[Vignette] Of All Days

T.O.P - Of All Days

Scriptwriter : Aoko Cantabile

Main Cast : Choi Seunghyun (T.O.P Big Bang), Shin Haneul & Choi Hana (OC)

Support Cast : –

Genre : Love Life, Love Sad, Marriage Life, Slice of Life

Duration : Vignette (±1800), Songfic

Rating: Teen

Disclaimer :

These fanfiction dedicated to BIG BANG Comeback on May after 3 years. 

*BIG BANG Project (3)

Let’s Read & Review !!

###

Tak ada kata ‘mundur sebelum berjuang’ di dalam kamus seorang Choi Seunghyun

The sleepless nights repeat
I wonder if I should erase my regretful heart
A flowing silence, Cold wind blows (Why do we, why why why)
And it repeats again, Every night of all days

*Seunghyun PoV

Rasa penat sehabis kerja menghampiri tubuhku. Aku bersiap untuk mengistirahatkan seluruh anggota badan ini hingga akhirnya mataku tertuju pada sebuah amplop cokelat di dalam kotak suratku. Perasaanku berkata ada sesuatu yang tak biasa dengan amplop itu. Jantungku berdegup kencang dan tanganku gemetar saat mengambil amplop tersebut. Tertulis nama Choi Seunghyun sebagai tujuan dari amplop itu.  Aku bergegas memasuki rumahku dan lalu melempar amplop itu ke arah meja sudut. Pikiranku kalut membayangkan isi surat tersebut. Apa jangan-jangan… Ah sudahlah! Aku tak ingin berpikir macam-macam. Kuputuskan untuk membuka amplop tersebut setelah mandi nanti.

###

*Haneul PoV

Nada dering pesan menyadarkanku dari lamunan panjang. Sepuluh menit tak terasa kuhabiskan untuk membayangkan masa depan yang akan kulalui setelah keputusanku ini. Aku mengecek pesan singkat yang ternyata datang dari pengacara Park. Dia memberitahukanku bahwa pengadilan telah mengirimkan berkas kepada orang itu. Aku bingung harus berekspresi seperti apa setelah mengetahui kabar tersebut. Ada rasa lega yang tersisip di relung hatiku saat ini. Setengah tahun aku berpisah dengannya demi menentukan pilihan mana yang terbaik bagiku. Dan ini bukanlah perkara mudah karena banyak hal yang harus kupertaruhkan.

Aku kemudian melirik pada wajah manis anak perempuan yang tertidur pulas di sampingku. Dia satu-satunya harta berharga yang aku miliki. Aku rela mengorbankan apapun hanya untuk bersamanya.

“Hana, mama janji setelah ini selesai, mama akan membawamu pergi jauh dari Seoul. Kita akan hidup bahagia bersama kakek dan nenek di Jeju.” bisikku pelan di telinga mungilnya.

###

*Seunghyun PoV

Ruang seluas ini terasa lenggang saat kusadari bahwa hanya aku penghuni rumah ini. Tak terdengar lagi gelak tawa juga senggukan tangis disini. Aku sadar ini semua karena kesalahanku. Kesalahan bodoh yang aku tak pernah coba perbaiki dan sekarang aku menyesalinya. Amplop cokelat itu telah kubuka. Aku akui ini adalah keputusan akhir dari Haneul untuk bercerai dariku. Aku akan kehilangan wanita cantik yang baik dan sabar sekaligus anak yang sangat aku sayangi. Rasa bersalah terus menghantuiku. Apa aku akan berdiam diri saja melihat keluarga kecil yang kubangun runtuh karena egoku? Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Tak ada kata ‘mundur sebelum berjuang’ di dalam kamus seorang Choi Seunghyun. Aku harus melakukan apa saja demi meluluhkan hati Haneul. Ya! Aku harus melakukannya!

###

Suhu udara siang hari ini terasa dingin. Sebenarnya udara seperti ini merupakan suasana yang tepat untuk beristirahat di hari libur yang jarang kudapatkan. Tetapi saat ini, aku berniat untuk mendatangi Hana yang biasanya bermain di taman sekolah pada jam segini. Aku berjalan dengan langkah terburu-terburu sambil merancang kegiatan apa yang akan aku lakukan bersamanya. Tanpa terasa, aku tiba di tempat tujuan. Kulihat gadis cilik berkepang dua sedang asyik bermain seluncuran dengan dua gadis sebayanya. Aku kemudian menghampiri gadis itu.

“Selamat siang, Hana.” ucapku ramah. Gadis itu kemudian menolehku dan tersenyum lebar.

“Ayah…” ucapnya riang. Ia menghentikan permainannya dan berlari ke arahku. Aku membungkukkan badan dan membuka kedua telapak tangan bersiap untuk memeluknya. Kami berpelukan dengan erat melepas rindu setelah lama tak berjumpa.

“Kenapa ayah baru menemui Hana sekarang? Apa ayah sibuk?” tanyanya polos. Aku tersenyum kecil merespon pertanyaannya.

“Maafkan ayah, Hana. Ayah baru sempat menemui Hana sekarang. Bagaimana kalau siang ini kita makan es krim di restoran favoritmu?” ajakku. Hana mengangguk kuat dan tertawa menunjukkan gigi-gigi mungilnya. Aku lalu mengenggam erat tangannya dan berniat meminta izin kepada guru pengawas.

###

*Haneul PoV

Aku baru saja menerima panggilan dari Seunghyun oppa. Dia mengatakan saat ini dia bersama Hana sedang menungguku di restoran langganan kami. Jantungku berdetak kencang mendengar suara beratnya memintaku datang kesana. Aku ragu untuk menemuinya. Diriku belum bisa memaafkan kesalahan yang ia lakukan padaku juga Hana. Terbayang kembali kehidupan rumah tangga yang berjalan selama tujuh tahun bersamanya di dalam benakku. Masa-masa itu suram karena dia selalu ringan tangan dan cemburu buta saat emosinya sedang tidak stabil. Wajahku telah terbiasa dengan tamparannya, begitu pula tubuh ini sering didorong keras ke dinding ketika ia mabuk. Aku selalu menahan rasa sakit penyiksaannya karena aku tau bahwa kami saling mencintai. Tapi, aku tidak dapat memaafkan perlakuan kasar Seunghyun oppa kepada Hana. Dia tidak senang dengan tangisan rewel Hana. Tanpa rasa bersalah, dia mengunci Hana di kamar mandi seharian saat diriku tidak ada di rumah. Aku sering memergoki kejadian ini beberapa kali. Naluri keibuanku tak dapat mentolerir peristiwa itu. Seunghyun oppa boleh menyakitiku semaunya tapi tidak dengan anakku.

Akan tetapi, kali ini Hana bersamanya. Aku terpaksa bertemu dengannya demi menjemput anakku. Dengan berat hati, aku meninggalkan pekerjaanku dan bergerak menuju tempat tersebut. Lokasi restoran itu tidaklah jauh dari kantorku. Sesampainya disana, kulihat dia duduk bersama Hana di meja sudut favorit kami. Aku berjalan gontai ke arah mereka dan mengambil tempat di kursi hadapannya.

“Ah, kau telah tiba, Haneul. Apa kabarmu?” tanyanya ramah. Ia berinisiatif mendekatiku dan ingin mengecup dahiku, tapi kutolak dengan membuang wajah ke arah lain.

“Baik, oppa. Aku kesini hanya ingin menjemput Hana. Terima kasih telah menemani Hana.” jawabku dingin. Aku lalu menghentikan Hana yang tengah menikmati es krim dan mengajaknya pulang.

“Jangan begitu, Haneul! Aku telah bersusah payah mereservasi restoran ini. Sebaiknya, kau bersama Hana makan siang terlebih dahulu disini. Aku juga ingin membicarakan sesuatu padamu.” ujar Seunghyun oppa sambil menghadang langkahku. Kulihat ekspresi memelas dari wajahnya. Entah kenapa, kali ini aku percaya dengan kata-katanya. Aku kemudian menempatkan Hana di sampingku dan kembali duduk di hadapannya.

“Baiklah. Aku memberikanmu kesempatan. Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyaku. Kutatap wajahnya serius. Dia menghela nafasnya dan membuka buku menu di hadapan kami.

“Kau ingin makan apa, Haneul? Kau masih suka dengan Spaghetti Aglio e Olio kan?” tanyanya balik padaku. Ia lalu memanggil pelayan restoran. Aku terdiam terpaku melihat tingkahnya.

“Saya ingin memesan Spaghetti Aglio e Olio satu. Pomodoro Rissoto satu. Pizza Margherita satu dan Pana Cottanya dua. Oh iya, saya juga ingin memesan Caffelatte dua dan Strawberry gelato satu lagi. “ ucapnya lancar menyebutkan menu yang selalu kami pesan saat makan di restoran Italia ini pada pelayan tersebut. Pelayan itu mencatat pesanan Seunghyun oppa dengan telaten dan mengulang kembali pesanan kami.

###

Suasana hening menyelimuti kami berdua. Sepulang dari restoran, Seunghyun oppa bersikeras untuk mengantarkanku dan Hana pulang. Hana tertidur pulas dalam gendongan Seunghyun oppa.

“Haneul, pulanglah ke rumah kita. Aku janji aku akan berubah.” suara berat Seunghyun oppa membuka percakapan di antara kami. Aku menghela nafas perlahan.  Hal ini memang telah kuprediksi sebelumnya, tapi aku belum menemukan jawaban yang tepat untuk menjawab kegundahan hati ini. Haruskah aku memaafkan kesalahannya?

“Mama, Hana ingin tidur sama ayah. Kita pulang ke rumah saja yuk!” suara halus Hana yang telah terbangun membuyarkan kebingunganku. Ah, apa yang harus kulakukan? Baiklah kalau begitu, aku akan membuktikan kesetiaannya pada keluarga ini.

“Oppa, aku dan Hana akan pulang ke Jeju tiga hari lagi. Kami akan menunggumu di bandara. Apabila kau memang mencintai kami, kau akan menghadang kepergian kami.” ucapku dengan  tegas.

“Tapi, Haneul. Aku tak bisa. Aku harus menemui investor dari Osaka dan mengadakan rapat bersamanya. Aku telah membuat janji dan aku tak bisa membatalkannya begitu saja. Proyek bersama pengusaha Osaka itu bernilai besar dan juga demi pembangunan kota Seoul.” jawabnya sungguh-sungguh. Aku tak mau mendengarkan alasannya. Kalau dia memang menyayangi kami, dia akan mencari jalan keluar yang terbaik, kan?

“Baiklah,Haneul jika itu maumu. Aku akan menghubungi sekretarisku untuk memajukan pertemuan tersebut. Kau pulang jam 2 siang kan? Kupastikan aku akan menjemputmu dan Hana serta membawa kalian pulang.” janjinya padaku. Aku tersenyum penuh kemenangan mendengar janjinya. Baiklah, aku akan menunggu pembuktian janjimu itu!

###

Tiga Hari Kemudian….

*Seunghyun PoV

Aku mengusap dahi yang penuh keringat. Terlihat waktu menunjukkan pukul 13.30 KST. Aku cemas bukan kepalang mengingat rapat saat ini belum selesai. Negosiasi berjalan sangat lamban dan penuh dengan perdebatan. Aku mengetukkan sepatu ke lantai untuk membuang kecemasanku.

“Maaf, Seunghyun-ssi. Saat ini anda terlihat tidak fokus. Apa ada sesuatu yang mengganjal pikiran anda?” tanya pelan rekan kerja di sampingku. Aku membisikan alasan kepadanya bahwa aku harus menjemput istri dan anakku tapi aku tak bisa meninggalkan pertemuan ini begitu saja.

“Ah, tenang saja, Seunghyun-ssi. Rapat ini hanyalah pertemuan awal. Kurasa Mr. Tanada akan menyetujui kesepakatan. Hal ini biasa terjadi. Kau bisa meninggalkan rapat ini sekarang. Kasihan istri dan anakmu menunggumu di bandara saat cuaca sedang tidak bersahabat seperti ini.” ucap rekan kerjaku sambil tersenyum. Aku berterima kasih sebesar-besar atas pengertiannya. Kubungkukan badanku sedalam mungkin untuk meminta maaf padanya karena meninggalkan rapat. Setelah itu, aku berlari tergesa-gesa menuju parkiran untuk mengambil mobil. Kulihat jam telah bergerak ke arah 13.55 KST. Semoga saja aku tidak terlambat tiba disana dan bisa menjemput Haneul dan Hana.

*Haneul PoV

Aku berkali-kali melirik ke arah jam tanganku. Saat ini waktu telah menunjukkan pukul 13.57 KST. Tiga menit lagi, aku dan Hana harus check in tapi tak terlihat tanda-tanda keberadaan Seunghyun oppa. Terdengar suara panggilan pegawai maskapai penerbangan yang meminta semua penumpang untuk masuk ke ruang tunggu. Hana juga terlihat menggigil di sampingku.

“Ma, ayah akan datang menjemput kita kan?” tanya Hana dengan lirih. Aku bingung harus menjawab apa kepada Hana. Aku tak yakin apakah Seunghyun oppa akan menjemput kami saat ini.

Terdengar kembali suara panggilan yang memanggil namaku dan Hana untuk datang ke bagian check in. Kulihat jam telah menunjukkan pukul 14.00 KST. Aku membawa Hana bergerak masuk ke dalam ruang panggilan. Aku memutuskan untuk membatalkan penerbanganku ke Jeju. Bagaimanapun juga, egoismeku ini tak dapat kupertahankan. Aku rasa Seunghyun oppa sedang sibuk di kantornya sehingga dia tak dapat menjemput kami.

Setelah membatalkan penerbangan, aku dan Hana menunggu di salah satu restoran di bandara. Aku yakin Seunghyun oppa akan menjemput kami walaupun terlambat.

Waktu telah menunjukkan pukul 16.30 KST. Aku kembali mengedarkan pandanganku ke sekeliling bandara. Kenapa Seunghyun oppa tidak datang ya? Apakah dia lupa dengan janjinya? Atau…dia tidak menyayangiku dan Hana? Kubuang pikiran negatif tersebut. Aku optimis Seunghyun oppa pasti akan menjemput kami. Mungkin, sekarang dia sedang terjebak macet di jalan.

Terdengar nada dering handphoneku berbunyi. Kulihat nomor asing di layar sana. Nomor siapa ini? batinku.

“Halo.” ucapku ragu-ragu.

“Halo. Apa benar ini nomor Shin Haneul?” tanya pelan suara wanita di seberang.

“Iya, benar. Saya Shin Haneul. Maaf ini siapa?” tanyaku balik.

“Apakah anda istri dari Choi Seunghyun?” tanya kembali wanita disana. Aku mengerutkan dahi pertanda bingung. Ada apa ini?

“Iya. Maaf ada apa ya?”

“Begini, kami dari rumah sakit Gangseo-gu. Suami anda mengalami kecelakaan parah dan kondisinya sekarang sedang koma. Kami menemukan nomor handphone anda di log panggilan terakhir tuan Choi Seunghyun. Kami mohon anda bisa segera ke rumah sakit ini dan…….” Aku tak dapat lagi mendengar dengan jelas perkataan terakhir dari perawat rumah sakit itu. Air mataku meleleh begitu saja. Hana yang duduk di hadapanku bingung melihat diriku.

“Kenapa mama menangis?” tanyanya sambil mengusap air mataku. Air mataku semakin deras mengalir melihat Hana. Bagaimana aku menjelaskan ini semua kepada Hana? Seunghyun oppa, maafkan aku..

Maybe I’m regretting it
The scars I left you
The time that won’t stop
Too alone

Fin

*Aoko’s Note

Long Time No See…Long Time No See *dengan gaya bang T.O.P nge-rap Doom Dada.

Aoko kembali lagi ke hadapan kalian semua dengan membawa kisah pernikahan bang T.O.P, {jangan ada yg patah hati ya? aku juga patah hati waktu bikin cerita ini 😦 *abaikan.

As usual, mohon kritik & saran ya demi kemajuan author. Kalo ada unek-unek yang ingin disampaikan, Aoko unnie bersedia mendengarkannya 😉 *ceile!

Warm Regard,

Aoko Cantabile

Advertisements

7 thoughts on “[Vignette] Of All Days

  1. OMG!!!!! ABANG TOP!!!!!*gak nyante -_-

    Unn, ngebayangin TOP jadi bapak2 yg sering melakukan KDRT kok dapet banget ya feelnya wkwk :v Itu juga, Hana aku ngebayanginnya jadi si Haru lagi wkwk :v *ditabok appa Tablo
    Dapet feelnya masa unn, ikutan sedih pas Haneul nangis gegara TOP appa hiks 😥
    Penulisannya juga bagus. Gak ada typo masa. Keren~
    Ini harus ada sekuel unn, harus! *maksa

    Keep writing unnie-yaaa~
    Pyongg~<3

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s