewnya udah di sampaikan kok, Ra. Jadi aku tak perlu ngomel panjang lebar lagi yihaaa hahaha 😀 Kutunggu spesial kambeknya yaaa, Ra ❤ salam sayang darikuuu~

    Like

    1. Kakk… aku melayang loo baca komen kakakk…
      Gak nyangka kalo-yang aku pikir-ff abal2 ternyata feelnya bisa kenak gituu… :””)

      Iyaa jadi Hayi ceritanya masih kecil udah gak punya siapa2 lagii kakk… *biar tmbah ngefeel*

      Makasii udah baca + komen kak astii…
      Salam muahh muaahhh..

      Like

  3. Huwa, such a touching story :’) . Like banget dah nih 🙂

    Aku suka kisahnya. Yeah walaupun sebenarnya Vris lebih deket sama Ayah yang notabane-nya sering antar-jemput. Tapi, dua-duanya sama-sama penting lah. I love you, Mom 🙂 😀

    Aku suka cara kamu menggambarkan suasananya. Menyentuh gitu 😉

    Oke deh, segitu aja dulu. Vris cincong bacotnya xD sepotnya udaj ditepatin 🙂 ditunggu kombeknya yaw 😀

    Like

    1. Makasii kak vriss…

      Sebenernya dapet inspirasi ini dari liat mama waktu tidur, terus tau2 kepikiran gimana kalo mama gak buka mata lagi… *jangan sampe*
      Terus akhirnya jadi deh kayak gini… /curcoll

      Salam muahh muaahhh

      Like

  4. Maknae kita debut! Yeah….. *tabur confetti.

    WOW! feel sedihnya dapet banget. kamu detail sekali menggambarkan perasaan kehilangan Hayi.
    Huhuhu..hampir menitikkan air mata *karena unnie lemah ama genre family. ;(

    untuk review, sudah disampaikan sama @renkim00 unnie.
    trus, unnie pengen nambahin kayak, ada satu kalimat ‘berlariterburu-buru’ yg Rara lupa spasi.
    selebihnya, kamu keren, Ra! no typo & diksi yg detail sekali. Unnie belajar sama kamu, lho! 😉

    unnie tunggu kambek spesial dari Rara ya..
    peluk Rara selalu dari Aoko unnie ❤

    Like

    1. Komennya kak Aoko bikin melayang deehh… 😀

      Feelnya dapet kah kak?? padahal aku takutnya feelnya gak dapet terus alurnya gak jelas gitu… ternyata bisa bikin kak aoko sampe menitikan air mata gituu…

      Makasii reviewnya kakk…

      Salam muaahh muaahhh

      Like

  5. Raraa~ Ren baliik 😀

    Huwaaa, sedih banget 😦 bisa paham perasaan Hayi yang udah ditinggalin sama orang yang dia sayang. Mulai dari Ayahnya, Kakeknya, Anjing peliharaannya, dan sekarang ibunya 😦 semoga kejadian ini tidak menimpa kita. Aamiin.
    Feelnya dapet, aku hampir nangis T.T

    Reviewnya sih.. mungkin kata asing bisa di italic. Macam Eomma, Appa, atau apalah itu, di italic aja.. *gak penting reviewnya*. Trus.. bagian yang ini “Eomma tahu mengapa Nadia sangat terpukul?” kok jadi Nadia sih, Ra? Bukannya itu Hayi, ya? Kamu jangan marah ya, bukannya ada maksud menggurui, karena aku juga gak bisa bikin ff sebagus kamu 😦

    Hehe.. udah itu aja. Keep writing dan kutunggu comeback nya 😉

    Liked by 2 people

    1. Haii reennn *pelukk*
      Feelnya dapet ya?? Asikk asikk. Padahal waktu buat takutnya feelnya gak dapet terus datar gitu…

      Iyaa Hayi jadi sebatang kara gitu ceritanya T_T

      Makasih Ren buat reviewnyaa… yang Nadia itu typo X_X nanti aku edit lagi deh…

      Makasih udah baca + review renn… Reviewmu amat sangaat sangat aku hargai.

      Salam muah muahh…

      Liked by 1 person

      1. rara~
        kakak kembali, /lamaya? 😀

        Ini sedih loh, Ra. kakak ke inget sama film wedding dress, itu sedih banget masih kecil udah sebatang kara. dan FF kamu ingetin kakak ama film itu lagi, aing menitikkan air mata dink T__T
        pokoknya ini keren lah. siapapun bisa ngalamin kyak gini, tapi kita juga harus ikhlas, tegar, dan kuat menghadapi apapun yang gak diinginkan di dunia ini/ oke cukup, Cu. lu bapernya kebangetan XD /
        gk ada review, semua udah di review ama Ren.
        ditunggu karya dari Rara yang lain
        salam cinto dan sayaong dari, Ka’Cu :* ❤

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s